The disappearance of -book of life-

.

Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara

.

Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v

.

A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay

.

Bales review :

Ryu Kago : hai Ryu-kun ^^ makasih masih mau review, hehehe iya ada typo ya haha. Glori benerin deh. Makasih. Keep reading ya~ xD

Rein Yuujiro : Rein-chaan! ^^ makasih udah mau baca dan review hehe. Makasih juga buat sarannya :D Glori coba ya. Keep reading ^^

.

Don't like? Don't read!

.

Like? Review!

.

Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)

.

.

Chapter 6

.

.

"sayang.. pasti Rin-chan sudah ada yang punya"

"eh.. b-belum kok.."

"belum?"

"belum.."

"kalau begitu, apa Rin-chan mau.."

'eh! si Lui mau nembak Rin? ! ini.. ini ga bisa di biarin! Aku harus masuk! S-sial! Pintunya di kunci! Gimana ini? Apa Rin mau nerima Lui ya?' Len putus asa

BRAK!

Len pun menendang pintunya dan tanpa di sangka-sangka, sekali tendang pintunya langsung roboh. Pintu murahan.

"Len?" Rin kaget ngeliat Len yang nendang pintunya.

"j-jangan! Jangan ambil Rin!" Len sepertinya takut kehilangan Rin.

"siapa yang mau ambil Rin? Dan kenapa kau menendang pintunya? Kalau pintunya terkunci itu sudah biasa, pintunya suka terkunci sendiri, tapi kau kan bisa ambil kunci nya di bawah keset,tidak menendangnya." ucap Lui.

Kali ini Len terdiam.

"… tau darimana kau semua tentang ini?" Len sudah sangat penasaran.

Lui tampak terkejut mendengarnya.

"iya.. kenapa Lui-kun tau tentang semua ini? Rumahnya, kuncinya, pintunya?" Rin bingung.

"hah.. baiklah aku menyerah.." ucap Lui pasrah.

"menyerah? Maksudmu?" Len bingung.

"aku akan menceritakan semuanya pada kalian.."

"semuanya? Apa maksudnya? Kau menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Rin.

"berjanjilah untuk tidak membenci ku.." Lui memohon.

"ya.. okay, memangnya apa?" Rin kelihatan sudah kepo banget.

"sebenarnya.. alasan ku di keluarkan dari kepolisian itu, karena aku sudah membantu Cricket dalam mencuri lembar musik."

"apaa? Kamu.. kamu yang.." Rin tampak tak percaya.

"t-tunggu, tunggu dulu, jangan salah paham dulu, dengarkan aku, aku tak sampai hati melakukannya, aku tak berniat seperti itu, aku hanya di manfaatkan oleh Cricket dan Wilfre-sama" jelas Lui.

"Wilfre-sama? Siapa dia?" tanya Len

"dia yang mempengaruhi aku dan Cricket untuk membantunya dalam rencananya."

"rencana apa yang dia rencanakan dengan mencuri lembar-lembar itu?" tanya Rin.

"dia ingin mengganti matahari, awan, api, dan apapun yang ada di book of life itu dengan ciptaannya."

"tapi untuk apa?"

"entahlah, rencananya itu masih misteri untuk ku sendiri. Aku hanya bisa membantu sedikit soal ini. Kepolisian itu tak mempercayaiku bahwa aku itu di hipnotis oleh Wilfre-sama, mereka tetap menganggap kalau akulah yang mencurinya. Karena itu mereka membenci ku. Aku sekarang hanya ingin menyadarkan Cricket dari hipnotis Wilfre-sama itu."

"KYAAA!" tiba-tiba terdengar teriakan Miku dari lantai bawah.

"i-itu suara Miku!" Rin kaget mendengarnya

"ayo cepat kita lihat!" mereka pun turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi di sana.

Sesampainya di sana Miku sudah tak sadarkan diri sedangkan Kaito terlihat penuh dengan keringat dengan luka besar di punggungya, sepertinya Kaito habis berantem.

"M-Miku!" Rin langsung menghampiri Miku

"Kaito apa yang terjadi?" Len tampak khawatir pada sobatnya si Kaito itu.

"hosh.. hosh.. aku mendapatkannya.." ucap Kaito lemas sambil menunjukkan sebuah sobekan kertas lalu dia pun langsung tak sadarkan diri.

"K-Kaito!"

"sepertinya tadi Cricket ke sini, dia pasti belum pergi jauh dari sini, aku akan mencarinya!" Lui pun pergi.

Lui terus berlari memasuki hutan karena dia tau Cricket yang sedang terhipnotis itu pasti akan selalu menuju ke arah hutan.

"Cricket!" Lui memegang bahu Cricket.

"mau apa kau, pengkhianat!" Cricket berusaha melepaskan pegangan Lui.

"kau masih tak mau sadar juga ya! Berhenti lah bekerja untuk Wilfre-sama! Dia hanya memanfaatkan mu saja!"

"dia berjanji akan memberikan ku uang yang sangat banyak jika aku menyelesaikan tugasku ini. Dan ini tugas terakhir ku! Jadi, jangan ganggu aku, pergi kau pengkhianat!" Cricket mendorong Lui hingga Lui terjatuh.

"tidak, sebelum aku mendapatkan lembar awan dan api itu!" Lui segera berdiri dan menarik lembar api yang di pegang oleh Cricket.

Mereka pun saling tarik-menarik lembar itu itu.

"lepaskan! Kau akan merobek kertas nya kalau kau terus menariknya! Wilfre-sama akan menggantinya dengan ciptaannya, kau tak perlu khawatir! Lepas!" Cricket terus menarik lembar api itu.

"aku tak mau! Tak akan ku biarkan rencana Wilfre-sama itu berhasil! Aku yakin rencana apapun itu, itu pasti tidak baik!" Lui terus menarik lembar api itu.

Mereka masih saling tarik-menarik kertas itu sampai akhirnya kertas itu terbagi menjadi 2 bagian.

"kurang ajar! Lihat lah nanti pembalasan ku! Memangnya aku tak tau kalau kau sedang menyukai gadis itu! Lihat apa yang akan ku lakukan padanya!" Cricket pun pergi.

"ugh.. sial! Jangan berani-berani nya kau sentuh Rinn!" Lui pun kembali ke rumah tadi itu.

Sesampainya disana Miku sudah sadarkan diri, sedangkan Kaito masih di obati.

"Lui! Bagaimana? Kau berhasil?" tanya Rin.

"uh.. aku.. tak sepenuhnya berhasil.. aku hanya mendapat setengah dari lembar api saja.." Lui tampak sedih.

"i-itu juga sudah bagus kok, tadi Kaito sudah berhasil merebut seperempat dari lembar api itu! Berarti kita sekarang sudah punya tiga perempatnya!" ucap Rin dengan senang.

"Lui-kun terimakasih ya sudah mau membantu.." ucap Miku sambil tersenyum manis.

"aku.. aku tak membantu kalian.. aku malah menyusahkan kalian. Karena aku penyebab hilangnya lembar musik itu. Aku bodoh.. maafkan aku.." ucap Lui.

"itu.. aku sudah tau semuanya dari Rin. Kau tak salah, Lui. Malah aku bersyukur kalau sekarang kau sudah sadar dan mau membantu kami. Terimakasih" ucap Miku.

"mulai sekarang, kau bisa sebut kami dengan… t-teman" ucap Len ragu-ragu karena masih terbayang kalau suatu saat Lui akan merebut Rin darinya.

"b-benarkah itu?" Lui tak percaya.

"benar" Miku tersenyum manis pada Lui.

"yang benar?" tanya Lui lagi.

"iya" ucap Rin.

"bener nih?" tanya Lui lagi.

"bener" Len mulai kesel denger pertanyaan nya itu.

"bener?" tanya Lui lagi.

"ASTAJIIMMM! Gua aja yang pingsan gini udah kesel dengernya! Kalo di bilang iya ya iya! Kalo gamau ya udah!" Kaito pun bangun dari pingsannya.

"oh hehe.. baiklah terimakasih semuanya.. aku rasa, kalian bisa jadi teman yang baik untukku selain Cricket." Lui terharu dan hampir meneteskan air mata.

"jangan nangis Lui-kun.. kita, mulai sekarang adalah teman mu. Kau tak perlu khawatir" Rin menghapus air mata Lui.

"eh? Rin-chan.." Lui blushing.

Len cemberut ngeliat mereka berdua 'inilah yang ku takutkan.. memang ga ada salahnya sih punya teman baru, tapi ini nih yang di takutin.' pikir Len.

"ehm.. ada yang cemburu yah?" bisik Kaito di telinga Len.

"urusai."

Kaito hanya tertawa cekikikan ngeliat sobatnya itu cemburu.

TBC~

(A/N : makasih buat semuanya yang udah baca dan review! Terimakasih banyak! ^^ keep reading yah~ ini selagi akhir-akhir ini Glori lagi ga sibuk, bakal di kebut nih hahaha. Kalo jadwal belajar udah kayak biasa lagi, bisa-bisa update seminggu sekali -_- yasudahlah, review please ^^ or discontinue)