Summary : Youngwoon merestui Yunho dengan Jaejoong sampai mereka berdua telah menikah dengan saat yang tak terduga. Bagimanakah kehidupan mereka saat menikah?
Desclaimer : Jae umma selamanya milik Yun appa. Minho oppa selamanya milik Taeminnie. Tapi baru-baru ini Taeminnie mengakui kalau Minho oppa mutlak milik Julie. #ditendang Shawol.
Warning : Genderswitch, akan ada typo yang berkeliaran (?).
,
,
,
"Dokter yakin saya benar-benar hamil?" tanya Jaejoong lagi.
"Ne, anda positif hamil nyonya Jung. Dan usia kandungan anda sudah memasuki minggu pertama." Jelas dokter Song sambil tersenyum.
"Mwo? Satu minggu?" tanya Jaejoong heran sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Aku dan Yunnie belum pernah berhubungan sejak saat itu." Gumam Jaejoong dalam hati.
Beberapa detik kemudian Jaejoong sedikit tersentak lalu menoleh ke Yunho yang kebetulan sedang memandangnya.
Yunho yang ditatapi Jaejoong dengan pandangan yang sulit diartikan membuatnya menjadi salah tingkah.
"Selamat untuk anda berdua. Semua kehadiran si kecil bisa melengkapi kebahagiaan kalian." Ucap dokter Song yang membuat Yunho dan Jaejoong menoleh menatapnya.
"Gomawo dokter." Ucap Yunho sambil tersenyum terpaksa (?).
"Sama-sama tuan Jung. Oya saya sarankan anda ke dokter spesialis kandungan sekarang. Mungkin dokter jaga sudah datang. Karena morning sickness meskipun sepeleh juga bisa menjadi berbahaya apabila terlalu berlebihan."
"Ne, terima kasih banyak dokter."
Dokter Song hanya tersenyum lalu Yunho bangkit berdiri dari duduknya dan menarik lengan Jaejoong tapi ditepis halus (?) oleh Jaejoong.
Yunho membungkukkan badannya sekali pada dokter Song lalu menyusul Jaejoong yang telah keluar lebih dulu.
"Boo.." panggil Yunho lalu menahan lengan Jaejoong agar berhenti ditempat.
"..."
"Aku tahu kau marah padaku."
"Aku mau tanya padamu." Tanya Jaejoong lalu menoleh ke Yunho dan menatapnya tajam.
"Apa?" tanya Yunho lalu menarik Jaejoong untuk duduk dikursi tunggu yang tersedia dirumah sakit.
"Saat kita melakukannya, apa kau tidak memakai pengaman?"
"Mwo?"
"Aku hamil dan kata dokter usia kehamilanku satu minggu, kita baru menikah enam hari yang lalu dan selama enam hari itu kita hanya melakukannya sekali kan?"
Yunho tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Karena Yunho tidak menjawab pertanyaannya, Jaejoong menarik tangan Yunho yang membuatnya kembali menatap Jaejoong.
"Jawab aku, Yun. Kau memakainya apa atau tidak?" tanya Jaejoong dengan suara yang agak meninggi.
Yunho terkejut karena dilihatnya mata Jaejoong mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Boo. Aku lupa memakainya atau tidak. Jangan menangis ne." Yunho langsung memeluk Jaejoong, tidak dipedulikannya tatapan para penghuni rumah sakit (?)yang menatap mereka dengan risih.
"Hiks.." Yunho semakin merasa bersalah saat mendengar isakan Jaejoong.
"Maafkan aku, Boo. Ku mohon jangan menangis."
Bukannya berhenti, tangis Jaejoong semakin menjadi. Jaejoong memeluk Yunho makin erat yang membuat Yunho makin merasa bersalah.
"Jebal Boo. Jangan menangis. "
Jaejoong tidak menjawab, hanya semakin mengeratkan pelukannya pada Yunho. Tak lama kemudian Jaejoong melepaskan pelukannya tiba-tiba sambil menutupi bibirnya dengan punggung tangannya.
"Gwaenchana Boo?"
Jaejoong tidak menjawab, hanya menutup bibirnya dan tangan kirinya meremas perutnya.
"Mual lagi eoh?" tanya Yunho yang dibalas anggukan lemah dari Jaejoong.
"Kita ke dokter kandungan langsung ne?" Jaejoong hanya mengangguk lemah saat Yunho menarik lengannya dengan lembut.
Yunho menuntun Jaejoong pelan sampai keruang dokter spesialis kandungan. Setelah sampai didepan pintu ruangan, Yunho mengetuk pintu dan membuka pintunya setelah terdengar sahutan dari dalam.
"Selamat pagi tuan, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Park setelah Yunho dan Jaejoong duduk.
"Ne. Saya mau memeriksakan kehamilan istri saya dokter." Ucap Yunho yang menoleh khawatir pada Jaejoong karena dia terus menutupi mulutnya dengan punggung tangannya.
"Arra, kapan anda terakhir kali menstruasi nyonya?" tanya dokter Park sambil mengeluarkan sebuah buku bersampul putih.
"Emm..Seingat saya tanggal delapan bulan ini,dokter." Jawab Jaejoong lemah.
"Apa setelah itu anda tidak menstruasi lagi?"
"Aniya, saya tidak menstruasi lagi sejak hari itu."
"Arra, silahkan anda berbaring ditempat tidur dulu, nyonya. Saya akan memeriksa anda terlebih dahulu."
Yunho membantu Jaejoong berdiri dan menuntunnya menuju tempat tidur. Setelah itu dokter Park melakukan pemeriksaan fisik pada Jaejoong. Yunho kembali menuju kursi dan mengusap wajahnya dengan cukup (?) kasar.
"Kenapa aku bisa lupa memakai pengaman atau tidak. Aisshh.. Matilah aku ditangan racoon raksasa itu." Gumam Yunho pelan.
"Semoga aku tidak digantung olehnya. Amin.." gumam Yunho lagi lalu mengusap wajahnya lagi. Tampak sekali kalau dia sedang dalam keadaan galau.
Yunho mendongak saat dokter Park kembali kekursinya dan Jaejoong sudah kembali juga kekursinya.
"Dari pemeriksaan, nyonya Jung tidak apa-apa. Tapi kelihatannya nyonya Jung mulai merasakan mual. Benar kan, nyonya Jung?"
"Ne, ini menyiksa sekali dokter. Apa ada obat yang bisa mengurangi mual ini?" tanya Jaejoong lalu menutup mulutnya dengan punggung tangannya lagi karena lagi-lagi dia merasa mual.
"Untuk obat yang menghilangkan mual itu seluruhnya tidak ada nyonya Jung. Karena itu gejala fisiologis dari seorang ibu hamil saat usia kehamilannya menginjak satu minggu seperti anda. Tapi anda harus tetap makan makanan yang bergizi agar kondisi janin anda tetap sehat dan bisa tumbuh sesuai dengan usianya." Jelas dokter Park.
"Istri saya mual terus, dok. Bagaimana istri saya bisa makan jika keadaannya seperti ini?" tanya Yunho.
"Makan tidak harus selalu nasi atau semacamnya, bisa juga memakan roti atau makanan ringan yang lainnya. Tapi usahakan meskipun sedikit tapi sering." Jawab dokter Park sambil tersenyum.
"Apakah ada pantangan untuk istri saya selama hamil, dok?"
"Tidak ada tuan Jung. Semua makanan boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Yang tidak boleh dilakukan ibu hamil adalah beraktifitas terlalu berat yang menyebabkan ibu cepat lelah, mengkonsumsi obat-obatan berbahaya dan keadaan psikisnya yang terlalu membebani ibu sehingga ibu merasa tertekan. Tiga diantara itu yang paling penting tidak boleh terjadi pada ibu hamil." Jelas dokter Park panjang lebar –lagi-.
"Arra, saya mengerti." Jawab Yunho lalu menoleh pada Jaejoong yang kini meremas perutnya yang mualnya tetap tidak hilang.
"Dan juga, anda sebagai suami harus mengerti kondisi istri anda. Apabila istri anda menjadi sangat manja terutama mengidam, anda harus menyikapinya dengan baik. Perasaan ibu hamil sangat sensitif, jadi tolong jaga perasaannya ne."
"Saya mengerti, sebisa mungkin saya akan melakukan apa yang dokter katakan tadi."
"Saya akan memberikan resep, nanti anda tebus obatnya diapotek ne."
"Ne."
Yunho menggenggam tangan Jaejoong yang terasa sangat dingin. Jaejoong menoleh lemah pada Yunho dan menatapnya dengan tatapan sendu. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Boo, apa masih mual?" Jaejoong mengangguk untuk jawaban Yunho lalu Jaejoong menyandarkan kepalanya dibahu Yunho dengan mata terpejam.
"Ini, semua obat disini anda tebus ne." ucap dokter Park sambil menyerahkan selembar kertas resep.
"Ne, kamsahamnida."
"Ne, sama-sama. Jika nyonya Jung mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Anda bisa langsung membawanya kemari."
"Ne, kamsahamnida dokter."
Yunho membantu Jaejoong berdiri lalu membungkukkan badannya pada dokter Park. Setelah itu, Yunho merangkul bahu Jaejoong dan membantunya berjalan.
"Tunggu disini sebentar ne." ucap Yunho saat mereka sudah didepan apotek rumah sakit.
Jaejoong mengangguk lalu duduk dikursi tunggu yang ada disana. Lalu tak lama kemudian, Yunho menghampiri Jaejoong lagi dengan membawa sekantong plastik yang berisi obat-obatan.
"Itu seperti Yunho oppa dan Jaejoongie." Gumam Junsu, yang kebetulan berada dirumah sakit untuk mengantar Yoochun yang mengeluh flu sejak kemarin. Bukan hanya Junsu saja yang tahu, Yoochun, Eunhyuk, dan Donghae juga sudah mengetahui kalau Jaejoong sudah menikah dan tentu saja membuat ketiga sahabatnya itu sangat terkejut dengan penjelasan Jaejoong.
Yunho merangkul bahu Jaejoong lagi dan menuntunnya sampai keluar rumah sakit. Saat Jaejoong dan Junsu sudah tidak terlihat, Yoochun tiba-tiba datang dan sedikit membuat Junsu terlonjak kaget.
"Chunnie, kau mengagetkanku." Ucap Junsu lalu memukul bahu Yoochun pelan.
"Ya! Dari tadi aku sudah disampingmu. Kau saja yang terlalu berkonsentrasi melihat sesuatu yang aku tidak tahu itu apa." Bela Yoochun.
"Aku tadi melihat Jaejoongie dan Yunho oppa disini. Tapi sebenarnya aku sudah melihat mereka sejak keluar dari ruang dokter spesialis kandungan. Tapi aku kurang yakin kalau itu adalah mereka. Tapi setelah dari sini, aku semakin yakin kalau itu tadi adalah Jaejoongie dan Yunho oppa."
"Mwo? Dari dokter kandungan?" kaget Yoochun.
"Ne. Aku yakin tidak salah lihat."
"Jadi kemungkinan Jaejoong hamil ya?" gumam Yoochun.
"Bisa jadi. Aku tidak menyangka Yunho oppa sangat hebat, tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat Jaejoong hamil." Ucap Junsu lalu terkekeh.
"Aku perlu belajar padanya." Ucap Yoochun sambil menyeringai mesum yang langsung mendapat jitakan gratis dari Junsu.
"Ya! Aku nanti akan tanyakan pada Jungsoo ahjumma saja. Kajja segera tebus obatnya lalu kita pulang."
"Ne, tapi kita ketoko kaset dulu. Pesananku hari ini sudah datang."
"Pesanan apa? Jangan katakan kalau video mesum lagi." Ucap Junsu sambil manyun.
"Seperti tidak tahu namjachingumu ini saja, chagi." Ucap Yoochun sambil merangkul bahu Junsu.
"Ne, aku sangat mengerti kalau namjachinguku ini kemesumannya sudah sangat kronis." Ucap Junsu yang membuat Yoochun terkekeh.
Yunho menggandeng tangan Jaejoong sampai kepemarkiran, saat sudah sampai disamping mobilnya, Yunho membukakan pintu untuk Jaejoong. Yunho terdiam bingung melihat Jaejoong yang tidak kunjung masuk dan malah menundukkan kepalanya.
"Boo.." panggil Yunho.
"…" Bukannya menjawab panggilan Yunho, Jaejoong malah menyandarkan punggungnya pada badan samping (?) mobil.
"Boo, kau kenapa?" tanya Yunho sambil mendekati Jaejoong.
"…"
"Boo.." panggil Yunho lagi.
"…"
"Kau masih marah padaku?" tanya Yunho lalu menyandarkan keduan tangannya disamping Jaejoong sehingga Jaejoong terkunci oleh kedua lengan Yunho.
"Ku mohon jawab aku, Boo." Pinta Yunho karena Jaejoong tidak juga menyahuti panggilannya.
"…" Jaejoong semakin menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya.
"Aku tahu kau marah padaku. Tapi jangan diamkan aku seperti ini, Boo. Jebal." Pinta Yunho memelas. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang, didiamkan Jaejoong seperti ini membuat hatinya benar-benar sakit.
"Jebal, jawab aku Boo."
"Yun.."
"Aku minta maaf, Boo. Aku lupa memakainya. Aku mengakui kesalahanku. Aku mohon maafkan aku." Yunho sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Yunho tidak takut pada amukan Youngwoon, tapi yang Yunho takutkan adalah Jaejoong yang marah padanya dan mendiamkannya seperti ini.
"Aku tidak mempermasalahkan kehamilan ini." Ucap Jaejoong dengan masih menunduk.
"Mwo?" tanya Yunho heran.
"Aku takut, Yun."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Boo. Kalau yang kau takutkan adalah appamu yang akan memarahiku habis-habisan, aku tidak peduli. Aku mencintaimu, jangan diamkan aku seperti ini."
"Ani Yun. Bukan begitu maksudku."
"Lalu apa? Katakan padaku." Ucap Yunho sambil mengangkat dagu Jaejoong dengan jari telunjuknya.
"Aku takut kau akan meninggalkanku." Jawab Jaejoong yang membuat Yunho heran.
"Mwo?"
"Kau tahu kan? Jika aku hamil, nanti perutku akan membesar dan badanku juga jadi terlihat lebih gemuk. Aku takut kau tidak menyukai keadaanku yang seperti itu. Klien dan para pegawai diperusahaanmu tidak semuanya namja. Banyak pula yeoja-yeoja cantik yang akan kau temui. Jika keadaanku hamil, aku akan gemuk dan tidak akan menarik lagi dimatamu. Dan yang paling aku takutkan adalah…Kau akan meninggalkanku." Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, air mata Jaejoong perlahan turun dan menghiasi wajah cantiknya.
"Kenapa kau bisa berpikir begitu, Boo?" tanya Yunho sambil menghapus air mata Jaejoong.
"Apa kau akan meninggalkanku?"
"Boo, apapun yang terjadi padamu aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu bukan semata karena fisik, tapi karena hatiku yang memutuskan untuk mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya dan selamanya."
"Meski aku tampak gemuk?" tanya Jaejoong memastikan.
"Ne, gemuk atau tidak. Aku tetap mencintaimu. Akan tetap mencintai istri tercantikku, Jung Jaejoong." Jawab Yunho pasti yang membuat Jaejoong tersenyum.
"Yunnie.." Jaejoong memeluk Yunho dengan erat, membenamkan wajahnya didada bidang Yunho.
"Jangan berpikir seperti itu lagi ne? kau harus percaya padaku." Ucap Yunho lalu mencium puncak kepala Jaejoong dengan sayang.
"Ne." Jaejoong melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Yunho yang juga menatapnya.
"Tapi masalahnya, bagaimana menjelaskannya pada appamu? Appa melarangmu untuk hamil sebelum lulus kuliah kan?" tanya Yunho sedikit was-was.
"Tidak apa-apa. Aku akan membantumu untuk mejelaskan semuanya pada appa dan umma." Jawab Jaejoong sambil tersenyum manis.
"Arra." Yunho mencium pipi Jaejoong yang membuat Jaejoong tersipu.
"Kita pulang sekarang ne. Kau harus banyak istirahat, Boo." Ajak Yunho yang dibalas anggukan kepala dari Jaejoong.
Yunho membukakan pintu mobil untuk Jaejoong. Setelah menutupnya, Yunho berputar kemudian masuk kekursi kemudi lalu menjalankannya menuju keapartemen.
Junsu sedang mengantar Yoochun ketoko kaset setelah dari rumah sakit tadi. Karena bosan berada didalam dan Yoochun yang tiba-tiba menghilang membuat Junsu memutuskan untuk menunggu Yoochun diluar toko.
"Junsu-ie." Panggil Jungsoo yang melihat Junsu didepan toko kaset.
"Jungsoo ahjumma. Annyeong." Sapa Junsu sopan.
"Sedang apa kau disini?"
"Sedang mengantar Yoochun membeli kaset ahjumma. Ahjumma sendiri habis darimana?" tanya Junsu karena dilihatnya Jungsoo membawa dua kantong plastik yang berukuran lumayan besar.
"Habis dari belanja, Su-ie." Jawab Jungsoo sambil sedikit mengangkat kantong plastiknya.
"Kenapa ahjumma sendirian? Kemana Heechul eonnie?"
"Heechul sedang menyiapkan baju untuk skripsinya yang tinggal tiga hari lagi. Biasanya aku bersama Jaejoong, tapi karena Jaejoong sudah menikah dan ikut tinggal bersama suaminya membuatku sedikit kerepotan dalam hal masak-memasak." Jawab Jungsoo sambil terkekeh.
"Benar juga, yang pintar memasak kan Jaejoong. Oya ahjumma, ngomong-ngomong soal Jaejoong, tadi aku melihatnya dirumah sakit bersama Yunho oppa."
"Mwo?"
"Ne, aku tadi melihatnya keluar dari ruang dokter spesialis kandungan."
"Mwo?" tanya Jungsoo lagi dengan setengah berteriak yang membuat beberapa pejalan kaki yang lewat disana menoleh ke Jungsoo dengan tatapan aneh.
"Tenang ahjumma, jangan berteriak heboh begitu. Orang-orang jadi memperhatikan kita." Ucap Junsu sambil sedikit tersenyum pada beberap pejalan kaki yang melihat kearah mereka.
"Jangan bercanda Su-ie. Mana mungkin Jaejoongie ke dokter spesialis kandungan. Jaejoongie tidak mungkin hamil."
"Kalau itu saya tidak tahu ahjumma. Malahan saya mau menanyakan itu pada ahjumma. Apa benar Jaejoongie hamil atau tidak."
"Aigoo..Kenapa cepat sekali Jaejoong jadi hamil?" gumam Jungsoo pelan.
"Ahjumma mengatakan sesuatu?" tanya Junsu karena tidak mendengar gumaman Jungsoo.
"Chagiya." Panggil Yoochun tiba-tiba yang membuat Junsu dan Jungsoo menoleh ke Yoochun.
"Ada Kim ahjumma. Annyeong ahjumma. Lama tidak bertemu." Sapa Yoochun sopan.
"Ne, apa kabarmu Yoochun-ah?"
"Baik ahjumma. Kajja, Su-ie kita pulang sekarang saja ne." ajak Yoochun.
"Ne, ahjumma kami pulang dulu ne."
"Ne, kapan-kapan jika ada waktu luang mainlah kerumah."
"Ne ahjumma. Kami permisi dulu ne. Annyeong." Pamit Junsu dan Yoochun.
Junsu melambaikan tangannya pada Jungsoo sebelum Junsu masuk kemobil Yoochun. Setelah mobil Yoochun tidak terlihat, Jungsoo menghela nafas pelan memikirkan perkataan Junsu barusan.
"Apa mungkin Jaejoong hamil?" gumam Jungsoo.
"Nanti saja aku telpon dengan menggunakan telpon rumah." Jungsoo melangkah menuju halte bis untuk puLang.
Tak lama kemudian Yunho dan Jaejoong sudah sampai diapartemen mereka. Yunho membantu mendudukkan Jaejoong dikursi sofa.
"Kau ingin makan apa, Boo?"
"Aku tidak lapar, Yun."
"Sekarang sudah menjelang siang, sejak pagi tadi kau belum makan apa-apa, Boo."
"Tapi aku tidak lapar, Yun. Aku masih sedikit mual."
"Makan roti panggang atau biskuit saja ne. Kau harus makan, Boo. Apa kau sudah lupa dengan anjuran dokter Park tadi?" tanya Yunho sambil mengelus pipi Jaejoong.
"Arra, buatkan aku roti panggang saja ne."
"Akan aku buatkan, kau istirahat saja dulu ne." setelah Jaejoong mengangguk, Yunho bergegas menuju dapur dan membuatkan Jaejoong roti panggang.
"Appamu bertanggung jawab sekali aegya." Gumam Jaejoong sambil tersenyum melihat kesungguhan Yunho menjaga dan melayaninya.
Hankyung memberhentikan mobilnya didepan rumah Heechul, setelah menata sedikit rambutnya dengan berkaca pada kaca spion mobil dan memastikan penampilannya rapi, Hankyung melangkah menuju kepintu utama kediaman keluarga Kim.
Ting..Tong..
Hankyung memencet bel lalu tangan kirinya disembunyikannya dibelakang punggungnya yang tampak ada setangkai mawar putih dibalik punggungnya.
"Hannie.." sapa Heechul setelah membukakan pintu untuk Hankyung.
"Annyeong Chullie." Hankyung maju satu langkah lalu mencium pipi Heechul dengan sayang.
"Aku merindukanmu." Ucap Hankyung sambil memberikan bunga mawar putihnya pada Heechul.
"Aku juga merindukanmu. Gomawo ne bunganya." Jawab Heechul sambil mencium bunga pemberian Hankyung.
"Kajja, masuklah." Ajak Heechul lalu menarik lembut lengan kekar Hankyung masuk kedalam rumahnya.
"Kemana orang tuamu?" tanya Hankyung karena melihat suasana rumah yang sepi.
"Umma sedang belanja, kalau appa sedang diruang kerjanya."
"Hari libur begini appamu masih sibuk bekerja. Benar-benar pekerja keras." Puji Hankyung.
"Begitulah appa." Jawab Heechul seadanya lalu mengambil bajunya dan sedikit memberikan pola pada bajunya.
"Apa skripsimu jadi diadakan tiga hari lagi?"
"Ne, kau tahu sendiri kan, skripsiku lebih awal dari teman-temanku yang lain."
"Ne, itu karena kau jenius."
"Menyindirku eoh?" tanya Heechul lalu terkekeh.
"Ani, kau memang pintar dalam mendesain baju. Jika tidak, mana mungkin dosen pembimbingmu memajukan jadwal skripsimu."
"Mungkin begitu. Ada untungnya juga skripsiku dimajukan. Jika dimajukan, lalu hasil nilaiku keluar maka aku akan wisuda saat itu juga." Ucap Heechul menoleh sebentar pada Hankyung lalu mengerjakan pola pada bajunya lagi.
"Kau benar. Jika kau sudah wisuda, kita bisa menikah secepatnya."
"Iya, aku juga berfikir seperti itu." Jawab Heechul lalu tersenyum manis.
"Hankyung-ah." Sapa Jungsoo yang membuat Heechul dan Hankyung menoleh padanya.
"Annyeong ahjumma." Sapa Hankyung balik lalu berdiri mendekati Jungsoo dan membantu Jungsoo membawa belanjaannya.
"Chullie, kenapa tidak membuatkan Hankyung minuman?"
"Hankyung tidak minta kok."
"Kau ini. Bagaimanapun juga, Hankyung adalah tamu."
"Tidak apa-apa ahjumma." Bela Hankyung lalu membawa belanjaan Jungsoo yang dibawanya kedapur.
Jungsoo mengikuti Hankyung lalu membantu Hankyung memasukkan bahan-bahan makanan kedalam kulkas.
"Ummamu sudah pulang, Chullie?" tanya Youngwoon tiba-tiba.
"Ne appa, sedang didapur bersama Hankyung." Jawab Heechul dengan masih tetap berkutat dengan bajunya.
"Hankyung kemari?" Heechul mengangguk sebagai jawaban untuk Youngwoon.
Tak lama kemudian, Jungsoo dan Hankyung kembali keruang tengah.
"Annyeong ahjussi." Sapa Hankyung sopan.
"Ne." jawab Youngwoon sambil tersenyum.
"Kanginie, apa Jaejoong atau Yunho menghubungimu hari ini?" tanya Jungsoo yang membuat Youngwoon menoleh kearahnya.
"Aniya, wae?"
"Aku tadi bertemu Junsu dijalan. Lalu dia mengatakan kalau dia bertemu Jaejoong dan Yunho dirumah sakit."
"Mwo?" tanya Youngwoon. Heechul menghentikan aktifitasnya dan menatap ummanya.
"Jinjja? Jaejoongie sakit?" tanya Heechul.
"Molla, kata Junsu kalau Yunho dan Jaejoong tadi habis keluar dari ruang dokter spesialis kandungan." Ucap Jungsoo sedikit ragu. Dalam hati dia berdoa semoga Youngwoon tidak emosi.
"Mwo?" tanya Youngwoon dan Heechul bersamaan.
"Jaejoong hamil?" tanya Hankyung langsung.
"Molla, aku tidak tahu Jaejoong hamil atau tidak."
"Jung sialan itu benar-benar melanggar janjinya eoh." Geram Youngwoon.
"Ta..Tapi belum tentu Jaejoong benar-benar hamil kan?" ucap Jungsoo gugup.
"Kalau tidak hamil lalu apa? Apa Jaejoong patah tulang jadi harus kedokter kandungan? Dimana-mana orang yang kedokter kandungan itu orang yang hamil yang ingin memeriksakan kehamilannya." Ucap Youngwoon setengah berteriak.
"Mungkin benar Jaejoong hamil." Gumam Heechul lirih.
"Bukannya mungkin, tapi memang sudah hamil. Aku yakin itu. Hubungi Yunho, suruh dia datang kemari saat makan malam nanti."
"Ne appa." Jawab Heechul lalu mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja.
"Aishh.." keluh Youngwoon lalu memijat pelipisnya.
Yunho sudah membuatkan roti panggang untuk Jaejoong, tapi bukannya dimakan oleh Jaejoong malah dia yang makan. Karena baru dua gigitan saja Jaejoong sudah berlari menuju westafel dan memuntahkan semua isi perutnya. Termasuk roti panggangnya tadi.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Yunho sambil memijat tengkuk Jaejoong dengan lembut.
Jaejoong membersihkan mulutnya dengan air lalu menegakkan tubuhnya kembali dan meremas perutnya yang mualnya masih terasa.
Yunho memeluk Jaejoong, merasa tidak tega dengan keadaan Jaejoong yang seperti ini. Mencium bibir Jaejoong sekali lalu memeluk Jaejoong dengan erat yang dibalas Jaejoong dengan memeluk punggungnya.
Yunho menciumi puncak kepala Jaejoong yang membuat Jaejoong sedikit lebih baik dari sebelumnya sampai deringan ponsel Yunho mengehentikan kegiatan Yunho.
"Yeoboseyo." Sapa Yunho setelah mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Yeoboseyo Yunho-ah." Jawab Heechul dari seberang.
"Ada apa noona?" tanya Yunho dengan masih tetap memeluk Jaejoong.
"Apa Jaejoong bersamamu?"
"Ne, dia bersamaku sekarang. Wae?"
"Apa dia sakit?"
Yunho terdiam, bingung harus menjawab apa. Tapi disatu sisi Yunho belum siap memberitahu keluarga Jaejoong tentang kehamilan Jaejoong.
"Dia baik-baik saja." Jawab Yunho agak ragu.
"Arra, nanti datanglah kerumah. Appa dan umma menyuruh kalian untuk makan malam disini."
"Mwo?"
"Jangan sampai telat ne. Sampaikan itu pada Joongie.
"N..Ne." jawab Yunho kikuk.
"Arra, kami tunggu kedatangan kalian ne. Annyeong."
Yunho memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya setelah Heechul menutup telponnya secara sepihak.
"Siapa yang menelpon, Yun?" tanya Jaejoong dengan tanpa melepas pelukannya.
"Heechul noona, Boo." Jawab Yunho lalu memeluk Jaejoong lagi.
"Heechul eonnie?"
"Ne, appa dan umma mengajak kita makan malam bersama nanti."
"Arra." Ucap Jaejoong lalu menyamankan kepalanya pada dada bidang Yunho.
"Kau yakin kita akan datang?"
"Ne, tentu saja. Wae?"
"Kau masih mual. Apa kau yakin akan kuat menahan mualmu saat melihat makanan? Melihat satu roti panggang saja kau sudah mual dan muntah-muntah begitu." Khawatir Yunho.
"Tidak apa-apa. Sekalian kita memberitahu mereka tentang kehamilanku." Ucap Jaejoong sambil mendongakkan kepalanya menatap Yunho.
"Kau yakin?" tanya Yunho sambil merapikan poni Jaejoong yang sedikit berantakan karena memeluknya.
"Ne, memangnya kau masih belum siap ya?"
"Aniya, aku selalu siap Boo. Justru aku akan merasa senang."
Jaejoong tersenyum mendengar ucapan Yunho, Jaejoong sedikit berjinjit lalu mencium bibir Yunho. Tetap tersenyum saat dia melepas ciumannya. Karena merasa belum puas hanya dengan satu kali ciuman, Yunho mendekatkan wajahnya lalu memagut bibir Jaejoong dengan sedikit penuh nafsu.
#Malam hari.
"Apa mereka akan datang?" gumam Jungsoo sambil menopang dagunya pada punggung tangannya dimeja makan.
"Aku yakin mereka akan datang umma." Ucap Heechul pasti.
"Mungkin mereka masih diperjalanan ahjumma." Tambah Hankyung.
Youngwoon datang menghampiri Jungsoo lalu duduk disampingnya.
"Aku sudah menelpon Yesung, tapi katanya dia tidak tahu apa-apa tentang Jaejoong."
"Jinjja? Berarti Yunho belum memberitahu siapa-siapa tentang kehamilan Jaejoong."
"Sepertinya begitu Teukie." Youngwoon menghela nafas panjang.
Lalu tak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Dengan cepat Heechul bangkit dari duduknya dan bergegas membukan pintu.
Ceklek..
"Eonnie." Sapa Jaejoong sambil tersenyum manis.
"Joongie, kenapa lama sekali eoh? Semuanya sudah menunggumu." Heechul menarik tangan Jaejoong untuk masuk dan diikuti oleh Yunho.
"Annyeong umma, appa." Sapa Yunho saat sudah berada dimeja makan.
"Annyeong Yunho-ah." Balas Jungsoo sambil tersenyum manis.
Yunho sedikit salah tingkah karena Youngwoon menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan bagi Yunho.
"Duduklah, mau sampai kapan kau berdiri disana eoh?" goda Hankyung yang membuat Yunho tersenyum sedikit canggung.
Yunho melirik Jaejoong yang ada disebelahnya, Yunho sedikit khawatir karena Jaejoong memejamkan matanya sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
"Joongie, kau kenapa?" tanya Jungsoo yang ikut memperhatikan Jaejoong.
Yunho semakin khawatir saat Jaejoong semakin memejamkan matanya, ingin sekali Yunho membuang semua makanan yang ada dimeja makan ini karena semua makanan itulah yang menyebabkan Jaejoong merasa mual.
Grekk..
Jaejoong berdiri dengan cepat dan setengah berlari menuju westafel. Yunho mengikuti Jaejoong dan membuat semua yang ada disana mengernyit heran.
"Sekarang kau percaya kalau Jaejoong benar-benar hamil kan?" tanya Youngwoon pada Jungsoo.
Jungsoo menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat dari arah dapur terdengar suara Jaejoong yang memuntahkan isi perutnya. Heechul bangkit berdiri dan menyusul Jaejoong.
"Apa Jaejoong baik-baik saja?" tanya Heechul pada Yunho saat Yunho membersihkan bibir Jaejoong dari air dengan tisu.
"Gwaenchana?" tanya Yunho khawatir yang melihat wajah pucat Jaejoong tanpa mempedulikan pertanyaan Heechul.
"Sekarang kau jelaskan semua pada kami, Yunho-ah." Ucap Heechul lalu berbalik meninggalkan Yunho dan Jaejoong.
Yunho membuang tisu ketempat sampah lalu menuntun Jaejoong untuk kembali kemeja makan.
"Apa benar tadi pagi kalian kerumah sakit?" tanya Youngwoon saat Yunho dan Jaejoong duduk berhadapan dengannya.
"Ne appa." Jawab Yunho tegas padahal dalam hati dia gugup setengah mati.
"Apa kalian juga keluar dari ruang dokter spesialis kandungan?" kejar Youngwoon.
"N..Ne a..appa." jawab Yunho gugup dan Jaejoong menundukkan kepalanya.
"Apa kau hamil Jaejoong-ah?"
"…"
"Joongie.." panggil Jungsoo.
Jaejoong menganggukkan kepalanya membuat Youngwoon menghela nafas panjang.
"Berapa usia kehamilanmu?"
"Sa..Satu minggu appa."
"Mwo?" kaget Youngwoon, Jungsoo, Heechul, dan Hankyung bersamaan.
"Kau baru menikah enam hari yang lalu, saeng. Apa kau tidak salah?" tanya Heechul memastikan.
Jaejoong menggelengkan kepalanya untuk menjawab Heechul. Youngwoon menatap Yunho tajam yang membuat Yunho semakin gugup.
"Apa yang kau lakukan pada Jaejoong sebelum kalian menikah?" tanya Youngwoon tajam.
"Ne?"
"Kalian menikah belum sampai seminggu. Tapi kenapa usia kehamilan Jaejoong sudah menginjak seminggu. Apa kalian pernah melakukan hubungan sebelum kalian menikah?"
Yunho dan Jaejoong terdiam, Yunho menggenggam tangan Jaejoong yang membuat Jaejoong menoleh kearahnya.
"Ne appa. Sebelum pernikahan waktu itu, saya dan Jaejoong melakukan hubungan diapartemen saya."
Jawaban Yunho membuat Youngwoon, Jungsoo, dan Heechul melotot tak percaya.
"Ji..Jinjjayo?" tanya Heechul tidak percaya.
"Ne, saya sangat mencintai Jaejoong. Saya mengajaknya untuk melakukan hubungan itu agar saya menjadi namja pertama yang memiliki dan menyentuhnya." Ucap Yunho yang membuat Jaejoong menatapnya tak percaya.
"Yunnie.." Jaejoong heran kenapa Yunho harus berbohong dihadapan keluarganya. Padahal yang mengajak untuk melakukan hubungan itu adalah Jaejoong sendiri.
Youngwoon memijat pelipisnya untuk menghilangkan penat yang tiba-tiba terasa dikepalanya.
"Yunho benar-benar hebat. Dia sangat berani mengajak Jaejoong melakukan hubungan. Jadi iri." Gumam Hankyung dalam hati sambil melirik Heechul yang berada disampingnya.
"Maafkan saya appa."
"Aigoo..Untung aku yang menikahkan Jaejoong dan Yunho terlebih dulu. Coba kalau tidak, bagaimana nanti jadinya? Jaejoong hamil tapi belum menikah." Cibir Youngwoon pada Jungsoo dan Heechul.
"Sudahlah, semua sudah terjadi." Ucap Jungsoo terdengar pasrah.
"Ne, kalau sudah hamil mau diapakan lagi." Tambah Heechul.
"Aku marah juga percuma. Lalu kata dokter bagaimana Yunho-ah?" tanya Youngwoon. Sebenarnya Youngwoon ingin sekali mencekik Yunho karena bisa-bisanya dia menyetubuhi Jaejoong dengan tanpa ada ikatan apapun. Tapi karena semua sudah terlanjur, apa yang bisa dilakukannya. Jawabannya sudah pasti tidak ada.
"Kata dokter, Jaejoongie tidak apa-apa. Hanya perlu istirahat dan tidak boleh stres."
"Kalau begitu jaga dia. Jangan sampai dia terlalu lelah dan menjadi stres. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarmu." Ancam Youngwoon yang membuat Heechul dan Hankyung terkekeh.
"Ne appa, mulai sekarang Jaejoongie tidak akan kuliah untuk sementara. Karena saya tidak mau tugas-tugas kuliah membuat Jaejoongie sakit."
"Terserah kau, Jaejoong kuserahkan sepenuhnya padamu. Kau sudah membuatnya hamil, jadi kau harus bertanggung jawab penuh atas Jaejoong."
"Ne appa. Saya berjanji akan menjaga Jaejoongie dengan baik." Ucap Yunho mantap membuat semua yang ada disana kecuali Yunho dan Jaejoong tersenyum.
"Aku tidak salah memilih menantu." Gumam Youngwoon dan Jungsoo dalam hati.
"Aku akan mencontoh Yunho. Dia benar-benar namja yang bertanggung jawab." Gumam Hankyung dalam hati.
"Aku iri. Yunho benar-benar namja yang keren. Aku harap Hankyung lebih keren dari Yunho nantinya." Gumam Heechul dalam hati sambil tersenyum tidak jelas.
"Apa kau masih mual chagi? Jika masih, umma akan membuatkan bubur untukmu." Tawar Jungsoo.
"Ne, umma. Kurasa bubur lebih baik."
"Tunggu sebentar ne." Jungsoo bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju dapur.
"Kau tidak makan Yunho?" tanya Youngwoon saat dia, Heechul, dan Hankyung akan makan.
"Aniya appa. Saya akan makan jika Jaejoongie juga makan."
Youngwoon tersenyum mendengar ucapan Yunho dan mengangguk sebagai jawaban untuk Yunho.
Yunho membantu Jaejoong merebahkan tubuhnya dikasur, Jaejoong tampak lemas dan wajahnya pucat. Setelah memakan bubur buatan Jungsoo, Jaejoong langsung memuntahkannya saat suapan yang ketiga.
Youngwoon dan Jungsoo meminta Yunho untuk menginap dirumah, tetapi Jaejoong tidak mau dan ingin pulang keapartemen saja.
"Boo.." panggil Yunho saat Jaejoong menatapnya dengan sayu.
Yunho tidak tahan melihat Jaejoong seperti ini, hatinya benar-benar sakit. Perlahan digerakkannya tangannya menuju keperut Jaejoong yang masih rata.
"Aegya, jangan siksa umma terus ne. Kasihan umma, jangan buat umma merasa mual terus. Buat umma selalu makan agar umma dan aegya bisa selalu sehat. Appa mohon." Ucap Yunho sambil mengelus perut Jaejoong.
Jaejoong tersenyum melihat apa yang dilakukan Yunho. Jaejoong memejamkan matanya lalu tak lama kemudian diapun terlelap.
#Pagi hari.
Yunho meraba sampingnya untuk memeluk Jaejoong dan meminta jatah morning kissnya. Dengan mata yang masih terpejam, dia meraba-raba tempat disampingnya.
"Boo.." panggil Yunho saat Jaejoong tidak ada disampingnya. Dengan cepat Yunho membuka mata saat Jaejoong tidak menjawab panggilannya.
"Boo.." panggil Yunho lagi, dengan cepat dia keluar kamar setelah mengecek kamar mandi yang ternyata kosong. Dengan rasa khawatir yang memenuhi benaknya, Yunho menuruni tangga dengan cepat.
Yunho menghentikan langkahnya saat melihat Jaejoong sedang menata makanan dimeja makan.
"Boo.." panggil Yunho yang membuat Jaejoong menoleh dan tersenyum.
"Pagi Yun.." sapa Jaejoong sambil menuangkan susu kedalam dua gelas.
"Kau memasak ini semua? Kau sudah tidak mual?"
"Ani, aku sudah tidak mual lagi."
"Jinjja?"
"Ne." jawab Jaejoong sambil duduk dikursi.
"Lalu untuk siapa makanan sebanyak ini?" tanya Yunho heran saat melihat makanan yang ada diatas meja sangat banyak jika untuk mereka berdua.
"Tidak untuk siapa-siapa. Ini untuk kita berdua."
"Mwo?"
"Kajja kita makan." Ajak Jaejoong semangat lalu menarik lengan Yunho untuk duduk disampingnya.
Jaejoong mengambilkan makanan kedalam piring Yunho, setelah selesai diberikannya kembali pada Yunho. Setelah selesai mengambilkan makanan untuk Yunho, Jaejoong mengambil makanan untuk dirinya sendiri,
"Boo.." panggil Yunho, karena Jaejoong mengambil banyak sekali makanan kedalam piringnya sampai-sampai piringnya tidak terlihat.
Tanpa merespon panggilan Yunho, Jaejoong segera melahap makanan yang ada dipiringnya. Yunho melongo melihat Jaejoong yang makan seperti orang yang tidak pernah makan selama berpuluh-puluh tahun.
"Boo.." panggil Yunho untuk mengontrol Jaejoong.
Dan tak lama kemudian makanan yang ada dipiring Jaejoong sudah habis, Jaejoong mengambil makanan lagi beserta dengan tempatnya sekaligus.
"Boo.." panggil Yunho cengo karena syok melihat Jaejoong yang tiba-tiba menjadi food monster seperti ini.
Tak sampai dua menit, Jaejoong sudah menghabiskan makanan yang ada dimangkok besar itu. Setelah meminum susu dengan satu kali teguk, Jaejoong membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Kenapa tidak dimakan, Yun?" Tanya Jaejoong heran melihat isi piring Yunho yang masih tersisa banyak.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ne, wae?"
"Tidak merasa mual?"
"Emm.." Jaejoong menggelengkan kepalanya imut.
"Aku senang jika kau sudah tidak merasa mual lagi." Ucap Yunho sambil tersenyum lalu melanjutkan makannya kembali. Meski syok, Yunho bersyukur Jaejoong sudah tidak mual lagi dan sudah makan kembali.
"Kau mau kemana, Yun?" tanya Jaejoong yang melihat Yunho sudah berpakaian rapi.
"Kekantor, Boo." Jawab Yunho sedikit heran. Karena biasanya Jaejoong sudah tahu kalau jam segini dia akan berangkat kekantor.
"Aku tidak mau sendiri." Rajuk Jaejoong manja.
"Mwo?"
"Aku tidak mau sendiri, Yun. Jangan pergi." Ucap Jaejoong sambil memeluk Yunho erat.
"Mian Boo. Hari ini aku ada rapat penting. Ajaklah temanmu kemari agar kau tidak kesepian." Ucap Yunho lalu mengelus rambut Jaejoong.
"Ani, aku maunya denganmu saja." Jawab Jaejoong semakin mengeratkan pelukannya pada Yunho yang membuat Yunho semakin heran.
"Orang hamil memiliki perasaan yang yang sensitif. Sabar Jung Yunho." Gumam Yunho dalam hati.
"Boo, aku harus pergi. Aku janji tidak akan lama." Ucap Yunho sambil melepaskan pelukan Jaejoong.
"Yaksok?"
"Ne, yaksok chagi."
"Arra, segera pulang ne."
"Ne. Aku berangkat dulu. Jika ada apa-apa segera hubungi aku."
Yunho mencium kening Jaejoong setelah Jaejoong mengangguk. Lalu Jaejoong mengantar Yunho sampai pintu.
"Hati-hati." Yunho tersenyum dan mengangguk untuk jawaban Jaejoong.
Jaejoong menutup pintu setelah Yunho sudah tidak terlihat. Kemudian dia masuk kedalam dan duduk disofa sambil menyalakan televisi. Dia tersenyum saat ada penayangan drama baru yang menampilkan sosok U-Know TVXQ yang sangat diidolakannya.
#Siang hari.
"Tidak terasa aku menonton televisi sudah lama." Ucap Jaejoong setelah melihat kejam dinding yang menunjukkan pukul dua belas siang.
"Aku lapar. Tapi aku ingin bertemu Yunnie." Gumam Jaejoong lalu mengelus perutnya.
"Aku merindukan Yunnie. Apa aku kekantornya saja ya?"
"Sepertinya bukan ide yang buruk." ucap Jaejoong setelah berfikir selama beberapa menit.
Jaejoong menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah berganti baju, dia bergegas keluar apartemennya dan memberhentikan sebuah taksi dan membawanya menuju kantor suaminya.
#di Jung's Corp.
"Annyeong, aku ingin bertemu Jung Yunho. Ruangannya ada dimana ya?" tanya Jaejoong pada yeoja resepsionis setelah dia sudah sampai di Jung's Corp.
"Ruangan presdir Yunho ada dilantai lima. Anda bisa menemuinya karena presdir sedang tidak sibuk hari ini." Ucap resepsionis yang mengira Jaejoong akan melamar pekerjaan.
"Arra, gomawoyo." Balas Jaejoong sambil tersenyum manis.
Jaejoong langsung bergegas menuju lift dan menekan angka lima.
"Dia sudah tidak sibuk tapi tidak segera pulang. Dasar pembohong." Gerutu Jaejoong sebal.
"Ini sajangnim, hasil rapat kita tadi." Ucap Ahra sambil memberikan sebuah map pada Yunho.
Yunho membuka map itu dan mengecek isinya.
"Ini apa? Apa kau tidak salah menulis Ahra-ah?" tanya Yunho sambil menunjuk sebuah kertas hasil laporannya pada Ahra.
Ahra menunduk disamping Yunho, karena maju beberapa langkah membuatnya tersandung roda kursi Yunho yang membuatnya terjatuh didepan Yunho.
"Hati-hati eoh." Pesan Yunho yang membuat Ahra merona karena posisi Yunho seperti memeluknya karena menahan tubuhnya agar tidak jatuh didepan Yunho. Posisinya yang sangat dekat juga membuat Ahra berdebar-debar.
"YUNNIE.." teriak Jaejoong dengan mata berkaca-kaca melihat Yunho dengan seorang yeoja.
"BooJae.."
T.B.C
,
,
,
Makin ngelantur ya? Mian ne kalo chap ini lebih mengecewakan dari chap sebelumnya. Apa lebih pendek dari chap kemarin atau malah lebih panjang? #plakk.
Mungkin aku updatenya bakalan lama ya chingu semuanya, soalnya ujian tulis dah melambai-lambai didepan mata. #plakk.
Mian juga gak bisa balas review dichap ini. Insya Allah dichap depan. Dan aku putusin kalo Yunjae dan Hanchul akan aku gabungin jadi satu. Jadi mian kalo aneh. Dichap ini lebih banyak Yunjaenya dulu, tapi dichap depan Yunjae dan Hanchul bakalan imbang (?).
Buat KimShippo dongsaengku tercinta, lewat PM disini aja saeng. Soalnya fb n twitterku jarang banget aku buka coz dah bosen banget ma situs jejaring sosial yang isinya Cuma gitu2 aja. #plakk.
,
Review ne…
