FF|| GS || SUPERJUNIoR || KYUMIN || Shining Star ||
Titlle : Shining Star
Rated T-M
Genre : Hurt, Romance, Conmfort,
Cast : Sungmin as Yeoja
Hanuel oC as Sungmin's daughter
Kyuhyun Namja as Ryewook's old brother & Younger's brother
Kibum Namja as Kyuhyun & Ryewook's old brother
Ryewook Namja as Kyuhyun and Kibum's Younger Brother
Hankyung & Heechul as Cho brothers's parents
Donghae as Yeoja
Summary : Lika-liku perjalanan hidup Lee Sungmin yang terenggut kebahagiaannya oleh takdir dan Cho Kyuhyun
Desclaimer : Mereka semua adalah milik Tuhan. Tapi fanfic ini murni hasil karya saya.
Warning : Saya ingatkan bahwa apapun yang ada di sini murni hanyalah sebuah karangan FIKSi, jangan pernah menanggapinya terlalu berlebihan. Kalian boleh menvisualisasikan mereka seperti apapun, tapi jangan terlalu mengambil hati. Saya Anti EYD , full of typos, super OOC, Garing, membingungkan, butuh konsetrasi penuh, yang tidak suka harap segera tinggalkan.
Seoul 1998
Chulie terdiam, pandangannya nanar hampa tanpa ekspresi. Ia tak menyangka Hankyung sang suami ternyata telah mendahului masuk ke dalam Puri. Chulie tidak sempat memperhitungkan kecepatan Hankyung menidurkan Putranya hingga sampai ke tempat ini.
Hankyung tengah duduk di atas kasur beludru mereka, menatap Chulie dengan pandangan sendu.
"Oh, silahkan kalau kau mau tidur di tempat ini?" Kata Chulie tanpa berusaha membalas tatapan sendu dari sang suami. Ekor matanya berputar-putar seolah mencari sesuatu.
"Hmm…bukankah malam ini kau juga mau tidur disini, kan?" tanya Hankyung pura-pura tidak bisa menebak jalan pikiran Istrinya.
Hankyung bangkit dari duduknya menghampiri Chulie, ia ingin menyentuh pundak Istrinya. Namun wanita itu menepisnya. Chulie melangkah ke arah lemari pakaian.
"Hah…kata siapa aku mau tidur disini?! Kalau kau mau tidur di tempat ini silahkan. Aku hanya ingin mengambil baju tidurku" ucap Chulie beralasan.
Hankyung medesah letih. Ia sadar nampaknya Istrinya memang benar-benar sedang tidak ingin bersamanya hari ini, dan entah sampai kapan?
Tapi lelaki itu juga tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut. Ia memikirkan nasib Sungmin. Ia tak mau istrinya terus-terusan bersikap dingin terlebih pada Minnie nantinya. Setidaknya anak itu harus dibuat nyaman berada di lingkungannya yang baru.
Chulie bergegas ingin meninggalkan kamar, menjauhkan diri suaminya secepat mungkin. Namun...
Greppp…..Hankyung menahan tubuh istrinya sekuat tenaga. Lelaki itu memeluknya erat-erat.
"Aku tahu, kau menyimpan sesuatu?! Apakah sebenarnya kau masih belum bisa menerima keputusan kita? Kau bilang kau menerimanya, tapi mengapa kau bersikap seperti ini?" Hankyung mendekap tubuh istrinya semakin erat.
"Aku Mohon padamu jangan begini, terimalah dia sebagai anakmu, anak kita" Wajah Hankyung kian tenggelam di pundak sang Istri.
Tubuh Chulie seketika menegang kaku, ada sebongkah penyesalan menyeruak, menghimpit dan berusaha memberontak keluar dari dadanya.
Seperti sebuah penyesalan itu. Ya, sebuah penyesalan, mengapa ia harus menetapkan diri baik-baik saja dan bahkan memasang senyum palsu? Padahal dia benar-benar tertekan.
Dengan memiliki anak itu, bahkan kini membawanya masuk dalam kehidupan mereka, bagaimana mungkin, bukan seperti menghadirkan petir dan lemparan krikil panas. Dan itu semua tidak hanya diwajah melainkan di seluruh persendian tubuh Chulie.
"Anakku? anak kita?" Chulie mengulang-ulang kalimat Hangeng, mendeskripsikannya dalam bentuk pertanyaan dalam hati.
"Anakku, anak kita"
Tuhan mengapa dunia yang seluas ini menjadi begitu sempit?
Mengapa harus anak itu? Mengapa harus dia?
Chulie menarik nafas panjang, mencoba untuk bersikap rileks. Bukankah suaminya selalu membuat keputusan yang terbaik? Jadi, mungkin tidak ada salahnya menjalaninya, walaupun Hechul tidak kuasa menjanjikan bahwa dia pasti akan bersikap yang terbaik bagi Sungmin.
Tak akan ada yang pernah tahu. Dan mungkin tak pernah ada. Jauh di kedalaman hati kecilnya setumpuk luka, yang membuatnya semakin tergores parah tiap kali harus menemukan senyum manis si gadis kecil.
Chulie memutar tubuhnya membalas pelukan suaminya seerat yang ia mampu. Dikecupnya bibir Hangeng lembut lalu, ditengelamkannya diri pada dada bidang suami tampannya itu.
Bibir merah merekahnya bergumam lirih sebelum mengucap….
"Aku akan berusaha Yeobo, aku akan berusaha sebaik-baiknya" janji Chulie.
Hankyung tersenyum lemah, dielusnya punggung sang istri pelan. Menyalurkan hasrat kasih sayang yang begitu dalam.
"Aku tahu ini memang berat, kita akan jalani ini bersama, kita harus memberikan yang terbaik baginya"
Hankyung mengangkat wajah Chulie merengkuhnya dengan kedua telapak tangan mengelus-elusnya dengan ibu jari, menyatukan bibir mereka dengan begitu dalam. Saat melihat wajah itu lagi sebenarnya ia berharap dapat menemukan sirat ketulusan di mata indah itu. Saat ini mungkin Hankyung belum menemukan apapun. Namun Lelaki itu tidak ingin memikirkannya. Kini yang ia mau hanya sekedar agar istrinya itu tahu, ia begitu mencintainya.
Chulie membiarkan dirinya terbawa sentuhan kasih Hangeng yang begitu besar. Ia bahkan nyaris membuncahkan air mata haru ketika mampu merasakan ciuman-ciuman hangat diseluruh wajahnya dari sang suami.
Namun tak dapat dipungkiri, ciuman-ciuman Hankyung saat ini juga didominasi kecemburuan.
Mengapa Tuhan begitu baik menghadirkan seorang malaikat seperti Cho Hankyung dalam kehidupan seorang Kim Heechul?
Ctakk..ctekk..
Kyuhyun menghidupkan dan mematikan lagi lampu tidur di kamaranya. Mata anak muda itu benar-benar tak ingin dipejamkan. Tadi, sebenarnya ia hanya pura-punya mengantuk agar Oemmanya segera keluar dari kamar.
"Arhgtt"Kyuhyun mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa malam ini ia harus terserang Insomnia? Padahal besok remaja tanggung itu benar-benar harus ikut test harian di sekolah.
Tidak biasanya ia seperti ini. Biasanya disaat menjelang ujian apapun, Kyuhyun akan mensugesti diri agar segera terlelap tidur.
Kyuhyun sudah melakukan itu berulang-ulang. Mulai dari menghitung domba, monkey Kibum, hingga my Angel Fishy, namun tetap saja kedua mata tajam tetapi sayu milik Kyuhyun benar-benar tidak ingin diajak kompromi.
Berkali-kali anak itu menepuk-nepuk kepalanya, otaknya tetap stuck pada satu hal. Satu hal yang secara sengaja dipungkirinya.
Pada akhirnya Kyhyun mengeram, mengalah, ia membiarkan tubuhnya dibawa langkah kaki berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga dari lantai dua menuju ke sebuah ruangan yang sangat familiar dalam kehidupannya.
Hmm, bahkan ruangan ini baru saja mendapat jejaknya beberapa jam yang lalu. Ruangan yang dipenuhi games dan perabotan bermain anak lelaki. Akh, Semua permainan anak-anak itu hanya milik Kibum dan Ryeowook, Kyuhyun tidak butuh permainan anak kecil, bahkan dari usianya 5 tahun. Dia hanya butuh satu Game, Starcraft, Starswars.
Kyuhyun menghidupkan layar flasma, ejak tadi sebenarnya benda ini yang paling ingin ia jamah. Tapi dia gengsi jika harus berebut dengan dua saudaranya, terlebih ada anak gadis baru itu tadi.
"Huh" Kyuhyun mendengus, ia memang tidak suka bertindak kekanak-kanakan. Namun dia akan selalu mencuri waktu bila ada kesempatan, dan tentu disaat tidak ada yang melihat.
Sekilas mata Kyuhyun terpaku pada sebuah pintu bercat pink pucat yang tak jauh dari ruangannya berada. Kamar itu, Kyuhyun tahu siapa yang kini tengah menghuninya, sangat tahu.
Kyuhyun memutar bola matanya tak perduli. Tapi sayangnya, mata itu tetap beralih memutar kembali ke arah pintu itu.
Sekelebat gambaran senyum manis pada guratan pipi Chubby yang bersemu merah dan mata Hazel yang mengerjap-erjap seperti puppy begerak mendominasi pikiran Kyuhyun. Anak itu kini menepis-nepis udara tak jelas seolah sedang mengusir kehadiran lalat.
" Bodoh" pekiknya keras.
Dalam sebuah kamar yang mencerminkan keceriaan. Si pemilik kamar, gadis kecil Sungmin terdiam meringkuk di sudut tempat tidurnya, ada isak pelan yang sengaja ia samarkan, anak itu berusaha agar tak ada telinga lain yang menangkapnya. Hidup selama 2 tahun tanpa orang tua dan menghabiskan hari demi hari di dalam panti asuhan, membuatnya tahu air mata itu tidak akan lagi membuatnya tenang.
Perlahn ekor matanya bergerak memutar menilik tiap sudut kamarnya.
"eomma,,hiks…eomma". Gadis kecil itu justru semakin tak kuasa menahan isakannya, ditutupkannya wajah di sela-sela lututnya yang terlipat.
Sungmin merasa kamar ini memang indah, sangat indah tapi keindahan di kamar ini tidak akan mampu membuatnya bergerak lari dari kejaran slide memori, yang membuatnya ingin menjerit sekeras apapun yang ia bisa.
Ceceran darah, pisau belati, samurai dan api.
Sobekan-sobekan gelayutan gambar pembantaian sadis kedua orang tuanya membuat Sungmin tak kuasa lagi untuk menahan diri tidak menjerit.
Sudah dua tahun Sungmin berusaha melupakan segala yang terjadi. Dua tahun ia mencoba tetap hidup mengumbar tawa tanpa air mata, bersikap layaknya seorang anak kecil usia 9 tahun.
"Hisks..arghh"
Sungmin semakin kelelahan, kedua matanya bertambah perih ditambah kepalanya yang semakin pusing sehabis menangis.
Rasa takut yang kian tak tertahankan membuat tubuhnya bergerak bangkit menuruni kasur, melangkahkan kaki mungilnya menuju pintu.
Ia harus keluar, harus. Sungmin harus keluar mencari Hankyung Appa, memintanya untuk menemani tidur atau mungkin meminta Kibum Oppa dan Ryeowook?
Ah,..tidak, para Sisters dipanti melarang anak perempuan tidur dengan anak laki-laki. Lalu bagaimana dengan Hankyung Appa? bukannya Hankyung Appa juga namja? Entahlah, Sungmin benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi. Meminta pelayan atau siapapun dirumah ini yang wanita, tapi Sungmin tidak tahu keberadaan mereka. Para pelayan Keluarga Cho hanya akan datang ketika dibutuhkan. Dan hanya Pelayan untuk Kibum dan Ryeowook yang selalu ada. Tapi Pelayan untuk Kibum dan Ryeowook hanya khusus melayani mereka tidak untuk yang lain.
"Bagaimana ini?" Sungmin mendesis, isakannya semakin kencang. Ia hanya melangkahkan kakinya menyusuri sudut rumah, ke tempat yang ia tahu.
Ketika tubuhnya telah sampai tak jauh dari kamar yang pertama kali ditemuinya adalah, rumah megah dengan berbagai perabotan mewah itu sangat sepi, seolah tak berpenghuni. Oh tidak, benar-benar tidak sepi, Minnie kecil menemukan seorang anak lelaki tengah bermain games dengan semangat di ruang tengah. Tempat di mana beberapa jam yang lalu ia juga memainkan yang sama.
Sungmin mendadak ragu untuk melangkahkan lagi kakinya, "Monster" kecil yang telah membuatnya ketakutan setengah mati tadi siang itu, membuatnya benar-benar takut bila harus berhadapan. Akh, kaki mungil Sungmin terpaku menetap membuat tubuhnya pasrah di sangga dinding.
Kyuhyun bukannya tidak tahu, kalau ada gadis kecil yang sedang keluar dari kamarnya. ia tahu, karna Kyuhyun selalu peka menyadari apapun yang terjadi di sekelilingnya walaupun sedang focus pada games.
Awalnya Kyuhyun berniat tidak meperdulikan anak kecil itu namun tiba-tiba serangkaian smirk mengulas jelas diwajahnya.
" Kau mencari mau mencari Appa?"
Sungmin mendongakkan wajah sembabnya. Sungguh tak disangka, vampire menakutkan yang membuat kakinya ngilu hingga tak mampu digerakkan itu kini berdiri tegak di hadapannya. Kyuhyun nampak terlihat sangat manis, baik dan tidak menyiratkan kebencian seperti tadi siang.
"eum" Sungmin mengangguk lemah. Dia tak perlu menjelaskan kalau ingin tidur ditemani, kan?
"Hmm kalau begitu ikut aku, aku akan mengantarkanmu ke tempat Appa dan Eomma" tawar Kyuhyun. Benar, suara Kyuhyun terdengar sangat tulus ini membuat Sungmin sempat melotot sesaat, mengembalikan mata sendunya berpijar mengerjap terang.
"Eum, benarkah? gomawo"
Kyuhyun memberi isyarat pada Sungmin untuk segera mengikuti langkahnya.
Sungmin, anak kecil nan lugu itu sampai melupakan kesinisan Kyuhyun. Ia kini dengan penuh semangat mengikuti sang saudara baru, yang sekarang mungkin harus dipanggil Oppa.
Kyuhyun membawa Sungmin mengitari rumah megah mereka, melewati beberapa ruangan yang belum pernah Sungmin masuki sepanjang hari pertamanya di rumah ini. Ternyata di dalam rumah mewah ini terdapat kolam renang, aquarium besar, dan juga arena fitness.
"Woaah" Sungmin berdecak mengagumi keindahan tata ruang disetiap sudut yang ia lampaui. Hingga tanpa sadar secara tiba-tiba tubuhnya menabrak Kyuhyun yang telah berhenti di depan pintu. Sebuah pintu disisi jendela kaca besar bening dan transparant. Dari jendela kaca itu Sungmin bisa melihat taman bunga yang sangat indah dengan Puri tabung krucut di tengah-tengahnya. Benar-benar seperti yang ada dinegeri dongeng.
Kyuhyun membuka pintu penghubung rumah dan taman itu lebar-lebar. Mempersilahkan Sungmin keluar lebih dulu.
"Appa dan Eomma ada di sana". Kyuhyun menunjuk ke arah Purie yang jaraknya cukup jauh dari rumah inti. Sungmin pun tanpa ragu menapakkan kaki mungilnya ke luar rumah namun tiba-tiba.
"Brakkkk" pintu di belakang tubuh Sungmin ditutup dengan kasar
"Oppa" Sungmin menjerit. Ia baru sadar Kyuhyun meninggalkannya begitu saja. Anak lelaki itu dilihatnya malah ada dibalik jendela kaca dan melipat tanganya didada.
Kyuhyun merekahkan senyum Evil Smirk terbaiknya dengan sempurna. Anak itu dengan begitu tega membiarkan gadis sekecil Sungmin seorang diri di luar rumah.
"Oppa, tolong buka pintunya, jebal!" Sungmin memohon tangan mungilnya menggedor-gedor pintu.
Kyuhyun mengendikkan bahu tidak peduli, ia justru berbalik mematikan lampu yang seharusnya tetap menyala kemudian berjalan cepat, kembali pada ruangan di mana layar Gamesnya menanti.
Di dalam Purie, kamar Hanchul
"Chulie-ah, Chagia saranghae" Hankyung kembali melumat bibir istrinya, mereka tengah bersiap memulai permainan kedua. Hankyung dan Heechul memposisikan diri mereka sebaik mungkin mencari kenyamanan terbaik dalam menyalurkan hasrat mereka berdua.
Hankyung mengurutkan kembali kecupan manisnya, memberi kekaguman luar biasa pada diri yang indah itu, ia bergerak mulai dari seluruh wajah chulie, kening, kedua kelopak matanya, hidung mancungnya, kedua belah pipinya, dagu, sedikit dalam dan lama pada bibir, lalu menurun ke leher menghirup aroma tubuh Istrinya mencari titik sensitif untuk menggodanya. Ciuman Hankyung terus menurun ke pundak dada dan seluruh anggota tubuh polos istrinya.
Hankyung tengah berusaha kembali menyatukan kontak tubuhnya dengan Chulie sebelum sebuah suara samar-samar masuk ke gendang telinga.
Seperti suara tangisan. Heechul yang sadar suaminya berhenti bergerak membuka mata menatap suaminya penuh tanda-tanya.
"Apa kau mendengar sesuatu?" Tanya Hankyung, sebagai jawaban kebingungan Chulie.
" Hik..hi..hiks..hwaa..hiks" samar-samar suara itu semakin jelas.
"Sepertinya ada yang sedang menangis?" Heechul menajamkan pendengarannya.
Spontan, sepasang suami istri itu segera melepas kontak tubuh mereka. Hankyung berdua bergegas menengok ke arah jendela, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar.
Dan alangkah terkejutnya lelaki itu ketika melihat sesosok tubuh mungil tengah meraung-raung memukul-mukul daun pintu. Sepertinya ia dikunci dari dalam.
"Mwo bagaimana bisa anak itu berada di luar?" Pekik Hankyung. Ia segera meraih pakaiannya dan memakainya secepat mungkin
"Siapa?" Chulie ikut menengok dari jendela.
"Aishh..pasti ada yang menjahilinya hingga dia bisa terkunci dari dalam. Dia harus kita…." Hankyung menghentikan kalimatnya begitu melihat istrinya masih berdiri membeku di depan jendela.
Hankyung merapikan kancing kemejanya, bergerak perlahan mendekati tubuh berbalut selimut Chulie lalu dipeluknya dari samping, dikecupnya kepala sang istri. "Aku akan membawanya kembali kamarnya" ujar Hankyung seraya mengelus elus rambut sepundak Chulie.
"Tidak, kau, ahhh...bawalah anak itu kemari! anak itu pasti belum terbiasa tidur sendiri di kamar barunya"
Hankyung membulatkan matanya "Mwo?" benarkah yang ia dengar? "Tapi...?" Hankyung masih ragu dengan apa yang ia tangkap. Mungkinkah…?
"Kumohon, jebal. Bawalah dia tidur bersama kita disini malam ini" Heechul mengulang kata-katanya dengan sirat mata tulus yang begitu menghadirkan sosok keibuannya.
Senyum Hankyung merekah " Baiklah, Aku akan membawanya kemari, tidur bersama kita" Hankyung bergegas keluar kamar, berjalan setengah berlari menghampiri si kecil Minnie yang sedang menangis pilu.
Akh..siapapun yang melakukan kenakalan pada Sungmin, besok harus segera dia hukum.
Heechul kembali mengamati tubuh mungil Minnie yang masih terus menangis dari kejauhan.
" Anakku" desis Heechul.
Back to First Story…
Seoul 2012
"Jadi anak nakal itu dihukum tidak, halmonie? dia kan jahat. Kasihan gadis kecil itu, dasar anak jahat, jahat...dia harus dikasih hukuman!" rentet Hanuel kesal.
Eeteuk terkekeh, dicubit pipi sang cucu gemas.
"Memang cucu nenek mau minta dia diberi hukuman apa?" tanyanya.
"Euhm..." sejenak mata mungil Hanuel berpendar "Akh, Hanuel tahu, dia harus menguras, mencabuti semua rumput di taman satu-satu" ucap Hanuel penuh semangat.
Anak ini benar-benar mirip dengan Eommanya, memikirkan hukuman jahat pun dia tak mampu.
"hmm…Sudah dulu ya ceritanya, kita lanjutkan lain waktu lagi, besok kan cucu nenek katanya mau pergi tour sekolah?" Eeteuk membujuk cucunya agar untuk segera pergi tidur.
"Tapi halmonie? euhm.. Hanuel masih penasaran. Masa anak senakal itu tidak dihukum?" Disaat Hanuel merengek seperti ini, maka tak cara lain mau tak mau Eeetuk harus menutup rasa penasaran cucunya.
"Appa sangat baik, beliau tidak pernah tega menghukum putra-putrinya yang berbuat kenakalan. Dia hanya akan memberi peringatan keras, seperti dengan mencabut fasilitas bermain sampai kurun waktu tertentu. Dan itu biasanya ampuh karna anak jahil seperti Kyuhyun tidak akan mampu hidup tanpa psp, laptop dan semua gamesnya"
"Wahh…bagus..Yang penting anak nakal itu dapat hukuman" sorak Hanuel. Tapi mata mungilnya lagi-lagi masih menyiratkan tanda tanya."Jadi, ibu mereka pada akhirnya mau menerima, si kecil ya Halmonie?"
Eeteuk membuang nafas. Akh, cucunya ini, sampai kapan ia akan bertanya terus.
"Aegya...sekarang kita tidur duluan, hoamm...nenek ngantuk. Nenek janji, lain kali kita lanjutkan ceritanya yah, sekarang kita pergi tidur yah"
Walau sudah sangat penasaran namun Hanuel urung memaksakan kehendaknya, dilihatnya sang nenek memang benar-benar mengantuk.
Eeteuk menuntun lengan cucunya masuk ke dalam rumah, menuju kamar tidur mereka berdua. Hanuel cepat-cepat menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut, sementara Eeteuk mematikan seluruh lampu, termasuk lampu kamar Hanuel lalu menyusul tidur disamping cucu perempuanya.
"Oahhammm" Hanuel menguap lebar. Hanuel mengantuk, malam sudah semakin larut dan besok pagi ia harus bangun awal agar bisa ikut tour sekolah bersama teman-teman, dan Sungbyeol seongsaengnim.
Hmm...Hanuel merasa senang tiap kali mengingat nama dan wajah gurunya itu. Ia juga mau suatu hari kelak menjadi wanita manis lemah lembut dan penyayang.
"Oahmm" Selamat tidur Halmonie, malam" gumam Hanuel disela-sela rasa kantuk yang menderanya, ia terlelap dalam dekapan dan belaian ang nenek.
"Malam aegya" Eetuek mengendurkan pelukannya di tubuh mungil selimut untuk tubuhnya sendiri.
" Tahukah, kau. Aegya,.itu semua adalah awal penebaran arti sebuah kehidupan"
Eeteuk mengecup kedua kelopak mata cucunya. Kemudian memejamkan matanya sendiri, berharap mimpi buruk tak lagi datang menghujat dalam tidurnya
T.B.C
N.B : Apakah masih tetap mudah ditebak, Endingnya, Sungmin meninggal?oh, berhubung ini adalah Fict REPOST setahun yang lalu dan sudah berakhir maka saya tidak bisa menyuguhkan cerita yang menarik. Hanya saja, setiap tebakan biasanya selalu meleset. Itulah ciri Khas saya. Ada pertanyaan siapa yang memperkosa Sungmin. Ini jelas terlalu mudah ditebak siapa dia? Terimakasih untuk semua yang telah berkenan mengunjungi this broken fict.
