U I

Free Talk

Zaito wa itadaki dengan updetan fic ini~!

Chap ini ceritanya agak berat, semacam malesi… maaf kalo mungkin bakal mengecewakan readers…(_ _)*simpuh 90 derajat*

Btw, aku pingin membuat fic yang secara tersirat bisa sekalian menghapal pelajaran…('o' ) misalnya kayak : "kau tahu tan itu sama dengan sin/cos, semuanya hanya bertimbal balik…" atau "pesan ini diambil dari pemecahan termokimia"

….(maaf kalo nggak jelas)

Daripada aku nyepam banyak disini, aku mangkir aja dulu ( ._.)

Ya sudah, nikmati saja fic ini~ : 3

Vocaloid © Yamaha Corporation

U I © asakuro-zaito

Beta Reader = Asakuro Yuuki

Disclaimer: Vocaloid punya YAMAHA, ceritanya punyaku

Title: U I

Character : Megurine Luka – Akaito Shion

Genre: Hurt/Comfort – Angst

Warning: typo(s), alur cepat, gejeness, bahasa awur-awuran,

So don't Like Don't Read


Chapter 4 – A Sad Smile


Akaito's POV

"Jadi itu Wild Akaito?"

"Dia bukannya Yankee, kenapa masuk sekolah elit?"

"Hanya beruntung saat tes masuk kan? Nanti paling-paling juga nggak naik kelas"

Diamlah. Biarkan aku mencobanya. Kenapa tak seorang pun mengakuiku?

Tapi, walaupun sudah mendapatkan hasil yang bagus tetap saja….

"Ayah! Ini…"

"Oh, ba, bagus… … kau mengerjakannya sendiri kan?"

"…."

"Apa benar itu hasil ujiannya?"

"Halah, pasti dia nyontek"

Sampai akhirpun sama saja.

Manusia sisi kiri tetaplah manusia sisi kiri…

"!"

Kenapa?

Kenapa aku bermimpi seperti itu?

Badanku keringatan semua. Panas. Sesak. Benar-benar mimpi yang sangat buruk. Nafasku naik-turun. Aku bangun dari tempat tidur dan memegang leherku yang dingin. Terasa basah karena keringat. Kusibakkan poni yang menutupi mataku dan kulihat jarum jam masih menunjuk pukul 6 pagi. Sebaiknya aku mandi dulu, sekolah masih ada 1 jam lagi.

Ah..., Aku bangun terlalu pagi.

Kubuka pintu ofuro dan langsung masuk ke dalam bak. Air yang hangat ini menyegarkan. Panas. Semua masalah seakan menguap seiring naiknya uap yang hangat ke atas. Hilang bersama angin. Aku keluar dari bak dan menggosok badanku. Rasanya enak.

Akhir-akhir ini aku memang terlalu memaksakan diri.

Tak ingin berhenti karena tujuanku masih tergantung di atas sana. Diatas gelapnya langit, menjangkau matahari. Tapi kalau aku terbang terlalu jauh, matahari akan menghukumku dan menjatuhkanku kembali ke bumi. Seperti Icarus…..

"grek!" pintu ofuro dibuka, membuat lamunanku buyar. Dan satu lagi, orang di rumah ini selain aku, cuma ada adikku.

"Kak, aku pakai ofuro ya!" Benar saja itu suaranya. Dan dia melihat kesini. Aku segera masuk ke bak. Menyembunyikan diri, setidaknya agar bagian bawahku nggak keliatan. Wajah Luka langsung memerah, malu. Ia mematung di depan kamar mandi.

Dia masih freeze dengan wajahnya yang memerah. Sementara aku tetap meringkuk menenggelamkan diriku dan menatapnya. Karena Luka belum sadar dari alamnya, lebih baik aku memberinya sedikit 'hiburan'.

Aku pun berkata, "Hei, nak, mau lihat orang topless sampai kapan?" Wajah Luka memerah lagi. Ia lari terbirit-birit tanpa menutup pintu ofuro. Dasar ceroboh. Yang harusnya paling malu kan aku….

Aku membasuh badan lagi dan mengeringkan tubuhku yang basah dengan handuk. Dengan rambut basah, aku pun keluar dan kembali ke kamarku. Luka mengintip dari kamarnya, ia pun pergi masuk ke ofuro tanpa menyapaku. Ngambek. Lalu dia berteriak melampiaskan amarahnya padaku.

"Ada orang bodoh yang gak bilang-bilang kalau mau pakai ofuro padahal udah tahu pintunya gak bisa dikunci! AKAITO BAKA!"

Aku hanya mendengarkannya dan pura-pura tak tahu. Kalau aku membalasnya yang terjadi hanyalah perang mulut. Aku kembali ke kamarku dan mengeringkan rambutku. Membuat beberapa tetes air turun dan keluar. Kukalungkan handuk yang baru kupakai di leherku. Dan aku pun mulai menyiapkan seragam.


Libur musim panas sudah selesai dan tak terasa sekarang sudah musim gugur. Selama musim gugur, gakuran dan jaket hangat akan terus kupakai. Cuaca musim gugur itu tak terlalu bersahabat. Dingin.

Aku memakai seragam musim gugur dan segera mengemasi barang-barang. Kubuka jendela dan kulihat beberapa daun sudah mulai berguguran. Siluet merah tua yang menari perlahan di udara pagi yang dingin. Menerobos dari sela-sela dedaunan, cahaya menyinari. Angin masuk, datang dan pergi. Seiring berjalannya kehidupan, bumi pun berputar ditemani oleh bulan yang mengikutinya dari belakang. Selalu diperhatikan oleh seseorang.

Mengingat fakta tersebut kadang hatiku menciut. Berpikir negatif dan cenderung melihat ke belakang. Melihat jejak hitam dalam kehidupanku, kesalahanku. Dan di belakangnya bisa kulihat bayangan dan suara tawa seseorang, merendahkanku. Melihatku menderita dengan penuh kebahagiaan. Dan bila sudah begitu, hati ini selalu bertanya pada langit yang terus berlari.

"Apakah aku harus ada di dunia ini?"

Someone's POV

"Akaito, ayo berangkat" suara Luka membangunkan dirinya dari lamunannya. Akaito menoleh kaget dengan sigap ia membawa dirinya dan tasnya beranjak.

Akaito berjalan pelan, menatap adiknya dari belakang. Rambut Luka yang bergerak seiring langkahnya ia tatap dalam-dalam. Dalam iris merah kecoklatan itu terbayang sosok Luka. Dulu sekali saat umur mereka masih belia, rambut coklat-pink itu masih sebahu. Diikat dua. Dan dulu, adiknya berjalan menggandeng tangannya dari belakang.

Kini langkah gadis itu independen, ia mandiri. Rambutnya pun panjang terurai, menjadi lebih feminim. Berubah. Bermetamorfosis perlahan. Dan hati Akaito gundah karena hal itu.

Akaito tak ingin anak itu terlalu mandiri dan tak membutuhkan dirinya lagi. Kadang terasa sakit di dadanya, bila mengetahui satu-satunya orang yang sangat peduli padanya hanya bisa dihitung dengan hitungan jari.

Salah satunya adalah Luka. Akaito tahu bahwa orang pasti berubah, untuk merubah hitam ke putih atau sebaliknya itu seperti membalikkan telapak tangan. Berubah. Cepat. Dan dibenak Akaito terus terbayang waktu dimana Luka pergi mengkhianati dirinya. Membayangkan iris biru laut itu menatapnya penuh kebencian yang dingin.

'duk!'

Tanpa Akaito sadari, ia terbentur sesuatu. Adiknya berhenti berjalan dan berdiri di depannya. Akaito yang terjatuh mengadahkan kepalanya untuk menatap adiknya itu. Luka pun menundukkan kepalanya. Tangan Luka yang lentik itu mengadah, terbuka memanggil Akaito untuk meraihnya. Akaito diam dan berdiri sendiri. Ia kembali berjalan.

"Keras kepala, biarkan aku sekali-kali menolongmu!" ujar Luka kesal. Akaito tertawa pelan. Luka kembali merengut. Wajah kesal Luka yang kekanakan.

"Huh! Akaito bodoh!" Kata Luka lagi. Ia langsung menggenggam tangan kakaknya yang besar. Akaito memalingkan kepalanya. Melihat de javu, sesuatu yang pernah ia rasakan. Hampir sama tapi berbeda. Memori beberapa tahun silam yang terulang.

Ini posisi yang sama seperti saat Luka baru pertama kali masuk SD. Akaito berjalan di depan dan menggenggam tangan adik kecilnya yang ketakutan. Guguran sakura tergantikan oleh guguran daun maple. Jalan yang mereka tempuh dulu adalah jalan setapak kecil sekarang terganti oleh trotoar di pinggir jalan besar. Yang tak berubah adalah perasaan yang mereka rasakan.

Masih hangat. Terasa aman.

Mata Akaito terperanjat, tersadar. Lamunan Akaito tentang Luka yang pergi mengkhianatinya sirna seketika. Membuat hati lelaki berambut maroon itu kuat. Tegar. Perlahan senyum menghiasi wajah Akaito yang tadinya pucat. Sementara Luka tersenyum kecil sambil berjalan dibawah tuntunan kakaknya.

.

Akaito dan Luka sampai di sekolah mereka yang hanya berjarak 1 km dari rumah. Sekolah elit dengan pendidikan yang sangat baik, di sini menyontek adalah hal paling tabu. Pernah ada siswa yang dikeluarkan karena ketahuan menyontek. Kedisiplinan dan kejujuran adalah nomor satu di sini.

Gerbang sekolah itu tinggi, mencakup hampir seluruh sekolah, setinggi 1,5 m berwarna putih pucat. Pintu gerbang terletak di sisi selatan sekolah. Gerbangnya terdiri dari dua pilar marmer dan pintu gerbang kayu. Di depan gerbang ada beberapa murid berdiri, biasanya mereka menunggu teman atau semacamnya. Di sana ada Kagamine Len.

"Ah, Akaito!" teriak Len girang melihat Akaito. Ia langsung memeluk lelaki yang lebih tinggi beberapa senti darinya itu.

"Kenapa menunggu, tumben?" tanya Akaito heran melihat sahabat karibnya itu menunggunya di gerbang.

"Ah, ada berita buruk! Kau dan Luka! Aku dengar kalian dipanggil ke ruang kepsek!" Mendengar perkataan Len, Luka dan Akaito bergegas pergi masuk ke dalam. Mereka berlari sementara orang-orang yang melihat mereka langsung kaget dan memberi pandangan sinis. Semua yang munafik langsung mengalihkan pandangan dan pura-pura menyapa. Lalu yang terang-terangan langsung saja mencemooh mereka.

Itu semua tak dihiraukan. Tak digubris. Secuil pun.

Sampai di depan ruang kepsek, Luka bergegas ingin masuk. Tapi Akaito menghentikannya dan menyuruhnya mundur. Ia ketuk pelan pintu ruangan dan masuk bersama Luka. Semua suara dalam ruangan itu bergema. Langkah kaki mereka membangunkan ruangan sunyi itu. Pak kepala sekolah duduk di kursi bak direktur perusahaan besar, lagaknya sombong dan angkuh. Dikelilingi beberapa guru yang terlihat sangat senang dengan kedatangan mereka berdua, bak jagal yang hendak menyembelih korbannya, senang bukan main. Ruangan putih krem yang mewah itu makin riuh dengan suara para siswa yang mengintip dan mengobrol di luar.

Akaito dan Luka memberanikan diri untuk mendekat. Langkah mereka takut-takut. Sementara lutut mereka makin lemas saat berhadapan lebih dekat dengan pak kepsek. Hawa ruangan itu makin dibuat sesak. Sulit rasanya untuk bernafas. Pak kepsek membuka suara. Suaranya berat, menyesakkan, membuat semuanya berasa berat. Membuat nyali ciut. Bagai dewa yang turun, auranya menekan.

"Langsung saja, aku ingin menanyakan kalian tentang suatu kasus." Katanya sembari menyodorkan sebuah foto.

Foto itu ukuran 10 x 15 cm. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan foto itu. Berisi Akaito dan Luka yang sedang ujian kemarin. Luka dan Akaito terheran, memang ada yang salah dengan foto itu? pikir mereka. Pak kepsek kembali membuka suara.

"Kulihat nilai-nilai kalian hampir mirip. Kalian sama-sama remidi di mata pelajaran PKn, dan nilai-nilai kalian sisanya hampir 90-an semua. Aku tahu kalian kakak-beradik tapi dalam kasus ini bukankah kalian harusnya ta–"

"Tunggu! Maksud bapak kami mencontek?" Potong Akaito. Amarahnya naik-turun. Kesal.

"Ya. Jangan berbohong lagi. Ada banyak saksinya…" Lanjut Pak kepsek. Dada Akaito kembali naik-turun. Nafasnya tak teratur. Menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Ia menoleh kanan-kiri mencari pendusta sialan yang telah menjerumuskannya dan adiknya itu. Amarahnya hampir sampai ke ambang batas. Akaito menarik nafas untuk menenangkan diri. Ia pun mencoba mendesak pak kepsek.

"Siapa! Panggil orang yang mendusta itu!" Bentaknya kesal. Wali kelas Akaito memanggil beberapa siswa yang tak dikenal olehnya. Dua orang lelaki berambut cepak hitam dan lima gadis berambut panjang, ponytail, dan bob datang. Akaito menatap mereka dalam-dalam. Dan mencoba tenang. Menahan emosinya.

"Darimana kalian dapat bukti atau bukti apa yang kalian dapat?" tanya Akaito dengan nada datar tapi menekan.

"Kami melihat kalian bicara satu sama lain saat ujian" Jawab mereka serentak setelah melirik satu sama lain. "Lagian pasti kau memaksa adikmu, kan? Jadi yang bersalah cuma kamu kan?" Lanjut salah seorang siswa. Akaito tahu bapak kepsek percaya pada orang-orang ini dan kalau melanjutkan debat nggak berguna ini, takkan ada habisnya. Ia tahu sampai mati pun orang-orang disini sudah mencapnya sebagai pencontek, pembuat onar, dan sebagainya. Dengan nada datar, lagi, ia bicara.

"Aku tak mencontek. Akan kubuktikan dengan mengerjakan semua ujian, lagi, sendiri. Apakah bapak terima usul dariku?" dengan nada sesopan mungkin. Mereka berdiskusi sebentar, bingung dan ragu. Para guru yang sudah ok-ok saja langsung mengangguk. Pak kepsek pun meloloskan permintaan Akaito itu. Luka yang dari tadi gemetaran dan berkeringat dingin tak karuan, lega. Akaito menatap adiknya itu dan berkata dengan senyum lembut seorang kakak, "Yang dicurigai cuma aku, kau tak mungkin." Sembari pergi ke ruangan lain.

Sekilas itu terlihat seperti hiburan seorang kakak untuk adiknya, tapi bagi Luka, itu sama sekali bukan hiburan. Merasakan kebaikan kakaknya saat ia membuat kakaknya di ujung tanduk itu sangat menyakitkan. Ia merasa bersalah. Dan bersamaan dengan itu, Luka terperanjat dan teringat akan cerita kakaknya tentang hukum hitam-putih.

.

Saat itu usianya masih kelas 1 SD. Luka baru pertama kali masuk sekolah sangat takut dan minder. Lalu seusai sekolah, kakaknya menjemputnya yang sedang duduk sendirian di kelas. Ruangan itu hanya diisi oleh Luka seorang. Ia duduk di bangku paling pojok belakang. Akaito mendekati Luka dan duduk disampingnya. Ia bertanya pada Luka.

"Kenapa?" Tanya Akaito sambil membelai rambut Luka perlahan.

"Aku takut…." Kata Luka tertunduk lesu. Akaito mengangkat kepala Luka, diarahkan ke wajahnya.

"Luka anak yang baik, kamu sisi kanan!" Teriak Akaito dengan senyum, menghibur adiknya.

"Namanya hukum hitam-putih, kalau kita sekali menginjak kaki di sisi kanan, kita baik, kalau sekali di sisi kiri, kita jahat!" Jelas Akaito sembari berjalan keluar. Luka tak ingat raut muka kakaknya waktu mengatakan hal itu. Seingat Luka, orang tuanya tak terlalu memerdulikan Akaito sejak kecil. Jarang-jarang mereka menunjukkan rasa sayang atau kepedulian pada Akaito. Sementara Akaito sendiri dicap sebagai anak nakal karena dia pendiam dan introvert. Tanpa menyadari bahwa Akaito tempramental tapi dia nggak gampang marah.

Dan Luka sekilas melihat mata kakaknya berkaca-kaca. Kedua matanya sekilas bersinar terkena cahaya. Tapi wajahnya tak terlihat sedih, datar dan dingin. Luka yang saat itu cemas langsung mengenggam tangan kakaknya.

Air mata itu hilang bagai tak pernah ada. Dan senyum kakaknya kembali merekah. Senyum yang terlihat sedih, memilukan. Tapi tetap berbekas di hati Luka, senyum itu. Membuat rasa bersalahnya pada kakaknya makin besar dan besar.

Membuat hatinya makin kecil di hadapan kakak tercintanya. Luka ingin berarti bagi Akaito. Ia ingin membahagiakan Akaito, sama seperti cara Akaito membahagiakan Luka.

Genggaman tangan Luka makin erat. Dia menatap lantai marmer ruang kepala sekolah dengan tajam. Ingin sekali dia berteriak bahwa ia maupun kakaknya tak bekerjasama dalam ujian, tapi semua kata-kata tertelan kembali bersama kelenjar salivanya. Kembali masuk ke dalam tubuhnya.

Luka hanya diam menatap ke bawah. Seseorang menariknya. Dua buah tangan mendorongnya keluar. Membuat dirinya pergi dari tempat itu. Dan saat Luka membuka matanya, ia hanya mendengar sebuah suara pintu yang tertutup. Dan dibalik pintu itu, Akaito tersenyum kecil sama seperti dulu. Senyum yang memilukan itu kembali memenuhi pikirannya.

Kakinya lemas. Perasaan lega itu hilang dan tergantikan lagi dengan air mata. Seiring dirinya menangis, teringat saat kakaknya menyuruhnya untuk berhenti menangis. Mulut Luka bergerak memaki dirinya sendiri.

"Luka bodoh! Sudah kukatakan untuk berhenti menangis kan?"

To be continued

End Note

Readers!

…..sudahlah.

Aku hanya ingin bilang kalau aku lapar. Akhir-akhir ini aku kurang makan… aku pingin makan pie apple…./gak jelas/

Btw, besok aku ulangan kimia, UWAAA bagaimana ini! aku nggak bisa termokimia, seseorang tolong ajari aku!*nangis-nangis sambil garuk-garuk dinding*

Ehem, daripada aku gak jelas disini langsung aja…

Review please!~:3

hontou ni arigatou.