Urm...Gimana nih...M-mulai dari perkenalan aja,ya? Saya disini,Agi! Jadwal saya buat chapter ke-4...Pertama saya mau berterimakasih pada yang sudah berkenan me-review...Saya berterima kasih sekali...Semoga amal perbuatannya diterima di sana nantinya...Hehehe...
Disclaimer : Hidekazu Himaruya-sensei yang bikin...Saya sih ga bisa bikin pilem sebagus gitu...Fic ini aja ancur banget...
Genre : Fantasy dan Comedy kurasa...
Pairing : PruCan...Dan SpaMano... Ada hint dikit, coba tebak hint apaaa? (lirik mesum naskah cerita) *ditabok readers*
Summary : Err...Kini bagian kelompok 3 untuk merasakan liburan di Indonesia. Kali ini ada double pair untuk kedua kalinya. Kartika dan Forysca berbunga-bunga...
Warning : Ga-je,OOC,ga penting,saya ga jamin selesai baca fic ini anda masih waras,ada yaoi also known as BL meski dikit inside,dan warning lainnya...*pundung bareng Matthew dipojokkan* -?-
Indonesia's Journey
Chapter 4
"Forysca-chan! Sudah siap belum?" panggilan Kartika untuk kesekian kalinya kembali terdengar.
Gadis yang rambutnya tengah dikuncir dua kanan-kiri itu berdiri di depan pintu dengan wajah kesal. Pasalnya, sudah sepuluh menit dia berdiri di situ menunggu adiknya yang sangat kecil *author ditikam keris* maksudnya agak chibi itu. Akhirnya pintu terbuka menampakkan sosok gadis dengan tinggi sekitar 135 cm (aduhh.. kecil amat yak? *author dihajar*) dengan rambut ikal pendek dan mata cokelat kehitaman.
"Ah! Forysca-chan! Cepatlah! Kita sudah hampir telat! Aku ga mau kejadian kaya' si Nabiil keulang lagi... Oh, ya... Dimana Mela-chan?" tanya Kartika.
"Mela lagi belajar sama Mael dan Salsa... Cepetan yuk, kak!" sahut Forysca semangat.
Kartika tersenyum dan mereka pun berlari dengan semangat masa muda mereka (?) ke ruang keluarga.
"Ah, selamat pagi Kak Kartika! Forys!" sapa Hasya, NTT.
Kartika menyahut, "Pagi juga, Hasya-chan!" sahutnya.
Lain halnya dengan Forysca yang langsung mengambil roti bakar di meja ruang keluarga.
"Ahahaha... Forys-kachan sudah mulai kebiasaannya..." tukas Safira, Sulawesi Selatan.
Forysca menengok ke arah Safira, "Jangan memanggilku Forys-kachan! Kalo mau Forysca-chan!" seru Forysca menginterupsi kata-kata Safira. (Tau kenapa? Soalnya pelafalan kata 'Forysca' itu dilafalkan menjadi 'Fo-Ris-Ka'... Nah, karena ada tambahan '-chan' jadinya 'Fo-Ris-Ka-Chan'... Gituu... Ditambah lagi, si Forysca ini sering dipanggil Forys...)
"Bukannya sama aja, ya?" sahut Pier, NTB kembarannya Hasya seraya asyik main laptop.
Forysca mendengus kesal, "Diem lu, PER sepeda!" ejeknya pada Pier.
"Apa lo bilang, sipit PENDEK?" balas Pier tak mau kalah. Emang dasar si Pier yang dodol... Udah tau 'sipit' dan 'pendek' itu kata tabu bagi Forys, pake disebut-sebut segala. Sambil teriak lagii...
"Waduh, waduh... Mulai lagi nih..." gumam Dimas, Yogyakarta, seraya terkikik pelan. Kartika menghela nafas, kedua adiknya yang satu ini memang pantas disebut petarung abadi. Setiap hari selaluuuuuuu aja bertengkar. Tentu saja hal ini berlaku hanya untuk personifikasinya... Kalau provinsinya? Nggak kok!
"Udah deh, Foryskacang dan Pier Geandro Hararese Mingkem!" seru Agnia. Dia langsung kena deathglare dari 2 orang yang dilerainya.
"Pier... Geandro... Apa?" tanya Pier dengan aura hitam di belakangnya.
Kalau Forys sih, udah kebal diejek begituan, tapi dia kesel juga.
"Yah, kau kan bernama panjang Pier Geandro Haseo Manurung, tapi karena kau susah dibilangin juga susah mingkem, makanya diplesetin jadi Pier Geandro Hararese Mingkem..." jawab Agnia tenang. Pier merengut ke arah Agnia yang dibalas dengan tatapan tenang.
"Udah deh, kita jadi telat nih! Ayo pergi, Forysca-chan!" seru Kartika. Mereka pun segera menuju bandara Juanda di Surabaya.
~Di Bandara~
"Hua~~... Jadi ini ya, Indonesia~~~~?" seru Antonio, dia melompat-lompat senang di bandara.
"SHUT UP! YOU TOMATO BASTARDO!" seru Lovino sambil menggetok kepala seme-nya itu.
"Aduh~~... Lovi~~... Sakit nih~~~..." ringis Antonio yang dibalas tatapan tajam dari uke-nya tercinta itu.
"Jadi ini ya, Indonesia? Cocok sekali untuk orang yang AWESOME sepertiku!" ujar Gilbert narsis.
"AWESOME 'PALA LOE PEYANG! YANG BENER ASEM KALI!" gerutu Lovino yang dibalas cemberut oleh Gilbert.
"Sudahlah, Lovino, Gilbert..." sebuah suara berusaha menenangkan mereka.
"Hah? Siapa yang ngomong?" tanya Lovino kebingungan.
"Ini aku, Matthew... Kanada..." gumam Matthew pelan.
"Siapa?" tanya beruang Matthew yaitu Kumajiro.
"Kumakichi! Ini aku, Matthew!" seru Matthew pada beruang kesayangannya.
Oke, kita skip saja kelakuan para nation gila itu *didepak Gilbert, dilempar tomat, dan dicakar beruang* . Kini kita beralih ke arah Kartika dan Forysca.
"Aduh... Mereka di mana lagi?" kata Kartika kebingungan, pasalnya dia sudah mencari selama hampir 45 menit.
Forys yang daritadi diam sambil bermian PSP melirik ke arah papan pengumuman dan kemudian terkikik pelan. "Kenapa, For?" tanya Kartika bingung.
Forys tiba-tiba tertawa maniak, "Tentu saja, Kakak! Ini lobby untuk penerbangan domestik kok! Hahaha... Harusnya kita mencari di penerbangan internasional!" sembur Forys membuat Kartika malu sendiri.
Kartika langsung bangkit dan mengajak adiknya yang agak-agak mirip loli itu ke lobby penerbangan internasional. Di sana telah menunggu Kelompok 3 yang berpenampilan... OMG... Kasual yang keliatannya keren banget! Terutama Mattie! (Kirana : AKU PENGGEMARMU LOH, MATTIE! *dilempar tomat*) .
"Ahaha... Maaf sudah membuat kalian menunggu..." sesal Kartika sambil tertawa hambar.
"Tak apa kok! Kami juga baru datang!" seru Antonio riang, dia masih melompat-lompat layaknya orang gila *diinjek Antonio* .
"Baiklah kalau begitu! Kita langsung saja ke hotel!" seru Kartika semangat, disambut tepuk tangan para nation itu (?) .
"Permisi, Kartika-san! A-aku ingin bertanya sesuatu..." suara lembut nan pelan Matthew memanggil Kartika membuat sang empunya nama menoleh.
"Ah! Mattie-chan! Apa kabar? Bagaimana keadaan Kumajiro-kun?" tanya Kartika yang membuat Matthew terharu. Selain begitu peduli terhadapnya, Kartika juga mengakui keberadaannya...
"Oh, ya.. Kau ingin bertanya apa, Mattie-chan?" tanya Kartika lembut sambil tersenyum lembut. Matthew tersenyum lebar.
"Sebenarnya... Kita akan kemana saja, Kartika-san?" tanya Matthew senang, Kartika tersenyum manis.
"Hari ini kita akan check-in ke hotel Majapahit! Hari kedua, kita akan bermain-main ke Candi Penataran dan Museum Trowulan... Hari ketiga, kita bergerak menuju Gunung Bromo yang terkenal sangat indah... Lalu hari keempat, kita akan menuju Makam Proklamator Ir. Soekarno di Blitar, dan juga sedikit berkotor-kotoran karena mengikuti Karapan Sapi di Madura.. Hari kelima, kita akan menuju Air Terjun Sedudo, Pantai Pasir Putih, dan ke Pemandian Selecta untuk merilekskan tubuh kita! Hari keenam adalah hari bebas, kalian bisa berjalan-jalan atau membeli oleh-oleh. Sedangkan hari ketujuh adalah hari terakhir... Jelas?" tanya Kartika di akhir penjelasannya. Mereka semua mengangguk senang.
Rombongan kecil itu akhirnya menaiki mobil yang disediakan Kartika dan menuju Hotel Majapahit di Surabaya.
~Hotel Majapahit~
"U-uwa... M-megah sekali! Tadi namanya Majapahit ya?" tanya Antonio gembira, Kartika mengangguk.
"Tempat ini sangat AWESOME dan sangat cocok dengan orang yang AWESOME sepertiku!" seru Gilbert narsis, sampai-sampai Forysca diam-diam memanggilnya 'Narushisuto' .
"Keren! Tak kusangka kita akan menginap selama 7 hari ke depan di penginapan mewah seperti ini!" gumam-tumben-tumbennya-seorang-yang-tsundere-bernama Lovino kagum. Kartika tersenyum kecil mendengar gumaman sang tsundere nation.
"Ano... Kartika-san.. Forysca-chan... Majapahit itu apa?" tanya Matthew pada Kartika dan Forysca yang sedari tadi terdiam.
"Hah? Kakak.. Kurasa tadi ada yang ngomong..." kata Forys pelan, Kartika sweatdroped, Matthew pundung.
"Sudahlah Mattie-chan... Tak usah kau pikirkan kata-kata adikku... Tadi kau bertanya apa itu Majapahit kan?" tanya Kartika sambil menepuk-nepuk pundak nation yang disayanginya bagai adiknya sendiri itu.
"Majapahit adalah sebuah Kerajaan saat jaman sebelum penjajahan, didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1292 setelah memperdayai bala tentara Kubilai Khan dari Cina yang bermaksud menghukum Raja Jawa yang telah menghina utusannya yaitu Meng Ki pada masa pemerintahan Kertanegara di Singasari. Karena Kertanegara telah dihancurkan oleh Jakatwayang dari Kediri maka bala tentara Kubilai Khan menghancurkan Kediri, yang selanjutnya atas siasat Raden Wijaya dibantu oleh Arya Wiraraja, bala tentara Cina dapat dihancurkan oleh Raden Wijaya. Akhirnya Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pertama dengan gelar Kertajasa Jayawardhana..." terang Kartika panjang lebar pada Matthew.
Kemudian dia menarik nafas pelan dan melanjutkan, "Setelah Raden Wijaya meninggal, kedudukannya digantikan oleh putranya yang bernama Jayanegara. Saat jaman Jayanegara ini, banyak terdapat pemberontakan, di antaranya Pemberontakan Ranggalawe, Sora, Nambi, dan Kuti. Setelah Jayanegara adalah Gayatri yang diwakilkan oleh Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhana... Timbul Pemeberontakan Sadeng, yang dapat dipadamkan oleh Gajah Mada, karena jasanya pada tahun 1331 Gajah Mada diangkat sebagai menjadi perdana menteri, yang pada saat pelantikannya mengucapkan Sumpah Palapa... Tahun 1350 Gayatri atau Rajapatni wafat, dan Tribhuwana yang mewakilkannya menyerahkan kekuasaannya pada anaknya, Hayam Wuruk..." sambung Kartika.
"Hayam Wuruk naik tahta pada umur 16 tahun, bergelar Rajasanegara, merupakan raja terbesar dalam sejarah Majapahit dengan Gajah Mada sebagai Mahapatih. Kekuasaannya meliputi seluruh Kepulauan Nusantara, bahkan masih ditambah Tumasik atau Singapura dan Semenanjung Melayu. Dalam masa pemerintahannya, karya sastra yang terkenal adalah 'Negarakertagama' karya Empu Prapanca, dan 'Sutasoma' atau 'Purusadashanta' dan 'Arjunawijaya' karya Empu Tantular. Ketika Gajah Mada wafat tahun 1364, kedudukannya diganti oleh 4 orang menteri. Hayam Wuruk sendiri wafat tahun 1389... Raja Hayam Wuruk dan Permaisurinya hanya memiliki seorang putri bernama Kusumawardhani yang selanjutnya memerintah bersama suaminya, Wikramawardhana, yang masih saudara sepupunya. Selama pemerintahan Kusumawardhani, timbul sebuah perang saudara antara Bhre Wirabhumi, anak Wikramawardhani dengan selirnya, dan Wikramawardhani sendiri. Sementara tahun 1429 Wikramawardhana wafat menjadikan Kerajaan Majapahit menjadi Kerajaan kecil akibat satu persatu daerahnya melepaskan diri. Tahun 1478 Bhatara Prabu Girindrawardhana raja dari Daha merebut Majapahit dari Raja Kertabumi, Raja Majapahit yang terakhir..." sambung Forys sambil duduk di bangku panjang yang berada di lobby hotel itu. Matthew tampak semakin kagum karena pegetahuan mereka berdua sangatlah banyak,dan dia juga belajar suatu pelajaran baru.
"Terima kasih, Forysca-chan! Ini minum!" kata Kartika seraya melempar sebuah botol air mineral ke arah Forys yang menerimanya dengan baik dan langsung meminumnya.
"Aaahh... Segarnya... Baiklah, kurasa lebih baik kita pergi ke kamar masing-masing!" usul Forys setelah menegak habis minumnya itu. Mereka semua mengangguk dan pergi ke lantai 5 di mana kamar mereka berada.
~Lantai 5~
"Nah, kurasa kaian sudah tau susunan kamarnya..." kata Kartika sambil tersenyum-manis-yang-sebenarnya-adalah-samaran-dari-senyum-mesum. Mereka melirik satu sama lain.
"Oke! Seperti yang sudah kujelaskan tadi, besok kita akan pergi ke Candi Pelataran dan Museum Trowulan... Untuk itu, kalian harus tidur dan menimpan tenaga untuk 6 hari ke depan!" suruh Kartika sambil menuju kamarnya sendiri.
"Ohohoho... Kurasa tour kali ini akan menjadi yang paling menyenangkan..." gumam Kartika pelan sambil melambai-lambaikan tangannya sebelum memasuki kamarnya. Di sana, Forys sudah menunggu dengan laptop di pangkuannya.
"Kau ngapain, Forysca-chan?" tanya Kartika. Dia berjalan mendekati Forys dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh adiknya tersayang itu. Seketika matanya melebar dan mulutnya menganga—dengan beberapa tetes air liur—setelah melihat apa yang dibuka adiknya itu di laptopnya.
"Hebat kan? Aku hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencari semua ini..." pamer Forys sedikit sombong. Kartika mengelap air liurnya.
"U-uwaah! Forysca-chan! Di-save ya? Aku mau liat nanti!" suruh Kartika,dia berjalan menuju kasur dan merebahkan dirinya di kasur itu. Forys pun kelihatannya sudah mulai meneteskan air liur.
"O-oke!" sahutnya sambil menyimpan semua yang telah didapatnya susah payah. Setelah semuanya tersimpan,dia menutup laptopnya dan segera pergi tidur.
Penasaran? Nanti aja deh~...*author digiles*
~Esok Harinya~
"PAGI SEMUA! SANG ORE-SAMA YANG AWESOME INI SANGAT BERSE—HOEEEKK!" terdengar teriakkan Gilbert yang untungnya bisa dihentikan karena keburu disumpel pake kaos kaki yang udah lama ga dicuci milik Antonio. Yang melakukannya? Lovino.
"DIEM LOE, POTATO FREAK KEDUA! SUARA LOE TUH UDAH KAYA' TOA, TAU GAK? HEH?" amuk Lovino ganas dan beringas. Membuat para personifikasi maupun orang biasa di situ gemetar ketakutan. Bahkan Natalya pun sedikit gentar... (Kirana : Huuuaaahhh... Natalya pun?) *dirajam Natalya*
Tapi untungnya, Forys tersenyum begitu suci dan polos, membuat Lovino jadi tak tega melihat mata sipit Forys jadi lebar dan berkaca-kaca karena kena amukkannya (dilempar botol kaca wine + dilempar gerobak keris) .
"Hari ini, kita akan pergi ke Candi Penataran, daripada berlama-lama, lebih baik kita langsung saja ya?" sahut Forys sambil tersenyum innocent.
Dan mereka pun pergi ke sana dengan damai aman dan tenteram di sisi-Nya... *ditikam*
~Candi Pelataran~
"Naah~... Kita sampai di Candi Penataran~... Forys, kau yang menerangkan sejarahnya ya?" kata Kartika sambil menunduk ke arah samping kiri karena Forys—ahem... Terlalu chibi bahkan kalau mau, Kartika bisa mendandaninya ala Chibitalia, atau ChibiRomano, atau ChibiMerica, atau— *dibekep Forys*
"Baiklah... Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari Kerajaan Kadiri dan dipergunakan sampai dengan Kerajaan Majapahit. Candi Penataran ini melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur.
Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung)..." jelas Forys panjang lebar sambil menatap kelima orang di depannya.
"Lalu... Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Lovino tanpa menatap Kartika.
Kartika mencibir sambil membatin dalam hati, 'Dasar tsundere akut!' batinnya. Woi! Mbak! Ga nyadar diri kalo situ juga tsundere? *ditabok Kartika*
"Terserah kalian saja, mau foto-foto atau keliling. Tapi kalau kalian sudah lapar, kita bisa makan di kedai itu!" kata Kartika sambil menunjuk sebuah kedai—coret—restoran.
SKIP TIME! Soalnya pengen jadi wisata horror... (ketawa nista)
"Nah! Kita sampai di Museum Trowulan! Padahal harusnya kita ke hotel, tapi kalian memaksa ya sudahlah!" kata Kartika ketika mereka sampai di Museum yang dimaksud.
Jam tangan yang dibeli Kartika di Pasar Glodok dengan harga—ngg... Yang ini lupakan saja—menunjukkan sudah jam 20.14. Waktu yang terlalu telat untuk berwisata...
... Terlebih...
"Hihihi~... Kartika~... Kamu bawa tamu ke sini~..."
Kartika langsung pasang muka QAQ" begitu mendengar suara Kunti-chan, penunggu museum di seluruh Indonesia sekaligus bes pren-nya. Untung saja para turis sudah masuk duluan.
"Wahaha! Kunti-chan! Apa kabar?" tanya Forys polos. Dasar anak gedek! Udah tau setan, bukannya diusir malah disapa! *dihajar Forys*
"Hihihi~... Baik kok, Forys-chan! Tuh, ada Tuyul-chan di dalem... Main gih, sana!" jawab—ralat, suruh Kunti-chan. Forys mengangguk dan segera berlalu. Beneran, ya... Anaknya polos... Disuruh maenan ama Tuyul aja mau... Ckckckc... #bunuhed
"Nah, Kunti-chan... Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan dengan yang lain?" tanya Kartika sambil mengurut keningnya.
"Hihihi~... Kalau itu, lihat saja nanti~..." kata Kunti-chan sebelum pergi sambil terkikik seperti biasanya.
- KITA LIHAT DI TEMPAT LAIN -
"Hoi, Bastard!" seru Lovino sambil merapat ke arah Antonio yang sedang melihat koleksi yang dipajang di Museum.
"Apa, Loviiii~? Kedinginan~? Atau ngatuk~?" tanya Antonio dnegan suara yang dimanja-manjain, yang langsung dihadiahi getokkan cinta dari sang uke...
"Entah kenapa aku rasa ada yang aneh dengan Museum ini..." kata Lovino serius sambil menatap Antonio lugas.
"A-aneh apanya...?" bisik Matthew mistis.
"HUAAAA!" teriak Antonio yang langsung mendapat jitakkan di kepala dari Lovinito dan Gilbo.
"Jangan tereak, dodo!" seru Gilbert kesal.
"H-habisnya tadi ada yang bisik-bisik... Lagian nama gue kan Antonio, bukan Dodo!" protes Antonio.
"I-itu aku... Aku yang berbisik..." bisik Matthew lagi. Gilbert langsung nyengir.
"Dengar kan? Tidak ada hantu di sini! Yang berbisik itu Mattie-sweetie-lovie-honey..." kata Gilbert ceria sambil nyengir dan ada efek 'Cling Cling Cling' yang langsung membuat Matthew blushing sendiri sambil sweatdroped.
"Iya... Hihi~... Tidak ada hantu di sini~... Hihihi~..."
"Kau ben—Eh? Siapa tadi yang ngomong?" tanya Antonio sedikit kaget karena yang didengarnya itu suara cewek, terlalu tinggi untuk cewek malah.
Kalau mereka berempat? Tidak mungkin... Mereka asli cowok tulen meski bisa jadi uke!
Kalau Kartika? Suara Kartika lebih rendah dari ini... Hampir mirip suara asli Kirana dan Agi.. (Qiao dan Elin dihajar Kirana dan Agi) alias baritone (?) ...
Forysca? Jangan berharap banyak karena perbedaan suara mereka terlalu jauh...
J-jangan-jangan...
Keringat dingin mengalir dari pelipis Antonio. Saat dia menoleh—(Agi : Tolong efek suaranya! SFX : JENG JENG JENG!)—dilihatnya seorang—ralat, sesosok makhluk kasar yang halus (ha?) tengah berdiri di belakangnya sambil cekikikkan ga jelas. Antonio yang sudah pucat melihat kaki cewek itu.
'HAH? K-KAKINYA GA NAPAK! B-B-B-BE-BERARTI...'
"SETAAAAAAAAAAAAAANNNNN!"
Secepat kilat, Antonio langsung berlari. Secepat itu juga dia sadar kalau dia sudah ditinggal duluan oleh Gilbert, Matthew, dan Lovino.
Pernah liat para Nation dikejar-kejar setan sambil lari tunggang langgang dengan muka pucet dan mimisan (?) dan jatuh bangun berkali-kali gara-gara kesandung tali sepatu mulu? Di sini bayangan itu terwujud~... (author-author langsung dihajar dan diteror pake nuklir)
"HUAAA! LOVINO-KUN!" teriak Antonio langsung ga pake mikir sambil nangis darah pas ngeliat Lovino sedang berdiri di dekat pintu keluar bersama yang lain.
Lovino membalikkan badannya dan langsung terkejut ketika Antonio langsung menubruknya dan mereka berdua terjatuh ke tanah—yang langsung membuat para Fujoshi tepar seketika...
"L-loh? T-tomato Bastard! Apa yang kau lakukan? Lepasin!" bentak Lovino—agak heran juga—pada Antonio yang terisak di dadanya.
Sementara itu kita cek dulu keadaan yang lain.
"L-loh? K-Kartika-san! Forysca-chan! Kenapa pingsan begini?" tanya Matthew khawatir.
Kartika dan Forysca langsung bangkit lagi sambil tersenyum inosen. "Ah, ga apa kok! Ya engga, For?" tanya Kartika sambil tersenyum ceria.
Forysca langsung mengangguk, "Yup! Lebih baik kalian—kamu dan Gilbert-san—tunggu di mobil sementara kami akan mengurus—tentu saja dalam artian lain—Lovino-san dan Antonio-san!" suruh Forysca sambil tersenyum 5 juta watt dan ada efek 'Cahaya Mentari Pagi'. Matthew mengangguk ragu sebelum pergi ke mobil.
Dan sepeninggal Matthew, Kartika dan Forysca kembali ber-tepar-ria...
"Hiks... Lovino... Hiks... T-tadi a-ada... Hiks... Hantu... Hiks... Ketika aku lari... Hiks... Ternyata kalian sudah duluan pergi... Hiks... C-curang... Hiks... Lovino jahat..." gumam Antonio di sela-sela tangisnya. Lovino nampak terkejut sebelum tersenyum lembut—yang langsung bikin author nosebleed gara-gara ngebayangin... (dilempar pasta se-truk)
Lovino mulai menepuk kepala sang Spaniard sambil menghibur seme—salah, uke-nya (?) itu. "Maaf, Spagna... Aku tak sengaja... Mau kan, memaafkanku? Tenang saja... Aku takkan meninggalkanmu kok... Maaf..." kata Lovino lembut penuh kasih sayang pada Antonio (Authoress : Cieeee... Cieee... ManoSpa nih, ceritanya? Uhui! # Qiao : Ternyata hint di Pairing itu maksudnya ini...)
"Hiks... Y-ya..."
"..."
"..."
"..."
"Lovino-kun... Pelukanmu hangat sekali ternyata.. Apalagi kalau tersenyum begitu..."
GREB! BRAK!
"GYAAAHH!"
(PS : Itu teriakkan Antonio kalo mau tau. Apa yang terjadi ya? ;} )
Sementara di mobil...
"Ngg... Apa itu tadi?" tanya Matthew pelan sebelum menatap ke luar kaca jendela mobil.
"Entahlah Mattie, tapi rasanya aku ingat sesuatu deh..." kata Gilbert sambil menyeringai dan mulai mendekati Matthew.
Matthew langsung panik sambil blushing, "M-mau apa?" tanyanya gugup.
"Sudah jelas kan?" tanya Gilbert balik sambil menambah seringainya. Matthew menelan ludahnya takut-takut...
"Tuhan... Aku masih ingin jadi perawan (?) ..."
GREB! BRAK!
"U-UKYAAAAAA~!"
SKIP! SKIP! KITA GA MAU TAMBAH RATE! (demo di depan gedung DPD (?))
"Maaf, maaf! Kemarin kami belum sempat menjelaskan tentang museum itu! Sebagai gantinya... Hari ini kita akan menuju Gunung Bromo! Udara di sana dingin sekali, jadi kami harap kalian membawa jaket dan peralatan lainnya!" seru Kartika ceria.
"Yup! Kita sudah sampai di Gunung Bromo... Tapi karena cuaca tidak mendukung (bilanga aja authornya males nulis... #digamparreaders ) maka kita hanya sampai di sini saja..." kata Kartika ketika mereka sampai di Gunung Bromo.
"Huaah... D-dingin sekali..." gumam Matthew sambil merapatkan jaketnya. Sedetik kemudian, tubuhnya dibungkus oleh tubuh Gilbert.
"U-UWAAAA! G-Gil... L-lepas!" seru Matthew malu. Gilbert hanya tertawa renyah.
"Nggak mau. Kamu bilang kamu kedinginan." tolak Gilbert. Matthew tambah blushing parah...
Tidak butuh waktu lama... Lovino juga sudah meronta-ronta di dekapan Antonio...
Sementara itu Kartika dan Forysca sudah jatuh bangun menahan mimisan agar tidak turun dari hidung dan akhirnya tepar bersimbah darah...
"N-nah... J-jadi Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.
Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo..." terang Kartika ft. Forysca (?) dengan muka ceria—ada sedikit darah di bawah hidung—sambil tersenyum.
- SKIP! SKIP! KITA GA PUNYA IDE! IDE SELAMANYA MILIK PAK IMAN! *dihajar Ide* (PS : Ide itu nama temennya The Trio of Author Sableng a.k.a Kouhai-nya Puppuku Elin Pucho) -
Waah... Burung-burung(gagak) berkicau dengan indah~...
Wangi bunga(kemboja) tercium dari jauhnya~...
Tapi...
"Hiksu~... Foryscaaa~... Aku tak bisa melupakan Papa Sukarno~... Hiks..."
"Aduh... Kak Kartika tenang dong! Malu nih, sama tamu!"
Yup! Mereka tengah berada di Makam Ir. Sukarno di Blitar, dan selama perjalanan Kartika nampak terus meneteskan air mata (halah lebay!) sambil memanggil 'Papa Sukarno' terus-terusan.
"Waah... Kartika ternyata sangat sayang pada Boss-nya ya..." kata Antonio sambil tersenyum kagum.
"Iyalah! Orang Kek Karno itu baik!" seru Forysca. Ngg... Kartika memang memanggil Pak Sukarno dengan Papa Sukarno, tapi adik-adiknya memanggilnya dengan Kek Karno (MAAFKAN KAMI, PAK SUKARNO DI ALAM SANAAA~! #diterorpakSukarno7hari7malem)
"Wah... Aku jadi ingat masa-masa dulu, saat 'mampir' ke daerahmu..." kata Antonio. Kartika hanya mendengus sebal.
"Eh? Memangnya dulu kau pernah ke Indonesia, Antonio?" tanya Gilbert/di sela-sela kegiatannya CoretMeraep MatthewCoret/pada Antonio.
"Yaa... Dulu saat jaman perang, aku sempat 'mampir' ke Indonesia sih!" kata Antonio.
"Bukan 'mampir' Antonio-san. Tepatnya menguasai." kata Forysca tajam + dingin. Antonio langsung mewek.
"Heee? Maksudmu 'menjajah', Forys?" tanya Matthew yang disambut anggukkan kompak dari Forysca dan Kartika.
"Memangnya saat dijajah Antonio itu menderita ya..." gumam Gilbert pelan.
Kartika, dan Forysca/juga Lovino/mengangguk cepat. "Hohohoho... Menderita sekali! Sangat-sangat menderita! Bukan begitu, Forys?" tanya Kartika semangat sambil melirik Forys.
Forys segera menyambung pernyataan itu, "Benar! Benar sekali! Belum lagi dijajah negara lain!" seru Forys. Dasar ade-kakak yang sumper kompak! Nyampe-nyampe mengintimidasi mantan penjajah pun kompak... Antonio juga tambah mewek tuh...
"Well, well... Presiden pertama NKRI adalah Dr. Ir. H. Soekarno. Memerintah sejak 1945-1966. Lahir di Blitar, Jawa Timur, pada tanggal 6 Juni 1901. Memperoleh gelar Ir. (insinyur) di THS (Technische Hoogeschool) Bandung, sekarang ITB (Institut Teknologi Bandung). Ia berhasil merumuskan ajaran marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada tanggal 4 Juli 1927..." kata Kartika sebelum menatap Forysca.
"Pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI. Setelah menyatukan bangsa Indonesia, ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dalam Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 di Bandung, yang sekarang berkembang menjadi Gerakan Nonblok..." sambung Forysca sambil tersenyum.
"Soekarno berhenti menjadi presiden setelah terjadi krisis politik yang sangat hebat melanda pemerintah RI. Lewat Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 1966, Soekarno menyerahkan kekuasaan Soeharto. Soekarno meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur..." kata seseorang di belakang mereka semua.
"Hee? Dimas-nii-chan?" tanya Forysca sambil menatap orang yang ternyata Dimas itu.
"Aku tak sengaja lewat saja. Oh, iya, tadi para Fujoshi—err... Kakak-kakak cewek di rumah minta 'itu'.. Tau kan?" tanya Dimas canggung sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Hooo... Tenang aja! Bilang ke mereka kalau 'itu' udah terkumpul banyak! Bahkan—" Kartika melirik kedua pair itu, yang langsung bergidik ngeri, sambil tersenyum menyeringai, "—kelihatannya 'itu' terlalu berlebihan. Kita akan menjualnya di eBay dan ke Kiku juga Elizaveta nanti..." sambung Kartika.
Dimas mengangguk. "Baiklah. Aku pergi dulu ya! Daah, kakak, Forys!" pamit Dimas sambil berlalu.
"A-apa yang kalian maksud dengan 'itu'...?" tanya Matthew sedikit khawatir.
"He? Ooh... Tenang saja... Para kakak di rumah memesan—"
PIIIIIP! PIIIIIP! PIIIIIP!
"Ah, sudah waktunya berganti tempat tour~!" seru Kartika ceria. Yang lain malah menambah penasaran.
"Semuanya membawa baju ganti kan?" tanya Forysca, yang dijawab anggukan dari semua Nation.
"Baguslah! Sekarang ayo kita pergi ke tempat berikutnya..." ajak Kartika sambil berlari menuju mobilnya yang bermerek Balelo 3XDD (?)
Readers penasaran akan 'itu' kaaannn?
"Selamat datang di Kampung Sukaribut (?) di kecamatan Sukamelarat (?) tepatnya di provinsi Madura! Sekarang kami akan menjelaskan cara bermain 'Karapan Sapi' asli Madura!" seru Kartika sambil menarik lengan Antonio dan Matthew ke arah sawah—Forys menarik lengan Gilbert dan Lovino.
"Yosha! Tim akan kami bagi dalam 2 kelompok! Kelompok 1 terdiri dari para seme—uups... Maksudnya Gilbert dan Antonio, kelompok 2 itu sisanya!" kata Forysca sembari meluncur ke sawah diikuti teman-temannya.
"Cara mainnya sih gampang saja... Kalian harus berlomba 'menunggangi' sapi ini sampai ke sana—" kata Kartika sambil menunjuk ujung sawah.
"—dan siapa yang jatuh duluan maka dia kalah dan digantikan oleh partner-nya! Tim yang paling jarang berganti partner maka dialah yang menang!" seru Forysca riang.
"Oh, seperti naik banteng Rodeo ya?" tanya Antonio. Maklum... Dia kan mantan El-Matador (?)
"Mirip siiihh... Hanya saja, yang ini lebih seru karena ada di sawah!" kata Forysca riang.
"Baiklah! Semua siap? Lomba... Dimulai!" seru Kartika.
Pertandingan pertama adalah Antonio lawan Matthew...
Pertama Antonio melaju kencang, tapi Matthew dengan cepat menyusul. Wah, Matthew memimpin pemirsa sekalian! (?) Sejak kapan Canada jadi bisa main Karapan Sapi?
Tapi Antonio kemudian berusaha menyusul. Terjadilah perebutan kekuasaan sementara garis finish ada di depan mata dan...
"GOOOOOOOOOOOOLLLLLLLLLL!"
Author's POV
Lovino : HOI! AUTHOR GEDEK! APA HUBUNGANNYA GOL AMA KARAPAN SAPI?
Kirana : He? Oh, maaph... Lagi sakau bola nonton Indonesia vs Turkmenistan.
Agi : DAN APA ITU MAENANNYA KASAR BANGET! SIALAN!
Qiao : Hiraukan mereka. Kembali ke cerita sana.
Lovino : HUH!
End of author's POV
Yup! Malangnya Antonio... Sang Matador itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh tepat di depan garis Finish. Sudah tertebak akhirnya?
Matthew melewati garis Finish dengan sangat beruntung. Dia menang tanpa lecet sedikit pun dan turun dari kereta kencana berkudakan sapi (?) yang langsung disambut dengan pelukan mesra Gilbert.
"Berarti sekarang aku lawan Mattie ya?" tanya Gilbert bingung. Bagaimana bisa seorang yang sangat oh-so-seme itu melawan uke-nya yang saking-uke-nya-sampai-kelihatan-lemah-dan-tak-berdaya itu?
"A-aku menyerah saja deh... Aku takkan bisa menang melawan Mattie..." gumam Gilbert sebelum kembali memeluk Matthew yang sudah blushing.
"Yosha! Kalau begitu... Antonio vs Lovino dong!" kata Forysca sambil tertawa ngakak.
"Aku takkan kalah darimu, Spagna bego!" seru Lovino.
"Aaah~... Aku juga takkan kalah dari Lovinito~..." balas Antonio tak mau kalah.
Permainan kembali dimulai. Antonio dengan kemampuan El-Matador-nya, dan Lovino dengan kemampuan The Second King of Tsundere (yang pertama itu si Arthur) bertarung dengan sangat sengit.
Bahkan saking sengitnya, Malingshit sampai kalah 0-32 lawan Indonesia di World Cup 2030 (?) (buseet... Maen basket apa maen bola, pak?)
Tapi akhirnya...
"WHUAAAAAA!"
"GYAAAAAAAAA!"
Sapi milik Antonio dan Lovino bertabrakan tanpa terkendali. Jadilah mereka jatuh saling bertubrukan...
SROOOOOTT!
Darah kembali meluncur dari hidung Kartika dan Forysca. 'Ya ampun. Mungkin tour kali ini memakan banyak stok tissue di kantong, di rumah, maupun persediaan...' batin Kartika sambil jejeritan ga-je.
Eh, jangan lupakan PruCan deh.
"G-Gil... L-lepas... I-itu Antonio jatuh... Kau tolong dia dulu, ya..." rintih (?) Matthew pada Gilbert yang masih memeluknya.
"He? Ah, merepotkan saja. Biarkan saja mereka!" kata Gilbert tega sambil terus memeluk Matthew.
Balik ke SpaMano.
"Ugh! Berat Spagna—eh? Kok?"
"L-Lovinitoo... Perasaan tadi aku yang jatuh menimpamu (A/N : WATDEHEL?) kok sekarang aku yang berat ya?"
Satu mata membuka, disusul mata yang lain.
"WUAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"S-SPAGNA! TUBUHKU! KEMBALIKAN TUBUHKU!"
"AKU JUGA TIDAK TAU CARANYA, LOVINITO!"
"Apa yang terjadi ini?" tanya Kartika yang baru saja pulang membeli tissue di minimarket terdekat (?)
Lovino dan Antonio menoleh. Sebelum Antonio menarik lengan Lovino ke pinggir sawah.
"Kelihatannya... Kita telah berganti tubuh, Spagna..." kata Antonio.
"T-tapi... Bagaimana ini?" tanya Lovino.
"Tetap jaga rahasia ini. Jangan sampai Indonesia-san dan yang lain mengetahui hal ini!" perintah Antonio.
Rupanya... Antonio dan Lovino...
BERGANTI TUBUH? QAQ"
{DI HOTEL}
"Spagna! Kalau sampai tubuhku kenapa-napa... Kau harus membayarnya! Ingat itu!" ancam Antonio—ralat, Lovino-yang-ada-di-tubuh-Antonio pada Antonio-yang-ada-di-tubuh-Lovino.
"Iyaaa... Aku mau mandi dulu yaaa..." kata Antonio-di-tubuh-Lovino sambil memasang cengiran (mesum)
Lovino-di-tubuh-Antonio tampak ingat sesuatu sebelum melempar sebuah bantal ke arah Antonio-di-tubuh-Lovino yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"JANGAN MANDI DENGAN TUBUHKU, SPAGNAAAA MESUUUUMMM!" teriak Lovino-di-tubuh-Antonio marah...
"Wah... Di kamarnya SpaMano ramai ya?" gumam Kartika pelan sembari membuka matanya.
"Ah, sudahlah, yang penting aku harus tidur untuk besok!" katanya sebelum kembali tidur...
SKIP TIME – TIME IS MONEY, MAN!
"Huaaa! Dingin!" seru Kartika saat menceburkan diri ke kolam yang ada di bawah Air Terjun Sedudo.
"Air Terjun Sedudo adalah sebuah air terjun dan obyek wisata yang terletak di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan ibukota kabupaten Nganjuk. Berada pada ketinggian 1.438 meter dpl, ketinggian air terjun ini sekitar 105 meter. Tempat wisata ini memiliki fasilitas yang cukup baik, dan jalur transportasi yang mudah diakses.
Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada bulan Sura (kalender Jawa). Konon mitos yang ada sejak zaman Majapahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut.
Setiap Tahun Baru Jawa, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual, yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda. Hingga sekarang pihak Pemkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual Mandi Sedudo setiap tanggal 1 Suro..." terang Forysca panjang lebar.
"Ngg? Souka... Berarti kita akan awet muda dong! Ahahah!" seru Gilbert sambil mengguyur tubuhnya dengan air.
"Bukankah kita memang sudah awet muda, Gil..." gumam Matthew yang masuk perlahan-lahan ke air.
Sementara itu Lovino-yang-ada-di-tubuh-Antonio sedang mencegah Antonio-yang-ada-di-tubuh-Lovino untuk membuka baju dan berenang... XDD
(((SKIP TIME)))
"Kelihatannya kali ini banyak berhubungan dengan air ya..." kata Kartika inosen sambil tersenyum bersalah.
"Ahahaha... Iya, benar..." kata Forysca setuju sambil facepalm.
Sekaligus, tour kali ini menjadi bencana bagi Lovino karena dia harus terus mencegah Antonio 'memperlihatkan' tubuh indah nan mulus milik Lovino dengan cara melepas baju dan berenang. (author nosebleed duluan)
"Cocok dengan namanya pasir putih karena pantainya berpasir putih sehingga masyarakat menyebutnya Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih salah satu obyek wisata yang ada di sebelah selatan Pulau Nusakambangan tepatnya berada di sebelah timur Pantai Permisan. Pantai Pasir Putih dihiasi dengan berbagai batu karang atau pulau – pulau kecil yang membujur ke timur dihiasi ombak yang sangat dahsyat / ganas sehingga benturan air menghantam batu karang hitam menambah keindahan batu karang..." gumam Matthew takjub—oh, dia membaca brosur yang dibawanya.
SKIP TIME—lagi...
"ANJROT! SIALAN! NIH TOUR NYIKSA GUE!" teriak Lovino-di-tubuh-Antonio.
Jelas... Mereka tengah berada di Pemandian Selecta yang meWAJIBkan bagi pengunjungnya untuk melepas baju.
"Hee? Tumben Antonio berkata kasar?" gumam Matthew terkejut.
"Dan tumben-tumbennya Lovino diam saja—ngotot ingin berenang..." gumam Forysca aneh.
"Selecta didirikan oleh seorang warga negara Belanda bernama Ruyter de Wildt pada tahun 1930 sebagai tempat wisata dan peristirahatan pilihan bagi warga negara Belanda saat berada di Indonesia, sesuai dengan nama Selecta yang berasal dari kata selectie yang berarti "pilihan". Dan pada akhirnya Selecta menjadi sebuah karya monumental bagi sebuah konsep tatanan wisata yang menggabungkan unsur keindahan dan kesejukan alam pegunungan yang menjadi cikal bakal pariwisata Jawa Timur... Oh, ya... Suhu udaranya berkisar antara 15 derajat Celcius sementara suhu airnya sekitar 18 derajat Celcius..." kata Kartika sambil melihat jam tangannya.
"Hei, waktu tour sudah berakhir! Kita akan kembali ke hotel! Besok kalian boleh berbelanja secara bebas di dekat hotel ya!" seru Kartika sambil tersenyum.
(((((((((((((((SKIP 2 HARI)))))))))))))
"DAHHH! SAMPAI JUMPA LAGI, YAA!" teriak Forysca semangat di bandara sambil melambaikan tangannya.
"Aha! Jangan lupa mampir lagi, ya!" balas Kartika sambil tersenyum anggun.
Pesawat pun lepas landas... Tapi, ada satu hal yang membingungkan Author...
Itu Antonio dan Lovino gimana nasibnya ya?
TO BE CONTINUED
Kirana : Ahay! Rekor ini, rekor! 17 halaman, man! Ahay!
Qiao : (buset dah... 17...)
Agi : Elin-senpai? Kenapa?
Elin : Hee? Oh, aku cuman mikirin gimana nasibnya Antonio dan Lovino...
Kirana : Kaya'nya bikin spin off aja deh..
Agi : Spin off? Ah, engga ah! Capek!
Readers mau ga?
Lewat review ya!
