Chapter terakhir. Enjoy!

.

.

Sakura melompat berdiri, terbelalak kaget mendapati seorang laki-laki tua berdiri di sisi ranjang pasien di seberangnya.

Pria itu mengenakan jas putih lengan panjang yang biasa dipakai oleh dokter konsulen. Warnanya sudah agak lusuh. Pria itu berperawakan pendek—lebih pendek dari Sakura sendiri—dan rambutnya disisir ke belakang sudah sepenuhnya memutih. Dia memiliki tanda seperti kutil di hidung sebelah kanan dan dagunya ditumbuhi janggut yang juga sudah memutih. Wajahnya yang dipenuhi kerut-merut tersenyum hangat, yang entah mengapa menimbulkan perasaan tentram. Dan Sakura merasa pernah melihatnya entah di mana, tapi dia tidak ingat.

"Maaf, ya ... Aku pasti membuatmu terkejut," ujar pria tua itu kebapakan.

"Aah—" Sakura merasakan wajahnya merona. "T—Tidak apa-apa, Dokter ..." sahutnya ragu-ragu. Mata hijaunya melirik cepat pada nametag yang tersemat di saku depan jas putihnya. Prof. Dr. dr. Sarutobi Hiruzen, SpPD-KKV. Konsulen. –Ternyata memang konsulen, pikir Sakura. Barangkali mereka pernah berpapasan di suatu tempat di rumah sakit, itu sebabnya Sakura merasa pernah melihatnya.

"Dokter mau visite?" dia menyanyai sang dokter.

Dokter Sarutobi tidak menjawab. Dia hanya mengamati wajah Nyonya Chiyo yang tengah tertidur di ranjang.

"Ano ... Dokter Uchiha sedang dipanggil ke Emergency," beritahu Sakura. "Kalau Dokter ingin saya menghubungi—"

"Kau pasti sudah bekerja sangat keras. Terimakasih banyak, Nak," ucap Dokter Sarutobi menyela ucapannya.

Sakura memberinya senyum sopan. "Itu sudah tugas saya, Dokter." Gadis itu hendak membuka mulutnya lagi, tapi sang dokter kembali menyelanya,

"Tidak perlu memanggil Dokter Uchiha, Nak, aku hanya sebentar." Pria tua itu kembali memberinya senyum yang membuat Sakura ingin memanggilnya kakek, lalu menambahkan, "Nah, silakan lanjutkan tugasmu."

"Hai' ..." Sakura membungkuk kecil, kemudian berpaling untuk menyelesaikan dokumentasi untuk pasien asuhan Ino sebelum berpindah ke pasiennya sendiri di kamar dua. Keberadaan Dokter Sarutobi, walaupun ini adalah kali pertama Sakura melihatnya, membuatnya sedikit lebih tenang. Apalagi kelihatannya dokter itu baik sekali—dan murah senyum. Tidak seperti Dokter Orochimaru. Melihatnya saja sudah membuat Sakura merinding. Belum lagi cara bicaranya yang seperti mendesis itu.

Tapi apa tidak aneh?—kata suara lain dalam kepala Sakura—Mengapa aku tidak mendengarnya ketika dia masuk? Tiba-tiba saja dia sudah ada di sana ...

Dari kamar nomor dua, Sakura diam-diam memerhatikan sosok Dokter Sarutobi. Dahinya mengerut penuh ingin tahu saat dilihatnya dokter konsulen itu hanya berdiri bergeming, pandangannya lurus ke wajah pasien. Kelihatannya dia juga sedang bicara, tapi Sakura tak dapat mendengar suaranya.

Suara erangan serak Tuan Tazuna mengalihkan perhatian sang perawat. Mata pria itu terbuka. Rupanya dia terbangun. Tangannya yang ringkih menarik-narik selimut yang menutupi tubuhnya.

"Tazuna-san?" Sakura bergegas meninggalkan meja observasi dan menghampiri pasiennya. "Anda tidak apa-apa?"

Pria tua itu meringis miring, masih berusaha menarik-narik selimutnya dengan sebelah tangannya yang masih bisa digerakkan.

"Dingin?" tanya Sakura, menerka keluhan pasien dari gesturnya.

Tuan Tazuna mengangguk.

"Anda ingin selimut tambahan?"

Pria itu mengangguk lagi dengan susah payah.

Sakura lantas bergegas mengambil selimut tambahan dari lemari yang—untungnya—letaknya tak jauh dari kamar tersebut. Setelah dia kembali dan memasangkan selimut pada pasiennya, Tuan Tazuna kembali mengerang. Kali ini sambil berusaha menggerakkan tubuhnya ke arah samping.

"Anda ingin tidur miring?"

Pria itu memberinya senyum miring, yang dibalas Sakura dengan anggukan. Dengan hati-hati Sakura membantu Tuan Tazuna memiringkan tubuhnya, mengganjal punggung dan lutut dengan bantal tambahan, memastikan posisi selang infus dan kabel-kabel monitor tidak terganggu. Selesai, Sakura me-massage bagian punggung dan panggul sang pasien untuk melancarkan peredaran darahnya. Gadis itu membuat cacatan dalam kepalanya untuk meminta kasur anti dekubitus untuk pasiennya ini besok.

"Sudah lebih baikan, Tazuna-san?"

Sang pasien menjawab dengan anggukan kecil. "A—arigatou," ucapnya dengan susah payah.

Sakura merapikan letak selimut pasiennya, mengucapkan selamat tidur, lalu kembali ke meja observasi untuk menyelesaikan dokumentasinya. Tanpa sengaja pandangannya tertumbuk pada kamar nomor enam dan gadis itu sangat terkejut saat mendapati kamar itu kosong. Hanya ada Nyonya Chiyo yang tertidur. Sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan Dokter Sarutobi di sana.

Sejenak melupakan tugasnya, Sakura menjulurkan leher ke koridor, melongok ke arah nurse station—para dokter biasanya suka nongkrong dulu di sana sebelum pergi—tapi tampaknya tidak ada orang di sana.

Aneh ... apa dia sudah pergi? Tapi mengapa—sekali lagi—aku tidak menyadarinya? Padahal pintu masuk ICCU letaknya tepat di depan kamar nomor dua. Kalau dia keluar, harusnya aku melihatnya. Tapi ini ... Ah—tidak. Itu tidak mungkin. Pasti aku terlalu sibuk dengan Tazuna-san tadi sehingga tidak menyadarinya.

Menggeleng-geleng kuat-kuat, Sakura berusaha menepis pikiran-pikiran aneh dari dalam kepalanya, sebelum kemudian cepat-cepat menyelesaikan dokumentasinya. Selesai, dia lalu membuang handscoen di tempat sampah medis dan mencuci tangan di wastafel. Sakura menghela napas saat air hangat yang nyaman mengaliri tangannya, membuatnya sedikit rileks. Setelah ini dia bisa istirahat, pikirnya penuh syukur.

Namun gerakannya terhenti ketika tiba-tiba Sakura merasakan hembusan udara hangat di tengkuknya. Tubuhnya menegang merasakan gerakan kecil di belakangnya, seolah ada seseorang yang berdiri di sana. Sakura menahan napas.

Siapa?

Menahan napas, dengan cepat Sakura menoleh ke belakang.

Hening.

Tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya di koridor yang berpencahayaan remang itu. Ino dan Tenten masih berada di kamar perawat, dan Sasuke juga belum kembali dari Emergency Unit.

Sakura menghela napas panjang untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Dia pasti hanya membayangkannya saja tadi, pikirnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kekhawatirannya yang berlebihan menghadapi shift malam membuatnya bersugesti yang tidak-tidak. Sakura lantas segera menyudahi acara cuci tangannya dan bergegas kembali ke nurse station. Namun saat melewati kamar nomor enam, Sakura menghentikan langkahnya. Gadis itu tampak ragu sejenak.

Hanya ingin mengecek, tidak ada salahnya, kan?

Sakura memasuki kamar, mendekati meja observasi. Ditelusurinya lembar observasi tersebut, hingga pandangannya terpacang pada kolom catatan dokter. Gadis itu terhenyak, lega luar biasa saat mendapati tulisan tangan dan paraf Dokter Sarutobi di sana, di bawah catatan yang dituliskan Dokter Uchiha. Setidaknya itu membuktikan bahwa Dokter Sarutobi memang visite tadi, bukan hanya khayalannya saja—walaupun tulisan tangannya begitu keriting sehingga sulit sekali dibaca.

Akan tetapi kelegaannya itu tak berlangsung lama. Sakura baru saja hendak kembali ke nurse station ketika terdengar suara kucuran air dari arah koridor, tepatnya berasal dari wastafel tempatnya mencuci tangan barusan. Seketika gadis itu membeku di tempatnya. Perasaan hangat yang ditimbulkan oleh kelegaan yang dirasakan beberapa saat yang lalu seakan menguap begitu saja, digantikan perasaan kaget—ngeri.

Sakura berani bersumpah dia sudah mematikan kerannya tadi!

... atau dia tidak benar-benar mematikannya?

Sakura menggigit bibir bawah, mengumpulkan keberanian sementara menyeret langkah mendekati wastafel. Sekelilingnya mendadak hening. Suara detik monitor seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. Yang terdengar hanya suara detak jantungnya sendiri yang berdentum-dentum di telinganya. Tangannya terulur, gemetar. Jarak antara tangannya dan keran hanya tinggal beberapa senti lagi ketika kenop stainless steel itu mendadak bergerak dengan sendirinya, diiringi terhentinya aliran air.

Seketika darah terkuras dari wajahnya. Gadis itu hendak menjerit, tapi suaranya tak mau keluar. Dan seakan itu belum cukup membuatnya nyaris pingsan karena ketakutan, pintu masuk di ujung koridor mengayun membuka tanpa suara, kemudian menutup dengan sendirinya tanpa ada seorang pun yang menggerakkannya.

Tidak mungkin karena angin. Pintu itu berat ...

Ingin sekali rasanya Sakura berbalik dan kabur dari sana, tetapi kedua kakinya seakan merapat ke lantai. Tak bisa digerakkan. Dan tak hanya kedua kakinya, tetapi seluruh tubuhnya membeku di tempat. Kedua matanya terbelalak—panik.

Tuhan, tolong aku ...

"Sakura ..." lamat-lamat terdengar suara seseorang memanggilnya. Suara Ino. "Sakura!"

Sebuah tepukan keras di bahunya membuat Sakura tersentak. Tubuhnya mendadak limbung, dan saat berikutnya dia jatuh tersungkur ke lantai yang dingin. Napasnya terengah-engah.

"Astaga—kau kenapa, Sakura?"

Sakura mengangkat wajahnya, mendapati wajah Ino yang tengah menatapnya khawatir. Suara detik monitor menyerbu masuk—pendengarannya sudah kembali normal. "I—Ino?"

"Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ino.

"Aku ..." Sakura tampak linglung, "... jatuh?"

Sudut bibir Ino terangkat, membentuk cengiran yang tak mencapai matanya. Ada nada khawatir tersirat dalam suaranya saat dia bertanya, "Ngapain pakai acara jatuh segala, sih?" Ino menghela napas, lalu membantu Sakura berdiri. "Kenapa tidak membangunkan aku?"

Sakura tak menjawab. Dia menyapukan pandangannya berkeliling. "Jam berapa sekarang?"

"Hampir jam dua." Ino memberinya senyum menyesal.

"Sudah hampir jam dua?" Sakura terbelalak. Sudah selama itu? Terakhir kali dia melihat jam, masih pukul satu dini hari.

"Sori. Sepertinya aku terlalu lama tertidur." Ino mengekeh, sama sekali tidak menyadari ekspresi ngeri di wajah Sakura. "Kau pasti terlalu bersemangat bekerja sampai tidak menyadari waktu, ya?"

"Ah—" Sakura menatap ke arah Ino, bimbang. Rasanya ingin sekali menceritakan pada temannya itu apa yang baru saja dialaminya, tetapi kemudian Sakura mengurungkan niatnya. Tidak ada gunanya. Ino tidak akan memercayainya. Lagipula dia sudah berkata pada semua orang bahwa dia tidak memercayai hal-hal seperti itu. Bisa-bisa malah dia yang ditertawakan kalau Ino sampai menceritakan apa yang dia alami pada orang lain. "Yah ..." Sakura memaksakan diri nyengir. "Kurasa aku memang terlalu bersemangat sampai kelelahan begini."

Ino mendengus tertawa. "Jadi sekarang kau tidak takut lagi bekerja shift malam?"

Sakura hanya menjawab dengan kekehan setengah hati.

"Sa! Sekarang kau boleh istirahat. Biar aku yang berjaga. Hm?"

Tepat saat itu, telepon ruangan di nurse station berdering. Ino bergegas pergi untuk mengangkat telepon. Tak ingin ditinggal sendirian, Sakura yang masih sedikit shock dengan apa yang baru dialaminya, buru-buru mengikuti rekannya itu.

"Ada pasien baru dari Emergency," beritahu Ino pada Sakura setelah menutup telepon. "Bisa bantu aku sebentar, tidak? Onegai ..." gadis itu meringis.

Tanpa berpikir dua kali, Sakura langsung mengiyakan. Gadis itu langsung bergegasberanjak ke lemari mengambil alat-alat untuk mempersiapkan tempat tidur pasien, sementara Ino mengambil lembar observasi baru dari lemari yang lain. Tak lama kemudian, Sasuke kembali bersama dua orang perawat Emergency yang memindahkan pasien baru dari UGD.

Sakura tidak mengindahkan kata-kata Ino ketika rekan sejawatnya itu menyuruhnya beristirahat. Sekarang ini dia sangat membutuhkan pengalihan perhatian kalau tidak mau jadi gila gara-gara terpikir terus pada kejadian beberapa saat yang lalu—dan tampaknya Ino pun tak keberatan. Dia mengira Sakura tidak mau beristirahat karena ingin membuat Dokter Uchiha terkesan dan menyampaikan pemikirannya itu ketika sang dokter sedang tidak memerhatikan mereka.

Namun sebelum Sakura sempat membuka mulut untuk membantah, perhatian mereka teralih sepenuhnya.

Nyonya Chiyo mendadak jatuh ke kondisi kritis. Cardiac arrest. Sasuke berseru pada kedua perawat itu untuk mengaktifkan sistem emergency dan melakukan resusitasi segera.

Semua yang terjadi kemudian terasa begitu cepat. Sakura tidak terlalu mengingat kejadian detailnya. Yang ada dalam kepalanya saat itu hanyalah bagaimana menyelamatkan pasien. Dia ingat mendorong masuk troli emergency ke kamar nomor enam ketika Sasuke tengah melakukan CPR pada Nyonya Chiyo, kemudian dirinya yang membantu napas lansia itu dengan ambu bag sampai kedua tangannya terasa nyeri. Tenten bergabung bersama mereka tak lama kemudian, disusul dua orang dokter jaga yang ikut membantu.

Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk upaya menyelamatkan Nyonya Chiyo. Jantungnya sempat kembali berdetak, sebelum akhirnya dinyatakan plus—meninggal dunia—pada pukul tiga lewat dua puluh menit dini hari. Sakura tak bisa melupakan bagaimana terguncangnya cucu Nyonya Chiyo ketika pemuda berambut merah itu diberitahu tentang kondisi neneknya itu, dan bagaimana suara isak tangisnya memenuhi kamar nomor enam saat itu.

Siapa yang tidak akan terkejut—dan terguncang—mendengar berita yang begitu mendadak seperti itu? Sesaat lalu dinyatakan membaik, tetapi kemudian tiba-tiba jatuh ke kondisi kritis sampai akhirnya tak tertolong. Memang tidak ada yang mengetahui secara pasti umur manusia kecuali Penciptanya.

Dan yang jelas bagi Sakura, ini adalah pengalaman shift malam yang tak akan pernah bisa dia lupakan.

.

.

Satu bulan kemudian, shift pagi.

Sakura mengerling jam dinding di atas nurse station seraya meregangkan kedua lengannya. Sudah hampir jam istirahat makan siang, pikirnya lega. Pekerjaannya juga sudah selesai—hampir. Dia melongok ke deretan kamar pasien dan melihat beberapa mahasiswa perawat yang sedang praktek tengah sibuk mengisi lembar observasi.

Mereka semangat sekali.

Inilah enaknya bekerja di shift pagi—dan sore. Hampir selalu ada mahasiswa yang membantu. Mereka hanya tinggal mengawasi dan membimbing para calon perawat itu, selebihnya mereka bisa sedikit bersantai. Ruangan penuh sekalipun tidak masalah.

Sakura berpaling dari seorang mahasiswa praktek yang tengah mengosongkan urine bag yang sudah penuh dan menoleh ke arah dua senpai-nya, Izumo dan Kotetsu, yang sedari tadi tampak seru sekali melihat-lihat sebuah buku yang mereka temukan di lemari arsip. Sesekali mereka menunjuk-nunjuk sambil tertawa dan mengeluarkan komentar-komentar lucu. Penasaran, gadis itu lantas mendekat.

"Lagi melihat apa sih, Senpai? Sepertinya seru sekali?"

Izumo mengangkat wajahnya sementara Izumo membali lembar buku yang berukuran cukup besar di tangannya. "Ini lho, daftar profil para pejabat rumah sakit lama. Ada foto-foto masa muda para konsulen."

"Benarkah?" Sakura dengan antusias ikut melihat dari belakang bahu Kotetsu yang duduk di bangku. Dia langsung berhadapan dengan wajah muda Dokter Senjuu Tsunade, ahli bedah neurologi, yang sekarang menjabat sebagai direktur utama rumah sakit itu."Dokter Senjuu dari dulu tidak berubah," komentarnya.

"Dia memang awet muda. Dari dulu sampai sekarang masih tetap cantik," timpal Izumo, nyengir. "Tapi kau bakal pangling kalau melihat Dokter Orochimaru." Sambil terkekeh-kekeh, dia menyuruh kawannya membalik kembali ke halaman yang menampilkan wajah dokter yang dimaksud. Sakura ternganga. "Imut, kan?"

Melihat reaksi kouhai-nya, Kotetsu mendengus tertawa. "Itu belum seberapa, Sakura. Coba lihat Dokter Shimura Danzou dari bedah plastik. Ini ..." Pria yang baru saja menjadi seorang ayah itu kembali membalik halaman, lalu berhenti di profil seorang dokter muda tampan berambut gelap.

"Wah ..." Sekali lagi Sakura ternganga lebar. Begitu pula saat mereka membuka profil para dokter yang sudah sepuh lainnya, Dokter Utatane Koharu, lalu Dokter Mitokado Homura. Sakura benar-benar pangling melihat mereka semua masih tampak muda dan gagah. Dia juga melihat foto-foto perawat-perawat yang seangkatan dengan para dokter sesepuh itu, yang sebagian besar tidak dia kenali karena sudah pensiun.

Sampai akhirnya mereka membuka di halaman pertama, yang menampilkan profil seorang dokter berambut gelap yang disisir ke belakang. Walaupun terlihat masih muda, tapi sudah ada garis halus di bagian luar matanya. Tanda lahir seperti kutil menghiasi sebelah kanan hidung sang dokter. Wajah penuh senyum itu ... Sakura merasa tidak asing.

"Ini ... ?"

"Oh—Ini Dokter Sarutobi Hiruzen, ayah dari Dokter Sarutobi Asuma—dokter bedah orthopedi," jelas Kotetsu. "Dulunya pernah menjadi direktur utama di rumah sakit ini—sekitar dua puluh tahun yang lalu."

"Dan katanya dia adalah dokter paling jenius yang pernah ada di sini," timpal Izumo, menghela napas. "Dia ahli jantung, tapi dia juga menguasai hampir semua bidang kedokteran. Dokter Sarutobi ini dulunya terkenal sekali karena sangat rendah hati."

"Sepertinya tidak asing ..." Sakura mengerutkan dahi, mencoba mengingat-ingat kembali di mana dia pernah melihat dokter itu.

Kotetsu terkekeh, mendongak memandang kouhai-nya. "Tentu saja tidak asing. Fotonya dipajang di ruang auditorium. Ukurannya paling besar di antara yang lain."

Mendadak Sakura teringat sesuatu. Shift malam itu! "Ah, aku ingat. Aku pernah bertemu dengannya di sini saat shift malam!"

Mendengar itu, sontak Izumo dan Kotetsu bertukar pandang keheranan.

"Sakura, itu tidak mungkin," kata Izumo, menatap Sakura seakan dia orang aneh.

Sebelum Sakura sempat membuka mulut untuk bertanya, kata-kata Kotetsu berikutnya membuatnya membeku. "Dokter Sarutobi Hiruzen sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu."

Mulut Sakura membuka dan menutup seperti ikan yang diangkat dari dalam air. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar saking terkejutnya dengan informasi yang baru saja dia dengar ini. Wajahnya memucat.

"B—bagaimana—"

"Menurut cerita, Dokter Sarutobi meninggal dalam tugas," jelas Kotetsu, yang diangguki Izumo. "Beliau terkena serangan jantung ketika sedang visite besar bersama para residen. Semua residen yang ada bersamanya mencoba menyelamatkannya, tapi tidak berhasil."

Hening beberapa saat, sebelum kemudian Izumo menanyai Sakura. Dahinya berkerut dalam. "Kau tadi bilang kau bertemu dengannya?"

"E—Etto ..." Seakan baru tersadar dengan situasi yang dihadapinya, wajah Sakura berubah merah. "Mungkin saat itu aku hanya mengira melihatnya saja. Senpai tahu, kan, dokter di sini ada beberapa yang memelihara janggut seperti itu. Dan waktu itu aku sangat mengantuk," jawabnya cepat.

Izumo tampak memikirkan jawaban Sakura. "Yah ... mungkin saja," katanya sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Atau mungkin kau memang melihatnya, Sakura," kata Kotetsu sambil menutup buku itu di pangkuannya dan memandang kouhai-nya dengan raut serius. Pria itu memandang berkeliling sebelum kembali memandang Sakura dan bicara dengan suara rendah berahasia. Sakura sampai harus menundukkan tubuhnya supaya bisa mendengar. "Soalnya, beredar cerita, arwah Dokter Sarutobi kadang-kadang suka menampakkan diri di rumah sakit ini. Entah itu terlihat di antara para dokter yang sedang visite besar seperti sebelum dia meninggal, atau sendirian. Biasanya setelah dia muncul, ada pasien yang plus, seolah-olah dia datang untuk menjemput pasien-pasien itu. Apa saat kau shift malam ada pasien yang plus, Sakura?"

Ada. Nyonya Chiyo.

Bulu kuduk Sakura mendadak meremang. Namun sebelum dia sempat menjawab, Ino muncul dan mengamit lengannya.

"Hei, jadi makan siang dengan Dokter Uchiha, tidak?" serunya keras-keras, membuat beberapa dokter residen yang ada di situ menoleh ke arah mereka.

"Eeh—" Sakura tersadar. Perhatiannya teralih sepenuhnya pada temannya yang bawel satu itu. "Ino—jangan keras-keras!" desisnya sebal. Wajahnya memanas. Malu.

Semenjak shift malam itu—saat dia dan Dokter Uchiha Sasuke mengobrol untuk pertama kalinya, mereka memang menjadi dekat. Keduanya bertukar nomor ponsel, dan kadang-kadang residen berwajah tampan itu mengajaknya makan siang bersama di kafetaria rumah sakit. Dan ini adalah yang kelima kalinya dalam sebulan. Meski begitu, Sakura masih belum bisa memastikan hubungan macam apa yang sedang mereka jalani. Sejauh ini mereka berteman baik. Entahlah jika Dokter Uchiha muda itu punya maksud lain mendekati Sakura.

"Hayo ya, ketahuan kencan dengan dokter," Kotetsu menggodanya, nyengir. Izumo terkekeh-kekeh.

"Apaan sih, Otousan ... Siapa yang bilang kencan dengan dokter?" Wajah Sakura yang memerah semakin memerah. Semenjak istrinya melahirnya, rekan-rekan sejawat Kotetsu di ICCU iseng memberinya panggilan 'Otousan'. "Sudah, ah ..." Sakura kemudian menyeret Ino pergi dari sana ke ruang ganti perawat.

Ino masih cekikikan ketika keduanya sudah sampai di kamar ganti. "Iya, iya, gomen ..." ucapnya, berusaha menahan tawa, sambil mengawasi Sakura membuka pintu lokernya dengan jengkel. "Habis, katanya dokter ganteng itu mengajakmu makan siang, tapi kau malah ngobrol dengan Izumo dan Kotetsu-senpai. Kan kasihan kalau disuruh menunggu."

Sakura menggerutu, mengeluarkan seragam perawat biasa dari dalam loker dan mulai berganti pakaian—seragam khusus perawat ICU memang tidak boleh dipakai berkeliaran di luar ruangan ICU. Jadi kalau ingin makan di luar, terpaksa harus berganti seragam perawat yang biasa—"Biasanya juga aku yang menunggunya. Sasuke kan supersibuk."

"Oh, jadi sekarang kau memanggilnya dengan nama depan nih, Saku-chan?" Ino semakin menjadi-jadi. "Nah, nah ... Siapa ya, yang waktu itu bilang tidak berminat menjalin hubungan dengan dokter? Sekarang malah memanggil dengan nama depan. Oh, so sweet ..."

Memutar bola matanya, Sakura memilih tidak menjawab kali ini. Salah-salah dia bakal semakin menjadi bulan-bulanan Ino. "Hei, Ino. Kau ingat tidak saat kita shift malam sama-sama?" tanya Sakura kemudian, teringat pembicaraannya dengan kedua senpai-nya tadi.

"Hm?" Kedua alis Ino terangkat tinggi. Dia menghenyakkan diri di bangku kayu panjang yang ada di koridor antar loker. "Oh, malam kau berkenalan dengan pangeranmu itu? Ingat dong ..." gadis berambut pirang itu nyengir lebar. "Ada apa memangnya?"

Sakura menahan diri untuk tidak mencekik temannya itu. "Pasien yang malam itu plus—Nyonya Chiyo—kau yang membereskan semuanya, kan? Maksudku, lembar observasinya, status, surat kematian ..."

Menyadari Sakura tidak sedang membicarakan Dokter Uchiha, ekspresi Ino berubah bingung. "Ya ..." jawabnya lambat-lambat, mencoba memahami arah pembicaraan Sakura.

Sakura mengambil waktu mengancing atasannya sebelum kembali bertanya, "Apa kau ingat di kolom catatan dokter terakhir? Apa kau lihat catatan dari Dokter Sarutobi Hiruzen? Dia konsulen jantung."

Ino mengerjap, sejenak menatap kawannya bingung, lalu menggeleng. "Tidak ada. Catatan terakhir hanya dari Dokter Uchiha, tidak ada yang lain. Lagipula setahuku tidak ada konsulen jantung yang namanya Dokter Sarutobi Hiruzen. Yang aku tahu ya Dokter Jiraiya yang genit itu."

Sakura menggigit bibirnya. Aneh. Aku jelas-jelas melihat catatan dan tanda tangannya di sana tepat di bawah catatan yang ditulis Sasuke. Kecuali ... kecuali kalau ...—Sakura meneguk ludah dengan susah-payah—Tidak mungkin!

"Kau kenapa, sih?"

"Tidak," sahut Sakura cepat-cepat, menggantung seragamnya di bagian dalam loker dan menutup loker setelah mengganti sepatu karetnya dengan pantofel. "Tidak ada apa-apa. Sebaiknya aku pergi sekarang. Mungkin Sasuke sudah menungguku."

Mendengar nama Sasuke disebut, Ino tampak bersemangat lagi. "Aku menunggu cerita detailnya padamu nanti, Saku-chan!"

"Berisik, ah!"

Sembari sibuk memasang name tag-nya, Sakura bergegas meninggalkan ruang ganti—Kalau tidak sedang menerima ajakan makan siang begini, biasanya Sakura makan di kantin ICU bersama perawat yang lain. Tidak perlu repot berganti seragam segala, meskipun tentu saja makanannya tidak seenak di kantin umum di lantai dasar tempat Sasuke mengajaknya makan siang bersama. Dan untuk sampai ke tempat itu dari kompleks ruang perawatan intensif, dia harus turun lewat lift di lobby.

Lobby dalam keadaan kosong ketika Sakura tiba di sana. Gadis itu termangu di depan lift beberapa saat sebelum salah satu lift berdenging membuka. Sakura menyingkir sejenak, memberi jalan pada beberapa orang residen dan perawat yang baru saja keluar, sebelum masuk ke dalamnya. Sakura berbalik. Dan saat itulah dia melihatnya lagi.

Sesosok dokter pria berperawakan pendek berhenti, memisahkan diri dari rombongan. Rambutnya sudah sepenuhnya memutih. Jas putih yang dikenakannya warnanya sudah agak memudar. Dokter itu menoleh. Wajahnya yang dipenuhi kerut-merut itu menyunggingkan senyum ramah, kemudian mengangguk.

Dokter Sarutobi Hiruzen.

Sosoknya tampak tembus pandang di bawah siraman cahaya matahari dari jendela.

Sakura terkesiap. Refleks dia melangkah mundur, dengan kedua tangan memekap mulutnya yang terbuka. Punggungnya menabrak dinding lift yang dingin ketika pintu lift berdenting menutup, lalu perlahan membawanya turun.

.

.

FIN

.

.

Yosh! Akhirnya selesai juga threeshots ini. :D

Gimana? Kayanya ga cukup serem yah? Dan endingnya nggantung gitu. Hehehe... gomen ne? Sengaja :))

Yang nanya soal penyakit, karena settingnya di ruang perawatan jantung intensif, otomatis penyakitnya itu penyakit jantung. Dan ya, CAD itu penyakit obstruksi/penyumbatan pembuluh darah koroner di jantung.

Oke. Thanks banget buat yg sudah review dan ngikutin fic ini :)

CHAO!