Life

NARUTO © Kishimoto Masashi

Hurt/Comfort – Friendship

.

.

.


"Sasuke! Sasuke!" Suara Tenten terdengar panik. Che! Ada apa dengan putri Ibu kost itu? Sasuke berdecak sebal. Yang mengambil inisiatif membuka pintu justru Sai.

"Apa? Ada apa?" Wajahnya penasaran. Tenten kini tanpak acak-acakan dengan babydol yang masih melekat pada tubuhnya, bola matanya bergerak-gerak, terlihat bingung.

"Hey, kenapa?" Sai tertular panik. Dengan langkah berat Sasuke menghampiri. "Apa?"

"Eto, di depan."

"Di depan?"

"Ada..."

"Ada siapa?"

"Siapa?"

"Seles panci? Bilang, aku tak ambil kreditan! Jadi gak usah nagih cicilan."

Tenten menjitak kening Sai yang tertutup poni. Bocah sableng! Mana mungkin Tenten sepanik ini jika yang datang hanya seorang seles panci?
"Resek banget sih, lu?" Sai mengusap keningnya yang berdenyut hebat, sekalian merapikan rambut depannya.

"Seriuslah, Sai." Nampak tak suka, Sasuke hanya melempar ancaman halus berupa death glare yang membuat siapapun merinding.

"Ada Ibumu di bawah!"

"HAAAAA?"

Omaygoat! Ternyata wanita itu benar-benar datang? Sepagi ini? Bahkan Sasuke belum merapikan kamarnya. Bagaimana jika wanita tengah baya itu tiba-tiba menengok kondisi kamar anak bujangnya yang lebih tragis dari perumahan korban gempa.

"Tante Miko datang, ya? Hore~ pasti dapat oleh-oleh." Sai buru-buru meraih celana yang memakainya sembarangan sebelum berlari ke ruang tamu. Sasuke hanya menepuk jidat. Ada-ada saja, pikirnya.

Matan memicing, kening berkedut dan alisnya pun menaut. Dua sosok wanita yang duduk tenang di ruang tamu mengundang heran di benak Sasuke. Kehadiran seorang wanita tengah baya yang tetap cantik itu mungkin hal yang wajar, tapi seorang perempuan di sebelahnya? Mau apa dia di sini?

Wanita berambut merah dan berkacamata itu namanya Karin. Sasuke mengenalnya sebagai putri salah satu teman arisa Ibunya di kampung. Dulu, ketika ia di kampung, Karin juga sering mengunjunginya. Sering perempuan itu mengajak Sasuke dan Itachi sekedar piknik di sekitar sawah.

Ah, sudahlah. Itu sudah terlalu lama berlalu. Lagipula, sekarang Sasuke tidak norak seperti dulu, yang mau-maunya makan di pinggiran sawah. Cih! Seperti tidak ada restoran saja.

Eh? Ternyata mereka tidak datang berdua saja. Seseorang duduk di samping Karin. Anak kecil. Sepertinya usianya belum genap satu tahun.

"Apa yang kaulakukan di sana, Sasuke? Cepat kemari!" Nada Suara Mikoto tak lembut seperti biasanya. Aneh, sejak telpon semalam, wanita itu terus uring-uringan.

"Nah, Sai. Yang ini boleh untukmu semua."

Cih! Giliran bicara pada Sai, ia begitu lembutnya.
Ibu, anakmu itu sebenarnya yang mana? Sasuke ingin merajuk, tapi gengsi.

Sasuke melangkah tanpa gairah. Ia hanya melongo ketika dilihatnya Sai -dengan tampang begitu lugu- sudah berniat kembali ke kamar setelah mendapatkan apa yang ia mau, sekeresek penuh dodol garut dan wingko babat. Che! Anak itu!

"Ada apa, Bu?"

"Minta pertanggung jawabanmu!"

Ha?

Bepata cerdasnya seorang Uchiha Sasuke, ia tak mampu mencerna kalimat Mikoto. Ibunya barusan bicara apa ya?

"Maksudnya?"

"Hah," Mikoto tersenyum tawar, ia lantas menatap Sasuke seolah putranya itu anak paling durhakan sepanjang sejarah. "Kau! Jangan pura-pura tak tahu!"

"Ibu, aku serius!"

"Dia!" Mikoto menunjuk Karin. Sosok berambut merah itu menunduk dalam. "Oh, bukan dia maksud Ibu, tapi dia." Mikoto menunjuk seseorang di sebelah Karin.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, tetap ia tak mengerti. Memangnya kenapa dengan balita itu?

"Namanya Kyo! Kau tak kasihan padanya?"

Mengapa harus kasihan? Itu bukan urusanku, pikir Sasuke ketika itu.

"Sasuke, bagaimana pun juga, dia keturunan Uchiha! Kasihan dia, kan? Usianya sudah hampir 10 bulan, tapi ia belum dapat pengakuan dari Ayahnya."

Uchiha? Ah, benar juga. Warna matanya onyx seperti miliknya. Rambutnya yang jarang-jarang itu juga hitam. Dan yang paling dominan adalah gayanya yang over stoic itu, padahal balita.

"Kasihan, Karin. Selama ini dia menanggung malu seorang diri."

"Jadi, Ibu anak ini Karin?" Sasuke membelalak tak percaya. Pria biadab mana yang lari dari tanggung jawabnya? Ah, andai Sasuke tahu siapa orang itu, ia pasti menghancurkannya dengan sekali tonjok.

"Benar! Dan kau Ayahnya!"

DEEEEEEENNGG!

"A-apa?" Tak percaya dengan apa yang ia dengar, Sasuke hanya hanya memandang Ibunya tak mengerti.

Dludak! Dluduk! Buk! Buk! Buk!

Ah, Sai pasti menguping dari lantai atas.

"Ibu tak peduli, sekarang Karin dan Kyo tanggung jawabmu! Urusi mereka!" Mikoto buru-buru berdiri dari duduknya dan melangkah keluar. "Karin, jaga dirimu, yah."

Hening beberapa menit hingga sosok Mikoto tak terlihat lagi.

"Sasuke punya baby, aaahhh!"

Owh! Shit! Sumpal mulutmu, Sai idiot! Jangan mengumbar aib, eh! gosip!

Demi Tuhan, Sasuke tak pernah melakukannya! Perlu digaris bawahi, Sasuke itu masih perjaka.

Sasuke menatap Karin, marah. "Kau bisa jelaskan semua ini?"

Karin bersimpuh, "Sasuke, maaf! Tapi Kyo memang keturunan Uchiha."

"Tapi aku tidak pernah merasa. Oh Hey! Jangan makan itu!" Sasuke meraih balita yang mirip dengannya itu, ia tak tega melihat si kecil yang memasukkan puntung rokok pada mulutnya.

Suara gedebuk langkah cepat yang beradu dengan tangga kayu terdengar. Saat itu, Sai dan Tenten muncul dengan wajah shock.

"Sasuke, punya anak!" Tenten membekap bibirnya.

"Sasuke jadi Ayah." Sai menutup wajahnya, terlihat turut frustasi. "Tunggu! Kalian jangan salah paham, dia bukan anakku!"

"Astaga! Kau hebat, Sasuke! Ini seperti duplikatmu! Mirip sekali. Miniatur. Ah, jadi pengen yang seperti ini." Sai cilukba di depan wajah si kecil. Sasuke sweatdrop.

Kukira kau dipihakku, Sai, ternyata...

"Benar. Ini mirip sekali." Tenten merempas pelan jemari Kyo yang imut-imut.

Ini tidak benar! Semakin ia mengelak, semakin buruk pula citranya sebagai lelaki sejati. Lalu?

Diam dan menunggu? Jangan bodoh! Sasuke yang jenius tak mungkin menyerahkan kasus ini pada waktu. Segera, pasti akan ia temukan jawaban. Dan Uchiha mini itu, bukanlah titisannya, Sasuke 1000% yakin.


"Kita... putus saja!"

Saat itu juga airmata Shion meleleh.

"Kenapa?"

"Oh, kau belum tahu rupanya. Bukankah selama ini mereka menyebutku buaya? Kurasa mereka benar."

"Kau keterlaluan, Sai!"

"Ahahaha, terimakasih atas pujiannya. Aku sangat tersanjung."

Shion tersenyum pahit. Bagaimana mungkin Sai bisa mengatakannya seringan itu?

"Oh, iya. Kau belum tahu mottoku rupanya?" Sai berlagak antusias menatapmata Shion, "aku ini milik semua wanita! Aku cinta pada semua wanita yang kukencani, satu, empat, enam, sepuluh! Berapapun itu!"

"CUKUP!" Shion mencengkram kepalanya, putus asa. Ia tak tahan lagi. Mengapa? Mengapa Sai tega melakukan ini? Belum genap sebulan hubungannya terjalin, tapi dengan mudahnya Sai memutuskannya dengan alasan yang begitu menyakitkan.

"Terserah kau saja."

Sai terpaku menatap Shion yang sudah berlari menembus hujan.

Sai merutuk. Mengapa ia baru tahu bahwa Shion adalah adik dari Ino? Seandainya ia tahu dari awal, tak kan mungkin ia mengencani seseorang yang berhubungan dekat dengan gadis masa lalunya. Cih! Pantas saja Shion selalu mengingatkannya pada Ino. Yah, sudahlah! Untuk apa memikirkan mereka? Tak penting.

Ponselnya berdering. Lagu reff Blue Bird milik Ikimono Gakari mengejutkannya dari lamunan. Ia meraih hp di saku celana dan melihat nama Uchiha Ayam di sana.

"Iya, Sasuke? Ada apa? Tumben mau nelpon? Biasanya cuma misscall dan menunggu kutelpon balik?"

Seseorang di seberang sana menahan gubrak. Keterlaluan sekali, si Sai itu, Batinnya.

"Ya, ini sedang dapat bonus nelpon setelah isi ulang."

"Isi 5000 dapet gratis nelpon? Kau pakai provider apa, sih?"

Gggrrrhhh! Uchiha Sasuke gemas! Andai ada Sai di depannya, pasti muka pemuda itu sudah hancur ia cakar-cakar.

"Tak penting. Sekarang kau di mana?" tanya Sasuke, mengalihan pembicaraan ke pokok. Sai melirik ke sekeliling.

"Di koridor, dekat lap."

"Tunggu aku di sana."

Tak sampai 5 menit Sai sudah melihat wujud Sasuke melangkah cepat menghampirinya.

"Oi! Cepet banget." Sai senyum lugu.

"Sai! Aku tahu, kau bukan mahasiswa kere sepertiku!"

Menaikkan alis, Shimura Sai merasa ada yang aneh dengan sohibnya.

"Apa maksudmu?"

"Kau punya rumah di sekitar Tokyo, kan?" tanya Sasuke.

"Tidak."

"Kumohon, bantu aku."

"Aku tidak bohong, Sasuke! Rumah Ibuku di Kyoto, dan di Tokyo hanya rumah kakek, dan aku malas tinggal bersama si tua bangka itu."

Apapun alasanmu, bukan urusanku. Sasuke masa bodoh, yang penting, "tolong, ijinkan Karin dan Kyo tinggal di sana sementara waktu."

Ha?

Sai memiringkan kepalanya.

"Tapi, apa kakekku..."

"Kuserahkan semua padamu. Thanks, bro!" Meraih tangan Sai untuk bersalaman sebelum ia melarikan diri.

"Oi, kakek sedang tidak ada! Mungkin seminggu lagi Karin bisa diboyong ke sana," Sai berteriak dan hanya direspon lambaian tangan Sasuke yang sosoknya sudah terlihat makin mengecil saja.


Memiringkan kepala, Hinata sempat tak yakin pada masakannya. Menurutnya memang sudah enak, tapi bagaimana dengan orang lain? Khususnya Sasuke.

Harusnya kini ia sudah di tempat kost Sasuke. Meminta agar pemuda itu mencicipi masakannya. Tapi karena terlalu lama ia termenung hingga waktu merangkak sore. Ah, ia harus cepat sampai di sana sebulum malam. Mengemasi bento istimewanya, dan membungkusnya dengan serbet khusus bermotif hati. Sangat cantik bukan?
Dara itu tersenyum, berharap agar Sasuke akan senang menerimanya. Ini juga sebagai bukti bahwa ia akan jadi istri yang baik kelak. Hinata bergegas menuju halte terdekat, jika ia tak ingin terlambat, maka harus memilih bus patas.

Ibu kost sedang menyiram bunga ketika Hinata sampai. Merasa kedatangan tamu, si Ibu kost mempersilahkan Hinata masuk.

Hinata duduk berpangku tangan. Ditatapnya wanita tengah baya yang masih saja mempertahankan model rambut cempolnya. Eng, pasti Ibunya Tenten, batin Hinata sempat menebak-nebak.

"Temannya Tenten ya?"

"Iya, tante." Hinata mengangguk, santun.

"Sayang sekali, Tentennya baru saja keluar."

Eh?

"Bu-bukan! Eh- maksudnya saya ingin bertemu dengan eto... eng..."

"Ingin bertemu dengan siapa, dik?" Paras Hinata memerah, "Sasuke."

"Oh, Sasuke juga sedang keluar sebentar. Beli susu untuk anaknya."

Hinata mengangguk, "oh, sedang membeli susu untuk a- APA?"

'Keterlaluan! Kau tak bisa berubah, Sasuke! Tak bisa.'

Terpuruk di sudut kamar. Ia menyembunyikan wajahnya di sela-sela lutut. Membiarkan airmata jatuh pasrah tanpa berusaha menghapusnya. Tidak, sebelum ia puas.

Bagus, Hinata! Kau adalah salah satu dari para wanita yang melakukan kesalahan terbesar; Mencintai pria yang menyakiti.

"Bodoh!" ia terisak. Tak tahu bagaimana cara menghentikan tangisnya itu. Merutuk dan mengutuk, mengapa ia harus menyintai lelaki yang salah?

Ponselnya berdering. Cukup lama ia biarkan benda itu, hingga bangkit dan meraihnya. Nama 'Ayang' tertera di sana. Bahu Hinata makin terguncang, ia merijek panggilan itu sebelum melepas batrei hp-nya. Hinata hanya butuh ketenangan. Tapi, keadaan sepertinya tak pernah mengerti. Ketukan pintu yang terdengar bertubi-tubi dan disusul dengan suara Hanabi yang memanggilnya sungguh makin membuat ketenangannya makin jauh.

"Onee-chan... ada Gaara-nii..."

Gaara? Nama itu menarik perhatiannya. Hinata menegakkan wajahnya.

Gaara?

Che! Baiklah! Jika laki-laki bisa jadi bad boy, maka ia juga harus bisa 1000 kali lebih bad girl.


Gaara tahu, ada sesuatu yang berbeda pada Hinata. Matanya, raut wajahnya, dan entah apalagi. Sejak pertama kali bertatap muka tadi, Hinata nampak murung. Gaara tak akan bertanya apa yang membuatnya terluka. Gaara hanya akan diam. Menunggu dan meminjamkan bahunya jika dara itu menginginkannya.
Duduk sejak setengah jam lalu. Sediam pekarangan keluarga Hyuuga yang ditumbuhi beberapa bonsai. Senja telah rebah, dan tak ada salah satu dari mereka yang bersuara.

Tersenyum, perlahan Hinata tertawa pelan, dan itu menarik perhatian Gaara. Kenapa dia?

"Kau ingat, Gaara? Dulu kita pernah menikah di sini." Pandangan mata Hinata menatap kosong pada kolam koi yang dialiri air dari pancuran bambu. Awalnya, Gaara tak menjawab apapun. Pemuda itu Hanya menoleh, menatap Hinata tak mengerti.

"Sudah lama sekali, pasti kau lupa," katanya pelan, ia menghempaskan napas sebelum melanjutkan. "Masa kita masih kecil." Dan Hinata kembali tertawa. Tawa yang didefinisi Gaara sebagai, perih.

"Yah, aku ingat. Bahkan hari itu, aku berjanji padamu, jika kita besar nanti kita akan menikah lagi, tentunya dengan resepsi yang besar."

"Kau masih ingat rupanya."

"Tak mungkin lupa."

Dan sejak saat itu, Hinata mulai dapat percaya, bahu Gaara adalah tempat yang paling tepat baginya untuk bersandar.


PLAK!

Sasuke terbelalak. Rasa panas yang mejalar pada pipinyalah yang menyadarkan ia bahwa ini bukan mimpi. Hyuuga Hinata menamparnya.

Kenapa?

Tak ada kata yang terucap. Hanya dari tatapan Sasuke, Hinata tahu bahwa Sasuke tak mengerti apa alasan yang membuatnya sampai mendaratkan tamparan di pipi Sasuke.

Sasuke. Ya, Sasuke!

Pemuda angkuh yang masih saja menunjukkan gelagat cemburu ketika ia bersama Gaara. Memuakkan.

Tak sadarkah bahwa ia tak lebih dari seorang lelaki murahan yang mendaratkan hatinya sembarangan? Menjijikkan! Hinata menatap rendah seseorang di hadapannya

"Aku muak padamu, Sasuke! Memang lebih baik kita berpisah saja."

Ia masih tak mengerti. Ada apa sebenarnya?

"Jangan bercanda, Hinata. Apa salahku?"

"Jangan berlagak bodoh, Sasuke! Lebih baik kau urusi saja anakmu."

Oh, ternyata ini sumber masalahnya. Jadi karena... A-APA? Anak? Demi Tuhan! Saat ini Sasuke tak tahu harus berbuat apa? Percuma saja ia punya otak over jenius jika mogok di saat ia butuhkan. Jelaskan! Dan Hinata harus dengarkan. Tapi, ah! Rasanya mustahil, seorang wanita yang tengah naik darah tak akan percaya dengan apapun penjelasan yang didengarnya. Lalu? Lalu? Tak mungkin kan, jika harus berdiam diri saja? Arrgh! Sasuke frustasi. Tanpa sadar ia mencengkram rambutnya sendiri hingga terlihat berantakan. Dan, ketika Sasuke sibuk dengan pikirannya sendiri, Hinata sudah berlalu pergi.

"Cih! Terserah kau saja! Wanita bodoh!" gumam Sasuke, berlawanan dengan hatinya. Dengan gontai ia memutar arah langkahnya, mungkin kali ini Sasuke absen kuliah dulu, tak mungkin bisa konsentrasi jika pikirannya kalut seperti ini.

"Hoy, Sasuke! Mau kemana? Ini hampir jam 7, sebentar lagi kelas di mulai." Sai melambai dari lantai dua, Sasuke hanya menengok sekilas, tak peduli.

"Sasuke? Kau tidak dengar ya?" setengah berlari, pemuda pemilik paras menyerupai Sasuke itu menuruni tangga untuk menghampiri temannya.

Sasuke terperanjat.

Jangan-jangan...

Sai?

Benar, Sai!

Tidak salah lagi.

Siapa lagi manusia bermulut ember kecuali dia. Tak salah lagi, pasti Sai-lah pemicu semua masalahnya dengan Hinata. Pasti mulut sialnya itu yang mengumbar-umbar gosip 'anak' pada Hinata. Sialan!

Sai memperpelan langkahnya ketika jarak mereka semakin dekat, ia melambai. Memamerkan senyum entah palsu atau bukan.

"Sasu-"

Buagh!

Sai jatuh tersungkur di lantai. Seketika dua sahabat yang biasanya terlihat akrab ini jadi pusat perhatian mahasiswa-mahasiswa di kampusnya. Tatapan penuh tanya dan bisik-bisik samar mulai terdengar. Sasuke tak peduli meski banyak orang di sekitarnya. Biar! Biar semua tahu, inilah akibat jika punya mulut ember!
Sementara Sai masih terpaku di posisi jatuhnya, bercak merah yang mengintip di sudut bibirnya sangat menyakitkan, tapi tak sesakit hatinya yang telah dipukul dan dipermalukan di depan umum oleh seseorang yang ia anggap sahabatnya sendiri.

"Kukira kau sahabatku, Sai," Sasuke bergumam. Tatapannya masih sinis menusuk seseorang yang masih tak bergeming di lantai.

"Bangun jika kau laki-laki!" bentaknya, frustasi.

"Sasuke," panggil Sai, ramah. Perlahan ia mengusap bibir perihnya sebelum kembali berdiri, menepuk sekilas celananya yang ternoda debu.

"Sepertinya kau salah paham, Sasuke." Sai tersenyum, dan menurutnya senyum inilah yang paling berat ia tampilkan.


to be continue...