The disappearance of -book of life-

.

Warning : maybe ooc, some typos, beberapa oc, beberapa bahasa sehari hari.

Disclaimer : vocaloid isn't mine :) ©crypton future media inc and Yamaha corp. but this story is MINE! DON'T YOU DARE TO 'BAJAK BAJAK' THIS! (apalah -.-) 'copy' maksud saya hehe -_-v

.

A/N : makasih buat para readers yang udah mau baca ^^ tanpa kalian, para readers, glori bukan apa apa :') *lebay. Keep reading and review please ^^

.

Don't like? Don't read!

.

Like? Review!

.

Udah baca tapi ga suka? Flame dengan sopan yah (emangnya ada ya flame yang sopan?)

.

.

Chapter 19

.

.

"coba dulu! Apa soalnya?" tanya Miku.

"bentuk paling sederhana dari 3x kuadrat dikurang 12x ditambah 9, per x kuadrat dikurang Sembilan? Gimana ini?" Rin kebingungan.

"astaga Rin.. itukan pelajaran kita.." Len sweatdrop.

"TAPI AKU GABISA!"

"C-CEPAT! ISTANA INI SUDAH MULAI ROBOH! KITA HARUS KELUAR SEKARANG!"

"tapi aku ga bisa pergi tanpa Rin!" ucap Len.

"eh.. Len?" Rin terkejut mendengarnya.

"tapi kita bisa mati kalau terus disini!"

"aku tak peduli! Aku akan disini! Aku ingin bersama Rin! Aku tak akan keluar kalau Rin tak keluar." Len tetap berdiri di depan pintu itu.

'L-Len.. ternyata itu benar ya..'

"iya! Aku juga tak akan pergi tanpa Rin." Ucap Kaito.

"Rin! Kita akan menyelamatkan mu!" teriak Miku dan Mayu.

"RIN! JAWABAN SOAL ITU ADALAH X DIKURANG SATU, PER X DI TAMBAH 3!" teriak Len.

Pintu itupun terbuka. Setelah pintu terbuka, tanpa basa-basi lagi mereka langsung keluar dari istana itu bersama Rin.

Tepat sebelum Kaito dan Rin berubah lagi menjadi manusia, mereka semua sudah menemukan jalan pulang dan kembali ke dunia.

"KYAAA!"

GUBRAK

BRUK

BRUK

Mereka jatuh bertumpuk-tumpukkan lagi saat sampai di rumah Cricket.

"KYAA! Kalian sudah pulang! YEEE!" Gumi memeluk mereka.

"hehehe.. kami berhasil.." Rin menunjukkan lembar 'romance' yang di pegangnya pad Cricket.

"kalian berhasil! Syukurlah!" Lui senang.

"…" Cricket terdiam.

"kenapa Cricket? Kami berhasil mencegah DeathWood untuk bangkit loh." Ucap Miku.

"… maafkan aku yah.. aku yang membuat kalian jadi susah begini.." ucap Cricket sambil menundukkan kepalanya.

"tak apa-apa kok. Kalau tidak begini, kita mungkin tak akan berpetualang seperti ini, mungkin kita sedang belajar untuk persiapan UN sekarang. Hahaha!" ucap Len.

"iya loh! Harusnya kita berterimakasih nih. Kita terbebas dari belajar yang membosankan itu hahaha." Rin tertawa.

Cricket tersenyum senang mengetahui mereka tak marah.

"terimakasih.."

-skip-

Setelah lembar itu kembali ke dalam book of life. Semua kembali seperti semula lagi. Hari-haripun berjalan seperti biasanya lagi. Membosankan. Tapi beberapa hari lalu berbeda, setelah mereka lulus UN SMP, mereka mengikuti testing masuk ke SMA pilihan mereka. Menegangkan. Hari ini, pengumuman penerimaan siswa di SMA itu.

'yang lainnya mana ya?' Miku mencari Kaito, Rin dan Len.

"Miku!"

Merasa namanya di panggil, Miku pun menoleh ke arah suara.

"ah, Kaito. Yang lain mana?" tanya Miku.

"hehe.. itu tuh." Kaito menunjuk ke arah sebuah kerumunan di depan gerbang.

"astaga.. Len dan Rin sepertinya terjebak para fans di sana?"

"iya. Untung aku lolos! Hahaha!" Kaito tertawa.

"Kaito! Tega sekali kau meninggalkan kami begitu!" Len dan Rin akhirnya lolos dari kerumunan fans mereka itu.

"hehehe.. daripada aku ikut-ikutan terjebak. wlee~" Kaito menjulurkan lidahnya pada Len.

"ga setia kawan, huh." Rin menggembungkan pipinya.

"hihihi! Rin imut deh kalo udah gitu. Haha!" Miku mencubit pipi Rin yang langsung dibalas glare dari Rin.

"tes kemarin susah ya! Aku agak kesulitan loh di IPA." Len curcol.

"aku gabisa MAT sama IPA nya!" Rin ikut curcol.

"aku agak susah di IPS nya. TIK nya juga. IPA sama INGG juga susah. Apalagi MAT nya." Kaito curcol juga.

"…. semuanya aja." Ucap Rin sambil membentuk muka (-_-)

"aku sih biasa-biasa aja." Ucap Miku yang terlihat tak ada kesulitan sama sekali.

"Miku pintar sih." Ucap Rin.

"jadi, udah ada pengumumannya belom?" tanya Len.

"oh ya! Nama anak-anak yang di terima ada di kertas itu. Kertas yang di tempel di papan pengumuman itu. Ayo kita lihat bareng-bareng!" ajak Miku.

Mereka pun mulai mencari nama mereka di halaman pertama. Tak perlu repot-repot mencari nama Hatsune Miku, namanya sudah ada di urutan pertama dengan nilai tes terbaik.

"waa~! Terimakasih Kami-sama!" teriak Miku senang.

"waa waa! Lihat! Lihat! Aku di urutan kelima!" teriak Rin senang.

"hah? Perasaan aku deh yang ke lima?" tanya Len.

"hah?" Rin kembali menge-cek nama siapa yang ada di urutan ke lima itu.

"oh iya.. itu Kagamine Len.." ucap Rin agak kecewa.

"jangan sedih, Rin. Kamu juga pasti ada kok." Len memberi semangat.

Halaman ke 5…

Halaman ke 6…

Halaman ke 7…

Ke 8…

Ke 9…

"ini namaku! Kagamine Rin! Urutan ke 299! Yeeai! Aku lolos! Aku masih bisa satu SMA sama kalian!" teriak Rin senang.

"tinggal Kaito.. ayo Kaito, kita cari lagi namamu."

Hingga di halaman ke 10, nama Shion Kaito masih belum di temukan.

"aku.. ga keterima ya.." Kaito sedih.

"ga! Kamu pasti keterima! Pasti ada yang terlewat! Aku cari lagi ya!" Rin kembali mencari di halaman ke 10.

"hei, jumlah murid yang keterima disini 320 kan? Kok disini Cuma ada 318?" tanya Miku heran.

"itu apa?" Len menunjuk ke satu kertas.

"i-ini.. nomer 320 Utatane Piko, nomer 319.. SHION KAITO!" teriak Miku senang.

"aku.. aku lolos? Aku masih bisa sama kalian? Syukurlaaah!" Kaito senang dan memeluk ketiga sahabatnya itu.

"kita akan terus bersama kan? Kita akan terus bersahabat kan? Berjanjilah.."

"janji~!"

Tiba-tiba kerumunan wartawan mengganggu waktu-waktu kebersamaan mereka itu.

"VOCALOIDDD~!"

"KYAA~! Minta infoo!"

Para wartawan itu langsung melempari mereka dengan pertanyaan-pertanyaan.

"apa benar band Vocaloid yang berpetualang menuju dunia lain untuk mengambil lembar-lembar yang hilang dari book of life?" tanya salah satu wartawan itu.

"kalian di terima sebagai siswa di SMA ini ya?" tanya wartawan yang lainnya.

"kami dengar kalian melakukan ini atas dasar persahabatan?"

"apa setelah ini band Vocaloid akan konser lagi?"

"apa Kaito-san masih baka?"

PLAK!

"wartawan kurang ajar.." gumam Kaito.

Setelah para wartawan puas dengan informasi yang di berikan para Vocaloid, mereka pun pergi. Setelah para wartawan itu pergi, datanglah berbondong-bondong para fans mereka.

"KYAAA~! VOCALOID~"

"MINTA TANDA TANGAN~!"

"KYAAA! FOTO DONG!"

"gawat!" ucap Kaito.

"KABUUURRR!" mereka pun berlari entah kemana yang penting menghilang dari kerumunan fans-fans mereka itu.

Tanpa di sadari, mereka terpisah saat berlari menghindari para fans itu.

Miku dan Kaito berhenti di taman sekolah dekat air mancur di pinggir sekolah.

"sepertinya mereka tak mengejar kita lagi.." Miku pun duduk di kursi taman yang sedang sepi itu.

"iya.." Kaito duduk di sebelah Miku.

'ah.. mumpung cuma berdua. Aku tanya sekarang aja ah.' pikir Kaito.

Mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama.

"um.. hei..? Miku?" panggil Kaito dengan agak canggung.

"ya?"

'kenapa Kaito secanggung ini ya? Biasanya suka asal ceplak-ceplak aja kalo ngomong.' Pikir Miku.

"um.. sebenernya aku mau nanya.."

"nanya apa?"

"akhir-akhir ini, setiap Kaito deket sama cewe itu.. Kaito suka merasa senang dan nyaman. Entah kenapa jantung ku jadi berdetak tak beraturan dan muka ku memanas saat di dekat cewe itu.. menurut Miku, aku kenapa ya?" tanya Kaito dengan penuh kebingungan.

"eh?"

'apa Kaito.. menyukai seseorang ya?' pikir Miku.

"itu.. tandanya Kaito menyukai gadis itu."

"eh? suka sama cewe itu?" Kaito bingung.

"iya. Kamu menyukai gadis itu bila kau merasa begitu saat bersamanya." Jelas Miku.

'oh jadi gini ya rasanya suka sama cewe..' pikir Kaito.

Kaito lalu mengambil tangan Miku dan meletakkannya di dada Kaito.

"eh!" Miku kaget, wajahnya langsung memerah.

"jantungku.. berdetak ga karuan lagi.. kau bisa merasakannya kan?" tanya Kaito sambil masih memegang tangan Miku di dadanya.

Dag dag dig dug dug dag

'ya ampun.. cepat sekali..' pikir Miku.

"rasanya sekarang.. aku senang dan nyaman sekali.." ucap Kaito sambil tersenyum.

'apa maksudnya Kaito..?' pikir Miku.

"rasa ini.. hanya aku rasakan bila aku di dekat Miku.."

"eh!"

"sepertinya aku menyukai Miku ya? Hehehe." Kaito cengengesan.

"K-Kaito.." muka Miku semakin memanas.

"aku suka Miku.. sepertinya akan sangat menyenangkan kalau Miku jadi milikku.."

"eh!"

'Kaito nembak aku..?' pikir Miku.

"a-aku… suka Kaito.. juga.." ucap Miku dengan muka yang memerah.

"he? Bener? Aku senaaang~" Kaito memeluk Miku.

Sementara itu, di halaman belakang sekolah di bawah pohon sakura.

"huff.. huff.. b-berenti Rin… aku cape.. rasanya mereka juga sudah tak mengejar kita.." Len terduduk di bawah pohon sakura itu.

"huh.. iya ya.. Miku dan Kaito mana?" Rin baru menyadari kalau Kaito dan Miku tak bersama mereka.

"entahlah.. kita istirahat saja dulu disini."

Len dan Rin pun duduk di bawah pohon sakura di halaman belakang sekolah yang sedang sepi itu.

Rin memperhatikan Len yang terlihat sangat cape setelah lari dari kerumunan fans tadi. Keringat yang membasahi wajah imut Len, hembusan angin yang menggerak-gerakan rambut Len, membuat Len terlihat semakin tampan.

'Len.. kalau dilihat-lihat.. dia ini imut juga ya..tampan.. kemana saja aku ini? Baru menyadari bahwa ada pangeran seimut ini di sampingku.' pikir Rin.

"hei? Rin? Kamu… ngeliatinnya biasa aja dong..?" muka Len memerah karena Rin ngeliatin Len sampe segitunya.

"uh.. maaf.. hehe.. habis Len terlalu tampan sih. Aku kena pesonanya deh." Rin keceplosan.

"hah?"

"e-eh! ng-ngga.." Rin memalingkan wajahnya yang merona itu.

Len kebingungan melihat tingkah Rin yang seperti itu.

"oh ya! Aku masih ada utang ke kamu." Ucap Rin.

"eh? utang apaan? Kapan kamu pinjem uang ke aku?" tanya Len.

"bukan utang uang."

"terus?"

"utang marahin lu! kenapa sih kau ini nekat sekali pergi ke Forest Gate itu!" Rin marah.

"eh.. ga apa-apa.. kan waktunya mepet.. aku takut kalo ga keburu.." Len takut.

"bisa kan menunggu sampai pagi? Tak perlu sampai membuat ku khawatir gitu dong!"

"apa? Kamu khawatir?"

"eh! ng-ngga. Aku ga bilang khawatirin kamu kok. Aku khawatirin Miku." Rin mengelak.

'hmph.. iya juga ya. Bodoh sekali aku mengira kalo Rin mengkhawatirkan aku.' Pikir Len.

"sebenarnya.. aku ke Forest Gate saat malam itu karena.. aku ingin membuktikan pada mu, kalau aku ini benar-benar menyukaimu." Ucap Len.

"eh?" Rin merasakan wajahnya sedikit memanas.

"aku ingin mengambil lembar romance itu saat itu juga karena aku khawatir kalau.. kalau nanti di pagi hari saat aku terbangun dari tidurku, aku sudah tak bisa menyukai Rin lagi. Aku ingin tetap menyukai Rin walau Rin tak membalas perasaanku. Entah kenapa, rasanya aku tulus menyukaimu.."

"L-Len.."

"aku tau kamu tak menyukai ku. Aku hanya ingin terus menyukaimu saja. Tak perlu pikirkan perasaanku Rin. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu memaksakan untuk menyukai ku. Asal Rin senang, aku juga senang.."

"…Len.."

"hehe.. setidaknya aku sudah membuktikan perasaanku pada mu. Aku senang kalau Rin sudah tau perasaanku ini. Mulai sekarang, anggap saja.. percakapan ini tak pernah terjadi, okay? Jalani hari seperti biasa lagi. Sampai jumpa." Len mulai melangkah pergi dari tempat itu.

Tiba-tiba Len berhenti melangkah karena ada yang menahannya.

"Rin.."

Rin memeluk Len dari belakang.

"jangan.. jangan pergi dulu. Aku.. belum mengatakan bagian ku.."

"apa yang mau kau katakan?"

"aku belum bilang kalau aku menyukai Len kan?"

"eh!"

"kenapa kau malah mau pergi? Aku belum bilang."

"k-kamu.. suka aku?"

"hehe.. ya, hanya itu saja yang mau ku katakan. Aku suka Len."

"kamu serius?"

"ya. Aku serius. Sekarang aku sudah mengatakan bagianku. Kau boleh pergi sekarang. Melupakan percakapan ini." Rin tersenyum jahil dan melepaskan pelukannya sambil mendorong Len pelan.

Len masih cengo di tempat tak bergerak sedikitpun.

"ayo. Tunggu apa lagi? Mau pergi kan? Ayo sana. Percakapan kita sudah selesai."

Len masih cengo.

"ayo sana pergi. Lupakan lah percakapan ini, seperti yang kau katakan tadi." Rin menggerak-gerakan kedua tangannya mengusir Len sambil tersenyum jail.

Bukannya pergi, Len malah memeluk Rin dengan erat.

"loh kok? Katanya mau pergi?" Rin mulai jail.

"aku… ga mau pergi. Aku mau di sini. Sama Rin."

"kenapa?"

"karena.. aku menyukai Rin. Rin juga menyukai ku…"

"katanya lupain aja percakapan yang tadi? Kok masih di inget-inget?" Rin mulai menjaili Len.

"aku ga bisa lupain percakapan ini, baka! Ini percakapan paling berarti buat ku! Aku tak akan bisa melupakannya!"

"hehehe~ pacar ku ini lucu sekali ya~" Rin balas memeluk Len.

Beberapa bulan kemudian~

Miku, Kaito, Rin, dan Len sedang berlibur di sebuah taman bermain.

"aww! Aku aku kan ga bisa kalau Matematikaaa!" Rin ngomel-ngomel.

"ahaha! Ternyata aku masih pintar ya? Hahaha." Miku tertawa.

"hehe.. pacar ku itu cantik dan pintar sekali ya~" ucap Kaito.

"pacarku juga imut dan manis sekali~" ucap Len.

"hei~ sekarang aku udah Sembilan bulan loh~ ya kan Miku?" ucap Kaito senang pada mereka semua.

"iya~"

"APA? 9 BULAN? Bentar lagi keluar dong!" Rin kaget.

"apanya yang keluar?" tanya Len.

"bayinya."

GUBRAK

"ITU SIH 9 BULAN YANG HAMIL, RINNN! INI BEDA LAGI! INI 9 BULAN PACARAAAN!"

.

.

Tiada mutiara sebening cinta

Tiada sutra sehalus kasih sayang

Tiada embun sesuci ketulusan hati

Dan tiada hubungan seindah persahabatan

Sahabat bukan matematika yang dapat di hitung nilainya

Bukan ekonomi yang mengharapkan materi

Bukan PKN yang menuntut undang-undang

Tetapi sahabat adalah

sejarah yang dapat di kenang sepanjang masa

.

.

~THE END~

.

.

Special thanks to my game and all my readers! :D

Akhirnya beres juga

Maaf kalau ada salah.. di review boleh? saran agar bisa jadi lebih baik lagi..

Minta pendapatnya tentang FF ini ya? :)

~Terimakasih~