Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Bleach © Tite Kubo
Warning!
Canon/ Semi Canon maybe, diusahakan seIC mungkin, gaje, ngawur
2nd Chapter
When Shinobi Meets Shinigami © Yoruichi Shihouin Kuchiki
"Cih, apa lagi kali ini?" umpat Sasuke kesal.
Pemuda dengan rambut melawan gravitasi itu menghalangi matanya dari debu yang beterbangan dengan sebelah tangannya. Dia membalikkan badannya perlahan sambil menahan laju angin dan debu pasir yang berlawanan dengan arah geraknya. Obsidiannya menyipit ketika sosok orang yang telah membunuh monster-monster tadi perlahan muncul dari balik debu pasir yang telah tersapu angin.
Sesosok lelaki dengan helaian rambut hitam panjang yang tergerai dan iris mata abu-abu menerobos masuk tanpa menghiraukan butiran-butiran debu yang mengepul disekelilingnya. Perlahan-lahan sosok lelaki itu mulai terlihat jelas. Lelaki itu terus berjalan mendekati rombongan Naruto sambil memegang pedang tanpa bilah itu di depan dadanya.
Naruto mundur selangkah dengan kuda-kuda menyerang dan kunai di tangannya, "Siapa kau?" tanya pemuda berambut jabrik itu dengan nada agak tinggi.
Laki-laki tadi tidak merespon namun terus mendekat—membuat ketiga shinobi pria tersebut memasang penjagaan lebih ketat di garis depan. Seakan-akan batasan itu dibuat untuk melindungi satu-satunya ninja perempuan di kelompok mereka. Keempat ninja tersebut tercengang ketika melihat kelopak bunga sakura tadi kembali berterbangan menuju gagang pedang yang dipegang lelaki tadi. Kelopak sakura itu pun kembali dengan teratur menjadi sebilah pedang yang menyatu dengan gagangnya.
"Ngeh? Itu tadi sulap?" tanya Naruto entah pada siapa ketika melihat kejadian yang menurutnya aneh tadi.
Lelaki bertubuh tegap dan tinggi dengan yukata hitam dan haori putih itu memasukkan pedangnya tadi ke dalam sarungnya, "Siapa kalian?" Untuk yang pertama kalinya lelaki tersebut memperdengarkan suara beratnya.
Lelaki tadi menyipitkan matanya, kedua alisnya berpaut. Lelaki itu—Byakuya Kuchiki—dapat merasakan kalau keempat orang yang ada dihadapannya itu bukanlah shinigami, ataupun roh yang ada di rukongai. Byakuya menyadari hal itu dari reiatsu unik mereka yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sebagai seorang shinigami yang sekaligus menjabat sebagai taichou di divisinya—adalah hal mudah untuknya mengenali reiatsu mereka.
"Harusnya kami yang bertanya kau siapa!" sahut Naruto dengan nada sinis. Masih ada sedikit kecurigaan dari pemuda berambut jabrik itu kepada lelaki asing yang sudah menyelamatkan nyawa mereka entah dengan ikhlas atau tidak. Naruto belum bisa mempercayai apakah lelaki itu adalah kawan atau lawan? Dengan sisa chakra yang tinggal sedikit, dia hanya bisa waspada untuk mengantisipasi semua kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Di dunia shinobi pun bahkan begitu 'kan? Dimana seseorang yang dianggap kawan bahkan terkadang ternyata merupakan lawan.
Lelaki tadi menyipitkan matanya menatap Naruto, "Tidak sopan," imbuhnya dengan nada tidak suka.
Naruto menggeram dan nampak ingin membalas ucapan lelaki tadi namun Sakura mencegahnya. Gadis itu menarik pergelangan tangan Naruto, "Tunggu dulu, Naruto." Pemuda berkulit tan itu menoleh ke arahnya.
Sakura memberanikan dirinya untuk maju satu langkah dari teman-temannya. Gadis musim semi itu mencoba mendekati Byakuya. Sebelah tangannya dia letakkan di depan dadanya sambil terus melangkah kecil menghampiri lelaki tersebut.
"Terima kasih telah menolong kami," ucap Sakura sambil menundukkan sedikit kepalanya.
Lelaki itu tidak menyahut ataupun memberikan seulas senyum tipis padanya. Lelaki beriris abu-abu itu terus menatap tajam ke arah Sakura dan teman-temannya, "K—kami tersesat dan tidak tahu ini dimana . . . Bisakah Anda jelaskan pada kami sebenarnya tempat apa ini?" Sakura menatap iris lelaki itu takut-takut. Tapi tidak ada lagi tempat bertanya selain lelaki asing yang telah menolongnya itu. Walaupun Sakura belum mengenalnya, setidaknya lelaki tadi telah menyelamatkannya dan membuatnya sedikit dapat mempercayai lelaki tersebut.
Byakuya mengangkat sebelah alisnya. Dia memang bukan tipikal orang yang bisa percaya pada orang yang baru pertama kali ditemuinya. Tapi setidaknya, lelaki itu dapat menangkap sorot mata kebenaran dari iris klorofil cerah milik Sakura. Byakuya mendekati Sakura yang masih terpaku di tempatnya. Pertanda baik atau burukkah?
oOo
Konoha diguyur hujan deras siang ini. Langit cerah yang biasanya menggantung di kanvas biru itu kini berubah menjadi hitam gelap. Jalanan yang biasanya ramai itu juga nampak sepi. Yang terdengar hanya suara gemericik air yang menghujam tanah tanpa basa-basi.
Tsunade—sang Hokage yang sebentar lagi akan melepas masa jabatannya tampak memandangi tetesan-tetesan air yang jatuh. Wanita paruh baya itu menyenderkan sebagian tubuhnya di jendela kaca besar yang dapat memperlihatkan bagaimana keadaan Konoha saat itu. Dalam diam, matanya menerawang jauh—tampak sedang memikirkan sesuatu.
TOOOKK TOOOKK
Suara ketukan pintu menyandarkan wanita itu dari lamunannya. Tsunade membenarkan posisi berdirinya dan melangkah pelan ke arah meja kerjanya. Kemudian duduk di bangku putarnya.
"Masuk!" perintahnya terhadap si pengetuk pintu.
Tidak perlu waktu yang lama, seorang wanita berambut hitam sebahu muncul dari balik pintu ruang kerjanya. Wanita itu tersenyum simpul dan menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda salam kepada pemimpin desa Konoha.
"Apa belum ada kabar dari Kakashi dan timnya?" Tsunade menatap serius Shizune—wanita yang tengah masuk ke dalam ruangannya.
Shizune menggeleng pelan, "Seharusnya mereka sudah sampai dua jam yang lalu. Tapi sampai sekarang mereka belum juga tiba," jelas Shizune.
Tsunade memangku dagunya dengan jemari yang terkait satu sama lain, "Tidak biasanya tim Kakashi pulang terlambat tanpa kabar seperti ini." Raut wajah hokage kelima itu mulai cemas.
"Mungkin mereka mampir terlebih dahulu untuk berteduh. Di luar hujan sangat deras." Shizune mencoba berusaha menepis kekhawatiran yang muncul di wajah cantik hokagenya itu.
Tsunade menghela nafasnya pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang entah kenapa menjadi gelisah tak seperti biasanya. Mungkin karena instingnya sebagai pemimpin yang kuat, ia hanya merasa janggal dengan tim Kakashi—salah satu tim ninja andalannya yang bahkan sampai saat ini belum menginjakkan kaki mereka kembali di kantornya. Memang, di luar hujan turun deras. Dan mungkin saja spekulasi Shizune itu benar. Tapi juga tidak menutup kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya.
"Aku hanya punya firasat buruk." Tsunade memicingkan matanya ke sembarang arah—tak mau ekspresi cemasnya kentara oleh Shizune.
Shizune sendiri tahu kalau Tsunade tampak mencemaskan mereka. Beda dari biasanya. Walau tak dapat dipungkiri, Shizune sendiri juga memiliki perasaan yang sama dengan Tsunade. Karena hal seperti ini hampir tidak pernah terjadi sebelumnya terutama pada tim Kakashi. Namun kembali—Shizune menepis semua pikiran negatif itu.
"Tsunade-sama tidak perlu khawatir. Mereka pasti akan segera pulang." Shizune kembali mencoba menenangkan dan memberi seulas senyum tipis pada pemimpin tertinggi desa itu.
Tsunade memejamkan matanya sebentar. Sesaat kemudian iris cemerlangnya kembali menatap langit gelap siang itu tanpa menggerakkan badannya sedikit pun, "Aku harap begitu," timpalnya kemudian.
Ada sorot mata harap cemas yang terpancar dari kedua maniknya. Berharap bahwa semuanya akan benar baik-baik saja.
oOo
Keempat shinobi itu terpaku saat melihat rumah tradisional khas Jepang yang amat sangat luas dan mewah. Bak sebuah istana, mereka bahkan tidak bisa melihat dimana ujung rumah tersebut. Gerbang utama pun dibuka, tampak dua orang berjaga di sisi kanan dan kiri gerbang tersebut. Keduanya sama-sama menggunakan yukata hitam yang nampaknya sudah menjadi seragam bagi mereka. Karena sejauh mata anggota tim tujuh memandang sepanjang perjalanan mereka, yang mereka temui hanyalah orang-orang dengan pakaian sama seperti itu. Lelaki tadi masuk dengan santainya seolah-olah mengatakan bahwa ini adalah wilayah kekuasaannya. Tim Kakashi saling memandang satu sama lain—ragu apa mereka harus ikut masuk atau tidak. Naruto yang pada dasarnya selalu bertindak tanpa berpikir, akhirnya masuk lebih dulu daripada teman satu timnya yang lain.
"Tunggu dulu, dobe!" seru Sasuke yang hanya ditanggapi dengan tatapan mata malas Naruto.
"Ada apa sih, teme?"
Sasuke menggeram kesal dengan tindakan Naruto yang dianggapnya bodoh, "Kh, kau ini! Jangan sembarangan saja masuk dan mengikuti orang yang belum kau kenal!"
Naruto kini membalikkan badannya menghadap Sasuke sambil melipat kedua tangannya di depan dada, "Heh? Kau sendiri juga mengikutinya 'kan? Kita sudah sampai sini jadi teruskan saja. Lagipula kita sekarang tidak tahu ini dimana. Mungkin saja dia tahu sesuatu dan bisa menolong kita," oceh Naruto panjang lebar.
Sasuke makin kesal tapi tidak bisa membantah semua ucapan Naruto. Apa yang pemuda jabrik itu katakan bisa jadi benar. Walaupun Sasuke benci untuk mengakuinya tapi memang tidak ada jalan lain selain mengikuti langkah kaki lelaki tadi.
PUUUKK
Sasuke menoleh ketika ia merasa ada tangan besar yang menepuk bahunya.
"Untuk kali ini, kita harus percaya pada lelaki tadi dan juga Naruto." Pria bermasker itu menatap iris onyx Sasuke dan tersenyum tipis di balik maskernya itu.
"Kakashi-sensei benar, Sasuke-kun. Lagipula lelaki tadi sendiri yang menyuruh kita untuk mengikutinya." Kali ini giliran Sakura yang bicara.
Pemuda raven itu benar-benar mati kutu. Dengan terpaksa akhirnya ia juga ikut melangkah masuk mengikuti rekan-rekan satu timnya yang sudah lebih dulu berjalan mendahuluinya. Langkah kakinya semakin dalam memasuki tempat yang baru pertama kali dikunjunginya. Rumah itu benar-benar luas, bahkan koridornya saja begitu panjang. Seolah tidak terlihat dimana ujungnya. Keempat shinobi nyasar itu hanya mengikuti lelaki tadi—Byakuya tanpa protes sedikit pun. Kedua iris mereka masing-masing terlempar kesana-kemari sambil mengamati setiap sentinya koridor yang mereka lalui.
"Ngomong-ngomong kita ini mau dibawa kemana, Sakura-chan?" bisik Naruto sambil mendekatkan mulutnya ke telinga gadis musim semi itu.
Sakura mengernyit kemudian mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tahu," jawab gadis itu singkat.
"Jangan-jangan kita akan . . . " Naruto tiba-tiba malah merinding sendiri dengan ucapannya yang bahkan belum selesai. Pemuda jabrik itu lalu memegang tengkuknya dan menggeliat tidak jelas.
Sakura Naruto sebal kemudian menjitak kepala pirang pemuda itu, "Jangan membayangkan hal yang tidak-tidak, Naruto!" oceh gadis itu.
Naruto hanya bisa mengelus-elus kepalanya dan meringis kesakitan tanpa bisa membalas perbuatan Sakura. Lagipula ini bukan kali pertama Sakura menjitak kepalanya. Mungkin, hal itu sudah menjadi santapan sehari-hari Naruto dan membuat pemuda beriris biru langit cerah itu kebal terhadapnya.
"Nii-sama, sudah pulang?" Suara cempreng seorang gadis membuat Naruto dan kawan-kawan menoleh.
Kali ini sosok gadis mungil beriris violet dengan wajah mirip lelaki tersebut datang menghampiri mereka atau lebih tepatnya lelaki tadi dari arah berlawanan. Naruto dan yang lain harus memanjangkan leher mereka masing-masing terlebih dulu agar dapat melihat sosok mungil yang terhalang oleh badan tegap Byakuya.
Merasa ada sekumpulan orang asing di belakang kakaknya, gadis mungil itu—Rukia mengintip ke belakang kakak laki-lakinya itu, "Nii-sama, siapa mereka?" tanya Rukia penasaran.
Gadis itu heran, Byakuya—kakak Rukia yang tergolong dingin dan cuek itu tiba-tiba malah pulang dengan membawa empat orang bertampang kucel yang bahkan belum pernah dilihatnya. Sejak kapan sang pemimpin bangsawan Kuchiki ke-28 itu bersikap ramah kepada sekumpulan orang asing yang baru saja ditemuinya?
"Bawa mereka ke ruang tamu." Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan adiknya melainkan menyerukan hal lain kepadanya. Kemudian melengos pergi meninggalkan kelimanya. Ya, ciri khas Byakuya yang bahkan harga diri dan kharismanya jauh lebih tinggi dibandingkan pemuda bermarga Uchiha di belakangnya.
"Aaa, baiklah, Nii-sama," patuh Rukia sopan pada kakak kebanggaannya itu.
Iris violetnya kemudian beralih kepada keempat orang asing itu yang tengah menatapnya bingung—seolah tak mengerti apa-apa. "Ng—kalian yang disana, ayo ikut aku," ajak Rukian terlihat canggung. Tapi mau tak mau ia harus tetap mematuhi perintah Byakuya.
Para anggota team tujuh mengekori Rukia dari belakang. Sambil tetap memasang wajah bingung dan terus menggulirkan pamdangan mereka ke pekarang yang begitu luas, indah dan menyejukkan. Kontras dengan keadaan di luar tadi yang begitu menyakitkan mata.
oOo
Kini gadis dengan mahkota merah muda itu duduk manis di balkon rumah yang kira-kira baju tiga jam lalu ia masuki. Pakaiannya kini telah berganti, tidak lagi mengenakan jaket berwarna hijau dengan baju pink yang biasa dipakainya saat menjalankan misi-misi sebelumnya. Yukata dengan warna senada bunga Sakura itu nampak pas di tubuhnya yang terbilang tidaklah gemuk namun juga tidak kurus. Sakura memain-mainkan kakinya yang terjuntai bebas ke bawah sambil terus menatap gemerlapan titik-titik kecil di langit gelap malam itu. Sepoi angin malam yang menusuk, membelai mahkota indahnya. Sesekali ia mengusap-usapkan kedua telapak tangannya kemudian mengusapkannya kembali ke sisi lengannya yang berlainan.
"Sakura . . . " suara panggilan seorang perempuan yang nampak seumuran dengannya memanggil nama gadis itu. Sakura langsung menoleh, gadis tadi tersenyum kemudian duduk di samping Sakura.
Gadis itu—Rukia juga ikut memandangi kanvas hitam malam itu. Mereka sudah berkenalan setelah gadis mungil itu menyediakan baju ganti dan kamar sementara untuk Sakura dan teman-temannya yang lain.
"Kau belum tidur?" Rukia sedikit menelengkan kepalanya.
Sakura hanya menggeleng pelan sambil tersenyum, "Aku belum mengantuk."
"Tapi ketiga rekan satu timmu sepertinya sudah tertidur pulas." Rukia menunjuk kamar yang berada tepat di belakangnya dengan ibu jarinya.
Sakura terkikik geli. "Mereka mungkin terlalu lelah." Kemudian kembali melempar pandangannya ke arah lain.
Rukia diam sejenak melihat sikap Sakura padanya. nampak berpikir sekaligus heran. Sesaat kemudian ia menghela nafas panjang dan kembali buka suara—memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Aku tahu pasti kau masih merasa tidak nyaman dan asing disini—" Rukia belum melanjutkan ucapannya. Iris hijau Sakura kini nampak tertarik untuk menatap sepasang permata violet itu.
"Tapi kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan selalu siap membantu dan menemanimu sampai kau benar-benar terbiasa dengan semua keadaan ini." Rukia menunjukkan senyum tulusnya yang membuat Sakura ternganga.
"Arigatou, Rukia-san." Sakura sedikit menudukkan kepalanya untuk berterima kasih.
Rukia kembali tersenyum. "Aku memang masih bingung dengan cerita kalian tentang ninja, desa, dan dunia kalian. Selain itu aku juga tidak merasakan reatsu dari kalian. Mungkin dugaan Nii-sama benar kalau kalian bukan berasal dari dunia yang sama dengan kami. Tapi itu semua tidak akan menjadi penghalang untuk kita bisa berteman baik bukan?"
"Kau benar," sahut Sakura.
"Emm—ano, Rukia-san . . . " Sakura menyentuh dagunya dengan satu telunjuk. "Sebenarnya makhluk apa yang sudah menyerang kami tadi? Badannya besar sekali dan mukanya seram lalu ada lubang di dadanya," Sakura mencoba mendeskripsikan makhluk yang dihadapi olehnya dan teman-temannya tadi sore.
"Maksudmu hollow?" Rukia menaikkan sebelah alisnya.
"Hollow?" tanya Sakura dengan tatapan yang tak kalah bingung.
"Iya, mereka itu hollow. Makhluk yang tercipta dari jiwa manusia karena beberapa alasan dan salah satunya adalah karena ia tidak bisa pergi ke soul society setelah mati dan terlalu lama tinggal di dunia manusia," jelas Rukia semudah mungkin.
Sakura mengernyitkan dahinya lebar, "Soul society maksudnya tempat ini?" tebaknya
"Iya." Rukia menjawab mantap.
Irisnya kemudian menyapu pandang ke segala penjuru. "Tempat ini adalah soul society—tempat para roh yang baru mati itu seharusnya berada. Tugas kami sebagai shinigami adalah mengantar roh-roh tersebut ke tempat ini dan membasmi para hollow yang mengganggu."
Sakura mengangguk-angguk mengerti dengan penjelasan Rukia. Walaupun tidak seluruhnya paham tapi setidaknya Sakura tahu apa nama makhluk yang menyerangnya tadi dan seberapa berbahayanya makhluk tersebut.
Pada akhirnya Sakura tahu kalau perjalanan untuk mereka pulang ke Konoha pun akan jadi lebih sulit dan tentunya lama dari sebelumnya.
~TBC~
A/N :
Aku tahu aku amat sangat telat apdet fict ini. Fict ini sudah 3 bulan terlantar karena aku sempat kena WB dan giliran WB nya ilang aku gak punya waktu untuk ngetik fict ini T.T
Chapter ini pun aku ketik di saat waktuku sedang luang. Pokoknya aku minta maaf atas keterlambatan apdet n segala kekurangan yang ada di chapter ini. Mungkin chapter ini kurang greget dibanding chapter kemarin ;;_;;
Terima kasih buat kalian semua yang udah review di chapter satu. Aku bener-bener gak nyangka kalo tanggapan kalian untuk fict ini sebanyak itu #terharu ;_;
Sekali lagi terima kasih buat :
5862-senbonzakura, Guest(1), sakuraBELONGtoSASUKE(1), sakuraBELONGtoSASUKE(2), .77, Guest(2), Ryosora Yusuf, Guest(3), Hoshi Yukinua, Lala Yoichi, , Chintya Hatake-chan, Guest(4), Akasun no ei-chan, sora, MnC21, Moku-chan, UchihaJess SicaChu, Aini Darkladie Kazekage, Kosuke Uchiha, Zyachan, namira-chan, SR 2721, Fuu Yuki34, Miyoko Kimimori, 4EVER, Moyahime, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Deauliaas, Renata Kurosaki, always sasusaku
Terima kasih untuk kalian yang sudah mereview dan para silent reader yang sudah bersedia membaca fict ini.
Berkenankah untuk meninggalkan jejakmu lagi di kolom review untuk chapter 2 ini? ^.^
Salam
Yoruichi Shihouin Kuchiki
