Ne... Mina, Ore wa Qiao here... Elin, Kirana dan Agi hanya sebagai author lewat... Soalnya jadwal saya buat chapter ini...
Disclaimer : Hidekazu Himaruya-sensei... (Kirana : uh... emonya... )
Genre : Comedy, Fantasy... DLL...
Pairing : USUK, RoChu... Ga tau deh bisa berhasil atau nggak...
Summary : Sekarang giliran kelompok 2 yang kebagian liburan. Kartika dan Nabiilah kelihatan senang sekali. Kenapa?
Warning : Bahasa tak baku,OOC,yaoi dan BL,ga-je bikin readers jejeritan kaya' orgil *ditampar* dan beberapa warning lainnya...so..DON'T LIKE PLEASED DON'T READ..
~2~2~2~2~2~2~2~2~
Indonesia's Journey
Chapter 3
"KAK KARTIKAA~~~!" panggilan merdu seorang adiknya membangunkan Kartika dari alam bawah sadarnya.
"U-ugh... Apaan sih, Nabiil?" gerutu Kartika sambil bangkit dari tempat tidur.
Di ambang pintu, sosok cewek manis berpostur tubuh tinggi dan berambut pendek hitam tengah berdiri dengan muka ceria. "Pagi, Kak Tika!" sapanya sekali lagi.
Kartika mendengus, "Nabiil! Kamu itu! Jangan ganggu orang yang lagi tidur dong!" kata Kartika.
Dia berjalan menuju balkonnya. Nabiilah masuk ke kamarnya, "Hei, Nabiil..." panggil Kartika.
Nabiilah melirik ke arah kakaknya, "Apaan?" tanyanya.
Kartika menghela nafas, "Rasanya kok aku lupa sesuatu yang penting..." gumam Kartika.
Nabiilah tersenyum lebar, "Iya! Memang kakak lupa sesuatu!" serunya.
Kartika menaikkan alisnya, "Hah?" sahutnya.
"Bukannya hari ini kita mesti ke bandara Talangbetutu untuk menjemput Arthur-san, Alfred-san, Yao-san, dan Ivan-san?" tanya Nabiilah dengan semangat berapi-api.
Kartika melebarkan matanya sekaligus mencelos dalam hati. "I-itu berarti... HUAA! JAM BERAPA INI? KENAPA KAU TAK MEMBANGUNKANKU, NABIIL? GAWAT! AKU MESTI BURU-BURU! SONO PERGI SIAP-SIAP!" seru Kartika pada Nabiilah yang cengar-cengir ga-je.
Nabiilah pun mempersiapkan semua hal yang kiranya diperlukan. Seperti baju, HP dan headset, kamera, handycam, buku catatan, dan sebagainya. Setelah selesai bersiap-siap, dia menuju meja makan.
"Wilujeng enjing, Teh Nabiil!" sapa Agnia, Jawa Barat. Nabiilah mengangguk dan tersenyum lalu duduk di mejanya. Segera dia mengambil selembar roti dan mengoleskan selai pepaya kesukaannya (emang ada? *PLAK!*) .
Tak lama, datanglah Kartika dalam pakaian yang cukup rapi dan penampilan yang juga rapi. Hanya saja mukanya terlihat sedikit lesu.
"HUAA~~! NABIIL, KENAPA GA BANGUNIN AKU SIH? UDAH JAM SEGINI... BELUM LAGI MESTI BERANGKAT KE BANDARA!" CoretKeluhCoret teriak Kartika.
Nabiilah hanya terkekeh geli melihat kelakuan kakaknya. "Udah kubangunin kok! Sampai-sampai aku pinjam toa masjid-nya Bagus buat ngebangunin..." sahut Nabiilah.
Kartika melirik Bagus yang daritadi menahan tawa. "Huh... Awas saja..." ancam Kartika pelan.
"Kak Tika! Nanti aku minta foto-fotonya ya!" pesan Agnia dibarengi dengan anggukkan beberapa adik perepuannya yang lain.
Ohohoho...Ternyata hampir semua dari mereka adalah... Kartika mengangguk semangat. "Ya sudah! Aku dan Nabiil pergi dulu! Dah, sampai jumpa!" seru Kertika sambil berjalan cepat menuju pintu disusul Nabiilah.
~SKIP TIME~
Di bandara, terlihat 4 orang pemuda. Yang satu berambut blonde dengan mata saphire memakai baju lengan pendek berwarna biru muda dengan jaket tanpa lengan biru tua, dan celana jeans biru. Di sampingnya, berambut pirang dengan mata emerald dengan alis setebal kue lapis legit berbaju kemeja putih dengan jeans hitam dan jaket yang tak diresleting berwarna abu-abu.
Lalu ada seorang berambut hitam dikuncir memakai baju berwarna merah dengan kerah mirip baju orang Cina dan bercelana jeans berwarna putih. Di sebelahnya lagi, berambut silver dengan mata violet dengan syal putih, jaket abu-abu, dan jeans hitam.
Mereka tampak bosan menunggu. Lelaki bermata sapphire a.k.a Alfred F. Jones sudah mulai merengek-rengek. Lelaki bermata emerald a.k.a Arthur Kirkland sudah mengumpat-umpat daritadi.
Lelaki bermata violet a.k.a Ivan Bragisnki hanya tersenyum sambil bergumam 'kolkolkolkolkol~ ' daritadi.
Lelaki berambut dikuncir adalah yang paling hebat, daritadi dia sabar menghadapi cobaan. Ckckck... Hebat sekali kau, Wang Yao... *author dilempar scone, hamburger, dan digetok pake pipa* ...
"UAAGH! IGGY! AKU SUDAH TAK SABAR!" teriak Alfred sambil memeluk kaki Arthur.
Arthur terkejut dan berusaha melepaskan Alfred dari kakinya, "HOI! BLOODY GIT! LEPASIN GUE!" teriaknya.
"Kolkolkol~ Kalian ini tak bisa diam, da?" tukas Ivan yang langsung membuat mereka beruda diam.
"Mereka berdua lama sekali, aru..." sahut Yao pelan.
"HUAA! KALIAN, MAAF MENUNGGU! NABIIL TAK MEMBANGUNKAN AKU, JADINYA TERLAMBAT! MAAA~~~~AAFF!" teriakan seorang gadis manis berambut hitam ikal panjang yang menyeruak dri lautan manusia terdengar menghampiri mereka.
"Kak Kartika! Tungguin!" di belakangnya ada seorang gadis juga yang terlihat ngos-ngosan.
"Uwwah, maaf maaf... Kalian semua jadi sedikit terlambat... Maaf!" kata Kartika sambil bersujud di hadapan keempat tamunya.
"Ahahaha... Tak apa, aru..." kata Yao pelan sambil tertawa hambar, dia melirik ke arah 3 nation lain yang daritadi sudah jingkrat-jingkratan gara-gara ngamuk.
"OKE~~! KITA LANGSUNG SAJA KE PENGINAPAN~~~!" seru Kartika dan Nabiilah semangat. Para nation lain yang tadinya kesal malah berubah jadi ikut senang.
~Hotel Swarna Dipa~
"Nah! Kurasa Nabiil sudah men-chek in kita... Kalian masuk kamar masing-masing ya? Yao dengan Ivan, dan Arthur dengan Alfred?" kata Kartika riang meski dalam hati dia menjerit-jerit.
Para seme berteriak senang sementara para uke hanya sweatdrop mendengar keputusan sang Guide. "Ano... Kartika, kita akan pergi ke mana dulu?" tanya Arthur.
Kartika menoleh, "Eh? Oh... Baiklah... Aku akan menjelaskan rute perjalanan kita! Hari pertama yaitu sekarang kalian check-in ke hotel dan beristirahat... Lalu hari kedua, kita akan pergi ke Kawah Tengkurep dan Komplek Makam Sultan Machmud Badaruddin I... Hari ketiga, kita akan pergi ke Pusat Tenun Songket dan Danau Ranau... Hari keempat, kita akan pergi ke Air Terjun Tenang, tempat berikutnya adalah Museum Timah dan Museum Negeri... Hari kelima, hari terakhir kita berjalan-jalan, kita pergi ke Taman Arkeologi Kerajaan Sriwijaya.. Hari keenam adalah hari bebas dimana kalian bisa pergi jalan-jalan ke sekitar penginapan untuk refreshing atau membeli cinderamata... Hari ketujuh adalah hari terakhir kalian di sini, sekaligus hari kepulangan kalian ke negara masing-masing!" jelas Kartika riang.
"Ah? Begitukah? Kalau begitu selamat tidur, kalian semua, aru~ !" ucap Yao sambil bergegas menuju kamarnya dan Ivan, disusul kepergian (halah...) Arthur dan Alfred ke kamar mereka masing-masing.
"So...?" tanya Kartika sambil menatap Nabiilah dengan tatapan yang seolah berkata : 'uwaw-keren-kita-pasti-mengadakan-pesta-malam-ini!' .
"Kita tunggu sajalah!" seru Nabiilah riang yang disambut anggukkan girang Kartika. Kedua gadis itu berjalan cepat ke arah kamar mereka.
Malamnya, sekitar jam 20.18, duo jagoan kita mengendap-endap keluar kamar karena ingin tau apa yang dikerjakan para nation. Kartika menjejakkan kakinya di depan pintu kamar RoChu. Dari luar, dia bisa mendengar... mendengar... mendengar... mendengar... *digaplok* ...
... Mendengar Ivan sedang memasak sedangkan Yao sedang menonton TV ...
"Yah... Ga seru, ah!" keluh Nabiilah kesal, Kartika menepuk bahunya sehingga adik-kakak itu berhadapan.
"Tenang! Kan masih ada... Itu tuh..." gumam Kartika sambil senyum mesum dan ngelirik ke kamar USUK. Seketika Nabiilah langsung berubah ceria.
Mereka berjalan pelan ke arah depan pintu kamar mantan kakak beradik itu. Dan kali ini mereka mendengar ... mendengar ...
... Desahan Alfred?...
... Erangan Arthur?...
Kartika menutup mulutnya kaget, Nabiilah langsung menjauh sambil beristigfar. "Nabiil, mending balik ke kamar aja yuk..." ajak Kartika lemas karena membayangkan apa yang terjadi di dalam.
Akhirnya mereka berdua kembali ke kamar karena... hermh... yah... kau taulah... masalah rated soalnya...
"Huft... Hampir saja..." gumam Kartika sambil bersender di pintu.
"Erm? Kenapa? Apanya yang hampir saja?" tanya Nabiilah bingung, Kartika menghela nafas.
"Hampir saja ketahuan lah! Kamu pikir ap-" kata-kata Kartika terpotong oleh ketukan pintu. Kartika langsung menjauhi pintu sambil menatap Nabiil.
"S-siapa?" tanya Nabiil lantang pada sang pengetuk pintu. Dia kini berjalan menuju pintu sambil memegang kenop pintu.
"Ah, ini aku, aru... Yao, aru ..." sebuah suara yang mereka kenal memecah keheningan malam ini. Nabiil dan Kartika menghembuskan nafas lega. Nabiil membuka kenop pintu dan membukanya.
"Selamat malam, aru... Kartika, Nabiilah, sebenarnya aku tak bisa tidur, aru..." keluh Yao pelan. Kartika memiringkan kepalanya bingung, "Kenapa?" tanyanya.
"Terdengar suara-suara aneh dari kamar sebelah, aru... Terdengar seperti suara Alfred dan Arthur, aru... Bisakah kalian mengatakan pada mereka untuk berhenti mengeluarkan suara-suara aneh itu, aru?" tanya Yao yang langsung membuat lidah Nabiil dan Kartika kelu.
"A-ah... I-itu... B-baiklah... S-se-se-serahkan saja semuanya pada kami ..." jawab Kartika sambil tersenyum gugup. Yao memiringkan kepalanya, heran.
"Kalian baik-baik saja, aru? Bicara kalian jadi gagap begitu, aru..." sahut Yao membuat Nabiil tersentak.
"A-ah! K-kami t-tidak a-apa-apa kok, Y-Yao-s-senpai!" seru Nabiil berusaha membantah. Yao meletakkan tangan kanannya di dagu sehingga tampak seperti detektif yang sedang berpikir.
"AHA! Aku tau, aru! Kalian sedang berpura-pura gagap sehingga bisa menandingi Aziz Gaga (?) dan Lady Gagap (?) (tebalik, woi!) kan, aru?" tanya Yao semangat. Kartika dan Nabiil langsung sweatdrop berjamaah.
"Y-ya... S-seperti i-itulah... Hehehe..." tukas Kartika cepat sambil tertawa hambar. Yao manggut-manggut mengerti.
"Kalau kataku... Kalian sudah menandingi artis itu, aru! Ya sudah, aku pamit dulu, aru!" kata Yao sebelum pergi dari hadapan Kartika dan Nabiilah yang menghembuskan nafas lega.
"Untung saja Yao-senpai agak... bodoh? Jadi bisa kita tipu..." gumam Nabiilah yang disambut anggukkan kepala Kartika.
"Sudahlah! Lebih baik kita tidur untuk besok!" seru Kartika. Mereka berdua pun segera pergi tidur.
~Keesokan Harinya~
"Nah! Kalian semua tidur nyenyak tadi malam? Kuharap begitu! Ayo kita berangkat menuju tujuan pertama, yaitu Kawah Tengkurep! Oh, ya... Arthur? Kau baik saja? Kok jalannya seperti... agak mengangkang begitu...?" tanya Kartika heran—sekaligus ngeri—melihat Arthur berjalan gontai terseok-seok dan ngangkang ke arah mereka. Mendengar pertanyaan Kartika, Arthur langsung menegang dengan sedikit semburat merah di mukanya.
"Ah! Tidak kok! Tidak ada apa-apa!" bantah Arthur, dia pun melirik tajam ke arah Alfred yang cengar-cengir. 'Tadi malam kau kelewat kasar sih, Alfred!' batin Arthur dalam hati. Dia kemudian tersenyum kecil, 'Tapi... biar kasar... aku suka kok...' batinnya lagi... (yang langsung membuat author berwajah QAQ")
Maka dimulailah perjalanan para pendekar (?) kita itu ke tempat yang disebut Kawah Tengkurep...
~^0^~
"Huah... Jadi ini yang dinamakan Kawah Tengkurep? Indah sekali!" seru Alfred riang. Dengan semangat, dia melangkahkan kaki untuk berlari (?) menuju gerbang yang ada di depan matanya.
"Hosh... Hosh... Alfred! Hosh... Jangan cepat-cepat, aru! Kita tertinggal jauh!" seru Yao yang berada JAUH di belakang Alfred. Kartika terkekeh pelan, sementara Nabiilah hanya sweatdroped daritadi melihat kelakuan para Nation yang aduhai-keren-sekali-sampai-ingin-muntah-dan-mencret-lima-tahun itu.
Setelah melalui perjalanan panjang nan mengharukan, mereka dengan selamat sentausa sampai di tempat yang dinamakan Kawah Tengkurep itu.
"Jadi, sebenarnya—tidak sesuai namanya yang mengarah ke 'kawah yang ada di gunung'—Kawah Tengkurep adalah sebuah kompleks pemakaman Raja-raja di Palembang di masa silam. Setiap tahun tempat ini penuh dengan para wisatawan yang ingin berziarah maupun hanya ingin berekreasi..." jelas Nabiilah singkat, namun dapat dipahami para Nation itu.
Kita skip saja bagian ini... Author belum mendapat referensi terpercaya (halah... bahasanya..) dari mbah Gugel dan tante Wiki...
Lanjut, gan!
Nabiilah yang berbadan tinggi semampai, ditambah rambut pendek hitam sebahu dan mata cokelat yang cukup sipit dengan lihainya menerobos kerumunan orang-orang yang berdesak-desakkan ingin masu menuju komplek Pemakaman Sultan Machmud Badaruddin I. Lain halnya dengan Alfred, dia terjebak di antara kerumunan orang-orang, bahkan sampai nyasar mengingat author-nya lagi nyari bahan buat dibikin mainan... *digempur UFO*
"MY GOD! KARTIKA AMA YANG LAIN KEMANA? GUE KESASAR! HIKS! TOLONGIN GUEEE! IGGY!" ratap Alfred dengan suara yang menyayat hati orang yang mendengarnya (apanya?) sambil menangis terbahak-bahak (?) . Kartika yang sedang menyusul Nabiilah menoleh ke belakang karena merasa mendengar sesuatu.
"Kenapa? Ada yang salah, daa~?" tanya Ivan sambil memiringkan otaknya—eh! Salah! Kepalanya!
"Ga tau. Rasanya ada yang kurang aja... Tapi... Ah, engga ada yang kurang ah!" gumam Kartika sambil melanjutkan perjalanan.
Kembali ke arah Alfred yang masih nangis ga-je di atas gerbang (?) . Mo nyari mati, bang?
Sedang seru-serunya (?) Alfred menangis, datanglah seorang anak kecil cewek sambil bawa-bawa kelinci. Tuh anak nangis juga...
Alfred yang tak sengaja melihatnya menjadi iba dan berniat menculik—Eh... Maksudnya menanyakan keadaan anak itu. "Haloo~! Siapa namamu, nak? Kenapa menangis?" tanya Alfred sambil tersenyum hangat. Si anak mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Hiks... Kelinciku... Hiks... Dia terluka... Hiks... Kasian Nusa... Hiks..." kata anak itu sambil menunjukkan kelinci itu.
"Namamu siapa?" tanya Alfred sekali lagi sambil menggendong anak itu dan mengelus kepalanya.
"Hiks... Annisa Syahri Ramadhan... Hiks..." kata anak yang bernama Nisa itu. Alfred tersenyum ke-bapak-an sambil menoleh ke kiri dan kanan, mencari tempat duduk yang teduh.
Setelah menemukan tempatnya, dia mendudukkan Nisa di sampingnya dan Nusa—kelinci itu—dia letakkan di pangkuannya. Lalu dari kantong ajaib—Salah! Maksudnya dari kantong jaketnya, dia mengeluarkan sebuah kain bersih dan sebotol air minum. (Tumben, Fred? Biasanya bawa soda? Wkwkwkw... *dihantam patung Liberty* )
Dibersihkannya luka Nusa. Tampaknya kaki kelinci itu terkena benda tajam, luka sayatannya cukup dalam dan memanjang. Kemudian setelah bersih dan darah tidak mengucur lagi, Alfred membalut luka itu dengan kain dan kembali menggendong Nisa beserta Nusa.
"Tenang... Nusa sudah tak apa lagi... Kau ke sini sendiri?" tanya Alfred ramah. Nisa menggeleng.
"Hiks... Aku datang bersama kakak... Hiks... Namanya Alya Dian Permata..." jawab Nisa. Alfred tersenyum sebelum memutuskan untuk pergi ke bagian pengumuman.
Segera badan tegap-namun-gendut milik Alfred itu berlari ke arah bangunan yang dimaksud. Sampai di sana, Alfred butuh waktu sekitar 5 menit untuk menormalkan kembali nafasnya sebelum meminta pada penjaga untuk mengumumkan anak hilang itu.
Lihat keadaan Kartika sebentar...
Arthur merasa ada yang aneh, entah kenapa. Namun dia biarkan sajalah...
"Komplek pemakaman SMB II tersebut terletak di tengah-tengah pemakaman umum Islam yang letaknya di Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah Provinsi Maluku Utara. Pemakaman tersebut pernah dipugar oleh Gubernur Sumatera Selatan, Sainan Sagiman pada tahun 1987, komplek makam panjangnya kurang lebih 40 meter, lebarnya kira-kira 12 meter dengan tembok setinggi 3 meter. Di dalam komplek pemakaman berdiri sebuah Gubah yang berbentuk persegi empat kurang lebih 4 x 4 meter, di dalam Gubah terdapat 3 buah makam, yaitu makam SMB II di tengah, istrinya di sebelah kiri, dan keluarga dekatnya disebelah kanannya (tanpa nama)... Ngg... Entah hanya perasaanku saja, atau memang ada yang tertinggal?" tanya Kartika di akhir penjelasannya.
Yao mengangkat bahu, Ivan menggelengkan kepalanya, Arthur mengernyitkan dahi, Nabiilah nampak heran. Mereka sama sekali tidak menyadari kalau ada seorang yang menjadi korban. Ahahaha. *digaplok Alfred*
Poor Alfred. *Sekali lagi dilempar pake patung Liberty*
Kembali ke Alfred~ Seru loh! Bikin Nation kesasar gini~! *dan untuk kesekian kalinya, author menghindar dari pembantaian Alfred*
"PENGUMUMAN BAGI ALYA DIAN PERMATA, DITUNGGU ADIKNYA ANNISA SYAHRI RAMADHAN DI BAGIAN PENGUMUMAN—DAN, OH, YA... SEKALIAN SAMA KELINCINYA NUSA JUGA! SEKALI LAGI..."
Alfred hanya sweatdrop mendengar pengumuman aneh itu, sementara Nisa masih menangis. Tak lama, datanglah Alya yang dimaksud. Dia berterimakasih banyak pada Alfred.
"Ngg... Maaf, kak... Gimana ceritanya kakak ini bisa nemuin ade saya?" tanya Alya sambil menggendong Nisa. Alfred hanya tertawa kecil sebelum menceritakan pertemuan awalnya dengan Nisa dan Nusa.
"Hm... Begitu... Ya sudahlah, terima kasih banyak atas bantuannya ya, kak Alfred! Aku pamit dulu! Pulang yuk, Nisa, Nusa!" pamit Alya sebelum kembali menuju gerbang keluar. Alfred tersenyum sebelum melangkah pergi ke arah stand-stand yang ada di luar gerbang.
...
...
...
Baka Alfred. Udah tau kesasar bukannya sekalian dia minta pengumuman soal dirinya juga...
Ketika Alfred menyadari itu, dia kembali menghela napas panjang sekali dari sini sampai ke Jupiter (?) sebelum kembali menitikkan air mata...
Kartika dan Nabiilah, disusul yang lain setelah melihat-lihat komplek akhirnya kembali pulang. Namun, sampai di gerbang, Arthur melihat Alfred yang menangis sambil dipalak preman-preman ganas! Wah! Alfred! Lawan napa! Lo kan badannya kekar gitu!
Arthur memberitahu yang lain, namun mereka semua terlalu takut untuk menghadapi preman-preman itu. Alfred pun sudah babak belur begitu... Kasian...
Arthur semakin marah melihat salah satu dari preman itu memukul Alfred. Dia akhirnya pergi untuk menolong Alfred. "STOP!" teriak Arthur sambil meraih kayu yang berada di dekatnya sambil menodongkannya pada preman itu.
"Kalau dilanjutkan, aku takkan segan-segan lagi memukul kalian dan memanggil polisi!" ancam Arthur. Plus aura hitam dari tubuhnya dibantu aura hitam dari Ivan dan Kartika. Oh, ya. Nabiilah jangan dilupakan. Sedangkan Yao sudah ambil ancang-ancang untuk menendang mereka dengan Kung Fu-nya.
Melihat itu semua, preman itu segera kabur dan Arthur berlari menuju ke arah Alfred. Tampak benjol besar di bagian kepala Alfred. Arthur berlutut di hadapan Alfred yang masih menangis. "Git! Tenanglah! Kau ini kenapa? Padahal badanmu lebih kekar dari preman itu! Kemana Alfred Hero yang biasanya?" bentak Arthur, cara yang salah... Alfred malah menangis makin keras.
"Hiks... Maaf... T-Tuan... M-maafkan saya... Hiks..."
"Eh?" Kartika tercengang mendengarnya. "Tuan?" tanya Nabiilah kaget. Arthur membelalakkan matanya.
"Alfred! Apa yang kau biacarakan? Ini aku, Arthur! England! Iggy!" seru Arthur. Namun Alfred malah menunduk sambil menangis. Kartika yang panik segera memanggil supir pribadinya untuk menjemput mereka dan membawa Alfred.
Sampai di rumah Nabiilah, Alfred masih sedikit menangis. Namun selebihnya dia sudah lebih baik. Rupanya, karena dipukul di bagian kepala terlalu kencang, memori Alfred 'terhapus' atau dengan kata lain, kehilangan ingatan. Arthur langsung kaget mendengarnya.
"T-Tuan... Sir... S-sebenarnya apa yang terjadi? K-kenapa saya ada di sini?" tanya Alfred gugup sambil mundur perlahan melihat Arthur, Yao, Ivan, Nabiilah, dan Kartika.
"Ternyata memang benar kehilangan ingatan..." gumam Nabiilah khawatir.
"Maaf Arthur! Maafkan aku! Alfred juga!" sesal Kartika panik.
Alfred nampak bingung dengan semuanya sebelum datangalah Tony! Yeiiyy!
"Bip... Biipipipiippp... Bibibip!" seru Tony. Yang tentu saja tidak dimengerti oleh keempat orang lainnya.
"Eh? T-temanku?" tanya Alfred gugup. Dia makin panik melihat Tony mendekat ke arahnya dan—
TUNG! BRAKK! PESSSS...
Dengan tega dan sadisnya, Tony memukul kepala Alfred sekuat tenaga. Membuat pemuda Amerika itu pingsan. "TONY! APA YANG KAU LAKUKAN?" seru Arthur geram.
"Bipppiiipii... Pipppiiiiiiibiiii!" seru Tony sebelum menghilang. Dasar alien aneh! Datang tak diantar pulang tak dijemput! (kebalik, mas!)
Kita skip saja...
Keesokan harinya, mentari muncul dari ufuk Timur. Bangunlah para penghuni di rumah bergaya tua milik Nabiilah itu. Masih ingat soal Alfred? Hari ini mereka semua harus berterima kasih pada Tony karena dia berhasil mengembalikan ingatan Alfred.
"Yosh! Alfred kan sudah kembali! Kita langsung berangkat menuju Pusat Tenun Songket dan Danau Ranau saja!" seru Nabiilah riang.
Mereka pun berangkat menuju Pusat Tenun Songket, kali ini tak ada kecelakaan seperti kemarin.
"Tenun/SiwetSongket Palembang merupakan kerajinan tradisional khas masyarakat Palembang dan umumnya merupakan hasil industri rumah tangga. Pekerjaan menenun biasanya dilakukan kaum wanita, walaupun akhir-akhir ini kaum pria juga sudah berpartisipasi membuatnya. Songket adalah kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan sebagai hiasan, yaitu dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas benang lungsin. Tenun ini memiliki berbagai motif, seperti: lepus, jando beraes, bunga inten, tretes midar, pulir biru, kembang suku hijau, bungo cino, bunga pacik, dan lain-lain.
Pembuatan Tenun Songket Palembang pada dasarnya dilakukan dalam dua tahap, yaitu (1) tahap menenun kain dasar dengan konstruksi tenunan rata atau polos dan (2) tahap menenun bagian ragam hias yang merupakan bagian tambahan dari benang pakan. Masyarakat Amerika dan Eropa menyebut cara menenun seperti itu sebagai inlay weaving system... Benarkan?" tanya Kartika sambil melirik negara yang di maksud. Mereka hanya mengangguk-angguk.
"Permisi, mbak! Karena anda adalah personifikasi negara Indonesia, juga salah satu pengunjung yang terhormat... Ini, kami memberikan kain tenun ini..." kata seorang pemuda sambil menyodorkan selembar kain yang nampak keren dan epik sekali—tentu saja diterima dengan baik!
"Nah~! Sekarang kita ke Danau Ranau yuk!" ajak Kartika girang penuh keceriaan. Hampir mirip Alfred. Mereka pun menuju Danau Ranau. Dan entah kenapa fic ini rasanya alurnya kecepetan... *dihajar*
"ANJIR! DANAUNYA KEREN BANGET!"
Tebak teriakkan siapa itu?
Bagi yang menjawab Yao ; maaf, tapi anda salah total karena Yao hanya melebarkan matanya sambil bergumam, "Waaawww..."
Bagi yang menjawab Alfred ; hari ini mungkin bukan keberuntungan anda, karena Alfred langsung berenang di danau...
Bagi yang menjawab Arthur ; Ngg... Hampir benar, namun Arthur perkataannya lebih syurgawi...
Bagi yang menjawab Kartika dan Nabiilah ; mereka kan sudah sering melihatnya, ngapain juga mereka teriak seperti itu?
Bagi yang menjawab Ivan ; SELAMAT! ANDA BENAR SEKALI! YANG BERTERIAK BEGITU ADALAH IVAN! MUAHAHAHHAHHAHAAA!
Nabiilah cengo melihat Ivan yang langsung keluar OOC-mode-nya. Personifikasi Russia yang pendiam itu tiba-tiba jadi semangat dan segera mengeluarka kamera untuk menjepret gambar yang diambil dari sudut panang yang tepat!
"Ah... Ehem... Danau Ranau merupakan danau terbesar dan terindah di Sumatera Selatan yang terletak di kecamatan Banding Agung Kabupaten UKO Selatan (dahulu masuk dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu). Berjarak sekitar 342 km dari kota palembang, 130 km dari kota Baturaja, dan 50 kilometer dari Muara Dua, ibu kota OKU Selatan, dengan jarak tempuh dengan mobil sekitar 7 jam dari kota Palembang. Sementara dari Bandar Lampung, danau ini bisa ditempuh melalui Bukit Kemuning dan Liwa. Secara geografis, danau ini terletak di perbatasan Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Lampung Barat Propinsi Lampung.
Danau Ranau yang mempunyai luas sekitar 8×16 km dengan latar belakang gunung Seminung (ketinggian ± 1.880 m dpl), dikelilingi oleh bukit dan lembah. Pada malam hari udara sejuk dan pada siang hari cerah suhu berkisar antara 20° – 26° Celsius. Terletak pada posisi 4°51′45″ bujur selatan dan 103°55′50″ bujur timur..." terang Kartika.
"Menurut legenda yang ada, danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu kemudian menjadi sumber air utama yang mengisi cekungan/belahan itu. Dan lama-kelamaan lubang besar itu penuh dengan air. Kemudian di sekeliling danau baru itu mulai ditumbuhi berbagai tanaman, di antaranya tumbuhan semak yang oleh warga setempat disebut ranau. Maka danau itu pun dinamakanlah Danau Ranau. Sisa gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut..." sambung Nabiilah sambil tersenyum.
Mereka menghabiskan waktu sambil berenang dan setelahnya, mereka pun kembali ke rumah Nabiilah. Tenang! Mereka sudah check-out hotel kok!
"Ngg... Well... Selamat pagi semua..." sapa Nabiilah lemas pada semua Nation itu.
"Kau kenapa, aru?" tanya Yao cemas. Nabiilah tersenyum paksa sambil menggeleng.
"Hei! Semangatlah! Hari ini kita pergi ke Museum! Museum Timah dan Museum Negeri!" seru Alfred tiba-tiba.
"Darimana kau tau?" tanya Kartika agak kaget sambil menatap Alfred yang cengengesan.
"Gini-gini aku inget loh! Sekarang langsung cabut yuk!" ajak Alfred sambil nyengir nista.
"Entah kenapa aku punya firasat dia ngomong ada apa-apanya deh..." gumam Nabiilah. Kartika mengangguk setuju.
"Nah! Museum Timah, here we come!" teriak Kartika penuh kegembiraan.
Sampai di Museum Timah, mereka kembali berjalan-jalan mengelilingi bangunan sebelum memasuki bangunan itu.
"Museum Timah
sudah didirikan sejak zaman UPTB (Unit Penambangan Timah Bangka). Setelah terjadi restrukturisasi dalam tubuh PT Tambang Timah (Persero), maka museum tersebut langsung dikelola oleh PT. Timah. Lalu, diadakanlah renovasi terhadap bangunan museum pada tahun 1979.
Alasan PT. Timah memilih bangunan yang sekarang menjadi Museum Timah itu adalah karena bangunan tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi. Pada masa perjuangan, gedung tersebut sering dijadikan gedung pertemuan. Bahkan, Bung Karno dan Bung Hatta pun pernah menginap disana..." terang Kartika.
"Museum Timah dibuka dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB setiap harinya. Bila pengunjung membutuhkan informasi yang lebih lengkap mengenai koleksi yang ada di museum, maka penjaga akan menghubungi pihak Humas PT. Timah untuk datang dan memberikan informasi yang dibutuhkan pengunjung..." sambung Alfred secara spontan.
"WHA—ALFRED? TAU DARIMANA?" teriak Kartika kaget setengah sekarat. Alfred hanya tersenyum misterius.
"Next stop is... Museum Negeri!" seru Nabiilah tanpa ada semangat. Nampaknya dia lemas sekali...
(kita ubah adegan jadi dialog ya?)
Katika : Museum Negeri Sumatera Selatan "Balaputra Dewa" diresmikan pada 5 November 1984. Namanya diambil dari nama raja Sriwijaya yang berkuasa pada abad ke-9 Masehi. Pengembangan bentuk fisik museum ini dilaksanakan pada tahun anggaran 1997/1998...
Nabiilah : Yup! Nah... Ngg... Alfred-san, selanjutnya kita ke mana?
Alfred : (lirik Nabiilah samnbil nyengir) Air Terjun Tenang dong!
Siiip! Dan mereka pun langsung menuju Air Terjun Tenang yang konon katanya indah sekalii~~...
Nabiilah : Air Terjun Curup Tenang Ini merupakan air terjun tertinggi di Sumatera Selatan yang terletak dekat desa Bedegung , Kecamatan Tanjung Agung sekitar 56 km di selatan muara enim. Air terjun setinggi 99 meter ini bersumber dari mata air yang tak pernah kering di celah bukit barisan dan kebawah membentuk sebuah sungai kecil yang deras. Curup Tenang merupakan objek wisata alam andalan daerah ini. Berlokasi di kecamatan Tanjung Agung desa padang bindu...
Kartika : Naaahhh! Sekarang, mari berenang!
Dan para Nation MKKB itu pun berenang dengan riang dan gembira di air terjun itu. Sungguh... Author jadi pengen ikutan tour gratis ituuuuuu~... (digempur berjamaah)
Arthur : Mornin'!
Alfred : Morning too, Iggy! Mau 'morning kiss' ga?
Arthur : A-Apa sih? Sono pergi! (tsundere + blushing)
Alfred : Yaaahh... Iggy ga mau... (pundung)
Kartika + Nabiilah : (kecewa sambil nangis darah ga jadi ngeliat pair USUK)
Yao : Lha... Ini napa semuanya parada nangis gini, aru?
Ivan : Kita tinggalin aja, daaa~...
Kartika : Hadeuuuhh... Hari terakhir ini! Besok kan bebas, terus lusa mereka pulang... Semangat dong! Cuman satu tempat doang kok!
Nabiilah : (jalan lemes + gontai ke arah pintu) Iya dah... Demi Indonesia Merdeka! Aku harus bertahan!
Arthur : Udah siap belom?
All : SIIP!
Kartika : Kita cabut!
Kartika : Ahem. Taman ini dibagun di atas situs Karang Anyar yang didasari konsep-konsep pelestarian dan pemanfaatan peninggalan purbakala. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994. Ditandai dengan peletakan kembali replica Kedukan Bukit yang merupakan tonggak sejarah lahirnya Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan interprestasi foto udara situs Karang Anyar merupakan bangunan air yang penting pada masa awal kerajaan Sriwijaya dan ditemukan juga sisa-sisa bangunan bata, fragmen-fragmen, gerabah, keramik, sisa perahu, dan benda-benda sejarah lainnya. Didalam lokasi taman ini terdapat tiga gedung utama yaitu, gedung museum yang menyimpan arkeologi peninggalan Sriwijaya dan perahunya. Dalam perkembangan sejarah kuno Indonesia meliputi kurun waktu ke 7-13M. Gedung Pendopo Agung untuk keperluan pameran-pameran, temporer, seminar, dan lain-lain. Dan gedung prasasti yang menyimpan replica prasasti Kedukan Bukit serta prasasti peresmian Taman Purbakala ini. Di samping itu di pulau Gempaka terdapat Disflag berupa struktur bata hasil eksavasi. Dalam lingkungan taman ini juga terdapat kanal-kanal...
Nabiilah : Akhirnyaaa! Dengan berakhirnya penjelasan ini, maka tour resmi part kedua pun selesai dilaksanakan! TERIMA KASIH TUHAAANNN! (sujud syukur)
(KITA SKIP LANGSUNG AJA, mager mulai kumat... *dihajarr* )
Kartika : Dadaa! Ntar ke sini lagi yaa! (lambai-lambai dengan semangat)
Nabiilah : Daa... (senyum manis sambil ngangkat tangan se-idung, maksudnya sejajar sama idung)
Alfred : DAAAAHHH! (semangat)
Arthur : (cuman nganggukin kepalanya doang, maklum, tsundere sih...)
Yao : Terima kasih atas bantuannya, aru! Sampai jumpa, aru!
Ivan : Da, daaa~!
Dan berakhirlah tour Sum-Sel ini seiring dengan makin tingginya pesawat itu terbang...
TBC
#nowplaying : To The Sky – Owl City
Kirana : HUAAGGHH! AKHIRNYA SELESAI!
Qiao : Jaga sikapmu.
Agi : Chapter-nya ga-je abis ya? (baca ulang berkali-kali)
Elin : Mau gimana lagi? Yang penting REVIEW lah...
The Trio of Author Sableng : PLEASE REVIEW!
Puppuku Elin Pucho : REVIEW YAAA!
