.

.

Dokter Uchiha masih belum bergerak dari tempatnya semula ketika Sakura kembali ke nurse station. Dia bahkan tidak berpaling dari layar notebook-nya saat Sakura menghenyakkan diri di bangku tak jauh darinya, seolah-olah dia benar-benar tidak menyadari keberadaan orang lain selain dirinya sendiri di tempat itu. Mau tak mau Sakura penasaran juga dengan apa yang sedang dikerjakannya sejak tadi sampai-sampai membuatnya tidak memerhatikan sekelilingnya. Diam-diam Sakura mengerling ke layar notebook di depan sang dokter. Rupanya jurnal kesehatan—dia sedang belajar. Tidak heran katanya semua orang menyebutnya jenius, pikir Sakura.

Tak lama perhatiannya teralih, bukan lagi pada layar notebook sang dokter, melainkan pada sosoknya. Memang sangat mirip, Sakura membatin, teringat pada dokter favoritnya di bangsal anak. Fitur wajahnya nyaris sama dengan Dokter Uchiha Itachi—bentuk rahang, mata, hidung, bibir. Hanya saja yang ini terlihat lebih muda, warna kulitnya lebih terang dan tak ada garis dalam di bawah matanya seperti Dokter Itachi. Warna rambutnya juga lebih gelap dan berpotongan lebih pendek dibandingkan dengan milik dokter konsulen anak yang dikenalnya.

Tampan sekali ... Tidak heran Ino begitu memujanya. Ditambah lagi dia tak mengenakan jas putih membosankan itu, melainkan seragam dokter jaga berlengan pendek sehingga otot-otot bisepnya yang terbentuk bagus menyembul keluar. Gagah.

Merasa sedang diamati, pria itu menoleh. Sakura tersentak kaget ketika mata keduanya bersirobok. Tatapan mata hitamnya begitu tajam menusuk sampai-sampai membuat jantung gadis itu berdegup sangat kencang, darah terpompa ke wajahnya.

'Aduh! Aku akan dimarahi!'—Sakura membatin panik.

Satu menit berlalu, tidak ada yang terjadi. Gadis itu mengerling takut-takut ke arah sang dokter, lega luar biasa saat mendapati pria itu kembali memusatkan perhatian pada kegiatannya semua.

.

.

Menit demi menit berlalu dengan lambat. Sakura yang memutuskan mengisi waktu dengan membaca buku sakunya sembari sesekali mengawasi monitor utama mulai digelayuti rasa kantuk. Suara monitor yang monoton seakan menjadi lagu nina bobo baginya.

Peep ... peep ... peep ... peep ...

Menahan kuap, Sakura mengerling jam dinding. Padahal waktu belum menunjukkan tengah malam, mengapa dia sudah sangat mengantuk begini?

Dan tampaknya bukan hanya dia. Tak jauh dari tempatnya, Dokter Uchiha tampak kepayahan menahan matanya tetap terbuka. Berkali-kali pria itu menguap, meregangkan tubuh untuk mengusir kantuk, namun wajah lelahnya tak dapat menipu. Dia sudah bekerja terlalu keras, otak dan tubuhnya butuh istirahat.

Tersenyum kecil, Sakura meraih toples berisi permen kopi di atas meja, membukanya, lalu mengangsurkannya pada sang dokter. "Permen, Dok?"

Sang dokter yang nyaris jatuh tertidur mengerjapkan matanya. "Aa," katanya, mengambil sebungkus permen dari dalam toples.

Sakura menaruh toplesnya kembali ke tempat semula setelah mengambil satu untuk dirinya sendiri. Dari sudut matanya, gadis itu mengawasi Dokter Uchiha memakan permen miliknya. Tapi tampaknya sebutir permen kopi tidak membantu. Sakura hampir menawarkan diri untuk membeli kopi di mesin penjual kopi otomatis, sebelum dia ingat mesin itu letaknya di koridor di luar ICU—dan dia tidak berani berkeliaran di koridor seorang diri, terlebih di suasana rumah sakit yang sudah sangat sepi seperti ini.

"Kelihatannya lelah sekali," Sakura berkata gugup, mencoba membuka pembicaraan.

Dokter itu tidak menjawab, hanya mendengus kecil sambil memijat-mijat pangkal hidungnya.

"Istirahat saja dulu sebentar di kamar perawat. Kalau ada apa-apa, nanti saya bangunkan," gadis itu mengusulkan ragu-ragu. Bukan hal aneh jika dokter jaga seringkali menumpang istirahat di kamar perawat jika sedang lelah. Tapi Sakura tidak terlalu yakin dengan dokter yang satu ini, terlebih semua perawat yang berjaga bergender perempuan. Apa mau dia istirahat dalam satu ruangan dengan perempuan?

Dan jawaban yang kemudian muncul sesuai dugaannya.

"Tidak perlu," gerutu sang dokter.

Ini adalah kali pertama Sakura mendengarnya berbicara setelah setengah jam lebih duduk dalam satu ruangan—walaupun hanya dua kata. Suaranya dalam dan tenang, sekali lagi mengingatkannya pada Dokter Uchiha Itachi. Hanya saja ekspresi wajah mereka berbeda. Dokter Itachi selalu menampakkan wajah ramah ketika berbicara, alih-alih dingin seperti pria di sebelahnya ini. Tapi barangkali itu hanya bawaan lelah saja, Sakura mencoba berbaik sangka.

Hening lagi. Teringat omongan Tenten sebelumnya, ditambah sikap kurang ramah yang ditunjukkan pria di sebelahnya ini, Sakura jadi tidak tahu harus bicara apa. Mungkin sebaiknya dia diam saja dan mengurusi urusannya sendiri. Berusaha mengabaikan rasa takutnya yang semakin malam semakin menjadi-jadi, ditambah dengan penerangan di koridor yang remang-remang, Sakura kembali berkeliling ke tiga kamar untuk observasi dan dokumentasi pukul dua belas.

Sakura berkali-kali melirik ke arah nurse station saat sedang berada di kamar pasien Ino dan Tenten, memastikan Dokter Uchiha masih berada di sana. Setidaknya melihat keberadaan orang lain selain dirinya—dan pasien yang sedang tidur—di sana membuatnya sedikit lebih tenang. Tapi masalah sebenarnya terjadi saat dia harus pergi ke kamar pasien asuhannya sendiri yang berada di kamar kedua dari ujung koridor. Dadanya berdebar-debar, keringat dingin membanjir ... Sakura bisa merasakan panik menyerangnya. Gadis itu praktis berlari saat kembali ke nurse station.

"Kau baik-baik saja?"

Masih dengan napas terengah, Sakura menoleh dan mendapati Dokter Uchiha tengah memandanginya keheranan. Melihat perawat yang pucat pasi dan berkeringat dingin setelah kembali dari kamar pasien pastilah sangat aneh. Sakura merasakan darah kembali naik ke wajahnya. Dengan gugup gadis itu menyelipkan anak rambut yang terurai dari kucirannya ke belakang telinga.

"I—Iya, Dok," sahutnya cepat-cepat seraya menyunggingkan senyum canggung. Sakura menegakkan punggungnya, mengatur napas. Berusaha tidak terlihat terlalu panik.

"Kelihatannya tidak begitu." Dokter Uchiha menyorongkan toples permen yang tadi ditawarkan Sakura padanya ke arah gadis itu.

Sakura tampak ragu, sebelum akhirnya mengambil sebutir permen dan menggumamkan terimakasih pada sang dokter. Kemudian hening. Dengan tangan masih sedikit gemetar, Sakura mengambil buku daftar pasien dari rak dan mulai membuat daftar baru untuk dokumentasi shift malam. Sama sekali tidak menyadari tatapan sang dokter padanya.

"Bukankah kau perawat yang berdinas di bangsal anak?"

Tiba-tiba ditanya seperti itu, Sakura sedikit terkejut. Dari mana dokter itu tahu dia pindahan dari bangsal anak? "Eh—Iya. Saya baru tiga hari dipindahkan kemari," jawabnya canggung.

"Aa." Dokter Uchiha menganggukkan kepalanya tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu. "Kakakku cerita kalau salah satu perawat favoritnya dipindahtugaskan ke ICU."

"Kakak?" Sakura mengerjap.

"Uchiha Itachi, konsulen anak. Dia kakakku," jelasnya. Dan itu menjelaskan kemiripan yang luar biasa antara dua dokter beda usia yang sama-sama jenius itu. Juga mengapa pria itu tahu dia berasal dari bangsal anak. "Namaku Uchiha Sasuke, dari departemen penyakit dalam." Dokter Uchiha mengulurkan tangannya. "Panggil saja Sasuke."

"Aah—Haruno Sakura. Salam kenal, Sasuke." Sakura menyambut uluran tangan sang dokter dan menjabatnya. Genggaman tangannya yang terasa hangat dan mantap mengalirkan rasa nyaman yang tak dapat dijelaskan. "Ternyata adiknya. Pantas saja, kalian berdua sangat mirip," gadis itu tak dapat menahan diri berkomentar kemudian. "Malah tadinya kukira Anda Dokter Itachi yang ganti gaya rambut," tambahnya mencoba mengatasi kegugupannya dengan bergurau.

Sudut-sudut bibir sang dokter terangkat sedikit, membentuk seulas senyum tipis—membuatnya terlihat semakin tampan. "Dan operasi plastik," ujarnya dengan nada datar yang sama sambil menunjuk kulit di bawah matanya.

Sakura mengeluarkan tawa tertahan. "Dan mendadak amnesia soal kuping musang itu," imbuhnya lagi sambil meletakkan kedua tangan di sisi kepalanya, membuat gerakan dengan jarinya seperti kuping yang bergerak-gerak.

Dokter Uchiha Itachi, sesuai dengan namanya, terkenal dengan sebutan 'Dokter Musang'. Karena setiap visite ke pasien anak-anak, dia selalu mengenakan hiasan kuping hewan di kepalanya, dan kuping musang adalah yang paling sering dia pakai. Dia juga sering membawa-bawa boneka dinosaurus hijau kecil di sakunya. Menurutnya itu bisa sedikit mengurangi tingkat stres anak yang dihospitalisasi, sama halnya dengan alat-alat kesehatan dengan desain imut khusus untuk pasien anak. Kadang-kadang dia juga meminta para residen atau koas yang berada di bawah bimbingannya untuk melakukan hal yang sama, walaupun seringkali mereka enggan melakukannya. Dan Sakura sempat mengadopsi gayanya, dengan menggunakan hiasan kepala berbentuk telinga kucing saat bekerja di ruangan.

"Ah, itu ..." Sasuke mendengus kecil, "dia memang aneh."

"Tapi menurutku idenya keren," komentar Sakura, tersenyum.

"Kurasa itu karena istrinya veterinarian—dokter hewan."

Tertawa kecil, Sakura menatap dokter berwajah tampan itu antara takjub dan tak habis pikir. Ketika teringat kembali komentar Tenten mengenai Dokter Uchiha Sasuke, Sakura merasa rekannya itu sedang membicarakan orang lain alih-alih pria di hadapannya ini. Tadinya Sakura sudah bersiap menghadapi dingin dan tidak menyenangkan dari dokter itu sepanjang malam. Yah, Sasuke memang bukan orang yang paling hangat, ramah, murah senyum atau sebangsanya, tapi setidaknya dia menanggapi gurauannya, meski dengan nada datar. Dan dia juga pendengar yang baik.

Obrolan di antara kedua tenaga medis itu terjalin cukup mudah. Walaupun, tentu saja, pembicaraan didominasi oleh Sakura sementara Sasuke lebih banyak diam dan mendengarkan. Sudah menjadi kebiasaannya jika sudah sekali berbicara mengenai topik yang disukainya, Sakura sulit untuk berhenti. Lawan bicaranya bicara satu kalimat, dia akan membalasnya dengan panjang lebar. Mereka membicarakan pekerjaan, pasien, dan saat sang dokter bertanya apakah Sakura berminat meneruskan pendidikan, gadis itu segera menyambarnya dengan penuh semangat. Sakura mengungkapkan minatnya untuk melanjutkan ke tingkat magister keperawatan kritis, kampus mana yang menjadi incarannya, juga tentang keingannya yang terhalang masalah biaya. Rasanya Sakura tidak percaya ketika dokter tampan itu menawarinya bantuan untuk mendapatkan beasiswa dari rumah sakit!

Rasanya seperti mengobrol dengan teman lama, padahal mereka baru saja kenal tak lebih dari satu jam yang lalu.

Sayangnya sesi curhat colongan Sakura tersebut harus terhenti. Waktu menunjukkan pukul setengah satu dini hari ketika Sasuke menerima panggilan darurat dari Emergency Unit.

.

.

Peep ... peep ... peep ...

Waktu seakan kembali berjalan lambat. Suasana terasa lebih senyap dari sebelumnya, dan Sakura kembali dihinggapi perasaan dingin yang membuatnya tidak tenang. Mata hijaunya berkali-kali mengerling jam dinding. Masih dua puluh menit lagi sebelum dia bisa bergantian dengan Ino. Dahinya berkerut—hanya perasaannya saja atau jarum jam itu tak bergerak sejak tadi? Padahal rasanya sudah berjam-jam semenjak Sasuke pergi.

Dengan perasaan cemas Sakura melongok ke arah pintu masuk di ujung koridor, berharap kalau-kalau Sasuke kembali. Tapi lorong itu gelap. Tak ada tanda-tanda seseorang di sana. Sakura merasakan bulu kuduknya meremang. Jantungnya berdebar-debar tak keruan.

Sakura terlonjak ketika tiba-tiba suara infuse pump menjerit-jerit membelah kesunyian dari kamar nomor tujuh. Pasien Tenten. Gadis itu buru-buru melompat menuju kamar tersebut. Rupanya selang infus macet, menekuk di tangan pasien. Sakura cepat-cepat membereskan keributan kecil itu sebelum kabur ke kamar perawat. Tangannya banjir keringat.

"Ino ..." Sakura mengguncang-guncang tubuh Ino yang tengah tertidur di ranjang susun. "Ino, bangun ... Temani aku," gadis itu memohon.

"Nng?" Ino mendengus, bergerak dalam tidurnya. Kelopak matanya terbuka sedikit. "Apa, sih ...?" erangnya, jelas terusik.

"Temani aku di depan," Sakura merengek.

Ino mengusap matanya, melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Dia mengerang lagi. "Masih dua puluh menit lagi ..."

"Ino ..." Sakura menarik-narik lengan seragam Ino.

"Hai, hai ... Nanti jam satu aku ke depan." Dan Ino pun kembali terlelap.

Sakura menatap temannya itu jengkel. Sepertinya Ino tidak bisa diharapkan. Dia lalu mengalihkan perhatiannya pada Tenten yang tidur di bagian atas ranjang susun itu. Sakura baru hendak memanjat untuk membangunkannya saat telepon di nurse station berdering. Sakura mengurungkan niatnya dan bergegas kembali ke tempat tugasnya, merutuki Ino.

"ICCU," Sakura menyahut setelah mengangkat gagang telepon.

Hening.

Kerutan samar muncul di antara kedua alis sang perawat. "ICCU, bisa dibantu?" ulangnya.

Tak ada jawaban. Hanya suara berkeresak yang terdengar di seberang.

"Halo? Siapa di sana?"

Kali ini terdengar seperti suara napas seseorang, tapi masih tak ada yang bicara. Kemudian lamat-lamat terdengar suara derit halus pintu yang dibuka, disusul suara langkah kaki.

Tap ... tap ... tap ...

Sakura menahan napas. Perlahan, dia menurunkan gagang telepon dan meletakkannya kembali di tempatnya. Perasaan dingin yang tak wajar menyapunya saat dia memberanikan diri menoleh ke ujung koridor. Tak ada siapa pun di sana. Pintu masuk tertutup rapat, bergeming. Tak ada tanda-tanda seseorang masuk.

"Ya Tuhan ..." Sakura berbisik pada dirinya sendiri. "Aku pasti sedang berhalusinasi ... Tenang, Sakura, tenang ... tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan, berusaha menenangkan diri.

Sakura kembali mengerling jam dinding. Lima belas menit sebelum pukul satu dini hari. Sebaiknya aku mulai observasi sekarang saja, gadis itu memutuskan. Dan jangan berpikir macam-macam. Fokus, Sakura. Fokus!

Sakura memulai dengan pasien Tenten. Pertama-tama, mencatat tanda-tanda vital yang tertera di monitor, lalu membuat grafik. Selesai, dia lalu menghitung balance cairan dari infus, obat-obatan, dan urin. Selesai. Terakhir Sakura mengecek kembali jadwal obat. Tidak ada. Obat baru akan diberikan pukul dua. Selesai. Berpindah ke pasien Ino, Sakura melakukan alur yang sama.

"Konban wa ..."

Perawat berambut merah muda itu terlonjak kaget dari posisinya berjongkok di sisi tempat tidur pasien—dia sedang mengecek haluaran urin di urine bag—dan nyaris terjungkal ke belakang, saat suara itu menerobos indera pendengarannya. Sakura melompat berdiri, terbelalak kaget mendapati seorang laki-laki tua berdiri di sisi ranjang pasien di seberangnya.

.

.


Ternyata bukan dibagi jadi dua, tapi tiga. Biar adil setiap chapter dapet 2K+ :D

Makasih buat yang sudah review chapter 1. Um... di sini Sasuke itu dokter residen, bukan koas, dan usianya sudah mendekati 30 tahunan. Kalau Sakura sekitar pertengahan 20.

Yang nanya siapa pacarnya Tenten, kayanya ga penting buat dibahas yah. Da ga diceritain ini, cuma disebutin doang. Dibayangin aja siapa, bisa Gaara, Kankuro, Baki, atau malah OC :))

Mudah-mudahan chapter depan tamat :D