The disappearance of -book of life-
.
Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara
.
Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v
.
A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^
.
Bales review :
Ryu Kago : makasih masih mau review, Ryu-kun ^^. Ga ada? :D yeeai~!\( ^o^)/ makasih masih mau baca~ keep reading ya :)
Sharon F N : iya, profesi baru nya jadi P-ulung :p yang jenong? Kau :p siapa yang pesek? Idih~ :P
Cumacumacum : aa =.=a baca aja deh ya.. hehehe
Cumicumicum : gpp ._. jadi, kamu cowo? -.- aku kira cewe
.
Don't like? Don't read!
.
Like? Review!
.
Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)
.
.
Chapter 8
.
.
'astaga aku tak tau bagaimana cara mengatakannya!' Len kehabisan akal dia pun tak punya pilihan lain. Jika dia tak bisa memberitahu Rin lewat kata-kata, maka dia akan memberitahu perasaannya lewat tindakan.
"eh? Len.."
Len menggenggam tangan Rin dengan erat, dia masih ragu dengan apa yang akan dia lakukan.
'apa tidak akan apa-apa ya kalau aku menciumnya? Aku takut Rin akan marah dan membenci ku..' pikir Len.
"Len! Rin!"
Sontak yang di panggil pun menoleh ke arah yang memanggil.
"Teto? Kenapa?" Rin heran melihat Teto yang kelihatannya habis lari-lari.
'auh.. Teto ganggu aja..' pikir Len.
"um.. ups, maaf ganggu, kalian lagi pacaran ya? Maaf deh kalo gitu. Aku Cuma mau bilang kalo kalian dan Miku juga Kaito di panggil oleh Luka-sensei. Jaa~" Teto pun pergi dari ruang kelas.
Rin pun menoleh ke arah Len.
'Len imut ya kalo mukanya lagi merah gitu..' pikir Rin sambil menatap Len innocently.
"e-eh? s-siapa yang pacaran? !" muka Len pun memerah.
"geez.. sudahlah~ ayo kita cari si negi dan si ice freak itu" Rin pun berjalan keluar kelas diikuti Len.
'hmph.. bukan saat yang tepat..' pikir Len.
Sementara itu di ruang UKS, Miku masih kebingungan mau dijawab apa pertanyaan Kaito itu.
'bagaimana aku mengatakannya? Masa iya aku bilang ingin di perhatikan lebih oleh Kaito?' pikir Miku.
"kenapa? Apa kau sedang patah hati? Masalah cowo?" tanya Kaito.
"e-eh?" muka Miku pun langsung memerah mendengar tebakan Kaito yang 134persen(?) benar.
"wow! Tebakan ku benar! Hahaha buktinya muka mu merah! Hahaha! Miku-chan jahat ih kok ga pernah cerita-cerita sih? Cerita dong~ siapa cowo itu~?" tanya Kaito dengan agak memaksa.
"eh.."
'baka! Ya iyalah aku ga pernah cerita ke kamu! Aku kan sukanya sama kamu.' Pikir Miku.
"siapa, Miku~? Ayo beritahu aku~~" Kaito memaksa lagi.
"aduh… itu kan rahasia.."
"ah~! Miku jahat! Kaito kan teman Miku~ masa ga boleh tau~" Kaito pun mengeluarkan puppy eyesnya.
'aa! Bagaimana ini!' pikir Miku.
"s-sebenarnya.. o-orang.. itu.. adalah.."
"ya ya? Siapa?"
"um.. itu.. kau, Kaito." Ucap Miku sambil memalingkan wajahnya yang pasti sudah memerah padam.
"hah? Aku?" tanya Kaito.
"ya.. bagaimana menurut mu?"
"um.. menurutku… biasa saja sih.." ucap Kaito dengan bakanya.
"hm.. sudah ku duga kalau Kaito juga tak akan menyukai ku.."
"Miku! Kaito!" panggil Rin dan Len yang baru sampai di UKS.
"eh? ada apa?" tanya Kaito dengan muka polos nya.
"kalian ini susah sekali di temukannya sih.. huh!" gerutu Rin.
"sudahlah.. ayo kita ke kantornya Luka-sensei, dia memanggil kita." Ajak Len.
"eh? ada apa?" tanya Kaito.
"pertanyaan nya dari tadi selalu 'eh? ada apa?' melulu. Ga ada yang lain apa?" tanya Rin.
"maaf, coba lagi lain kali." Ucap Kaito.
"geez.. baka.. ayo ah." Mereka pun berjalan menuju kantor Luka-sensei.
Sesampainya di sana,
"sensei memanggil kami? Ada apa?" tanya Rin.
"ah, kalian datang juga. Ini, tadi ada seorang anak lelaki yang menitipkan ini untuk kalian." Luka-sensei memberikan sebuah amplop pada mereka.
"amplop apa ini?" tanya Rin.
"jangan-jangan tiket gratis makan ice cream~!" ucap Kaito dengan wajah yang berbinar-binar.
Mereka hanya menatap Kaito dengan muka (=_=)
"siapa yang memberi kami amplop ini, sensei?" tanya Len.
"seorang anak laki-laki, berambut kuning dengan warna mata berwarna.. err…merah?" ucap Luka.
'rambut kuning, mata merah? Bukan Cricket ku rasa.. karena Cricket di foto itu memiliki mata berwarna ungu.' Pikir Len.
"hei? Ini bukan tiket ice cream! Sungguh mengecewakan! Buang saja!" ucap Kaito.
"e-eh! jangan baka! Sini ku lihat dulu!" Rin merebut isi amplop itu, dan ketika dia melihatnya, dia terkejut.
"i-ini.. ini dari Cricket!"
"HAH!"
"Cricket? Tapi warna mata Criket kan ungu?"
"bukannya merah ya? Kemarin waktu aku berantem sama dia itu warna nya merah."
Di dalam amplop itu terdapat satu lembar pengganti lembar awan, dan satu lembar pengganti lembar api, juga satu lembar surat darinya.
Kalian tak perlu khawatir soal lembar awan dan api itu, karena sudah ku gantikan dengan lembar ini. Sama dengan lembar pengganti matahari yang waktu itu, masukkan saja lembar ini ke dalam book of life itu, maka awan dan api akan ada lagi. Dan soal lembar musik itu, sebaiknya kalian lupakan saja.
_Cricket
"s-sialaaan! Aku ga mau kalau aku ga bisa nyanyi lagiii!" teriak Rin.
"apa itu dari pencuri book of life?" tanya Luka.
Mereka pun mengangguk.
"kalau begitu, cepat kalian laporkan ini pada polisi!" ucap Luka.
"baik!"
Mereka pun pergi ke kantor polisi waktu itu dan menceritakan semuanya.
"tidak, aku rasa tidak perlu. Untuk apa kita mencari lembar aslinya jika kita sudah di berikan lembar penggantinya?" polisi itu tidak setuju dengan usulan para vocaloid.
"tapi, bukan kah aneh jika seorang pencuri menggantikan barang yang di curinya?" tanya Rin.
"iya, bagaimana kalau ini adalah salah satu rencana nya? Dia bilang ini adalah matahari, awan, dan api ciptaannya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu.." ucap Len.
"sesuatu~ yang ada di hati mu~ ow!" Kaito berusaha menyanyikan lagu Syahrini, tapi tetap saja hasilnya nihil. Tak bernada sama sekali, karena tak ada lembar musik dalam book of life.
"sudahlah, lagipula tak terjadi apa-apa kan? Oh ya, bagaimana dengan lembar musiknya? Kenapa dia tak mau menggantikkannya ya?" tanya polisi itu.
"entahlah."
"ya sudah, tak apa, tak ada musik bukan berarti tak ada hidup kan? Sudahlah." Ucap polisi itu.
"tidakkk! Pokoknnya kami akan mencari lembar asli itu sampai ketemu! Permisi!" Rin pun keluar dari kantor polisi itu dengan agak sopan(?)
"eh? Rin!" Len menyusul Rin keluar.
"um.. permisi" Kaito pun keluar.
"maafkan teman-temanku pa.." ucap Miku lalu pergi keluar.
"ckckck mereka itu tak bisa di beritahu. Keras kepala."
Tanpa sengaja di luar kantor itu, Rin menabrak seseorang.
"e-eh! Rin?"
"Lui?"
'geez.. si Lui..' Len hanya menatap mereka dengan muka sebal.
"ehm~ buff~ buff~" Kaito meniup-niup muka Len.
"apaan sih kau ini!" Len pun merasa risih.
"panas yah? Sini aku tiupin. Buuf~"
"stop! Nafas mu bau tau."
"enak saja. Itu wangi ice cream rasa duren loh."
Len tak memperdulikan Kaito dan hanya melihat Rin yang sedang menceritakan kejadian tadi pada Lui.
"kalau begitu, sebaiknya kita menemukkan lembar yang asli itu secepatnya!" ucap Lui.
"tapi.. dimana kita harus mencarinya?" tanya Rin.
"dimana~ dimana~ dimanaa~" lagi-lagi Kaito berusaha nyanyi lagu ayu tingting. Tapi tetap saja nihil hasilnya.
"setidaknya kita sudah mempunyai tiga perempat lembar api kan? Tinggal lembar awan dan matahari yang belum kita temukan sama sekali."
"lembar matahari.. apa mungkin yang di bawa Cricket waktu pertama kali kita bertemu dengannya itu adalah lembar matahari yang asli?" tanya Kaito.
"b-bisa jadi begitu.. tapi dimana dia menyimpannya sekarang?" tanya Len.
"hm.. aku ada!" ucap Kaito.
"EH?" mereka semua terkejut mendengar ucapan Kaito.
"aku menemukannya di sungai waktu Len menendangku. Lalu ku simpan di kamarku."
"kalau begitu, ayo kita kesana!" mereka pun menuju rumah Kaito dan mulai mencari lembar matahari itu di kamarnya.
"kau taruh dimana kertas itu, Baka? Aku tak bisa menemukkannya!" Rin yang sudah mencari sekitar satu jam an itu mulai kesel.
"um.. aku terkahir simpan di meja itu kok, Rin!"
"tapi tetep ga ada! Udah ku cari dari tadi!"
"permisi, Kaito-sama, ini ice cream pesanannya." Pembantu Kaito masuk ke kamar Kaito mengantarkan ice cream.
"bibi, liat kertas yang waktu itu ku simpan di sini gak?" tanya Kaito.
"eh? kertas yang mana ya?"
"yang ada tulisannya matahari itu. Liat ga?"
"ooh.. kertas itu,"
"iya, dimana?" tanya Kaito dengan muka berbinar-binar.
"udah di buang." Ucap pembantu Kaito itu dengan polosnya.
"APAAAA? !" teriak mereka semua dengan muka horror.
"BIBIIII!" Kaito kesel.
"loh? Kan Kaito-sama yang suruh, waktu itu." Ucap bibi itu.
Kaito cengo.
'oh iya! Kan gua yang suruh buang waktu itu ya? Aduh! Kok di buang? hweee.. gimana ini?' pikir Kaito.
"permisi." Bibi itu pun keluar dari kamar Kaito.
"kenapa kau buang!" Len membentak Kaito.
"H-Habisnya ku kira itu kertas ga penting.. jadinya.. ya.." Kaito takut di marahi oleh mereka.
"grr.. KAITOOOOOO!"
TBC~
(A/N : chapter 8 akhir yang bahagia :') haha *plak! Okelah review please? Sebentar lagi cerita ini akan selesai kok. Maaf kalau semakin aneh -_-v keep reading and review yah.. REVIEW PLEASE ^^ or DISCONTINUE)
