Setiap pertemuan akan menghasilkan perpisahan di akhir kisahnya, tak peduli siapa orangnya, tak terkecuali belahan jiwamu.

Di bawah gumpalan awan hitam, penghias kegelapan malam, keinginan untuk mengakhiri masa lajang muncul di tempat tak terduga. Penerangan minim dari lampu taman serta kesunyiaan pohon-pohon rindang di sekitarku, memacu degup jantungku. Keheningan di antara kau dan aku menciptakan suatu penyakit serius yang mereka namakan dengan cinta.

Seolah-olah Dewi Fortuna berpihak padaku, jalinan kasih kita terajut begitu saja. Berbagai jenis musim kau lewati bersamaku, hingga sebuah malapetaka melanda kisah kasih kita. Kali ini, Dewa Moros seakan-akan membalaskan dendamnya padaku, sebuah malapetaka mengharuskanmu merantau ke negeri seberang.

Bunga bermekaran indah di tempat kita pertama kali bertemu. Sinar terik mentari kian mempercantik pohon-pohon nan lebat, saksi awal cinta kita. Hamparan daun kering di musim favoritmu, memutarkan cuplikan kebersamaan kita dalam benakku. Hewan-hewan melakukan hibernasi panjangnya, mengingatkanku akan kebiasaan tidurmu. Musim silih berganti, kabar darimu tak kunjung jua berkicau, kesetiaan tetap kujunjung tinggi. Dan... di saat yang tercinta kembali ke kampung halamannya, yang dibawanya hanyalah harapan semu belaka.


-Third Person POV-

Krak. Hatinya hancur berkeping-keping, hati pria bugar berambut hitam pekat. Dampak retakannya sungguh luar biasa, meskipun tak kasat mata.

Pria itu mematung di depan pintu masuk cluster bertingkat dua, berukuran 8x18 milik kakak kandung kekasihnya. Kilauan matanya meredup, senyumnya menghilang ketika ia menjumpai peti kayu seukuran orang dewasa di tengah-tengah ruang tamu keluarga Lee, tanpa kehadiran orang yang selalu ditunggunya. Mulutnya ternganga, satu pikiran negatif menguasai batinnya. Menentang kata batinnya, ia berjalan pelan mendekati sumber pikiran negatifnya.

"Lix...?!" Pupil matanya membesar mendapati tubuh sang kekasih yang terbaring kaku di dalam peti tersebut. Telapak tangannya spontan menyibak lembut surai pirang kekasihnya.

Pucat pasi dan datar, dua kata itulah yang dapat menggambarkan kondisi wajah 'cahaya mataharinya'. Bibirnya membentuk lengkungan kecil, hasil riasan MUA profesional. Ia mengenakan setelan jas yang terdiri atas kemeja putih, dasi, celana panjang, jas, beserta sepatu formal berwarna hitam. Pakaian yang menandakan perubahan status hidupnya.

"Mustahil...! FELIIXXX!"

Jeritan pilunya memekakkan telingga dua anggota keluarga yang sedang berkabung. Pelupuk matanya tak sanggup membendung hujan yang sudah ditahannya sedaritadi, membiarkannya mengalir deras membasahi pipinya.

"Kumohon, Tuhan. Bangunkan aku. Beritahu aku bahwa kejadian ini cuma mimpi burukku semata." Tubuh tegapnya bergetar hebat, suaranya terdengar sangat parau. Keputusasaan ditunjukkannya terang-terangan. Penantiannya kini tak ada artinya lagi, hadiah kejutannya kini tak ada gunanya lagi.

"Kak Changbin, ini kenyataan." Dengan mata sembap, kakak ipar Felix mengusap pundak calon iparnya. "Felix-"

"By. Kurasa kita perlu memberikannya waktu untuk meluapkan segala emosinya." Kakak kandung Felix menuntun pasangan hidupnya ke ruangan lain supaya Changbin bisa menghabiskan waktu berdua terakhirnya bersama Felix.

Lanang berpipi tembem itu menuruti saran suaminya. Mereka meninggalkan Changbin sendirian terpuruk di sana.

"Lix. Lix. Felix!" serunya berulang kali, tak menghiraukan tenggorokannya yang kian terasa perih. Jarum jam terus bergerak maju, namun, ia masih betah terisak-isak di tempat yang sama.

Waktu bergulir dengan cepat, kurang lebih tiga jam telah berlalu. Arloji tuan rumah menunjukkan pukul tujuh malam, ia pun datang menegur kekasih adiknya, "Bin. Sudah saatnya Felix beristirahat."

Changbin menoleh ke arah pemilik suara. Sepasang matanya membengkak, didominasi warna merah akibat kebanyakan menangis. Kemejanya basah diguyur keringat bercampur air mata.

"Minho... bolehkah aku tidur di kamar Felix?" pintanya pelan.

"Tentu saja boleh. Besok kita pergi menemuinya di rumah duka." Minho mengizinkan teman lamanya buat menempati kamar adiknya.

Dielusnya sekali pucuk kepala kekasihnya sebelum ia beranjak ke kamar Felix. "... be happy. Farewell, my tiny chick."

Selepas ia mengucapkan salam perpisahannya pada Felix, Minho lekas mengantar peti mayat adiknya ke rumah duka terdekat.

Wangi bunga softener semerbak tercium oleh Changbin sesaat ia membuka pintu coklat dengan papan bertuliskan 'Yongbok's Room' di lantai dua. Mebel minimalis menghiasi ruangan bercat kuning madu, kamar Felix terlihat lebih luas dari ukuran aslinya. Barang-barang kecil terutama koleksi kaset game-nya tertata rapi, bahkan tidak berdebu sama sekali.

Sekotak cincin diletakkannya ke atas nakas di samping ranjang. Tanpa menekan saklar lampu maupun menyentuh remot AC, ia menduduki tepi single bed almarhum kekasihnya, tertunduk lesu, meratapi nasib mereka.

"Bin, Changbin."

Panggilannya begitu familiar. Changbin mendongakkan kepalanya, menatap sesosok pria berwujud transparan dibalut cahaya samar dari luar jendela.

Hembusan angin yang entah berasal dari mana menyikap surai pirang pria tersebut. Tak ketinggalan, seutas senyum bulan sabit senantiasa mendampingi pipi bulatnya. Sorot mata ramahnya tidak pernah berubah, menyihir Changbin agar tidak memutuskan kontak mata mereka.

"Fe- FeLix...?"

"Ya. Aku Felix. Lama tak bertemu, Bin." Makhluk astral menyerupai orang tercintanya melebarkan senyuman bulan sabitnya.

Tak ada prasangka ataupun kecurigaan, Changbin mengulurkan kedua tangannya, berniat mendekap erat hantu Felix. "Lix!"

Bruk. Wujudnya benar-benar transparan hingga membuat Changbin tersungkur ke lantai. Sembari berusaha bangkit berdiri, netranya menangkap kaki Felix yang tidak menapak tanah.

"Kau tak akan bisa menyentuhku. Aku sudah mati."

Changbin terdiam seribu bahasa, kepalanya berdenyut-denyut merangkai kejadian hari ini. Pertama, ia baru mengetahui kabar kematian Felix sore tadi. Kedua, dilihat dari kondisi jasadnya, Felix berpulang belum lama ini. Ketiga, Felix muncul di hadapannya dalam wujud hantu. Apa jangan-jangan ia mati dibunuh? Barangkali ia ingin meminta Changbin menemukan pembunuhnya?

"Ada penyesalan yang harus kutuntaskan. Aku membutuhkan bantuanmu," ungkap Felix, membuyarkan lamunannya.

"Lix, apa yang terjadi? Mengapa-"

"Maafkan aku, Bin. Kelak aku pasti menceritakan semuanya. Sekarang, tidurlah dulu."

Wuushh. Terpaan angin kencang mendorong tubuh atletisnya ke atas kasur. Senandung lagu yang dinyanyikan Felix seketika melelapkan Changbin. Ia lalu melenyapkan diri dibalik pusaran angin mini buatannya.

-TBC-


Author's Note

Hola! Thankies wankawan yang udah mampir, baca, bahkan kasih review di fanfic changlix pertamaku. Mohon maklum jika terdapat diksi yang aneh/gak nyambung cuz daku masih dalam tahap mempelajari gaya bahasanya #eh. So pasti, updatenya bakalan memakan waktu lama banget hahaha #kayakadayangbacaaja. Oke, abaikan curhatan tadi. Semoga kita semua sehat selalu dan cepat menemukan kebahagiannya masing-masing! Sampai jumpa entah kapan chapter selanjutnya menyapa, adios!