Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto
Warning : Typo, OOC *maybe*, EYD amburadul, dan segala kenistaan tingkat wahid akan dijumpai di fic ini.
My Little Devil is My Fiance
Chapter 3
KRIIIIIING!
KRIIIIIING!
Terdengar deringan sebuah jam weker memecah kesunyian pagi. Suara bisingnya seolah menjerit dan meminta agar pemiliknya kembali menenangkannya. Namun tampaknya si pemilik tetap enggan beranjak dari singgasananya yang nyaman. Ia malah lebih memilih bergumul di dalam selimutnya yang hangat dan nyaman.
KRIIIIIIING!
KRIIIIIIING!
Baik, tampaknya si pemilik pun mulai gelisah. Ia berusaha menghalau bunyi berisik yang berasal dari jam weker itu menggunakan bantalnya. Namun tetap saja, bunyi tersebut tidak akan sirna. Terkecuali jika memang si pemiliknya mematikan alaram jam tersebut.
Sepertinya rongrongan jam weker tersebut mampu meluruhkan egoisme dari pemiliknya, itu jelas terlihat ketika melihat Sakura yang tiba-tiba menyibak selimutnya dan beringsut perlahan mendekati jam wekernya.
Klik!
Dan suasana pun kembali terselimuti hening. Sakura memandang jam wekernya, dan di dapatinya jarum pendek dan panjang jam tersebut telah menunjukkan angka 6 dan 3.
Itu artinya, ini pukul 06.15 pagi.
Sakura menguap pelan. Di lihatnya kalender yang terpajang rapih pada dinding kamarnya yang berwarna Pink.
Sunday, 25 Maret 2012
Binggo!
Hari ini adalah hari Minggu. Namun Sakura agaknya hanya menampakkan ekspresi datar seperti biasa, bahkan terlihat tak bergairah untuk menyambut hari yang selalu di tunggu-tunggunya, ah… mungkin saja gadis Pink ini tengah terkena gejala Gloomy Sunday, barangkali?
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Sakura, sesegera mungkin ia membukakan pintu tersebut untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
"Nona Sakura, sarapan pagi telah siap, Tuan dan Nyonya telah menunggu di bawah," Tayuya, memberi tahu Sakura, tak ada jawaban dari Sakura, sejenak ia terperangah, kemudian kembali menilik jam wekernya.
Masih jam 06.15.
Dan, pagi-pagi seperti ini, orang tuanya memintanya turun agar melakukan ritual sarapan bersama?
"Bukannya ini masih pagi?" komentar Sakura, sementara Tayuya yang selaku pelayan hanya menggeleng pelan lalu menjawab, "Kalau mengenai hal tersebut, saya juga kurang tahu, Nona".
Sakura menghela nafasnya sesaat, kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan.
"Beri tahu Ayah dan Ibu, aku akan turun 15 menit lagi," pesan Sakura.
"Baik, Nona"
Dan dengan perlahan, Tayuya pun meninggalkan Sakura sendirian. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya, sejenak ia terdiam, sejujurnya merasa enggan untuk melakukan ritual sarapan bersama tersebut. Tetapi, entah mengapa jika ia tidak melakukannya ia akan merasa seperti di cekik oleh perasaan bersalah lantaran tidak menghormati kedua orang tuanya. Sejatinya, bukan masalah untuk Sakura, makan bersama Ayah dan Ibunya, hanya saja…
… kedatangan satu orang yang benar-benar tak ia harapkan, dan tentu saja berada dalam satu meja makan bukanlah sesuatu yang bisa dibilang menyenangkan.
Tak lantas berfikir demikian, Sakura pun sesegera mungkin menyambar handuknya dan bergegas ke kamar mandi.
Ya, sepertinya ia pun tak bisa menolak kenyataan bahwa nantinya juga akan tetap berada dalam satu meja makan dengan orang tersebut.
10 menit berlalu, dan Sakura telah menuntaskan acara mandinya. Tinggal memakai pakaian, maka ia telah siap untuk turun.
Ia mengenakan Hoodie abu-abu dengan lambang Adidas berwarna hitam terpampang rapih pada bagian punggung Hoodie tersebut. Tidak ketinggalan celana training hitam tiga per empat faforitnya.
Tanpa memoles wajah sendunya menggunakan make up ataupun lip gloss Sakura langsung turun dari kamarnya. Bahkan ia mungkin lupa bagaimana keadaan rambutnya yang setengah basah, ia malah dengan santainya mengabaikannya.
Hening.
Sunyi.
Dan, senyap.
Yang bisa terdengar mungkin hanya dentingan suara sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring.
Tidak ada candaan sarapan pagi yang seperti biasa selalu mewarnai kegiatan sarapan khas keluarga Haruno. Yang ada, para manusia yang tengah duduk manis di kursi itu tampak sibuk dengan urusan pribadi mereka masing-masing.
Semuanya tampak mengunci suara mereka jauh ke dalam tenggorokan mereka. Seolah ritual pagi kali ini tampak begitu hikmat.
Yap!
Sangat hikmat. Hingga lamat-lamat terlihat percikan api dendam membara di mata satu-satunya gadis ber iris zambrut tersebut, pada seorang bocah Uchiha yang tengah menikmati sarapannya.
Siapa lagi kalau bukan, Uchiha Sasuke.
Merasa di tatap oleh tatapan membunuh tingkat dewa oleh gadis di depannya, Sasuke pun balik menatapnya. Tentunya dengan seringaian iblis yang seakan tak pernah lekang dari bibir pemuda tampan itu.
"Ada apa, Sakura-chan? Kenapa kau terus menatapku seperti itu, apa kau ingin ku suapi?" tanya Sasuke diikuti oleh nada mengejek.
Sakura tersedak, ia menepuk-nepuk dadanya kemudian meneguk segelas air putih yang tersedia hingga menghabiskan setengah dari isinya.
Ia kembali men dead glare Sasuke, nampaknya merasa tak terima jika di katakan seperti itu. Tetapi yang bersangkutan malah makin memperlebar seringaiannya, kala permata onyxnya menangkap gelagat Sakura yang menurutnya sangat menawan.
"Aku sudah selesai, aku duluan"
Sakura menyudahi acara sarapannya dengan menutupnya dengan tegukan terakhir air putih di gelasnya. Kemudian segera beranjak dari tempat menyebalkan tersebut menuju tangga yang menghubungkan lantai dasar yang merupakan ruang makan ke kamarnya yang berada di tingkat paling atas.
Tsunade memelorotkan alisnya, melihat tingkah putri kesayangannya. Ia pun angkat bicara, "Sakura sayang, tapi makananmu belum habis…"
Tanpa menoleh, Sakura tetap melanjutkan aksinya menaiki tangga rumahnya. Kemudian menjawab perkataan sang ibu, "Tapi, Sakura sudah kenyang, bu. Lagipula masih ada tugas yang harus Sakura kerjakan,"
Mendengar jawaban Sakura, Tsunade dan Jiraya hanya menghela nafas. Baik ia dan istrinya sudah hafal betul watak putrinya tersebut. Mengenai tugas yang Sakura katakan tadi, pasti bukanlah tugas sungguhan. Melainkan hanyalah dalihnya supaya cepat meninggalkan ruang makan tanpa meninggalkan setitik alibi di mata kedua orang tuanya.
Kontan saja, sepeninggal Sakura ruang makan yang tadinya sepi pun kini makin terasa sunyi seperti areal pemakaman. Mungkin yang membedakannya hanyalah tidak ada batu nisan dan gundukan tanah bertaburkan bebungaan khas pemakaman pada umumnya.
"Sasuke-kun, maaf ya, atas sikap Sakura yang tidak sopan," Tsunade berkata sembari memancangkan senyuman kikuk, pada Sasuke. Sasuke hanya tersenyum simpul.
"Tidak apa-apa, bik," balas Sasuke sambil tersenyum canggung.
Tsunade pun kembali tersenyum, diikuti oleh suaminya yang juga melakukan hal yang sama seperti yang istrinya lakukan.
Kembali setelah pembicaraan singkat itu berakhir, mereka pun melanjutkan kembali sarapan mereka yang sempat tertunda.
Ya, tentu saja lagi-lagi harus di selangi dengan kesunyian, yang seakan menyelubung diantara mereka.
TRAK!
Sakura membanting jemarinya yang tengah bergerak lincah dalam barisan tuts keyboard laptopnya, hingga menimbulkan efek suara gemeretak yang begitu nyaring.
Ia menjambak mahkota merah mudanya frustasi. Bahkan sangking frustasinya, sampai menimbulkan kerutan permanen pada dahi Sakura. Tentu saja, sudah dapat di tebak siapa dalang dari segala permasalahan gadis ini—Uchiha Sasuke.
Pagi hari yang harusnya indah, dan menyalurkan energi positif malah menjadi pagi yang menjadi sumber kekesalannya. Dan, yang lebih buruk lagi, moodnya benar-benar hancur.
Ia menatap sederet kata-kata yang telah ia rangkai dalam lembar kerja Microsoft Word yang tersaji di hamparan iris giok itu. Namun, sedetik kemudian dengan cepat ia menghapus kembali kata-kata tersebut, dan kini hanya meninggalkan sebuah lembar kerja kosong—seperti semula.
Dan ini sudah yang ke 6 kalinya ia menghapus kata-kata yang telah ia rangkai.
Entah mengapa, rasanya ia menjadi begitu sulit untuk merangkai kata-kata untuk novel terbarunya. Seharusnya ia tak perlu merasa kesulitan seperti ini. Ya, seharusnya. Dan sayangnya itu sangat membuat Sakura kesulitan, dan membuat insting penulisnya seakan tumpul di tenggelamkan rasa dongkolnya.
Sakura beranjak dari meja belajarnya dan langsung menerjunkan dirinya ke tempat tidurnya. Menggulingkan dirinya kesana-kemari—tak tentu arah. Sejujurnya ia merasa bosan juga disini, dan terlebih lagi—
KRIIUUK..
– Sakura lapar.
Andaikan saja ia tak termakan sifat gengsinya saat ini, pasti saja ia sudah menembus blokade dan langsung meluncur menuju dapur dan memboyong kudapan-kudapan lezat yang ada di lemari es menuju kamarnya.
Yah… andai saja.
Baru saja Sakura hendak melangkah menyambangi tas selempang hijau toscanya, kegiatannya berhasil tergagalkan dengan suara ketukan pintu kamarnya.
Tok
Tok
Tok
"Iya, tunggu sebentar!" sahut Sakura, ia menyampirkan tas selempangnya ke bahunya sebelum kemudian membukakan pintu kamarnya.
"Yo!"
Sakura terperangah, namun tak selang beberapa lama ia langsung mengganti raut wajahnya menjadi raut wajah tak bersahabat pada si pengetuk pintu tadi.
"Mau apa kau, Uchiha?" tanpa membalas sapaannya, sakura langsung menujukan pertanyaan ketus.
Sasuke—si penyapa sekaligus sang pengetuk pintu tadi mengeriyitkan alisnya bingung, namun tetap memampangkan senyumannya. Sakura hanya memutar bola matanya bosan.
Tanpa menunggu aba-aba maupun persetujuan dari sang empunya kamar, Sasuke langsung menerobos masuk kedalam kamar Sakura.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamarku, bocah?" Sakura menarik ujung baju Sasuke dengan kasar hingga akhirnya dengan sukses langkah Sasuke terhenti. Ia memutar badannya—menghadap Sakura, "Tidak ada," jawabnya datar, ia memperlebar seringaiannya dan menjulurkan tangannya hingga membelit pinggang sang nona Haruno dengan sempurna dan kemudian menariknya, dan memojokkannya pada dinding kamar Sakura.
"Tapi meski begitu, aku punya hak khusus untuk masuk ke dalam kamar tunanganku," Sasuke membisikkan kalimat tersebut sembari meniup pelan telinga Sakura dengan nafas hangatnya. Sakura bergidik ngeri, dan kemudian mendorong paksa orang di depannya, hingga ia akhirnya terlepas dari pelukan orang tersebut.
"Tidak ada hak khusus, dan lagi… tunanganmu? Hah! Bahkan aku pun sama sekali tak ingin mengakui bahwa memiliki tunangan seorang bocah,"
"Oh ya? Kalau begitu lihat dirimu Nona, kau bahkan lebih cerewet ketimbang nenekku"
"APA?"
"Ah… iya, aku lupa," Sasuke menggantung kata-katanya, ia kembali mendekati Sakura, dan kembali mengunci pergerakan Sakura di tembok kamar miliknya, "kalau kau nyatanya adalah seorang nenek-nenek" sambung Sasuke diiringi oleh kekehan pelan darinya. Sakura membelalakkan matanya, hingga nyaris melewati batas rongga mata jika saja tidak tertahan oleh kelopak matanya.
"KAU—"
"—Ah! Lihat juga tubuhmu Sakura. Kau itu terlalu kurus, bahkan terlihat kurang gizi," Sasuke menatap Sakura dari atas sampai bawah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya turut menambah kesan dramatis pada wajah tampannya. "kalau tubuhmu saja sekecil ini, bagaimana mungkin kau bisa melahirkan nantinya"
Sakura lagi-lagi terbelalak, berusaha keras ia untuk melepaskan dirinya yang tengah di pelukan setan kecil di depannya. Namun, tentu saja menurut kasta hukum alam, yang men takdirkan lelaki lebih kuat dibanding perempuan, Sakura tentu saja tak bisa melakukannya.
"Lepaskan, bocah! Sebenarnya apa yang mau kau katakan ha? Jangan mengatakan lelucon bodoh seperti itu disaat mood seseorang sedang buruk!"
Alis Sasuke berjingit, kemudian memiringkan kepalanya menatap Sakura lalu kemudian tertawa, "Hei, jadi kau tak suka jika aku mengomentari keadaanmu?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Sasuke, Sakura malah membuang wajahnya kesal, kemudian berkata dengan ketus, "Sudahlah! Lepaskan saja pelukan ini, atau aku akan menghadiahimu bogem mentah!"
Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura, kedua tangannya yang sedari tadi memeluk tubuh mungil gadis itu kini beralih menangkup wajah tirusnya, dan membawanya ke dalam tatapan mata yang dalam.
"Tapi, Sakura-chan…" Sasuke menempelkan dahinya pada dahi Sakura, "bagaimana jika aku tidak melepaskanmu, hm?"
Sakura terkaget sekaligus terbelalak melihat aksi yang dilancarkan Sasuke padanya, berusaha menahan emosinya Sakura mengepalkan jemarinya di dalam genggaman tangannya—seolah bersiap-siap kapan saja melayangkannya ke paras pemuda di depannya.
"Aku yakin kau tidak tuli, Uchiha, jadi kau pasti mendengarkan perkataanku barusan" tukas Sakura tajam. Sementara Sasuke tak memperdulikan ucapan gadis di depannya. Dan tentu saja, hal tersebut mampu mengundang rasa dongkol di benak Sakura.
"Kau ini mendengarkanku atau tidak sih!"
"Iya, iya… aku mendengarkan kok," Sasuke menyandarkan kepalanya pada bahu Sakura, dan kembali memeluknya seperti semula.
"Kalau kau mendengarkan, seharusnya kau melepaskan pelukanmu, bukan malah memper eratnya!"
"Tapi aku sudah nyaman disini,"
"Dan aku tidak, bocah! Makanya, cepat lepaskan!"
"Ti… dak!"
"Lepaskan, kubilang!"
"A,a…" geleng Sasuke mantap.
"LEPA—"
Tiba-tiba saja kata-kata Sakura terhenti. Sepertinya ada suatu benda yang mampu menghentikan pergerakan bibir mungil gadis tersebut sehingga kata-kata yang dapat meluncur darinya mendadak kembali tertarik ke kerongkongannya. Ya. Sebuah banda yang tentunya bukan benda yang tersusun berdasarkan partikel-partikel padat seperti perabotan kamar si Nona Haruno ini ataupun tembok kamarnya. Melainkan benda kenyal dengan tekstur lembut yang hangat yang tidak lain adalah bibir dari pemuda di hadapannya—Sasuke!
Dengan bibir terbungkam oleh bibir Sasuke; dicium. Tentu saja Sakura bungkam. Ah! Mungkin tidak terlalu tepat jika di katakan bungkam—lebih tepatnya tercekat. Selain karena itu, secara logika, tidaklah mungkin seseorang yang sedang di cium mampu mengeluarkan sepatah atau dua patah kata.
Sasuke melepaskan bungkamannya pada bibir Sakura. Ia tersenyum menyeringai—nampaknya merasa puas karena berhasil mengerjai gadis gulali ini. Sedangkan Sakura, hanya mampu membulatkan matanya shock atas kejadian yang baru saja ia alami.
"Lain kali, kau harus kurangi kadar cerewetmu, kalau kau tak ingin aku kembali mengklaim bibirmu"
Sasuke beranjak dari Sakura, kemudian menyerahkan se plastik penuh snack yang entah di dapatnya darimana kepada Sakura.
"A-apa ini?" tanya Sakura terbata. Sasuke terkekeh geli kemudian mengelus kepala Sakura pelan.
"Tentu saja makanan, memangnya menurutmu apa? Gaun pengantin?"
"Aku tahu, tapi ini untuk ap—"
"—sshsst!" Sasuke meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Sakura—mengisyaratkannya untuk berhenti bicara, "Sudah, terima saja," Sasuke mendorong se plastik kudapan itu pada Sakura, tak pelak Sakura pun menerimanya, yah… sebenarnya merasa sedikit enggan.
"Lagipula…" Sasuke menggantungkan kalimatnya, kemudian berdiri dan berjalan keluar. Namun, baru sampai di ambang pintu kamar Sakura, pemuda itu menghentikan langkahnya dan berbalik sejenak menghadap Sakura, "anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih dariku" ujarnya sembari tersenyum.
Sakura memandang Sasuke dengan tatapan bingung, "Maksudmu?"
Lagi-lagi Sasuke tersenyum, sebelum kemudian berkata, "Ya, ucapan terimakasih untuk sudah memperbolehkan aku mencicipi bibirmu," Sasuke menyeringai jahil.
Wajah Sakura mendadak memerah, hingga nyaris serupa dengan warna semburat senja. Bahkan terlihat samar-samar kepulan asap yang keluar dari atas kepalanya—mungkin di sebabkan karena begitu kuatnya menahan malu?
"K-KAU?" pekik Sakura, sementara Sasuke malah dengan asyiknya melenggang pergi meninggalkan kamar Sakura tanpa mengindahkan sedikitpun kata-kata tunangannya.
"SASUKE UCHIHAAAA!"
Dan, begitu gemuruh suara teriakan Sakura yang menggema di rumah tersebut, Sasuke hanya bisa menahan tawanya, melihat ekspresi konyol Sakura. Namun tak sampai sedetik ekspresi geli tersebut langsung di gantikan dengan ekspresi seringaian iblis yang sangat menyeramkan. Yah, tampaknya si bocah Uchiha ini tengah merencanakan sesuatu hal.
Entah apa yang direncanakannya, tak dapat diketahui dengan jelas.
Tetapi satu hal. Pasti, rencananya erat kaitannya dengan Sakura.
Dan rencana itu, pastilah bukan rencanya yang cukup baik…
Setidaknya, berdo'a saja, semoga rencana tersebut bukanlah suatu bumerang yang akan mengakibatkan kesialan dalam kehidupan sakura.
Ya. Semoga saja…
TBC…
Pojok bacotan :
Okelah Minna-san…
Seharusnya fic ini di apdet tadi pagi, tapi malah jadi merosot begini *lirik-lirik jam*
Tapi apa mau dikata, waktu tak berpihak padaku~ #dilemparkulkas
Habisnya, saya tadi pagi lagi ujian praktek Fisika, Minna-san T,T jadi nggak sempet, apdet fic pagi.
Juga nggak bisa janji nih, bakalan apdet minggu depan, karena ada US yang menanti *derita anak SMP* dan bakalan apdet lagi minggu depannya.
Kalo chap ini kurang memuaskan, hamba minta maaf~ #sembahsujud
Special thanks buat : Amigo, BlueCherry Uchiha, DEVIL'D, Jimi-li, senayuki-chan, Kikyo Fujikazu, chioque, Poetrie-chan, Obsinyx Virderald, Sasu-chan, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Kucing itu imut, Iin-kun Kawaiiprince, Sands of Time, Tobi Ca'em, Hakuya Cherry Uchiha Blossom, Tomatooo, Ckck vivi, Lee Jeong Min, KuekuKuekitaKuelaku, Vicchan Kagamine, Sorayuki, Hibari Kyoya, Lee Hyun hyun, LavyLavy, and Nananana.
Diperlukan kritik dan sarannya melalui Review…
