Hiyaa! Huaaah... Lumayan lama juga sejak nge-apdet chap 1.. Balik lagi Kirana Qiao Agi dan Elin di sini!

Disclaimer : *ngelirik ke bungkusan bergerak di kolong meja* Ga tau... Hehehe... (Nginget sejarah pencurian besar-besaran di ruang kerja Hidekaz Himaruya tadi malem hanya gara-gara dendam) ...

Genre :Comedy dan Fantasy,selebihnya ga tau...

Summary : Kini giliran kelompok pertama untuk menjelajahi Indonesia! Mari kita saksikan Kartika dan The First Group!

Warning : OOC,abal-abal,ga-je,fic ini sudah divonis penyakit mematikan bernama yaoi dan boy's love juga shounen-ai,DON'T LIKE DON'T READ!

Indonesia's Journey

Di sinilah Kartika berada. Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Dia bersama Nabsen, adiknya yang merupakan Aceh tengah menunggu empat nation yang masuk dalam daftar The First Group.

"Huaahm! Lama sekali mereka! Mending di rumah, bisa main pe-es bareng Forys-chan, Mela-chan, dan yang lain..." keluh Kartika.

Nabsen hanya tersenyum maklum atas kelakuan kakaknya itu. Terdengar suara pengumuman, "Kepada seluruh penumpang pesawat jurusan Indonesia – Jerman, diberitahukan bahwa pesawat Garuda Airlines dari Jerman sudah mendarat. Harap menaiki pesawat sesuai dengan tiket anda. Terima kasih..." . Kartika tersenyum cerah, begitu juga Nabsen.

Mereka bergegas ke pintu masuk lobby bandara. Terlihat empat pemuda yang mereka kenali memasuki lobby. Sesosok pemuda ceria berbaju lengan pendek berwarna biru dengan celana panjang jeans a.k.a Feliciano, di sampingnya ada Ludwig mengenakan baju lengan panjang berwarna putih dan celana jeans biru, lalu Kiku dengan baju lengan panjang berwarna abu-abu dengan celana panjang putih, dan Heracles yang berbaju lengan pendek berwarna aquamarine dengan celana jeans. Sungguh author-nya nosebleed membayangkan mereka semua *ditakol*.

Kartika maju sambil tersenyum manis, "Selamat datang di Indonesia lebih tepatnya di Nanggroe Aceh Darussalam... Lebih baik kita segera pergi ke hotel karena pasti anda kelelahan setelah perjalanan yang cukup jauh..." sapa Kartika lancar.

Nabsen mengangkut barang-barang mereka karena dia ikut eskul Tae Kwon Do di sekolah khusus. Akhirnya mereka berenam menuju hotel di sana.

Hotel Lido Graha, Aceh. Mereka meninap di sana untuk satu minggu. Kartika sekamar dengan Nabsen. Feliciano dengan Ludwig,dan Kiku dengan Heracles. Selama jam istirahat (bebas mau ngapain aja) Kartika tak henti-hentinya mengeluarkan tawa nista.

"Kita akan pesta malam ini... Hidup fujoshi!" serunya pelan pada Nabsen.

Nabsen pun berseru senang, "Yes! Aku ga sabar! Huhui! Kalo dijual ke Kak Elizaveta berapa ya?" serunya...

Di kamar lain, Feliciano sedang menonton televisi dengan Ludwig yang sedang menyiapkan baju untuk besok. "Ne, doitsu~~!" panggil Feli.

Ludwig melirik, "Ck! Italy, sudah kukatakan namaku bukan Doitsu! Namaku Ludwig! Tapi kalau kau kesusahan, bilang saja Germany!" tegur Ludwig.

"Ve~~... Tapi kan aku lebih nyaman memanggilmu doitsu~~~!" balas Feli tak mau kalah.

Ludwig baru saja ingin protes ketika dia mendapati bibirnya sudah terkunci oleh bibir Feliciano. Selanjutnya bayangkan sendiri ya? Author masih junior dalam hal-hal yaoi ginian... (padahal udah ngoleksi banyak fic dan gambar rated-M..) ...

Berpindah ke kamar Kiku dan Hera, kelihatannya mereka belum menunjukkan gejala-gejala yang bikin Elizaveta teriak-teriak ga-je. "Ano... Hera-kun... Bisakah kau membantuku menarik koper-koper itu?" tanya Kiku sopan.

Hera berjalan lunglai (karena baru bangun tidur) ke arah Kiku namun... SETS! "KYAAA!" Kiku berseru ketika Hera tersandung koper dan jatuh ke arahnya.

"ZZZZZZ..." dan yang lebih parahnya, Hera tertidur di pangkuan Kiku...

Dan... di kamar para cewek, mereka tengah berpesta pora karena mendapat rekaman kejadian langka ini karena mereka sudah menyisipkan kamera CCTV di kamar masing-masing nation! Ohohoho... Kini mereka tengah ber-nosebleed ria. Bagi-bagi sama author ya? *ditendang Kartika* . Pokoknya malam itu mereka semua menjalani kegiatan mereka sendiri-sendiri...

~SKIP TIME~

Kartika menggeliat di kasurnya, kemudian membuka matanya perlahan. "HOAAA~~~HM!" dan sekarang nation kita menguap sangat lebar sehingga menyerupai kuda nil *author ditusuk pake keris*.

Perlahan, Kartika berjalan menuju kasur Nabsen. "Hoi! Nab! Bangun, oi! Udah pagi nih!" panggil Kartika sambil menggoyang-goyang tubuh Nabsen.

"Huuuuaaahhh... Pagi kak! Oh, ya... Feli-san, Ludwig-san, Kiku-san, dan Hera-san sudah dibangunkan?" tanya Nabsen sambil melangkah menuju pintu kamar mandi.

Kartika menggeleng, "Lebih baik aku bangunkan mereka dulu!" katanya sebelum melangkah ke luar kamar.

Sementara itu di kamar Ludwig-Feli...

"Italy! Bangun!" panggil Ludwig sambil menggosok giginya -?- pada Feliciano yang masih meringkuk di kasur.

"Italy! Bangun! Sudah pagi! Nanti Indo-san bisa marah!" panggil Ludwig sambil sedikit memperkeras suaranya. Tetap saja Feliciano tidak bergeming. Ludwig mulai habis kesabarannya.

"Feli! Kalau kau tak mau bangun, jatah pastamu akan kumakan!" seru Ludwig yang tentu saja bohong.

Siapa seme yang tega melihat uke-nya menderita? Terutama uke seimut dan semanis Feli... Dan seruan itu langsung tepat sasaran. Secepat kilat, Feliciano bangkit menuju kamar mandi, lalu mendi dengan kecepatan hyper-speed, setelah mandi dia memakai baju dan segera menyiapkan barang bawaan dan mengeceknya sekali lagi.

"VE~ SELESAI! PASTAKU TAK JADI DIMAKAN KAN,DOITSU?" seru Feliciano.

Ludwig sweatdrop, "Tidak kok, Italy..." jawab Ludwig.

'Lain kali, kalau ada latihan militer, aku akan mengancamnya seperti tadi saja... ' batin Ludwig sedikit senang karena telah mengetahui metode tepat membangunkan Feliciano pagi-pagi...

Di kamar Kiku dan Hera...

Urm... Sepertinya tak usah dijelaskan...Intinya : Kiku yang memang punya adat bangun pagi berusaha sekuat tenaga membangunkan seme-nya. Tapi namanya juga Heracles... Walau dibangunkan dengan cara yang ekstrim sekali pun (disetrum, diklaksonin sama mobil traktor, dijatohin pada ketinggian lebih dari 100 m) tak bisa bangun... Selamat berjuang bagi Kiku ya? *author dirajam pake katana* .

Kartika mengetuk pintu kamar Germany-Italy. "Cepatlah! Kita akan sarapan!" panggil Kartika sambil mengetuk pintu.

Pintu terbuka dan menampilkan sosok 2 cowok yang memakai pakaian kasual khusus untuk daerah tropis.

Kartika tersenyum dan segera melangkah ke kamar Japan-Greece. "Sudah siap belum? Kita akan sarapan sebentar lagi!" seru Kartika.

Pintu terbuka, Kiku pun muncul dengan tampang kesusahan. "G-gomen Kartika-san... Tapi Hera-kun susah dibangunkan..." kata Kiku sopan.

Kartika terkikik geli. "Ya sudah,kau duluan saja... Biarkan dia tidur dulu..." . Kiku pun langsung menuju ruang makan.

Setelah semua berkumpul (minus Heracles) , mereka pun sarapan dengan menu khas Aceh seperti. Kartika dan Nabsen berkali-kali tersenyum ketika mendengar komentar ketiga nation itu tentang masakan khas Aceh.

"Yosh! Sekarang kita sudah sarapan... Kiku-san,tolong bangunkan Heracles-san... Nanti akan kubawakan bekal khusus untuknya... Oh,ya... Apa kalian sudah menyiapkan barang bawaan kalian?" tanya Nabsen di akhir penjelasannya.

Feliciano mengangguk ceria, Ludwig mengangguk sekali dengan pelan, Kiku mengangguk juga sebelum dia menuju kamarnya hendak membangunkan seme-paling-males-di-Hetalia-itu.

Setelah perjuangan panjang,mengharukan, dramatis, dan tragis juga dipenuhi dengan keringat, air mata, dan darah (LEBAY!) Kiku berhasil membawa (baca : menyeret) tubuh Heracles yang masih setengah sadar setengah tidur ke mobil. Kartika sudah mendecak, Nabsen terkikik, Feliciano berteriak "Ve~" dan "PASTAA~~!" , sementara Ludwig sudah duduk manis di jok belakang mobil.

Setelah memasukkan tubuh Heracles ke mobil di jok tengah, Kiku pun masuk dan duduk di jok tengah tepatnya setelah Feliciano masuk ke jok belakang. Kartika menyetir dengan Nabsen di sebelahnya.

"Uwaah! Setirnya Indonesia-san di kanan!" seru Feliciano kagum.

Kartika terkekeh pelan, Nabsen hanya tersenyum mendengar perkataan 'norak' sang North Italy itu.

"Baiklah! Perjalanan pertama kita adalah... Museum Negeri Banda Aceh!" seru Nabsen girang.

~Di Museum~

"U-uwaa! Barang-barang di sini bagus!" decak kagum Feliciano kembali terdengar untuk yang ke...tujuh milyar empat ratus sembilan puluh delapan juta dua ratus lima puluh tiga ribu seratus sembilan puluh enam...

Kartika daritadi hanya geleng-geleng kepala. "Jadi, Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Bangunannya merupakan sebuah rumah Aceh (Rumoh Aceh) yang berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus — 15 Nopember 1914. Pada waktu penyelenggaraan pameran di Semarang tersebut,Paviliun Aceh memamerkan koleksi-koleksi yang sebagian besaradalah milik pribadi F.W. Stammeshaus, yang pada tahun 1915 menjadi Kurator Museum Aceh yang pertama..." jelas Kartika tenang. Mereka kembali berjalan menyusuri lorong di Museum.

"Selain koleksi milik Stammeshaus, juga dipamerkan koleksi-koleksi berupa benda-benda pusaka para pembesar Aceh, sehingga dengan demikian Paviliun Aceh merupakan Paviliun yang paling lengkap koleksinya. Sistimatika penataran pameran di Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial tersebut memperlihatkan gambaran mengenai etnografika dan hasil-hasil kesenian, alat-alat pertenunan Aceh dan hasil-hasilnya yang telah terkenal pada masa itu, senjata-senjata tajam yang diperlengkapi dengan foto-foto cara mempergunakannya. Penanggung jawab koleksi dan penataannya ditangani oleh F.W. Stammeshaus dan Overste Th. J. Veltman yang dikirim khusus oleh Gubernur Aceh Jenderal H.N.A. Swart. Disamping pameran tersebut, di muka Paviliun setiap saat dipertunjukkan tari-tarian Aceh..." sambung Nabsen membantu kakaknya.

"Sebagai tanda keberhasilan dalam pameran itu Paviliun Aceh memperoleh 4 mendali emas, 11 perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai Paviliun terbaik. Ke empat mendali emas tersebut diberikan untuk : pertunjukan, boneka-boneka Aceh, etnografika, dan mata uang; perak untuk : pertunjukkan, foto, dan peralatan rumah tangga. Karena keberhasilan tersebut Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Aceh agar Paviliun tersebut dibawa kembali ke Aceh dan dijadikan sebuah Museum. Ide ini diterima oleh Gubernur Swart...Selanjutnya bisa kalian baca di buku ini..." kata Kartika mengakhiri penjelasannya dengan membagikan buku tipis pada para nation.

Mereka berjalan dan terus berjalan, akhirnya mereka keluar dari Museum di Aceh itu. "Nah, selanjutnya kita ke... Danau Laut Tawar!" seru Kartika riang.

~Danau Laut Tawar~

Kartika berjalan sedikit agak cepat di depan para nation,agak lama mereka berjalan menyusuri hutan dan semak belukar, melintasi jalan setapak kecil yang terus menuju tujuan mereka, akhirnya mereka bisa sampai di danau yang dikatakan Indonesia itu...

"S-SUGOIII! DANAUNYA INDAH SEKALI!" seru Kiku berseri-seri, dia berlari ke arah Heracles yang (masih) tertidur di bawah pohon tempat mereka menaruh barang-barangnya.

"Hera-kun! Bangun! Danaunya indah sekali.. Kau harus lihat!" seru Kiku sambil mengguncang-guncang pelan tubuh seme-nya itu. Perlahan mata Heracles terbuka—

—dan melihat wajah uke-nya yang imut-imut ditambah setting cahaya matahari dari sudut kanan matanya, juga pantulan sinar danau...

"K-Kiku-chan... Indah sekali pemandangannya..." gumam Heracles tanpa sadar, Kiku tersenyum lebar.

"Iya.. Makanya kau harus bangun dan melihat ini!" seru Kiku sambil berusaha menegakkan keadilan... eh, salah... maksudnya menegakkan tubuh Heracles sehingga pemuda itu bisa melihat lebih jelas danau yang indah itu.

"Ve~ Indonesia-san! Detail danau ini bagaimana ya?" tanya Feliciano sambil berenang-renang di bagian danau yang dangkal.

Kartika tersenyum,dia sedaritadi duduk di dahan pohon yang kebetulan berada di atas air, kemudian secara perlahan dia turun ke danau dan berenang pelan ke arah mereka semua.

"Danau Laut Tawar adalah sebuah danau dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam. Suku Gayo menyebutnya dengan Danau Laut Tawar. Luasnya kira-kira 5472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Volume airnya kira-kira 2537483884 m³..." terang Kartika sambil tetap berenang.

"Indonesia-san, kau pintar sekali..." puji Ludwig sambil sedikit blushing. Ya iyalah... Muji cewek kan susah... Ntar dikiranya...

"Ehehe...Terima kasih, Ludwig-san! Nah, kalau sudah puas berenang, cepat bilas dan kita akan pulang secepatnya!" kata Kartika riang. Mereka segera mempercepat renangnya...

~Di Hotel~

"Huaaaa... Aku senang sekali hari ini! Oh, ya...Besok kita akan ke mana, Indonesia-san?" tanya Kiku, Kartika menoleh dan tersenyum.

"Selanjutnya kita akan pergi ke Makam Sultan Iskandar Muda..." kata Kartika, dia berjalan sedikit di depan rombongan kecil itu.

"Dan hari berikutnya, kita akan pergi ke Perpustakaan Tanah Abee untuk membaca sedikit buku..." sambung Nabsen yang berjalan di belakang mereka.

"Begitukah? Baiklah... Kurasa kita harus menyimpan tenaga untuk besok... Oyasumi..." pamit Kiku sopan sebelum masuk ke kamar disusul Heracles.

Tak lama, Feliciano dan Ludwig pun masuk ke kamar mereka. Kartika masih berdiri di balkon luar kamarnya sedangkan Nabsen masih bermain dengan laptop kesayangannya...

~Keesokkan harinya~~

"VE~~! PAGI SEMUANYA!" teriak Feliciano yang yakin-pasti-langsung-membuat-telinga-anda-diamputasi-saking-kerasnya.

"Ahahaha... Pagi juga, Feliciano... Semangat sekali kau..." kata Kartika sambil tersenyum ke-ibu-an. Dia mengelus kepala Feliciano pelan, pemuda bertubuh sedikit kecil itu kini tertidur di pangkuan Kartika.

"Waw... Aku tak menyangka kau sanggup mengurusnya, Ludwig?" kata—ralat, sindir Kartika sambil melirik orang yang dimaksud. Ludwig hanya menghela nafas.

Mereka pun segera berangkat menuju Makam Sultan Iskandar Muda.

~Makam Sultan Iskandar Muda~

"Yoroshiku! Inilah dia, Makam Sultan Iskandar Muda!" seru Kartika dan Nabsen ketika mereka sampai di depan gerbang komplek pemakaman itu.

"Oh, bagaimana sejarahnya, Indonesia-san?" tanya Kiku tertarik. Kartika tersenyum kecil.

"Makam Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh. Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636 ia mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh di peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Saat itu Banda Aceh yang merupakan pusat Kerajaan Aceh, menjadi kawasan bandar perniagaan yang ramai karena berhubungan dagang dengan dunia internasional, terutama kawasan Nusantara di mana Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas pelayaran kapal-kapal niaga asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Eropa. Beliau bisa bertindak adil, bahkan terhadap anak kandungnya. Dikisahkan, Sultan memiliki dua orang putera/puteri. Salah satunya bernama Meurah Pupok yang gemar pacuan buruk laku Meurah, dia tertangkap basah sedang berselingkuh dengan isteri orang. Yang menangkap sang suami, di rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya ke tubuh sang isteri yang serong. Sang suami kemudian melaporkan langsung kepada Sultan, dan setelah itu di depan rajanya sang suami kemudian berharakiri (bunuh diri) Sultan, yang oleh rakyatnya dihormati sebagai raja bijaksana dan adil, jadi berang. Meurah Pupok disusulnya di gelanggang pacuan kuda dan dipancungnya (dibunuh) sendiri di depan umum... Yah, seterusnya kalian baca saja ya?" kata Kartika.

"Huaaa... Bangunan apa itu?" tanya Feliciano sambil menunjuk sebuah benda yang merupakan—

"Itu Makam-nya Feli... Dan, di sini ada pantangan yang berisi tentang 'tidak boleh menunjuk makam dengan jari'... Mengerti?" tanya Nabsen sambil sedikit sweatdroped.

"Ups. Maaf..." kata Feliciano dengan nada menyesal...

SKIP TIME

"Yappai! Perpustakaan Tanah Abee!" seru Kartika riang.

Kiku dan Ludwig menyibukkan diri melihat-lihat buku di perpustakaan itu, Feliciano—yang tidak suka membaca—bermain-main bersama Nabsen di luar, sementara Heracles tertidur di dalam perpustakaan.

"Perpustakaan Kuno Tanoh Abeeterdapat di Desa Tanoh Abee, di kaki Gunung Seulawah, Aceh Besar. Perpustakaan Tanoh Abee terletak di dalam kompleks Pesantren Tanoh Abee yang didirikan oleh keluarga Fairus yang mencapai klimaks kejayaannya pada masa pimpinan Syekh Abdul Wahab yang terkenal dengan sebutan Teungku Chik Tanoh Abee. Beliau meninggal pada tahun 1894 dan dimakamkan di Tanoh Abee.

Pengumpukan naskah (manuskrip) Dayah Tanoh Abee telah dimulai sejak Syekh Abdul Rahim, kakek dari Syekh Abdul Wahab. Naskah yang terakhir ditulis pada masa Syekh Muhammad Sa'id, anak Syekh Abdul Wahab yang meninggal dunia pada tahun 1901 di Banda Aceh, dalam tahanan Belanda..." terang Kartika—yang tentu saja ga diwaro karena tamunya sibuk sendiri...

"Sudah waktunya pulang ya?" tanya Heracles. Kartika hanya mendecak kesal.

"Ya sudahlah... Kita pulang saja..." kata Kartika dengan nada putus asa. Bukan karena tamunya sibuk sendiri... Tapi karena perjalanan pertama ini... Tak ada hint yaoi-nya... *author mewek*

SKIP TIME *beneran deh... Author lagi ga ada mood dan ide...*

"Haah... Aku lelah hari ini... Malas sekali..." keluh Kartika di kamar.

Nabsen yang melihatnya hanya terkekeh pelan. "Ayo kak! Aku tau tempat yang tepat untuk merilekskan diri!" ajak Nabsen.

"Nah, jadi teman-teman... Kita akan pergi ke... (SFX : JENG JENG!) PEMANDIAN AIR PANAS SIMPANG BALEK!" seru Nabsen riang pada tamu-tamunya.

"Uwah... Benar! Badanku jadi rileks lagi... Hei, Nabsen... Kau saja yang menjelaskan..." suruh Kartika. Nabsen hanya mengangguk kesal.

"Nah jadi teman-teman, Kolam air panas Simpang Balik terletak di Simpang Balik sekitar 8 Km dari Kota Redelong, Kabupaten Bener air panas ini diberi nama sesuai daerah oleh masyarakat sekitar. Kolam air panas ini sudah lama terkenal dan selalu ramai dikunjungi wisatawan ketika liburan. Ada dua lokasi pemandian air panas di Simpang Balik, yang pertama di pusat pasar yang sering dikunjungi oleh penduduk dan yang satunya berada diatas yang dibangun oleh Pemerintah Aceh. Disini dibangun 2 kolam, satu untuk pria dan satu untuk wanita. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bila mandi di kolam ini maka dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit... Jadi..." Nabsen cengo sendiri ketika melihat para tamunya...

... Feliciano sedang mandi sambil *piiiip* dengan Ludwig...

... Sementara Kiku dan Heracles tak beda jauh...

"KYAAAAAA!"

~ ^^" ~

"Hahaha! Nabsen tak apa-apa!" kata Kartika berusaha menghibur para tamunya yang panik dan khawatir karena tadi tiba-tiba Nabsen pingsan dengan mimisan...

"Hei, tak kusangka... Ini hari terakhir kita di sini..." kata Ludwig.

"Ya, benar! Kartika-san... Terima kasih ya, atas bantuan anda! Aku senang berlibur di sini!" puji Kiku.

Kartika hanya tertawa kecil. Dia sedang ada di bandara, mengantar kepulangan tamu-tamunya.

"Baiklah... Jaga diri kalian ya! Kapan-kapan mampir lagi! Aku akan menerimanya dengan senang hati!" teriak Kartika semangat ketika rombongan itu pergi meninggalkannya.

TBC

Kirana : HAAA! BENERAN GA ADA IDE DAN MOOD NULISNYAAA!

Qiao : Belom lagi internetannya dibatesin...

Agi : KENAPA HIDUP INI BEGITU KEJAM!

Elin : Baru chap 2 ya... *author semuanya bunuh diri*

Nabsen : Kita lupakan kelakuan author yang diluar batas normal... Aku, Nabsen, dan kakakku—

Kartika : KARTIKA!

Nabsen & Kartika : PAMIT! DAN JANGAN LUPA REVIEW FIC ANCUR INI YA?