The disappearance of -book of life-
.
Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara
.
Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v
.
A/N : maaf, jadi ga karuan gini. Yang mau kasih saran kritik atau apalah silakan saja. Tapi maaf, Glori akhir-akhir ini bakal jarang update, aku lagi mau testing masuk ke sekolah favorite :P (cie elah) doa in deh biar lolos! ^^ okay, baca aja~
.
Don't like? Don't read!
.
Like? Review!
.
Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)
.
.
Chapter 15
.
.
"tidak, Rin-san. Maksudnya. Kalian sudah melewati level pertama, mengalahkan ketiga shadows itu. Di level selanjutnya, atau dengan kata lain di daerah selanjutnya, ini akan menjadi semakin sulit, semakin banyak tantangan dan rintangannya."
Gulp
"apa selanjutnya? Atau, tempat apa selanjutnya?" tanya Miku.
"kita akan menuju ke Snow caves!" ucap Gakupo dengan riangnya.
"um.. dimana letak itu? Kenapa kita harus ke situ?" tanya Len.
"tentu kita harus kesana. Aku mau menyelamatkan adik ku! Itu dekat kok, atau mungkin jauh. Lewat sini~" Gakupo pun berjalan diikuti yang lainnya.
Setelah sekitar 1 setengah jam berlalu.
"apa sudah sampai?" tanya Miku yang mulai kelelahan.
"aduh capee~ gendong aku~" Rin mulai manjanya.
"… ayo? Kalau mau sini sama aku?" tanya Len.
"ga ga ga. Aku bercanda kok."
"ciee~" Kaito pun mulai jail.
"apa ga ada ojek atau taksi gitu? Cape nih." Rin mulai ngelantur.
"iya, kalau naik ojek atau taksi kan kita ga kehabisan banyak waktu." Miku selalu mengkhawatirkan waktu yang tersisa.
"nah, sudah sampai~" ucap Gakupo dengan riangnya.
"eh? sampai? Tau darimana? Disini salju semua, ga ada tanda-tanda kita sudah sampai di suatu tempat." Len kebingungan.
"itu gampang. Kalau kita sudah di serang musuh, artinya kita sudah sampai di daerah lain." Ucap Gakupo dengan santainya.
"musuh? Tapi disini ga ada tuh?" Kaito celingukan.
"kalau begitu, di belakang kalian itu apa?" Gakupo menunjuk ke belakang mereka.
Ketika mereka melihat ke belakang betapa terkejutnya mereka ketika mendapati 4 shadows ada di belakang mereka. Shadows itu sudah bersiap akan memukul Miku.
"KYAAA!" Miku takut, tapi Rin langsung berdiri di depan Miku dan menyilangkan kedua tangannya di depan mukanya membuat perlindungan.
"i-ini gawat.. mereka berempat!" ucap Len.
"hei, Gakupo-san, kau bantu kami lah.." pinta Kaito.
"hmhmhm.. baik baik~" Gakupo pun maju.
Rin membawa Miku ke tempat yang aman.
"Miku kau tunggu disini ya." Ucap Rin.
"eh, Rin tunggu! Aku ga mau hanya diam disini saja. Aku juga mau membantu kalian." Miku menahan pergelangan tangan Rin.
"eh.. kamu.. mau bantu juga?"
Miku mengangguk dengan semangat. Rin hanya menghela nafas lalu,
"oke. Kita kerjasama ya!" Rin tersenyum lebar pada Miku.
"un!"
Seperti biasa, Len, dan Kaito menghabisi musuhnya dengan cepat. Tapi tak secepat yang sebelumnya, entah kenapa rasanya lawan ini lebih kuat dari yang sebelumnya. Begitu pula dengan Gakupo yang sudah menghabisi musuhnya. Lebih baik menyimak cara bertarungnya Rin dan Miku yang berbeda dari cara Len, Kaito, dan Gakupo.
Shadows itu berusaha menyerang ke arah Miku. Tapi Rin melempar bola salju ke arah shadows itu dari belakang. Sehingga shadows itu berbalik mengincar Rin. Di saat shadows itu mengejar Rin, Miku dari belakang memukulnya dengan balok kayu. Dan selesailah pertarungan mereka.
"tehehee~ teamwork~" ucap Miku dan Rin bersamaan.
Tak lama, seperti tadi, para shadows itu hilang dan meninggalkan potongan kertas yang lainnya.
"eh? kita dapat lagi! Uyee~!" Rin mengambil potongan kertas itu dan loncat-loncat gembira.
"heheh. jangan senang dulu bocah." Ucap seseorang. (atau mungkin sesuatu)
Sontak mereka semua melihat ke arah suara.
"makhluk apa itu? !" Miku ketakutan melihat makhluk yang ada di depan mereka itu.
Makhluk yang berwarna hitam, sama seperti shadows yang sebelumnya, hanya bentuk nya lebih mengerikan dan lebih besar. Untunglah dia hanya sendiri.
"heh. Mau apa kau? Kami sudah dapat kertas ini seutuhnya." Rin menjulurkan lidah sambil menunjukkan 2 potong kertas itu.
"ya, dan sebentar lagi kami akan keluar dari tempat ini. Tapi… mana pintu keluarnya sih, Rin?" Kaito celingukan nyari pintu keluar.
"hahahaha! Dasar bodoh! Kalian tidak akan bisa melihat pintu keluarnya sebelum menyelamatkan adik dia!" ucap shadows itu.
"adikku! Kau apakan dia!" Gakupo ingin menyelamatkan Gumi yang sedang diikat di atas sebuah kompor panas, tapi yang lain menahannya.
"kita ga boleh gegabah! Sabarlah dulu." Ucap Miku.
"untuk menyelamatkan Gumi, kalian tak perlu melawan ku. Kalian hanya butuh menjawab pertanyaanku. Kalian butuh kekuatan otak." Shadows itu menunjuk ke kepalanya sendiri.
"oke. Apa pertanyaannya?"
"sebuah kasus. Dan kalian harus memecahkan kasus ini."
Mereka pun terdiam menunggu soal apa yang akan diberikan shadows itu pada mereka.
"di suatu apartemen di kota New York, terjadi pembunuhan seorang seniman. Sherlock Holmes, detektif yang sangat terkenal berusaha memecahkan kasus itu. Tersangka pertama pembunuhan tersebut adalah Jenifer, 52 tahun. Ia adalah pemilik apartemen tersebut. Tersangka kedua adalah Chad, 21 tahun. Apartemen Chad beresebelahan dengan apartemen seniman tersebut. Tersangka ketiga adalah Jade, 16 tahun. Jade adalah mantan pacar seniman tersebut, hubungannya berakhir karena seniman tersebut mencampakkan Jade dengan alas an perbedaan umur yang terlalu jauh. Tersangka terakhir adalah Darren, 25 tahun. Sehari sebelumnya, mereka bertengkar karena alas an yang tidak jelas. Saat berusaha memecahkan kasus tersebut, seorang wanita pembersih datang dan membawa kertas yang ditemukannya tadi pagi. Di kertas itu tertulis deretan angka petunjuk pelaku pembunuhan tersebut. Deretan angka itu adalah '3814'. Bisa kah kalian menemmukan siapa pembunuh seniman itu?"
"astaga, riwet ah kasusnya. Aku tebak sih kayaknya, Darren. Soalnya dia kan sebelumnya berantem sama seniman itu. Soal petunjuknya aku ga bisa cara mecahinnya." Tebak Len.
"ya, aku males mikir. Jawaban ku sama kayak Len aja deh," ucap Rin.
"kata aku ya, prediksinya pasti salah. Orang yang ngebunuhnya itu kan si Inem." Kaito ngelatur.
"kita harus melihat kodenya. Itu petunjuknya. Gunakan kekuatan otak dan jangan gegabah." Miku terus berpikir.
Ga heran kalau Miku yang berpikir, karena dia adalah anak yang paling pintar di sekolah mereka.
"selamatkan adikku! Apa maksud dari '3814' itu?" Gakupo mulai galau.
"salah sedikit saja, tali yang mengikat Gumi akan lepas." Ucap shadows itu.
"bagus dong? Berarti bebas." Ucap Kaito.
"enggak, bodoh. Kalau lepas nanti dia masuk ke kompor itu! Ntar gosong! Ya, ga baguslah!" Rin kesel sama baKaito.
"aku tau jawabannya!" ucap Miku.
"apa?" mereka semua penasaran.
"apa, nona kecil? Jawab saja. Ingat, salah sedikit, tak ada kesempatan lagi untuk Gumi hidup. Dia akan langsung masuk ke kompor itu."
Gulp
Miku ragu-ragu untuk menjawab. Dia pun akhirnya ingin berdiskusi dahulu.
"psst.. bener gak ya kira-kira kalau jawabannya itu Chad?" tanya Miku pada mereka dengan volume yang sangat pelan.
"chad? Kenapa chad yang melakukannya?"
"karena.."
-skip-
Setelah berdiskusi, dan akhirnya mereka sudah memutuskan jawabannya, Miku pun siap menjawab pertanyaan itu.
"jadi, jawabannya?" tanya shadows itu.
TBC~
(A/N : ga nyangka bakal jadi sepanjang ini -_- maaf~ tapi, sudahlah. Tinggal beberapa chapter lagi, selesai kok! Keep reading ya! Oh ya, maaf semuanya. Sengaja digantung gini akhirnya, Glori pengen tanya, kalian bisa ga jawab teka-teki itu? Coba aja tebak. Di review ya! ^^)
