Chapter 2 – Run
Summary
Walau aku terus diam dan berhenti, yang lain akan terus berlari. aku tak ingin berhenti. Juga tak ingin tertinggal oleh dirimu yang takkan berhenti. Karena itu, Akaito, ajaklah aku berlari. Berlari bersamamu dalam kehangatan yang abadi.
Open Note
Yoroshiku onegai, readers-san. Zaito-kun wa koko ni! Aku diprotes tentang nama Akaito dan Luka yang nggak memakai nama asli mereka. Misal pertanyaan seperti ; "kenapa Akagi Tokumoto bisa jadi Akaito?" atau "Ryuko Tokumoto jadi Ryuka itu norak!". Tapi aku telanjur suka sama nama panggilan mereka. Lucu.~(= w =)~
Disclaimer
Vocaloid©YAMAHA
U . I©zaito-kurozaki
Dari kejauhan selalu kulihat dirimu yang berlari.
Meninggalkan diri ini sendiri.
Dan terkadang tubuh ini tertahan dan terhenti.
Lalu hati ini bertanya pada bayanganmu yang terus berlari.
"kenapa kau tak kembali kesini?"
Luka desu! Sekarang musim panas.
Dan menurut kalian apa yang terbayang begitu mendengar kata musim panas?
Es krim, semangka, pantai, baju renang, liburan? Itu memang terjadi di musim panas, tapi tak sekarang karena besok pagi, kami menghadapi kata yang terdiri dari 5 huruf. UJIAN.
Karena hal nista tersebutlah aku dan Akaito seharian belajar di rumah. Aku masih di dapur, beribet ria bersama spons dan sabun cuci piring. Akaito masih duduk tenang di meja makan, aku bisa melihat rambutnya yang kemerahan itu dari sini. Kadang kepalanya bergerak naik turun, kebingungan. Dan terkadang ia marah kepada dirinya sendiri. Tingkahnya itu sangat lucu…
"Hihihi" tanpa sadar tawaku lepas begitu saja. Akaito menoleh kearahku dan dengan pipi merona ia berkata, "kau ngetawain apa?" Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum kecil. Akaito kembali pada soal yang ia kerjakan. Selesai cuci piring, aku menghampirinya. Punggungnya membungkuk, ia mendekatkan kepalanya pada kertas soal. Memutar-mutar pensil mekaniknya beberapa kali. Aku duduk disampingnya dan melihat soal yang dia kerjakan.
"Itu pakai rumus cosinus…" kataku spontan begitu melihat kertas soal. Akaito menoleh kearahku dan kesal. Dia ngambek.
"Jangan bilang dong! Aku kan lagi nyoba ngerjain!" ujarnya kesal. Ia pun berjalan kearah ruang tamu dan duduk di sofa. Aku melihatnya sebentar, sedikit speechless. Lalu aku tertawa kecil lagi begitu melihat tingkahnya sama dengan yang tadi, menggaruk-garuk kepala dan memutar-mutar pensil. Sementara Akaito berkutat pada soal matematika bab trigonometri, logika matematika, tabel kebenaran, dan teman-teman serta keluarganya, aku mengambil buku biologi dan membaca dipteri, askatina fulika yang nama kerennya bekicot, ascaris lumbricoedes, annelida, taelina saginata, dan saudara sebangsa setanah airnya. Setelah membaca beberapa halaman, tiba-tiba sebuah tangan besar menyentuh pundakku.
"Ajarin aku yang ini…" kata Akaito tersipu malu sembari menepuk pundakku beberapa kali. Aku kembali tertawa kecil lalu menyindirnya, "kenapa nggak sekalian dari tadi?" Ia menatapku sebentar, berpikir. Lalu bibir pucat kemerahan itu bergerak. Mengeluarkan nada serius. Iris coklat tuanya focus pada satu titik, yaitu mataku. Kata-kata itu tertanam dalam dadaku. Sekali lagi kakakku mengeluarkan kata-kata penting dan sangat berpengaruh bagi hidupku.
"Kalau aku belum mencoba sampai akhir, nggak ada yang tahu batasku kan?"
Aku terdiam dan langsung mengalihkan pandanganku dari kakak. Menuliskan rumus cosines, rumus luas segitiga, dan 4 kuadran trigonometri. Lalu pergi cepat membawa buku biologi dan mengunci diri didalam kamarku. Langsung kubaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarku yang putih pucat dan menutup mataku perlahan. Lagi-lagi, pikiranku terbang.
Pergi ke masa lalu.
Hari itu, juga di musim panas. Saat itu kakak menggantikan pemain sepak bola untuk satu pertandingan.
Kakak menggantikan back yang bertugas menjaga bola agar tak mendekati gawang, alias pertahanan terakhir sebelum kiper. Saat itu pemain lawan ada yang menggiring bola melewatinya. Walau bolanya sudah hampir mendekati gawang, tapi kakak terus mengejarnya. Ia berlari dan berlari. Langkahnya panjang membelah lapangan. Tak henti-hentinya ia mengejarnya.
Walau pada akhirnya tim kakak kalah 2-1, tapi sampai detik terakhir sebelum peluit panjang berbunyi pun… ia tetap berlari.
Aku yang terduduk di pinggir lapangan tercengang. Membeku. Terheran. Saat pulang kutanyakan alasan pada Akaito. Ia menjawab dengan senyuman. Tertawa lepas. Dan berkata,
"Aku harus bisa mengejarnya. Berlari, hanya itu yang kutahu untuk memperjuangkannya. Paling tidak selama aku masih mampu menjejakkan kakiku di bumi, aku akan mencoba. Setidaknya bila tanganku masih bisa menjangkaunya, aku akan terus berusaha. Kalau terus melihat dan menjadi penonton, aku takkan menang. Jika aku terus tertunduk lesu dan diam di satu tempat saja…
Bukankah itu akan sangat membosankan?"
Saat itu aku tercengang mendengar kalimat panjang itu. Dan melihat punggung kakak dari belakang, terpaku. Melihat kakak yang terus saja berjalan ke depan, melewatiku. Sementara, kata-kata itu tertanam didalam hatiku. Mengisi memoriku.
.
Aku sangat sayang pada kakak. Tapi terkadang ada satu sisi darinya yang tak kutahui. Sisi yang dingin dan penuh kebecian. Aku ingat dulu sekali kakak pernah bercerita padaku. Tentang topeng yang dikenakan manusia. Aku ingat sekali saat itu umurku masih 10 tahun dan kakak 12 tahun. Aku masih sangat polos. Dulu terkadang kalau tak bisa tidur aku pindah ke kamar kakak dan memintanya menceritakan sesuatu untukku.
Jam 12 tengah malam, aku berjalan pelan menuju kamar kakak yang ada tepat disebelah kamarku. Masih memakai piyama. Kuketuk pintu kamar kakak yang beberapa minggu lalu baru saja di plitur. Kakak membuka pintu dengan tampangnya yang datar.
"Lagi?" Tanyanya.
"Hehehe…" aku tertawa kecil sembari masuk ke kamar kakak. Dia melengus dan duduk diatas kursi. Sementara aku tiduran di tempat tidurnya. Kakak menatapku dengan tatapan kosong. Kedua irisnya tak jelas menatap kemana. Lalu ia mendekatiku.
"Luka…" katanya pelan. "Kau tahu tentang topeng yang dikenakan manusia?" lanjutnya bertanya. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Manusia punya banyak sekali topeng, kau tahu? Kadang ia bisa jadi sangat baik tapi kadang juga bisa jadi sangat jahat. Bisa berubah 180 derajat. Kadang pura-pura baik, kadang sangat jahat. Begitulah manusia…" kata kakakku sambil membuka-buka buku sejarah dan buku biologi. Wajah dan gerak bibirnya saang mengatakan hal itu membekas. Dibawah balutan sinar lampu belajar yang terang. Dibelakangnya ada dinding pucat putih krem. Dan yang kuingat iris matanya tiba-tiba berubah kelam. Saat itu aku cemas dan spontan bertanya.
"Apa kakak juga mengenakan topengmu sekarang?"
Ia tercengang. Sedikit terguncang. Kaget, hanya itu yang bisa kujabarkan sekarang. Lalu ia menatapku dengan wajah datar. Mengalihkan pandangannya lagi, menghilang. Sekarang kepalanya mengadah ke langit-langit kamar. Lalu mulutnya kembali bergerak perlahan.
"Mungkin jika bersamamu aku bisa jadi diriku…"
Aku masih meringkuk. Bernostalgia dengan kenangan lama. Teringat akan hal itu, aku ingin bertanya pada diriku, "apa aku pun sedang memakainya sekarang?" kututup mataku perlahan. Ingin jatuh dalam kegelapan. Tenggelam dalam kebohongan. Diam. Saat jiwa ini terus turun dan turun akankah kau kembali tuk menarikku kembali?
Tanpa sadar aku terlelap dalam mimpi.
.
'tok tok'
Suara itu membangunkanku. Seseorang mengetuk pintu kamarku. Itu pasti Akaito. Aku segera membukakan pintu agar Akaito tak berakhir dengan mengomel di kamarku. Aku buka pintunya malas-malasan.
'ckrek'
Dan ternyata yang ada didepan pintu bukan Akaito saja, dia dan Len Kagamine, sahabat kakak sejak kecil. Rupanya ia mampir kesini. Akaito dan Len menarik tanganku kearah ruang tamu. Aku terheran dengan tingkah laku mereka. Aneh, walaupun kakakku selalu absurd kalau bersamaku.
"Apa-apaan sih?" teriakku kesal. Mencoba melepaskan pegangan tangan mereka berdua. Tapi percuma, kalian juga tahu kakakku itu orangnya sekuat apa dan Len ini sering bantuin Akaito di dojo, jadi otomatis aku kalah kuat sama mereka.
Sampai di ruang tamu, aku kaget dengan suatu dekorasi yang disiapkan mereka sejak tadi. Ruang tamu yang biasanya hanya diisi sofa, meja kecil, dan rak buku, kini bertambah dengan balon dan dekorasi berwarna pink dan merah. Di sofa diikat balon berwarna biru muda. Ada poster besar bertuliskan "Otanjoubi Omedetou" dan diatas meja ada cake white choco dengan lilin berbentuk angka, 14. Umurku tahun ini. Tapi bukannya ultahku masih lusa.
"Happy birthday Luka!" teriak mereka berdua, kencang dank eras, memenuhi seluruh ruangan dan bergema disekitar tangga. Aku terheran dan bertanya, "bukannya masih lusa?" Akaito hanya tersenyum dan tertawa.
"Kita ujian kan? Jadi mending dirayain sekarang!" Len pun menyodorkan cakenya agar aku segera meniup lilinnya. Lalu ia memotongkan kue untukku dan kakakku. Kami bertiga tertawa lepas. Dalam kehangatan ini. Aku seperti melihat bayangan kakak yang tadinya berlari kencang meninggalkanku, dan kembali ke belakang. Lalu ia menarik tangan kecil ini. Membawaku berlari bersamanya.
Dasar bodoh… Kalau kau terlalu baik aku, aku jadi ingin menangis…
'Tes'
Hangat. Mengalir melewati pipiku. Perlahan, sedikit dan lama-kelamaan frekuensinya makin cepat. Terus saja menetes tak terhenti. Kakakku dan Len menatapku heran. Mereka panik dan mulai bertanya seperti "kau kenapa?" atau "kami salah?" Aku langsung menggelengkan kepala pada semua pertanyaan mereka. Mulutku bergerak spontan.
"Sial, aku terharu! Bodoh!" teriakku sambil menangis.
Kakak dan Len terdiam. Melihat satu sama lain. Dan mereka bersorak gembira. "Yay!" kata Len saat mengajak kakakku toast dengan secangkir es cola. Mereka sangat senang bisa mengadakan surprise party yang sukses.
.
Aku sering melihat kakak terus berlari. Sampai batasnya ia ketahui. Takkan berhenti. Ia sampai akhir mencoba segala cara yang ia ketahui. Aku yang terus menonton dari sini hanya bisa diam, terhenti.
Mungkin kakak dari dulu menyangka bahwa ia telah kudahului sejak lama. Tapi yang mendahuluiku sejak lama adalah kakak sendiri, dirinya. Dia baik, kuat, selalu berusaha. Walau sering dicap sebagai Yankee, manusia sisi kiri, dan lain-lain, tapi ia tak pernah diam di satu tempat yang sama.
Sekarang pun, kakak kembali menghiburku. Dia tersenyum hangat, selalu begitu. Tak tergantikan, keberadaannya sangat penting bagiku. Dan aku pun yakin semua orang disini berpikiran sama sepertiku.
Kalau kau akan berlari, ajaklah aku juga kesana.
Aku tak ingin ditinggal sendiri, karena aku tak mau berhenti di tempat yang sama.
Dan jika kau pergi, itu akan sangat menyakitkan.
Jadi ajaklah aku berlari, bersamamu dalam kehangatan.
hontou ni arigato
