U I


Free Talk

Zaito wa itadaki dengan updetan fic ini~!

Ceritanya masih jadi satu sama chap 4, masih cerita satu hari itu. yah, satu hari aja udah segini panjang ya?

Daripada aku nyepam banyak disini, aku mangkir aja dulu ( ._.)

Ya sudah, nikmati saja fic ini~ : 3

Vocaloid © Yamaha Corporation

U I © asakuro-zaito

Disclaimer: Vocaloid punya YAMAHA, ceritanya punyaku

Title: U I

Character : Megurine Luka – Akaito Shion

Genre: Hurt/Comfort – Angst

Warning: typo(s), alur cepat, gejeness, bahasa awur-awuran,

So don't Like Don't Read


Chapter 5 – I'll

Luka berjalan lunglai. Menuju kelasnya. Masih terbayang senyum sedih milik kakaknya. Di mata Luka, semua orang menatapnya dengan pandangan kasihan adalah tatapan sinis yang merendahkannya.

Kepala Luka sakit. Terasa seperti seseorang mencekik lehernya sehingga otaknya kekurangan oksigen. Menyesakkan. Tubuhnya seperti terjebak dalam sebuah karung. Tak bisa bergerak bebas. Dan dibelakang tubuhnya, ada seorang tertawa

Perlahan, Luka mencoba berpikir dengan jernih. Mengingat kenangan Luka dengan kakaknya.

Musim panas 7 tahun lalu, ia ingat sekali saat Akaito mengajarkannya berenang di laut. Saat itu kedua orang tuanya pergi tugas keluar kota dan mereka pergi bersama kakak tetangga. Luka kecil menangis keras saat ayahnya yang sudah janji malah pergi tugas dinas.

Akaito pun mengajak Luka pergi ke laut. Padahal saat itu Akaito masih 9 atau 10 tahun sementara Luka masih 8 tahun. Mereka pergi dengan kereta berdua tanpa izin dari siapapun. Saat percobaan pertama Akaito dan Luka tertangkap basah oleh tetangga mereka. Akaito dan Luka dimarahi kakak tetangga yang selalu mengurusi mereka lebih dari orang tua mereka sendiri.

"Kalian ini sudah dilarang! Mana tak ada orang dewasa lagi!" kata perempuan itu pada Akaito dan Luka. Akaito yang geram pun menyalak kapada wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak perempuannya sendiri.

"Tak mau! Aku dan Luka ingin pergi!" Alis Akaito menyatu, membuktikan bahwa ia ingin sekali memenuhi keinginan adiknya. Perempuan tersebut berambut kuning panjang bernama Lily, seorang murid SMA yang tinggal sendiri tanpa orang tuanya. Lily melengus sedikit. Membuang beberapa karbon dioksida dari dalam tubuhnya.

"Sudah kubilang…" Lily kembali menatap Akaito yang keras kepala. Melihat kedua iris merah itu menyala dalam semangat. Lily terdiam sebentar, mengambil kunci motornya dan…

.

.

"Ah, Kalian yang memaksaku!" Katanya sembari mengeluarkan skuter. Luka yang tadinya tertunduk langsung mengangkat wajahnya tinggi menghadap Lily.

"Tapi jangan bilang siapa-siapa lho!" Ujar Lily sembari tertawa. Akaito dan Luka mengangguk dan berteriak keras.

"Iya!" Di bawah langit musim panas yang jernih. Suara ombak yang mengalun bagaikan lagu pengantar tidur, tenang dan nyaman. Terlihat wajah Akaito dan Lily yang tersenyum dihadapan Luka. Mereka terlihat sangat gembira. Luka pun mendekati mereka, berusaha mencuri dengar perkataan mereka.

"Eh? Kamu dijauhi di sekolah? Hehehe" kata Lily sembari tertawa kecil. Akaito tersulut dan memarahi Lily.

"Kenapa Lily-nee malah ketawa?" Lily mengelus kepala Akaito. Lily tersenyum halus, Akaito kembali terdiam dengan wajah cemberut.

"Akaito hanya perlu jadi diri sendiri. Pada dasarnya kamu anak yang baik kok!" Luka tersenyum kecil dan mendekati mereka. Akaito memalingkan kepalanya berusaha menyembunyikan raut wajahnya. Lily hanya tertawa menyambut Luka yang datang mendekat.

Saat itu semua terasa menyenangkan. Menghangatkan. Membawa kesadaran Luka makin jauh dan jauh dari raganya. Ingin ia kembali pada memori tersebut. Pergi dari sini dan kembali ke anak kecil yang tak tahu apa-apa.

.


"Luka!" Suara seseorang membangunkan Luka dari mimpi kecilnya. Itu Rin. Dan tanpa Luka sadari ia telah keluar dari lorong sekolah dan berada di dalam kelasnya. Luki-sensei yang berdiri didepannya pun terheran akan tingkahnya yang aneh. Luka pun membungkuk sedikit dan duduk di bangkunya.

Luka mengikuti pelajaran dengan lunglai. Tak ada hasrat sedikitpun setelah semua tekanan batin yang menimpanya. Beberapa teman sekelasnya berbisik dibelakang Luka. Dengan tatapan tajam, Luka memicing kearah mereka. Lalu Luka kembali fokus pada papan tulis yang membisu dihadapannya. Gerombolan penggossip itu kembali berbisik dibalik punggung Luka. Dan terdengar salah satu dari mereka berdiri dan berbicara dengan lantang.

"Heh! Luki-sensei! Kenapa pecontek itu masih ada di kelas ini?" Gadis berambut ikal itu tersenyum licik. Menunggu reaksi Luka. Tapi Luka hanya diam. Seakan tak mendengar apa-apa, ia pun bertanya pada sensei yang masih tercengang mendengar kata-kata siswi berambut ikal itu.

"Jadi sensei, hukum hess itu akhirnya bisa dicoret seperti ini ya?" gerombolan gadis penggossip itu marah. Menumpahkan kalimat yang membuat Luka tergerak. Kalimat ultimatum untuk memancing amarah Luka.

"Kau kira kami tak tahu kalau kakakmu mencontek sepanjang ujian?" Luka tergerak berjalan menuju bangku gadis-gadis itu dan menampar gadis berambut ikal itu hingga pipinya bengkak dan memerah. Luka memberikan pandangan penuh kebencian pada gadis-gadis tak tahu diri itu.

"Hey! Kalian! Aku tak tahu kalian punya bukti apa, tapi aku punya bukti yang lebih dari cukup untuk membuat kalian mengulang ujian seperti Akaito atau bahkan membuatkalian angkat kaki dari sekolah ini!" Kata Luka menunjukkan 10 disket, dan berlembar-lembar foto. Luka mengangkat semua foto tersebut dan melemparnya keatas. Ia berdecak sinis sembari menatap gadis berambut ikal tersebut, "Idiot…"

Puluhan bahkan hampir mencapai ratusan foto. Foto yang terlihat seperti potongan video. Terbang keatas. Dan tersapu ke berbagai tempat seiring bergeraknya lempengan pipih kipas angin. Membuat hujan buatan. Semua mata tercengang melihat foto-foto itu. Memenuhi ruangan kelas dengan kertas.

Banyak dari siswa kelas tertawa sinis, menertawakan gadis berambut ikal itu. Foto itu berisi gerombolan gadis-gadis penggosip yang terlihat menyelipkan buku catatan dibalik laci dan saling menukar soal dan jawaban mereka satu sama lain.

Sensei langsung menangkap gadis berambut ikal itu dan menarik kelima orang lainnya. Sensei tersenyum simpul kearah Luka. Itu mengingatkan Luka akan senyuman Lily padanya bertahun-tahun lalu. Memori berulang, eternity yang berbuah kenyataan.

"Aku tahu kakakmu sangatlah baik, Luka."

.


Setelah sensei izin pada para murid untuk meninggalkan mereka, anak kelas pun menghibur Luka. Seluruh kelas menyelamati Luka. Memeluk Luka, membuat Luka merasa lebih nyaman dan nyaman. Rin pun bertanya pada Luka ditengah sorak-sorai kalimat penyemangat yang diberikan anak-anak kelas.

"Kenapa tak lebih cepat kau ungkap?" Luka terdiam sebentar. Menjelaskan secara rinci apa yang terjadi saat itu. Saat itu adalah hari terakhir ujian. Luka lupa dan secara tak sengaja meninggalkan kamera video dalam keadaan hidup, kamera itu merekam semuanya….

"Kita harus lapor!" kata Luka. Tapi Akaito mencegahnya saat itu.

"Tidak, kita ingatkan mereka dulu, kita harus bicara pada mereka agar berubah…" Kata-kata itu sama halnya seperti memberikan Akaito kesempatan kedua untuk menjadi manusia sisi kanan. Akaito selalu percaya bawa manusia bisa dan akan berubah dan Luka selalu menanamkan hal itu dalam dirinya. Bahwa kesempatan itu tetap ada.

.

"Luka, maafkan kami" kata Piko, ketua kelas mereka. Luka hanya menatap Piko dan anak kelas yang terlihat merasa bersalah. "Kami tahu orang seperti Akaito nggak akan menyontek tapi kami malah diam saja…" Luka termenung sesaat. Tiba-tiba beberapa anak perempuan menangis.

"Aku, aku dulu menganggap Akaito sebagai yankee, tapi dia tetap menolongku dulu…"

"Akaito anak yang baik kok! Nggak mungkin dia maksa kamu!"

"Luka! Aku minta maaf… padahal aku tahu kalian cuma ngomongin rencana liburan saat itu…"

Kalimat-kalimat itu terulang. Memberi harapan seperti senyuman Lily yang hangat itu. Luka masih termenung dan terdiam.

Dan saat itu juga Luka lagi-lagi merasa bersalah. Semua sorak-sorai kebahagiaan yang harusnya ia bagi bersama kakaknya, malah ia nikmati sendiri.

"Akaito nggak bakal menyalahkan kalian kok!" Ujar Luka menahan air mata yang hampir terteteskan, bergegas pergi dari kelasnya dan menuju ruang kepala sekolah. Saat iris azurenya melihat pintu yang terbuka. Suara itu terdengar menggema. Membuat semua membisu. Pintu kayu itu terbuka, mengalunkan sebuah nada rendah.

'grek!'

Luka terdiam melihat wajah kakaknya yang sudah 4 jam mengerjakan ulang semua soal Bahasa, IPA, Matematika, dan Sejarah. Kebahagiaan Luka kembali surut setelah ia melihat kedua iris merah kecoklatan Akaito. Kedua iris itu memancarkan ketidakpastian, rasa pesimis, dan hal-hal negatif. Akaito terlihat sangat tak bersemangat. Kebencian dan ketidakpuasan bercampur menjadi satu.

Kakaknya keluar dari ruangan dan menarik dirinya pergi. Ia hanya diam dengan amarah yang tertahan. Sementara kerumunan murid yang melewati meraka hanya tertegun diam. Terlihat dari raut wajah Akaito bahwa hatinya sedang kusut.

"Kita pulang!" kata Akaito kesal.

"Hai, onii-chan…" jawab Luka spontan. Akaito terhenti sejenak, ia terkejut mendengar kata onii-chan keluar dari mulut adiknya. Akaito menatap adiknya dalam-dalam. Dan bertanya dalam hati tumben sekali Luka memanggilku onii-chan…

.


Ditengah koridor yang sunyi, langkah kaki Akaito terhenti. Iris merah itu terus menatap wajah Luka, mencoba mencari jawaban yang tersirat. Ia terperanjat dan kembali berjalan. Dan langkah Akaito terhenti kembali. Luka yang digandeng olehnya berhenti berjalan. Luka tertunduk dan mengangkat kepalanya perlahan.

"Apa sekali manusia sisi kiri selamanya akan jadi manusia sisi kiri?" Tanya Luka. Ia menggenggam erat tangan kakaknya. Koridor itu masih sunyi. Tak ada sedikitpun, secuilpun, kata atau suara. Akaito terdiam dan menjawab pertanyaan itu. memecahkan keheningan yang ada dengan sepatah kata. Diucapkan tanpa keraguan sedikitpun.

"tidak."

"Apa kita tak bisa berada disisi yang sama?" Tanya Luka lagi. Kali ini pipinya terlihat bercahaya. Cahaya terpantul ke air mata yang mengalir di pipinya, membuat kedua matanya berkaca-kaca. Sementara suasana koridor itu tetap sepi dan suram.

"Tidak, tidak akan."

"Selamanya aku adalah manusia sisi kiri dan kau pun selamanya manusia sisi kanan. Apapun yang kulakukan atau apapun yang kau lakukan takkan pernah merubah apapun. Kita ini hitam dan putih." Lanjut Akaito datar sembari menambah erat genggamannya. Luka memicingkan matanya sebentar. Mencoba melihat lebih jelas wajah Akaito. Terlihat tegar. Kak, apakah kau baik-baik saja? Tanya Luka dalam hati.

Mereka kembali berjalan. Langkah Luka terseret, berjalan pelan. Sementara Akaito hanya berjalan menatap ke depan. Raut wajahnya tak berubah meski terdengar suara tangisan adiknya yang terisak. Lalu suara Luka kembali memecah kesunyian itu.

"Aku akan membuktikan bahwa kakak bukanlah manusia sisi kiri… Kakak sudah didukung banyak orang! Lily-nee chan, Luki-sensei, Len, Rin, Meito, Meiko, Aku, anak sekelas. Semuanya mendukung kakak, bodoh! Karena itu kakak jangan pesimis..." Suaranya surut seiring hilangnya kesadaran dalam dirinya. Luka melemas dan kemudian ia jatuh tak sadarkan diri pelukan kakaknya.

Akaito POV

Luka jatuh pingsan.

Kulihat wajah adikku yang kelelahan. Ia pasti sudah menderita karena aku…

Kubopong adikku dan kubawanya pulang. Sementara kedua kaki ini terus berjalan, pikiranku terus bergejolak.

Saat dituduh, aku tak bisa menyalahkan siapapun. Aku sudah ter-label. Dan label itu terus mengekoriku dari ujung ke ujung. Tak bisa lepas. Sampai akhirpun sama saja. Manusia sisi kiri tetaplah manusia sisi kiri… Selamanya yang jahat akan jadi jahat dan yang baik memang selalu baik. Aku takkan pernah lupa hukum hitam putih ini.

.

Tapi

.

Kata-kata Luka membuatku sadar akan tekad lamaku. Untuk membuktikan pada semua orang bahwa label hanyalah label dan aku adalah aku. Untuk berpindah dari sisi kiri ke kanan. Demi adikku dan juga diriku sendiri. Agar semuanya berjalan sesuai keinginanku. Semuanya.

Keluar dari gedung itu. Menuju langit berawan yang sesekali menyala karena sinar matahari.

Kuangkat daguku tinggi. Menatap jelas ke langit. Cahaya matahari yang menyilaukan perlahan tertutup oleh awan hitam. Perlahan membuat semuanya hitam. Mengubah semua menjadi warna yang kelabu. Dan perlahan hujan turun. Tetes demi tetes berjatuhan. Mewarnai tanah dengan warna yang lebih gelap lagi. Yang tadinya putih jadi kelabu. Dan sekarang hitam pekat.

Meski semua menatap punggungku dengan tatapan tajam. Meski langit tak ingin melihatku dan hujan terus menggempur raga ini. Aku akan terus berjalan. Akan kubuktikan bahwa aku bisa lepas dari sebuah label.

Aku bisa melihat senyum terpantul dari genangan air itu. Senyum penuh semangat. Didalam gelapnya air yang tergenang.

Segeraku berlari pulang. Membawa dua tas dan tubuh Luka yang kubopong. Langkah ini terasa lebih ringan.

Tak apa, karena aku akan terus berjuang.

To be continued


End Note

Readers!

Wah, dah updet ternyata ya( =w=)

Gimana, gimana, ?

Apa puas? Kecewa?

Ah, puas-puasin aja ya*ditabokin* ah… I, iya maafin zaito…-_-;

Btw, aku lagi capek-capeknya sama yang namanya ngerjain tugas. Tugas ini itulah, menumpuk didaftar list to do ku…. CAPEK!

Ah, abaikan yang diatas.

saya ingin bilang : Review please, menerima segala jenis kritik dan saran.


hontou ni arigatou.