2

Ke Diagon Alley

Di sebuah tempat puluhan ribu kilometer jauhnya dari Aradia, Harry Potter melajukan Fireboltnya lebih cepat lagi.

Buku-buku jemarinya sudah mulai memutih, mencengkeram gagang sapu terlalu erat. Paru-paru menghirup dalam-dalam udara malam dan terasa terasa membeku. Angin sedingin es menerpanya bertubi-tubi dan membuat rambutnya semakin berantakan. Rasanya seperti dimasukkan paksa ke dalam pipa berdiameter sepuluh senti yang menekan keras dari segala penjuru.

Pemandangan lampu dan perumahan menjadi bayangan-bayangan bias yang tak jelas, segalanya hanya sekelebatan. Tangan pun mulai pegal, namun Harry tak peduli. Ia tidak boleh peduli. Ia ingin meningkatkan ketegangan dengan memacu adrenalin hanya untuk meninggalkan segala kegundahan di belakangnya.

Maka—

Wuuuuzzzzzzzzzzz

Ia terus melaju.

Kacamata miring karena tekanan angin, lalu dengan susah payah ia membetulkan posisinya lagi. Berkurangnya koordinasi salah satu tangan menyebabkan keseimbangan sedikit goyah dan lajunya oleng. "Fuck-" walau sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan juga. Tak ada benda yang bisa menyenggol dalam ketinggian seperti itu.

Entah sudah berapa jam lamanya ia di sana. Setelah beberapa putaran dengan sedikit zig-zag main-main, ia memelankan sapu. Bukan karena bosan, melainkan setetes air yang jatuh di pipinya. Lalu dua tetes. Lalu tiga. Lalu tidak dapat dihitungnya lagi.

Sial.

Hujan pasti turun tak lama lagi.

Dua-tiga hari terakhir selalu seperti ini. Maka sebelum tetes-tetes air menghujamnya, ia tahu harus kembali.

Ia melajukan sapu terbangnya menuju Privet Drive. Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke rumah itu. Dibukanya jendela kamar pelan-pelan lalu menjejakkan kakinya ke dalam ruangan kecil yang lembab—kamarnya. Kamar paling kecil, terjelek dengan fasilitas terminim di rumah itu yang dipilihkan oleh Paman Vernon yang budiman. Dinding kusam, ranjang kecil dan reot, lampunya sangat redup. Sempurna.

Harry melangkah hati-hati mencari ruang yang tersisa di atas lantai yang penuh dengan barang. Bulu burung, bagian tengah apel, bungkus permen, gumpalan kertas koran yang lusuh. Benda-benda yang seharusnya bertempat di sebuah wadah yang bernama 'keranjang sampah'. Disambarnya celana bersih dan berjalan ke luar kamar untuk mandi—tidak ada fasilitas kamar mandi di dalam. Walau mandi di malam hari bukan ide bagus, yang jelas tidur dengan penuh keringat pasti ide buruk.

Jendela yang tak tertutup rapat membiarkan semilir angin menyelinap masuk menyibakkan halaman koran di atas meja. Terlihat salah satu headlinenya berbunyi:

HARRY POTTER: SANG TERPILIH

Desas-desus masih terus beredar tentang gangguan misterius di kementrian sihir baru-baru ini. Dalam peristiwa itu Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut sekali lagi terlihat.

"Kami dilarang bicara soal itu, jangan tanya apa-apa pada saya," kata seorang Obliviator yang gelisah, yang menolak menyebutkan namanya ketika ia meninggalkan kementrian semalam.

Kendatipun demikian, sumber-sumber yang ditempatkan di posisi strategis dalam Kementrian menegaskan bahwa kekacauan itu berpusat di Ruang Ramalan yang banyak diceritakan.

Walaupun juru bicara Kementrian sampai sekarang bahkan masih menolak mengkonfirmasi keberadaan tempat itu, makin banyak komunitas sihir yang percaya bahwa para Pelahap Maut, yang sekarang menjalani hukuman di Azkaban dengan tuduhan pelanggaran dan upaya pencurian, sebetulnya berusaha mencuri ramalan. Ramalan apa itu sebetulnya tetap tak diketahui, meskipun spekulasi yang beredar luas mengatakan bahwa itu tak ada hubungannya dengan Harry Potter, satu-satunya orang yang diketahui berhasil selamat dari Kutukan Kematian. Harry Potter juga diketahui berada di kementrian malam itu. Beberapa orang bahkan sudah menyebut Potter "Sang Terpilih". Mereka percaya bahwa ramalan itu menyebutnya sebagai satu-satunya yang akan sanggup membebaskan kita dari Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut.

Keberadaan ramalan itu saat ini, jika ramalan itu memang benar ada, tidak diketahui, meskipun (bersambung ke hal 2, kol 5)

Koran itu menindih koran lainnya, namun judul SCRIMGEOUR MENGGANTIKAN FUDGE masih tampak jelas. Sebagian besar halaman depannya terisi oleh foto besar hitam-putih seorang pria berambut tebal seperti surai singa dengan wajah dengan beberapa bekas luka. Fotonya bergerak-gerak dengan pose tangan melambai:

Rufus Scrimgeour, yang tadinya menjabat Kepala Kantor Auror di Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, menggantikan Cornelius Fudge sebagai Menteri Sihir, meskipun gunjingan adanya keretakan hubungan Albus Dumbledore dan menteri baru, yang belum lama ini diangkat lagi menjadi Hakim Ketua Wizengamot, muncul hanya beberapa jam setelah Scrimgeour menjabat.

Wakil-wakil Scrimgeour mengakui bahwa ia langsung bertemu dengan Dumbledore begitu menduduki jabatan tinggi ini, namun menolak mengomentari topik yang diketahui (bersambung ke hal 3, kol 2)

Koran yang kedua tergeletak semeter jauhnya dari yang pertama. Ada sedikit noda tinta di sana-sini yang menutupi tulisannya. Harry menggunakan koran itu untuk membersihkan gumpalan tinta di ujung pena bulu beberapa jam yang lalu. Kebetulan koran itulah yang paling dekat dengan jangkauan tangannya. Yang ini memiliki headline:

KEMENTERIAN MENOLAK B—tertutup noda tinta—GUNG JAWAB

Menteri Sihir yang baru diangkat, Rufus Scrimgeour, hari ini bicara dalam konferensi pers bahwa Inggris menolak bertanggung jawab atas keterlibatan Pelahap Maut dalam pemberontak yang terjadi di—tertutup noda tinta. Ia membantah komentar pengamat politik, Valentino Rossomiglia, yang mengatakan Inggris menginginkan terjadinya kudeta di negaranya.

"Pemberontakan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Inggris sama sekali," jelas Rufus. Noda tinta menutupi hampir dua paragraf penuh—mberikan simpati yang mendalam kepada tragedi yang terjadi di sana.

Motif keterlibatan Pelahap Maut dalam penyerangan—tertutup noda lagi—Aradia memang masih belum diketahui dan semakin membuat takut dan khawatir para orangtua untuk menyerahkan anak-anak mereka kembali bersekolah ke sekolah sihir Hogwarts musim gugur nanti. Beberapa anak diketahui telah mengundurkan diri.

"Anak saya tidak akan kemana-mana sampai situasi benar-benar kondusif. Anak kami telah mengajukan surat pengunduran diri," kata Thomas Goldstein, ayah Anthony Goldstein.

Sementara itu, Rufus Scrimgeour berusaha mengatasi kekhawatiran para orangtua. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hogwarts memiliki keamanan yang ketat. Selain itu, Kementerian akan menyiagakan satgas Auror untuk berjaga-jaga di dalam kastil," kata Menteri.

Lanjutan cerita ini terhalang oleh sangkar burung besar kosong yang berdiri di atasnya. Hedwig sudah beberapa jam pergi mengirim surat ke Ron dan Hermione. Sebuah koper besar tergeletak di atas ranjang Harry yang kecil. Tutupnya terbuka, isinya setengah penuh setelah Harry separuh jalan mengemas segala keperluannya di Hogwarts siang tadi. Di atas tutup koper yang terbuka, tergeletak selembaran ungu yang terhias sejumlah kata:

―DITERBITKAN ATAS NAMA―

Kementerian Sihir

MELINDUNGI RUMAH DAN KELUARGA ANDA

DARI SIHIR HITAM

Komunitas sihir saat ini sedang di bawah ancaman sebuah organisai yang menyebut dirinya Pelahap Maut. Mengikuti pedoman keamanan sederhana berikut ini akan menolong melindungi Anda, dan rumah Anda dari serangan.

Anda disarankan tidak meninggalkan rumah sendirian.

Kehatian-hatian harus lebih ditingkatkan setelah hari gelap. Jika melakukan perjalanan, atur agar sebisa mungkin sudah tiba di tempat tujuan sebelum makan.

Tinjau kembali pengaturan keamanan di sekitar rumah Anda. Pastika semua anggota keluarga tahu tindakan darurat apa yang harus dilakukan, seperti Mantra Pelindung, Mantra Pernyamar, dan, dalam hal ada anggota keluarga di bawah umur, ber-Apparate bersama.

Buat kesepakatan tindakan keamanan dengan teman-teman dekat dan keluarga, agar Anda bisa mendeteksi Pelahap Maut yang menyamar menjadi orang lain menggunakan Ramuan Polijus (lihat hal 2)

Jika Anda merasa ada anggota keluarga, teman, atau tetangga yang bersikap aneh, segera kontak Pasukan Pelaksanaan Hukum Sihir. Mungkin mereka kena Kutukan Imperius (lihat hal 4)

Jika ada tanda kegelapan muncul di atas tempat tinggal atau bangunan mana saja, JANGAN MASUK, melainkan segera kontak Kantor Auror.

Beberapa peristiwa yang belum bisa dikonfirmasikan mengarah ke tanda-tanda bahwa para Pelahap Maut mungkin menggunakan Inferi (lihat hal 10). Jika Anda melihat atau bertemu Inferi, harap SEGERA melaporkannya ke Kementerian.

Harry masuk kamar bertelanjang dada. Tangan mengusap kepala dengan handuk, mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas. Ia duduk di ujung ranjang, melempar handuknya asal, lalu meraih kaus bersih dari dalam koper yang belum selesai dipak. Dikenakannya kaus itu, lalu meluruskan kacamata yang miring setelah bergulat dengan kaus. Kemudian mendengar hujan telah turun.

Harry beranjak dari ranjang untuk menutup jendela, mengutuk singkat melihat kekacauan di kamar yang disebabkan tiupan angin. Dipungutinya surat-surat, koran dan perkamen yang berserakan, lalu terhenti beberapa saat pada surat balasan dari Dumbledore yang diterimanya siang.

Ia sudah membacanya beberapa kali. Isinya mengenai warisan yang ditinggalkan Sirius untuknya. Rumah, uang… yang tak satu pun diinginkannya. Semua hal yang pernah disentuh walinya hanya akan mengingatkan Harry lagi pada rasa bersalah dan kematian orang yang paling disayangi itu.

Keadaannya sekarang jauh dari baik. Ia tahu tetap tinggal bersama keluarga Dursley akan membuatnya semakin buruk. Harry tak pernah seacuh dan sememberontak seperti itu pada keluarga pamannya. Apalagi tiap hari Dudley membawa segerombolan teman untuk bermain konsol gem terbaru dengan berisik dan membuat hari-harinya seperti di neraka dan membuatnya tergoda untuk merapalkan Bombarda.

Bodo dengan Azkaban. Barangkali di sana jauh lebih baik ketimbang terperangkap di sini.

Akhirnya tiba pada hari ia memutuskan untuk meninggalkan Privet Drive.

Tiga hari yang lalu, Harry mengirim Dumbledore sebuah burung hantu yang memberitahunya bahwa Harry ingin meninggalkan Privet Drive lebih awal. Harry takkan pergi ke The Burrow, walau Ron sebenarnya telah menawarkannya sebulan yang lalu. The Burrow memang jauh lebih menyenangkan dari tempat ini, tapi Harry sedang tak ingin sesuatu yang menyenangkan. Ia ingin sesuatu yang menenangkan.

Entahlah, ia hanya ingin Diagon Alley.

Diagon Alley—tempatnya pertama kali mengenal dunia ini. Dunia sihir tempat seharusnya berada. Di sana banyak orang yang tidak tahu-menahu tentang Sirius dan repot-repot membicarakannya.

Sirius.

Sulit untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Ini juga salah satu alasan tidak memilih The Burrow karena ia tahu semua orang di sana pasti akan mengerling kasihan. Ia tahu semua berniat baik, hanya saja saat ini rasa kasihan hal terakhir yang diinginkannya saat ini.

Kasihan sekali, Harry Potter, sengsara dengan hidupnya. Kasihan sekali, Harry Potter, yatim piatu dan tidak punya keluarga. Kasihan sekali, Harry Potter, Voldemort terus mengubernya. Dan bla, dan bla lainnya.

Harry menghempaskan diri di atas ranjang, lalu menguap lebar. Lelah sekali, mengantuk sekali. Rasa lelah inilah yang ia cari dari keseharian yang dilakukannya sepanjang musim panas. Ya, naik sapu sampai kepayahan karena setelah itu ia pasti langsung bisa tertidur pulas. Sebelumnya tidur sudah sering mengkhianatinya. Pertama ia berbaring sembari mengamati langit-langit rendah kamarnya, lalu ia tenggelam dalam pikirannya. Lalu ia akan meratapi rasa bersalahnya, lalu mimpi buruk menghantuinya.

Yeah, jadi lebih baik kecapekan, tapi bisa tidur kayak orang mati.

Harry bangun dua jam kemudian. Bekas luka di keningnya berdenyut-denyut lagi. Well, bukan sesuatu yang luar biasa lagi akhir-akhir ini. Setiap bangun tidur, keningnya memang selalu berdenyut-denyut. Kini rasa sakitnya datang random kapan saja, misalnya saat mengerjakan PR atau makan siang. Ia tak pernah khawatir lagi bahwa siapa saja akan datang membahayakannya atau ada Pelahap Maut di dekatnya. Harry hanya mengusap wajah, lalu beranjak menatap ke luar jendela. Di luar hari masih gelap.

Kapan Mundungus datang, batinnya. Atau dia malah tidak datang?

Dumbledore mengirim Mundungus Fletcher untuk menjemput Harry ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Privet Drive secepatnya. Dumbledore protes, tentu saja, tapi tinggal di Pricet Drive lebih lama hanya akan membuat kepalanya pecah. Akhirnya Dumbledore terpaksa bilang oke dan mengutus Mundungus.

Terimakasih, Merlin, karena bukan sepasukan penyihir seperti tahun lalu.

Harry tak ingin yang heboh-heboh saat ini. Makanya ia pun tidak memberitahu Mr ataupun Mrs Weasley karena mereka pasti akan khawatir setengah mati dan bersikeras meminta tinggal di rumah mereka saja. Mereka juga takkan mengijinkan Harry keluar hanya dengan pengawalan Mundungus seorang—'yang tidak berkompeten pula,' demikian sebutan Mrs Weasley untuknya.

Saat ini pun Harry hampir yakin Dung tidak akan datang. Ia takkan heran, ia cukup mengenal laki-laki itu. Seperti yang pernah dikatakan Sirius suatu hari, Mundungus Fletcher adalah seorang bajingan yang menggelikan, pembisnis yang tak dapat dipercaya, tapi rekan seperjuangan yang menyenangkan. Jangan terlalu ambil pusing semua janjinya. Ambil kesimpulan yang terburuk dan jangan diambil hati jika itu terjadi.

Harry setengah teler bangkit dari ranjang. Dinyalakannya lampu kamar, walaupun tahu cahayanya takkan begitu berguna karena terlalu temaram. Ia harus mengemasi koper yang kemarin belum selesai dikerjakannya. Barang-barangnya tidak begitu banyak karena sebagian ia tinggalkan di Hogwarts. Ia meninggalkan Hogwarts hanya membawa koper berisi sejumlah pakaian dan peralatan Quidditch.

Lalu Harry mendengar suara ketukan di jendela. Awalnya ia mengira Mundungus telah datang, tapi ternyata hanya Hedwig.

Burung hantu itu segera meluncur ke ujung ranjangnya setelah Harry membukakan jendela. Ia membawa dua helai surat dari Ron dan Hermione. Harry membuka gulungannya, membacanya secara sekilas yang isinya tak jauh berbeda satu sama lain. Mereka menantikan pertemuan mereka beberapa hari lagi di Diagon Alley.

"Baiklah, sampai jumpa kalau begitu," ujarnya seolah dua orang itu berada di depannya, lalu menggulungnya lagi, memasukkannya ke dalam koper lalu menutupnya rapat.

Hedwig menguhu pelan di ujung tempat tidur sementara Harry mondar-mandir di dalam. Diliriknya arloji beberapa kali. Si bego itu, sampai kapan aku harus menunggu. Harry tak tahu, mereka akan menggunakan apa ke Diagon Alley. Jika Mundungus tidak jadi datang, satu-satunya harapan hanya tinggal naik sapu. Maka ia harus melakukannya sekarang untuk menghindari matahari. Sangat sulit untuk menghindari tatapan para Muggle jika sudah ada matahari.

Ya, benar. Pergi sekarang atau tidak sama sekali.

Harry mengambil potongan perkamen dan pena bulu dari koper lalu menuliskan satu baris kalimat sebagai pesan untuk paman dan bibinya. Aku pergi, da dah! Singkat, tapi mereka pasti mengerti maksudnya.

Harry turun ke bawah dengan susah payah. Sulit sekali mengangkut sebuah sapu, sangkar dan koper sekaligus. Bau tanah sisa hujan tadi malam masih tercium. Langit masih tanpa bintang—bagus—berarti ia bisa terbang sembunyi-sembunyi di balik awan. Ia berdiri di halaman sambil melihat-lihat sekitar memastikan sepi.

Harry membuka koper lalu merobek bagian kosong surat Ron. Ia mengambil pena, menuliskan pesan singkat untuk Dung bahwa ia berangkat sendiri ke Leaky Cauldron. Dilipatnya surat itu buru-buru, lalu diikatkannya di kaki Hedwig.

"Berikan ini ke Dung," sahut Harry membelai kepala burung hantu itu singkat. "Sampai jumpa di Leaky Cauldron, Hedwig."

Si burung hantu menguhu pelan lalu meluncur ke angkasa.

Harry segera bersiap untuk pergi. Dikeluarkannya jubah-jubah dan jaket lalu dimasukkannya ke sangkar burung. Ia mengangkat sangkar itu dengan tangan kiri dan mengangkat koper dengan tangan kanan, memastikan berat keduanya seimbang. Lalu diikatkannya pegangan koper dan puncak sangkar berdekatan lalu diselempangkan ke atas sapu menyerupai timbangan. Diikatkannya lagi supaya kuat dan tidak bergerak-gerak.

Ia mengeluarkan kompas hadiah ulang tahun Hermione beberapa tahun, lalu memasangnya di ujung sapu. Ia mengetuk kaca kompas dengan tongkatnya tiga kali sambil bergumam,

"Petualang mengembara, musafir berkelana. Tunjukkan Leaky Couldron berada, harta berharga menanti di sana."

Penunjuk arah berputar-putar gila selama beberapa saat, lalu menunjuk sebuah arah di selatan beberapa saat kemudian. Senyum merekah di bibir Harry. Ia segera mengenakan jubah tebal yang kemudian dirangkap dengan Jubah Gaib, lalu bersiap menaiki sapu. Jubah Gaib berhasil menutupi barang-barang bawaannya, kecuali ujung Firebolt yang menyembul. Masa bodoh, yang penting jalan.

Sapu bergetar pelan. Harry mencengkeram gagangnya erat-erat. Dijejakkannya kaki ke tanah keras-keras yang segera meluncur membawa dirinya ke udara.

Wuuuzzzzzzzz

Udara malam yang sejuk bertiup menerpa rambutnya. Kebun-kebun berbentuk persegi yang rapi di Privet Drive bergerak menjauh.

Perjalanannya tidak begitu mulus. Firebolt tak pernah membawa beban seberat itu. Harry tak bisa melaju dengan kecepatan penuh seperti biasa. Koper dan sangkar yang menggantung itu membuat posisi kakinya tak nyaman. Satu kali ia mendapati arah terbangnya sedikit melenceng lima derajat. Satu kali pula jubahnya terbuka di bagian paruh pinggang ke bawah. Ia harus membetulkannya dengan susah payah dan membuat laju sapunya tambah melenceng delapan derajat. Ya, pelancong amatir…

Udara masih dingin, sisa hujan semalam. Ketika menyembul ke balik awan, awan terlihat menghampar seperti kapas yang disinari cahaya bulan keperakan. Bintang-bintangnya bertebaran di angkasa. Walaupun satu jam ke depan pasti bukan perjalanan mudah, ia tahu bisa segera menikmatinya.

Jika Ron dan Hermione tahu apa yang dilakukannya, mereka pasti akan mendampratnya habis-habisan. Mungkin Ron akan sedikit lebih apresiatif, "Berpergian ke luar kota dengan sapu terbang? Kau sinting, Harry! Tapi cool, man…" Tapi, Hermione pasti akan mengomel selama sepuluh menit.

Beberapa saat kemudian dasar kompas berubah menjadi warna kuning yang artinya Leaky Couldron tak jauh lagi. Ia mempercepat laju sapu karena semakin cepat sampai semakin baik. Ia harus sampai sebelum fajar menyingsing.

Warna dasar kompas berubah jingga. Sedikit lagi sampai. Tak perlu waktu lama hingga akhirnya warna berubah merah yang berarti sampai ke Leaky Couldron.

Harry terbang merendah dengan hati-hati ke belakang sebuah bangunan yang terlantar dan kotor. Masih terlalu pagi, belum ada orang di sekitar sana. Ia membukanya Jubah Gaib, melipat lalu memasukkannya ke dalam koper. Tergopoh-gopoh ia menenteng sapu dan koper menuju Leaky Couldron. Satu kali tersandung sapunya sendiri sambil mengumpat pelan.

Beberapa meter dari Leaky Couldron tiba-tiba seseorang merangkul Harry, menggiring dan mendesaknya ke gang kecil di sebelahnya. Harry ingin mengeluarkan tongkat sihir, tapi terlalu sibuk nyaris terjatuh terserimpet sapu.

Untung saja yang dilihatnya wajah Mundungus Fletcher.

Ia menepuk-nepuk bahunya, "Harry anak baik, Harry anak baik."

"Hai," sahutnya sinis.

"Wajahmu jangan begitu dong, anak baik."

"Aku tahu apa yang akan kau katakan."

"Ah, anak pintar," terkekeh-kekeh sambil menepuk punggung Harry lebih keras lagi, membuatnya terbatuk-batuk karena tersedak. "Aku tahu aku salah. Aku baru saja hendak ke Private Drive, sungguh. Hei, apa itu arti mukamu? Kau tidak percaya? Sungguh aku baru saja mau ke sana setelah menyelesaikan satu bisnis yang tak bisa dilewatkan. Karpet terbang Persia yang sedikit robek dapat dibeli dengan harga amat miring. Kualitasnya hebat, hanya perlu sedikit perbaikan, jadi―"

"Baiklah, Mundungus," potong Harry, "aku takkan memberitahu Dumbledore. Tidak juga Mrs. Weasley."

"Dan Mrs. Figg?"

"Dan Mrs. Figg," sahutnya.

Mundungus mengangguk dengan seringai di wajah. Ia merangkul bahunya, "Jadi kita damai kan, Harry? Kita teman, kan?"

"Kita teman jika kau bantu aku bawakan kopernya," tukas Harry yang sudah super kelelahan.

Senyum cerah langsung menghias di bibirnya, lalu menepuk bahu Harry lebih pelan. "Bagus, bagus," katanya. "Ayo, kita masuk. Menyeramkan di luar sini. Jika kita lengah, Pelahap Maut hanya perlu sekejap mata untuk membuat tangan atau kakimu hilang satu," sembari mengambil koper Harry lalu berjalan duluan masuk ke Leaky Couldron.

Harry mengira kedai minum itu melompong karena masih terlalu pagi untuk sarapan, namun ternyata sudah ada beberapa orang tamu yang sedang minum-minum. Beberapa menatap Harry sekilas, lalu kembali lagi melakukan kegiatan mereka. Sesosok tubuh bungkuk yang sudah tua sedang mengelap gelas-gelas ketika Harry masuk. Laki-laki yang berkeriput dan ompong itu bernama Tom, si pemilik tempat minum. Ia menatap barang bawaan Harry—mengerutkan kening pada sangkar yang telah dijejali barang-barang—lalu tersenyum muram ketika tatapannya sampai ke wajah Harry.

"Kamar empat belas kosong," katanya.

"Terimakasih."

"Aman-aman saja perjalanannya, Dung?" tanya laki-laki berambut hijau di sudut ruangan.

Mundungus melambaikan tangan ke arahnya. "Pokoknya lancar."

Pokoknya-lancar-bokongmu, pikir Harry.

Tom menjentikkan tongkat sihirnya. Koper, sangkar dan sapu terlepas dari tangan Mundungus dan Harry lalu melayang di depan Tom ketika menuju lantai atas. Harry mengikutinya, menaiki tangga kayu, menyusuri lorong sempit. Tom membukakan pintu bertempel angka empat belas dari kuningan, lalu meletakkan barang-barang di atas lantai.

"Terimakasih, Tom, sana kau boleh pergi," kata Mundungus.

Tom memandang mereka tersinggung, tapi Mundungus sudah menutup pintu tepat di depan wajahnya.

Kamar yang ditempatinya tak jauh berbeda dengan kamar Leaky Cauldron yang dulu. Ada ranjang yang nyaman dengan perabot dari kayu ek yang dipelitur mengilap. Ada perapian juga dan jendelanya terbuka untuk membiarkan udara pagi memasuki kamar. Bedanya saat ini sudah dipasangi berbagai jimat; di ambang jendela, di atas pintu, di atas perapian. Di atas meja pun sudah nangkring Topi Perlindungan gratis yang kini marak dipakai para penyihir.

Mundungus menguap lebar lalu duduk di samping Harry.

"Ngomong-ngomong, perjalananmu oke, Harry?"

"Lumayan. Baru kali ini bepergian dengan sapu."

"Naik sapu, eh? Pantatku pasti akan tepos menempuh jarak seperti itu. Kapok. Aku pernah empat jam dalam perjalanan lalu tak sanggup untuk buang air besar selama beberapa hari. Kurasa mempengaruhi sistem pencernaan, ya? Aku harus minum beberapa botol Kuras Perut waktu itu."

"Sangat berbeda dengan bermain Quidditch," gumam Harry, membuka jubah lalu menyampirkannya di bangku, "apalagi lihat saja bawaanku."

"Ngomong-ngomong, tumben Dumbledore memilihmu untuk menjemputku," tanyanya sembari mengeluarkan semua jubah-jubah yang disumpal ke dalam sangkar. "Tahun lalu Dumbledore menyuruh sepasukan Orde menjemput dari rumah Dursley dan sebatalion tambahan saat berangkat ke King's Cross."

"Orde sedang sibuk. Sangat sibuk. Kau tidak tahu sih bagaimana rasanya pindah markas."

"Pindah markas? Maksudmu markas Orde bukan di Grimmauld Place lagi?" tanya Harry kaget.

Mundungus mengeplak bagian belakang kepala Harry. Harry mengernyit. "Jangan bilang keras-keras, idiot. Kita kan tak tahu siapa dan di mana para Pelahap Maut itu menguping."

"Tapi, tadi kau bilang Orde pindah markas. Siapa yang peduli jika Orde tak di sana lagi?"

"Oh yeah, benar," gumam Mundungus lagi. "Lupin bersikeras Orde harus pindah. Kreacher tahu terlalu banyak dan kita tidak tahu dia di pihak siapa. Pokoknya riskan sekali Orde tetap di sana."

"Dan lukisan ibu Sirius? Tidakkah bisa membahayakan juga?" sembari menuju jendela kamar ketika Hedwig muncul di sana. Burung hantu itu mematuk tangannya sayang ketika jemari Harry mengusap kepalanya.

"Oh, itu," Mundungus terkekeh. "Tonks telah … yah, sedikit melakukan sesuatu agar perempuan tua itu tidak berkoar-koar. Ia melukiskan kain penutup mulut dengan cat minyak sihir ketika Black wanita itu sedang tidur. Kingsley menyarankan untuk menambahkan mantra Cipta Permanen agar cat itu tak dapat dihapus kecuali oleh Tonks sendiri. Aku lihat sendiri prosesnya. Pokoknya seru sekali deh ketika Black wanita itu bangun."

Harry tersenyum pahit. "Kemudian sekarang bermarkas di mana?"

"Tak bisa bicara banyak, Harry. Bahaya, kau tahu kan."

"Baiklah," sahutnya.

Mundungus menghela napas. "Minggu yang sibuk. Ada pindahan besar-besaran. Pembersihan besar-besaran agar tak ada satupun jejak Orde yang tertinggal. Semua sibuk. Kingsley patroli. Tonks dan Lupin menyelidiki kasus yang terjadi beberapa bulan lalu. Hagrid bernego dengan para raksasa. Mad-Eye megurus segala sesuatu," kata Mundungus. Lalu ia melotot ke arah Harry, "Aku juga sibuk, Harry."

Harry mendengus.

"Karena aku baik, yah bolehlah bantu-bantu sedikit untuk menjemputmu," ujarnya sok penting. Kemudian ia terlihat berpikir-pikir. "Tapi ada benarnya juga, kenapa tidak mereka saja ya yang menjemputmu? Mereka kan lebih berpengalaman, yeah—walaupun aku juga dapat diandalkan juga."

"Barusan kau bilang Orde sibuk," sahut Harry. "Aku juga tidak masalah sebenarnya. Aku tak ingin merepotkan Orde hanya untuk menjemputku."

"Oh, bukan 'mereka' dari Orde, maksudku, tapi mereka," sahut Mundungus, menguap lebar. "Semua Auror di bawah." Ia menunjuk lantai di bawahnya dengan ibu jari.

"APA?! Siapa?!" tanya Harry dengan membelalakan matanya. "Di depan tadi Auror semua?"

Mundungus menatapnya cengengesan. "Oh, kasihan. Kau tak tahu ya? Kau pikir, kau diperbolehkan bebas berjemur matahari dan bersiul mengoda cewek-cewek di Diagon Alley dengan Pelahap Maut di mana-mana?"

Harry masih melongo. "Ada selusin Auror di bawah kamarku…"

"Tadinya Dubledore mengatakan tidak perlu, namun setelah Arthur tahu bahwa kau akan ke sini, ia mengajukan sejumlah Auror dari Kementerian. Ide Molly sepertinya."

"Ini norak sekali…"

"Sebenarnya mereka ke sini bukan sepenuhnya gara-gara kau saja. Kementerian memang ingin pos dengan beberapa Auror di Diagon Alley untuk mencegah penyerangan."

Harry tak benar-benar mendengarkan penjelasan itu. Pemikiran bahwa ia liburan dengan satu kompi Auror di bawah tempatnya menginap sudah membuatnya senewen.

Mundungus menguap lebar lagi lalu merebahkan diri si atas ranjang, "Oh ya, sebelum 'ku lupa meberitahu, ji'a kau mau jalan-ja'an, bilang du'u ma me'eka," katanya.

"Benar-benar norak sekali," ulangnya sambil menggelengkan kepala muram. Lalu ia menatap Mundungus yang sudah setengah teler. "Kenapa aku harus keluar dengan minta izin? Seperti anak berumur lima tahun saja…," ujarnya nestapa, mengacak-acak rambutnya.

Ia tidak bisa membayangkan liburan dengan sepasukan Auror di bawah. Ini seperti liburan di Azkaban, namanya. Tambahkan saja Dementor sekalian supaya semakin ramai.

"Jangan bilang aku harus keluar Leaky Cauldron dengan pengawalan. Jika iya, mending aku―" Harry terhenti ketika mendengar suara dengkuran di sampingnya. Ia menoleh dan langsung menemukan Mundungus tertidur pulas dengan mulut terbuka.

Harry mendengus, "Bagus, sekarang malah merampas tempat tidurku."

Ia mengubek kopernya, mencari dompet, lalu menatap burung hantunya. "Aku mau cari sarapan, Herdwig," katanya. "Aku tak mengunci sangkar jika sewaktu-waktu kau ingin istirahat."

Hedwig ber-uhu pelan, lalu terbang ke dalamnya.


Note 1: Dua bab dulu sebagai pengenalan. Follow twitter gue jika ingin ngobrol atau bertanya-tanya. Untuk review tetap pejret Post Review di bawah ini. Gue akan sangat menghargainya.

Note 2: Artikel Daily Prophet dalam bab 2 ini gue quote dari Harry Potter and The Half-Blood Prince untuk menjaga kesinkronan cerita dengan Harry Potter 5. Jadi, credit artikel tersebut tetap ke JKR.