Aku akan melanjutkan kisahku di buku ini, buku yang diberikan oleh istriku tersayang ketika hari ulang tahunku yang ke lima puluh. Istriku sekarang sudah berusia dua puluh satu tahun dan kami juga akan memiliki satu orang anak untuk enam bulan ke depan.
Tiina Vainamoinen—bukan, ia adalah Tiina Oxenstierna. Bagian dari dalam diriku juga. Cinta sejatiku. Cinta terakhir yang jauh lebih berkesan di dalam hatiku yang selalu tertanam untuk saat ini hingga seterusnya. Satu-satunya wanita tegar setelah aku menyiksanya sedemikian rupa hingga ia nyaris diambang kematiannya dan hebatnya ia tetap mencintaiku hingga saat ini, tanpa peduli apa yang pernah kulakukan kepadanya. Ya Tuhan, aku tidak tahu mengapa ia masih bisa bertahan dan ap yang perah kulakukan hingga aku boleh memiliki Tiina dan mencintainya.
Sejujurnya, aku ragu apakah aku boleh melanjutkannya. Memutuskan untuk berhenti begitu saja di sini tanpa mengatakan semuanya. Kenyataannya adalah aku harus mengatakan semuanya pada Tiina.
Mungkin ia tidak bisa membaca tulisanku ini karena tulisan tanganku tidak begitu bagus—tapi, di dalam lubuk hatiku yang mendalam aku ingin Tiina membacanya dan mengerti betapa besar penyesalanku kepadanya.
Karena aku mencintai Tiina, tentu saja. Aku mencintainya lebih daripada nyawaku sendiri. Nyawaku rela kuberikan sebagai ganti dirinya yang terluka dan hancur.
Atas semua hal yang pernah kulakukan kepadanya. Berapa banyak tangisan dan jeritan yang ia keluarkan ketika aku menyiksanya habis-habisan . Rasa sakit yang ia alami ikut terasa padaku bagaikan ditusuk oleh beribu jarum.
Aku melihat Tiina yang sedang tertidur pulas di sofa karena menemaniku membuat rancangan sofa terbaru yang akan kujual ke pasaran bulan depan nanti. Seharusnya ia tidak perlu menungguku seperti itu. Masih ada anak di kandungannya—bukan, anak kami berdua yang harus dijaganya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi, dimana aku membunuh anakku sendiri untuk menutupi rasa benci yang kualami terhadap semua wanita yang ada. Lebih tepatnya, Tiina yang sejak awal aku bertemu gadis itu mengingatkanku pada seseorang.
Itu kenangan yang mengerikan dan dosa yang tak termaafkan yang harus kutanggung seumur hidupku. Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena pada akhirnya aku mencintai gadis yang pernah kusiksa. Kini aku merasa takut ia terluka lagi. Aku benci pada diriku sendiri yang tega berbuat begitu kejam padanya.
Tetapi aku tidak pernah merasa benci ataupun menyalahkan Tuhan. Aku bersyukur, Tiina berada di sisiku sekarang dan menerima apa adanya diriku yang hina ini.
Gadis itu terlelap dengan wajah penuh kebahagiaan dan itu merupakan wajah yang ingin kulihat sejak ia kabur dari rumah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika pada akhirnya ia membenciku seumur hidupnya dan ia benar-benar memilih pria lain sebagai pendamping hidupnya. Mungkin rasa hancur di hatiku saat ini tidak akan bisa sembuh untuk selamanya dan terus dihantui oleh dosa. Jauh melebihi apa yang kualami dulu.
Walaupun ia berhak melakukannya sebagai bentuk balas dendam. Tetapi ia sama sekali tidak melakukannya. Itu membuatku senang dan tidak mampu untuk membalas semua ketulusan yang ia berikan padaku.
Perasaanku terhadap Tiina seperti perasaan seorang ayah sekaligus seorang kekasih untuknya. Aku tidak tahu mana yang lebih dominan kumiliki sekarang, tetapi aku tahu aku sudah berubah sepenuhnya untuk menjalani kehidupan yang baru bersama Tiina dan calon anak-anakku kelak. Seandainya ia tahu bahwa aku menginginkan beberapa anak darinya dan melihatnya tumbuh besar walaupun itu semua tidak mungkin karena sepuluh dan dua puluh tahun lagi mungkin aku sudah tidak ada di dunia. Meninggalkan Tiina sendirian. Kemungkinan kedua yang sama mengerikannya seperti yang dulu.
"Ber," Tiina mendesah dalam tidurnya. "Anak kita mirip dengan kamu, Ber."
Tiina bermimpi akan anak kami berdua. Sejujurnya, aku belum tahu akan jadi seperti apa calon anak kami kelak. Apakah ia mirip denganku atau mirip dengan Tiina sendiri. Kuharap adalah perpaduan kami berdua, tetapi kalaupun tidak aku akan tetap menyayanginya dengan setulus hatiku. Aku menggendongnya ke kamar dan menidurkan Tiina di tempat tidur kami berdua. Sebelum aku kembali ke tempat kerjaku, aku menciumnya sebagai tanda kasih sayang mendalam untuknya.
Jag alskar dig, min fru. [1]
Innocent Vainamoinen and Heartless Oxenstierna
[Part of Innocent Vainamoinen and Other Stories]
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
Pairing: Su x femFin
Rate: M because of domestic violence, abuse, rape, AU. Sadistic Berwald for later chapters. Berwald POV for this chapter. Prologue. Sorry for the OOC-ness. Don't like don't read.
cras amet qui nunquam amavit; quique amavit, cras amet -May he love tomorrow who has never loved before; And may he who has loved, love tomorrow as well
Tiga tahun lalu, aku bertemu dengan Tiina Vainamoinen karena diperkenalkan oleh Matthias si kambing Denmark itu. Ya, begitulah aku menyebutnya karena ia tidak ubahnya sebagai pria kambing dengan rambut jabrik di usianya yang sudah semakin tua bangka. Gadis yang bernama Tiina ini memang menyusahkan, begitu pikiranku pada waktu itu. Orangtuanya baru saja meninggal akibat kecelakaan pesawat dan ditambah lagi tidak ada saudaranya yang mau mengasuh Tiina pada watu itu. Aku sendiri tidak mengerti mengapa Matthias menyerahkan Tiina kepadaku dan bukan orang lain atau orang terdekat Tiina. Bukankah ia tahu bahwa aku tidak bisa berhubungan dengan wanita apapun keadaannya.
Sepertinya memang ia susah diberitahu, tetap saja si kambing itu keras kepala bukan main. Berbagai alasan diberikan kepadaku agar aku mau mengasuh gadis itu. Aku benci mengatakannya, dulu aku memang sempat membenci Tiina Vainamoinen. Gadis itu membuatku kerepotan setengah mati.
Mempermainkan perasaanku yang sudah lama terkubur dan menyakitiku pelan-pelan tanpa rasa kasihan sedikitpun.
.
.
.
.
"Ayolah, kau asuh gadis ini," pinta Matthias dengan wajah memelas sambil menunjuk seorang gadis yang tampak lebih muda dari gadis seumurannya. Gadis itu berambut pendek dengan pita tipis di belakangnya. Ia lebih mirip gadis berusia tiga belas tahun dibandingkan gadis dewasa. Wajahnya tampak seperti gadis polos yang tidak berdosa. Bila digores sedikit, ia akan rusak.
Berwald menatap gadis yang bernama Tiina dari atas ke bawah, ada perasaan aneh yang menghinggapi di dalam hatinya. Perasaan yang ia sendiri sama sekali tidak ia mengerti tetapi ia pernah merasakan hal itu. Tetapi ia merasa bahwa ia tersiksa amat sangat, hatinya bagaikan tersayat.
Terutama setelah kematian Halldora.
"Hej, Beary!" panggil Matthias dan menepuk-nepuk wajah Berwald dengan keras. "Apa yang kau lamunkan?"
Berwald tersadar, bahwa bukan saatnya ia melamunkan aneh-aneh. Permasalahannya adalah ia malas mengurusi sesuatu yang bukan urusannya. Dalam hati Berwald menolak jika ia sampai harus mengasuh gadis itu. Masukkan saja ia di panti asuhan terdekat, begitu pikir Berwald. Untuk apa ia menghabiskan hidupnya untuk mengurusi sesuatu yang bukan urusannya. Persetan dengan anak ini!
"A—aku, Tiina Vainamoinen. Sa—salam kenal," ujar gadis itu gugup dan bersembunyi di belakang punggung Matthias, agak takut dengan perawakan Berwald yang tinggi besar ditambah dengan wajah seramnya. "Se—senang bertemu Anda, Mr. Oxenstierna."
Berwald mengacuhkan Tiina tanpa memandang gadis itu lagi. Gadis itu membuatnya merasa tidak nyaman dan tersiksa. Sekaligus membuatnya muak. Tidak tahu apa yang sebenarnya membuatnya seperti itu. Ia hanya bisa bersikap acuh tak acuh.
Ia tahu ia tidak boleh berbuat seperti itu, tetapi tetap saja Berwald merasa terganggu dengan kehadiran Tiina.
"Aku tidak bisa," jawab Berwald dingin. "Minta saja pada orang lain."
"Ayolah, Beary!" balas Matthias sambil menggengam tangan Berwald dengan nada berbisik agar Tiina tidak bisa mendengar perkataan Matthias. "Kau tahu kan, aku sudah punya anak dan istri. Istriku itu pencemburu dan jika Tiina bersamaku akan membuat masalah. Maksudku bukan Tiina yang bersalah tetapi tentu saja aku lebih mencintai istriku. Aku tahu kau kesepian, Beary. Oleh karena itu, aku menawarkan Tiina untuk tinggal denganmu. Siapa tahu Tiina bisa menemani masa tuamu. Jika beruntung, kau bisa menjadikannya istri."
Istri, yang benar saja. Sampai kapanpun Berwald tidak akan mencari istri. Ia lebih senang sebagai pria yang membujang seumur hidup karena baginya wanita adalah pengganggu kehidupan tenangnya. Lagipula, ia bukan pria pedo yang seenaknya mengambil wanita muda tanpa peduli berapa usianya. Ya Tuhan, sampai kapanpun ia tidak akan membiarkan Tiina tinggal bersamanya apalagi menjadikan Tiina sebagai istri.
"Titip saja di panti asuhan," jawabnya dingin tanpa perasaan kasihan, menatap Tiina tajam dan penuh rasa benci mendalam. "Aku juga tidak bisa. Banyak pekerjaan."
Matthias bingung harus bilang apa lagi pada Berwald. Pria di depannya benar-benar keras kepala dan menyebalkan. Memang bukan salah Matthias juga bila Berwald menolaknya. Perkataan Berwald memang ada benarnya. Tapi Matthias melakukan hal ini demi kebaikan Berwald sendiri, suka tidak suka.
"Bagaimana, Beary?" tanya Matthias sekali lagi untuk memastikan. "Mau mengambil Tiina sebagai anak asuhmu?"
Anak—aku tidak ingin memiliki anak, apalagi seorang istri. Aku tidak ingin berkeluarga seumur hidupku. Anakku cukup yang pernah hampir kumiliki bersamanya, bukan anak perempuan yang seperti anak-anak ini. Enyahlah dari hidupku, dasar pengganggu!
Tiina terdiam dan wajahnya terlihat sendu. Tampaknya gadis itu mengerti bahwa ia sama sekali tidak dianggap oleh siapapun termasuk pria Swedia berwajah seram tersebut. Perlahan ia berjalan melepaskan diri dan menjaga jarak dari Matthias dan Berwald.
"Oi!" panggil Matthias dan menarik tangan Tiina dengan erat. "Jangan kabur, Tiina. Tenanglah, pria ini akan mengasuhmu dengan baik dan aku berani jamin ia akan melakukannya."
Tiina memandang Matthias lalu ganti memandang Berwald dengan tatapan kosong seolah-olah tidak ada harapan lagi untuknya. Hatinya seperti teriris-iris dan terluka. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, ditolak atau kehilangan orang lain. "Maaf," begitu ucapnya. "Aku minta maaf."
Berwald dan Tiina saling berpandangan penuh arti. Mata Berwald terus memandang Tiina seolah-olah Tiina adalah gadis yang pernah hilang dari dalam kehidupannya sejak lama. Mengingatkannya pada cinta masa mudanya yang berakhir dengan tragis. Memang kasihan jika Berwald menolak mengasuh Tiina, tetapi jika ia membiarkan Tiina tinggal bersamanya, Berwald akan lebih tersiksa lagi. Tersiksa dalam arti yang lain.
Tetapi ia akan memilih jalan yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya. Ya, ia sudah memutuskan setelah berpikir beberapa menit. Bukan pilihan yang mudah sama sekali karena apapun yang Berwald akan pilih, keduanya mengandung resiko mendalam. Sekali ia salah memilih, ia tidak bisa menolak lagi dan terjerat olehnya untuk selamanya. Yang tersisa hanyalah penyesalan semata.
Ia harus memilih. Apapun yang ia pilih menentukan jalan hidupnya ke depan.
Ya atau tidak? Ya. Tidak. Ya. Tidak. Pilihan yang benar-benar sulit, teramat sangat.
Berwald memikirkan hal itu dalam waktu yang cukup lama. Ia akan mengasuh Tiina dan akan sedikit bermain dengan gadis muda itu. Gadis semacam Tiina tentu masih polos dan belum pernah mengenal pria sedikitpun. Tentu ia bisa memanfaatkan kesempatan ini sebagai bentuk balas dendam terhadapnya. Rencana yang licik sekaligus brilian, pikirnya penuh kebencian. Ini akan menjadi hal yang menarik dan penuh tantangan.
"Sudah, tidak apa-apa," Berwald berkata lagi dan memegang tangan Tiina dengan erat. "Aku akan mengasuhmu."
Kehidupan mereka berdua akan dimulai dari sini. Ya, ia siap. Sangat siap. Siap untuk memberi gadis Finlandia itu suatu pelajaran hidup yang sesungguhnya.
TBC
[1] I love you, my wife (Swedish)
A/N Maaf bagi yang bingung akan isi ceritanya, untuk dua chapter pertama alurnya memang seperti maju-mundur dan monolog. Tetapi untuk chapter selanjutnya akan berbentuk narasi (bukan monolog). Karena itulah, saya menaruh summary di chapter awal.
