The disappearance of -book of life-

.

Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara

.

Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v

.

A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^

.

Don't like? Don't read!

.

Like? Review!

.

Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)

.

.

Chapter 16

.

.

Setelah berdiskusi, dan akhirnya mereka sudah memutuskan jawabannya, Miku pun siap menjawab pertanyaan itu.

"jadi, jawabannya?" tanya shadows itu.

"Chad." Jawab Miku dengan yakinnya.

"hm.. kenapa?"

"dari petunjuk kertas itu, 3814. Bila disusun dalam susunan abjad, 3 adalah C, 8 adalah H, 1 adalah A, 4 adalah D, maka pelakunya adalah CHAD." Jelas Miku.

.

.

.

.

.

.

"TIDAAAAK! Kenapa kau bisa menjawab pertanyaan kuuu! Kyaaa—" makhluk itu pun menghilang, Gumi terbebas, perlahan salju pun mulai memudar menunjukkan keindahan alami negeri snow gate itu, sebuah kertas muncul saat makhluk itu hilang.

"kutukannya.. kutukkannya hilang! Nyahahahahaa! Horeeee~~!" Kaito sangat senang tanpa sengaja diapun memeluk Miku.

"e-eh!" Miku kaget dan hanya bisa blushing saja.

"Gumiii!" Gakupo langsung memeluk adiknya itu.

"Gakupo-nii~" Gumi pun balas memeluk kakaknya itu.

"kertas ini…" Rin kaget saat melihat kertas yang muncul tadi.

"kertas ini.. ini lembar 'friendship'! yeheee~! Kita masih bisa bersama selamanyaaa~!" Len sangat senang tapi saat dia mau memeluk Rin, Rin malah menghindar. Len tampak kecewa tapi dia tidak menyadari muka Rin yang sedikit merona itu.

"Eh! lihat itu! Itu pintu keluar kita!" ucap Miku.

"manaaa?" mereka semua celingukan.

"itu!"

"manaaa?"

"ayo cepat! Pintu itu semakin menyempit! Kita bisa terkurung disini nanti!" Miku geregetan sama mereka semua yang lemot.

"tunggu!"

mereka semua menoleh ke arah suara. Rupanya itu seluruh warga snow gate.

"terimakasih banyak sudah menghilangkan kutukannya!" ucap Snowy.

"sama-sama! Itu bukan apa-apa kok! Hahaha."

"eh, ayo cepat! Itu pintunya sudah semakin menyempit! Ayo!" Miku pun keluar melalui pintu itu.

"eh! Miku!" Kaito menyusul.

"kapan-kapan mampir ya~!" ucap salah satu warga snow gate itu.

"eh, iya kalau bisa hehe." Len cengengesan sambil membatin 'sumpah demi apapun gua ga bakal mau ke sini lagi! Gua kapok!'

"iya juga ya. Sampai nanti semua!" Rin melambaikan tangan pada mereka semua lalu pergi bersama yang lainnya.

Sesampainya lagi di dunia,

"KYAA!"

GUBRAK

BRUK

BRUK

Mereka pun jatuh bertumpuk-tumpukkan saat keluar dari snow gate itu.

"aduhhh.. ittai.."

"kalian sudah kembali ternyata." Cricket sedang duduk di sofa sambil menonton tv dan menikmati kue dan secangkir susu.

"aduh Len, berat tau! Minggir!" Rin berusaha bangun dari posisinya yang… err.. kurang enak dipandang itu, tepatnya dia berada di bawah Len.

"eh.. m-maaf Rin.." Len pun bangun dengan mukanya yang memerah.

'k-kenapa aku jadi deg-deg an gitu sih pas deket Len tadi..?' pikr Rin.

"RIINN!"

Rin pun menoleh ke arah suara.

BRUK!

"KYAA! LUI!" Rin kaget saat Lui langsung memeluknya.

"Rin! Kau kembali juga ternyata! Aku mengkhawatiirkan mu!" ujar Lui.

"khh- L-Lui.. a-aku.. sesak… nafas-"

"ups.. maaf. Hehe." Lui hanya cengengesan.

"gimana? kalian berhasil mendapatkan lembarnya?" tanya Cricket yang masih fokus pada acara tv.

"berhasil dong! Lembarnya ada di si Mik—" Rin kaget saat melihat Miku yang sedang tatap-tatapan sama Kaito penuh arti gitu.

"eh.. lagi pacaran ya? Ciee~" Len mulai menjaili Kaito.

"ng-ngga!" Kaito jadi salting dan mukanya pun memerah.

"uh.. ini lembarnya.." Miku menyerahkan lembar 'friendship' pada Cricket.

"Cuma ini? Satu lagi mana?" tanya Cricket.

Cengo~

Cengo~

Cengo~

Cengo~

Cengo~

"ASTAGAAA! KITA LUPAAA!"

"ckckck.. kalo gitu," Cricket menggantungkan ucapannya dan,

"open the forest gate!" Cricket lagi-lagi mengucapkan sebuah mantra dan muncul lagi sebuah gerbang dengan daun-daunan di sisinya.

"TUNGGU!" mereka semua berteriak.

"apa?" tanya Cricket.

"bisakah kami minta waktu semalam saja untuk istirahat? Kami.. cape.." ucap Miku.

"hm.. oke. Untuk memastikan bahwa si jeruk itu tidak kabur, kalian tidur disini saja." Ucap Cricket sambil menunjuk Rin yang sudah bersiap pergi.

"ouch! Sial!" gumam Rin.

"d-disini?" tanya Miku.

"iya. Tenang saja. Disini ada 3 kamar kok. 1 kamar untuk aku dan Lui, 1 kamar untuk Kaito dan Len, 1 lagi Miku dan si jeruk itu." Ucap Cricket.

"AKU BUKAN JERUK! AKU MANUSIA!" protes Rin.

"ya ya ya, dan, oh! Siapa mereka?" tanya Cricket yang baru menyadari kehadiran Gakupo dan Gumi di situ.

"ehh.. kami.. jadi gini, kami menyelamatkan mereka di snow gate itu." Jelas Miku.

"hai! Aku Gakupo! Dan ini adikku Gumi!" ucap Gakupo.

"oh. Hai, aku Cricket. Ini Lui."

'loh? Perasaan ku saja atau Lui emang blushing pas liat Gumi?' pikir Rin.

"ya sudah, kami ga enak lama-lama di sini, kami pulang dulu ya." Pamit Gumi.

"eh. tunggu, k-kau.. kau boleh tidur disini dulu semalam ini kok. Sekarang kan sudah gelap, takut kenapa-napa di jalannya." Ucap Lui dengan sedikit merona.

"eh? apa tak merepotkan..?" muka Gumi pun terlihat memerah juga.

"e tapi Lui, kita kan—" Lui menutup mulut Cricket yang mau berbicara soal kamar mereka yang Cuma ada 3 itu.

"ga kok! Ga sama sekali." Lui tersenyum pada Gumi. Membuat muka Gumi jadi memerah. Muka Rin juga memerah. Tapi karena dia jealous.

"hellooo~? Kakaknya ga boleh nginep? Jadi Cuma adiknya doang ya?" Gakupo ngerasa ga di anggep.

"eh.. boleh deh." Ucap Lui yang sepertinya agak maksa.

"hehehe~ asik~"

-skip-

Malam pun tiba, semua sudah berada di kamar masing-masing. Len, Kaito, dan Gakupo di kamar atas. Kamar Rin, Miku, dan Gumi berada di sebelah kamar mereka. Sedangkan sang pemilik Lui dan Cricket di kamar utama di lantai bawah.

"Rin.." panggil Miku pada Rin.

"zzz.." Rin sudah tertidur. Begitu juga dengan Gumi.

"haah~ aku ga bisa tidur.." Miku pun keluar dari kamarnya berniat menuju ke balkon lantai dua dan melihat-lihat pemandangan dari atas situ.

"hmm~ pasti asik kalo bisa lihat pemandangan dari balkon."

Saat Miku sampai disana, dia pun terkejut melihat siapa yang ada di sana.

"Kaito..?"

Sementara itu, di kamar Rin. Rin terbangun.

"hunggh? Mik?" Rin masih setengah sadar.

"loh? Miku mana?" Rin celingukan nyari Miku.

"iih! Miku mana sih? Aku mau ke wc nih. Masa sendirian?" Rin merasa ga enak kalo harus ngebangunin Gumi, akhirnya diapun pergi ke wc sendirian.

Diapun berjalan ke wc dengan perasaan yang masih ga karuan, dia takut.

Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak Rin dari belakang.

"GYAAA! AMPUN! JANGAN MAKAN AKU! RASAKU GA ENAK! AMPUN!" Rin udah teriak-teriak histeris sebelum melihat siapa yang menyentuh pundaknya itu.

"heh. Siapa yang mau makan kamu? Emang aku kanibal apa."

"eh. Len! ngagetin aja ih!" Rin memukul Len.

"iya iya maaf. Kamu kok belom tidur?"

"udah kok, cuma bangun lagi. Kamu sendiri?"

"abis dari wc."

"eh, Len kebeneran deh, anter aku yuk! Aku takut kalo ke sana sendirian!" Rin menarik-narik lengan baju Len sambil menatapnya dengan puppy eyes.

"i-iya jangan gitu dong liatnya! b-biasa aja." Len memalingkan wajahnya yang memerah itu karena muka Rin yang imut abis saat mengeluarkan puppy eyesnya.

"ehehe~ ayo~"

-meanwhile-

"Kaito..?" gumam Miku.

Kaito yang menyadari kehadiran seseorang disitu pun langsung menoleh ke belakang.

"Miku? Ayo sini aja." Kaito menepuk-nepuk lantai menyuruh Miku untuk duduk di sebelahnya.

"Kaito, belum tidur?" Miku pun duduk di sebelah Kaito dengan agak canggung.

Kaito hanya menggeleng.

"aku ga bisa tidur hehe. Kamu juga kenapa ga tidur?" tanya Kaito.

"aku.. juga susah tidur."

"mikirin aku sih ya? Hahahaha!" Kaito mulai GR.

Miku hanya blushing karena tebakan Kaito itu 70persen benar. Suasana jadi hening, sampai Miku bertanya,

"Kaito?"

"hm?"

"um.. soal.. omonganmu waktu itu.." Miku malu-malu menanyakannya.

"hm? Yang mana? Omonganku banyak loh. Yang mana?"

"yang.. um.. kamu suka aku. Itu.. bener?" tanya Miku tergagap-gagap.

"oh.. itu. Menurutmu gimana?" tanya Kaito balik membuat Miku jadi bingung.

"eh? kok nanya balik?"

"aku mau tau pendapatmu. Menurutmu aku serius tidak?"

"mm.. uh.." Miku kebingungan.

"gini deh, aku kasih kamu petunjuk buat jawab pertanyaan aku itu."

Begitulah Kaito mengambil firstkiss nya Miku.

Sementara itu, Rin baru keluar dari wc.

"eh? Len?" Rin celingukan nyari Len.

"Len? kamu dimana? Jangan ngumpet gitu dong! Aku takut nih."

"Len~~! Lu dimanaaa?"

"disini hoi~ lu liat kemana?" Len berada di belakang Rin tepat disamping pintu WC.

"eh? maaf aku ga liat hehe~" Rin hanya cengengesan. Len memalingkan wajahnya yang memerah.

'hm.. sebaiknya sekarang saja, kalau tidak, ga ada kesempatan lagi..' pikir Len.

"hehehe~ habisnya disini kan gelap~ jadi kamunya ga keliatan deh hehe~" Rin masih cengengesan.

Tiba-tiba Len mendorong Rin ke tembok dan menguncinya dengan kedua tangan Len ke tembok.

"eh? Len?" Rin kaget.

Muka Len memerah tapi Rin tidak bisa melihatnya karena di situ gelap.

"Rin, kalau kau menyukai seseorang, apa kau akan melakukan hal yang sama dengan ku?"

"eh?" Rin bingung, dia hanya memiringkan kepalanya dengan muka polosnya.

"Maksudmu? Kau menyukai seseorang? Kalo gitu, tembak aja langsung Len! dia juga pasti nerima kamu kok. Kamu kan ganteng dan imut~ gamungkin dia ga suka sama kamu!" ucap Rin dengan polosnya.

"hm, begitu menurutmu?"

"iya, Len ganteng dan imut~ dia gamungkin ga suka sama Len."

"makasih. kamu juga imut dan.. manis.." Len mendekatkan wajahnya ke Rin hingga jidat mereka bersentuhan.

Kini Rin bisa merasakan nafas Len yang hangat di wajahnya.

"e-eh.. Len.." Rin mulai merasa hawanya jadi ga enak. Mukanya pun memanas.

"mungkin lebih manis kalau ku cicipi.." Len mendekatkan mulutnya ke Rin.

'UWAA! Gawat! Len mau ngapain ini!' pikir Rin.

Sementara itu Gumi terbangun,

"uh? Miku-chan dan Rin-chan kemana ya?"

Gumi yang merasa takut sendirian di situ langsung menyambar gagang pintu dan berniat keluar. Tapi dia kaget karena kehadiran seseorang di depan pintunya.

"eh? Gumi?" muka Lui langsung memerah.

"Lui? A-ada apa?" Gumi juga jadi merona.

"ga apa-apa. Hanya saja.. aku tadi lewat sini. Ga ada niat untuk melihat mu kok. Eh maksudku—" Lui keceplosan sementara Gumi menatapnya dengan tatapan 'wahwah-ketahuan-yah-kau'

"udah udah.. ga usah di bahas." Lui memalingkan wajahnya yang semakin memerah itu.

"hihihi." Gumi hanya cekikikan.

"kamu ga tidur?" tanya Lui.

"aku.. udah tidur tadi. Kamu?"

"aku.. mm.. ga bisa tidur."

"ya udah temenin aku dulu di sini ya, sampai Rin-chan dan Miku-chan kembali."

"eh? emang mereka kemana?"

"entahlah. Ayo temenin aku dulu."

"i-iya. Tapi di sini saja ya. Kita duduk di sini aja oke?" Lui duduk di ambang pintu, begitu juga Gumi.

'bukan apa-apa, aku cuma takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan kalo aku nemenin dia di dalem.' Pikir Lui.

"um.. Lui, sepertinya aku pernah mengenalmu ya? Kau itu.. mantannya si Ring kan ya? Waktu SD! Kita satu sekolah kan! Iya, kamu mantannya si Ring kan! Hahaha."

"eh? iya ya kita kan dulu satu sekolah ya? EH! apa sih! Masa lalu tau! Kamu juga mantannya si Gumiya kan! Hahahaha!"

"ih.. apa sih. Sekarang kan sudah ada yang baru, wlee~" Gumi menjulurkan lidahnya pada Lui.

"oh ya? Siapa?" pertanyaan Lui ini membuat Gumi jadi blushing.

"um.. kamu duluan dong! Masa' cewe duluan yang bongkar rahasianya?"

"ih.. kan ladies first! Ahahaha!"

"gamau ah! malu! Kamu dulu aja. Kamu suka sama siapa?"

"mm.. siapa ya? Gini deh, kita ucapin bareng-bareng aja ya?" usul Lui.

"hm.. oke."

"1.. 2.. 3.."

"KAMU!" ucap mereka bersamaan.

"eh? kamu.." Gumi kaget mendengarnya.

"mm.. kamu juga ya?" Lui jadi malu-malu.

"i-iya.."

"aku suka kamu, Gum. sejak kamu putus sama Gumiya, aku udah suka sama kamu." Ucap Lui terang-terangan.

"a-aku suka kamu juga kok.." Gumi blushing.

Sementara itu,

"rasanya manis~ mungkin ini rasa kesukaan ku setelah ice cream~." Ucap Kaito.

"e-eh?" muka Miku pun memerah padam.

"kau pikirkan saja apa maksud dari petunjukku itu. Sampai nanti!" Kaito pun pergi meninggalkan Miku sendiri di situ.

-meanwhile-

Jarak Len dan Rin tinggal sedikit lagi,

"L-Len.."

Len pun bethenti.

"kenapa..?" tanya Rin.

"karena… 'dia' yang kau bicarakan tadi itu adalah kamu.."

"eh? maksudmu?"

"kamu orang yang aku sukai. Aku kan pernah bilang. Aku ga main-main."

"…." Rin terdiam, tak percaya dengan yang di dengarnya.

Len menarik Rin ke dalam pelukannya.

"aku suka kamu Rin.."

"a-aku.. ga percaya.."

"kalau gitu, aku akan membuat mu percaya.."

Len melepaskan pelukannya dan mencium pipi kiri Rin.

"aku akan membuat mu percaya, kalau aku menyukai mu." Len pun pergi meninggalkan Rin sendiri.

Rin hanya tercengang mendengar perkataan Len. dia pun berjalan lagi menuju kamarnya sambil terus kepikiran omongan Len itu.

'Len.. suka aku..? tapi, apa aku suka Len juga ya? Akhir-akhir ini gatau kenapa, aku suka kalo deket-deket sama Len. tapi.. aku kan suka Lui? Apa aku menyukai dua orang? Ngga!..'

Sesampainya di depan kamar, Rin melihat Lui dan Gumi, wajah mereka dekat sekali, semakin dekat, 'ah? jangan-jangan mereka mau..' pikir Rin.

"eh! Rin-chan!" Gumi yang melihat Rin langsung menjauhkan wajahnya dari Lui.

"wha- hai Rin!" Lui kaget dan menjauhkan wajahnya dari Gumi juga.

'kenapa ini? Kenapa aku ga merasa cemburu atau marah saat melihat mereka bermesraan seperti tadi itu? Aku merasa biasa saja. Bukankah aku menyukai Lui? Tapi, kalau begini.. itu artinya, aku sudah tak menyukainya?' pikir Rin.

"ah, kalian ini.. hahaha. Mau ngapain tadi? Hayo ngaku~" Rin mulai jail.

Mereka hanya terdiam dan blushing.

Tiba-tiba Kaito berlari ke arah mereka.

"hosh.. hosh.. Rin! Gawat!" Kaito masih mengatur nafasnya.

"k-kenapa Kai?" Rin bingung melihat wajah Kaito yang segitu khawatirnya.

"Miku dan Len! mereka.. mereka pergi ke forest gate!"

"APAAAA!"

TBC~

A/N : review please? Review itu semangat buat aku~ please?