...? Beberapa saat lalu saya diam. Nggak ngebacot sama sekali kan? Di sini boleh donk, saya berceloteh bentar? Oke, makasih udah dikasih kesempatan. Ehem- sebenarnya, saya membuat fanfiksi bukan untuk apa-apa, niat utama sih, berlatih. Hm, saya 100% sadar kalau kemampuan saya ini masih amat sangat amatir. Dan, selama di dunia ffn, saya tak pernah menyadari itu. Kenapa? Karena saya tidak pernah dapat kritik dan saran yang disampaikan dari review. Tapi, semenjak saya terjun di dunia tulis-menulis yang sesungguhnya, jujur saya malu! Sangat malu dengan tulisan asal-asalan yang pernah saya buat. Yah, betapa pedih dikomentari oleh senior, bahkan di flame orang tidak dikenal di tulisan pertama yang berhasil lolos seleksi.. Jujur, tak jarang membuat saya menangis terisak-isak... hueee! Jangan tertawa! ini serius! Dan betapa sakit hati ini ketika naskah ditolak media. Bagai cinta yang ditolak oleh si dia. Berbagai alasan penolakan yang sebenarnya sulit saya terima, owh! Tapi yah, namanya juga orang sudah kesengsem sama menulis, ya meski mewek ya ujung-ujungnya nulis lagi. Dan memang tak ada usaha yang percuma hehe saya sudah buktikan sendiri, yey. Nah, betapa bersyukurnya saya mengenal penulis hebat seperti GP, dan selain dia senior ternyata dia juga sangat baaaaiiikkk sekali. Yah, beliaulah yang selama ini mengajarkan banyak hal. Dan dikritik itu sesungguhnya adalah yang PALING DIBUTUHKAN. Jadi, tolong ya Minna-san yang baik hati. Berilah saya kritik. Terserah! Sepedas apapun saya tidak akan marah. Tapi, harus bisa membedakan FALME dan KRITIK loh. Flame itu sifatnya menjatuhkan, sedangkan kritik itu membangun.
Yah, cukup sekian. Mungkin Minna-san sekalian udah capek ama bacotan saya. Makasih udah meluangkan waktunya dan mari sambung cerita yang kemaren...

.

.

.


"Kau! Kaulah awal hancurnya hidupku. Ini semua gara-gara, kau!" Sasuke melebarkan matanya yang sipit. Menatap sinis pada seorang innocent di hadapannya.

"Cih! Jangan diam saja! Katakan sesuatu!"

Yang diajak bicara tak bergeming, justru sibuk memutar-mutar lolipop yang sudah mulai mengecil.

"Tatap aku! Aku sedang bicara padamu," suara Sasuke meningkat satu oktaf, dan itu sedikit mengejutkan si lawan bicara. Mengerjap singkat, akhirnya dia menatap Sasuke yang tengah emosi. Membuka mulut kecilnya, tersenyum lebar dan memamerkan barisan giginya yang belum lengkap.

"Ta-ta-ta..."

"Katakan padaku! Mengapa Ibumu tak pernah memberi penjelasan tentang semua ini? Mengapa dia selalu bungkam? Hahaha, aku yakin kalau Ibumu sebenarnya juga tahu bahwa aku bukan orang yang bertanggung jawab atas kehadiranmu di dunia ini."

"Pappa, papapapa,"

"Papapapa! Aku bukan papamu! Ingat itu! Che, mengapa harus aku yang dituduh? Ha? Iya, memang, dulu aku play-boy tingkat diatas Dewa Jashin, tapi demi Tuhan, aku sudah pensiun sekarang."

"Nyaaam," kembali memasukkan lolipop dalam mulutnya. Kyo seperti tak peduli meski Sasuke bicara panjang lebar padanya.

"Kau kurang ajar! Begini perlakuanmu jika diajak bicara? Ah, model seperti ini bukanlah anakku." Sasuke menyeringai. "Hey, mengapa bukan Itachi atau Tobi saja yang dituduh jadi Ayahmu, ya? Mengapa harus aku?"

Sasuke terdiam. Sejenak ia teringat pada sosok kakak-kakaknya. Si sulung Itachi, eng... memang tak mungkin ada orang yang menuduh pria yang kesehariannya selalu memakai kopyah dan sarung. Manusia alim, jarang dicurigai. Sedangkan Tobi? Demi Tuhan, si tulalit Tobi mana bisa menghamili anak orang?

"Kau, kapan kau pergi dari duniaku, ha? Aku stress!"

Sasuke mendunduk. Percuma saja bicara pada Kyo, justru malah ia sendiri yang disangka sinting. Ah, memang! Sasuke sinting.

Tanpa Sai.

Tanpa Hinata.

Hidupnya hampa.

Sai? Sedang apakah dia sekarang? Mengapa sampai sekarang belum pulang? Terlukakah dia? Menangiskah dia? Ah, tak mungkinlah buaya menangis. Tapi, jika buayanya seperti Sai? Hm, itu lain lagi. Sasuke menengadah, menatap langit-langit ruang tamu yang mulai muncul bintik hitam jamur akibat rembesan airhujan. Menerawang, beberapa saat lalu. Ia begitu marah pada Sai saat itu. Menutup mata dan telinga atas pembelaan apapun yang diucapkan Sai.

Cih! Sai pantas mendapatkannya. Anggap saja itu pelajaran. Tapi, dia sahabat kan?

Che, sahabat macam apa dia?

Sasuke mengeringai lagi, pasti baik-baik saja tanpa Sai.

Hinata.
Sedang apa dia sekarang? Berdua bersama Gaara kah? Menangis kah? Atau menggoreskan belati di nadi? Ah, tidak boleh! Sasuke bersumpah akan cari pacar lagi -eh maksudnya Sasuke bersumpah akan bunuh diri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Hinata.

Di depan sana, sebuah taksi hitam berhenti tepat di depan rumah kost milik nyonya Tenshin. Seseorang dengan kaca mata hitam berkilau keluar dari taksi tersebut. Sekilas menatap sekeliling, ia hanya memastikan bahwa ini adalah tempat yang dulu pernah ia kunjungi. Ah, sudah sangat lama terjadi. Melangkah elegan melewati pintu gerbang yang ternyata tidak terkunci. Rasanya tak sabar ingin bertemu mereka. Seperti apa mereka sekarang? Bagaimana keadaan mereka?

Tok. Tok.

"Tunggu sebentar!" Suara dari dalam rumah terdengar. Hmm, rasanya ia tak asing lagi dengan suara bernada datar itu, sangat ia rindukan. Beberapa saat kemudian, suara ceklikan kunci pintu pun terdengar dan sosok pemuda berambut pantat ayam berdiri tepat di hadapannya.

"Uchiha Sasuke."

Yang dipanggil justru menautkan alis. Mimik wajahnya mengguratkan tanya, siapa orang ini? Oh, lihat kaca mata hitamnya yang sangat besar seperti spion itu, silau. Si stoic hanya mengamati tamu itu ujung rambut hingga ujung kaki. Eng, penampilannya sangat keren dan...

"Hey, Sasuke! Kenapa tidak menyambut kakakmu?" Membuka kaca mata hitamnya, Itachi sungguh kecewa pada adik kecilnya. Dua tahun tidak bertemu saja membuat Sasuke lupa pada kakak Sulungnya.

"Oh, hey! Ternyata kau Itachi, kenapa jadi? Ah!" Mengamati kakak sulungnya lekat. Waw, fantastis. Ini sih, beda banget! Sasuke masih ingat terakhir kali bertemu Itachi, saat itu Itachi masih memakai sarung dan peci, seperti Pak Haji gitulah.

"Astaga," gumam Sasuke tak percaya.

"Kau tidak mempersilahkan kakakmu ini masuk?" Itachi tersenyum, membuat keriput-keriput di sekitar wajahnya makin nampak jelas. "Mungkin aku bisa menjelaskan apa yang terjadi pada hidupmu belakangan ini."

"Jadi, selama ini kau pergi ke luar negri? Untuk apa? Dapat beasiswa kuliah?" tebak Sasuke. Ia meletakkan teh manis yang baru saja diseduh di meja ruang tamu.

"Ah, bukan! Sebenarnya aku jadi TKJ."

Menautkan alis, Sasuke menatap heran pada Itachi. TKJ? Jangan bilang kalau itu Tenaga Kerja Jepang.

"Maksudmu-"

"Iya, hehe. Yah, kau tahu sendirilah, gaji buruh bangunan di Taiwan itu sangat besar, dua tahun di sana saja aku sudah bisa membeli rumah kecil dan pastinya aku siap bertanggung jawab, akhirnya-"

"Tunggu! Jangan bilang..."

"Apa?"

"KALAU KAU ADALAH BAPAK DARI KYO!"

Dan beberapa urat nadi menonjol di wajah Sasuke. Itachi hanya dapat tersenyum kaku. Ah, oke! oke! Itachi mengaku. Kepergiannya keluar negri tidak lain karena ingin mengumpulkan modal untuk menikahi Karin, dan tentu saja orang taunya akan sangat marah jika tahu anak sulungnya sampai membuat anak gadis orang berbadan dua. Lebih baik pergi dan pulang dengan banyak uang. Hahaha, ide cerdik bukan? Tak bisa disangkal, jika banyak uang, Mikoto tak mungkin bisa marah padanya.

"Maaf, Karin... Aku belum bisa pulang, bertahanlah demi bayi kita."

Itachi masih ingat, betapa kejamnya ia pada Karin, kekasih yang telah lama ia tinggal pergi.

"Agar kau tidak menahan aib sendiri, datanglah pada Sasuke, ia akan mewakiliku menjagamu sementara waktu. Dan ingat, untuk sementara jangan beritahu Ibu kalau Kyo itu anakku. Oke!"

Itachi, oh Itachi! Kakak macam apa kau? Melimpahkan aib pada adik sendiri. Tapi. Karin begitu penurut. Bahkan gadis itu sama sekali tak melancarkan protes.

"I-ta-chi!" Dada Sasuke naik-turun. Entah apa yang ia rasakan kini. Amarah, emosi, dendam, jika tiga ramuan buruk itu tercampur jadi satu, mungkin tak lama lagi akan terjadi ledakan yang sangat hebat. Dan, hey, Itachi ! Punya berapa nyawa kau saat berhadapan dengan kemarahan si bungsu?

"Err..." beringsut sejenak. Rasanya Itachi merasakan firasat buruk.

"Hiiiaaaaa..."

"Ampuuuun!"

.

"Maaf, merepotkanmu. Sampai jumpa lagi, Sasuke." Karin melambai dari kaca mobil taksi yang sudah bergerak pelan. Sasuke tersenyum simpul membalas lambaian Karin, namun ia tarik kembali senyum tulusnya ketika matanya bertatapan dengan wajah Itachi yang penuh luka lebam. Hn, Itachi pantas mendapatkannya, batin Sasuke sambil meremas tangan kanannya yang juga terasa nyeri.

"Jangan pernah kau limpahkan lagi tanggung jawabmu pada orang lain," ancam Sasuke dengan paras angker, sementara Itachi buru-buru mengangguk.

"Jangan lupa, jelaskan pada Ibu kalau Kyo bukan anakku, melainkan anak begundal bermuka keriput."

Sayang, mungkin Itachi tidak dapat mendengar kalimat teriakhirnya, karena taksi yang mereka tumpangi sudah melaju jauh.


Hyuuga Hinata, ia hanya bertumpu dagu saat menatap Gaara yang tertidur dengan kedua lengan yang terlipat di atas meja sebagai penopang wajahnya. Pasti Gaara kelelahan, jadi merasa tidak enak, membuat Gaara harus mengajarinya beberapa materi yang tak kunjung dimengerti, sampai-sampai membuat sang asisten Dosen itu ketiduran. Dia sangat tampan meski sedang terlelap. Rambut depannya yang tersingkap membuat tato Ai di dahi kirinya terlihat jelas. Eng, merah dan sungguh seksi. Entah siapa yang berinisiatif membuat tato Ai di sana. Yang jelas sejak melihat tato itu, Hinata juga tertarik untuk mengukir nama Hinata dengan warna indigo di kening Sasuke, tapi sayang si raven menolak mentah-mentah permintaan itu.

"Eh? Apa itu?" gumam Hinata, pelan. Ia mendekatkan wajahnya pada Gaara, hanya berniat meraih bulu mata yang tertempel di hidung pemuda itu.

"Pasti ada yang merindukanmu," bisik Hinata dan segera meraih bulu kecil di ujung hidung mancung Gaara.

"Kau mau apa?"

Astaga!
Hinata menarik kembali tangannya. Ia mengerjap beberapa kali saat didapatinya Gaara sudah membuka matanya, masih terlihat mengantuk. Entah mengapa Hinata merasa Gaara terlihat sangat imut. Seperti bayi panda yang baru terbangun dari tidurnya.

Hey! Hey! Jangan salah paham dulu. Hinata mengagumi paras menawan Gaara, bukan berarti jatuh cinta pada pemuda itu. Ada sebuah rahasia yang perlu kalian tahu, Hinata yang terhormat ini sama seperti gadis lain, dibalik sikapnya yang lembut dan elegan, juga ada naluri puber. Yah, bisa dibayangkan ketika gadis seusianya tengah menyaksikan video klip TVXQ, Super Junior atau justru band-band Visual Key dengan member-membernya yang teramat-amat-amat tampan itu diputar di TV, saat itu tak ada jarak antara mata dan layar televisi. Ternganga sambil sesekali menciumi layar televisi ketika personil favoritnya dapat giliran nyanyi. Mungkin bisa perasaanya terhadap Gaara dapat dianalogikan seperti itu, hanya sekedar suka, bukan perasaan khusus. Ingat! Nona Hyuuga bukan wanita gampangan. Yah, memang beberapa saat lalu, ia sempat berpikir untuk menjadi playgirl dan Gaara adalah mangsanya, tapi ternyata? Mana tega Hinata melakukan itu? Gaara terlampau baik untuk dipermainkan, Gaara tak pantas disakiti.


Sai duduk termenung di halte bus seorang diri. Resah dan gelisah. Bukan berarti memikirkan masalahnya dengan Sasuke. Yah,memang hal itu mengganjal pikirannya, tapi di saat seperti ini bukan waktunya memikirkan soal Sasuke, karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi satupun tak ada bus yang lewat. Di saat seperti ini, Sai benar-benar kesal pada Ibunya. Wanita yang dulu sering sekali menceritakan kisah seram di halte bus sebelum ia tidur. Tentang wanita berambut panjang duduk seorang diri di halte bus, wajahnya yang sangat cantik pasti menarik perhatian pejalan kaki yang kebetulan lewat. Di saat bertemu pria hidung belang itulah, akan dipamerkan punggung yang berlubang, iyuh! Sai membekap wajahnya, merinding. Entah perasaannya sendiri atau udara tiba-tiba bertiup bagai melodi horror yang membuat bulu-bulu kuduknya berdiri.

Tes. Tes. Tes.

Tersentak. Sai perlahan menurunkan jemari yang sempat bertender di wajahnya. Menengadah kecil hanya untuk memastikan apa yang terjadi.

Hujan?

Owh, sempurna sekali.

Merapatkan jas almamaternya dan menengok ke kanan, berharap ada kendaraan besar yang akan mengantarkannya pulang. Atau, minta tolong seseorang menjemputnya? Sasuke? Mustahil. Shion? Oh, gadis itu akan tertawa riang jika Sai dilanda kesusahan. Tenten? Ah, tidak terimakasih. Chouji? Amit-amit jabang baby.

Cukup lama Sai mengutak-atik kontak dalam ponsel flipnya. Dan satu nama ia putuskan untuk dihubungi.

"Maaf, sudah menunggu lama."

Sai membulatkan kelopak matanya. Terkejut sekaligus lega. Siapa sangka wanita blonde itu benar-benar datang?

"Ah tidak apa-apa," gugup Sai menjawab. Dan ini adalah kali pertama si buaya bersikap gugup. Seseorang dalam sedan putih itu mengeluarkan payung dan melangkah cekatan menghampiri Sai. "Astaga, Sai! Kau tahu ini sudah jam berapa? Hampir jam 8, dan kau masih ada di sini? Jam berapa kau selesai kuliah tadi?"

Sai menggigit ibu jarinya, "Sepertinya jam 5 sore. Eng, tadi aku... harus menyelesaikan tugas yang kemarin kulupakan, hehe." Tertawa canggung sambil menggaruk tengkuk seperti orang binggung, menurut wanita itu lucu juga.

"Ah, sudahlah! Kau bisa masuk angin, ayo kuantar kau pulang," katanya sembari meraih tangan Sai yang sudah sedingin es.

"Tu-tunggu, Sensei!" Matanya yang sedikit kemerahan karena mengantuk menatap sosok wanita yang jauh lebih tua darinya itu. "Terimakasih, kau sudah datang."

Suara Sai nyaris tak terdengar. Ah, andai Tsunade tak memperhatikan bibir pemuda itu, mungkin ia tak tahu Sai berkata apa. Tsunade tersenyum singkat pada mahasiwa tampan itu.

"Ha-haattchiii"

"Ah, sudah kuduga, kau pasti masuk angin."

"Hanya bersin saja, Sensei. Tak masalah." Sai berdiri dari duduknya, mengekor Tsunade yang kembali masuk ke mobilnya dan duduk di belakang kemudi. Dari kaca spion di atasnya, Tsunade dapat melihat sesuatu yang berbeda dari pemuda di sampingnya.

"Sai... kau terserang flu, wajahmu pucat sekali."

"Eh, jangan meledek, Sensei. Dari dulu kulitku memang pucat." Sai tersenyum tawar. Yah, dari dulu ia tak suka ada yang membahas kulitnya yang sangat putih. Demi Tuhan, Sai tak pernah melakukan perawatan kulit atau mandi susu seperti yang dituduhkan sebagian besar teman kampusnya.

"Tidak, ini jauh lebih pucat dari biasanya," seru Tsunade, yakin.

"Andai aku bawa cermin, rasanya aku ingin melihat wajahku."

"Andai aku bawa stetoskop. Aku ingin memeriksamu saat ini."

"Jangan berlebihan, Sensei."

"Jangan meremehkan, Sai."

"Huh, rasanya aku ingin segera pulang dan tidur."

"Kau tak akan pulang hari ini,"

"...? Jangan bilang Sensei akan menyekapku di hotel. Demi Tuhan, jangan lakukan itu. Aku masih perjaka." Dan dengan paras tak bersalah Sai berucap. Tentu saja sudut siku-siku terbentuk di kening Tsunade. Mahasiswanya satu benar-benar deh.

"...? Kau pikir aku Chouji?"
Hahaha, jangan sangka Tsunade tak mampu membalikkan keadaan. Sekarang skor satu sama.

"Stop! Jangan sebut nama itu, aku mual."

"Hahaha, lupakan. Malam ini kau menginap di tempat praktekku, aku harus pastikan pasienku benar-benar sembuh."

"Ih, siapa pasienmu? Siapa yang sakit?" Sai mengernyit. Petugas kesehatan di kampusnya ini terlihat aneh sekali hari ini.

"Nafasmu mulai tak teratur, Sai. Kau pasti mulai demam."

"Berhenti bicara, Sensei. Fokuslah menyetir, kau bisa menabrak."

Dan perdebatan tak berujung menyertai perjalanan mereka menuju tempat praktek Dr. Tsunade di pusat kota Tokyo.

Sungkup stetoskop ia tempelkan di dada Sai. Dan degup jantung luar biasa cepat ia dengar di sana. Ya, sangat jelas. Ini buruk, sepertinya Sai benar-benar sakit. "Apa yang kau rasakan?"

"Berdebar, sensei. Kau membuatku gemetaran."

"Ah, maksudku..."

"Apa?"

DEG!

Sai memiringkan tubuhnya, membelakangi Tsunade yang masih bertahan dengan ekspresi bingungnya.

"Shimu- oh, hey! aku belum selesai memeriksamu? Kenapa kau ini?" Tsunade heran melihat Sai yang menenggelamkan tubuhnya dalam selimut, bahkan wajahnya kini sama sekali tak telihat. "Sudah kubilang, Sensei! Aku tidak apa-apa, hanya mengtuk. Eeeng, jadi bisa kupinjam kamar ini, sendiri?"

"Its okey," Tsunade menyerah. Sekilas mengangkat tangannya ke atas dan lantas keluar dari ruangan, membiarkan Sai seorang diri di sana. Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas sekujur tubuhnya kini penuh peluh dan detak jantungnya tidak karuan.


"Astaga, Sasuke!" Ibu kost menepuk jidatnya. "Ibu lupa, kemarin ada gadis yang mencarimu."

"Gadis?"

"Iya, ia membawa rantang berisi makanan. Ah, pasti sekarang sudah basi di dapur. Maaf, bibi benar-benar lupa."

"Apa dia gadis berambut panjang sepinggang dengan poni seperti boneka barbie?" tebak Sasuke yang mendapat anggukan dari Ibu kost.

"Tapi, saat itu kau sedang membeli susu untuk anakmu -ah, maksudku anak kakakmu."

Sasuke terbelalak kaget. Ja-jadi? Ibu kost yang membahas tentang 'anak' dengan Hinata? Owh, shit! Di mana Sai sekarang? Demi Tuhan, Sasuke ingin berlutut dan meminta maaf pada sahabatnya itu.

Meremas rambut cepaknya dengan erat, sungguh! Sasuke menyesal atas sikapnya pada Sai yang tak bersalah itu.

"Apa Ibu melihat Sai?"

"Sai? Oh, astaga! Jam berapa ini? Dia belum pulang."

"Belum? Oh, Sai! Di mana anak itu?" Sasuke meraih ponselnya, menekan nomor 2 dimana ia meletakan panggilan cepat untuk Sai. Menunggu sebentar dan suara pemberitahuan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. Sasuke mengumpat kesal sebelum menekan angka 1 untuk menghubungi Hinata. Ada kebenaran yang harus Hinata ketahui. Dan, hasilnya? Tak ada jawaban.

"Bagus! Mengapa telepon seluler sungguh tidak berguna saat ini?" Si raven menghempaskan dirinya di sofa ruang tv, memijat pangkal hidungnya sejenak. "Che, aku seperti dipermainkan nasib."

"Hoaeeemm... ibu ngantuk, tidur duluan yah. Dah!"

Dan lipatan-lipatan ganda menghias kening Sasuke ketika dilihatnya ibu kost-nya melenggang tanpa rasa bersalah. Kurang ajar, kau pikir karena siapa ini sampai terjadi? Batin Sasuke jingkrak-jingkrak dibalik raut datarnya.

"Wah? Iya, hallo?"

Sasuke hampir saja tertidur ketika tiba-tiba mendengar suara Tenten yang mengobrol di ponselnya sambil mondar-mandir di sekitar Sasuke. Sasuke hanya mengernyit ketika melihat Tenten menggoyang-goyangkan hp-nya ke atas dengan frustasi.

"Hallo? Tidak dengar... aduh, di sini signalnya jelek sekali, hallo... hallo... apa? Sai kenapa?"

Apa? Tadi membahas Sai, bukan? Seketika Sasuke bangkit dari pembaringan dan memasang telinga baik-baik. "Hallo? Yah, tut... tut..." Tenten tertunduk lesu. Ditatapnya layar hp yang menandakan panggilan telah berakhir.

"Ada apa?"

"Mana kutahu, telponya tadi mati!"

Tak memperbaiki keadaan, Tenten justru membuat perasaan Sasuke makin kacau saja. Oke, Sasuke menyerah, besok saja ia selesaikan masalah dengan Hinata maupun Sai. Untuk saat ini si raven kalah oleh rasa ngantuk.


"Jadi... begitulah ceritanya," Sasuke mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas panjang. Dihadapannya, Hinata duduk dengan perasaan bersalah. "Maaf, Sasuke."

"Bukan salahmu, ini semua salah Itachi."

"Jadi?" Hinata tersenyum simpul. Ia menjatuhkan wajahnya yang memerah.

"Jadi apa?"

"Itu... ano..."

"Apa?"

"Eng... eto..."

"What the hell?"

"Aish! Sejak kapan si jenius Sasuke jadi blo'on?"

"A-apa?"

Hinata berdiri dari duduknya, mempermainkan jari telunjuknya sekilas lantas membalik tubuhnya membelakangi Sasuke.

"Kita... tidak jadi putus, kan?"

"A-apa?" Sungguh, Sasuke ingin tertawa saat ini, tapi mengingat Hinata yang mungkin saja sudah kehilangan 'wajah' di hadapannya.

"Yah, tentu saja tidak," jawab Sasuke dengan seringaiannya yang khas. Ada rasa lega dalam hati Hinata, sebelumnya ia ragu, apa hidupnya masih normal jika tanpa Sasuke? Ah, rasanya tidak mungkin.

Dara cantik itu tersentak ketika tiba-tiba lengan kokoh melingkar di pundaknya. Berat memang, tapi rasanya hangat dan nyaman. Teruslah seperti ini, Sasuke. Hinata tidak keberatan.

"Ayo, kita ke kelas. Sebentar lagi mata kuliah dimulai."

Mengangguk kecil, dengan malu-malu Hinata menyandarkan kepalanya di pundak Sasuke. Dan dua sejoli itu melangkah pelan menuju kelas. Entahlah, kali ini Hinata merasa dunia ini hanya miliknya dan Sasuke. Yang lain? Cuma ngekost! Buktinya kini gadis pemilik rambut indigo itu tak peduli meski puluhan pasang mata dengan tatapan iri menyorotnya. Khususnya mata-mata para fansgirl yang menggilai Sasuke. Yah, siapa yang tidak terpesona pada Sasuke? Si pemuda paling sexi, tampan, berkarisma dan jenius! -ah, siapa yang peduli meskipun dia... melarat. Oke, memang di dunia ini tak ada seorangpun yang sempurna, tapi jika Sasuke punya modal tampang menawan dan otak cemerlang, bukan hal yang sulit untuk merauk materi melimpah. Jadi model, bintang film, atau jadi dosen? Gampanglah.

"Hei, lihat siapa yang baru saja datang!"

"Hei Sasuke, bukankah dia temanmu? Wah, buaya itu... bahkan Tsunade-sensei pun dia sikat."

Uchiha bungsu tak bergeming. Atau lebih tepatnya tak mengerti pokok bahasan yang dibicarakan beberapa mahasiswa yang mengobrol di sekitar tempat parkir.

"Hei, Sasuke... perhatikan di sana," mahasiswa berkaca mata itu menunjuk sedan putih yang baru saja terpakir rapi di tempatnya. Sasuke dan Hinata hanya menatapnya dari jauh. Dan, oh astaga! Bukankah itu Sai? Be-berdua dengan Tsunade, dan semalaman dia tidak pulang. Eng, tidak! Jangan sampai Sai jadi pemuas hasrat tante-tante haus belaian.


"Baik, kita akhiri mata kuliah sampai di sini." Gaara mengemasi buku-bukunya sebelum meninggalkan kelas dan bergegas menuju ruang sebelah untuk menyampaikan materi. Suatu kelegaan tersendiri untuk seorang Uchiha. Dengan begitu ia tak perlu berlama-lama menatap si wajah panda itu lebih lama. Dan, ia bisa lega ketika tahu hari ini Hinata harus bertugas di UKS menemani Tsunade. Che, pantas si Gaara seperti orang terburu-buru saat mengajar tadi, tak ada alasan baginya untuk berlama-lama di kelas sih.

Setelah mengemasi buku-bukunya, Sasuke menunggu agar kelas benar-benar sepi sebelum menghampiri Sai yang duduk di bangku paling depan. Pemuda itu masih berkutat dengan catatannya.

"Ehem, aku melihatmu turun dari mobil Tsunade pagi tadi." Sasuke duduk di samping Sai. Bukannya mendapat respon, justru tatapan aneh yang Sasuke dapatkan. Sai, tak tersenyum, juga tak terlihat seperti orang marah. Dia hanya menatap Sasuke dalam diam selama beberapa saat.

"Apa?" tanya Sasuke, sok angkuh. Sementara Sai mengerjap beberapa kali. "Kau... bicara padaku?" tanyanya ragu dengan menunjuk diri sendiri.

"Kukira kau bukan temanku lagi, Sasuke," desis Sai nyaris tak terdengar.

"Oh, itu..."

"Ah, iya. Ada seseorang yang bilang bahwa aku tak pantas punya teman," kata Sai datar. Dan kali ini Sasuke melihat ada gurat perih di mata sahabat malangnya itu.

"Sai, sebenarnya itu-"

"Satu-persatu orang membenciku, Sasuke. Dan kau, kau juga membenciku, besok bisa saja Ibu kemudian kakek yang membenciku, dan jika itu terjadi, maka aku akan mati."

"Hey, bodoh!" Sasuke mencengkram pundak Sai hingga pemuda pucat itu merasakan nyeri di sepasang pundaknya. Hah, ini seperti dicengkram kaki-kaki elang yang kuat.

"Bicara apa kau, hah?" bentak Sasuke tepat di wajahnya, hingga Sai dapat menghirup nafas Sasuke yang seperti mint, ada rasa syukur dibenak Sai, karena meski ibu kost suka masak jengkol, tapi Sasuke lebih rajin menggosok giginya.

"Kenapa?"

"Oke. Aku menyesal soal yang kemarin, maaf..."

"Kenapa minta maaf?" tanya Sai tanpa intonasi. Sementara Sasuke memutar bola matanya, "jangan banyak bicara lagi. Aku tahu kau lebih pintar dari yang terlihat."

"Sasuke..."

"Hn."

"Sakit."

"Ha?"

"Ba-huku..."

Oh, Sasuke baru sadar kalau sejak tadi ia mencengkram bahu Sai. Ucapan pemuda pucat tentang kematian membuat Sasuke reflek melakukan itu. Tapi sayangnya, berpasang-pasang mata fujoshi terlanjur menatap dua pemuda yang kini saling berdekatan itu dengan hidung berlinangan darah. Sangat romantis, batin mereka -bahkan salah satunya terlihat agresif di mata para fujo-, penuh antusias mereka mengambil gambar dari kamera hape yang pastinya sudah mematikan slash dan suara camera agar tidak ketahuan. "Ternyata Sasuke seorang gay," bisik salah seorang dari mereka.

"Hush! jaga bicaramu, itu namanya fitnah! Faktanya Sasuke itu B!"

"B?"

"Yah, kau tahulah, B itu apa..."

Entah sejak kapan Hyuuga Hinata berdiri di antara para gadis fujo. Ia hanya menggigit jari telunjuknya dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan sebal.

OWARI


*Hening*

Muahahahahahahaha...
geje ye, iye... Dari awal saya juga uda bilang, kalo ini hanya fanfiksi ringan, saya gak ngasih konflik yang neko-neko. Hanya sekedar coretan.

Ehem, betapa saya ketawa pas baca ulang fic ini. Bukan karena homor, tapi alur ceritanya yang gubrak abis.

Yah, silahkan kritik dan sarannya xD