The disappearance of -book of life-
.
Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara
.
Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v
.
A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^
.
Bales review :
Rein yuujiro : ya, gpp :) jadi lebih rapi? Yeai~ \(^o^)/ ini kan berkat
saran mu juga Rein-chan~ makasih! :D ahahaha, ini update
Cumicumicum: hah? Cewe? Ga normal dong -_-
Cumacumacum : ya ya :) update~
Hatsu-chii : hehe, makasih udah mau baca dan review ^^ update~ keep
reading and review :D
.
Don't like? Don't read!
.
Like? Review!
.
Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)
.
.
Chapter 9
.
.
"kenapa kau buang!" Len membentak Kaito.
"H-Habisnya ku kira itu kertas ga penting.. jadinya.. ya.." Kaito takut di marahi oleh mereka.
"grr.. KAITOOOOOO!"
"a-ampun! Jangan bunuh aku! Kita kan bisa mencarinya di tempat sampah?" saran Kaito.
"kita? Lo aja kali, gua ngga." Ucap Rin.
"iya, kan kamu yang buangnya." Len setuju.
"aah~ yasudahlah~" Kaito pun pergi keluar kamarnya diikuti oleh yang lainnya.
Sesampainya di halaman belakang rumah Kaito,
"tempat sampahnya ini? Gede banget." Lui sweatdrop ngeliat tempat sampah Kaito yang tingginya sama dengan tinggi tubuhnya.
"ya, begitulah."
"kalau gitu, tunggu apalagi? Ayo cepat sana cari!" Rin nendang Kaito hingga Kaito masuk ke dalam tempat sampah itu.
"KYAAA! Kenapa aku harus masuk ke tempat menjijikan ini? ? !" Kaito ngambek-ngambek di dalam tempat sampah.
"karena kau harus mencari lembar matahari yang sudah kau buang itu." Ucap Len.
"geez.. Len, ayo bantu aku." Ucap Kaito.
"hah? Kok aku? Enak aja. Gamau!"
"ayo Len! Setia kawan dong!" ucap Kaito.
"NO WAY!" Len menggeleng-gelengkan kepalanya.
"kan kalau semakin banyak orang yang mencari, akan semakin cepat juga mendapatkannya." Kaito terus membujuk Len.
"iya ya, benar juga. Kalau begitu aku akan bantu deh." Lui pun ikut masuk ke dalam tempat sampah itu dan mulai membantu Kaito.
"eh?"
"waah~ Lui baiknya mau membantu baKaito~" ucap Rin dengan efek bling bling di sekitarnya.
'hmph.. emangnya dia aja yang bisa? Aku juga bisa.' Pikir Len.
"aku juga bisa bantu kok! Sini aku bantu!" Len pun ikut mencari di tempat sampah itu.
"waw.. mereka bertiga mau-maunya ya masuk ke tempat sampah itu.. ckck." Rin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"uh.." Miku sedari tadi hanya diam dan tidak berkata apa-apa.
"Miku? Kenapa sih dari tadi diem aja? Biasanya suka ngebela Kaito deh, kok sekarang diem aja sih?" Rin heran melihat sahabatnya itu diem aja dari tadi.
"R-Rin.. aku.."
"kenapa?"
"aku.. sudah.."
"APAAA? ! hamil? !"
PLAK
"bukan! Aku sudah bilang kalau aku menyukai dia!" Miku kesel sama Rin yang mengajaknya bercanda di saat yang tidak tepat.
"o-oh.. hehe bagus deh, ku kira apaan. E-EH! kamu bilang apa? !" Rin kaget.
"ya, aku sudah bilang ke dia, kalau aku menyukai nya.."
"t-terus? ? dia bilang apa?"
"dia… dia tak menyukai ku, Rin.." Miku terlihat sedih.
"… yang sabar ya, Miku. Aku tau dia itu baka, jadi dia butuh waktu untuk menyadari cinta kamu. Sabar yah." Rin memeluk Miku.
"hei, kalian ini malah peluk-pelukan saja di situ. Ayo bantu kami dong!" teriak Kaito yang sedang duduk di atas tempat sampah itu.
"apa? Masuk situ? Iuuh~ no way." Rin menolak mentah-mentah.
"hei, sedang apa kalian?" tanya petugas kebun di rumah Kaito itu.
"um, mencari lembar mat—maksudku, mencari lembar tugas sekolah kami yang terbuang oleh Kaito waktu itu, itu sangat penting." Jelas Rin.
"lembar tugas.. oh lembar itu,"
"ya, apa kau melihatnya, pa?" tanya Kaito dengan efek bling bling di sekitarnya.
"hm.. aku tau."
"waah~ bagus lah! Ada dimana kertas itu pa?" Kaito pun loncat keluar dari tempat sampah menjijikan itu.
"kalau kalian mencarinya di situ, sampe taun ikan tenggelam juga ga bakal ketemu lah."
"ikan tenggelam? Ikan bisa tenggelam ya?" Kaito bingung.
"loh? Emang di mana kertas nya?" tanya Len.
"tadi pagi petugas sampah sudah mengambil sampah-sampah di sini, jadi pastinya lembar yang kalian cari itu, sudah dibawa oleh truk petugas sampah itu." Jelas petugas kebun itu.
"A-APAAAA? !" teriak mereka histeris.
"permisi." Tukang kebun itu pun pergi.
"tidak! Tidak! Jangan bilang kalau kita harus mencarinya di tempat pembuangan sampah akhir!" Rin terlihat sangat tidak mau.
"ya, mau bagaimana lagi?" tanya Len.
"aah! Kenapa aku harus terlibat dengan ini semuaaa!" gerutu Kaito.
"karena kau yang sudah membuat keadaan menjadi sedemikian sulitnya, baka."
"bukan aku! Kalau saja Len tidak menendang ku waktu itu, pasti—"
"pasti kita tak akan pernah mendapatkan lembar matahari itu." Len memotong ucapan Kaito.
"baiklah, aku nyerah." Kaito pun berhenti berdebat.
Akhirnya mereka pun pergi ke tempat pembuangan sampah akhir. Disana, terdapat banyak sekali sampah-sampah yang menggunung dengan baunya yang menyengat.
"bau nyaaa!" Rin menutup hidungnya dengan jaket yang di bawanya.
"bersabarlah, Rin. Kita harus mencari nya. Kalau begitu kita bagi tugas saja, disini ada 7 gunung sampah, setiap orang menangani satu gunung kecuali Kaito, Kaito harus menangani 3 gunung sampah itu, karena dia yang membuat keadaan jadi sulit begini." Ucap Len.
"aah~ menyebalkan~"
"aku mau yang ini saja! Kalian yang lainnya." Rin dengan cepat memilih gunung sampah kering yang paling kecil.
"liciknya. Kalau begitu aku yang ini aja." Len juga memilih gunung sampah yang kering tapi agak besar.
Sedangkan yang lainnya selain Miku dan Lui, mendapat tiga buah gununga sampah yang basah dan besar, itu bagian Kaito.
"menyebalkaaan! Kalian licik! Masa cuma aku yang dapet gunung sampah basah dan yang besar?" Kaito ngambek.
"DL(Derita Lo)" Rin menjulurkan lidahnya pada Kaito.
Kaito hanya mendengus kesal.
Mereka pun mulai mencari, selama sekitar satu jam, mereka semua sudah menyelesaikan pencariannya di satu gunung sampah. Tinggalah Kaito yang mencari di gunung sampah kedua.
"aah! Capee! Akhirnya selesai juga!" Len pun duduk di sebelah Rin yang sedari tadi sudah selesai.
"ketemu gak, Len?" tanya Rin.
"ngga, kamu?"
"ngga juga, kamu nemu ga Mik?"
"ngga, Rin. Bagaimana dengan mu, Lui?" tanya Miku pada Lui.
"ngga juga."
"aku juga tak menemukannya di gunung yang satu itu." Ucap Kaito yang sedang mencari di gunung ke dua nya.
"ga nanya." Len ngajak Kaito bercanda.
"iih, Len! Bantu aku dong~" Kaito mengeluarkan puppy eyes nya.
"hmph.. kasian kasian.. sini aku bantu." Len pun membantu Kaito mencari di gunung itu.
Karena merasa kasihan, akhirnya Rin, Miku, dan Lui pun ikut membantu mencari di gunung yang satunya lagi.
Setelah sekitar beberapa jam, mereka pun selesai mencari.
"gimana? Ada ga di situ?" tanya Len pada Miku.
"ga ada." Ucap Lui.
'geez.. aku nanya ke Miku kok.' pikir Len yang mulai sensi sama si Lui.
"kalau di sana ada ga?" tanya Miku.
"ngga." Jawab Kaito.
"Kok ga ada sih? Gimana dong ini? Ada di mana sih?" tanya Rin.
"i-itu!" Kaito menunjuk ke suatu arah.
"manaaa?" mereka pun melihat ke arah yang di tunjuk Kaito dengan semangat.
"itu!" Kaito masih menunjuk ke arah itu.
"manaaaa?" mereka masih celingukan nyari lembar itu.
"itu! Astaga!" Kaito mulai kesel.
"mana sih? ?"
"ada doggy! KYAA lucunya!" ucap Kaito sambil menghampiri anjing itu.
"loh? Mana lembar matahari nya, baka?" tanya Len.
"siapa yang ngomongin lembar matahari? Orang aku ngomongin anjing ini, wlee." Kaito menjulurkan lidah pada mereka.
GUBRAK!
"eh? lihat!" Rin menunjuk sesuatu.
"apaaa?" mereka dengan semangat lagi melihat ke arah yang di tunjuk Rin.
"anjingnya bawa apa itu di mulutnya!" tanya Rin.
"i-itu.. itu kan lembar matahari yang asli!" Miku kaget melihatnya.
"EH? !" mereka semua terkejut karena anjing itu menggigit lembarnya. Anjing itu kaget ngeliat mereka yang kaget begitu, akhirnya anjing itu pun lari.
"EH! KEJAAARR!" mereka pun mengejar-ngejar anjing itu.
"kena kau!" Rin loncat hendak menangkap anjing itu, tapi sayang, gagal. Akhirnya Rin malah jatuh mencium aspal.
"R-Rin kamu ga apa-apa? Kamu jatuh, sakit ga?" Len terlihat khawatir.
"aku ga jatoh. Aspalnya aja yang mau ku cium. Ha-ha-ha." Rin bercanda di saat yang tidak tepat.
"… kalau aku yang mau, gimana?" tanya Len di saat yang kurang tepat juga.
"eh?"
Sementara itu, yang lainnya masih mengejar anjing itu.
"UWAA!" Kaito terjatuh karena tali sepatunya belum terikat.
"K-kaito!" Miku pun berhenti mengejar anjing itu dan menghampiri Kaito.
"aduh.. ittai.."
"Kaito, kamu terluka. Sebaiknya kau tunggu di sini saja. Biar aku yang mengejar anjing itu." Miku pun hendak pergi mengejar anjing itu, tapi Kaito menahannya.
"eh? kenapa, Kaito?" Miku heran.
Kaito mendekatkan wajahnya ke Miku.
'KYAA! Kaito mau apaa? !' pikir Miku.
TBC~
(A/N : gatau mau ngomong apa hahaha. Speechless aku -_- tapi makasih buat yang masih baca. Ini ceritanya jadi GJ deh. Maaf ya semua T^T review nya please?)
