The Remedy
.
By: bluemaniac
.
.
.
Sunyi sejenak.
Sasuke bingung apa yang harus dikatakannya, jadi dengan senyum bisnis khas Uchiha yang terpasang di wajahnya, ia bertanya dengan lembut.
"Maaf-…?"
"Lepaskan sengketa rumah sakit Hyuuga Hospital yang telah kalian klaim. Lahan itu bukan hak kalian." Ulang gadis itu, lembut, tapi tegas.
Sasuke mengerutkan dahi. Bukan, ia meminta gadis itu mengulang perkataanya bukan karena pendengarannya kurang jelas, tapi karena ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud gadis itu dalam ucapannya.
Gadis itu maju hingga berdiri tepat di hadapan meja kerja Sasuke, membuat wajah gadis itu terlihat semakin jelas dari tempat Sasuke duduk. Tak dapat dipungkiri lagi kecantikan wanita itu saat perlahan mendekati tatapan mata Sasuke yang sudah mengiba. Sasuke harus menahan keinginan menelan ludah karena gugup.
Gugup? Oleh gadis belia dihadapannya? Sejak kapan seorang Uchiha gugup?
Seakan terhipnotis oleh sapuan lembut bulu mata lentik gadis itu, Sasuke sampai tidak sadar akan map kuning yang dibawanya kehadapan Sasuke.
"Hyuuga Hospital sudah berdiri lebih dari lima belas tahun, dan aku bekerja sebagai salah satu dokter disana sampai sekarang. Kami sudah membantu orang orang tak mampu dalam ekonomi untuk mendapatkan perawatan medis yang memadai. Dan saat ini, masyarakat kalangan menengah ke bawah sudah sangat menghargainya, bahkan cenderung bergantung pada kami, pada rumah sakit itu. Aku tak akan membiarkan sebuah permainan saham konyol yang kalian jadikan bisnis itu menghancurkannya. Jadi disini, saat ini juga, aku minta –tidak-, aku memaksa kalian untuk melepas semua campur tangan dan hak kepemilikan yang kalian klaim. Karena kami sama sekali tidak berniat menjual lahan itu." Jelas gadis itu lagi, dengan beberapa penekanan.
Kini Sasuke baru paham apa yang dimaksudkan gadis itu.
'Ooh, satu lagi orang yang keberatan dengan permainan saham kami?' gerutu Sasuke dalam hati.
"Begini, Nona Hyuuga-…"
"Hinata. Cukup Hinata." Tegas gadis itu.
"Baiklah, Nona Hinata," Sasuke memandang wajah Hinata lekat lekat, lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan pelan mengitari meja, membuat Hinata melangkah mundur untuk menjaga jarak yang sopan. Setelah sampai di hadapan Hinata, Sasuke duduk menyandar di pinggir mejanya. Kini mereka sudah berhadap hadapan. "Kurasa kita perlu meluruskan beberapa hal disini. Karena penjelasannya lumayan panjang, kusarankan lebih baik kau duduk terlebih dahulu."
"Tidak. Jangan hiraukan aku. Aku tak akan lama disini. Aku hanya perlu surat kontrak asli yang ada pada kalian, merobeknya dalam arti pembatalan resmi, dan segera pergi dari sini. Aku tak mau menggangu waktu mu lebih lama." Tolak Hinata, mencoba untuk sopan, tapi sepertinya tidak terlalu berhasil.
Sasuke mengerutkan dahi, "Kurasa kau sudah memikirkan masalah ini dengan matang, eh?"
"Tidak. Rencana ini murni spontanitas. Ketika aku mengetahui fakta ini dari ayahku tadi siang."
Mendengar itu Sasuke tersenyum geli, ia menyadari tak peduli apa yang akan dikatakannya, kata 'tidak' akan selalu mengawali ucapan gadis itu.
"Kau orang yang sangat keras kepala," Sasuke melipat tangan di depan dada, masih dengan seringai yang sama, ia menambahkan, "Sungguh tipe ku."
Mendengar itu, otomatis Hinata mengerutkan dahi. "Maaf?"
Pertanyaan Hinata hanya dijawab oleh seringaian lainnya. Paham bahwa dirinya sedang digoda, rona merah langsung merambat di pipinya. Campuran malu dan emosi membuat kemarahannya memuncak.
"Aku datang kesini membahas persoalan serius menyangkut nasib hidup dan mati orang banyak, dan kau hanya menanggapinya dengan tingkah serampangan seperti ini? Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu, Tuan Uchiha-…"
"Sasuke. Cukup Sasuke." Potong Sasuke dengan nada yang sama dengan yang dipakai Hinata saat memotong ucapannya tadi. Sasuke nyaris tergelak melihat reaksi Hinata yang meledak ledak seperti itu. Tapi masih mampu ditahannya karena tak mau lebih mengacaukan suasana. Tentu saja, hal itu tak meredakan kemarahan lawan bicaranya.
"Terserah apa nama panggilan mu. Tapi asal kau tahu saja, sifatmu yang suka mengulur ngulur waktu itu sudah melenyapkan sedikit rasa hormatku padamu. Bahkan nyaris hilang sepenuhnya. Bukankah penting bagimu membangun imej yang baik di mata klien?" seru Hinata, murka.
"Oh, maaf, jadi sekarang kau klienku?" tanya Sasuke, berpura pura polos.
Hinata semakin jengkel dibuatnya, ingin rasanya ia membalik meja tempat Sasuke bersandar. Tapi dengan cepat Hinata tersadar. Sebagai seorang dokter, ia harusnya sudah terbiasa menghadapai pasien yang cerewet. Apa yang terjadi dengannya? Sejak kapan ia tidak bisa menahan emosi dan malah jadi lepas kendali seperti ini?
"Tidak. Aku bukan klien, kalau kau sama sekali tak berniat membahas bisnis denganku." Jawab Hinata, mencoba tenang.
'nah, kan, keluar lagi kata 'tidak' itu,' canda Sasuke dalam hati. Gadis ini tak pernah habis mengejutkannya. Bagaimana bisa ia mengubah suasana hatinya yang penuh emosi tadi, jadi tenang kalem seperti ini?
"Aah, kurasa kau mengerti. Jadi, kalau kau mau, bisa kita langsung membicarakan pokok permasalahnnya kali ini?" tanya Sasuke, masih dengan sikap tenang ala businessman nya.
Hinata geram. Apa apaan ini? Bukannya dia yang dari tadi bersikeras untuk langsung ke pokok permasalahan dan tidak berputar putar seperti ini? Kenapa sekarang malah Sasuke yang berlagak pusing? Seakan Hinata yang mengulur ngulur waktu… Ooh, Sasuke Uchiha, kau sudah mengibarkan bendera perang!
"Caramu memutar balikkan fakta sangat manarik, Tuan Uchiha," Hinata sengaja tak mau memanggil nama yang diberikan pemuda itu tadi, tidak sudi, lebih tepatnya, "Tapi bukan strategi yang bagus untuk mencoba memancing kesabaranku seperti itu. Kita tahu betul, tak perlu ada pertikaian serius karena masalah seperti ini. Aku yakin masalah rumah sakit ini bukan masalah besar untuk mu, tapi asal kau tahu saja, masalah ini sama sekali bukan hal sepele bagi ku." tegas Hinata lirih. Menahan geraman yang tersangkut ditenggorokannya.
Senyum Sasuke lenyap dari wajahnya, tapi tetap saja matanya seakan masih tertawa. Ia benar benar telah mendapatkan hiburan yang menarik kali ini.
"Oke, oke… Bukan maksudku membuatmu emosi seperti itu. Kurasa terlalu banyak bekerja membuatku sedikit tertekan, kau tahu? Untuk itu, aku minta maaf, Nona Hinata," ujar Sasuke lembut, "Mari kita bahas persoalan ini selayaknya orang dewasa."
Tanpa melepaskan tatapannya dari mata Hinata, Sasuke meraih map kuning yang tergeletak disampingnya. Perlahan ia membuka lembarannya satu demi satu. Lalu tersenyum, lagi lagi, dengan senyum bisnis khas Uchiha nya. Melihat itu, Hinata tiba tiba menegang.
"Apa kau tahu apa yang sebenarnya ada di dalam map ini?" tanya Sasuke, suaranya terdengar santai tapi serius.
"Aku pikir itu adalah semacam replika surat perjanjian atau semacamnya." Jawab Hinata apa adanya.
"Sudah baca sisanya? Rinciannya?"
"Itu tidak terlalu penting."
"Tidak, justru itulah yang terpenting. Alasan kenapa ayah anda melakukan perjanjian ini, dan bahkan menerima tawaran kami. Tidakkah kau pernah memikirkannya?"
Hinata mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Ironis memang, tapi ia melepaskan rumah sakit itu justru untuk menyelamatkan rumah sakit itu sendiri." Ujar Sasuke, menurunkan mapnya dan meletakkannya kembali disampingnya.
Masih bingung akan apa yang dikatakan Sasuke, Hinata berjalan mendekati meja tempat Sasuke bersandar. Tanpa sadar membuat jarak yang dijaganya supaya tetap jauh dari Sasuke, menjadi terlalu dekat. Sasuke sampai bisa mencium aroma manis bercampur antiseptik yang tercium di jubah putih Hinata.
Hinata meraih map kuning itu, dan mulai membuka buka halamannya. Sama sekali tak terpikirkan akan jarak posisi nya yang bisa dikata tidak 'aman' dari jangkauan Sasuke.
Disamping Hinata, Sasuke tengah mengamati wajah gadis itu dengan seksama. Mengamati dengan takjub pesona yang terpancar dari wajah gadis itu. Menikmati segala perubahan emosi yang tercampur. Menerka rupa raut wajah dan ekspresi yang bisa timbul di sana. Dan menghafal segala detail yang membuatnya terpaku.
Mata itu. Lavender yang begitu lembut. Bagaimana bentuknya jika sedang memandang sayu? Memandang dengan pandangan memohon? Basah karena air mata? Berkabut karena terangsang? Menggoda. Pipi itu. Bagaimana warnanya jika sedang merona karena malu? Akankah ada lesung pipi ketika dia tersenyum? Selembut apa jika dikecup? Manis sekali. Dan bibir itu. Oh, bibir itu. Bagaimana rasanya jika menyentuh bibirnya sendiri? Suara seperti apa yang akan keluar dari sana ketika mengerang nikmat? Akankah mengucapkan nama nya dengan parau? Desahan nafasnya saat… Saat… Sasuke bahkan tak berani membayangkan lebih jauh. Perasaan menggelitik itu nyaris terlalu bersemangat. Serasa ingin berteriak di pikirannya.
'Aku menginginkanmu!'
"Maaf?" tanya Hinata tiba - tiba.
"Apa?" Sasuke lebih bingung lagi.
"Aku yakin kau tadi mengatakan sesuatu…" ucap Hinata heran.
Sasuke terdiam seketika.
Apa jeritan hatinya terucap sendiri tanpa sadar?
Astaga. Apa yang dilakukan gadis itu terhadapnya. Kenapa ia bisa seceroboh itu. Sekarang apa yang harus dilakukannya. Merasa bergairah kepada gadis yang baru saja ia temui? Apa kau sudah gila, Sasuke?
Sasuke langsung berusaha mengalihkan topik pembicaraan, "Jika kau perhatikan lebih lanjut, di bawah itu ada grafik dan table data pengeluaran yang dihabiskan oleh rumah sakit kalian."
Hinata menegang. Ia sama sekali tak memperhatikan grafik itu sebelumnya. Dan sama sekali tidak memperhatikan nominal angka yang sangat besar di bagian pengeluaran. Kenapa ia bisa melewatkan hal sepenting ini?
"Dan untuk sekedar informasi, kegiatan kemanusiaan yang kalian lakukan dengan memberikan harga terjangkau bagi para kalangan bawah memang dermawan, tapi tanpa sumber keuangan yang dapat dipegang sebagai subsidi, bisa dijamin hanya dalam waktu satu atau dua tahun, rumah sakit yang kau bangga banggakan itu akan jatuh bangkrut dengan sendirinya. Dan akhirnya, kalian tak akan punya pilihan lain selain menjualnya, menggadaikan sebagian tanahnya, atau bahkan melelang keseluruhan bagian rumah sakit tersebut." Jelas Sasuke, ia bergerak membuka jas hitam formal nya, melemparkan jas itu di sandaran kursi, lalu menggulung lengan kemeja putihnya. Tiba tiba merasa panas, padahal ia sedang berada di ruangan ber-AC.
Sedangkan Hinata, yang mendengar fakta itu, langsung terdiam terpaku. Ia merasa terguncang. Penjelasan Sasuke tadi hanya akan terdengar sebagai omong kosong bodoh tak bermakna baginya jika saja ia tak memegang data berkas di tangannya sebagai bukti. Tapi dengan bukti konkret yang ada, penjelasan itu sama masuk akalnya bagaikan mitologi kuda Unicorn dan Pegasus. Aneh. Tapi dengan penjelasan yang meyakinkan, menjadi sedikit masuk akal.
"Seandainya saham kalian tak jatuh ketangan kami pun, tak lama lagi juga kalian harus merelakannya pergi untuk di klaim perusahaan lain, sebagai jaminan untuk pinjaman demi pinjaman yang kalian perlukan." Sasuke melonggarkan dasinya, dan melepaskan beberapa kancing di kerahnya. Benar benar merasa tak nyaman dengan rasa hangat yang dirasakannya. Panas dari dalam. Bukan faktor cuaca. "Inikah penjelasan yang kau inginkan?" Ia mengalihkan pandangan kearah Hinata, dan melihat ekspresi gadis itu.
Hinata kaget. Sangat terkejut. Ayahnya tak pernah mengatakan ini sebelumnya. Kenapa? Kenapa tak pernah cerita kalau masalah keuangan mereka menjadi begitu pelik? Ayahnya orang baik. Dan karena kebaikannya itulah ia sering terlibat banyak masalah. Apa lagi sejak ibunya meninggal, ketabahan ayahnya itu seakan diuji lebih keras. Tapi masalah yang dihadapinya tak pernah serumit dan semelilit ini. Apa apaan ini?
"Eh, oi, kau masih sadar?" Sasuke melambaikan tangan di hadapan wajah Hinata yang mengeras, mencoba menarik perhatian gadis itu.
"Terserah…" bisik Hinata parau.
"Apa?" tanya Sasuke bingung.
Tiba tiba tatapan mata lavender itu menajam, tajam dan menusuk, dan tatapan itu langsung di tancapkan dengan pelototan ke mata Sasuke. Dengan alis bertautan karena emosi meledak ledak, Hinata menambahkan dengan tegas,
"Aku bilang terserah. Aku yang akan membereskan masalah keuangan itu. Sebagai anak sulungnya, aku bertanggung jawab penuh dan sadar betul akan hal itu. Jadi jika kau berbaik hati dan bersedia mengabulkan permintaan pembatalan kontrak, yang secara khilaf dan putus asa di setujui ayahku, aku akan sangat berterima kasih." Hinata lalu meletakkan map kuning itu kembali diatas meja, lalu segera berbalik, berniat keluar dari ruangan itu sesegera mungkin. "Aku rasa pembicaraan ini sudah final. Batalkan. Karena memang tak pernah ada perjanjian yang sah. Aku permisi-…"
"Apa kau sudah dengar kalau Hyuuga Hospital juga sudah terlalu banyak mengambil kredit karena kekurangan biaya untuk merawat para pasien secara gratis disana?" ucapan Sasuke yang tiba tiba membuat langkah Hinata berhenti. Sesuai keinginannya.
Berbalik, hanya sedikit, karena sama sekali tak berniat mendekati Sasuke, Hinata menggeram, "Apa maksudmu?"
'Ya, apa maksudmu, brengsek?' tanya Sasuke sendiri dalam hati.
"Tidak ada. Hanya sedikit menegaskan banyaknya hutang yang kalian miliki sekarang, yang jumlahnya sama sekali tidak sedikit. Dan jika bukan karena perusahaann ku yang melunasinya, sudah pasti rumah sakit itu akan jatuh ketangan para kreditor yang ingin menagih uangnya kembali." Tambah Sasuke. Ia yakin sekali ucapannya kali ini seratus persen bullshit. Tapi, hell, masa bodoh.
Apa ini? Upaya pencegahan supaya Hinata tak keluar dari ruangannya terlalu cepat? Untuk apa dia menjelaskan ini? Yang diminta Hinata hanya pembatalan kontrak, 'kan? Itu tidak terlalu susah dilakukan. Mereka belum terlalu banyak berbisnis, hingga tak mungkin ada kerugian yang didapatkannya karena pelepasan saham ini. Seandainya ada pun, tidak akan terlalu besar. Tapi kenapa Sasuke tak bisa melakukannya? Tidak bisa? Atau… tidak mau?
"Kreditor-… Ooh, astaga! Tukang kredit? Apa apaan-…? Argh! Kenapa semuanya jadi seperti ini?" jerit Hinata frustasi. Akhirnya tak bisa lagi menahan emosinya. Lututnya langsung terasa lemas. Dan nyaris jatuh berlutut di lantai, kalau bukan karena cengkramannya ke kursi tamu di dekatnya. Persetan dengan direktur itu. Ia mau menangis. Menangis sekencang kencangnya.
Melihat Hinata yang tiba tiba gontai, tentu saja Sasuke terkejut setengah mati. Tapi ia melarang dirinya sendiri untuk mendekati Hinata. Dengan alasan yang masuk akal; Karena ia tak tahu apa yang akan dilakukannya terhadap gadis itu nanti kalau jarak mereka terlalu dekat. Apalagi kalau kulit mereka bersentuhan. Bisa habis Hinata dilahapnya nanti. Sialan. Dia dan pikiran mesumnya itu.
'Kendalikan hormonmu, sialan!'
Tapi ia sama sekali tak berniat membuat Hinata sedih, hanya untuk mewujudkan godaan di pikirannya. Ia tak mau melihat gadis itu menangis. Ia tak pernah mau melihat siapapun menangis. Ia hanya ingin menahan gadis itu sedikit lebih lama di ruangan yang sama dengannya. Memalukan memang, tapi rasa posesif nya tiba tiba muncul, dan secara mencengangkan, ia menikmatinya. Padahal ia baru kenal gadis ini sekitar dua puluh menit yang lalu. Tahu latar belakang nya pun tidak. Sejauh ini hanya informasi tentang nama dan pekerjaan gadis itu lah yang sampai di telinganya. Dan dia sudah berniat memonopoli? Gila.
Berniat memperbaiki keadaan, Sasuke menggaruk rambut jingkrak yang berdiri dibagian belakang kepalanya dengan tangan kirinya,
"Oi, aku cuma bercanda." Ucap Sasuke akhirnya. Sepertinya sudah cukup menggoda Hinata, ia sudah keterlaluan.
Mendengar itu, Hinata yang matanya mulai basah karena hampir menangis, menoleh dengan gerakan lambat tapi sangar. Semacam gerakan slow motion di film film horror. Nyaris.
"Apa lagi maksudmu?" tanya Hinata. Entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama terlontar dari bibirnya. Ia tak pernah bisa memahami pemuda yang satu ini. Yang mana ucapannya yang serius, dan mana yang bercanda, sudah tak jelas lagi ditelinganya.
"Yeah, maksudku…" Sasuke jadi salah tingkah, yang sama sekali bukan karakternya. Tapi melihat mata Hinata yang basah, membangkitkan lagi fantasi nakal yang sebelumnya ada di pikirannya. Membuatnya jadi gugup. "Masalah hutang kredit itu, kurasa tak sampai sejauh itu. Ayahmu masih cukup pintar untuk tidak melakukannya, kau tahu." Jelasnya kemudian.
Mendengar itu, otomatis bahu Hinata yang mengang perlahan jadi santai. Ia akhirnya bisa bernafas dengan lancar, karena sesak di dada nya berangsur menghilang. Tapi tidak sepenuhnya rileks. Ia menyadari satu hal yang mencegah pertahanan dirinya turun.
Kenyataan bahwa Sasuke selalu menjadikan hal ini lelucon hanya untuk menggodanya.
Seharusnya Hinata lega mendengarnya, tapi karena diucapkan dengan sangat angkuh, emosinya naik lagi. Air matanya malah semakin deras karena terlanjur mengalir. Tiba tiba ia berdiri tegak dan mendekati Sasuke dengan langkah cepat.
PLAK!
Dan sebuah tamparan keras, kuat, dan penuh amarah, sukses mendarat di pipi kiri Sasuke.
"Kau dan humor brengsekmu! Pergilah ke neraka!" Seru Hinata, benar benar marah, bukan hanya marah, ia murka sekali sekarang.
Sebuah tamparan sama sekali tak cukup mewakili emosinya yang sudah nyaris menggila ini. Harusnya ia mengambil pisau bedah sangat tajam yang ada dirumah sakitnya. Mencabik cabik Sasuke jadi potongan. Dan melemparkannya ke kandang singa atau aligator. Sadis memang. Tapi seorang dokter anak yang penuh kesabaran seperti dia pun akan kehilangan pengendalian diri jika digoda dengan cara yang terlalu kurang ajar seperti ini.
Karena takut keinginannya itu akan terjadi, -oh, dia sangat serius ingin melakukannya-, jika terlalu lama berada di dekat Sasuke, Hinata langsung beranjak keluar dari ruangan sebelum mendengar sepatah kata lagi dari mulut sialan pemuda itu.
Tapi terlambat, Sasuke memang tak ditakdirkan menjadi gantleman.
Tepat sebelum tangan Hinata meraih kenop pintu, suara berat dan parau Sasuke kembali terdengar. Hinata bahkan tak percaya bahwa nada bicara pria itu masih terdengar sesantai kakek tua di minggu pagi.
"Hey, mau membahas masalah ini lagi lain kali sambil minum kopi?"
Oh, sudah cukup, Sasuke! Cukup!
"Tidak! Bahkan dalam mimpimu sekalipun!"
Dan dengan satu hempasan kuat di pintu, sosok gadis cantik berambut indigo itu menghilang dari hadapan Sasuke.
.
.
~xXx~
.
.
"Jadi?" tanya Kiba, rekan sesama dokter, yang menunggu Hinata di lobby lantai dasar ketika menghampiri Hinata yang baru saja keluar dari lift. Langit sudah gelap. Tak ada yang menyangka pertemuan ini akan berlangsung lebih lama dari tiga puluh menit.
"Apa?" bentak Hinata emosi.
"Eh, apalagi? Kontraknya?" tanya Kiba, bingung akan reaksi Hinata yang meledak ledak. Tapi dengan cepat ia menyimpulkannya sendiri. "Aah, tidak berhasil ya?"
Tebakan Kiba tepat sasaran, dan seakan langsung mengaktifkan tombol batas kesabaran yang sedari tadi ditahan Hinata.
Hinata bergidik dan dengan emosi menyeret Kiba keluar dari kantor berlantai dua puluh itu. Dengan satu tarikan nafas, ia berkata.
"Dia adalah orang yang paling sombong, angkuh, tak tahu diri, bodoh, jelek, gila, bajingan kelas kakap, brengsek…"
Kiba menghela nafas, kalau Hinata sudah sengaja mengumpulkan segala umpatan yang diketahuinya untuk di serukan seperti ini, sudah pasti si Direktur yang baru saja di temuinya itu bukanlah orang yang baik ataupun menyenangkan.
Dan akhirnya, umpatan Hinata baru selesai ketika mereka berdua sudah berada didalam mobil Kiba yang terparkir tepat didepan kantor.
"… tidak waras, tak punya sopan santun dan sangat kurang ajar, yang pernah aku temui!"
Kiba hanya terkekeh geli, mencoba menyerap unsur humor dari situasi ini. "Wah, dia pasti orang yang menyebalkan, ya…?"
Dengan ekpresi 'are-you-kidding-me' yang entah dari mana dipelajarinya, Hinata mengiyakan dengan mantap.
"Sangat, SANGAT, menyebalkan!"
.
.
~xXx~
.
.
"Halo, Papa, kau masih disana?"
Fugaku langsung menjawab dengan geraman, "Ya, dan jangan pernah berpikir mengelak dari pembicaraan. Siapa gadis itu tadi?"
Sasuke menyeringai, memainkan rahangnya yang sedikit kaku untuk mengurangi rasa sakit di pipinya yang perih. Bekas tamparan keras yang didapatkannya tadi sebagai buah kekurang ajaran nya.
Sasuke memandang keluar jendela disampingnya, mengamati mobil sedan kecil yang baru saja keluar ke jalan raya, bergabung dalam kemacetan ibu kota. Itu pasti mobil Hinata.
Sasuke kembali mengamati berkas berkas dalam map kuning yang ada di hadapannya. Memahami beberapa data menguntungkan yang dapat dimanfaatkannya. Lalu menyeringai.
"Dia solusi masalah kita." Jawab Sasuke, santai.
"Jelaskan jawabanmu itu, nak. Sudah cukup basa basinya!"
Sasuke masih merasakan sengatan panas di pipinya. Sama sekali tidak terpikirkan untuk melihat cermin. Ia hanya dapat menduga duga rupa pipinya sekarang. Mungkin warnanya sudah memerah, bahkan membiru. Entahlah. Rasanya sakit sekali.
"Tenang saja, akan kuberi tahu detailnya nanti setelah aku yakin. Ada beberapa hal yang harus kupastikan untuk mengeksekusi rencana ini dengan sempurna." Sasuke kembali mengamati berkas berkas di hadapannya.
Fugaku menghela nafas, "Yah, terserah kau saja lah. Hanya jangan bertindak bodoh atau gegabah. Aku mendengar dengan jelas segala perseteruanmu dengan gadis itu tadi. Dan aku yakin, dia gadis yang keras kepala."
Sasuke mau tak mau terkekeh, "Kau tak akan pernah tau, Pak Tua…"
"Aku bilang terserah… Sudah, aku harus membujuk Mikoto untuk pulang dan, oh, berkat kau, bocah, sepertinya aku akan tidur di sofa malam ini." Fugaku dengan cepat mengakhiri percakapan.
Sasuke hanya bisa tersenyum mendengar keluhan ayahnya, "Oke selamat malam Pa…"
Sasuke baru saja berniat memutuskan sambungan telepon dengan Fugaku, ketika tiba tiba ia terpikirkan suatu. Dengan cepat ia memanggil ayahnya lagi sebelum Fugaku sempat menutup. "Dan satu lagi, Pa!"
"Apa?" tanya Fugaku tak sabar.
"Katakan pada Mama. Aku akan segera mengabulkan harapannya, dan menepati janjiku." Kata Sasuke, penuh percaya diri.
"Hah? Janji yang mana?"
Sasuke tak menjawab, ia hanya menyeringai dan perlahan lahan menutup teleponnya. Oh, ibunya pasti akan sangat senang mendengar kabar darinya.
~T.B.C~
