Six Stories of My Master
.
.
Naruto is belong to Masashi Kishimoto, I take no profit of this and all the characters inside. All of the purpose for making this is just for fun and entertaining.
Inuzuka Kiba/Yamanaka Ino, K+, Romance, Fluff..? (idk /shrugs/), a little bit Friendship, twoshot
© kazuka, december 5th, 2012
.
special for Sukie 'Suu' Foxie's birthday XD
have a long-happy life, Suu! May God always bless you, amen! and here's my little gift~ :3
.
.
.
empat: petir
Mendung, ya? Aku menengadah dan langit kelabu yang kuintip dari balik bingkai pintu itu seakan bakal runtuh.
"Sepertinya mau hujan. Akamaru, kita pulang—"
"Kiba-kun, bisa bantu sebentar lagi tidak?" Ino bersuara lantang dari dapur.
"Apa?" Kiba-sama beranjak dariku, kembali ke dapur.
Oh, yeah. Tak mungkin 'kan, kau menolak permintaannya? Dia sedang sendirian di rumah untuk sekian hari ini karena orang tuanya ada perlu di luar. Ayahnya sedang ada dalam misi khusus yang panjang.
Ditunggu sajalah. Toh aku juga tidak kelaparan, aku akan tenang menunggu. Hoaamm—cuaca yang begini mengundang kantuk sekali. Tidur sebentar mungkin tidak apa, ya? Paling Kiba-sama tidak akan lama—
ZRRAASSHHH—
Hah?
Aku kembali membuka mata yang tadi sudah enak-enak kututup. Yah! Hujan lebat! Duh, bagaimana nanti kita pulang, Kiba-sama? Kau tidak bawa mantel, 'kan? Kalau pulang dari tadi pasti kita tidak akan terjebak begini.
CTAARR!
Um, sepertinya aku tidak boleh menyalahkanmu. Ino yang menunda kepulangan kita tadi dan aku memang tidak mungkin menjadikan itu alasan. Dia minta tolong mana mungkin kau menolak, 'kan?
Hoah, aku makin mengantuk saja.
"Heh, hujan lebat ya?" Kiba-sama datang keluar, diikuti Ino di belakangnya, aku bisa mendeteksinya seiring langkah kaki yang halus itu. Aku membuka mata.
"Kalian terjebak di sini, deh," Ino mengangkat bahu. "Mungkin kalian bisa ikut makan malam di sini? Hihi, untung saja aku memasak tadi, ya."
"Ini mungkin akan lama," Kiba-sama melangkah sedikit ke teras. Ino ikut juga, memasukkan beberapa bunga yang dipajang di luar toko agar tidak rusak karena kebasahan. "Boleh nanti kami menginap di sini?"
Ino terkikik sebentar. "Boleh, asal kau mau tidur di sofa."
Kiba-sama balas tertawa. Yah, terserah kaulah tuan, mau kau tidur di kamar, di sofa, di teras—aku tetap saja akan tidur di lantai nanti. Ino tidak punya kasur untuk anjing, aku yakin. Bukan aku marah padamu, ya—aku sudah terbiasa, kok.
ZRAASHH— CTARRR— CTARRR— ZRAAASSHH
Ah, makin lebat saja. Petirnya juga makin sering. Ini bisa disebut badai, 'kan ya? Aku termangu di dekat jendela—Kiba-sama dan Ino menyuruhku untuk ke dalam saja bersama mereka.
Titik-titik hujan itu menarik sekali untuk diperhatikan, sebenarnya. Seperti jarum-jarum yang jatuh lalu jadi sesuatu yang bisa menjadi tempat kita berkaca di tanah sana. Banyak hal di dunia ini yang menarik tapi penuh teka-teki, ya? —Aku tidak mengerti kenapa yang kelabu di atas sana itu jatuhnya jadi air yang bening begini!
Haaaah... Aku jadi tidak bisa memejamkan mataku lagi. Padahal semakin malam saja—makin gelap dan makin dingin saja.
"Krrrhh..." aku mendelik. Kiba-sama mendengkur halus, tertidur sungguhan di atas sofa. Secepat itu ya dia tertidur? Mungkin dia kelelahan? Heh memangnya kelelahan apa? Apa tadi Ino menyuruhnya kerja memperbaiki dapur?
Mungkin saja. Tapi aku tidak mau ambil pusing, ah.
—Lalu apa yang bisa kulakukan ya? Dingin-dingin begini enaknya berbaring malas saja. Menggulung di lantai dan kemudian terlelap. Aaah, enaknya. Tapi ya mana bisa? Kantukku hilang begitu saja.
Kalau di rumah, aku akan mencari sesuatu untuk dimainkan disaat-saat membosankan begini. Hana-sama banyak menyimpan hal-hal menarik di kliniknya untuk kumainkan. Yah, dokter hewan, jangan heran. Apa di rumah Ino juga ada yang begitu? Oh, tidak, tidak. Aku tidak berani menjelajah rumahnya. Takut ada sesuatu yang kurusak dan urusannya jadi panjang.
Yah, lapar lagi. Aku mengutuk. Dingin-dingin, lapar, tidak bisa tidur. Kiba-sama, bangun! Aku bosan!
"Hei, kupikir kau tidur."
Aku mendongak sedikit.
"Dingin, ya?" Ino merapatkan selimut di sekeliling tubuhnya. Secangkir cokelat panas—ketahuan sekali dari baunya—ia pegang di tangan kanannya. "Kau enak, tuh, Akamaru, bulumu lebat dan panjang begitu. Tidak kedinginan."
"Woof!" tidak juga, kok. Cukup dingin, nih.
"Kau ngantuk, tidak? Aku iya, tapi rasanya tidak bisa tidur, nih,"
"Wofff, woff!"
Ino tertawa kecil, mengangguk cepat dan kemudian mengelusku. Hei, apa dia mengerti?
"Dari gonggongan yang seperti itu, artinya 'aku juga', ya kan?"
Lho kok tahu?
"Jangan heran ya, begini-begini aku juga belajar bahasa anjing. Kiba-kun sedikit-sedikit mengajariku membaca tingkah anjing."
Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi kau hebat juga, Ino. Kau serius, dengan Kiba-sama, berarti—sampai mau melakukan hal-hal yang berhubungan dengannya begini, berhubungan dengna peliharaannya. Hm, oke, oke, aku cukup senang mendengarnya.
Ino menyeruput cokelatnya perlahan. Masih panas, asap mengepul tinggi-tinggi dari cangkirnya.
"Kau mau susu, Akamaru? Kau suka tidak?"
"Woof~"
Tidak buruk juga. Aku bukan pehobi minuman protein tinggi itu tapi bukan juga pembencinya.
"Sebentar ya~"
Dia meninggalkanku. Hm, susu adalah pengobat lapar dicuaca dingin yang ampuh—aku jadi sedikit tidak sabar menunggunya.
"Ini, Akamaru~ diminum ya," Ino menyodorkan semangkuk susu ke hadapanku. Aku menjilatinya sementara dia duduk kembali di sampingku, menyeruput lagi cokelatnya pelan-pelan.
"Woff!"
Enak juga. Sudah agak lama aku tidak minum susu. Kujilat-jilat dengan cepat, rasa manisnya begitu—
CTAAARRRR!
"Kkuungg!" aku kaget—tersentak karena sedang asyik-asyik minum dan petir itu menyambar tanpa ampun. Lebih nyaring dari yang sebelum-sebelumnya—wajar dong aku kaget? Dan, aku hanya bisa menempel ke apapun yang terdekat denganku saking kagetnya.
"Kau takut petir ya?"
Satu dua detik baru aku sadar kalau aku sedang melekat di pangkuan Ino.
"Tidak apa-apa kok, hihihi, kau lucu sekali, Akamaru," dia menepukku, mengelusku dan kemudian mengeluskan wajahnya di kepalaku. Hm, nyamannya!
"Nih, minum lagi susunya! Kau suka tidak? Syukurlah kalau iya~" Ino mengangkat mangkuk itu ke pangkuannya pula, membiarkanku menjilatinya sementara aku juga masih berada di atas kedua kakinya.
"Hihi~" ia tertawa kecil, masih betah meletakkan tangannya di kepalaku.
CTAARR!
"Aaaa!" Ino yang barusan akan mengatakan sesuatu lagi padaku berubah jadi memekik kaget, menutup kedua telinganya. Hm, yang barusan cukup nyaring juga petirnya.
"Kkkungg—woof!" aku menjilati pipinya, cuma mau menghibur. Dia tampak agak pucat setelah berteriak tadi.
"Ihi, hihihi, geli, geli!" ia terkekeh, berusaha meronta tapi tetap saja kujilati dia—hitung-hitung jahil, hihi! Habisnya lucu juga melihat wajahnya yang seperti ini. Ehm, manis?
"A-aw, su-sudah ya, hahaha, lanjutkan minumnya saja," Ino mendorongku pelan. Ya sudah, aku mengalah. Ino meletakkan mangkuk di lantai lagi dan aku terpaksa turun dari pangkuannya.
Lama kami diam-diaman. Cuma hujan yang berisik di luar. Susu yang diberikan Ino juga mulai habis. Kutebak, ini sudah senja menjelang malam. Makin gelap di luar.
"Hei, bagaimana kalau kita makan malam sekarang? Aku sudah lapar, nih."
"Woof~"
"Bangunkan Kiba-kun, yuk~"
Hm, aku mau lihat caramu membangunkannya, Ino.
Ino beringsut menuju Kiba-sama. Ia menyentuh ujung hidung Kiba-sama dengan telunjuknya. Halah, Ino, itu tidak akan mempan! Kiba-sama termasuk spesies manusia yang susah bangun kalau sudah nyenyak tidur, apalagi dalam suasana mendukung begini.
"Hei, hei."
Belum bisa bangun juga kan, tuh—apa kataku? Aku mendekat. Ino agak bingung. Ino, perhatikan caraku!
Aku mengibaskan ekorku di depan hidung Kiba-sama. Dia terlihat merespon, ekspresinya mulai terlihat dan tak lama kemudian—
"—Akamaru!"
"Hahaha, begitu ya caranya? Anjing pintar!" Ino menertawakan, dan mengacungkan jempolnya padaku. "Maaf membangunkanmu. Kita makan malamu, yuk."
"Uhng..." Kiba-sama ingin protes, tapi berujung hanya dengan keluhan pelan itu sambil menggaruk kepalanya.
"Kita makan di sini saja yuk, lebih hangat kalau di sini," Ino bangkit. Akan kubawakan makannannya ke sini.
.
"Kau punya makanan anjing?" Kiba-sama agak kaget ketika Ino menghidangkan kepadaku sepiring penuh makanan khusus.
"Akamaru dan kamu kan jadi sering ke sini. Jadi kupikir tidak ada salahnya punya stok makanan dan susu untuk anjing. Kalau-kalau dia lapar kan dia bisa ikut makan di sini~"
Ino, kau baik sekali!
Kami pun memulai makan malam. Aku di samping Kiba-sama, dan Ino tentu saja di sebelahnya. Sedang asyik-asyiknya, lagi-lagi...
... CTAARR!
Ino menutup telinganya. Kiba-sama tentu saja meperhatikan itu. Pelan-pelan, kulihat dia menggeser posisi duduknya dan bertanya lembut, "kau takut petir ya?"
"Ti-tidak juga," geleng Ino cepat. "Aku cuma kaget, tahu!"
Kiba-sama kemudian melirikku. "Akamaru juga kadang begitu. Hei, sini, Akamaru, mendekat padaku!"
Hehe, tidak buruk juga.
"Iya, tadi Akamaru sampai melompat kaget, lho. Ternyata memang suka begitu, ya? Hihi, Akamaru, ayo, ke sini saja! Sini, sini~" Ino menunjuk tempat diantara mereka berdua. Kulirik Kiba-sama, dia mengangguk dan mengizinkanku lewat tatapan matanya.
Ah, enak sekali! Kiba-sama menepuk kepalaku dan kemudian Ino melakukannya juga. Aku bisa tahu tangan mereka diam-diam bersentuhan di atas sana. Heh, dasar kalian ya!
Ino tersenyum sambil mengelusku. Hum, senyumnya memang manis, ya. Kiba-sama, kau tak salah pilih, hihihi~
—Kurasa dari sekarang, aku harus memanggilmu Ino-sama!
lima: jembatan
"Aku mau takoyaki, okonomiyaki, gulali—ah, kalau ada ramen yang enak aku juga mau!"
"... Kau yakin mau makan itu semua? Kau tidak sedang diet?"
"Aaaah, lupakan itu! Aku sudah menahan diri makan yang manis-manis sejak tiga minggu sebelum acara ini, supaya aku bisa puas-puas makan disini, huahahaha!"
Kiba-sama menggeleng. "Niat sekali."
Ya, semuanya, kami sedang libur misi dan kebetulan sekali, ada festival tanabata yang diadakan di Konoha! Kiba-sama memakai yukata hitamnya dan Ino-sama memakai apa yang dia beli bersama tempo hari.
Kami memasuki gerbang kayu di mana di dalamnya banyak sekali penjaja makanan, mainan, berbagai permainan khas festival, es krim, dan lainnya. Sudah bisa kulihat antusiasme Ino-sama yang mulai menarik-narik tangan Kiba-sama untuk segera masuk lebih jauh.
Festival sudah ramai, kupikir kami berangkat terlalu cepat. Ada anak-anak berlarian sambil menyingsingkan yukata mereka, ada remaja-remaja pula. Tapi tidak kulihat ada satu pun teman-teman Kiba-sama yang lain. Mereka pasti sedang dalam misi, eh? Aha, kurasa kami beruntung dapat jatah libur di festival meriah begini.
"E-eh? Gelangku tadi mana ya?" Ino-sama baru menyadar apa yang tidak ada pada penampilannya. "Rasanya tadi kupakai, deh. Ya tidak?"
"Kurasa," Kiba-sama mengangkat bahu. Aku yakin Kiba-sama juga tak terlalu mengingatnya.
"Pasti jatuh tadi! Kucari sebentar ya!"
"Hei, Ino! Biar aku saja," Kiba-sama mencegahnya.
Ino-sama hanya berpaling, "tidak, tidak, aku saja. Kau belikan makanan untuk kita saja, ya! Aku mau okonomiyaki, tuh—antriannya panjang sekali. Sementara menungguku, kau antri, ya! Aku akan segera kembaliiii!"
Kiba-sama tidak dapat menolaknya, langkah seribu Ino-sama sudah membawanya dirinya lebih jauh bahkan sudah keluar dari arena festival.
.
.
"Ck, Ino lama sekali, sih!" Kiba-sama berdecak. Kami sedikit lagi mencapai giliran kami untuk membeli okonomiyaki tapi Ino-sama belum juga kembali. Padahal, kurasa sudah lebih setengah jam kami menunggu antrian ini bubar satu-persatu.
Hm, kalau dipikir-pikir, iya juga, ya? Padahal kurasa jalanan ke sini tadi tidak terlalu jauh dari rumah Ino-sama dan kalaupun gelangnya jatuh di sepanjang jalan itu, tidak butuh waktu lama untuk menemukannya. Jalanannya sepi pula, jadi kan kemungkinan kalau-kalau orang ada yang memungutnya, lebih kecil.
Eh, tunggu sebentar.
... Jalan sepi?
Kiba-sama bertukar pandang denganku. Kami sudah menjadi bagian satu sama lain sejak lama, dan dia seperti mengerti pikiranku saat ini.
"Ayo, Akamaru!"
.
.
"He-hei, hentikan..." dari jauh bisa kulihat Ino-sama mundur perlahan di jembatan itu. Empat orang mengerubungi, kesemuanya punya raut wajah yang menjijikkan.
"U-ugh—" Ino-sama tersandung kayu jembatan ketika ia melangkah mundur barusan. Ia jatuh terduduk.
"Wah, kau menyerah, kan, sekarang, manis?" satu orang yang kukira adalah pemimpinnya, makin mendekati Ino-sama. Tangannya mulai nakal untuk menyentuh tuan keduaku!
"Ino!" Kiba-sama meneriakkan namanya, larinya makin cepat dan aku susah-payah mengikuti. "Menyingkir kalian!"
"Ooo, hoho, pacarnya ya?" salah satu mengepalkan tangannya, dan bunyi tulang yang bergemeretak terdengar sambil ia menyeringai.
"Jangan sentuh Ino."
BUKKK!
"Heh, sial!" Kiba-sama mengaduh. Ia memegangi pipinya—ia lengah karena terlalu marah dan gegabah. "Akamaru!"
Oh, aku paham. Oke, saatnya membalas, para lelaki kurang ajar!
"Juujin bun—"
"Dia ninja!"
"Ninja!"
Aku ikut-ikutan melongo seperti Kiba-sama. Baru saja membentuk segel... Mereka lari.
"Kukira mereka ninja," Kiba-sama mendekati Ino, mengulurkan tangannya. "Cuma berandalan tak berotak ternyata. Kau tidak diapa-apakan, 'kan? Heh, kenapa kau tidak melindungi diri? Kau 'kan ninja?"
"Aku baru mau menghajar mereka, tahunya kau datang duluan," Ino-sama mengangkat bahu. Ah, lantas ia tertawa, "kau, tuh—mereka aalinya takut pada ninja, eh ternyata kau kena bogem duluan oleh mereka."
Kiba-sama mencibir. "Baka."
Hening. Lho kok jadi canggung begini? Kiba-sama, kau marah padanya, ya?
"Aku mengkhawatirkanmu, baka. Kau malah menertawakanku."
Penasaran, aku mendelik pada wajah Kiba-sama. Bisa kukuasai arti pandangan matanya. Ya, dia khawatir dan aku bertaruh aku jarang sekali melihat yang seperti ini. Kiba-sama bukan orang yang gampang memberikan ekspresi tulusnya pada sehari-harinya—sebab ia tergolong berisik dan setipe dengan Naruto, lebih banyak mengoceh apa-apa saja yang terlintas diotaknya.
—Dan Ino-sama yang beruntung mendapatkan itu. Kiba-sama memang benar menyayanginya, aku tahu. Mata itu tidak bisa berbohong, kan? Kata manusia, mata itu adalah jendela tempat kita bisa mengintip perasaan asli manusia yang sebenar-benarnya, yang berasal dari hati. Aku bisa buktikan hal itu sekarang.
Ino-sama tersenyum masam, "maaf."
Tangan gadis itu maju ke wajah Kiba-sama, menyapu sudut bibirnya dengan lembut. "Berdarah, tuh."
Kiba-sama dengan cepat menangkap tangan itu, tak ia lepas bahkan ketika ia buka suara, "sudah kubilang tadi, aku saja yang mencarinya. Dapat tidak, gelangnya?"
"Dapat, kok," Ino-sama membentuk senyum kecil di wajahnya, ia angkat tangannya untuk memperlihatkan bahwa memang ada selingkar manik hitam-merah-bening yang melekat di sana. "Sudahlah, yang penting semuanya baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku dan—maaf."
"... Permintaan maaf diterima," Kiba-sama akhirnya mengalahkan egonya, setelah sekian waktu ia diam dan hanya saling menatap dengan Ino-sama. Kutebak, mereka sedang berkomunikasi lewat hati tadi, ya 'kan? Aku yang anjing juga mengerti—kadang memang ada hal yang tidak bisa dibicarakan pakai kata-kata. Aku beberapa kali melakukannya dengan Kiba-sama, kok—mengingat bahwa ekspresi anjing lewat cara verbal itu lebih terbatas.
"Kita ke festival lagi," ajak Kiba-sama—masih menggenggam tangan kekasihnya. Aku mengibaskan ekor, putar balik tubuh untuk mengikutinya.
"Tunggu," cegah Ino-sama. "Sembuhkan lukamu dulu. Jelek kalau berdarah begini, tahu," ia terkikik sambil menyentuhkan telapak tangannya yang mengalirkan cakra kehijauan pada pipi Kiba-sama.
Kiba-sama diam dan tenang. Hei, tidak biasanya kulihat dia penurut begini. Dan, oh—kuperhatikan matanya. Tulus dan begitu dalam memandang Ino-sama. Juga perlahan ulasan senyum tipis yang terus mengembang ia pajang di wajahnya.
Serius! Aku tidak marah sama sekali dia membagi senyumnya yang begitu selain denganku. Entah kenapa aku malah ikut senang, begitu gembira dan mungkin aku juga sedang tersenyum sekarang.
Seekor peliharaan akan ikut senang pula jika majikannya menemukan apa yang sangat ia sukai. Ino-sama, kau teman perempuan pertamanya yang bisa membuatnya begitu!
Aku mengerti luapan perasaanmu, Kiba-sama. Tidak ada yang bisa kulakukan selain turut merasakannya. Hidupmu begitu indah malam ini, Kiba-sama. Bukan di festivalnya—hanya di jembatan sepi yang cuma ada kita bertiga, bintang-bintang, dedaunan dan angin yang berdesir—juga perasaan kalian yang saling tersambung.
enam: teras
Memang tidak kukira secepat ini.
Kalian baru menginjak usia dua puluh satu tahun ini. Tapi kalau sudah serius, ya mau apalagi?
Karena dasar itu semua, di sinilah aku berada. Di teras belakang rumah keluarga Yamanaka yang menghadap ke sebuah kebun bunga besar—aku duduk sambil sesekali mengibaskan ekorku. Aku antara senang dan tegang, sama persis dengan Kiba-sama di sana—jelas sekali terpeta di wajahnya.
Hemm, hubungannya apa? Haha, oke, oke, akan kujelaskan. Aku di sini karena tidak diperbolehkan masuk oleh Kiba-sama, sebab ini acara pribadi antara dua keluarga!
—Jadi, aku hanya bisa memandang lewat sini saja. Juga menguping setiap detil pembicaraan mereka.
"Jadi, sekiranya kapan acara bisa diadakan?" ibu Kiba-sama berbicara.
"Kalau menurutku, sebaiknya akhir bulan depan saja, jadi kita bisa menyiapkannya dengan baik mulai dari sekarang," Inoichi-sama menjawab.
"Hana mengenal seorang pendeta yang bisa memimpin upacara. Biar kami yang mengurus soal itu."
"Baik. Aku setuju," Inoichi-sama mendehem sebentar. "Inuzuka Kiba, sekali lagi kutanyakan untuk memastikan. Kau siap untuk menanggung dan menjaga putriku?"
Kiba-sama mengangguk pelan, namun pasti dan tegas, "ya."
Semua yang berada di ruangan itu tersenyum.
Aku, juga.
Meski itu adalah sebuah tanda bahwa sebentar lagi perhatian Kiba-sama bukan hanya untukku saja—bukan berarti aku tidak boleh senang, 'kan?
Ini hanya kisah singkat, kawan. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaanku yang sedang duduk sendirian di teras ini. Aku malah ingin menangis bahagia. Ikatan batin mungkin, ya? Aku akan bahagia jika Kiba-sama gembira, sebaliknya, tidak jarang juga Kiba-sama ikut sakit saat aku sedang lemah.
Sekali lagi, anjing juga punya hati kecil yang halus dan akan jadi sensitif kalau sudah berhubungan dengan perasaan majikannya sendiri.
"Akamaru!" aku tersadar—Kiba-sama sedang berjongkok di depanku dan mengelus diriku. Acara sudah selesai rupanya. Dari matanya seakan dia bilang: "aku sedang sekali sekarang! Yihaaa! Boleh aku memelukmu?" —tapi tidak ia lontarkan sebab aku yakin dia sedang berusaha keras menjaga imejnya dihadpan calon mertua, hihihi.
Ino-sama ikut juga. Dia memainkan kaki depan kananku, tersenyum. Ya, nona majikan! Terus saja tersenyum begitu—sebab aku yakin Kiba-sama sangat menyukai senyummu yang seperti itu. Hm, aku juga, lho—sebab senyum itulah yang membuat Kiba-sama semakin semangat dan cerah pada hari-harinya sekarang.
Semuanya berpamitan. Kiba-sama melakukan salamnya tersendiri pada Ino-sama: menepuk kepala Ino-sama yang dibalas dengan senyuman manja.
Di perjalanan pulang, Kiba-sama tersenyum terus seperti orang kurang waras. Tapi aku gemas, kugosokkan kepalaku ke betisnya.
"Woo~of!"
"Ahehehehe, kau juga senang ya, Akamaru?" ia memainkan jambulku. "Boleh aku memelukmu sekarang? Aku senang sekali!"
"WOOFFF!" aku melompat padanya, dia hilang keseimbangan dan jatuh ke tanah. Kujilati dia.
"Ah, ahahaha, haha, ahaha! Geli, Akamaru!"
Biar saja! Aku mau ikut meluapkan kesenanganku!
Aku, Akamaru, anjing putih besar yang selalu ingin melihat majikanku bahagia. Meski artinya dia harus membagi perhatiannya dengan yang lain, tak apa. Asal dia senang dan masih tetap menghargaiku—aku yakin Kiba-sama telah melakukan kedua hal itu dengan baik. Dia sedih, itu adalah bagian dari kelemahanku—tapi jika dia senang, itu adalah kehidupanku!
end.
A/N: halo! hihihi, gimana dengan chapter 2-chapter terakhirnya? :D semoga suka, ya! dan maaf juga kalau ada typo, aku ngepost sambil diburu-buru(?) :") ah, balasan reviewnya bisa dicek di inbox masing-masing, ya! :D
.
.
.
p.s.: jadi agak sedih sama chapter ini T^T keinget naruto chapter terbaru (613) TT^TT /hayoloh /eh
