Terimakasih atas reviewnya. Buat; Onyx Stoic, Emogerlnot, sasuhina-caem, momoka, dan juga buat kertas biru. Salam kenal semuanya. Senang kalian bersedia mampir baca fanfiksi saya.

Maaf, jika OOC. Saya hanya menulis apa kata hati, dan sifat-sifat dari tokohnya saya tentukan sendiri, hanya charakternya saja yang pinjam :) Untuk masalah typo, saya usahakan meminimalisir.


Life

NARUTO © Kishimoto Masashi

Hurt/Comfort – Friendship

.

.

.


"Mengapa Gaara? Ah- maksudku kenapa Gaara bisa tahu kalau..."

"Selamat pagi, semuanya."

Dan seketika sepasang mata onyx itu membulat sempurna. Menatap tak percaya pada sosok yang berdiri tegap di depan kelas.

"Kenapa dia ada di sini?"

"Gaara memang hebat," Hinata bertumpu dagu. "bahkan dia dipercaya menggantikan Kakashi selama beliau pergi."

Whot? Jadi, selama itu pula si merah bata itu jadi dosen pengajarnya? Demi Justin! Sasuke yakin kalau ia bisa jadi pengajar yang seribu kali lebih baik dari pemuda Suna itu. Jangan pernah meragukan kejeniusan keturunan Uchiha.

"Perkenalkan, saya Akasuna no Gaara, asisten pengajar Kakashi-sensei. Tugas saya di sini menggantikan Guru Kakashi selama beliau pergi."

Bisik-bisik centil para mahasiswi haus belaian mulai membuat heboh suasana isi kelas. Coba bayangkan, jika mata pelajaran paling membosan di ajarkan oleh asisten dosen paling keren di kampus, tak ada lagi insiden tertidur atau online dalam kelas pastinya.

"Waw, Gaara! Sasuke, lihat! Itu Gaara," ujar Sai ngotot sambil menengok ke belakang. Yang diajak bicara hanya bertumpu dagu, malas. Sudah tahu, Sai. Tak usahlah kau ngotot begitu. Tapi entah, pada kenyataanya tak ada sekatapun yang terucap darinya.

"Sasuke! Hey, Sasuke! Kau tidak mendengarku?" Sai melambai kecil. "Gawat, bro! Ada Gaara."

Ck! Sasuke berdecak. What the hell? Meski tak diberi tahupun, Sasuke tahu, bodoh!

"Bro, itu Gaara! Gaara jadi pengajar!"

Oh, oke! Rasanya Sasuke mulai pening dengan ocehan sohibnya itu.
"Sssttt..." Tenten meletakkan telunjuk tangannya di bibir. "Diamlah, hargai Gaara. Bagaimanapun, dia tetap pengganti dosen kita."

Sai menatap Tenten tak suka. "Kau sendiri juga berisik."

"Baiklah! Kita mulai saja mata kuliah hari ini."

Dan kelas yang didominasi perempuan itu hening seketika. Mendengarkan dengan seksama. Tapi entah apa yang ada dalam benak mereka masing-masing, hentailisme, mesumilisme, atau mungkin juga cabulisme, hanya mereka sendiri yang tahu. Sasuke yakin ia tak salah lihat ketika melihat senyum penuh arti mengembang di bibir Hinata. Hey? Apa maksudnya senyum itu?

"Ah, aku tak percaya ini, Sai! Bayangkan, mendengar namanya disebut saja aku sudah muak! Apalagi harus bertemu dengannya hampir tiap hari. Oh, shit! Mengapa harus Gaara yang jadi asisten Kakashi-sensei? Katakan padaku, dan aku akan suka rela menjadi asistennya tanpa honor sekalipun." Sasuke mengakhiri gerutuannya dengan menyesap jus tomat favoritnya. Sai hanya menumpu dagu. "Haaaah," hanya itu responnya.

"Apa yang harus kulakukan? Jika kuperhatikan, Hinata begitu kagum padanya."

Dan lagi-lagi respon yang sama ia dengar. "Haaaaaah."

"Sai! Mengapa kau hanya- oh, hey! Ternyata dari tadi kau melihat paha ber-rok mini? Pantas kau lebih tenang dari biasanya."

"Sasuke, lihat! Aku paling suka yang warna pink." Sai tersenyum super innocent, sedangkan Sasuke sekuat tenaga menahan tampang datar di wajahnya.

"Lupakan, Sai! Kau belum cukup umur. Kau bisa sawanan." Sasuke kembali menyesap jus tomatnya.

"Sawan?" Sai memiringkan kepalanya. "Hey, kau kira aku balita? Tahun ini aku genap 21 tahun."

"Seperti biasanya! Tiap hari kau selalu membuatku jengkel! Cih, mengapa aku bisa mengenalmu dan terjebak pertemanan macam ini?" mendengus kesal, Sasuke hanya menerawang pertemuan pertamanya dengan Sai.

SMA Mikrogane, beberapa tahun lalu. Seorang remaja dengan seragam yang berbeda dengan siswa lain memasuki kelas dengan ragu.

"Silahkan perkenalkan dirimu," perintah Gay-sensei. Si remaja mengangguk dan memperkenalkan dirinya sebagai Shimura Sai. Suasana gaduh seketika. Dan sasaran pertanyaan dari teman-teman bukanlah si murid baru, melainkan Sasuke.

"Hey, Sasuke! Apa dia saudaramu?"

"Kalau bukan, pasti Ayahmu yang berselingkuh."

"Apa dia sama playboy-nya denganmu?"

Ah, sial! Apa hubungannya murid baru itu dengannya? Mirip? Yang benar saja. Jelas-jelas Sasuke jauh lebih tampan dari si murid baru. Dan jika ada yang curiga tentang kesetiaan Uchiha Fugaku, maka Sasukelah orang yang paling tahu tentang Ayahnya itu. Seorang Security yang gajinya selalu habis dimakan, tak mungkinlah ia sampai punya istri simpanan atau selingkuhan. Mau diberi makan apa, coba?

"Kau melamun, Sasuke?" Sai mendekatkan wajahnya pada Sasuke. Si Raven mundur beberapa centi. "Hah, tidak juga."

"Eh, kau suka yang mana? Yang pink atau kuning muda?" tanya Sai, tanpa beban.

Sasuke melengos,"sudahlah. Aku tak berhasrat pada celana dalam mereka."

"OMG!" Sai membekap mulutnya. "Sejak kapan kau jadi hentai begitu? Hey, bro. Yang kubahas adalah rambut mereka! Rambut, bukan celada dalam. Ah, kurasa Hinata harus tahu hal ini, bag- Ouch! Hey! Kenapa kau menjitakku?"

Dan seketika muncul benjolan kecil di puncak kepala si pucat. Sementara si pelaku hanya memajang tampang bete-nya.

"Oi, Sai."

Dua pemuda stoic menoleh. Dari arah kanan, mereka melihat gadis dengan rambut pirang pucat menghampiri. Rok mininya tampak centil diterpa sepapasang kaki indah yang melangkah.

"Shion..."

Sasuke hanya menghela napas panjang ketika dua insan itu saling bertukar ciuman. Hanya ciuaman pipi, sih. Tapi, hey... bahkan ia dan Hinata tak pernah melakukan itu. Si gadis Hyuuga itu sangat menjaga kehormatannya sebagai wanita.
Sementara Sasuke tengah heran siapa lagi dara cantik yang digandeng sobat playboy-nya ini? Sai buru-buru mendudukkan Shion di sisihnya.
"Ini Shion, kekasihku." Tersenyum seperti biasanya.

"Hallo, kau pasti Sasuke. Sai banyak cerita tentangmu." Shion mengulurkan tangan lentiknya dan hanya dibalas jabatan sekilas oleh Sasuke.

Perlahan, Sasuke mendekatkan dirinya pada Sai. "Kau gila! Siapa lagi ini?" tanya Sasuke, berbisik.

"Sudah dijelaskan tadi, bukan? Dia pacarku."

"Kau, tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Tenten?"

Sai diam, tampak berpikir sejenak. "Itu bukan urusanku," katanya, tanpa senyum. Sasuke hanya diam heran, sungguh! Kau bukan type orang seperti itu Sai.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" samar Shion bertanya.

"Ah, biasalah! Masalah cowok!" Sai lantas kembali berbaur dengan obrolannya dengan Shion. Membiarkan Sasuke merasakan betapa perihnya menjadi obat nyamuk sebelum akhirnya cabut meninggalkan soulmate baru itu.


"Two Stoic akhirnya tayang! Astaga, aku harus lihat! Harus! Sasuke, kau tahu betapa hebatnya film itu? Perpaduan antara ide cerita yang unik dan para bintang profesional membuat film itu sangat spektakuler."

Apa yang sedang kau bicarakan, Hinata? Itu yang terbaca dari mimik wajah tak mengerti Sasuke. Sejak tadi Hinata membahas Two Stoic, entah apa itu.

"Sasuke? Jangan katakan kau tak tahu film itu." Hinata mengemasi buku-bukunya. "Wajahmu sama sekali tidak menunjukkan antusias."

"Hn, aku memang sama sekali tak tahu. Maaf."

Hinata mendengus kecewa. "Padahal aku ingin melihatnya denganmu."

"Kalau kencan aku mau, -ah, maksudku akan kutemani kau nonton. Kapan?" Kali ini dapat dipastikan Sasuke amat-teramat antusias dan itu membuat Hinata tersenyum lega.

"Nanti malam jam 19.00, bagaimana? Kau bisa?"

"Gampang! Dandan saja kau yang cantik." Sasuke menyeringai. Lantas ia menyempang tas di pundaknya. Hinata tersipu malu.

Dan akhirnya mereka melangkah beriringan. Selepas mata kuliah terakhir, mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing, dan bertemu jam tujuh malam nanti.

"Sampai jumpa. Hati-hati di jalan. Nanti malam jangan sampai telat yah," malu Hinata berkata ketika mereka telah sampai di depan gerbang kediaman Hyuuga. Sasuke mengangguk pasti, "Tenang saja."

Sasuke melempar kissbye romantisnya sebelum beranjak. Hinata tertawa geli, dengan gaya jenakanya gadis itu seolah menangkap kissbye Sasuke di udara dan menempelkannya di pipi.

Senyum masih mengembang meski sosok Sasuke sudah hilang ditelan tikungan. Hinata segera masuk dan baru saja ia berniat membuka pintu gerbang ketika pintu itu terbuka lebih dulu dari dalam. Gaara, sosok yang sangat ia kenal itu yang terlihat.

"Eh, Gaara. Kau sudah datang? Cepat sekali, padahal aku baru pulang. Umh, sampaikan pada Ayah kalau aku akan sedikit terlambat Latihan. Aku lelah sekali."

"Kau terlihat senang sekali?" Alih-alih menjawab, Gaara justru memberi pertanyaan yang jauh dari obrolan yang tadi Hinata bangun.

"Oh, terlihat begitu ya?" Bingung. Pada akhirnya dara cantik itu segera menggiring langkahnya ke dalam. Gaara membuang muka. Ada luka yang tersirat dari wajah datarnya.


Tenten hanya menaikkan sebelah alisnya ketika ia melihat Sasuke bersiul-siul di meja makan. Sedang hepi rupanya. Lagipula, jarang-jarang pemuda itu dengan kesadaran diri bersedia membantu menyiapkan makan siang, meski hanya sekedar mengelap piring.

"Ada yang lagi seneng nih, abis dapet togel ya?" Tenten nyengir jahil, dilihatnya Sasuke langsung pasang tampang jutek, tersinggung.

"Sialan kau!"

Tebahak Tenten melihat perubahan tampang Sasuke yang drastis. Dasar childish! Cepat sekali berubah mood.

"Lantas?"

Sasuke mengelap piring terakhirnya sebelum menarik kursi di bawah meja makan dan duduk di sana. "Biasa, rencana akhir pekan."

Mendengar jawaban Sasuke, seketika mendung kelabu membingkai wajah Tenten. "Kau yang punya pacar sih, enak. Lha, aku? Malam minggu rasanya kelam mulu."

"Che! Apa masalahmu? Kau tinggal ajak Sai dinner. Beres." Si Stoic menyeringai.

"Bodoh! Mana mungkin mayat hidup it-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, karena saat itu Uchiha Sasuke sudah mendekatkan wajahnya dengan seringaian mengerikan. Dalam hitungan detik tangan pemuda itu meraih rahang Tenten dan mengamatinya sejenak. Tenten menahan napasnya diperut. Apa yang dilakukan Sasuke?

"Sasuke, apa yang kau-"

Sret.

Dan sebelah cempol Tenten sudah terlepas, membuat helai rambutnya tergerai sebahu. Tenten hanya mengerjap cengo, sedangkan Sasuke makin melebarkan evil smirk-nya. Cih! Sudah Sasuke duga sebelumnya. Tenten sebenarnya punya potensi menjadi primadona kampus andai saja ia memiliki selera style yang bagus. Tapi, ironisnya selama ini dara itu terlalu payah, tak bisa berdandan dan tak tahu cara berpakaian yang modis.

"Akan kubuat Sai bertekuk lutut padamu," ujar Sasuke, seribu yakin.

"Jangan mimpi, Sasuke. Sai bukan type orang yang bisa benar-benar jatuh cinta." Tenten mencibir. "Kita bertaruh! Dalam waktu sebulan saja, pasti Sai sudah bisa kau ajak dinner, bagaimana?"

Tenten mundur selangkah. Nampak berpikir sejenak. Arrgh! Andai Tenten menerima tawaran Sasuke, apa dirinya terlihat seperti gadis girang yang begitu antusias mengejar pemuda idamannya? Pasti Sasuke sudah berpikir ia sangat tergila-gila pada sobat baiknya itu. Tidak salah sih, tapi gengsi tingkat dewa.

"Bagaimana?"

"Bagaimana ya..."

"Ah, ya sudahlah. Sepertinya kau kurang terta-"

"Tunggu. Baiklah, aku setuju."

Sasuke menyeringai atas kemenangannya lantas mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

"Deal?"

Tenten mengangguk. "Deal."

Berjuang Sasuke. Demi mendapatkan kado cantik untuk ulang tahun Hinata bulan depan. Sasuke bersumpah akan memenangkan taruhan ini, dan mendapat honor dari Tenten.

"Aku pulang."

Tenten dan Sasuke refleks menoleh ke aras sumber suara. Pintu depan yang terkuak disusul dengan munculnya Sai dari mulut pintu.

"Oh, hay... sedang apa kalian?" tanya Sai, sangat ramah. Ia kembali menutup pintu ruang tamu dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah berbentuk hello kitty -entah milik siapa.

"Hari ini masa apa, ya?" Setengah berlari Sai menghampiri ruang makan. Tuntutan lambung yang serasa melilit membuatnya lupa meletakkan tasnya lebih dulu.

"Sub daging. Nyam... semoga yang masak bukan nona cempol," Sai berkata tanpa eksresi. Beberapa saat kemudian, ia telah meraih piring dan sendok namun dengan cepat ditahan oleh Tenten.

"Apa maksudmu, ha, mayat?" tanya Tenten, emosi.

"Tentu saja karena masakanmu tidak enak," jawabnya terlampau jujur. "Eh, tadi kau memanggilku apa? Mayat? Hah, berapa kali harus kubilang jangan panggil aku mayat."

"Baiklah. Cungkring."

"Hey!" Sai melotot tak suka.

Dan perdebatan tak penting itu terus berlangsung hingga berpuluh-puluh menit kemudian. Sasuke yang menjadi saksi pertikaian mereka hanya menghempaskan napas putus asa. Apa mungkin dalam waktu satu bulan Sai bisa dinner dengan Tenten? Sai, meski ia ramah, tapi ia pahit lidah. Sedangkan Tenten sangat munafik, selalu mencari perhatian dengan menyulut perkelahian. Sasuke tahu, Tenten hanya ingin banyak ngobrol dengan Sai, hanya saja gadis itu tak tahu bagaimana caranya.


Mematut dirinya di depan cermin selama beberapa menit kemudian berputar. Menatap meluruh anggota tubuh yang dapat dijangkau sepasang matanya. Dress ungu muda dengan jaket hitam, Hanabi yang memilihkan untuknya. Dara manis itu menunduk lemas, mengapa adik perempuannya yang masih SD itu terlihat jauh -sangat jauh lebih berpengalaman dibanding dirinya?

Sudahlah! Lain kali, ia harus lebih sering memperingatkan Hanabi agar adik belianya itu tak terlalu sibuk pacaran.

Melirik sekilas jam klasik di pergelangan tangan kirinya, ia masih punya waktu 30 menit sebelum Sasuke datang. Ung, kira-kira kali ini Sasuke menjemputnya dengan apa ya?

Ting tong~

Oh? Mungkin Sasuke yang datang. Hinata buru-buru meraih tas lengannya dan segera membuka pintu depan.

Surprize. Uchiha Sasuke yang memang selalu tampil penuh pesona berdiri di depan pintu. Oh, sial! Mengapa ia masih saja berdebar melihat Sasuke yang begitu keren.

"Hay, Hinata," sapa Sasuke ketik Hinata sudah membukakan pintu untuknya. "Kau sudah siap?"

Mata Hinata berbinar ketika melihat sesuatu di genggaman Sasuke. Mawar merah, kesukaannya.

"For me?" Hinata menunjuk antusias bunga di genggaman Sasuke, dan si raven mengulurkannya pada Hinata,"yes. Princess."

"So sweet." Pipinya merona, dan Uchiha Sasuke sangat senang ketika melihat wajah pasangannya memerah karenanya.

"I can give you everything."

Sasuke memang tak sering menggombal, tapi sekali ia melakukan aksi gombal, maka akan disaksikan si Hyuuga jelita ini klepek-klepek olehnya. Inilah alasan utamanya malas menggombal, ia hanya tak tega melihat Hinata yang mungkin akan tepar tak berdaya. Oh, please. Jangan menganggap Sasuke lebay, itu hanya prediksi.

"Ng... kita ke bioskop naik apa? Limo?" canda Hinata yang tanpa sengaja mengoyak batin Sasuke. Sudah tahu Sasuke ini mahasiswa kere, kenapa ia sampai membahas Limosine yang bahkan wujudnya seperti apa Sasuke tak tahu. Yang ia dengar, harga mobil itu teramat sangat mahal.

"Hn. Aku pinjam salah satu motor Tenten yang menganggur. Metik sih, tapi lebih baik dari pada ngesot."

Gelap. Lampu bioskop telah dimatikan. Sementara film yang dinanti mulai diputar. Hinata meraih popcorn di genggaman Sasuke tanpa menoleh, hanya tak ingin ada satu adeganpun yang terlewatkan.

"Yo yo yo, sekarang kita harus kemana yo?"

"Yo yo, saya juga tidak tahu yo."

Dan backsound dangdut keroncong mengiringi perjalanan sang manusia-manusia hutan.

Dengan segenap kesabaran yang masih terisa, setengah mati Sasuke menahan dirinya agar tak beranjak dari gedung bioskop sebelum filmnya usai. Gusti pengeran, ternyata seperti inikah film yang diagung-agungkan Hinata? Najis!

"Apa sih? Jangan dekat-dekat. Jauh-jauh sono."

"Geer banget sih? Sok ganteng lu!"

"Emang ganteng kok."

Berkedut telinga Sasuke. Rasanya ia tak asing dengan suara-suara itu. Entah mengapa tiba-tiba firasat buruk mengganjal pikirannya. Ragu ia menengok ke belakang dan, SHIT! Mengapa harus ada pengacau lagi di momen kencan yang begitu langka?

"Hoo... err, hallo Sasuke. Sedang apa?" Sai bertanya dengan tampang kikuk.

"Kau berisik sih, jadi ketahuan kan."

"Enak saja. Kau duluan kan, yang berisik."

"Kau menyebalkan."

"Kau juga."

"Sssttt,..."

Dan, berpasang-pasang tatapan sebal mengarapa pada mereka. Tentu saja Sasuke yang tidak tahu apa-apa juga terkena imbasnya.

"Ada apa sih?" Hinata menoleh dan tersenyum lebar ketika menemukan dua sahabatnya duduk di belakangnya.

"Hey, kebetulan sekali kalian bisa di sini."

Hey, Nona. Itu bukan kebetulan. Dua orang kurang kerjaan ini yang membuntuti kita, batin Sasuke, bete.

"Kita bisa double date."

"Idih! Ngedate sama Mini mouse? Sorry, mending sama kambingnya Ngkong Sarutobi." Sai mencibir.

"Apa kau bilang? Ha! Mulutmu itu memang perlu diberi pelajaran."

"Sssttt..."

Dan pada akhirnya keempat orang itu hanya memasang tanpang canggung ketika tatapan kesal kembali terarah pada mereka.

Week end ini ter-ter-terburuk dalam hidup Sasuke. Bayangkan saja, ketika kau harus menyaksikan film tergaje selama dua jam penuh, dan bukan hanya itu, ketika film hampir berakhir Sasuke mengira akan segera terbebas dari neraka kebosanan, tapi tidak saat ia menyadari dua pengacau duduk tepat di belakannya. Shit!
Dan sekarang, ketika ia hampir memejamkan mata, suara ringtone hp-nya tak henti-hentinya berdering. Shit kuadrat!

Krrriiinngg... Krrriiinngg... Krrriiinngg...

Poliponik klasik dari ponselnya terus saja terdengar, meski cukup lama ia mengabaikan.

"Sasuke! Kalau kau tak mau angkat telpon, buang benda itu hingga tidak bisa berdering lagi. Owh! Gara-gara suara itu mimpiku jadi terpotong, padahal lagi seru-serunya."

Kini, Sasuke hanya menatap datar seseorang yang mengomel di balik selimut Dora The Exlporer. Oh, baiklah!
Beberapa saat kemudian, ia meraih ponsel hitam putih yang tergeletak di meja. Dengan malas ia mengangkat dan menempelkannya di telinga.

"UCHIHA SASUKE! KENAPA LAMA SEKALI ANGKAT TELPONNYA!"

Ia menjauhkan kembali ponselnya dari telinga. Uh! Ternyata teriakan Ibu masih saja dasyat, pikirnya.

"Hey, kau masih ada?"

Setelah yakin bahwa seseorang di seberang sana sudah mulai 'jinak', Sasuke kembali menempelkan hp-nya di telinga. "Ada apa, Bu?"

"Kau harus segera pulang!"

Menautkan alis, Uchiha bungsung tak mengerti mengapa ibunya tiba-tiba memintanya pulang.

"Aku sibuk kuliah, Bu. Musim ujian begini, tidak mungkin aku bisa pulang. Lagi pula aku tidak punya ongkos," jelas Sasuke, setengah mengantuk ia tertunduk-tunduk.

"Oh, baiklah! Jika kau tidak bisa pulang, maka Ibu yang akan kesana bersamanya."

"Bersama siapa?"

"Ya, jangan pura-pura bodoh! Dasar! Dan jangan pernah lupakan dosa-dosamu," Suara Mikoto meninggi.

Maksudnya?

Sasuke merasa alur pembicaraan sudah mulai menyimpang. Eng, jarang-jarang Sasuke lola begini.

"Aku tak mengerti maksud, Ibu."

"Besok saja kita bertemu. Oh, ya, jangan lupa SMS-kan alamat rumah kost-mu. Dah!"

Tut... tut... tut...

Sasuke menatap layar ponselnya. Panggilan berakhir? Cih! Dasar wanita, selalu seenaknya.

"Cih! Sialan, kau tidak membangunkan aku!" Sasuke buru-buru memaki celana jeansnya. Meraih sepatu dan memakainya sembarangan sambil terus mengumpat, mengutuk perbuatan sohibnya yang membiarkannya bangun kesiangan.

"Apa? Sekarang nyalahin aku? Padahal tidurmu yang kayak kebo!"

Sasuke menatap sinis pada temannya yang sudah teramat tampan pagi ini.

"Gara-gara menunggumu juga, aku pasti ikutan terlambat, belum sarapan juga. huee..." merengek bak bocah kecil yang manja. Sasuke hanya dapat menghembuskan napas heran. Inilah sisi rahasia Sai. Ketika ia bersama gadis, yang terlihat adalah pangeran penuh pesona. Dasar buaya.

Suara gedebuk lari dari lantai atas membuat lelapnya tidur Tenten terganggu. Dengan langkah terhuyung gadis itu melangkah menuju pintu kamar. Melongokkan kepalanya dan berteriak, "WOY! BERISIK! MINGGU-MINGGU GINI, GANGGU ORANG TIDUR AJA KALIAN!"

Dan, seketika suara gaduh dari lantai atas berubah senyap.

Sasuke dan Sai saling bertatapan dalam diam.

"Ternyata hari minggu. Dasar, idiot!" maki Sasuke, menyalahkan. Si kambing hitam acuh tak acuh, sibuk melepas sepatu dan melorotkan celana jeansnya -menyisakan boxer bintang-bintang, sebelum melompat kembali ke spring bed. Mengikuti jejak Sai, Sasukepun tak butuh waktu lama untuk melepas sepatunya dan kembali tidur. Mungkin ia sudah meraih mimpinya jika saja tak dikacaukan ketukan brutal di pintu kamar.

"Sasuke! Sasuke!" Suara Tenten terdengar panik. Che! Ada apa dengan putri Ibu kost itu? Sasuke berdecak sebal. Yang mengambil inisiatif membuka pintu justru Sai.

"Apa? Ada apa?" Wajahnya penasaran. Tenten kini tanpak acak-acakan dengan babydol yang masih melekat pada tubuhnya, bola matanya bergerak-gerak, terlihat bingung.

"Hey, kenapa?" Sai tertular panik. Dengan langkah berat Sasuke menghampiri. "Apa?"

"Eto, di depan."

"Di depan?"

"Ada..."

"Ada siapa?"

"Siapa?"


To be continue...