U I
Free Talk
Zaito desu! Kembali menghiasi fandom Vocaloid dengan pairing yang aneh-aneh~XDD
Yey, Chap 3 dah datang~~~ perlu perjuangan untuk menulis fic ini, dan btw Rin muncul,…
.
.
.
lalu? = =
abaikan, Ya sudah, nikmati saja fic ini~ : 3
Vocaloid © Yamaha Corporation
U I © asakuro-zaito
Beta-Reader is Asakuro Yuuki
Disclaimer: Vocaloid punya YAMAHA, ceritanya punyaku
Title: U I
Character : Megurine Luka – Akaito Shion
Genre: Friendship - Hurt/Comfort
Warning: OOC, typo(s), gejeness, bahasa awur-awuran,
So don't Like Don't Read
Chapter 3 – Sun
Luka POV
Luka disini. Sekarang kami sedang liburan.
Aku dan Akaito akan pergi ke pantai dan bekerja di sebuah beach house selama musim panas! Kami naik kereta pagi ini, dan seperti biasa kakakku yang tekanan darahnya tinggi selalu selesai mengemasi barang lebih cepat.
"Luka!" terdengar suaranya memanggil namaku. Segera aku mempercepat langkahku dan membawa ranselku ke bawah. Tepat di depan tangga, Akaito berdiri membawa ranselnya. Memakai kaos lengan pendek dan celana selutut.
Kami pun meninggalkan rumah kami untuk sementara waktu. Tapi yang akan bekerja di pantai bukan hanya aku dan Akaito saja. Len, Rin Kawamine, teman sekelasku yang panggilan akrabnya Rin, dan Meito Sakine, sahabat baik kakakku yang baru pulang dari Amerika juga akan ikut.
Tiba di stasiun, Rin, Len, dan Meito sudah menunggu di sana. Mereka menunggu bersama, tapi Rin kelihatannya agak bad mood. Gawat, aku lupa kalau dia nggak suka ngomong sama cowok sendirian. Segera kusapa teman baikku itu.
"Rin! Maaf nunggu lama!" teriakku sembari memeluk tubuh mungilnya. Kugenggam tangan kecil gadis berambut blonde itu. Rin perlahan tersenyum dan memaafkanku.
"Hwah! Dasar Luka bodoh!" kata Rin dengan senyum simpul menghiasi wajahnya. Sementara Akaito, Len, dan Meito sedang bercanda di dekat pintu keberangkatan kereta, aku dan Rin duduk-duduk sambil mengobrol disamping rel.
Dan seiring berjalannya waktu, tak terasa kami sudah sampai ke beach house tempat kami akan bekerja. Pemilik beach house ini tak lain dan tak bukan adalah kakak Meito, Meiko Sakine.
Wanita berambut coklat yang ramah dan misterius. Kadang aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Matanya hitam kelam yang kadang menurutku sangat menyeramkan. Kulitnya putih pucat khas wanita jepang. Dan aku malu mengakuinya, tapi badannya bagus….
Meiko berdiri didepan beach house miliknya memakai apron. Dengan senyum licik yang khas darinya, ia menyambut kami. Akaito langsung mengobrol dengan wanita berumur 20 tahun itu.
"Mei-san, lama tak jumpa," sapa Akaito dengan senyum.
"Ah, Akai-kun, selama musim panas mohon bantuannya ya!" balas Meiko dengan senyum.
"Ahahaha, mohon bantuannya juga,"
"Tahun ini pun…"
"Tak apa"
"…." Situasi memanas. Mereka saling diam dan memicing kearah satu sama lain. Dan terlihat percikan-percikan api diantara mereka berdua, bila saja ini ada di dalam komik.
"Lu, Luka! Kenapa mereka?" tanya Rin ketakutan. Akaito dan Meiko memang rival musim panas. Di musim panas, beach house ini ramai pengunjung dan bagi Akaito dan Meiko ini adalah ajang kompetisi bagi mereka. Mereka berlomba menyajikan masakan paling cepat dan memuaskan. Walaupun biasanya aku yang selalu memasak di rumah, tapi Akaito sebenarnya lebih jago dariku.
Setelah sedikit basa-basi. Mulailah musim panas kami dengan bekerja habis-habisan. Dan dengan target yang ditetapkan Meiko, kami pun harus bekerja dengan serius demi makan malam dan jam bebas.
"Nee-chan! Minta 1 es serut sama kentang goreng!" kata seorang anak lelaki yang datang bersama ibunya. Langsung kuantar pesanan yang sudah dibuat oleh Meiko dan Akaito ke meja mereka. Tanpa kusadari aku menginjak sesuatu, nggak tepatnya aku terpeleset. Lantai ini sangat licin. aku…
Bisa kudengar seseorang berlari meninggalkan dapur. Cepat. Hampir kurang dari sedetik, ia menggapaiku. Kurasakan tangannya menahan punggungku dan menjaga agar pesanannya tak jatuh.
"A…Akaito…." bisikku lirih. Raut wajahnya terlihat lega, ia membawakan pesanan dan membantuku berdiri. Sekejab riuh tepuk tangan mengisi beach house ini, semua pengunjung terkesima dengan aksinya barusan.
"Luka!" kata Rin menghampiriku. "Kau nggak apa?" Lanjut Rin. Aku hanya menggeleng dan terus menatap punggung Akaito. Kulihat terus wajahnya yang berseri. Rin meninggalkanku setelah dipanggil Meiko ke dapur, dan kudengar suaranya lirih.
"Kau beruntung"
Dan kulihat dibalik wajahnya yang tegar, air mata itu kembali menyeruak keluar.
"Rin…."
"Owatta! Aku capek!" teriakku sembari menenggelamkan diri diatas futon. Rin pun ikut masuk kedalam futon. Ia melihat ke arahku.
"Luka, kamu beruntung ya!" katanya dengan senyum simpul.
"Eh?" aku kaget dengan perkataan Rin barusan. Rin menatapku lebih dalam, lalu menundukkan kepalanya.
"Kamu punya kakak yang baik." Kata-kata Rin terpotong sejenak. "Akaito, dia… selalu menjagamu…" Rin kembali tersenyum. Aku menatapnya heran. Tak lama kemudian ia menangis. Air matanya jatuh.
"Kau tahu Luka? Aku dulu punya kakak yang lebih tua 4 tahun dariku, ia sangat baik. Dan 6 bulan lalu orang sebaik dia bunuh diri karena tak tahan terus-terusan dituduh membunuh. Padahal kau tahu, tuduhan itu omong kosong, hanya karena ia yang pertama kali menemukan mayatnya…." Kata Rin sambil menutupi wajahnya dibalik selimut.
"Rin…" kataku sambil menenangkan tangisannya. Kejadian seperti itu pernah kumimpikan. Kakak yang selalu memaksakan diri untuk tersenyum selalu bersedih di belakangku. Aku takut apa jadinya kalau dia memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semua ini begitu saja.
Setelah Rin tertidur nyenyak, aku keluar menuju pantai. Kulihat jamku menunjukkan jam 2 pagi. Ah, kalau aku tidur sekarang besok pasti bangunnya telat…. Pikirku. Aku pun beranjak menuju tebing yang berada tak jauh dari sini. Kata Meiko itu tempat paling bagus untuk melihat matahari terbit.
Dari kejauhan, kulihat bayangan lelaki berdiri diatas tebing tersebut. Ia berdiri tepat di ujung tebing. Kudekati sosok itu dan ternyata benar, itu Akaito. Spontan aku tangkap tubuhnya.
"Jangan mati!" teriakku. Akaito menoleh kearahku. mengambil nafas panjang dan berteriak ditelingaku.
"Siapa yang mau mati! Bodoh!" teriaknya terpat kearah telingaku. "Ha, habis…" kataku kehabisan alasan untuk dikatakan. Akaito yang tadinya tersungkur sekarang kembali berdiri.
"Aku takkan mati, bodoh" katanya lagi melihat kedepan dan menarik kepalaku dalam pelukannya. Aku pun memeluknya erat. Tak ingin dirinya pergi. Dan lagi-lagi aku menangis dipelukannya.
"bodoh, jangan menangis"
Suara itu kembali dari dalam pikiranku. Bergemuruh.
To be continued
End Note
Readers!
Wah, dah updet ternyata ya( =w=)
Gimana? Abal kah?
Btw, karena aslinya saya penulis romance, friendship, hurt-comfort dan komedy, jadi yang paling kurang disini adalah ROMANCE!
Minta saran, enaknya Akaito dipair sama siapa, pakai tokoh yang udah ada ya^^
Misal Rin, Meiko, atau Luka
Ayo dipilih dipilih~~~/balang sepatu/
Ah, sudahlah, saya ingin bilang :
Review please, menerima segala jenis kritik dan saran, flamepun tak apa.
hontou ni arigatou.
