Harvest Moon DS CUTE © Natsume Inc.

Secret and Truth © DarkFantasia

Alur datar, OOC, typos, AU dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

.

=SecretandTruth=

"Gray?"

"Ya, Gray. Gray Smith. Hahaha." Wanita itu tertawa di atas kebingunganku. Aku tidak mengerti.

"Siapa Gray? Oh, kalian salah orang. Lepas," pintaku secara halus. Aku tidak mau mencari keributan di daerah orang lain, daerah yang tidak kukenal. Aku sudah cukup banyak berulah, teman-temanku sejak kecil juga mengenalku sebagai berandal. Dan aku tahu omongan orang-orang itu melukai hati Ibu, maka itu aku ingin menjadi anak baik-baik.

"Kau pikir kita akan melepaskanmu begitu saja? Kau salah." Kedua tangan wanita itu dilipat di depan dada, menunjukkan gayanya yang benar-benar angkuh. Ah, aku benar-benar khawatir Ibu yang cemas karena putri semata wayangnya yang belum pulang juga. Wanita itu mengambil tasku yang ada di sebelahku, kemudian mengeluarkan korek api.

"Hei, kau mau apa? Berikan tas itu padaku!" Aku menggeliat, berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuhku. Dia tersenyum licik.

Ctek

Tak perlu menunggu waktu lama, tas berwarna oranye pemberian Ibuku itu terbakar di depan kedua mataku sendiri. Aku menggeram, benar-benar kurang ajar!

"HEI, TASKU!" Berontak sekuat tenaga, walau aku tahu itu percuma.

"LEPASIN! AKU TIDAK KENAL G—"

PLAK

Aku hanya terdiam saat pipi kiriku menjadi tempat mendaratnya tamparan dari wanita asing itu. Pedas rasanya, baru sekali ini aku merasakan ditampar. Butuh waktu untuk aku mengerti apa yang terjadi,

"KAU PIKIR KAU SIAPA, WANITA JAL***? BERANINYA KAU MENAMPARKU! LEPAS! #^%&$(*&$!"

Dia mendekatiku, mengangkat daguku dan menatap mataku dalam-dalam. Cih! Aku hanya bisa memberikan tatapan menantang.

"Kau akan pulang setelah mendapatkan pelajaran tentang sopan-santun, dan juga kalau Gray rela melakukan apa saja untukku!"

Ck, apa-apaan? Graypun aku tak kenal! Siapapun dia, pasti akan kubuat menyesal karena dia adalah penyebab semua ini!

Wanita itu bangkit, menuju pintu keluar. Melenggang dengan anggunnya, sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia memiliki kepribadian yang buruk.

"Zack, Cody, bawa dia ke ruang bawah tanah. Saya akan menyusul." Kedua algojo itu mengangguk dan menyeretku ke sebuah tangga menuju arah bawah. Kasar sekali, perlakuan mereka seperti sedang menghadapi binatang. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku.

"Hei, kalian tidak dengar ya? Aku bilang LEPAS!" berontakku, seraya menendang-nendang mereka.

"Nona kecil, sudah kubilang diam saja! Kalau kami punya kuasa terhadapmu, tubuhmu mungkin sudah biru semua!" bentak salah satu di antara mereka, tak kalah kerasnya dengan suaraku. Huh? Mereka pikir sedari tadi mereka memperlakukanku dengan baik?

Ruangan yang sempit dan gelap, itulah yang pertama kali melintas di benakku saat tiba di ruangan yang mereka sebut bawah tanah. Dan pengap, lebih pengap dari pada ruangan yang sebelumnya. Juga becek, menjijikkan. Aku hanya menatapi sekeliling ruangan dengan memicingkan mata dan pandangan tidak percaya.

BRUK

"Hei, apa-apaan kalian? Katanya tidak mau mengasariku?" tanyaku jengkel karena tiba-tiba didorong hingga tersungkur. Tak ayal kakiku lecet-lecet dan bajuku menjadi kotor kecoklatan karena terkena lantai tanah yang lembab.

"Hei, jangan terlalu kasar dengan Nona Manis ini. Dia barang berharga bagiku." Wanita yang tadi datang dan menekan saklar lampu. Ruangan ini menjadi terang, terlihat bibirnya yang menyunggingkan senyum yang sinis, mungkin? Ah, andaikan aku tidak diikat seperti ini, kupastikan wajahnya sudah penuh cakaran kuku-kuku tanganku.

"Zack, sini pegang handycam ini. Kau rekam semua yang saya lakukan ke anak itu! Dan kamu Cody, plester mulutnya!" perintah wanita itu sambil menunjukku. Apa maksudnya! Aku sudah pernah ikut macam-macam casting—meskipun tidak pernah lolos—, tapi sekalipun belum pernah disuruh melakukan adegan seperti ini. Menjadi protagonis yang dilukai adalah peran yang benar-benar tidak cocok denganku.

Kedua lelaki itupun melakukan yang diperintah wanita itu. Menurut, tidak sedikitpun berkomentar, seperti sapi yang dicocok hidungnya saja. Aku sudah geram dan muak. Kekesalanku memuncak.

Saat lelaki yang dipanggil Cody itu mendekatiku dan membungkukkan badan, hendak memplester mulutku, amarahku memuncak. Sudah tidak bisa ditahan lagi.

BUGH

Tendanganku ke wajahnya tepat mengenai mata dan hidungnya hingga berdarah karena terhantam alas sepatuku yang terbuat dari plastik. Wanita itu tampak kaget, dan memerintahkan anak buah yang satunya untuk mendiamkanku.

"Zack, urusi dia sampai dia tidak membangkang lagi!" kata wanita itu. Zack mendekatiku. Aku yang duduk langsung saja menendang kakinya, namun sepertinya tak berpengaruh. Dengan mudahnya aku dicengkram dengan tangan-tangannya yang besar dan kasar. Iapun mengikatku ke sebuah kursi.

"Sudah kau diam saja. Menurut saja sama Nyonya selama kau masih sayang nyawa," kata pria itu sambil mengangkat daguku. Huh! Enak saja aku disuruh taat dengan manusia seperti dia. Melihatnya saja aku enggan.

"Nyonya? Wanita seperti itu kau panggil nyonya? Hah, di mana harga dirimu? Hanya punya badan dan otot! Miris sekali," ucapku dengan kesalnya.

"Aah! Anak kecil diam kau! Kurung saja dia! Besok saja kita mulai lagi permainannya," kata wanita itu sambil berlalu. Kedua lelaki itu mengikutinya keluar. Bagus! Jadi aku memiliki waktu untuk berpikir tentang langkah yang akan kuambil.

Cklek

Bisa ditebak, itu suara kunci—atau gembok juga memungkinkan. Memang seberapa pentingnya aku untuk mereka? Aku saja tak kenal mereka. Sebenarnya siapa Gray Smith? Temanku tidak ada yang bernama Gray. Saudaraku apalagi.

Huh, sudahlah. Siapapun yang bernama Gray itu, aku tak peduli. Gara-gara dia aku jadi seperti ini. Aku mengawasi sekelilingku. Betapa kotornya tempat ini. Di sini hanya ada tumpukan kayu, ventilator, meja, dan botol-botol bekas miras yang beberapa di antaranya sudah pecah menjadi beling. Tak ada barang lagi selain itu.

Hey! Botol kaca kan? Aku coba ah seperti yang di film-film itu...

.

Semenit. Dua menit.

.

Lima menit.

.

Hingga menit ketiga puluh.

.

"Yeah, bisa juga. Berhasil... berhasil... berhasil... hor—"

Tubuhku dan pikiranku membeku untuk beberapa saat.

"—apa yang barusan kukatakan? Ah, sudahlah, saatnya mencari jalan keluar."

Kedua mataku langsung menangkap sebuah ventilator, lubang yang berada sejajar dengan lantai. Aku mencoba menarik penutupnya yang sudah karatan di sana-sini. Catnya yang berwarna hitam juga sudah banyak yang terkelupas. Keras, benar-benar keras...

KREK

Begitu melihat ke dalamnya setelah terbuka, ternyata dibanding disebut ventilator lebih cocok disebut lorong pembuangan. Ya, lorong pembuangan air. Dengan seluruh perasaan jijik, karena harus melewati jalan satu-satunya yaitu lorong itu, juga sedikit rasa takut, karena tak adanya penerangan, dan tidak ada yang tahu jika makhluk-makhluk penghuni lorong yang becek itu sedang memangsaku. Apalagi dasarnya berlumpur. Ah, sepertinya aku terlalu banyak menonton televisi.

Akhirnya kukumpulkan semua keberanianku dan aku tempuh juga lorong sempit itu. Membungkukkan badan, berjalan sedikit demi sedikit. Entah seberapa panjang jalur yang kulewati ini.

GLEK

Aku menelan ludah saat terasa sesuatu melilit kaki kananku. Tubuhku gemetar, aku langsung mempercepat gerakanku.

BYUR

Sial, aku malah jatuh dan pastinya, seluruh tubuhku basah semua. Lilitan di kakiku semakin terasa kencang, kontan aku menjerit, aku tidak berani memeriksanya dan segera keluar dari tempat itu setelah melihat seberkas cahaya.

Mataku basah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupaku sekarang ini.

KENAPA TERPIKIRAN HAL BEGITU? Hal-hal negatif benar-benar mulai memenuhi isi kepalaku. Jangan bilang di kakiku ini...?

"Aaaaaaaaaa—"

BRUK

"H-Hei?"

=SecretandTruth=

.

TO BE CONTINUED

.

Whua, chapter dengan alur yang gaje dan singkat! Maafkan saya, reader... *sungkem

Fiksi ini tidak salah kan kalau dirate T? Hehehe

Juga masalah genre, sejujurnya saya masih ragu-ragu. Salahkah? (m)(_ _)(m) *sungkem (lagi)

Kritik, saran dan celaan membangun sangat dipersilakan di kolom review

-salam