The disappearance of -book of life-
.
Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara
.
Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v
.
A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^
.
Bales review :
Ryu Kago : makasih masih mau review, Ryu-kun ^^. uh iya ih, susah yah menulis (mengetik) tanpa ada typo. Tapi Glori usahain kok biar bener :D. uh, soal Cricket, ya um.. lihat lah saja nanti ahaha. Keep reading ya thanks ^^
Sharon F N : aduh.. Sharon, baca aja deh jangan protes-protes wkwk. Suka-suka mereka lah mau di sobek kek, mau di bakar kek, mau di sup kek :p dan soal kertas yang di temui Kaito waktu itu, liat saja nanti :p keep reading ya, jenong :p
Cumacumacum : update~ ;) makasih udah mau baca dan review, keep reading ^^. Cumacumacum? Nama yang unik ._. cumicumicum itu saudaramu?
Cumicumicum : makasih udah mau baca dan review :) eh? maksudnya apa ya? He-he-he kamu masih normal kan?
.
Don't like? Don't read!
.
Like? Review!
.
Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)
.
.
Chapter 7
.
.
"jangan nangis Lui-kun.. kita, mulai sekarang adalah teman mu. Kau tak perlu khawatir" Rin menghapus air mata Lui.
"eh? Rin-chan.." Lui blushing.
Len cemberut ngeliat mereka berdua 'inilah yang ku takutkan.. memang ga ada salahnya sih punya teman baru, tapi ini nih yang di takutin.' pikir Len.
"ehm.. ada yang cemburu yah?" bisik Kaito di telinga Len.
"urusai."
Kaito hanya tertawa cekikikan ngeliat sobatnya itu cemburu.
Sementara itu di sebuah istana besar yang letaknya jauh dari pemukiman penduduk, terjadilah percakapan seperti ini,
"bagaimana, apa kau mendapatkan apa yang ku mau?" tanya seorang cowo berambut hitam dan bermata merah yang mengenakan jubah serba hitam.
"ya Wilfre-sama, saya mendapatkan lembar api dan awan seperti yang tuan inginkan. Tapi.." ucapan Cricket terpotong.
"tapi? Tapi apa! Apa ada seseorang yang berani mengganggu rencanaku, HA? ! siapa itu, Cricket?" tanya Wilfre dengan nada marah.
"mereka, tuan." Cricket hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap Wilfre yang sedang marah itu. Meski wajahnya tampan, tapi dia sangat menyeramkan ketika marah.
"mereka? Mereka itu sudah ku peringati, masih saja tidak menurut! Memangnya mereka mengganggu apa?"
"mereka telah mengambil sebagian dari lembar api ini, tuan." Cricket menyerahkan selembar lembar awan dan seperempat lembar api pada Wilfre.
"sigh, menyebalkan, biarlah lagipula dengan tiga perempat lembar api itu juga mereka tetap tak bisa berbuat apa-apa. Cricket, tugas terakhirmu, berikan kertas pengganti awan dan api ini pada mereka, atau pada siapalah, yang penting aku ingin awan dan api ciptaanku lah yang ada di dunia ini agar rencanaku berjalan dengan lancar." Wilfre memberikan 2 lembar kertas pengganti itu pada Cricket.
"baik, Wilfre-sama." Cricket yang hendak pergi itu di hentikan oleh Wilfre.
"Cricket, tunggu."
"ya, Wilfre-sama?"
"apa Lui masih menggangu rencana kita?"
Cricket terdiam sebentar lalu,
".. tidak, tidak sama sekali Wilfre-sama." Cricket berbohong pada Wilfre.
"baguslah kalau begitu"
'kenapa, kenapa aku merasa kalau aku harus berbohong seperti ini untuk melindungi Lui? Kenapa aku ingin sekali melindunginya dari kemarahan Wilfre? Apa sebenarnya hubungan ku dengannya?' Cricket pun langsung pergi.
Keesokan harinya in voca junior high school
Len terus memandangi Rin yang duduk di depannya.
'hmph.. kenapa aku ga bisa fokus belajar gini sih, ayolah Len sebentar lagi UN loh! Lupakan saja Rin untuk sebentaaar! Astaga, kenapa kamu selalu ada di pikiran aku sih? Apa aku juga ada di pikiran mu, Rin?' pikir Len.
"hei? Heeei~ Len?" lambaian tangan Rin di depan muka Len itu sukses membuat Len kembali ke dunia nyata.
"eh? Ada apa? Kenapa? Siapa aku? Tabungan ku tinggal berapa?" Len mulai ngelantur.
"tabungan? Sejak kapan kamu nabung? Hah, ayolah~ aku disini bukan untuk membicarakan tabungan khayalan mu itu, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu, Len. Mumpung anak-anak yang lain pada lagi istirahat di kantin." Ucap Rin sambil duduk menghadap ke belakang, ke arah Len.
"uh? Ini sudah jam istirahat? Kok aku ga tau sih." Len baru nyadar.
"makanya jangan jalan-jalan mulu ke dunia khayal dong. Aku hanya ingin menyampaikan omongan Lui."
'hah~ Lui lagi.. apa sih.' Pikir Len.
"soal rencana Wilfre yang selalu mengambil lembar di book of life dan menggantinya dengan kertas ciptaannya itu, lebih baik kalau kita tak menggunakan kertas pengganti pemberiannya itu." Ucap Rin yang mulai serius.
"hm? Kenapa begitu? Kan bagus kalo dia menggantinya."
"tidak Len. Memangnya ga aneh ya? Dia ngambil, terus di gantiin lagi. Mana ada pencuri kayak begitu? Aku yakin, ini bagian dari rencananya, bagiamana kalau sebenarnya kertas pengganti itu adalah kertas yang tidak baik? Ini bagian dari rencananya kan?"
Len terlihat berpikir sejenak, dari mukanya terlihat sepertinya dia baru mengerti semuanya.
"baguslah kalau kau mengerti maksudku. Aku akan ke kantin dulu, mau makan, laperrr." Rin berdiri dari kursinya hendak pergi ke kantin tapi Len menghentikannya dengan cara memegang tangan Rin.
"eh? kenapa Len?" Rin bingung.
'apa.. ini waktu yang tepat untuk mengatakannya?' pikir Len.
"halo~? Len? Kau masih di sana kan?" Rin memastikan Len tidak melamun lagi.
"Rin.. ano.. itu.." Len tergagap-gagap.
"apa Len? Kau mau bilang apa?"
"sebenarnya… dia—eh! maksudku kamu—eh! maksudku aku.." Len grogi.
"apa sih Len?" Rin kelihatannya sudah ga sabar banget pengen makan.
"sebenarnya.. si ini.. menyukai si itu.." Len mulai ngelantur.
'astaga apa yang kau bicarakan Len!' pikir Len.
"hah? Siapa menyukai siapa?" tanya Rin.
'astaga aku tak tau bagaimana cara mengatakannya!' Len kehabisan akal dia pun tak punya pilihan lain. Jika dia tak bisa memberitahu Rin lewat kata-kata, maka dia akan memberitahu perasaannya lewat tindakan.
"eh? Len.."
Sementara itu
"hoi Miku!"
Sontak yang di panggil melihat ke arah yang memanggil.
"eh? K-Kai-Kaito? Ada apa?" Miku kaget melihat Kaito.
"tak apa, aku hanya ingin bertanya, apa kau melihat Len? Dia berjanji akan mengobati luka ku saat jam istirahat karena tadi dia tak sengaja memukul punggungku."
"eh? terpukul? Lalu bagaimana luka mu sekarang? Sakit tidak? Apa tak apa-apa?" tanya Miku tanpa titik koma karena khawatir pada Kaito.
"uh.. ga apa-apa kok" Kaito bingung pada Miku yang segitu khawatirnya pada keadaannya.
'kenapa khawatirnya segitunya? Kan yang sakitnya aku gini.' Pikir Kaito.
"Kaito, aku takut luka mu kenapa-napa, ayo kita obati di UKS!" entah mendapat keberanian darimana Miku berani menarik Kaito ke UKS.
Sesampainya di UKS, disitu hanya ada mereka berdua. Kaito duduk di salah satu kasur sedangkan Miku mencari perawatnya.
"uh? Perawatnya pada ga ada ya?" tanya Miku.
"ya sudahlah Mik, ga apa, yang penting kan itu udah tuh obatnya, ayo." Ucap Kaito.
"eh? 'ayo'? maksudmu?" tanya Miku dengan jantungnya yang berdegup kencang.
'apa Kaito ingin agar aku yang mengobatinya?' pikir Miku.
"ayo. Ya, obati saja aku. Untuk apa menunggu perawat yang tak jelas kapan datangnya?"
"uh.. b-baik.." Miku pun mulai mengobati luka Kaito.
Deg
Deg
Deg
Jantung mereka berdegup kencang. Mereka? Ya, Miku dan Kaito. Miku deg-deg-an bisa ngobatin Kaito kayak begitu. Kaito deg-deg-an karena takut di obati, rasanya pasti sakit.
Setelah beberapa menit, Miku pun selesai mengobati Kaito.
"sudah selesai, Kaito. Jangan terlalu banyak bergerak ya. Luka mu itu masih basah." Ucap Miku.
"ya ya." Kaito terlihat tak begitu peduli.
"banyak-banyak istirahat, Kaito." Miku meng-khawatirkan Kaito.
"ya ya." Lagi-lagi Kaito terlihat tak peduli dan itu membuat Miku jadi sedih.
Kaito yang melihat muka Miku sesedih itu jadi bingung.
"hei. Ada apa dengan muka mu itu?" tanya Kaito dingin.
"uh? Mukaku kenapa?" Miku kaget karena Kaito bertanya begitu.
"muka mu itu tak seperti yang biasanya. Kenapa kau? Kau terlihat sedih."
'dia.. dia memperhatikanku..? walaupun dia bertanya dengan nada se-dingin itu, tapi hati ku terasa senang sekali..' pikir Miku.
"ada apa? Kau bisa menceritakannya padaku. Kita kan sahabat." Ucap Kaito.
"ah.. tak ada apa-apa kok Kaito.." Miku tak mungkin bilang kalau dia sedih karena Kaito yang terlihat selalu tak mengaggapnya.
"kamu bohong. Aku tau ada sesuatu. Cerita saja."
"eh.."
'bagaimana aku mengatakannya? Masa iya aku bilang ingin di perhatikan lebih oleh Kaito?' pikir Miku
TBC~
(A/N : haduh.. cape banget! Abis basket di sekolah, jalan-jalan sama keluarga, lari-lari sama orang gila(?) uh, ehm, lupakan yang terakhir itu ._. akhirnya sampai chapter 7 juga ^^ dan terimakasih buat yang sudah baca, ada yang bisa nebak Len mau ngapain ke Rin? Miku jawab apa kira-kira? Apa rencana Wilfre selanjutnya? tolong reviewnya juga yaaa~ :D review please~ review please~ review please~ review or DISCONTINUE)
