The disappearance of -book of life-

.

Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari.

Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v

.

A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^

.

Don't like? Don't read!

.

Like? Review!

.

Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)

.

.

Chapter 18

.

.

Setelah mereka berjalan melewati Deathwood, akhirnya mereka pun sampai.

"berhenti!" Mayu mengajak yang lainnya untuk sembunyi di semak-semak.

"k-kenapa?"

"di depan itu, istananya Wilfre. Kalian bisa lihat kan?"

Kaito, Rin, Miku, dan Len terbengong-bengong. Masalahnya mereka tak melihat apapun disana.

"memangnya belum terlihat, ya?" tanya Mayu.

Mereka semua menggeleng.

"hei, kalian kan penyihir. Coba kalian tajamkan mata kalian itu." Perintah Mayu.

Sesuai ucapan Mayu, Kaito dan Rin pun melakukannya. Kini mereka bisa melihatnya.

"ah! iya benar! Di depan ada sebuah istana!" ucap Rin.

"kalo gitu, ayo masuk! Kelihatannya tak ada yang menjaga didepan." Ajak Kaito.

"oke, sepertinya memang tak ada yang jaga. Ayo ke sana pelan-pelan." Ajak Mayu.

"psst.. Mik," bisik Len pada Miku.

"apa?"

"emang ada ya istananya? Aku ga liat apa-apa deh."

"iya. Aku juga.."

Setelah berjalan hingga di depan gerbang,

"gimana cara masuknya? kita kan masih samar-samar lihat istananya." Tanya Rin.

"itu caranya." Mayu menunjuk ke sebuah papan yang bertuliskan 'mencari istana? Tak semudah itu. Jawablah pertanyaannya.'.

"lalu.. mana pertanyaannya?" tanya Len.

Miku mengamati papan itu. Di belakang papan ternyata ada secarik kertas.

"ini pertanyaannya!" Miku mengambil kertas itu.

Di kertas itu tertulis,

'ada sebuah kasus pembunuhan kepala sekolah di Inggris. tersangka dari kasus pembunuhan tersebut adalah Frida, dia bekerja di sekolah itu sebagai guru. Kedua, James, dia merupakan murid ternakal di sekolah itu. Ketiga, Ana, dia pegawai yang menentang peraturan di sekolah itu. Keempat, Yogi, petugas kebun di sekolah itu, dia bersumpah tak pernah melakukan kejahatan sekalipun. Di tempat pembunuhan, si detektif menemukan potongan-potongan kertas. Potongan-potongan itu setelah di satukan, ternyata bertuliskan, tolong buatkan TEH, perutku SAKIT. Buatkan dengan gelas milik NYA. Berdasarkan petunjuk itu, si detektif sudah mengetahui siapa pembunuhnya. Tahukah kalian, siapa pembunuh kepala sekolah itu?'

" 'tolong buatkan teh, perutku sakit. Buatkan dengan gelas miliknya'? itu petunjuknya?" tanya Len.

"iya. Ini petunjuknya.." ucap Miku.

"sepertinya, di petunjuk itu, ada kata-kata yang sengaja di tekankan. Perhatikan deh." Ucap Rin.

"iya, kenapa ada huruf besar dan huruf kecil?" tanya Kaito.

"mungkin sebenarnya, petunjuknya itu adalah TEH, SAKIT, dan NYA. Terus kata-kata itu di apain?" tanya Rin.

"iya, benar juga kau Rin. Petunjuknya itu sebenarnya kata-kata yang dituliskan dengan huruf besar." Ucap Len.

"sepertinya.. aku tau siapa pembunuhnya." Kata Miku yang sukses membuat mereka semua terkejut.

"siapa?"

"Frida."

"kenapa?"

"seperti katamu, Rin. Petunjuknya itu adalah TEH, SAKIT, dan NYA. Kasus ini terjadi di Inggris kan? Bila kata-kata itu di rubah kedalam bahasa Inggris, menjadi TEA, ACHE, dan HER. Bila kata-kata itu di satukan, menjadi TEACHER. Maka pembunuhnya adalah si guru, Frida." Jelas Miku.

"Miku pintaaaaar!" puji Kaito.

Sedangkan Miku hanya blushing.

Setelah Miku menyebutkan jawaban itu, istana itu langsung terlihat dengan jelas oleh mereka.

"waa.. ini ya istananya?" tanya Len.

"iya! Ayo ke sana! Waktu kita sedikit! Tinggal 2 jam lagi!" mereka pun masuk ke dalam istana itu.

Setelah di dalam sana, mereka di kejutkan oleh sepasukan shadows.

"hahaha. Ada yang berani-beraninya masuk ke dalam istana Wilfre-sama ya? Hahaha." Ejek salah satu shadow itu.

"hidup mereka, tinggal sebentar lagi. Jadi, nikmatilah dulu menghirup udara di sini. Hahaha." Ucap yang satunya lagi.

"siapapun yang ingin menggagalkan rencana Wilfre-sama, harus musnah!"

"g-gawaaat! Gimana ini? Mereka ingin melumat kita hidup-hidup?" Miku terlihat sangat panik.

"mereka banyak lagi… agak sulit kalau kita melawannya.." gumam Len.

"ga banyak-banyak amat kok, Len. Cuma ada… mm.. 48, 49, 50. Cuma 50 kok." Ucap Kaito yang habis menghitung jumlah pasukan itu.

"itu artinya banyak. 5 banding 50. Berarti 1 banding 10, baka."

"tak perlu khawatir! Kita pasti bisa mengalahkan mereka!" ucap Mayu sambil merubah wujudnya menjadi penyihir seperti Rin dan Kaito.

"hehehe. Kalian lupa ya kalo di sini ada 3 penyihir yang imut~" ucap Rin.

"t-tapi.. aku bagaimana? Aku tak bisa membantu apa-apa.. aku tak berguna.." Miku sedih.

Tring!

Rin menyihir Miku. Tak ada yang tahu apa yang barusan di berikan Rin pada Miku kecuali Rin.

"eh?" Miku kaget.

"kamu ga boleh ngomong gitu! Kamu itu berguna! Kalau tak ada kamu, mungkin kita sejak awal tak bisa keluar dari Snow Gate itu karena tak bisa menjawab pertanyaannya." Rin marah.

" … Rin.. apa yang kau lakukan tadi?" Miku bingung.

"bukan apa-apa. Percayalah! Kamu pasti bisa melakukannya! Aku yakin, kali ini kamu bisa mengalahkan shadow-shadow itu dengan tangan mu sendiri. Percayalah pada dirimu sendiri!" Rin menguatkan Miku.

Miku tersenyum lalu mengangguk mantap.

"enough chit-chat!(cukup basa-basinya) kalian menyerahlah, atau kalian akan rasakan kematian." Ucap salah satu shadow itu.

"kami.. menantang mu!" ucap Mayu dengan beraninya.

"wah.. berani ya rupanya? Oke, kalo gitu, serang!"

"dengarkan aku, aku punya rencana! Aku dan Len akan menangani 15 shadow itu. Sedangkan kalian sisanya! Kita harus menghemat energi kita! Kita tak tahu apa yang ada selanjutnya setelah ini!" ucap Miku. Sedangkan yang lainnya hanya mengangguk mengerti.

Pertarungan pun terjadi. Len dengan mudahnya menghabisi shadow-shadow itu. Sedangkan Miku juga berusaha melakukan yang sama seperti Len. Rin, Kaito, dan Mayu dengan santainya melawan mereka dengan sihirnya. Dalam beberapa menit mereka sudah bisa menghabisi puluhan Shadow. Anehnya, para shadow itu, seperti terus bertambah. Seperti mati satu, maka muncullah satu yang lainnya. Menyadari keadaan yang sebenarnya, Miku langsung memberitahukan mereka.

"semuanya! Ini jebakan!" teriak Miku.

"jebakan? Maksudmu?"

"Wilfre terus-terusan mengirim shadow-shadow ini untuk mengulur waktu kita! Sekarang waktu kita tinggal 1 jam lagi!" jelas Miku.

"gawat! Kita harus cepat-cepat kembali ke bumi! Kalau tidak, tamatlah riwayat kita, Kaitooo!" Rin mulai panik.

"iya, aku tau!"

"lalu, apa rencana mu?" tanya Mayu pada Miku.

"kita tinggalkan saja para shadow ini?" tanya Len.

"jangan. Kalau di tinggal. Nanti mereka akan tetap mengejar kita." Ucap Miku.

"lalu bagaimana? Kalau terus-terusan begini, waktu kita akan habis!" ucap Rin.

"biar aku yang menahan mereka semua disini! Kalian pergi saja!" ucap Mayu yang sukses membuat mereka semua kaget.

"t-tapi.. kamu kan sendirian?" Miku khawatir.

"tenang saja. Jangan khawatirkan aku. Aku ini penyihir, ingat?"

"tapi.."

"sudahlah. Kalian sendiri yang bilang kan? Kalau terus-terusan begini, kita akan kehabisan waktu. Tak ada cara lain selain membagi dua kelompok. Kalian pergilah! Rebut kertas itu dan selamatkan dunia!" ucap Mayu.

Mereka terdiam, tapi akhirnya mengangguk menurut.

"kami percaya pada mu, Mayu.."

Mereka pun pergi, masuk ke ruangan selanjutnya. Mereka terkejut saat mendapati banyak lorong di situ.

"ini gawat.. kalau kita tersesat, kita akan kehilangan banyak waktu.." ucap Miku.

"hey, baka. Kau kan penyihir, bisa ga kau lihat lorong mana yang benar?" tanya Len pada Kaito.

Kaito memejamkan matanya sebentar, lalu,

"yang ini! Ayo!" Kaito berlari masuk ke dalam salah satu lorong. Yang lainnya mengikuti.

"eh? bukannya yang itu ya?" tanya Rin.

Tapi yang lain sudah ikut Kaito, Rin mengikuti saja.

Sesampainya di ujung lorong, mereka terkejut lagi.

"i-ini kok jadi ada labirin?" tanya Miku.

"hey, baka. Kau lihat dengan benar tidak sih?" tanya Len.

"mm.. salah deh kayaknya.." ucap Kaito dengan polosnya.

"tuh kan. Kata aku juga yang itu. Si baka malah lari ke sini. Salah deh~" ucap Rin.

"huh.. kalo balik lagi makan waktu sepertinya. Kita lewati aja labirin ini." Usul Miku.

"iya! Aku yang pimpin ya!" Kaito semangat jalan di depan tapi Len menahannya.

"ngga. Kita ga mau tersesat lagi.."

"ya sudah. Rin saja yang kasih tau arahnya. Tapi aku yang jalan di depan ya!" Kaito masuk duluan ke labirin sempit itu.

"eh.. ya sudah.." Rin kemudian masuk disusul Len dan Miku.

"kemana nih, Rin? Ini jalannya bercabang dua. Ke kanan atau kiri?" tanya Kaito.

"mm.. kanan deh kayaknya?"

Mereka pun belok kanan. Tapi malah buntu.

"RIN! INI KOK BUNTU JALANNYA! Kamu salah ya?" Kaito kesel.

"ehehe.. maaf.. maklum baru jadi penyihir~" Rin hanya cengengesan.

Mereka pun berjalan mundur ke tempat semula dan berbelok ke kiri.

Setelah perjalanan panjang di labirin itu, sampai juga di sebuah ruangan dengan pintu besar yang tertutup.

"mungkin.. ini ruangan Wilfre?" Len melihat pintu besar itu.

"kalo gitu, ayo masuk!" Miku dengan semangat membuka pintu itu, tapi..

KLEK!

Sebuah kurungan besar jatuh dari atas ketika Miku menyentuh gagang pintunya. Sehingga Miku terkurung di situ.

"huweee! Lepaskan aku!" rengek Miku.

"Miku!"

"hahaha! Kalian hebat juga bisa sampai sejauh ini.." ucap seseorang.

"s-siapa itu!"

"ini aku.." orang itu pun muncul di belakang Rin, Len, dan Kaito.

"W-Wilfre..!" mereka semua kaget.

"hmhahahaa! Kalian masih mau menggagalkan rencanaku ya? Hm.. pick one(pilih satu).. rencanaku gagal tapi Miku mati atau rencana ku berhasil tapi Miku selamat? Yang mana hayoo?" tanya Wilfre.

Mereka terdiam. Ini pilihan sulit. Jika memilih Miku selamat, itu artinya mereka merelakan puluhan orang di dunia menderita. Tapi mereka juga tak mungkin memilih Miku mati. Miku sahabat mereka.

"grr.. lepaskan Miku!" Kaito menyerang Wilfre secara tiba-tiba dengan sihirnya.

Tapi Wilfre menghilang. Mereka semua kaget ketika mendapati Wilfre sudah ada di belakang Kaito.

"K-Kaito! Belakang mu!" Len berusaha memberi tahu Kaito tapi Wilfre menggunakan sihirnya untuk mengurung Len juga di dalam kurungan Miku.

Kini Kaito juga sudah di beri mantra oleh Wilfre agar tertidur.

Tinggallah Rin sendiri di situ.

"jadi? Pilih teman-teman mu atau menyelamatkan dunia?" tanya Wilfre pada Rin.

Rin terdiam.

'aku.. aku tak tahu.. aku tak bisa memilih!' pikir Rin.

"ops.. 15 menit waktumu terbuang, Rin~" ucap Wilfre.

'15 menit? Itu artinya.. tinggal 30 menit lagi aku bisa menjadi penyihir..' pikir Rin.

"jadi apa yang kau pilih?"

"aku… tak bisa memilih…"

"hahaha! Jawaban yang bagus, Rin! Kau harus melawan ku kalau kau ingin menyelamatkan mereka." Ucap Wilfre.

"eh? aku sendiri?"

"iya! Kita mulai sekarang!" Wilfre mulai menyerang.

Pertarungan sihir pun terjadi di sana.

Setelah sekitar 40 menit berlalu, Rin kelelahan.

"huff… huff.."

"kenapa? Cape ya? Hahaha. Nyerah ya?"

"aku… ga akan nyerah! Uhh.." Rin yang akan menyerang tiba-tiba terjatuh. Dia kelelahan.

"hmm.. cape ya? Sepertinya pertarungan ini selesai. HYAA!" saat Wilfre akan mengambil nyawa Rin, tiba-tiba ada sebuah serangan sihir yang membuat Wilfre terlempar jauh ke belakang.

"uh.. k-kau.."

"MENJAUH DARI RIN!" teriak Mayu yang baru saja menyerang Wilfre itu.

"M-Mayu.. haha.. k-kemana saja kau? Kami menunggu mu.." ucap Rin.

"hehe.. biasa. Seorang pahlawan datang terakhir kan?" Mayu tersenyum memperlihatkan sederet giginya.

"hehe.."

"kau! Berani-beraninya!" Wilfred an Mayu pun bertarung.

'waktu semakin habis.. kini tinggal 5 menit lagi aku menjadi penyihir.. sebaiknya aku manfaatkan ini untuk mencari lembar romance itu.' pikir Rin.

Rin mencari lembar itu dengan sihirnya.

3 menit..

Rin masih belum bisa menemukannya.

2 menit..

'bagaimana ini? Tinggal 2 menit! Berjuanglah Rin!" pikir Rin.

"gotcha! Ini dia!" saat Rin menemukan lembar romance itu, Len, Miku dan Kaito bebas. Dan Wilfre pun mati.

"syukurlah! Rin!" saat Miku ingin menghampiri Rin, pintu ruang itu tertutup, Rin terkunci di dalam.

"G-GAWAT! DUNIA INI AKAN HANCUR! KITA HARUS CEPAT-CEPAT KEMBALI KE BUMI!" Mayu panik.

"tapi Rin?" Len berusaha membuka pintu itu, tapi tak bisa.

Sementara Rin yang ada di dalam sana kebingungan.

"APAAAA? UNTUK MEMBUKA PINTU INI AKU HARUS MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA?" teriakan Rin terdengar sampai keluar.

"Rin! Berjuanglah! Kamu pasti bisa!" teriak Miku dari luar.

"AKU KAN GABISA MATEMATIKA!" Rin semakin panik.

"kamu pasti bisa Rin! Kamu tadi sudah memberikan ku sihir untuk percaya diri kan? Sekarang aku akan menyemangati mu!" ucap Miku.

'oke.. tenang Rin.. soal nya pasti mudah.. kau kan sudah belajar.. sekarang kita lihat soalnya..' Rin perlahan membuka matanya untuk melihat soalnya.

"UAPAAAAA!" teriakan Rin lagi-lagi terdengar sampai keluar.

"SOAL APAAN INI!"

"Rin berjuanglah!" Mayu memberi semangat.

"RIN! CEPATLAH! WAKTU KITA UNTUK MENJADI PENYIHIR TINGAL SATU MENIT LAGI!" teriak Kaito.

"apa soalnya Rin? Biar aku coba bantu. Dunia ini akan hancur! Kita harus cepat-cepat keluar!" Teriak Len dari luar.

"aku tak tau ini pelajar kelas berapa.." ucap Rin.

"coba dulu! Apa soalnya?" tanya Miku.

"bentuk paling sederhana dari 3x kuadrat dikurang 12x ditambah 9, per x kuadrat dikurang Sembilan? Gimana ini?" Rin kebingungan.

"astaga Rin.. itukan pelajaran kita.." Len sweatdrop.

"TAPI AKU GABISA!"

"C-CEPAT! ISTANA INI SUDAH MULAI ROBOH! KITA HARUS KELUAR SEKARANG!"

TBC~