Katekyō Hitman REBORN! Hanya milik Amano Akira.
(Author hanya meminjam karakternya saja~)
Terinspirasi dengan Fanfic berjudul Vongola 10st and 1st oleh Leenalytte Mine.
.
.
.
Happy Reading, Minna-san.
.
.
.
"Dame"-Tsuna a.k.a Sawada Tsunayoshi akhirnya berhasil memenangkan konflik perebutan Vongola Rings melawan Varia. Tapi siapa sangka dari kemenangan itu membuat Tsuna dan keenam penjaganya harus bertanggung jawab menerima tugas-tugas sebagai generasi Vongola kesepuluh.
Yah, mungkin untuk sekarang misi Vongola tidak akan sesulit itu.
Sekarang, Boss Juudaime tengah tertidur pulas dengan liur sudah menghiasi dagu manisnya.
Tidak tau jika di depannya sudah ada Reborn dan Giannini yang sedang memerhatikan pemuda brunette itu.
"Apa kamu yakin, Reborn-san?" Giannini menggigit kedua ibu jarinya yang berkeringat.
Reborn menunjukan senyum mencurigakan, gelagatnya seperti orang yang merencanakan 'rencana jahat'.
"Ya, aku ingin mereka bertemu dengan leluhurnya." Reborn menjawab simpel.
Giannini menghela nafas berat. Dalam hati, Giannini sedikit ingin protes dengan ucapan Reborn di minggu lalu yang dimana menyuruh dirinya untuk membuat semacam alat untuk 'menarik 7 orang dari seratus tahun lalu ke zaman ini'.
Siapa lagi kalau bukan Vongola Primo dan anggota penjaganya?
"Reborn-san... kalau boleh tau, kenapa Reborn-san ingin menyeret Vongola generasi pertama ke sini?" Giannini kembali bertanya penuh rasa penasaran.
"Hn. Tanyakan saja ke Author." Reborn melompat ke tempat tidur, dalam sekejap bajunya sudah diganti dengan piyama.
"E-eh!? Author? Maksud Reborn-san?!" Giannini tidak paham.
Reborn mendecak pelan. Tangan mungilnya mengintruksikan Leon untuk hinggap di jemarinya dan berubah menjadi pistol.
Giannini melotot memandangi Reborn dan Leon.
"Buat secepatnya tanpa kesalahan, atau kau menerima balasannya." Kata Reborn, dengan semua kalimatnya dibuat lebih menekan.
"H-ha'i... Reborn-san! Aku akan membuatnya dengan sempurna!" Giannini berlari terbirit-birit meninggalkan kamar Tsuna.
Menyisakan hanya Reborn dan Tsuna di kamar.
"Bersiaplah, Tsuna." Reborn tersenyum puas.
"Tsuna! Bangun!"
Lambo berteriak begitu nyaring sampai-sampai jendela kamar Tsuna retak. Tak hanya itu, kekacauan yang dibuat Lambo bertambah berlipat-lipat.
Pertama, menarik selimut Tsuna, kedua melompat-lompat di atas badan Tsuna dan yang terakhir mengeluarkan bom kesayangan bocah kribo itu--
"U-ugh... Lambooo!" Tsuna menyerah. Matanya yang berat dipaksakan agar tetap terbuka.
"Tsunaa! Bangunn! Atau Lambo-san akan memberikan kejutan spesial!" Lagi-lagi Lambo terus berteriak dan tidak bisa diam.
Tsuna mendesah frustasi. Ia membawa Lambo dengan tangannya dan menurunkan 'anak sapi' itu ke lantai.
"Iya, iya, aku bangun." Ucap Tsuna sambil membuka tirai kamarnya.
Lambo nyengir. Merasa sudah menyelesaikan titahan dari Mama, bocah itu berlari dan memanggil I-pin untuk bermain bersama.
"Memangnya jam berapa sekarang?" Tsuna mengucek mata, kemudian melirik jam weker di samping ranjang.
07.56 AM
"HIEEEEE!!!" Tsuna memekik histeris.
Buru-buru ia menyambar seragam sekolahnya dan pergi ke kamar mandi.
Selang beberapa menit--
"Ittekimasu!" Tsuna menutup pintu rumahnya.
Nana Sawada, sang Ibunda terkekeh geli melihat tingkah laku putra semata wayangnya yang menggemaskan.
"Tsu-kun, hati-hati di jalan~" Kata Nana dari dalam rumah yang pasti masih terdengar oleh Tsuna.
Di jalan, Tsuna menghabiskan rotinya dengan khidmat. Walau makan sambil berlari dengan selai kacang berterbangan di udara itu tak mengurangi kelezatan sarapannya.
"Haah~ roti selai kacang selalu paling yang enak! Mungkin lain kali aku akan membelinya lebih banyak~" Tsuna mengusap-usap perutnya dengan senyum riang.
"Juudaime!"
"Oi Tsuna!"
"Ngg?" Tsuna menoleh ke belakang.
Gokudera dan Yamamoto melambai-lambai sambil menghampiri Tsuna dengan bersemangat.
Astaga, setelah satu minggu istirahat gara-gara insiden cincin Vongola akhirnya semuanya kembali seperti semula.
Tsuna merasa sangat lega.
Selebihnya was-was.
"Gokudera-kun! Yamamoto! Ohayou..." Tsuna mencoba menahan isak tangis syukurnya.
"J-Juudaime! Kenapa?! Apa ada yang menyakiti Juudaime!?" Gokudera mengeluarkan belasan bom di balik sela jari-jarinya.
Tsuna menggeleng, memberikan senyum selebar mungkin kepada mereka berdua.
"Tidak ada, Gokudera-kun. Semuanya aman! Jadi, bagaimana hari libur kalian selama seminggu ini?" Tsuna bertanya ingin tau.
Yamamoto mengeluarkan tongkat bisbol. "Aku mengisi waktu libur dengan berlatih, haha. Rasanya kurang kalau tanpa latihan bisbol!"
Perempatan merah di sudut kening Gokudera muncul. Dia langsung menyembur, "teme Yakyuu Baka! Bukankah si Shamal sudah memperingatimu untuk tidak dulu banyak bergerak?!"
Tsuna sweatdrop mengamati kedua sahabatnya.
"Maa, maa tenanglah Gokudera. Aku istirahat kok." Yamamoto tersenyum, kedua matanya terpejam.
Itu membuat Yamamoto bertambah tampan.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Gokudera." Lanjut Yamamoto, seraya menaruh sebelah tangannya di bahu Gokudera.
Sang penjaga badai menggeram kesal dengan sikap santai milik Yamamoto.
Tsuna tidak bisa berbuat banyak. Justrul dengan adanya mereka berdua di sekitarnya, itu sangat menghibur.
Eh, tunggu dulu. Bukankah ini sudah jam 8 lebih 40 menit?
"Astaga! Yamamoto! Gokudera-kun! Ayo kita berangkat! Kita akan telat kalau masih di sini!" Tsuna berteriak panik.
Yamamoto langsung tersadar. "Ah, kau benar Tsuna."
Gokudera langsung berdiri di samping Tsuna. "Kalau begitu ayo Juudaime! Kita berlari bersama! Aku akan menjaga Juudaime dari belakang!"
Tsuna tertawa garing. "B-baiklah..."
Beberapa menit kemudian--
"HIEEEE!! GERBANGNYA SUDAH DITUTUP!" Tsuna langsung beringsut lemah menjatuhkan diri ke lantai.
Yamamoto tersenyum dengan peluh yang bertetesan. "Wah, sepertinya kita harus belajar di luar kali ini."
Gokudera menggigit bibir. "Hmm, Juudaime, bagaimana jika kita memanjat gerbang sialan ini?"
Tsuna melotot. "Tidak boleh, Gokudera-kun! Apalagi kalau sampai Hibari-san melihatnya... Dia benar-benar akan marah!"
Gokudera mendecakkan lidah kesal.
Oh, satu lampu muncul di atas kepala Gokudera.
"Atau dengan ini saja, bagaimana Juudaime!?" Gokudera mengeluarkan dinamitnya dengan ekspresi bangga.
Tsuna semakin cengo. "I-itu bukan ide yang bagus..."
"Manjat saja, aku tidak keberatan menggendongmu, Tsuna." Yamamoto 'nyengir'.
Gokudera menghalangi Yamamoto. "Tidak bisa, yang akan menggendong Juudaime adalah aku sebagai tangan kanannya!"
"Aku juga bisa, dong. Kita satu family kan? Ya, Tsuna?" Yamamoto mengedipkan sebelah matanya ke arah Tsuna.
"TENTU TIDAK!" Gokudera kepanasan.
Tsuna menepuk jidatnya sendiri keras-keras.
Sampai lupa, ada langkah kaki yang mendekat.
"Ne, kalian. Ada apa bergerombol di depan sana?"
Suara dengan nada dalam yang sudah tidak asing lagi di telinga Tsuna tertangkap sangat jelas.
Slow motion, Tsuna membalikkan badannya setengah, mendapati sosok sang Prefek Namimori yang berdiri tegap sembari memegang satu tonfa di tangan kiri.
"H-Hibari-san!" Tsuna mundur beberapa langkah.
Dia kebingungan harus membalas apa. 'Aku terlambat pergi ke sekolah!' Masa begitu? Tsuna kehabisan ide untuk beralasan.
Hibari mengambil beberapa langkah ke depan untuk memojokki Tsuna. Tonfa nya tetap berada pada tangan kiri, satu tonfa nya lagi dibiarkan disimpan di balik gakura.
Tsuna terhimpit di gerbang Namimori. Tidak salah lagi, ia akan dihabisi oleh Hibari.
"Herbivore, terlambat?" Hibari mendengus geli. Melihat Sawada Tsunayoshi yang ketakutan padanya adalah sensasi yang paling disukainya.
Si boss ke-sepuluh meneguk ludah susah payah. "C-ceritanya panjang, Hibari-san... Sungguh, kami benar-benar tidak disengaja!"
"Wao." Hibari berdiri dengan gagahnya di hadapan Tsuna.
Kenapa anak ini tidak mau menatapnya?
Mata Tsuna tetap terpejam ketakutan.
Hibari mengulurkan tangan kanannya yang bebas tepat ke belakang badan Tsuna, sekilas Hibari tampak sedang mendekap si pemuda brunette.
Tapi faktanya bukan, Hibari tengah membuka gerbang Namimori mengunakan kunci yang selalu dia pegang.
Klek.
Gerbang pun akhirnya digeser oleh Hibari dengan sekali tarikan.
"H-hie!?" Tsuna langsung gemetaran. Ia kira Hibari akan menghajarnya.
"Masuk, Herbivore." Perintah Hibari dingin.
Tsuna mengedipkan kedua matanya bengong. Baru saja Hibari mempersilakannya masuk ke dalam? Bahkan setelah terlambat... pun?
Ada apa dengan dunia ini? Tidak, ini awal mula dari sebuah bencana!
Masa bodoh! Kita pikirkan nanti! Yang penting, Tsuna dan kawan-kawannya bisa masuk ke sekolah.
"Terima kasih, H-Hibari-san..." Tsuna mencoba semaksimal mungkin untuk memberikan senyuman yang tidak terlihat 'kikuk' dan 'takut'.
Tap... Tap... Tap...
Tsuna melangkah pelan-pelan masuk ke dalam, melewati gerbang dengan selamat.
"Hn." Hibari merasa puas dengan Herbivore yang satu itu, sungguh anak yang penurut.
Jangan lupakan keberadaan Yamamoto dan Gokudera!
"Aku tidak tau kenapa kau maniak Namimori membiarkan kami masuk, tapi oke lah kalau kau sudah sadar dengan posisimu!" Celetuk Gokudera.
Yamamoto terkekeh senang. "Sankyuu Hibari."
Baru saja Yamamoto dan Gokudera hendak melangkahi gerbang yang masih terbuka, dengan cepat Hibari menarik kembali gerbangnya dalam satu tarikan menjadi posisi tertutup rapat.
"Tidak ada yang membiarkan kalian masuk." Kata Hibari, sambil memicingkan pandangannya.
Gokudera langsung emosi. "Teme!!!"
Yamamoto menyadari sesuatu, ada yang aneh dengan Hibari Kyouya hari ini. Kenapa hanya Tsuna?
Penjaga hujan menepuk pundak Gokudera untuk menenangkan si badai merah.
"Kalau Hibari sudah mengatakan tidak, ya sudah. Kita manjat saja, Gokudera." Ajak Yamamoto.
Hibari menatap mereka tidak suka. "Menjauh dari Herbivore itu."
"Hah?" Gokudera tak paham dengan maksud Hibari.
"Tsuna, kau masuk duluan saja." Yamamoto menoleh ke belakang, memberikan jempol.
"T-tapi!" Tsuna yang payah tidak bisa melakukan apa-apa di hadapan para penjaganya.
Yamamoto kembali meyakinkan, "tak apa-apa! Percayalah pada kami, aku dan Gokudera akan menyusul!"
Tadinya ingin menolak dan bersikukuh menunggu, tapi Hibari lebih dulu mengancamnya dengan tatapan 'mematikan'.
Hibari meremas tonfa nya dengan lebih erat. Kenapa anak itu harus mengkhawatirkan mereka berdua?
Kening Hibari mengerut tak senang, terus menatapi Tsuna. Ia menuntut sebuah jawaban.
Tsuna kalut dalam ketakutan, alhasil boss itu berlari lebih dulu menuju arah kelas.
"HIEEEE!!"
Tersisa hanya ketiga penjaga Vongola Kesepuluh.
Hibari menghela nafas pendek.
Sudah tidak ada kesenangan lagi di sini. Hibari pun melenggang pergi melanjutkan patroli.
"Oi Hibari sialan! Buka dulu gerbangnya!" Gokudera berteriak marah.
Sayangnya permintaan itu tak didengar oleh penjaga awan.
Pada akhirnya Yamamoto mengajak Gokudera untuk memanjat bersama. Lalu berlari menyusul boss mereka.
Di ruang bawah tanah, markas Giannini berada.
Giannini meletakkan semacam kotak hitam dengan emas dan perak sebagai hiasan di tengah-tengah ruang kosong.
Setelah kotak itu diletakan dengan hati-hati, Giannini melanjutkan ke komputer layar seratus inch nya.
Tak memakan waktu lama, sebuah gempa bumi terjadi cukup mengagetkan.
Ruangan pun dipenuhi oleh cahaya menyilaukan. Giannini sampai harus menggunakan kacamata anti matahari.
Apakah penelitiannya berhasil?
Reborn tidak akan membunuhnya!?
Hanya berlangsung selama 2 menit, cahaya itu akhirnya meredup.
Tapi Giannini tidak menemukan Vongola Generasi Pertama. Tak ada keberadaan mereka sama sekali di markasnya.
"Bukankah tadi sukses?" Giannini merasa penasaran. "Alatnya rusak lagi?!"
Astaga, ini ke-299 kalinya Giannini mengulangi penelitiannya.
Dengan berat hati, Giannini kembali berkutat dengan kesalahan berikutnya.
Sayang sekali, Giannini. Kali ini dia berhasil melakukannya. Namun tidak dalam jangkauannya.
"Mama, Lambo ingin makan steak ayam!"
"I-pin juga!"
"Aku pun!" Fuuta ikut-ikutan.
Sawada Nana tersenyum geli dengan bara semangat mereka menginginkan steak ayam.
"Iya, akan kubuatkan setelah mengambil jemuran ya~" Nana menenangkan mereka.
Dengan serempak, tiga bocah itu menunggu di meja makan sambil mengobrol.
Nana membuka pintu hendak mengangkat jemuran yang sudah kering.
Tapi, wadah untuk jemuran jatuh dari tangannya karena shock dengan apa yang sedang dilihat oleh Nana.
Nana reflek menutupi mulutnya.
"Kyaaa astaga!"
Reborn, Bianchi dan ketiga bocah lainnya segera menghampiri Nana.
"Mama!" Tiga bocah berseru berbarengan.
"Ada apa, Mama?" Reborn bertanya.
...Oh.
Di hadapan mereka terdapat tujuh pemuda yang tak sadarkan diri.
Ada surai pirang dua, yang satu lebih terang yang satunya kekuning-kuningan, sisanya surai biru, hitam, merah muda... lalu hijau?
Siapa mereka?
Reborn sepertinya mengenal mereka.
Diawali seringaian maut, Reborn menatapi langit.
'Kau berhasil, Giannini.'
"Bianchi, Mama, tolong bantu mereka masuk ke dalam. Ini temannya Tsuna yang dari Italia, sepertinya mereka pingsan karena kelaparan." Reborn menjelaskan.
Nana mengerjapkan mata berkali-kali. "T-Teman Tsu-kun dari Italia? Wah~ Tsu-kun hebatnya bisa punya teman dari Italia! Kalau begitu akan kubawa mereka ke dalam dan malam ini kita akan mengadakan pesta!"
As usual, Nana tidak pernah memedulikan orang seperti apa yang menetap di rumahnya asal itu 'Teman Tsu-kun'.
Hampir 30 menit Nana dan Bianchi memindahkan tujuh pemuda asing ke kamar Tsuna.
"Akhirnya berhasil~" Nana meregangkan otot-ototnya yang lemas.
Bianchi mengusap keringat di sudut pelipis. Ia kembali melirik pemuda ringkih pirang berjubah dengan penuh curiga.
"Tolong jaga mereka ya, Reborn-kun, Bianchi-chan." Nana tersenyum simpul.
Tentu dibalas oleh dua senyum lembut dari Bianchi dan Reborn.
"Jadi Reborn... Siapa mereka?" Bianchi memulai pembicaraan.
Reborn membetulkan letak topi fedora nya sambil berkata, "Vongola Generasi Pertama, Vongola Primo dan penjaganya."
"!!!?"
"Sampai jumpa nanti, Gokudera-kun, Yamamoto!" Tsuna melambaikan tangannya untuk kedua sahabat karib.
Yamamoto balas melambai, "Ya Tsuna~ Sampai bertemu besok."
Gokudera tak kalah menjawab, "Semoga malam ini Juudaime bermimpi indah! Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menelponku."
Tsuna mengangguk senang, "Ya terima kalian berdua."
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju rumah masing-masing.
Tsuna mengulum senyum lagi, kemudian membuka knop pintu dan langsung disambut oleh barang Lambo yang terbang.
DUACK!
"Arghhh!" Tsuna jatuh karena mainan Lambo yang besar menghantam wajahnya.
"Astaga Lambo! Hati-hati kalo main!" Tsuna menggeram kesal.
Dan rasa frustasi Tsuna tak sampai ke telinga Lambo, anak sapi itu terus mengitari meja makan dan melanjutkan keusilannya kepada I-pin juga Fuuta.
Tsuna melempar mainan Lambo ke dalam dengan asal. Pintu ditutup kembali.
"Tadaima..." Tsuna berkata pelan.
Nana menoleh, memberikan seutas senyum indah. "Selamat datang, Tsu-kun! Yaampun, Tsu-kun tak pernah bilang ke Kaa-san kalau Tsu-kun punya banyak teman dari luar negeri~"
"E-eh? Itu... Ah.." Tsuna gugup. Dalam pikirannya teman luar negeri hanya ada Dino. Siapa lagi? Err, mungkin Bianchi termasuk? Fuuta? I-pin? Lambo? Mereka teman juga, kan?
"Ngomong-ngomong, temanmu masih tidur di kamar Tsu-kun, jangan bangunkan mereka ya~ Kaa-san akan menyiapkan makanan yang paling spesial untuk teman Tsu-kun!" Nana berbicara semangat.
"Ha...?" Tsuna yang lelah habis olahraga di sekolah hanya mengiyakan apa yang dikatakan Nana.
Palingan hanya kenalan aneh Reborn.
Sesampainya di depan kamar, Tsuna agak ragu untuk masuk. Err, tapi bukankah ini memang kamar miliknya?!
Memberanikan diri, Tsuna akhirnya membuka pintu--
"Kemana saja kau, Dame Tsuna?" Reborn menendang pipi Tsuna.
Sambutan yang begitu hangat.
"Awwh, Reborn!! Jangan menendangku seperti itu tiba-tiba! Sakit tau!" Protes Tsuna sembari mengelus-elus pipinya yang merah.
"Lihat ke depan, Tsuna." Reborn tersenyum SANGAT PUAS.
"Huh?" Tsuna melihat kondisi kamarnya yang--
JENG JENG!
Ada tujuh orang pemuda yang tertidur di kamarnya. Terlebih, wajah-wajah mereka asing semua dan tampan!
"HIEEEEE!!! SIAPA MEREKA!???"
DUACK!
"Berisik Tsuna." Reborn lagi-lagi menendang pipi yang lain Tsuna.
"E-errh..." Tsuna kewalahan, ia akhirnya hanya duduk bersandar di dinding kamar sambil memandangi mereka.
"Biar aku perkenalkan, mereka adalah Vongola Generasi Pertama, atasanmu Tsuna." Jelas Reborn tanpa panjang lebar.
"H-hah?!!!" Tsuna tak percaya dengan yang dibicarakan Reborn.
"Bukankah mereka sudah lama mati!!??" Tsuna melancarkan pertanyaannya.
"Dulu iya, sekarang tidak. Berterima kasihlah kepada Giannini." Reborn menyeringai.
...What?
Giannini!???
Tsuna menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang sekering aspal.
Dunia ini mau kiamat atau bagaimana, sih?
"...Ugh."
Tsuna melotot. "HIEEEE DIA BANGUN, REBORN!!!"
Giotto--boss pertama Vongola membuka mata. Memperlihatkan iris biru laut yang cantik.
"...Decimo?" Dalam sekali pandang, Giotto langsung mengenali Tsuna.
TO BE CONTINUE
Hai, hai! Terima kasih banyak sudah membaca fanfic pertamaku di fandom KHR 3
Tolong jangan lupa review nya 3
Terima kasih banyak sekali lagi~
[24 Maret 2023]
