The disappearance of -book of life-
.
Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara
.
Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v
.
A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^
.
Bales review :
Ryu Kago : hai Ryu! :D makasih udah mau review dan baca :) hehe. Keep reading ya~ makasih~
.
Don't like? Don't read!
.
Like? Review!
.
Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)
.
.
Chapter 12
.
.
Rin tak tau harus berkata apa, dia hanya memeluk Miku.
"apa yang harus kita lakukan?" Miku menangis.
"kita harus mendapatkan lembar itu!" ucap Kaito dengan mantap dan terlihat serius.
"bagaimana caranya?" tanya Len.
"caranya.. um.. uh.. ya.. aku lupa mikirin gimana caranya.." ucap Kaito dengan muka polosnya.
GUBRAK!
"JANGAN BERCANDA DI SAAT SEPERTI INI, BAKAAAA! ! !"
"ya ya ya, ayo kita ceritakan saja soal ini pada Lui. Siapa tau dia tau apa yang harus kita lakukan." Usul Kaito.
Mereka pun setuju dan pergi ke tempat Lui.
Sementara itu, di sebuah istana,
"ini, Wilfre-sama." Cricket pun menyerahkan dua lembar itu padanya.
"bagus. Tugas mu kini sudah selesai."
"ya, Wilfre-sama." Cricket menjulurkan tangannya meminta bayaran atas kerjanya selama ini.
Tapi Wilfre malah menepukkan tangannya pada tangan Cricket itu, dia mengira si Cricket ngajakin toss(?)
"kau boleh pergi sekarang." Ucap Wilfre dengan polosnya.
"apa?"
"ya, pergi. Ayo pergi dari istana ku yang indah, rapi, bagus, kece, high class dan super keren ini. Tugas mu sudah selesai."
"tapi, janji mu?"
"janji? Janji apa?"
"kau janji akan memberi ku uang yang sangat banyak jika aku menyelesaikan tugas ku! Mana!" Cricket mulai kesal.
"hm? Janji? Di kamus ku tak ada kata-kata begitu."
"kau ini sungguh menyebalkan! Aku sudah bekerja untuk mu, bodoh! Mana uang yang kau janjikan itu!"
"kau tak akan mendapat apa-apa dariku! Jadi pergilah sebelum aku menendangmu!"
Singkat cerita, mereka pun berkelahi dan akhirnya Cricket pun pergi dari istana itu dengan tangan hampa. Tidak, tidak sepenuhnya hampa, sebenarnya dia membawa 'sesuatu' dalam tasnya.
Lui yang sedang berjalan-jalan ditaman itu duduk di bangku taman sendirian.
"haa~h segarnya~" ucap Lui sambil menghela nafas.
"eh? itu siapa? Kok kayak kenal ya?" Lui melihat seseorang yang berjalan ke arahnya. Dia terkejut saat kini dia bisa melihat orang itu dengan jelas.
"C-Cricket?"
"Lui.."
"ada apa? Apa kau.."
"ya Lui, aku sudah ingat semuanya."
"semuanya? Kau sudah ingat? Syukurlah! Aku senang kau sudah kembali, Cricket!" Lui senang lalu memeluk Cricket.
"aku juga, Lui, sahabat ku.." Cricket memeluk Lui juga.
Sejak Cricket berantem dan di berhentikan oleh Wilfre, Cricket pun teringat kembali dengan semuanya, semua ingatan masa lalu yang telah dihapus oleh Wilfre. Cricket pun jadi merasa bersalah atas semua perbuatannya.
"maaf.."
"eh? kenapa minta maaf?"
"aku sudah merepotkan mu.." ucap Cricket lirih.
"ah ahahahaa tidak begitu merepotkan kok.." Lui tertawa garing sambil mengelus rambutnya.
"maaf aku juga telah mengambil lembar-lembar itu.."
"ah.. itukan bukan salah mu hahaa.. tak apa kok.."
"maaf aku juga telah berbuat jahat pada kalian.."
"ah ahahaa kau.." Lui yang akan berkata 'tak apa-apa' berhenti sejenak dan berpikir,
"ya, kau memang berbuat jahat pada kami." Ucap Lui dengan nada yang ketus.
Cricket tak berani menatap wajah Lui yang kini menggambarkan kebencian padanya, dia hanya menundukkan kepalanya saja seperti anak sekolahan yang upacara bendera dalam posisi mengheningkan cipta. /plok
Tanpa di duga-duga air muka Lui langsung berubah, dia langsung tersenyum lebar pada Cricket.
"kena kau! Ahahahaa! Sudahlah, aku tak terlalu memikirkan itu, yang sudah biarlah berlalu, kini, kita harus berusaha mendapatkan lembar-lembar itu lagi, okay?" Lui menjulurkan tangannya mengajak Cricket untuk melakukan tos ala mereka itu.
Cricket terdiam sebentar, dia memproses apa yang sedang terjadi, sampai dia sadar kalau dia itu telah di kerjai oleh Lui, sebenarnya Lui tak marah ataupun benci padanya. Cricket pun tersenyum senang dan mengambil tangan Lui lalu melakukan tos ala mereka itu.
"teman!"
Sementara itu Kaito, Miku, Len, dan Rin, masih kebingungan mencari Lui.
"astagaaa kemana lagi kita harus mencarinya?" Rin mulai kesal.
"kita tak bisa terus-terusan diam bodoh menunggunya seperti ini di tempat dia nongkrong." Ucap Kaito.
"memangnya dia tak bisa di hubungi, Rin?" tanya Len.
"tidak. Sudah berkali-kali ku telpon dia, tapi nomernya ga aktif."
"kita mulai kehabisan waktu.. semenit kini terasa sangat berharga mengingat ancaman Cricket tadi! Kini waktu kita sudah terbuang 15menit! Aku ga mau terus-terusan begini! Huwaaaa" Miku mulai putus asa.
"hei teman-teman!"
mereka kaget mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telinga mereka itu. Mereka pun menoleh ke arah suara itu dengan cepat.
"LUIIIIII! ! ! !" spontan mereka semua berteriak. Antara senang, kesal, marah, apalah itu, yang pasti mereka sukses membuat telinga Lui menjadi sakit karena teriakannya.
"eh.. kalian ini, bisakah menurunkan volume mu itu?" ujar Lui sambil tersenyum keheranan dan melepaskan tangannya yang tadi menutup telinganya.
"Lui! Demi apapun, kemana saja kaaaaauu!" Rin melepaskan semua ke-kesalan-nya.
"eh? jalan-jalan?" Lui masih dengan senyumnya yang tadi.
"kenapa kau tak bisa dihubungi? ? ?" Len ikutan kesel.
"uh? Hape ku lowbat?" Lui masih tersenyum keheranan.
"kau ini, kami sudah menunggu mu lama disini tahu!" ucap Kaito yang kesal juga.
"oh hahaha. Maaf, memangnya ada apa?"
"sudahlah teman-teman, jangan mengulur waktu lagi! Kita tak punya waktu banyak!" ucap Miku yang mulai gereget sama mereka yang sempet-sempetnya ngobrol.
"o-okay, ada apa ini?" Lui mulai serius.
Merekapun menceritakan pada Lui semuanya.
"i-ini buruk.. tapi, tak terlalu buruk." Ucap Lui yang sukses membuat mereka semua keheranan.
"tidak terlalu buruk apanya! Dalam waktu 47jam 30 menit ke depan, kita tak akan mengenal satu sama lain lagi!" ucap Miku.
"hm.. aku ada berita bagus untuk kalia—maksudku untuk dunia!" ucap Lui dengan senang.
"apa?"
"taraaaaa~~!" Lui menunjukkan sesuatu pada mereka, sesuatu itulah yang telah di bawa Cricket secara diam-diam dari istana Wilfre itu. Sesuatu itu sukses membuat mata mereka semua terbelalak kaget.
"i-ini.. tak mungkin.."
"apa aku bermimpi?"
"ini.. lebar awan, api, dan… musik! Nyahahahaaa~" Kaito terlihat senang dan langsung menyambar kertas itu dari tangan Lui.
"b-bagaimana bisa?" Miku terlihat senang.
"eh? hehe senang sekali sepertinya? Ya, aku dan Cricket sudah baikan." Ucap Lui yang sukses membuat mereka semua kaget.
"…. apa?"
"ya, apakah telinga kalian mengalami masalah? Aku dan Cricket sudah baikan, Cricket sudah sadar dan, dia yang memberikan lembar itu padaku." Ujar Lui dengan senang.
"benarkah? Syukurlah! Jadi, masalah kita tentang lembar 'friendship' dan 'romance' ini juga sudah selesai?" tanya Miku.
"tidak. Karena kita belum menemukan lembarnya." Ujar Lui yang sukses menghapus bersih senyum semangat di wajah Miku itu.
"ya, soal lembar itu, aku sendiri juga tak tahu bagaimana caranya. Tapi, kita bisa bertanya soal ini pada Cricket. Dia pasti masih ingat jalan menuju istana Wilfre-san." Saran Lui.
"un!" mereka pun mengangguk setuju.
Setelah memberikan lembar yang asli itu pada polisi, dan menyatukannya lagi ke dalam book of life, dunia jadi terasa lebih lengkap, dan tanpa mengulur waktu lagi mereka pun segera menuju ke tempat Cricket.
Sesampainya disana, tak perlu mereka menjelaskan apa masalahnya, Cricket sendiri juga sudah tau. Dia pun langsung meminta maaf pada mereka.
"maaf, kumohon maafkan aku! Aku sudah merepotkan kalian! Aku tak sadar waktu itu. Aku sangat minta maaf pada kalian!" ucap Cricket pada mereka.
"aah~ berhentilah meminta maaf pada kami Cricket-san. Kami sudah memaafkanmu." Ucap Rin yang sudah mulai bosan mendengar pernyataan maaf dari Cricket itu.
"ya, aku pun sudah cape ngitungnya." Ucap Kaito.
"ngapain kau hitung, baka." Ucap Len.
"jumlahnya? Aku tak tau. Yang pasti sudah melebihi 10 jariku ini." Jawab Kaito ngelantur.
"kami mohon, waktu kami semakin sempit! Bagaimana cara menghentikan ini semua?" ucap Miku.
"maaf, sepertinya tak ada cara lain, selain, kalian harus mengambil lembar itu langsung di istana Wilfre." Ucap Cricket.
"APAAA? !"
"tapi, di mana istananya?"
"ayo cepat beritahu kami!"
"kami mulai kehabisan waktu!"
"jika kalian memaksa, aku bisa mengantarkan kalian ke dunia itu." Ujar Cricket yang menyerah dengan pertanyaan mereka yang bertubi-tubi itu.
"eh? 'dunia itu'? Maksudnya istananya ada di dunia lain?" tanya Rin.
"antar saja kami! Kami mulai kehabisan waktu!" Miku ngotot.
"baiklah, open the snow gate!" setelah Cricket mengucapkan kalimat atau mungkin mantra itu, langsung muncul sebuah gerbang dengan sisi-sisinya yang di penuhi salju di belakang mereka(Kaito, Len, Miku, Rin).
"eh? t-tunggu, apa ini? Aku tak mau pergi ke dunia lain!" ucap Rin.
"biarkan mereka menjelajahi dunia mu, dunia pertama!" terlambat, Cricket sudah mengucapkan mantra agar mereka semua masuk ke dalam gate itu. Dan mereka pun langsung terhisap ke dalamnya, pintu itu langsung tertutup.
"KYAAAA!"
TBC~
(A/N : haa~h.. kan sudah kubilang, kalau alurnya seperti kemarin itu, jadinya ya bakal seperti ini. Seperti yang ku bilang di A/N awal chapter 1. Aku membuat fic ini karena terinspirasi dengan game di Nds ku. Maka, jadilah fic begini. Maaf semua~ sekali lagi maaf~ maaf kalau kecewa~ mungkin endingnya, tak begitu buruk kok :D? review please?)
