The disappearance of -book of life-

.

Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari, MUNGKIN akan ada death chara

.

Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v

.

A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^

.

Don't like? Don't read!

.

Like? Review!

.

Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)

.

.

Chapter 17

.

.

"k-kenapa Kai?" Rin bingung melihat wajah Kaito yang segitu khawatirnya.

"Miku dan Len! mereka.. mereka pergi ke forest gate!"

"APAAAA!"

"iya! Aku lihat sendiri tadi!"

Flashback~

Saat Kaito keluar dari kamar mandi, Kaito melihat Miku sedang berdiri di depan Forest Gate, tiba-tiba Len lewat dan Miku memanggilnya.

"Len! sini~"

Len pun menghampiri Miku.

"kenapa?"

"kau tau tidak?" muka Miku memerah.

"tidak. apa?"

"K-Kaito.. dia tadi mencium ku.." Miku blushing sambil menyentuh mulutnya.

"WHA—? B-benarkah?" Len terlihat kaget. Sedangkan Miku hanya mengangguk.

"selamat ya Miku! Akhirnya si baka itu bisa juga mencium seorang gadis. Hahaha! Tapi.. beda dengan ku.."

"kenapa Len?"

"aku.. aku juga tadi bertemu Rin, dan aku sudah mengatakan semuanya padanya, tapi.. ya.. dia ga percaya."

"sabar ya Len.. aku turut prihatin.."

"untuk itu, aku akan buktikan pada Rin. Kalau aku ini benar-benar menyukainya. Dengan cara…"

"cara?"

"…mengambil kembali lembar 'romance'."

"! ! !"

"ini.. ku lakukan untuk semua orang, setiap pasangan di dunia ini, terlebih lagi untuk Rin.. aku masih ingin menyukai nya, walaupun Rin tak membalas perasaanku.."

Miku terdiam.

"Len. aku akan ikut dengan mu! Aku juga ingin terus mempertahankan perasaan Kaito yang sepertinya sudah menyukai ku juga!"

"kalau begitu, kita bisa mulai sekarang kan?"

"un! Waktunya, masih tersisa 10 jam dari sekarang! Cukup!" Miku mulai semangat.

Mereka berdua pun masuk ke dalam forest gate.

Flashback off~

"i-ini gawat! Gimana ini?" Rin terlihat cemas.

"tenang tenang! Kita beritahukan ini pada Cricket, ayo!" Lui dan yang lainnya pun pergi ke tempat Cricket.

"APAAAA!"

"iya.. maafkan kami sudah membangunkan mu dan memberi mu berita buruk begini, tapi kami membutuhkan pertolonganmu.." ucap Rin.

"tolong bawa Miku kembali! Aku membutuhkannya!" Kaito memohon.

'aku tak menyukai Miku. Karena aku sendiri ga tau gimana rasanya suka. Aku hanya merasa nyaman di dekat Miku, makanya aku gamau dia hilang.' Pikir Kaito.

"aku.. tak tau harus berbuat apa.." ucap Cricket sedih.

"a-aku mohon.. tolong.. bawa Len dan Miku kembali.." Rin memohon.

"aku tak tau cara mengembalikan mereka."

"apa yang akan terjadi pada mereka nanti?" tanya Lui.

"ini buruk. Dunia itu akan menentang kehadiran mereka karena mereka masuk tanpa mantra dariku. Kalau begini, mungkin satu-satunya cara, kalian harus menyusulnya." Ucap Cricket.

Sementara itu, Len dan Miku sampai di dunia kedua, the Forest Gate.

"di sini, jauh lebih bagus daripada Snow Gate saat kita pertama datang kesana." Len memperhatikan sekitarnya.

"iya, aku suka!" Miku terlihat senang.

Forest Gate terlihat seperti dunia sihir. Semuanya bertemakan ungu. Semua jalannya ditutupi oleh daun-daun berwarna ungu dengan beberapa bintang kuning kecil yang berhamburan di jalan begitu saja, membuat Forest Gate terlihat lebih indah daripada Snow Gate saat mereka pertama datang ke sana yang hanya di penuhi salju.

"kita tetap harus waspada di sini Miku. Ini tetap saja wilayahnya Wilfre." Ucap Len.

"iya. Ini sepertinya kita ada di wilayah GearWorks?" Miku melihat papan yang bertuliskan GearWorks.

"iya. Disini batang-batang pohonnya terlihat seperti mesin? Sesuai dengan nama tempat ini."

"waktu kita hanya 10 jam dari sekarang, Len! kita harus cepat-cepat menuju… MoonGrove!" Miku membaca peta yang ada disana.

"eh! Miku sini!" Len menarik Miku ke belakang sebuah pohon yang cukup besar untuk mereka sembunyi.

"k-kenapa?"

"sst! Ada yang datang!"

Len dan Miku masih bersembunyi di balik pohon. Mereka bisa mendengar ada yang datang ke situ.

"itu.. itu sama seperti makhluk ungu yang kita temukan di Snow Gate!" ucap Miku.

"iya. Hanya saja ini berwarna biru, dia mempunyai sehelai daun diatas kepalanya."

"eh! d-dia bisa terbang!" Miku kaget saat melihat makhluk biru itu terbang.

"ini.. seperti dunia sihir."

"hei! Siapa kalian! Apa yang kalian lakukan di dunia ini!"

"g-gawat!" ucap Miku.

Miku dan Len pun menoleh kebelakang, kearah suara. Betapa terkejutnya mereka saat mendapati bahwa yang tadi berbicara itu adalah pohon tempat sembunyi mereka itu.

"pohonnya bicara?" Len kaget.

"iya! Ini memang dunia sihir! Hampir semua yang di sini dikendalikan oleh Wilfre. Kecuali aku dan ada beberapa lainnya. Kalian ngapain disini? Kami tak mendengar ada izin kalian permisi masuk ke dunia kami." Tanya pohon itu dengan agak sinis.

'g-gawat! Kalau ketahuan ga ada izin begini.. jangan-jangan, kita ntar dikutuk!' pikir Len.

"mungkin.. kau tak mendengarnya?" Miku mencari akal.

"aku selalu mendengar seiap izin masuk ke dunia ini."

Gulp

"gimana ini Len?" bisik Miku pada Len. sedangkan Len hanya menggeleng saja.

"kalian harus keluar dari dunia ini! Kalian tak punya izin! Kalian boleh masuk tanpa izin kalau kalian ini penyihir! Apa kalian penyihir?"

"bukan. Kami hanya manusia biasa. Tapi tolong izinkan kami untuk menjelajah disini. Kami mencari lembar 'romance' yang di curi Wilfre." Ucap Miku.

"kalian musuh Wilfre ya..?"

-meanwhile-

"a-aku mau kesana! Aku ingin menolong mereka!" ucap Rin antusias.

"aku juga!" ucap Kaito.

"sebelum kalian ke Forest Gate itu, kalian harus ku mantrai dulu. Forest Gate ini lebih berat daripada Snow Gate. Kalian harus pintar-pintar nya menjawab setiap pertanyaan yang diajukan pada kalian saat disana. Kalian juga harus menjadi penyihir untuk menjelajahi Forest Gate." Jelas Cricket.

"loh? Kenapa gitu?"

"tenang saja, kalian hanya akan jadi penyihir sementara. Ini memang sudah harus. Forest Gate itu dunia sihir. Kalian tidak akan bertahan kalau kalian bukan penyihir." Cricket pun memantrai mereka. Seketika penampilan Kaito dan Rin pun langsung berubah. Mereka jadi mengenakan baju serba hitam, tapi tetap manis dan imut.

"kalian harus menyelesaikan ini secepat mungkin! Mantra ku tak akan bertahan lama. Dalam waktu 8 jam kedepan, kalian akan menjadi manusia biasa lagi. Jadi, cepat-cepatlah kembali sebelum kalian jadi manusia lagi."

"kami mengerti!"

"okay, open the forest gate! Biarkan mereka menjelajahimu, dunia kedua!" Cricket pun mengucapkan mantra itu dan Kaito Rin pun masuk ke dalamnya.

Sesampainya di ForestGate, sama halnya dengan Len dan Miku, Rin dan Kaito juga tercengang kagum melihat keindahan Forest Gate.

"ini.. bagus ya." Kaito tercengang.

"iya. Tapi kita harus cepat-cepat mencari Miku dan Len!" ucap Rin.

"oh ya. Ayo!"

Mereka pun mencari di tempat itu. Sudah ada 2 jam mencari tapi tetap saja hasilnya nihil.

"aku cape!" Rin jatuh terduduk di dekat sebuah pohon.

"aduh Rin ini gimana sih!"

"kita udah terbang selama 2 jam buat nyari mereka. Tapi tetep aja ga ketemu!"

"ini semua salah mu sih." Ucap Kaito.

"eh! kok aku?"

"kalau saja kamu menyadari perasaan Len, Len ga akan nekat buat masuk ke Forest Gate ini!"

"tapi ini juga salahmu! Kamu juga tak menyadari perasaan Miku, sehingga Miku nekat ke sini!"

Merekapun terdiam.

'Rin benar.. kalau saja aku bisa menyukai Miku, mungkin dia tak akan begini..' pikir Kaito.

'si baka benar.. kalau saja aku bisa menyadari perasaan Len lebih awal, mungkin jadinya tak akan begini..' pikir Rin.

"ya, ini salah ku. Maafkan aku." Ucap Rin.

"tidak. ini salahku. Aku yang minta maaf." Ucap Kaito.

"ini salah kita." Rin menatap Kaito penuh rasa bersalah.

"iya.. kau benar. Kalau saja aku bisa menyukai Miku.. mungkin Miku tak akan nekat ke dunia ini." Ucap Kaito.

"ya, kalau saja aku menyadari perasaan Len sejak awal, mungkin jadinya tak akan begini.."

Tiba-tiba terdengar suara teriakan,

"TOLOOOONG!"

"eh! itu seperti suara Len dan Miku! Ayo baKaito!" Rin pun terbang diikuti Kaito.

Sesampainya disana, Len dan Miku sedang hampir saja di kutuk oleh pohon yang bisa bicara itu.

"hentikan! Lepaskan teman-temanku!" Rin menembakkan sesuatu dari jari telunjuknya kearah dahan pohon yang melilit Miku dan Len. Miku dan Len pun tercengang.

"Rin? Kaito? Terbang?"

"kalian penyihir yang baru datang 2 jam lalu itu ya. Ini teman kalian?" tanya pohon itu.

"iya. Maafkan kami kalau mereka masuk tanpa izin. Tapi Cricket sudah mengizinkan mereka juga."

"baiklah kalau begitu, kalian boleh pergi." Ucap pohon itu yang kembali tertidur.

Rin dan Kaito pun turun di dekat Len dan Miku.

"ini Rin sama Kaito? Serius?" tanya Len ga percaya.

"iya. Kenapa memangnya?" tanya Rin.

"kalian bisa terbang? Ini.. baju yang kalian pakai ini seperti pakaian penyihir?" tanya Miku.

"aku dan Rin memang di jadikan penyihir sama Cricket. Untuk sementara saja. Soalnya nanti kita ga bisa bertahan di dunia ini kalau tidak jadi penyihir." Jelas Kaito.

"6 jam setelah ini, kami akan jadi manusia lagi. Makanya kita harus cepat-cepat keluar dari sini!" ucap Rin.

"iya. Aku mengerti. Maaf merepotkan kalian." Ucap Miku.

Mereka pun pergi menuju MoonGrove.

Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka berhenti karena melihat ada ngarai. Jarak untuk menyebrang sangat jauh.

"g-gimana ini? Kita ga bisa nyebrang." Ucap Miku.

"bisa." Rin pun memberi Miku dan Len sayap.

"aku manaaaa?" tanya Kaito.

"lu kan udah ada, baka."

Mereka pun terbang menyebrangi ngarai itu. Tiba-tiba ada sebuah angin kencang dengan kotak-kotak kecil berwarna ungu dan biru menghantam mereka.

"KYAAA—" mereka pun terbawa angin.

Setelah beberapa menit akhirnya mereka keluar dari angin itu. Dan terjatuh di dedaunan ungu dengan taburan bintang kuning seperti tadi.

"uhh.. pusing.." ucap Rin.

"k-kita dimana?" tanya Len.

"ini.. di MoonGrove!" Miku melihat papan yang ada disana.

"kita sampai~!" Kaito senang dan nari-nari sambil muter-muter gaje.

"hei. Apa yang kalian lakukan di sini?" ucap seseoramg.

Mereka semua menoleh ke arah suara dan mendapati makhluk seperti seekor kelinci putih. Berbadan bulat, tangan dan kaki pendek, terbang dengan kedua telinganya yang panjang.

"siapa kau?"

"aku.. mm.. tak penting, aku ini orang. Tapi aku terkutuk. Jadi bisakah kalian membantuku?" ucap kelinci itu.

"ya, bagaimana caranya?" tanya Miku.

"di MoonGrove ini, kalian akan di berikan pertanyaan oleh setiap makhluk yang ada disini. Satu saja salah, kalian akan terkutuk, dan tak bisa kembali. Itulah yang terjadi denganku. Kebetulan ada kalian, kalau aku bisa ikut dengan kalian, dan kalian bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar, aku bisa terbebas dari kutukan itu." Jelas kelinci imut itu.

"kau boleh ikut." Ucap Rin.

"benarkah? Yes! Terimakasih~"

Merekapun menjelajahi MoonGrove. Seperti yang dikatakan kelinci itu, mereka selalu di beri pertanyaan menjebak oleh setiap makhluk yang bertemu dengan mereka. Untunglah mereka bisa menjawabnya. Kebanyakan Miku yang selalu menjawab pertanyaannya, sedangkan Kaito belum menjawab sama sekali.

"jika W berbanding M, maka E berbanding apa?" tanya makhluk ke tiga yang bertemu mereka.

"aku! Aku mau jawab!" ucap Kaito.

"aku ga percaya sama jawabanmu, baKaito. Ini taruhannya nyawa." Ucap Rin.

"kalo Kaito mau jawab, sini aku bisikin jawabannya." Miku pun membisikkan sesuatu pada Kaito.

"masa itu sih jawabannya? Aku gamau ah~"

"hei, udah bagus di kasih tau malah ga mau. dasar baka." Ucap Len.

"ya udah Miku aja yang jawab." Ucap Rin.

"jika W berbanding M, maka E berbanding 3." Jawab Miku.

Mereka pun lolos dari pertanyaan ketiga itu, mereka berjalan lagi dan bertemu lagi dengan makhluk lainnya.

"A samadengan 4, 6 sama dengan G, maka B sama dengan?" ini pertanyaan ke empat.

"A sama dengan 4, 6 sama dengan G, maka B sama dengan 8." Jawab Miku.

Mereka pun lolos lagi dari pertanyaan ke empat itu, mereka berjalan lagi sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah jembatan.

"ayo kita harus nyebrang!" Kaito berlari manuju jembatan itu, tapi dia berhenti karena melihat makhluk yang menjaga jembatan itu.

"A ditambah B ditambah C dikurang akar D sama dengan LOLOS." Pertanyaan dari makhluk penjaga jembatan itu.

Mereka semua bingung.

"sepertinya kalau kita jawab pertanyaan ini, kita lolos ya?" tanya Rin.

"iya, ayo jawab~!" ucap kelinci itu.

Miku terlihat sedang berpikir, lalu,

"A itu bisa jadi jawaban pertanyaan kita yang pertama, terus B adalah jawaban pertanyaan kita yang kedua, begitu seterusnya dengan C dan D. berarti pertanyaan sebenarnya adalah 5 ditambah 6 ditambah 3 dikurangi akar 8 samadengan.. 10!" jawab Miku.

Makhluk itu pun menghilang, kini mereka bisa melewati jembatan itu.

"yeeai! Kita berhasil~" ucap Kaito senang saat melewati jembatan panjang itu.

"kita? Kau ga menjawab pertanyaan satu pun tadi, baka." Ejek Rin.

"biarin, wlee~ kamu juga Cuma jawab satu kan?"

"lebih baik daripada nol." Rin menjulurkan lidah pada Kaito.

Saat sampai di sebrang, kelinci itu bersinar, lalu berubah menjadi seorang gadis yang cantik dengan rambut bergelombang panjang berwarna cream dengan sedikit pelangi.

"waw.. aslinya kau cantik sekali ya." Ucap Rin dengan muka datar beda dengan Miku yang terkagum-kagum melihat kecantikannya.

"siapa nama mu?" tanya Miku.

"aku Mayu, salam kenal ya, dan terimakasih Miku, Rin, Kaito, dan Len." Mayu tersenyum manis pada mereka semua.

"ah bukan apa-apa kok hehe."

"oke, kita masih harus menuju Deathwood." Ucap Mayu.

"ini kita udah sampai di Deathwood kan?" ucap Kaito.

"heh? Kau bercanda!"

"tidak. ini ada papannya." Kaito menunjuk papan bertuliskan 'Deathwood is here, prepare to die!'.

"kita harus mencegah Wilfre yang akan membangkitkan Deathwood ini!" ucap Mayu.

"caranya?"

"kita harus mengambil lembar 'romance' yang di curinya itu! Ayo!" mereka pun pergi.

TBC~