Dari arah berlawanan melaju mobil Honda Jazz berwarna hitam dengan kecepatan di atas rata-rata. Sakura menoleh kearah kanan, dimana mobil Honda Jazz hitam itu berada, mata Sakura membulat, secepat kilat ia berusaha cepat untuk segera pergi meninggalkan zebra cross itu, namun lagi-lagi dewi Fortuna tidak memihak pada Sakura. Saat tengah berlari, tiba-tiba saja ia tersandung kakinya sendiri hingga ia jatuh tersungkur mencium dinginnya aspal yang diguyur hujan.

Sakura tak sempat lagi untuk melarikan diri, mobil itu makin dekat ke arahnya, dan akhirnya—

CRASHH!

Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto

My Little Devil is My Fiance

Guyuran air lumpur dengan suksesnya mengenai sakura, tubuh gadis semampai yang semula bersih itu, kini telah ternodai dengan cairan berwarna coklat, hasil perpaduan antara air hujan dan tanah. Sakura tercengang—bahkan nyaris ternganga jika saja ia tak menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Bahkan Karena teramat syok, ia tak sadar bahwa dokumen dan buku-buku yang ia bawa kini telah berpindah tangan, ke pelukan jalan raya.

Mobil yang tadi nyaris menabraknya, kini berada di depannya persis. Jarak yang tercipta antara mobil itu dengan wajah Sakura, mungkin hanya tinggal sekitar 8 centi.

Sakura masih mematung, tidak mengatakan sepatah katapun, tidak mengaduh kesakitan, apalagi berteriak histeris. Bibir mungilnya seakan-akan membisu ditelan atmosfir sunyi disekitarnya. Beberapa detik kemudian ia tersadar dari acara syok singkatnya, dan lagi-lagi, betapa terkejutnya ia begitu mengetahui benda-benda berharganya telah porak-poranda di jalanan

"Tidak! Dokumenku, buku-buku berhargaku…" pekik Sakura tertahan. Ia beringsut menghampiri buku-buku dan dokumennya yang sebagian besar sudah dalam keadaan yang bisa dibilang tak cukup baik. Dokumen-dokumen yang tercetak rapih dalam kertas A4 tersebut bahkan sudah tidak dapat terbaca lagi lantaran siraman air lumpur itu melunturkan warna di dalam kertas putih itu.

Keadaan buku Sakura juga tidak jauh berbeda dengan keadaan dokumennya. Buku-buku tebal bersampul coklat kemerahan itu telah terkoyak dalam berbagai ukuran, beberapa bagian koyakannya terlihat bagai kepingan yang tak mungkin lagi dapat disatukan.

Sakura tertunduk kaku sambil memeluk benda-benda di tangannya dengan erat. Matanya mulai menampakkan gumpalan-gumpalan bening di sudut-sudutnya. Bahkan kini sudah terlihat seperti bendungan rapuh yang dapat meluruhkan pertahanannya kapan saja. Namun sebelum sempat sempat Kristal itu meluncur dari manik giok itu, Sakura terlebih dahulu menghapusnya.

Sakura mengepalkan tangannya kuat—bahkan terlihat buku-buku jarinya memutih karena ia begitu kuat menggenggam tangannya sendiri. Matanya yang biasanya selalu memancarkan sinar lembut nan teduh, kini berganti dengan tatapan membunuh yang haus akan darah.

Berbekal atas segala kemarahan dan kekesalan yang ada, gadis bersurai merah muda itu memberanikan dirinya melangkah menuju mobil Honda Jazz hitam yang berada tak jauh darinya.

"Hei, kau! Keluar sekarang juga!" teriak Sakura dari luar mobil sambil menggedor-gedor heboh jendela mobil tersebut.

Tidak ada respon apapun dari si pengemudi mobil, ia tak bergeming. Sakura yang dalam kindisi labil tak dapat menahan kesabarannya, kembali menggedor jendela mobil di depannya.

"Kubilang keluar sekarang juga!" Sakura kembali berteriak, kali ini lebih keras. Berharap orang yang berada di dalam keluar, agar ia dapat memberinya hadiah berupa bogem mentah atas tindakan keterlaluan yang dilakukannya.

Dan, seperti apa yang di inginkan Sakura, si pengendara mobil ini pun keluar.

Kini, di hadapan Sakura telah berdiri sosok si pengendara mobil.

Sosok Pria dengan postur tubuh tinggi dan kulit putih mulus menawan. Belum lagi wajah datar yang sangat cool makin di perindah lagi dengan mata tajam laksana elang yang serupa dengan bebatuan obsidian yang mampu mencuri perhatian manapun, dan yang paling tidak biasa.

Pria tersebut memiliki gaya rambut yang sangat aneh. Rambut berwarna hitam kebiruan itu saling mencuat tak karuan hingga menyerupai bentuk pantat Ayam.

Nafas Sakura serasa tercekat, matanya membelalak lebar—seakan tak percaya atas apa yang ia lihat dengan mata kepalanya. Sakura mencubit pahanya sendiri, untuk memastikan bahwa ini bukanlah suatu ilusi belaka.

Sakit.

Setidaknya itulah rangsangan yang dapat di terjemahkan oleh otak Sakura atas perbuatannya barusan. Di lihat dari makna kata tersebut, pastilah sudah dapat di diketahui bahwa apa yang Sakura lihat bukanlah ilusi.

"K-kau… kau!" Sakura menggumam pelan, diikuti oleh gelengan kepalanya yang seolah masih berontak atas realita yang dihadapkan di depan matanya. Tak ayal, kelakuan Sakura demikian mampu mengundang uluman senyum mengejek dari Pria di depannya.

"Terkejut melihatku, hm… Saku-chan" Pria itu menyungingkan seringaiannya, melihat ekspresi orang di depannya air muka Sakura makin mengeruh, dan seolah tertampar oleh realita yang ada.

"U-Uchiha Sasuke?"

Dan, kontan seringaian Pria itu pun makin melebar, mendengar kata yang terucap dari sang lawan bicara.

"—Yaampun Sakura, demi Tuhan! Dimana kau sekarang?" Sakura menjauhkan benda elektronik di tangannya hingga radius 20 centi meter, telinganya nyaris saja tuli mendadak jika saja benda itu tak kunjung di jauhkan dari alat pendengarannya. Tentu saja Sakura hafal betul suara cempreng tersebut. Siapa lagi jika bukan Ino Yamanaka; sahabat karibnya sepanjang masa.

Sakura menghela nafas panjang, sebelum kemudian menyesap teh hangat yang sebelumnya telah disiapkan oleh Tayuya. "Tentu saja di rumahku Ino, memangnya dimana lagi, kau kira aku sedang berada di Disney Land?"

"Astaga Sakura..! setengah jam lalu aku meneleponmu, kau bilang masih dalam perjalanan ke Universitas, dan sekarang dengan entengnya kau mengatakan kau sedang berada di rumahmu?" tanya Ino histeris—bahkan nyaris terpekik, mendengar penuturan sahabatnya.

"Dan kau tahu, tes sudah berlalu 25 menit yang lalu!"

Sakura memijit pelipisnya guna meredam sedikit rasa pening yang tiba-tiba menari-nari di kepalanya. Yah, setidaknya Sakura tahu hal yang baru saja disampaikan Ino.

Andai saja insiden konyol itu tidak terjadi, mungkin saja ia kini sudah berada di Kampusnya dan bahkan telah menuntaskan tesnya.

Sayangnya nasib berkata lain. Insiden tidak diundang itu terjadi begitu saja, mengacaukan kegiatannya, membuatnya terlambat, dan terlebih lagi atas kejadian tersebut, dokumen-dokumen penting yang sudah Sakura susun jauh-jauh hari sebelum tes hari ini tiba, malah hancur terkoyak hingga menyisakan lembaran-lembaran kecil yang bahkan tak bisa disebut sebagai dokumen laporan.

Sudah jatuh, tertimpa tangga, dilindas truk gandeng pula. Mungkin kata itulah yang cocok untuk mendefinisikan keadaan Sakura sekarang.

"Sakura? Kau masih disana kan?"

"…" Sakura tidak menjawab, lamat-lamat terlihat ia memasang raut wajah jengkel sambil mencengkeram celana training hitam yang ia pakai hingga kusut.

"Sakura?"

"…"

"Hallo… nona, kau masih disana atau sudah mati?" masih dengan nada tanya, Ino mengatakan kata-kata tajam tersebut.

Sakura terperangah, buru-buru ia membuat suara batuk tiruan agar orang yang berada di seberang sana menganggapnya sedang dalam kondisi tak baik.

"Sakura, kau kenapa?" terdengar suara khawatir itu oleh telinga Sakura. Kini si gadis berambut bubble gum ini memencet hidungnya sendiri sebelum akhrinya mulai bicara pada rekannya.

"Ah, tidak Ino… aku hanya sedang terkena flu ringan," kilah sakura. Diam-diam ia tersenyum sumringah, namun masih tetap menjepitkan jarinya pada hidungnya.

"Kenapa kau tidak bilang, bodoh! Yasudah lah, kau istirahat saja sana" omel Ino.

"Tap—"

"—tidak ada tapi-tapi! Sudah dulu ya, bye!"

Tuuut…

Tuut…

Dan sambungan telepon pun terputus. Haah… betapa leganya Sakura, akhirnya ia bisa tenang juga. Sekarang tinggal menuntaskan pekerjaannya saja—mengeprint dokumen tugasnya.

Sakura beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju meja belajarnya. Sakura memasangkan colokan USB Printnya itu pada salah satu lubang di laptopnya. Ia membuka file dokumen tempat lembar-lembar tugasnya tersimpan.

Hanya tinggal meng kliknya,maka lembaran kerja Microsoft Word sudah tersaji di depan mata gioknya. Sakura memulai aksinya kemudian ia menekan perintah Prit di monitor laptopnya.

Tinggal menunggu beberapa menit saja, maka dokumen yang ia inginkan telah siap.

Namun, ada sesuatu yang janggal. Sudah lama Sakura menunggui Printer tersebut, hasilnya tidak ada satupun kertas yang tercetak tulisan. Bahkan kertas-kertas yang tersusun rapi diatas Print tersebut tak berkurang sedikitpun.

Sakura menggeram. Ia segera melihat layar komputernya.

Dan… ya ampun. Ternyata tinta dari Print ini habis, pantas saja ia tak mau beroperasi seperti biasanya.

SIAL!

SIAL!

SIAL!

Sakura menjambak rambutnya frustasi. Tinta Printnya habis, dan untuk membeli tinta tersebut ia harus pergi ke toko servis komputer yang jaraknya 2 kilo meter dari rumahnya, sedangkan cuaca diluar benar-benar seperti badai!

Jadilah ia menghempaskan tubuhnya ke kasurnya yang empuk. Ia tak memejamkan matanya, rasa kesalnya kini telah mencapai batas maksimum hingga ia rasanya tak dapat menutupkan matanya walau sejenak.

Sekilas ia kembali terbayang pertemuannya kembali dengan Uchiha Sasuke. Membayangkannya saja Sakura sudah muak, terutama mengingat pertemuan pertama mereka 3 tahun lalu.

Flash Back

Sakura POV

Aku memandang tempat sekelilingku dengan takjub , ya itu tentu saja, ini adalah hotel mewah berbintang yang disewa secara ekslusif oleh Ayahku—Jiraya Haruno. Bangunan hotel yang semula seperti disain hotel-hotel lain yang minimalis, kini disulap menjadi bangunan era Yunani kuno yang sangat kental nuansa klasik dan megah!

Tentu saja ada sebab mengapa Ayahku menyewa tempat mahal seperti ini. Dan jika ditanya apa sebabnya, maka acara pertunanganku lah yang akan menjadi jawabannya.

Pertunangan.

Memang kedengaran hal gila di otakku ketika aku mendapat kabar mengenai perihal pertunanganku dari Ibuku—Tsunade Haruno 3 bulan yang lalu. Aku bahkan nyaris terkena serangan jantung mendadak lantaran berita mengejutkan ini.

Selama 16 tahun aku hidup, dan ternyata aku baru menyadari bahwa aku telah ditunangkan dengan seseorang yang tidak ku kenal, secara sepihak oleh orang tuaku. Ini menyebalkan! Hey, bagaimanapun aku tetaplah remaja biasa. Di jejalkan masalah pelik seperti ini malah akan membuat pikiranku semakin labil.

Aku sudah berusaha menolak pertunangan ini pada Ayah, namun sikap keras Ayahku membuat nyaliku ciut. Biar apapun yang terjadi, pertunangan harus tetap dijalankan! Itulah yang Ayahku katakan saat aku tengah merengek-rengek menolak pertunanganku.

Rasanya dunia beserta alam semesta runtuh menimpa kepalaku! Oke, mungkin itu terlalu hiperbola, tapi bagaimanapun aku tetap tak bisa menerima realita ini…

Setidaknya, biarkan aku mencoba untuk mendapatkan pendamping hidupku sendiri. Bukan malah seenaknya menjodohkanku tanpa pernah meminta pendapatku.

"Jangan memasang tampang seperti itu Sakura," tiba-tiba saja kakakku—Sasori Haruno menepuk puncak kepalaku dari belakang. Aku menoleh menuju kea rah si pemilik suara dan menghadiahinya dengan tatapan membunuh.

"Hmph! Kau menghancurkan moodku saja, kak"

"Tapi setidaknya tidak sehancur wajahmu" kekehnya. Aku tersenyum masam, dan mengalihkan perhatianku pada sebuah gelas—yang bahkan menurutku terlalu biasa untuk diamati.

"Tenang saja, Sakura… pertunangan bukanlah hal seburuk itu," celoteh kakakku asal. Aku memutar badanku ke arahnya dan memandangnya malas,

"Ya, setidaknya tidak terlalu buruk untuk ukuran orang yang bahkan, tak pernah mencicipi masa pacaran seperti mu,"

Kakakku mendelik padaku, "ah, aku lupa… kalau kenyataannya kau telah memiliki istri" kini giliran aku yang terkekeh, sementara yang bersangkutan tak kunjung melunturkan tatapan horrornya padaku.

"Sakura!" tiba-tiba Ayah memanggilku, aku pun segera beranjak dari posisi dudukku dan langsung melesat menghampiri Ayahku di beranda hotel.

"Ada apa ayah?" tanyaku sesampainya di beranda hotel, Ayah Nampak sedang melihat ke segala penjuru ruangan.

"Ayah?"

Bukannya menjawab pertanyaanku atau apa, Ayah malah mengacuhkanku. Aku jadi kesal sendiri jika diacuhkan seperti ini.

"Ah! Fugaku, disini!" panggil Ayah pada seseorang, ia melambai-lambaikan tangannya; member isyarat pada orang yang dipanggilnya agar menuju tempat yang ditujukan Ayah.

Terlihat, dibalik kerumunan yang memenuhi hotel ini dua orang pria yang berjalan menuju ke arah kami. Salah satunya terlihat sepantaran dengan Ayahku, sedangkan yang satu lagi mungkin masih adik kelasku. Itu tentu saja, karena aku lebih tinggi darinya sekitar 10 centi.

Pria paruh baya itu, menyalami Ayahku dan memeluknya akrab. Tak selang jeda beberapa lama, mereka pun tertawa lepas. Aku pun ikut tersenyum melihat keakrapan Ayah dan orang itu. Aku melirik anak lelaki di sebelahku melalui ekor mataku, ia tampak tak sedikitpun menyunggingkan senyum. Hanya memasang tampang datar seolah tak terjadi apapun, dan tak memperdulikan sekitarnya.

Aku menaikkan sebelah alisku bingung. Sebenarnya ada apa dengan anak ini, firasatku mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk mengenai diriku karena anak ini.

"Nah, Sakura perkenalkan ini Sasuke," Ayah merangkul pundakku hangat, nampaknya berusaha memperkenalkanku dengan anak lelaki itu. Aku tersenyum seramah mungkin dan menjulurkan tanganku tepat di depan tubuh anak di depanku.

"Haruno Sakura, senang bertemu denganmu, Sasuke-kun,"

Tak ada jabatan tangan, tak ada senyuman ramah, apalagi sambutan ramah khas orang-orang yang baru saling mengenal. Ia tetap bungkam!

Ayolah… anak ini kenapa sih, sudah susah payah aku mempersembahkan senyumku yang terbaik, dan ia sama sekali tak mengindahkannya.

"Sasuke, tolong bersikaplah yang sopan! Bagaimanapun dia tetap tunanganmu!"

APA?

Tunangan?

"Sudahlah, Fugaku, mungkin Sasuke masih sedikit canggung karena baru pertama kali bertemu dengan Sakura,"

Aku membelalakkan mataku tak percaya. Lalu melihat ke arah Sasuke, bola mata obsidiannya tak sengaja tertumbuk pandang dengan bola mata giokku. Mengambil inisiatif aku memberinya sebuah pelototan horror, dan ia balas dengan seringaian yang entah apa maknanya.

"Tunggu, Ayah! Apa maksudnya ini?" aku mengguncang-guncang lengan Ayahku seraya menuntut adanya penjelasan atas semua ini.

Bereaksi atas tindakan yang aku lakukan, Ayah menautkan alisnya, "Tentu saja, maksudnya Sasuke adalah tunanganmu Sakura, memangnya apa lagi?"

Mendadak tenggorokanku tercekat mendengar penuturan Ayah, segala aksi protesku untuk menentang apa yang sedang terjadi seolah tersangkut di tenggorokanku dan dalam sekejap menghilang.

Aku mengatupkan bibirku rapat. Tak tahu lagi harus berkomentar seperti apa.

Tiba-tiba saja, sebuah tangan tirus yang mungil telah melingkari pinggangku, aku melihat kea rah si pemilik tangan, dan benar saja, si bocah Uchiha ini dengan seenaknya bercokol di pinggangku.

"Kau—"

"Tenang saja, kau tak perlu khawatir masalah pertunangan kita, Sakura-chan," ia berbisik pelan di telingaku, aku bergidik geli mendengarnya. Bukan karena merasa ngeri atau apa, hanya merasa terusik dengan napas hangatnya yang berbenturan dengan kulitku.

"Untuk apa aku khawatir, bodoh! Toh pertunangan ini juga nantinya tak akan bertahan lama," ujarku sarkastis.

"Heh! Aku tak bisa menjamin apa yang kau katakan itu akan terjadi onna, dan lagi… kau sama sekali bukan tipeku. Terlalu kurus dan terlihat kurang gizi..." ia member jeda perkataannya sejenak, "lagipula, aku tak berminat pada seorang nenek-nenek pedofil sepertimu" lanjutnya.

"AP—" tidak sempat ku selesaikan perkataanku, ia dengan tiba-tiba langsung menarik wajahku dan mengecup bibirku singkat.

Ia menyeringai penuh kemenangan, sementara aku sendiri mematung dan tercengang layaknya orang idiot.

Tidak…

Tidak…!

TIDAK!

Ciuman pertamaku!

Telah direnggut Setan kecil itu!

KAMI-SAMAAAA…!

TBC

Pojok bacotan :

Okelah, Minna-san…

Gimana menurut Minna? Udah bagus atau makin abal?

Typo berserakan kah? Atau EYD cacat?

Maklumilah kalau begitu… kritik dan saran dibutuhkan *nyusut ingus*

Sebelumnya nih, saya mau ngasih special thanks lagi buat temen-temenku *peluk-peluk*

And tentunya buat si Manda Akaichi beserta kakak saya…. #halah.

Juga untuk para reviewer…

Buat : Hany-chan DHA E3, Lee Hyun hyun, Asakura Rei, Nananana, Hibari Kyoya, Naomi azurania belle, eet gitu, Kurovi Kagamine, Vicchan Kagamine, Tobi Ca'em, Sora Yukishiro, haru-no-yuki, Reivany UchiHaruno, Iin-kun Kawaiiprince, Viannyca Theovanny Jesse, LavyLavy, KuekuKuekitaKuelaku, Obsinyx Virderald, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Chiwe-SasuSakuNaru, and Hakuya Cherry Uchiha Blossom

Arigato… ^_^ #

Akhirkata,

RNR please?