Berwald terbangun di malam hari dengan keadaan sakit di bagian kepalanya. Belakangan ini ia terlalu banyak minum alkohol dengan jumlah yang melebihi takaran. Sesungguhnya ia bukan seorang peminum, bukan juga seorang pemabuk—hanya kadang-kadang ia meminumnya untuk melepas stress.
"Kau merasa kesepian, Berwald?"
Ilusi Halldora yang berbicara kepadanya sering muncul setiap ia habis minum. Tersenyum lembut kepadanya—yang tidak pernah gadis itu lakukan semasa hidup—memeluknya erat. Halldora dalam ilusinya sama sekali tidak berubah, masih sama seperti dulu dan yang membedakan adalah Halldora jauh lebih bahagia di alam yang lain, dibandingkan di tempat dimana ia dilahirkan.
Dulu Halldora memeluknya ketika ia tertidur lelap di ruang kerjanya, memberikan kenyamanan dan menceritakan impian yang ingin ia raih.
Sekarang itu hanya tinggal kenangan hampa.
Benar-benar menyedihkan dan tidak berguna.
Innocent Vainamoinen and Heartless Oxenstierna
[Part of Innocent Vainamoinen and Other Stories]
Disclaimer: Hidekaz Himaruya
Pairing: Su x femFin/Su x femNor
Rate: M because of domestic violence, abuse, rape, AU. Sadistic Berwald for later chapters. Berwald POV for this chapter. Prologue. Sorry for the OOC-ness. Don't like don't read.
"Age isn't how old you are but how old you feel."
― Gabriel García Márquez, Memories of My Melancholy Whores
Dua orang pria di atas empat puluh tahun duduk-duduk di bangku kayu buatan IKEA di sebuah kafe bergaya antik yang terletak di Kungsträdgården. Lakrits, snus, kopi dan berbagai macam kue yang ada di meja belum tersentuh oleh pemiliknya. Salah satu dari pria tersebut adalah pria Denmark yang sedang kebingungan dan terlihat dari wajahnya bahwa ia sedang syok akan sesuatu.
"Apa kau yakin bisa mengurusnya, Beary?" Matthias bertanya dengan nada agak dingin, memastikan ia tidak salah dengar bahwa Berwald akan merawat seorang perempuan muda untuk menjadi anaknya. Mendengar Berwald akan merawat Tiina merupakan sesuatu yang amat langka bagi Matthias karena ia tahu Berwald tidak pernah lagi berurusan dengan wanita setelah kematian kekasihnya, Halldora.
Berwald menarik nafasnya dengan pelan, menatap dalam-dalam mata musuh bebuyutannya yang membuat ia terseret ke masalah yang seharusnya tidak ia tanggung. Sudah lama sekali ia tidak berurusan dengan wanita manapun apalagi merasakan pesona mereka. Hidup di dalam kesendirian tanpa ada yang menemani.
"S'pertinya ya," jawab Berwald pendek, tidak ingin menjelaskan lebih lanjut lagi pada Matthias. Berpikir mengenai Tiina Vainamoinen sedikit membuat Berwald agak kesal. Seorang gadis dengan wajah bulat dan tubuh tidak proposional. Bisa dikatakan tidak ada yang menarik dari dalam diri gadis itu, menurut Berwald. Lagipula, ia tidak mungkin jatuh cinta kepada gadis Finlandia yang belum dewasa sama sekali.
Melihat Tiina sama saja melihat dirinya di masa lalu—sebelum ia kehilangan Halldora dan terjatuh ke lubang kenistaan yang menghancurkan seluruh hidupnya dari dalam. Tiina masih belum mengerti pahitnya suatu kehidupan. Berpikir seperti anak kecil yang belum tahu apa itu beban. Ia belum siap menerima Tiina ke dalam kehidupannya yang sekarang. Masih terbayang jelas akan cinta pertama, masa muda yang penuh gairah asmara yang tidak kunjung padam. Sebuah kenangan penuh dosa yang tidak terlukiskan.
Ia begitu mencintai Halldora hingga nyaris mati rasa. Wanita itu dingin dan kaku—sama seperti dirinya—tetapi masih memiliki sisi lembut yang tidak ia miliki. Ia sendiri ragu apakah ia bisa bersikap lembut terhadap orang terdekatnya.
Orang dengan gampang melupakan sang terkasih begitu meninggal. Dalam setahun, mereka dengan cepat menemukan penggantinya. Hingga saat ini Berwald tidak pernah bisa melakukannya dan karena itulah dulu ia sering bermain ke bar khusus gay untuk meluapkan semua kesedihannya di sana.
Seharusnya memang ia bisa lupa, tetapi semakin ia berkunjung ke tempat penuh dosa itu—
"Beary? Apa kamu baik-baik saja?"
—ia semakin tersiksa dan hidup dalam ilusinya bersama Halldora.
Musim panas adalah kenangan yang manis sekaligus yang terburuk. Memiliki dan kehilangan di saat bersamaan. Tepat musim panas ia kehilangan Halldora untuk selamanya dengan cara paling menyakitkan.
Wanita. Makhluk yang unik—lembut sekaligus licik seperti ular. Lembut di luar dan merasuki di dalam. Racun yang begitu manis bagi semua pria dan tidak ada yang bisa menolaknya. Pesona yang tidak bisa ditebak oleh pria.
Pesona yang membuat pria bertekuk lutut dan gila. Gila karena cinta.
"Tiina gadis yang manis," gumam Matthias setengah meracau dan tidak memberikan kesempatan bagi Berwald memotong ucapannya. "Kau akan menyukainya."
"T'dak akan pernah," jawabnya ketus tanpa memandang Matthias dan mengambil snus yang ada di sebuah piring kecil. Snus adalah bubuk tembakau yang dimasukkan ke dalam kantung-kantung kecil dan merupakan favorit Berwald. Ia membuka snus tersebut dan mengeluarkan isi bubuk tembakau tersebut ke gusinya.
Hidup adalah sebuah ironi dan ia yakin akan hal itu. Ironi menyedihkan.
—oo00oo—
Beberapa kilometer dari Kungsträdgården, seorang gadis dewasa muda duduk menatap langit-langit dari jendela kamarnya. Kamarnya yang sekarang bergaya minimalis dengan cat bewarna putih cerah. Rumah yang ia tinggali ini sama sekali tidak buruk, cukup besar baginya dan mungkin terlalu besar bagi Berwald sendiri. Lantai pertama adalah ruang tamu sederhana dengan perapian dan sofa bermotif klasik. Vas ada di tengah-tengah meja tetapi tidak ada yang menaruh bunga di sana, membuat Tiina berpikir apa Berwald bukan tipe orang yang menyukai bunga. Di sisi kiri ruang tamu terdapat satu kamar mandi yang luas dan di sisi kanan adalah sebuah dapur. Sedangkan di lantai dua terdapat ruang kerja, tiga buah kamar tidur dan satu kamar mandi kecil yang digunakan untuk buang air.
Matahari hari ini begitu terik hingga sakit yang dirasakannya begitu nyata di ulu hatinya. Ia masih dalam masa berkabung karena kehilangan pappa dan mamma tersayang. Berharap ini semua hanya mimpi buruk dan menyakinkan diri sendiri akan hal itu. Terbangun di tengah malam karena bermimpi buruk sekaligus merasakan bahwa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
Gadis itu akan diasuh oleh Berwald—seorang pembuat furnitur paruh baya dan masih lajang di usia yang akan mencapai kepala lima—untuk sementara waktu. Berwald adalah pria kaku dan menakutkan, ia tidak yakin apakah ia bisa tinggal bersama pria yang masih dihantui kenangan akan masa lalu. Banyak foto lama yang dipajang di ruang tamu, foto seorang wanita Norwegia yang cantik dan misterius. Wanita Norwegia yang tidak ia ketahui namanya dan Tiina hanya bisa menduga-duga kemana gerangan wanita itu sekarang. Mungkin saja wanita itu sudah menjadi istri pria lain, atau meninggal karena sakit.
Berwald tampak tidak menyukainya dan ia tidak tahu apa alasannya hingga ia bersikap seperti itu. Ia sudah bersikap sebaik mungkin dan memilih bungkam tetapi sudah dua hari Berwald pergi dari rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Moi, aku takut berada di sini. Tidak ada mamma dan pappa," gumamnya sedih dan menutupi wajahnya dengan bantal. Terduduk di tempat tidur dengan perasaan sedih yang melanda.
TBC
Author Notes: Lo siento! Aku benar-benar kena WB sampai enam bulan tidak pernah saya update fic ini. Terkesan membosankan fic ini? *lirik alur yang sepertinya masih jalan di tempat* sepertinya memang akan menjadi fic yang panjang sekali sih :P Thanks yang sudah review fic ini XD
Lakrits itu permen panjang khas Swedia, panjangnya bisa satu meter. Snus sudah kujelaskan tadi itu apa XD
