Summary : Youngwoon merestui Yunho dengan Jaejoong sampai mereka berdua telah menikah dengan saat yang tak terduga. Bagimanakah kehidupan mereka saat menikah?
Desclaimer : Jae umma selamanya milik Yun appa. Minho oppa selamanya milik Taeminnie. Tapi baru-baru ini Taeminnie mengakui kalau Minho oppa mutlak milik Julie. #ditendang Shawol.
Warning : Genderswitch, akan ada typo yang berkeliaran (?).
,
,
,
"Jadi Hankyung oppa dan eonnie besok langsung ke China ya?" gumam Jaejoong yang dijawab senyuman manis dari ibu Hankyung.
"Ne, kau mau ikut?" tanya ibu Hankyung.
"Aniya, kalau aku ikut Yunnie tidak ada yang menjaga."
"Mwo?" bingung ibu Hankyung.
"Aku harus menjaganya dari seorang nenek sihir jahat." Celetuk Jaejoong membuat Heechul dan Hankyung tertawa.
"Siapa nenek sihir?" tanya Jungsoo heran tapi dijawab Jaejoong dengan gelengan kepala.
"Annyeonghaseyo." Sapa Siwon tiba-tiba membuat semua yang ada disana menoleh ke Siwon.
"Siwon-ah." Panggil Yunho, Yunho yang akan mendekati Siwon langsung ditahan oleh Jaejoong.
"Disini saja." Jaejoong menatap Ahra tajam sambil menggamit lengan kekar Yunho.
"Mian, kami terlambat. Acaranya belum berakhir kan?" tanya Siwon sopan.
"Belum. Silahkan duduk." Suruh Jungsoo lembut.
"Sa..sajangnim.." panggil Ahra dengan gemetar yang sejak tadi berada disamping Siwon.
"Kenapa panggil-panggil Yunnie?" tanya Jaejoong ketus.
"Saya.." Ahra menggigit bibir bawahnya lalu menunduk. Dibelakang, Siwon mengusap punggung Ahra untuk mnenangkannya.
"Saya minta maaf pada anda dan nyonya." Ahra berusaha mendongakkan kepalanya dan menatap Yunho dan Jaejoong.
"Ne, aku maafkan. Tapi jangan diulangi lagi." Yunho tersenyum.
Ahra meneteskan air matanya setelah melihat senyuman Yunho.
"Kenapa bukan aku yang memilikimu, oppa." Gumam Ahra dalam hati.
Tanpa banyak berfikir, Ahra langsung pergi meninggalkan tempat itu membuat Siwon terkejut.
"Ahra-ah." Panggil Siwon lalu menoleh kekeluarga besar yang ada dihadapannya.
"Tolong maafkan rekan kerja saya." Siwon membungkukkan badannya.
"Sajangnim, saya mengejar Ahra dulu ne." pamit Siwon.
"Ne." sebenci apapun Yunho pada Ahra, tetap saja dia merasa khawatir karena Ahra sekretarisnya dan Ahra juga seorang yeoja.
"Yunnie…" rengek Jaejoong kesal karena Yunho melihat kearah Siwon yang mengejar Ahra dengan pandangan khawatir.
"Sudahlah saeng, cemburumu itu terlalu berlebihan." Kesal Heechul.
"Yunho hanya mencintaimu, Jaejoong-ah." Tambah Yesung membuat Jaejoong makin kesal dan langsung duduk ditempat duduknya tadi.
Yunho ikut duduk disamping Jaejoong lalu mengusap rambut Jaejoong dengan sayang.
"Ya sudahlah, ngomong-ngomong apa tidak terlalu cepat besok ke Cina?" tanya Youngwoon pada Hankyung dan Heechul.
"Ne, lebih cepat lebih baik, appa. Karena saya tidak mungkin libur terlalu lama." Jawab Hankyung.
"Lagipula hanya dua hari saja, Youngwoon-ah. Jangan khawatir, kami pasti akan menjaga Heechul dengan baik." Canda ayah Hankyung.
"Bukan begitu maksudku, aku takut saja mereka kelelahan."
"Aku jamin tidak. Sesampai disana aku tidak mungkin menyuruh Heechul membersihkan rumah atau semacamnya. Dia itu menantu kami bukannya pembantu rumah tangga kami." Celetuk ibu Hankyung lalu terkekeh.
"Ibu…" protes Hankyung. Keluarga Kim tertawa mendengar ucapan ibu Hankyung. Membayangkan Heechul menyapu atau memasak saja sudah membuat perut mereka terasa geli sendiri.
,
"Kau mau kemana?" tanya Siwon setelah menahan lengan Ahra.
"Aku mau pulang." Jawab Ahra ditengah isakannya.
"Aku antar ne."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Ahra berusaha melepas cengkraman (?) Siwon dilengannya.
"Tidak bisa, aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendiri dengan keadaan seperti ini." Jelas Siwon.
"Hiks..hiks.." Ahra memeluk Siwon dan menangis sejadi-jadinya dipelukan Siwon.
"Uljima.." Siwon mengusap rambut Ahra dan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan sedih, aku yakin kau akan mendapatkan namja yang lebih baik dan tulus mencintaimu." Hibur Siwon.
,
#Esok Hari#
,
"Eonnie benar-benar akan pergi?" tanya Jaejoong saat melihat Heechul merapikan barang-barangnya didalam koper. Saat ini Jaejoong berada dikamar Heechul yang memang setelah resepsi pernikahan mereka, Jaejoong meminta untuk menginap dirumahnya.
"Ne, wae?" tanya Heechul dengan masih merapikan baju-bajunya agar muat didalam koper besarnya.
"Aku pasti kesepian." Gumam Jaejoong sambil mengusap perutnya.
"Kau tidak akan kesepian. Bukannya sudah ada Yunho." Hibur Heechul lalu menutup kopernya dan meletakkannya disisi ranjang.
"Duduklah." Perintah Heechul yang melihat Jaejoong bersandar dipintu kamarnya.
Setelah duduk Jaejoong menghela nafas panjang, lalu menoleh menatap Heechul yang mengusap rambutnya dan tersenyum manis.
"Aku pasti kembali, saeng. Disana aku hanya dua hari untuk mengenal keluarga besar Hankyung. Karena kemarin tidak semuanya keluarga Hankyung ikut."
"Tapi aku pasti kesepian." Kekeh Jaejoong.
"Kalau begitu ikut saja. Ahra pasti tidak akan berani mendekati Yunho lagi."
"Eonnie benar, tapi Yunnie tidak mau." Jaejoong mempoutkan bibirnya membuat Heechul terkekeh.
"Memangnya kau sudah bicara dengannya?"
"Ne, dan dia bilang 'Boo, bukannya aku melarangmu, tapi aku khawatir pada makanmu yang melebihi normal itu'." Jaejoong menirukan ucapan Yunho kemarin saat Jaejoong mencoba meminta Yunho untuk ikut ke Cina.
"Hahaha..lalu? kau jawab apa?" Heechul tertawa geli karena melihat raut wajah Jaejoong saat menirukan suara Yunho yang terdengar sangat lucu ditelinganya.
"Ya aku jawab saja, Hankyung oppa kan punya restoran besar kenapa kau harus khawatir, begitu eon."
"Lalu, Yunho jawab apa?"
"Dia jawab begini, 'justru itu yang kukhawatirkan, bisa-bisa dalam dua hari restoran itu akan langsung bangkrut karena kau menghabiskan semua persediaan makanan mereka'." Heechul langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Jaejoong.
"Kenapa eonnie tertawa?" kesal Jaejoong.
"Hahaha..yang dikatakan Yunho benar, saeng. Makanmu saja seperti monster begitu. Hahaha.." Heechul memegangi perutnya dan mengusap matanya yang sedikit berair.
"Eonnie dan Yunnie sama-sama menyebalkan." Jaejoong mengusap perutnya dan memalingkan wajahnya membuat Heechul tertawa lagi.
"Sudah siap?" tanya Hankyung tiba-tiba.
"Hahaha..ne Hannie." Heechul masih tertawa membuat Hankyung heran.
"Kau kenapa?" tanya Hankyung setelah menarik pegangan (?) koper Heechul.
"Tidak ada apa-apa, Hannie." Jawab Heechul sambil melirik ke Jaejoong.
"Ternyata kau disini, boo." Jaejoong menoleh dan melihat Yunho yang berjalan kearahnya.
"Kau tidak bekerja?" tanya Heechul.
"Aku ingin ikut mengantar kalian kebandara. Kan Youngwoon appa tidak bisa ikut." Jelas Yunho.
"Arra, kita berangkat sekarang. Keluargaku sudah menunggu kita dibandara." Ajak Hankyung. Setelah resepsi pernikahan kemarin, keluarga Hankyung memang menginap diapartemen Hankyung.
"Ne, kajja." Heechul menggamit lengan Hankyung.
"Kajja, boo." Ajak Yunho.
"Gendong." Jawab Jaejoong sebal masih dengan memalingkan wajahnya karena masih kesal dengan Heechul.
"Aigoo..kenapa tidak jalan sendiri saja?"
"Kau tidak mau?" sepertinya mood Jaejoong sedang tidak baik hari ini.
"Ne." jawab Yunho pasrah.
Jaejoong merentangkan tangannya sambil tetap mempoutkan bibirnya. Yunho menggendong Jaejoong dengan bridal style.
Cupp..
"Ya!" protes Jaejoong setelah Yunho mengecup bibirnya sekilas.
"Makanya jangan memanyunkan bibirmu lagi." Yunho pura-pura marah membuat Jaejoong makin kesal.
"Dasar mesum." Jaejoong menenggelamkan (?) wajahnya dileher Yunho yang membuat Yunho terkekeh.
Setelah memasukkan semua barang-barang Heechul, Jungsoo dan Heechul masuk kemobil Hankyung. Sedangkan Jaejoong naik kemobilnya sendiri bersama Yunho.
Hankyung terlebih dulu menjalankan mobilnya lalu diikuti Yunho. Tak lama kemudian, mereka sampai dibandara Incheon. Hankyung turun dari mobil terlebih dulu untuk mengeluarkan koper Heechul.
"Appa tidak bisa datang ya, umma?" tanya Heechul dengan wajah sendu. Meski hanya dua hari meninggalkan Korea, tetap saja Heechul merasa berat meninggalkan keluarganya.
"Ne, appa ada meeting penting, chagi. Tidak apa-apa kan?"
"Ne, gwaenchana." Jawab Heechul dengan berusaha tersenyum.
Lalu mereka masuk kedalam bandara. Heechul menggandengan tangan Jaejoong dan Jungsoo yang ada disamping kanan dan kirinya. Entah kenapa dia berdebar-debar.
"Aku akan meletakkan kopermu dulu. Aku sudah menyuruh bibiku untuk menjemput kalian disini."
"Ne Hannie." Jawab Heechul dengan tersenyum manis untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Aku ikut, Hankyung-ssi." Yunho mendekati Hankyung dan membantu membawakan satu koper besar Heechul.
"Gomawo. Kopernya sangat berat Yunho-ssi." Ucap Hankyung dengan suara pelan karena takut Heechul mendengarnya.
Yunho dan Hankyung tertawa sambil menarik koper yang mereka bawa masing-masing.
"Apa yang mereka tertawakan?" gumam Heechul.
"Molla, kaum namja memiliki dunianya sendiri." Jawab Jungsoo asal.
"Heechul-ah.." panggil bibi Hankyung sambil mendekat ke Heechul.
"Kajja, kau sudah ditunggu eonnie dan oppa." Heechul tersenyum lalu sedikit terkejut saat bibi Hankyung menggandeng tangannya sehingga mendahului umma dan dongsaengnya.
Jungsoo dan Jaejoong tersenyum lalu mengikuti bibi Hankyung.
"Heechullie." Panggil ibu Hankyung sambil berdiri dari kursi.
"Umma.."
"Maaf jika kalian menunggu lama." Ucap Jungsoo sambil membungkukkan badannya pada keluarga Hankyung.
"Gwaenchana. Kami juga tidak terlalu lama berada disini."
"Duduklah, Heechul-ah." Ayah Hankyung menepuk tempat yang tadi diduduki ibu Hankyung.
Heechul mengangguk lalu duduk disamping ayah mertuanya. Sambil sesekali melirik Jungsoo dan Jaejoong.
"Dimana Hankyung?" tanya ayah Hankyung.
"Hankyung sedang meletakkan barang saya, appa."
"Ne, karena sepuluh menit lagi pesawat yang akan kita naiki akan berangkat."
Lalu tak lama kemudian Hankyung dan Yunho setengah berlari menghampiri keluarganya dan Heechul.
"Mian, agak lama." Ucap Hankyung sedikit ngos-ngosan.
"Tidak apa-apa. Ayo, kita berangkat." Ajak ibu Hankyung dengan bahasa Mandarin membuat Heechul memandang ibu mertuanya bingung.
"Umma bilang 'ayo kita berangkat'." Ucap Hankyung seolah mengerti pikiran Heechul yang membuat Heechul tersipu.
"Umma.." Heechul memeluk Jungsoo yang dibalas oleh Jungsoo.
"Hati-hati ne. Turuti semua perkataan umma dan appa Hankyung. Berusahalah menjadi menantu dan istri yang baik, karena bagaimanapun juga Hankyung adalah anak tunggal dikeluarganya. Kau mengerti maksud umma kan?" Heechul mengangguk. Jungsoo melepas pelukannya lalu menangkup pipi putri sulungnya.
"Telpon umma. Jangan lupa ne." Heechul mengangguk lalu Jungsoo mencium kening Heechul.
"Saeng.." Heechul ganti memeluk Jaejoong.
"Hati-hati ne, eon. Buat keponakan yang banyak untukku." Heechul terkekeh mendengar ucapan Jaejoong.
"Aku tidak mau hamil dulu." Jawab Heechul sambil memukul punggung Jaejoong.
"Hehehe..ne, terserah eonnie. Jangan lupa untuk menghubungiku ya, eon."
"Ne, aku akan membelikanmu oleh-oleh." Ucap Heechul lalu melepas pelukannya.
"Jinjja? Aku tunggu oleh-olehnya, eon." Jawab Jaejoong antusias yang membuat Yunho menghela nafas melihat perubahan sikap Jaejoong yang berubah-ubah.
"Jaga umma dan dongsaengku. Dan jangan macam-macam dengan sekretarismu itu. Karena kalau Jaejoong marah lagi, aku tidak akan mau membantumu lagi." Ancam Heechul membuat Yunho terkekeh.
"Kau tenang saja. Itu yang pertama dan terakhir." Jawab Yunho mantap.
"Arra, kupegang janjimu, Jung pabbo."
"Chullie, jangan panggil Yunho begitu." Pesan Jungsoo.
"Ne, umma. Aku pergi dulu."
"Hati-hati. Saya titip Heechul pada kalian semua." Jungsoo menggeser tubuh Heechul sedikit agar dapat melihat keluarga besannya.
"Anda tidak perlu khawatir, nyonya Kim. Heechul akan kami jaga seperti anak kandung kami sendiri." Jawab ayah Hankyung membuat Jungsoo tersenyum lega.
"Annyeong umma. Sampaikan pamit saya pada Youngwoon appa ne." ucap Hankyung lalu memeluk Jungsoo setelah itu memeluk Jaejoong.
"Pasti akan aku sampaikan." Jungsoo tersenyum pada Hankyung setelah Hankyung melepas pelukannya pada Jaejoong.
"Gomawo. Yunho-ssi, aku pergi dulu ne." Hankyung tersenyum pada Yunho.
"Ne, hati-hati. Jangan lupa bawakan oleh-oleh untukku." Hankyung terkekeh lalu mengacungkan ibu jarinya pada Yunho.
Hankyung menggandeng tangan Heechul lalu mereka masuk kepintu masuk. Heechul menoleh ke Jungsoo dan Jaejoong. Heechul melambaikan tangannya yang dibalas oleh Jungsoo dan Jaejoong.
"Aku tidak menyangka akan secepat ini aku melepas kedua putriku." Gumam Jungsoo setelah Heechul, Hankyung dan keluarganya sudah tidak terlihat.
"Ne, waktu akan berjalan sebagaimana mestinya umma. Heechul dan Jaejoong bukan anak kecil lagi." Ucap Yunho membuat Jungsoo dan Jaejoong menatap Yunho.
"Kau benar." Jungsoo mengusap matanya yang berair.
"Umma jangan sedih, Heechul eonnie akan kembali kerumah kok."
"Ne, kajja kita pulang." Ajak Jungsoo.
Yunho mengandeng tangan kanan Jungsoo sedangkan Jaejoong menggandeng tangan kiri Jungsoo. Setelah masuk kedalam mobil, Yunho menjalankan mobilnya menuju rumah mertuanya.
,
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hankyung saat Heechul hanya diam disepanjang perjalanan mereka dipesawat.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit mengontrol detak jantungku." Heechul terkekeh membuat Hankyung mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku…aku memikirkan bagaimana keluarga besarmu menyambutku nanti."
"Aku yakin mereka akan menyukaimu. Orang tuaku saja menyukaimu." Hankyung melirik orang tua dan paman bibinya yang ada disebelahnya.
"Ne, aku juga berharap seperti itu." Heechul menundukkan wajahnya.
"Chullie…" Hankyung meraih bahu Heechul dan menyandarkannya dibahu kokohnya.
"Jangan memikirkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi." Heechul tersenyum dan mengangguk.
"Saranghae." Bisik Hankyung lalu mencium kening Heechul.
"Nado." Heechul membenamkan kepalanya dileher Hankyung sambil menutup mata indahnya. Dan tak lama kemudian Heechulpun terlelap.
,
Beberapa jam kemudian, Hankyung, Heechul dan keluarganya sudah berada dibandara. Setelah mengambil barang-barangnya, mereka semua berjalan keluar dan mengambil mobil orang tua Hankyung yang diletakkan dibandara.
"Apa kau membandingkan bandara negaramu dengan negaraku?" goda Hankyung saat dilihatnya Heechul melihat sekeliling dibandara negaranya.
"Sedikit." Heechul terkekeh.
Setelah meletakkan barang-barang mereka dibagasi mobil, Hankyung naik terlebih dahulu dengan Heechul. Mereka berdua duduk dibelakang sementara keluarga Hankyung didepan.
Setelah menyalakan mesin mobil, ayah Hankyung menoleh kebelakang dan menatap Heechul.
"Heechullie, selamat datang di Cina."
"Ne, xie xie." Keluarga Hankyung tertawa mendengar jawaban Heechul yang mencampurkan bahasa Korea dan Mandarin.
"Aiisshh.." Heechul menutup wajahnya dengan kedua tangannya membuat Hankyung tertawa lebih keras.
Ayah Hankyung menjalankan mobilnya ke Beijing, disepanjang perjalanan mereka saling bercanda dan tertawa.
Satu jam kemudian mereka sampai dirumah Hankyung. Hankyung turun terakhir kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Heechul turun.
Setelah Heechul turun, dia dibuat kagum oleh rumah Hankyung. Rumahnya tidak besar dan juga tidak kecil, terlihat sangat asri karena ada taman kecil dengan kolam ikan ditengah-tengahnya.
"Beda sekali dengan rumahmu ya." Heechul menoleh pada ibu mertuanya lalu mengangguk.
"Ne, tapi rumah anda lebih indah umma." Jawab Heechul jujur sambil tersenyum.
"Hahaha, jinjja?"
"Eumm.." Heechul mengangguk lucu lalu ibu Hankyung menarik pelan tangan Heechul untuk masuk kedalam rumahnya. Karena Hankyung, suami, dan adik iparnya sedang mengambil barang-barang mereka dibagasi.
Heechul menggigit bibir bawahnya saat ibu Hankyung memegang knop pintu rumahnya.
"Selamat datang!"
"Eh?"
Heechul terkejut karena melihat sebuah banner berukuran sedang bertuliskan hangul yang dipegang oleh beberapa namja dan yeoja.
"Aku tidak menyangka kalian menyiapkan ini semua." Heechul menoleh ke ibu mertuanya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ibu mertuanya tadi.
"Ada apa ini?" tanya Hankyung tiba-tiba sambil membawa koper miliknya dan Heechul.
Mereka yang memegang banner menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu kompak mengatakan
"Selamat datang dikeluarga besar kami, Tan Heechul." Heechul tersenyum haru melihat apa yang disuguhkan keluarga besar Hankyung. Heechul benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan menyambutnya dengan cara manis seperti ini.
"Mereka belajar bahasa Korea selama satu bulan penuh." Ucap ayah Hankyung.
"Jinjja?"
"Ne, karena mereka aku suruh untuk berbicara bahasa Korea selama kau ada disini."
"Ne, karena kata Hangeng kau tidak bisa bahasa Mandarin sama sekali." Ibu Hankyung terkekeh membuat Heechul menundukkan kepala karena malu.
"Memangnya, siapa yang mengajarkan bahasa Korea pada kalian?" tanya Heechul karena seingatnya sebulan yang lalu Hankyung tidak pernah pulang kekampung halamannya.
"Oh…yang mengajari kami itu…"
"Hankyung oppa!" tiba-tiba ada seorang yeoja cantik memotong ucapan ayah Hankyung dan langsung memeluk Hankyung dari belakang.
"Victoria." Jawab Hankyung setelah membalikkan badannya untuk melihat siapa yeoja yang memeluknya.
Victoria tersenyum senang menatap Hankyung lalu pandangannya bertemu dengan Heechul.
Deg..
"Yeoja ini." Gumam Heechul dalam hati. Heechul teringat dulu kalau Victoria membencinya.
"Annyeong Heechul eonnie." Sapa Victoria sambil mendekat ke Heechul.
"Nado annyeong." Heechul berusaha tersenyum pada Victoria walau sebenarnya Heechul merasa sedikit gugup.
"Oya, Victoria yang mengajarkan bahasa Korea pada kami." Ucap ayah Hankyung tiba-tiba.
"Kau mengajari mereka?"
"Ne eon, supaya nanti kau tidak bingung dengan percakapan mereka." Victoria terkekeh membuat Heechul tersenyum.
"Mungkin dia sudah berubah. Dia benar-benar sudah merelakan Hankyung." Gumam Heechul dalam hati.
"Kajja Chullie, aku kenalkan kau dengan saudara-saudara Hangeng." Ajak ibu Hankyung.
Heechul tersenyum saat diperkenalkan dengan keluarga besar Hankyung. Dia tidak menyangka kalau keluarga Hankyung menyambutnya dengan begitu hangat.
Setelah berkenalan dengan saudara-saudara Hankyung, Heechul, Hankyung, dan Victoria duduk dibalkon kamar Hankyung.
"Mian Heechul eonnie, aku tidak datang dipesta pernikahanmu dengan Hankyung oppa." Sesal Victoria.
"Gwaenchana. Aku tahu kau sibuk." Heechul tersenyum pada Victoria.
"Kudengar Jaejoong hamil ya?"
"Ne, tak kusangka dia akan hamil secepat itu."
"Hahaha, kau sendiri kapan mau punya anak?" goda Victoria sambil tersenyum menggoda pada Hankyung dan Heechul.
"Aku tidak ingin punya anak dulu. Aku mau fokus bekerja dulu, baru aku memutuskan akan hamil. Ya kan, Hannie?"
"Ne Chullie, aku terserah padamu saja." Jawab Hankyung dengan tersenyum lembut.
"Sayang sekali, padahal kan Hankyung oppa sangat menyukai anak kecil. Ya kan oppa?" ucap Victoria.
"Benar, tapi kalau Chullie belum siap untuk hamil aku tidak akan memaksa." Jawab Hankyung.
"Kau yakin?" tanya Heechul hati-hati karena merasa tidak enak pada Hankyung setelah mendengar ucapan Victoria.
"Ne Chullie. Jangan terlalu difikirkan." Hankyung mengusap rambut Heechul membuat Heechul tersenyum lega.
"Ternyata kalian disini. Kajja Chullie, kita kerestoran sekarang. Aku ingin mengenalkanmu juga pada para karyawanku." Ajak ibu Hankyung setelah mendekat ke Heechul, Hankyung, dan Victoria.
"Jangan sekarang umma. Besok saja, Heechul masih lelah dengan perjalanan tadi." Tolak Hankyung.
"Hanya kerestoran saja Hangeng."
"Ne umma." Heechul akan berdiri tapi dicegah oleh Hankyung.
"Aniya umma. Besok saja, sekalian aku mau mengajak Heechul jalan-jalan." Jelas Hankyung.
"Arra, tapi sekarang kita mau melakukan apa? Masa' hari pertama Heechul disini tidak mengesankan sama sekali?" rajuk ibu Hankyung.
"Bagaimana kalau kita memasak besar-besaran, ahjumma. Pasti menyenangkan." Usul Victoria lalu berdiri dari duduknya.
"Ide yang bagus, Vic. Kita buat barbeque (bener gak tulisannya#plakk) dan makanan lainnya." Victoria mengangguk cepat dengan usul ibu Hankyung.
"Baik, kalau begitu kita belanja sekarang. Kau mau ikut, chagi?" ibu Hankyung menoleh menatap Heechul.
"Aniya umma. Heechul akan disini bersamaku." Jawab Hankyung cepat membuat Heechul mempoutkan bibirnya.
"Baiklah, kami belanja dulu ne." Heechul mengangguk.
"Mereka dekat sekali ya?" gumam Heechul setelah Victoria dan ibu Hankyung sudah keluar dari kamar Hankyung.
"Ne, karena memang sejak kecil Victoria sering main kesini." Jawab Hankyung yang membuat Heechul sedikit tidak nyaman.
Lalu mereka terdiam menikmati angin semilir yang membelai wajah mereka.
"Aku haus, Hannie. Aku turun dulu ne." Hankyung mengangguk lalu Heechul bergegas keluar dari kamar Hankyung.
Setelah sampai didapur, Heechul membuka kulkas lalu mengambil botol air kemudian menuangkannya kedalam gelas.
"Hai Heechulie." Panggil bibi Hankyung, adik dari ayah Hankyung.
"Ne." Heechul tersenyum lalu meletakkan gelasnya dimeja makan.
"Kau tidak ikut Vic belanja?"
"Ani, Hankyung tidak memperbolehkanku." Jawab Heechul.
"Oh..kakak ipar memang suka belanja bersama Victoria." Ucap bibi hankyung.
Deg..
Lagi-lagi Heechul merasa tidak nyaman.
"Aku pikir juga begitu."
"Ne, kau tahu? Sebenarnya orang tua Vic dan orang tua Hangeng menjodohkan mereka sejak kecil. Karena sejak dulu, kakak ipar sangat menyukai sosok Vic." Jelas bibi Hankyung membuat Heechul tersentak.
"Begitu ya?"
"Ne, Victoria sangat cantik dan sangat ramah. Dia juga pandai memasak, masakannya sangat enak melebihi masakan kakak ipar. Hankyung juga sangat menyukai masakan Vic."
Deg..
Dada Heechul berdenyut sakit mendengar ucapan bibi Hankyung, entah kenapa dia merasa tertohok dan membuatnya semakin jauh dengan Hankyung.
"Aku pikir Hankyung akan menikah dengan Victoria, ternyata tidak. Aku sempat kecewa dengan kenyataan itu." Gumam bibi Hankyung pelan tapi dapat didengar dengan jelas oleh Heechul.
"Victoria memang lebih baik dariku." Gumam Heechul dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa aku jadi bicara ngelantur begini. Mian ne, kau pasti menganggapku cerewet kan?" Heechul berusaha tersenyum meski matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku tinggal dulu ne. Anggap saja rumah sendiri." Setelah Heechul mengangguk, bibi Hankyung meninggalkan Heechul didapur.
Heechul mengusap air matanya yang menumbung dipelupuk matanya.
"Kenapa aku harus menangis?" gumam Heechul.
"Chullie.." panggil Hankyung tiba-tiba membuat Heechul terkejut.
"Kau kenapa?" Hankyung menangkup wajah Heechul karena melihat mata Heechul sedikit basah.
"Nan gwaenchana." Heechul berusaha tersenyum pada Hankyung.
"Jangan berbohong padaku. Aku tahu kau berbohong, kau sakit?"
"Aniya, aku baik-baik saja."
"Jangan bohong."
"Aku tidak bohong. Kau sudah tidak percaya padaku lagi." Kesal Heechul membuat Hankyung menghela nafas.
"Ne, aku percaya."
Cupp..
Hankyung mencium bibir pulm Heechul cepat karena takut ketahuan oleh keluarganya.
"Dasar mesum." Ejek Heechul.
"Yunho lebih mesum." Heechul tertawa dan membuat Hankyung ikut tertawa.
,
"Kau yakin mau menginap disini?" tanya Youngwoon pada Jaejoong.
"Ne, memangnya kenapa appa?"
"Apa kau sudah minta izin pada suamimu?"
"Belum appa. Aku suruh Yunho oppa menginap juga disini malam ini."
"Mwo?" Jungsoo menoleh menatap Jaejoong.
"Kenapa? Apa kau tidak betah dirumahmu?" tanya Jungsoo.
"Aniya, hanya saja aku ingin tidur dengan Yunho oppa dikamarku." Jawab Jaejoong membuat Youngwoon dan Jungsoo melongo (?).
"Aku kira ada apa. Kau ini." Youngwoon menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsunya yang makin lama makin ajaib itu.
"Aku akan telpon Yunnie dulu ne." Jaejoong mengambil ponselnya lalu menghubungi Yunho.
Youngwoon dan Jungsoo menghela nafas melihat Jaejoong.
,
#Malam Hari#
,
"Kalian darimana saja?" tanya ayah Hankyung pada istri dan Victoria yang baru saja pulang dari berbelanja tadi.
"Kami jalan-jalan dulu. Tadi ada bazar pakaian dan sepatu yang bagus-bagus. Ya kan, Vic?" Victoria mengangguk lalu beranjak menuju taman belakang.
Heechul yang baru saja mandi dan keluar dari kamar Hankyung melihat mertuanya sedang membawa barang-barang belanjaan menuju taman belakang.
"Tapi kenapa lama sekali? Kau lupa kalau ada Heechul disini?" ucap ayah Hankyung ketika sampai ditaman belakang.
"Mian, aku lupa." Ibu Hankyung terkekeh membuat Heechul yang sudah ada dibelakang mereka terkejut dan lagi-lagi membuat Heechul merasa tidak nyaman.
"Eonnie." Panggil Victoria setelah menyadari kedatangan Heechul.
Heechul tersenyum lalu menghampiri mertuanya.
"Baru pulang, umma?" tanya Heechul sambil membantu ibu Hankyung mengeluarkan daging dan sayuran.
"Ne, mian ne umma meninggalkanmu. Tadi ada bazar pakaian dan sepatu yang bagus-bagus. Kau mau kesana besok?"
"Ne. Aku juga mau membelikan keluargaku oleh-oleh."
"Besok kita berangkat bersama-sama ne." Heechul tersenyum lalu mengangguk.
"Aigoo..umma lama sekali. Kemana saja eoh? Tersesat dijalan ya?" ejek Hankyung tiba-tiba.
"Ummamu dan Victoria memang cocok. Mereka sama-sama pecinta shopping dan selerapun juga sama. Mereka sampai lupa waktu kalau sudah bersama-sama seperti hari ini." Ucap ayah Hankyung yang dibalas dengan pukulan ringan dilengannya dari ibu Hankyung.
Heechul menggigit bibir bawahnya dan rasa tidak nyaman yang dirasakannya membuatnya sesak.
"Chullie, gwaenchana?" tanya Hankyung.
"Aniya, aku baik-baik saja, Hannie." Heechul berusaha tersenyum didepan Hankyung. Hankyung mengerutkan keningnya, Hankyung yakin kalau Heechul berbohong.
"Kita masak dagingnya sekarang ne." Victoria langsung mengambil daging dan bahan-bahan lainnya yang ada dimeja dekat Heechul.
"Kau ini semangat sekali." Ejek Hankyung.
"Tentu saja. Memasak adalah hobiku." Victoria memotong daging tanpa menatap Hankyung.
"Apa kau bisa memasak?" tanya ibu hankyung.
Heechul menggelengkan kepalanya pelan. Heechul merasa kalau dia bukan istri yang baik dimata orang tua Hankyung.
"Umma akan mengajarimu. Atau minta ajari Vic saja, dia sangat pintar memasak." Tawar ibu Hankyung.
"Aniya, aku yang akan mengajarinya, umma lupa kalau aku juga pandai memasak dan tidak kalah dengan Vic?" ucap Hankyung sambil memeluk Heechul dan membuat ibu dan ayah Hankyung tertawa.
"Ne, mian kalau aku lupa, Han." Kemudian ibu Hankyung menarik pelan tangan Heechul untuk mengajaknya mendekat ke Victoria.
"Kita masak bersama ne." ajak ibu Hankyung pada Heechul.
"Aku senang kalau masak bersama seperti ini. Heechul eonnie yang melapisi dagingnya dengan minyak ya."
"Ne Vic." Heechul tersenyum lalu menoleh pada Hankyung yang tersenyum manis padanya.
Acara memasak bersamapun sangat ramai dengan canda dan tawa dari keluarga besar Hankyung.
"Heechul-ah, tak kusangka kau kau tampak sangat seksi jika memasak seperti itu. Kalau yeoja secantik Heechul menjadi karyawan direstoranmu, pasti pelangganmu akan bertambah setiap harinya." Jelas paman Hankyung pada ayah Hankyung.
"Hahaha, aku masih sayang nyawa. Aku tidak mau mati ditangan anakku sendiri." Ayah Hankyung mengusap lehernya sambil melirik ke Hankyung. Semua yang ada disana tertawa, termasuk Heechul.
"Aku jadi rindu rumah. Appa, umma, Joongie." Gumam Heechul dalam hati.
Tak lama kemudian semua makanan yang mereka masak telah matang. Hankyung duduk diantara Heechul dan Victoria.
"Gomawo." Heechul tersenyum pada Hankyung setelah Hankyung meletakkan sepotong daging panggang pada Heechul.
"Hannie.." panggil Heechul pada Hankyung sambil menyuapkan daging yang ada dipiringnya.
"Romantis sekali. Aku iri." Victoria memanyunkan bibirnya melihat Heechul dan Hankyung.
"Makanya carilah kekasih." Hankyung mengacak rambut Victoria dengan gemas.
"Tidak ada yang cocok dengan seleraku, oppa." Jawab Victoria lalu menyuapkan daging kemulutnya.
"Kau terlalu pilih-pilih, Vic." Victoria hanya memeletkan lidahnya pada Hankyung yang membuat Heechul tersenyum.
Keluarga besar itu makan dengan diselingi canda dan tawa. Berkali-kali Heechul menghela nafas karena teringat dengan keluarganya.
Hankyung menggenggam tangan Heechul untuk menenangkannya meski Hankyung tidak tahu apa yang membuat Heechul tampak murung.
Tak terasa malam sudah semakin larut. Dan makanan yang dimeja sekarang sudah habis hanya menyisakan piring-piring dan gelas-gelas yang kotor.
"Mian oppa, aku langsung pulang ne? umma memintaku langsung pulang karena sudah terlalu malam." Pamit Victoria pada Hankyung dan keluarganya.
"Biar diantar Hankyung ne?" tawar ibu Hankyung.
"Tidak perlu, ahjumma. Aku pulang sendiri saja." Tolak Victoria sambil melirik ke Heechul karena merasa tidak enak padanya.
"Tidak apa-apa, Vic. Lagipula ini sudah malam, tidak baik kalau kau pulang sendiri." Ucap Heechul membuat Hankyung menoleh menatapnya.
"Kau antar ne?" suruh Heechul pada Hankyung. Hankyung menghela nafas lalu mengangguk.
"Aku antar." Hankyung berdiri membuat Victoria sedikit merona dan Heechul mengetahuinya.
"Aku pergi dulu. Tunggu aku dikamar ne." Hankyung mencium kening Heechul lalu berjalan meninggalkan taman belakang.
"Chullie, jangan khawatir. Vic dan Hangeng tidak mungkin akan berbuat macam-macam." Ucap ayah Hankyung membuat Heechul tersenyum.
"Kau langsung tidur saja. Biar umma dan yang lainnya yang mencuci piring." Heechul menggeleng pada ibu mertuanya.
"Aniya, saya bantu umma. Tadi umma sudah belanja, masa' saya langsung tidur sementara umma mencuci piring." Tolak Heechul lembut.
"Gwaenchana, umma tahu kau pasti lelah. Gomawo atas perhatianmu, chagi." Ibu Hankyung tersenyum manis pada Heechul membuat Heechul teringat pada Jungsoo.
"Segeralah tidur. Besok pagi-pagi kita akan jalan-jalan seharian. Besok hari terakhirmu disini kan." Ucap ayah Hankyung sambil mengusap pundak Heechul.
"Ne, selamat malam semua." Heechul berdiri setelah mertuanya menganggukkan kepala.
Heechul menaiki tangga menuju kamar Hankyung. Untuk sementara, kamar Hankyung juga akan menjadi kamarnya. Setelah menutup pintu, Heechul membuka lemari Hankyung dan mengambil piyama, karena saat siang tadi Heechul sudah memindahkan baju-bajunya dan Hankyung dilemari Hankyung.
"Lelah juga." Gumam Heechul setelah mengganti piyama.
Heechul menidurkan tubuhnya diranjang. Lalu mengambil ponselnya dimeja nakas dan menghela nafas saat tak ada satupun panggilan atau pesan dari keluarganya.
"Apa mereka sudah melupakanku?" gumam Heechul lalu mengambil ipodnya dan mendengarkan lagu favoritnya dan Hankyung, Marry U dari Super Junior. #plakk.
,
"Aku ngantuk, Yunnie." Jaejoong mengucek-ngucek matanya yang berair karena terlalu banyak menguap. #plakk.
"Apa kau tidak takut gemuk, Joongie? Kau sudah menghabiskan separuh makan malam tadi dan sekarang kau mau langsung tidur." Omel Youngwoon membuat Jungsoo menyikut pinggang Youngwoon.
"Aku kan memang mengantuk, appa. Ayo kita tidur, Yunnie." Jaejoong menarik tangan Yunho.
"Kami tidur dulu, appa, umma." Pamit Yunho yang dibalas senyuman lembut dari Jungsoo.
"Kenapa kau bicara begitu pada Joongie?" omel Jungsoo saat Jaejoong dan Yunho masuk kekamar Jaejoong.
"Salah jika aku bicara begitu. Kalau terlalu gemuk kan tidak baik untuk Jaejoong saat melahirkan nanti." Jawab Youngwoon tidak mau kalah.
"Jaejoong memang makannya banyak. Tapi sampai sekarang tubuhnya masih langsing seperti dulu kan? Kalau kau memarahinya karena dia yang banyak makan, aku takut kalau Jaejoong nanti jadi memikirkan perkataanmu dan membuatnya tidak mau makan. Kalau bayinya kenapa-napa bagaimana? Kalau itu sampai terjadi kau orang pertama yang aku salahkan kalau cucu pertama kita kenapa-napa." Ancam Jungsoo panjang dan lebar.
"Aku kan hanya memberi saran." Jawab Youngwoon berkilah. Dalam hati dia juga khawatir kalau yang diucapkan Jungsoo menjadi kenyataan.
"Makanya kalau bicara pada orang hamil dipikirkan dulu. Kau tahu sendiri kan kalau orang hamil itu perasaannya sangat sensitif. Yunho yang jadi suaminya saja tidak pernah mengeluh dengan perubahan Jaejoong yang menjadi food monster begitu."
"Ne, ne." akhirnya Youngwoon mengalah pada istri cantiknya ini.
"Heechul sekarang sedang apa ya?" gumam Youngwoon.
"Aku merindukannya." Jungsoo mengangguk, sepakat dengan Youngwoon.
"Keluarga kita terasa tidak lengkap." Jungsoo menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Youngwoon.
"Apa kita perlu menghubunginya?"
"Jangan. Biarkan mereka menikmati hari pertama mereka menjadi suami-istri. Kita jangan menganggu dulu." Youngwoon mengangguk lalu mencium kening Jungsoo.
,
"Hannie lama sekali." Gumam Heechul lalu bangun dari tidur.
"Sudah satu jam dia pergi mengantar Victoria. Jangan-jangan…." Heechul mengambil guling lalu meremasnya dengan kuat.
"Awas saja kalau cina oleng itu berbuat yang tidak-tidak dibelakangku." Geram Heechul. Tak berapa lama Heechul terdiam karena teringat dengan Jaejoong.
"Jadi begini yang dirasakan Jaejoong. Rasanya memang tidak enak dan benar-benar membuat khawatir." Gumam Heechul yang teringat kecemburuan Jaejoong pada Yunho dan Ahra.
"Aigoo saeng… mianhae karena aku sering mengatai cemburumu yang terlalu berlebihan." Heechul membenamkan wajahnya diguling.
Cklek..
Heechul langsung mendongak ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
"Belum tidur, honey?" Heechul memicingkan matanya dan bangkit dari duduknya.
"Darimana saja? Mengantar Victoria saja lama sekali?" rajuk Heechul setelah berhadapan dengan Hankyung. Hankyung menutup pintu lalu menguncinya.
"Mian, banku kempes ditengah jalan." Hankyung menjawab dengan enteng lalu meninggalkan Heechul untuk ganti baju.
"Jangan bohong. Apa yang kau lakukan dengannya?" Hankyung menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Heechul.
"Apa maksudmu?" tanya Hankyung tidak mengerti.
"Jangan membohongiku, Hannie. Aku tahu kalau Vic masih mencintaimu." Hankyung terdiam beberapa detik lalu tersenyum. Hankyung mendekati Heechul lalu tersenyum menggoda.
"Cemburu eoh?"
"Tentu saja. Istri mana yang tidak cemburu kalau suaminya pergi dengan yeoja lain selama satu jam lebih." Heechul mengancungkan jari telunjuknya pada Hankyung.
"Hahaha. Banku kempes, Chullie. Sungguh." Hankyung memeluk Heechul.
"Aishh…"
"Percaya padaku. Aku hanya mencintaimu." Hankyung melonggarkan pelukannya dan menatap Heechul lembut.
"Ne." Heechul membuang muka tidak mau menatap Hankyung.
"Eh?" Heechul terkejut karena tiba-tiba digendong oleh Hankyung.
"Ayo." Hankyung membawa Heechul kekasurnya lalu menidurkannya disana.
"Ayo apa?" tanya Heechul bingung.
"Aku minta jatah malamku. Malam pertama kita."
Blushh..
Hankyung tertawa melihat Heechul yang berblushing.
"Aku akan lembut. Aku janji." Ucap Hankyung.
"Ne, tapi aku tidak mau punya anak dulu."
"Ne Chullie."
Hankyung mendekatkan wajahnya kewajah Heechul, dan Heechul segera mengalungkan lengannya dileher kokoh Hankyung. Dan malam ini, akan menjadi malam mereka yang panjang karena untuk pertama kalinya, mereka akan bersatu atas nama cinta dan tak ada unsur paksaan. #plakk.
,
"Yun.." panggil Jaejoong pada Yunho yang tidur disampingnya.
"Emmhh…" Yunho makin mengeratkan pelukannya pada Jaejoong.
"Yunnie bangun." Jaejoong mencubit-cubit pipi Yunho yang membuat Yunho membuka matanya dengan terpaksa.
"Ada apa, Joongie?" tanya Yunho dengan suara parau.
"Aku lapar."
"Mwo?" Yunho langsung membuka matanya karena terkejut. Dilihatnya jam gajah Jaejoong dimeja nakasnya lalu berbalik memandang Jaejoong dengan tatapan tidak percaya.
"Yunnie..aku lapar.." Jaejoong mempoutkan bibirnya membuat Yunho melongo tidak percaya.
"Boo, kita makan malam baru tiga jam yang lalu. Kau sudah lapar lagi?"
"Ne, aku ingin makan mi ramen buatanmu." Rajuk Jaejoong.
"Mwo?"
"Aku ingin mi ramen buatan Yunnie…" Jaejoong mengusap dada bidang Yunho membuat Yunho sedikit terangsang.
"Ne, aku akan buatkan. Tapi bagaimana kalau kissu dulu." Yunho menyeringai mesum.
"Aniya. Aku lapar, Yun. Aku tidak yakin kalau hanya kissu saja. Nanti pasti jadi lebih dari sekedar kissu. Aku sangat mengerti dirimu, tuan Jung." Protes Jaejoong.
"Tidak mau nih."
"Tidak. Ppali, buatkan mi ramen. Aku lapar sekali, Yun." Rengek Jaejoong membuat Yunho menghela nafas.
"Ne, kajja." Yunho bangkit dari tidurnya diikuti oleh Jaejoong.
Yunho dan Jaejoong keluar kamar dan rumah sudah tampak sepi.
"Mi ramennya satu kan?" tanya Yunho setelah mereka sudah sampai didapur.
"Aniya, lima mi ramen ne." jawab Jaejoong setelah duduk dikursi meja makan.
"Mwo? Lima?"
"Ne, jangan lama-lama ne." Jaejoong memberikan senyum termanisnya pada Yunho.
Yunho menghela nafas lalu mengambil lima mi ramen lalu memasaknya.
"Yun, Heechul eonnie dan Hankyung oppa sekarang sedang apa ya?" gumam Jaejoong sambil terkekeh.
"Tentu saja sama dengan kita saat hari pertama menikah, boo."
"Jadi ingin melihat mereka NCan." Jaejoong mengelus perutnya.
"Jangan macam-macam, boo. Mereka di Cina." Pesan Yunho karena takut Jaejoong tiba-tiba minta ke Cina.
"Aku tahu." Jawab Jaejoong cepat lalu menyandarkan kepalanya dimeja.
Tak lama kemudian mi ramen buatan Jung Yunho sudah matang. Dengan asap yang masih mengepul Yunho meletakkan mi ramennya yang sudah dipindahkannya kemangkok besar.
"Kenapa tidak sekalian dengan pancinya?" tanya Jaejoong heran karena biasanya kalau makan ramen beserta dengan pancinya juga.
"Kau sangat ceroboh, boo. Aku tidak mau panci yang masih panas itu terkena kulitmu." Jelas Yunho membuat Jaejoong tersenyum.
"Kau tidak minta, Yun?" tawar Jaejoong setelah mengambil sumpit.
"Aniya, kalau aku minta nanti kau pasti akan kurang kenyang dan meminta dibuatkan lagi. Tidak ada ramen lagi didalam lemari." Jaejoong mengangguk lalu memakan mi ramennya.
Yunho menumpukan kedua tangannya dipipinya sambil melihat Jaejoong memakan porsi jumbo mi ramennya.
Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang dengan lahapnya memakan mi ramennya. Dan tak jarang Yunho membersihkan sudut bibir Jaejoong dari kuah atau mi ramen yang tertinggal.
"Kenyang sekali." Jaejoong mengusap perutnya setelah menghabiskan mi ramennya.
Yunho mengambil mangkok Jaejoong lalu mencucinya. Setelah selesai Yunho berbalik lalu menggandeng Jaejoong menuju kekamar mereka kembali.
Setelah menutup dan mengunci kamar, Yunho menidurkan tubuhnya disamping Jaejoong lalu memeluk Jaejoong dengan erat.
,
#Pagi Hari#
,
"Emmhh.." Hankyung membuka sedikit matanya lalu meraba sampingnya.
"Chullie.." panggil Hankyung karena tidak menemukan Heechul disampingnya.
Hankyung bangun dari tidurnya, sambil menguap Hankyung berjalan menuju kamar mandi.
Heechul sudah bangun sejak pagi-pagi tadi. Dan diajak ibu Hankyung untuk memasak bersama. Meski Heechul tidak bisa memasak, ibu Hankyung dengan telaten mengajarkan Heechul cara memasak yang baik.
"Hangeng belum bangun ya." Gumam ibu Hankyung setelah melihat semua keluarga besarnya sudah memenuhi meja makan.
"Aku akan membangunkannya, umma." Heechul beranjak menuju kamarnya.
"Hannie.." panggil Heechul setelah membuka pintu dan melihat Hankyung yang sedang memakai celana.
"Ada apa, Chullie?" tanya Hankyung sambil membalikkan tubuhnya pada Heechul.
Blusshh..
Heechul merona melihat Hankyung yang bertelanjang dada. Heechul jadi teringat dengan apa yang mereka lakukan kemarin malam.
"Chullie.." panggil Hankyung lagi sambil mendekat ke Heechul.
"Ka..kau..sudah ditunggu." Jawab Heechul tiba-tiba gugup.
"Ditunggu siapa?" tanya Hankyung bingung.
"Ditunggu..untuk sarapan." Jawab Heechul nggak nyambung dengan pertanyaan Hankyung.
"Oh..ne, aku akan turun sebentar lagi." Jawab Hankyung sambil tersenyum.
"Aku tunggu dimeja makan." Heechul setengah berlari keluar kamar.
"Ada apa dengannya?" gumam Hankyung bingung lalu memakai kaosnya. Setelah berkaca sebentar, Hankyung keluar kamar untuk menyusul Heechul kemeja makan.
Tak lama kemudian Hankyung muncul dan langsung duduk dikursi sebelah Heechul. Heechul mengambilkan makanan untuk Hankyung. Lalu mereka semua yang ada disana memulai sarapan pagi mereka dengan tenang.
"Kita jalan-jalan dulu atau kerestoran dulu?" tanya ibu Hankyung pada suaminya. Karena jalan-jalan nanti hanya ibu dan ayah Hankyung saja yang ikut menemani Heechul dan Hankyung.
"Kita jalan-jalan saja dulu, setelah itu kita kerestoran sekalian untuk makan." Usul ayah Hankyung.
"Ide yang bagus, appa. Kita jalan-jalan saja dulu." Setuju Hankyung.
"Ne, bersihkan ini semua ne." suruh ibu Hankyung pada para keponakannya yang dibalas anggukkan kepala.
"Kajja Chullie. Kita harus ganti baju dan berangkat sekarang." Ajak ibu Hankyung semangat.
"Apa tidak terlalu pagi, umma."
"Aniya, justru pagi akan lebih baik. Ppali." Ibu Hankyung menyeret suaminya untuk ikut ganti baju juga.
"Kajja." Hankyung menggandeng tangan Heechul menuju kamar mereka.
Tak lama kemudian Heechul dan Hankyung keluar dari kamar. Hari ini Heechul dan Hankyung memakai kaos couple berwarna putih. Karena bulan ini memasuki musim panas, Heechul mengenakan rok mini dan sepatu tanpa hak tinggi dan rambutnya dibiarkan tergerai dan hanya memasangkan jepit bermotif haebaragi.
"Kau cantik sekali." Puji ayah Hankyung setelah melihat penampilan Heechul.
"Gomawo."
"Victoria." Panggil Hankyung bingung karena melihat Victoria yang sudah berada dirumahnya.
"Sudah siap?" tanya Victoria.
"Kemana?" tanya Hankyung bingung.
"Jalan-jalan. Aku kan juga mau ikut, oppa."
"Oh.." jawab Hankyung seadanya.
"Kajja, kita berangkat sekarang." Ajak ayah Hankyung.
Tiba-tiba Victoria menggandeng lengan Hankyung. Hankyung sedikit terkejut lalu dengan cepat Hankyung menggandeng tangan Heechul.
Heechul ingin sekali menjauhkan tangan Victoria yang menggamit lengan suaminya. Tapi Heechul masih berusaha untuk menekan emosinya.
Hari ini Hankyung yang menyetir, Heechul duduk disamping Hankyung sedangkan ayah dan ibu Hankyung dan Victoria duduk dibelakang.
"Kita mau kemana dulu?" tanya Hankyung.
"Kita kebazar yang kemarin saja." Usul ibu Hankyung semangat.
"Kau mau?" tanya Hankyung pada Heechul yang dijawab anggukan dari Heechul.
Hankyung menjalankan mobilnya menuju sebuah bazar yang dimaksudkan oleh ibunya. Heechul bergumam kagum selama perjalanan karena suasana di Beijing begitu menyejukkan hatinya yang tadi sempat emosi karena Victoria.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai ditempat bazar. Tempat bazarnya sangat besar, bukan hanya menjual pakaian atau sepatu saja, tapi juga menjual segala jenis kebutuhan rumah tangga, perlengkapan bayi, dan yang lainnya.
Ayah dan ibu Hankyung sudah menghilang bersama Victoria. Sedikit membuat Heechul merasa iri karena Victoria lebih dekat dengan mertuanya.
"Kita mau belanja?" tanya Hankyung membuat Heechul tersadar dari lamunannya.
"Ne. kajja." Heechul menggandeng tangan Hankyung.
"Victoria lebih dulu mengenal ibu dan ayah Hankyung. Jadi wajar kalau mereka dekat. Untuk apa aku merasa iri." Gumam Heechul dalam hati.
Heechul dan Hankyung menjelajahi tempat-tempat bazar. Heechul histeris saat melihat tempat tidur kucing lengkap dengan pakaiannya.
"Aigoo..Heebum pasti sangat lucu memakai baju seperti ini." Heechul mengambil sebuah rok berwarna pink dari kios penjual perlengkapan hewan.
"Heebum jantan, Chullie." Hankyung terkekeh membayangkan Heebum memakai rok yang sekarang dipegang oleh Heechul.
"Tidak masalah. Mau tidak mau dia pasti mau memakainya. Aku beli untuk Jiji juga. Jaejoong pasti suka." Heechul akan membuka dompetnya tapi dicegah oleh Hankyung.
"Aku saja yang membayarnya."
"Mwo? Tapi kan…"
"Aku suamimu. Dan kau harus menuruti perkataanku." Heechul menghela nafas lalu dengan berat hati memasukkan kembali dompetnya kedalam tas.
"Aku beli ini dua." Heechul mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang dikatakan Hankyung pada sipenjual.
Setelah sipenjual membungkus barang yang dibeli Heechul, Hankyung menerimanya lalu menggandeng tangan Heechul untuk berjalan kembali.
"Berapa tadi harganya?" tanya Heechul karena tadi Heechul tidak mengerti apa yang dikatakan sipenjual pada Hankyung.
"Sangat murah." Jawab Hankyung.
"Berapa?"
"Aku lupa."
"Kenapa bisa lupa? Sejak kapan kau menjadi pikun begini." Heran Heechul.
"Hahaha. Kita belanja apa lagi?" tanya Hankyung pada Heechul.
"Kita lihat-lihat dulu." Jawab Heechul lalu melihat kios-kios dan melupakan berapa harga dari perlengkapan hewan yang tadi dia beli.
"Tidak apa-apa kalau dia tidak mau memberitahu. Lagipula dia kan suamiku, sudah seharusnya dia yang mengeluarkan uang kan." Gumam Heechul dalam hati.
Heechul berhenti disebuah kios yang menjual sebuah dasi yang bermotif hewan-hewan lucu.
"Bagus sekali." Heechul langsung menarik Hankyung menuju kios yang menjual dasi.
"Bagus tidak?" tanya Heechul pada Hankyung sambil menunjukkan sebuah dasi unik pada Hankyung.
"Bagus. Motifnya lucu. Untuk Youngwoon appa ya?"
"Ne, tapi untuk Yunho juga." Jawab Heechul.
"Aku beli enam saja." Heechul mengambil dasi-dasi itu dengan berbeda warna tapi dengan motif yang sama.
"Banyak sekali." Gumam Hankyung.
"Ne, appa dua, Yunho dua, dan kau dua."
"Mwo? Aku juga?" Hankyung menunjuk dirinya sendiri.
"Ne. Wae? Kau tidak suka huh?" tanya Heechul dengan sebal.
"Aniya, aku suka kok." Jawab Hankyung jujur.
Hankyung mengambil dasi-dasi dari tangan Heechul lalu memberikannya pada sipenjual. Lagi-lagi Heechul mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang dibicarakan Hankyung pada sipenjual itu.
"Berapa harganya?" tanya Heechul lagi menanyakan soal harga.
"Aku lupa." Heechul mendengus sebal mendengar jawaban Hankyung yang sama dengan pertanyaannya yang tadi.
Heechul kembali berjalan bersama Hankyung. Lalu dia tersenyum saat menemukan sebuah toko yang lumayan besar yang menyediakan perlengkapan bayi. Heechul langsung menarik tangan Hankyung untuk masuk kedalam toko.
"Katanya kau tidak mau hamil dulu? Kenapa membeli perlengkapan bayi?" bingung Hankyung.
"Untuk keponakanku, Hannie." Jawab Heechul membuat Hankyung mengangguk.
Ada banyak sekali perlengkapan bayi disana, ada mainan, alat makan, alat mandi, assesoris bayi, mainan bayi, dan yang lainnya.
Heechul mengambil semua benda-benda yang bermotif gajah dan beruang. Karena Jaejoong menyukai gajah dan Yunho yang menyukai beruang.
"Kenapa semuanya bermotif gajah dan beruang?" tanya Hankyung bingung saat Heechul mengambil boneka karet berbentuk gajah dan beruang.
"Jaejoong dan Yunho menyukai gajah dan beruang." Hankyung hanya ber'oh' ria mendengar jawaban Heechul.
Heechul menghabiskan tiga keranjang besar untuk membelikan perlengkapan bayi untuk keponakannya. Heechul menoleh ke Hankyung.
"Kurasa sudah cukup." Ucap Heechul.
Hankyung menuju meja kasir dan lagi-lagi Heechul tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya dan pegawai kasir itu. Setelah membayar, Hankyung membawa enam kantong plastik berukuran besar dengan sedikit kesusahan.
"Chullie, kita letakkan barang-barang ini dulu dimobil ne." Heechul mengangguk lalu membantu Hankyung membawa barang-barang mereka.
Setelah meletakkan semua belanjaan Heechul dibagasi, Heechul menyodorkan (?) tangannya pada Hankyung.
"Wae?" tanya Hankyung heran.
"Bisa aku minta struk pembelian perlengkapan bayi tadi?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin tahu habis berapa barang belanjaanku tadi." Jawab Heechul karena Heechul yakin belanjaannya untuk bayi Jaejoong tadi menghabiskan uang yang cukup banyak karena Heehul langsung main ambil saja dan tidak melihat harganya. Heechul tidak mau dicap pemboros oleh mertuanya nanti.
"Aku sudah membuang struknya." Jawab Hankyung enteng sambil kembali menggandeng tangan Heechul.
"Ya! Aku tidak mau kau tiba-tiba bangkrut setelah kita pulang dari sini." Protes Heechul.
"Tidak akan, Chullie. Perusahaanku sama besarnya dengan perusahaan milik appamu. Jadi tenang saja." Ucap Hankyung sedikit sombong. #plakk.
Hankyung dan Heechul melanjutkan kembali perjalanannya (?). Lalu Heechul tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat sebuah kios yang menjual perlengkapan orang hamil.
"Bagus." Ucap Hankyung saat Heechul mengambil sebuah baju hamil dengan bagian depan yang besar dengan motif bunga sakura.
"Menurutmu baju ini cocok dengan Jaejoong tidak?" tanya Heechul.
"Kurasa cocok." Heechul tersenyum lalu melihat-lihat baju lagi.
"Kalau ini?" tanya Heechul sambil menunjukkan sebuah baju besar dibagian perut depan dengan kerah lebar dan didalamnya ada sebuah kaos dalam yang berwarna putih.
"Bagus. Jaejoong pasti terlihat seksi jika memakai itu." Heechul tertawa lalu Hankyung mengambil baju yang dipegang Heechul kemudian membayarnya.
"Kenapa tidak tanya harganya berapa?" tanya Hankyung heran karena sejak belanja tadi Heechul selalu menanyakan harga barang beliannya.
"Kau pasti akan menjawab kalau kau lupa. Daripada aku sebal, lebih baik aku diam saja." Jawab Heechul membuat Hankyung tertawa.
Heechul memasuki sebuah toko yang menjual berbagai asesoris yang terbuat dari kerang dan berlian.
"Ini pasti cocok jika dipakai umma."
"Ne, sangat cocok." Tambah Hankyung membenarkan ucapan Heechul.
Heechul mengambil dua buah kalung dengan sebuah kerang denagn sebuah mutiara ditengah-tengahnya.
Lalu dia juga mengambil gelang yang sama dengan model kalung tadi. Heechul mengambil kalung, gelang atau anting yang dirasanya unik dan lucu. Setelah selesai, Hankyung yang membayar sementara Heechul menunggu diluar.
"Masih mau belanja lagi?" tanya Hankyung yang dijawab anggukan kepala dari Heechul. Mereka melanjutkan sesi belanja lagi untuk membelikan keluarga Heechul atau untuk Heechul dan Hankyung sendiri.
Tak terasa hari sudah sore, Heechul dan Hankyung berjalan menuju pemarkiran mobil. Disana sudah ada orang tua Hankyung dan Victoria.
"Belanja banyak ya?" gumam Victoria melihat barang belanjaan Heechul yang dibawa Hankyung.
"Ne, kau juga?"
"Tentu saja, eon. Harganya sangat murah, kesempatan kan." Victoria terkekeh.
"Ne, bazar ini sangat menguntungkanku karena bisa belanja banyak. Kau senang?" tanya ibu Hankyung pada Heechul.
"Ne, sangat senang, umma." Jawab Heechul sambil tersenyum lega karena ibu mertuanya tidak mempermasalahkan belanjaannya yang sangat banyak itu.
"Kita pulang sekarang ne? aku sangat lapar. Kita mampir kerestoran dulu untuk makan." Ajak ayah Hankyung yang disetujui oleh yang lainnya.
Hankyung masuk kedalam mobil setelah memasukkan belanjaannya kedalam bagasi mobil. Meski hampir tidak cukup karena belanjaan Heechul dengan ibunya dan Victoria sama banyaknya.
Setelah Hankyung masuk kedalam mobil, Hankyung segera menjalankan mobilnya menuju restoran milik keluarganya.
Tak lama kemudian Hankyung memberhentikan mobilnya didepan restoran milik orang tuanya.
"Kajja, kita masuk." Ajak ibu Hankyung pada Heechul setelah keluar dari mobil.
"Selamat sore." Heechul mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan seorang pelayan yang ada didepannya.
"Maksudnya selamat sore, eon." Ucap Victoria tiba-tiba disamping Heechul dengan menggandeng lengan Hankyung.
"Oh..ne." jawab Heechul sambil melirik lengan Hankyung yang digandeng Victoria melalui ekor matanya.
"Siapkan makanan yang istimewa untuk kita ya. Dan aku perkenalkan juga pada kalian semua…" Ucap ibu Hankyung sedikit mengeraskan suaranya agar dapat didengar seluruh karyawan direstorannya.
Ibu Hankyung melihat kesekelilingnya dan tersenyum saat para karyawan menghentikan aktifitasnya dan para kokipun tampak keluar dari dapur dan kebetulan juga sekarang suasana restoran memang sedang sepi.
"Ini adalah Heechul, istri dari Hangeng." Heechul menoleh menatap ibu Hankyung seolah dengan tatapan –anda bicara apa bu- lalu kembali menatap kedepan saat didengarnya beberapa suara yang berasal dari para karyawan.
"Cantik sekali." Gumam salah seorang karyawan yeoja.
"Hangeng gege benar-benar beruntung." Kali ini dari karyawan namja.
Heechul tersenyum canggung karena sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan para karyawan itu.
"Kalau ingin berkenalan nanti saja. Sekarang siapkan makanan untuk kami." Para koki mengangguk lalu menyiapkan makanan untuk keluarga Hankyung.
Heechul duduk diantara orang tua Hankyung sedangkan Victoria duduk disebelah Hankyung.
"Oya oppa, aku sudah mendaftar di Dong Bang university loh." Ucap Victoria membuat Heechul menatapnya.
"Jinjja? Kenapa tidak bilang?"
"Hehe..aku ingin membuat kejutan sebenarnya." Jawab Victoria.
"Kenapa pindah?" tanya ayah Hankyung.
"Karena dia bosan dengan suasana di Cina." Jawab ibu Hankyung yang memang sejak awal sudah mengetahui kalau Victoria berencana akan pindah kuliah ke negara ginseng itu.
"Dasar manja." Ejek Hankyung.
"Biarin." Victoria memeletkan lidahnya.
"Kau mengambil jurusan apa?" tanya Heechul.
"Karena disini aku sudah mengambil jurusan fotografi maka aku juga akan mengambil itu."
"Kau seumuran dengan Jaejoong kan? Sayang sekali Jaejoong tahun ini cuti."
"Jinjja? Jaejoong juga mengambil jurusan yang sama sepertiku?" senang Victoria yang dijawab anggukan kepala dari Heechul.
"Kalau kau sudah kuliah di Korea mau tinggal diapartemen bersama siapa? Bersama dengan Henry?"
"Aniyo ahjussi, aku mau tinggal diapartemen Hankyung oppa saja. Umma dan appa sudah menyetujuinya kok." Jawab Victoria sedikit membuat Heechul tersentak.
"Kau yakin? Lebih baik kau cari apartemen sendiri saja, nanti kau bisa menganggu Hangeng dan Heechul dengan sifat manjamu itu." Alasan ayah Hankyung setelah melihat raut wajah Heechul.
"Tidak apa-apa kan? Lagipula di Korea Victoria tidak memiliki saudara maupun teman, kalau terjadi sesuatu pada Victoria bagaimana? Lebih baik tinggal diapartemen Hankyung saja sehingga Vic ada yang menjaga selama berada disana. Ya kan Chullie?"
Deg..
"Victoria akan tinggal bersamaku dan Hankyung? Kenapa perasaanku tidak enak." Gumam Heechul dalam hati.
"Bagaimana Heechullie?" tanya ibu Hankyung lagi.
"N..Ne..umma.." jawab Heechul gugup.
"Gomawo eon." Victoria tersenyum manis pada Heechul membuat Heechul semakin resah.
"Semoga yang aku takutkan tidak terjadi Tuhan."
,
T.B.C
,
Mian ne updatenya lama. Coz habis masuk angin gantian mataku yang sakit. Heran deh, kok demen banget macem-macem penyakit menghampiriku. #plakk.
Mian juga kalo chap ini mengecewakan. Sebenernya pengen sampe sifood monster lahir, tapi kok malah kepanjangan mpe aku sendiri bosen ngeliatnya. #plakk.
Oya mian lagi ya chingudeul, kayaknya aku bakal namatin fic ni dulu baru nerusin kedua ficku yang laen. Soalnya kalo bebarengan susah banget. N ide cerita sering tiba-tiba ngilang gitu aja. T_T
Thanx to :
Jejevan, rinda, ZheyraSky, meirah.1111, guest, NaMinra, aniimin, sicca nicky,
Leejeje55, rara, KimShippo, kyu501lover, honey park, Aoi Ko Mamoru,
Guest, okoyunjae, desroschan, shim minkyu, kang hye hwa, desi2121,
Riska0122, Nara-chan, heeli, guest, Nina317Elf, cherrizka980826, yi yeong hye,
Dedeedeepeo, yunjae always, min neul rin, vivinetaria, umi elf teukie,
Anami Hime, cassieCiel, Tha626, guest, qyukey, Ryani, Ardhy.
,
Kritik dan saran masih aku terima ya….
,
Berkenan review….?
