Balesan review :

Kyoura Kagamine : *Ikut ngebayangi* *massive nosebleed* Hahaha... Jawaban anda... HAMPIR TEPAT! Sebetulnya aku menulis juga memikirkan perasaan reader. Kalau misalnya reader gak suka ya... aku akan mengurangi kemunculan OC ku... Playboy Len is the BEST! FTW Playboy Len! Ratednya... munkin gak akan aku naikin, soalnya aku gak bisa yang nulisnya dewasa gitu -,-... Silakan di alert... aku jadi bahagia T^T

IchigoMei-chan : Sayang sekali... jawaban anda Salah! :(. Hai! Pasti akan saya lanjutkan!o^o/

Kyon Kuroblack : Sayang sekali ... jawaban anda Salah! :(. Boleh boleh, aku malah sangat bahagia kalau begitu T^T

Karin Shawol : Sayang sekali jawaban anda Salah! :( Pasti akan aku lanjutkan.. akan kubuat lebih penasaran lagi... ;)

Chisami Fuka : Sayang sekali jawaban anda Salah! :( Ah! Maaf yang itu aku akan coba lebih teliti.. (Padahal aku orangnya ceroboh=-=') Terima kasih, akan aku coba update cepat! Terima kasih sudah di fave!

Christi Mashiro : Ya dong... Yessy gitu yang buat! #plak.. akan aku coba update secepatnya!

Rika Chan Kagamine : Maaf ya typonya.. aku akan coba lebih teliti... Sayang sekali jawaban anda salah!:( Kyaa! Arigatou adik yang tercinta! :* #abaikanini

Yessy : Kenapa ya pada jawab yang ganggu Len dan Neru itu Rin?

Rin : Karena semuanya ngefans sama aku! *narsis mode on*

Yessy : Ya ya deh terserah lo... -_-''

Len : Kenapa aku jadi playboy ya disini?

Yessy : Karena semua fans suka kamu seperti itu? Oh ya! Sebelum aku lupa akhirnya disini kedua OC aku akan tampil! Daripada banyak bacot seperti kedua Kagamine twins ini (Kagamine : Woi! Kita gak bacot!) mari kita mulai! Enjoy the show~


My Feelings for You

By Sakura 'Yessy' Kudo

Discalaimer : Vocaloid belongs to its original owner, I don't own anything in here except my Ocs.

Warning : OOC, OCs contain, Alur terlalu cepat, full of drama, a little bit crossover with Detective Conan (which I also don't own)

Chapter 2- Kudo Sakura and Hanazawa Hiroki

Third person POV

Len terbelalak melihat gadis yang berada di depan pintu studio. Gadis itu sepertinya seumuran dengan Len. Rambutnya yang berwarna cokelat muda sebahu terlihat agak bergelombang. Dia memiliki mata berwarna biru seperti lautan. Gadis itu menggenakan kemeja putih dengan sweater berwarna pink muda dan rok rimpel berwarna pink tua. Dia terlihat terkejut melihat kejadian yang ada dihadapannya. "Eh... ini bukan studio CV01 ya?" tanyanya ragu-ragu.

Untung Len dapat menahan amarahnya, dengan tenang ia menjawab, "Bukan. Ini CV02. CV01 berada di lantai 5 bukan lantai 2."

Gadis itu langsung membungkuk dalam-dalam. "Sumimasen. Maaf mengganggu!" katanya sambil menutup pintu kembali. Len dan Neru hanya bisa menatap pintu studio yang telah tertutup. Satu pertanyaan yang terlintas di benak mereka. "Tadi itu siapa?" Tapi Len tidak mau memikirkan lebih jauh. Dia melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda karena kedatangan gadis yang tidak jelas tadi.

~~OoOoOoO~~

Gadis berambut cokelat muda bergelombang tadi sedang berjalan menuju lift. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa dia salah lantai. Sesampainya di lift, dia memencet tombol lift untuk naik. Selagi menunggu, dia mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang. Dia menyenderkan tubuhnya di depan pintu lift. "Moshi-moshi, Sakura? Kamu dimana?" terdengar jawaban dari sambungan telepon gadis bernama Sakura ini.

"Hiroki-kun juga ada dimana? Kalau kamu menemaniku, mungkin aku tidak akan salah lantai!" seru gadis bernama Sakura dengan emosi.

"Aku? Aku ada di.." Terdengar suara lift yang telah sampai di lantai tempat Sakura berada, "belakangmu." Sakura membalikan badannya. Pintu lift yang terbuka menampakan sosok yang ia cari. Pemuda dengan rambut hitam berantakan dan mata cokelat yang hangat melambai ke Sakura. Pemuda itu mengenakan kaos berwarna hitam dengan jaket berwarna cokelat dan celana jeans.

Sakura langsung menerjang pemuda itu dengan pelukannya. "Huaa..! Hiroki-kun! Untung saja kamu disini! Kau harus tahu, tadi aku mengalami kejadian yang sangat aneh."

Pemuda yang bernama Hiroki mengelus rambut Sakura perlahan. Dia sudah biasa dengan sikap Sakura yang seperti anak-anak ini. Wajar saja, mereka kan teman sejak kecil. "Sudah.. sudah. Lebih baik sekarang kita ke tempat Hatsune-san. Selama perjalanan, ceritakan padaku apa kejadian aneh yang terjadi?" Hiroki menekan tombol lantai 5.

Sakura menatap Hiroki dengan binggung. "Bagaimana kau tahu aku ada disini? Dan kenapa kamu tahu lantai berapa Miku-chan berada?"

"1. Aku mengikutimu menggunakan kacamata pencari jejak ini." Hiroki menunjukkan kacamata yang ada di kantong bajunya. "2. Karena aku tadi sudah bertanya pada resepsionis di bawah tadi. Sekarang giliran aku yang bertanya, apa yang terjadi?" Sakura menceritakan kejadian yang ia alami tadi. Selagi bercerita, mereka telah sampai di lantai 5. Hiroki dan Sakura bergegas keluar dari lift. Setelah mendengar cerita Sakura, Hiroki mendesah, "Makanya, kalau tidak tahu jalan jangan langsung pergi. Paling tidak tanyalah pada orang yang disini."

Sakura menggembungkan pipinya. "Ya, maaf. Aku hanya melihat studio CV itu berada di lantai 2. Aku tidak tahu kalau ada banyak studio CV disini." Hiroki tidak berkata apa-apa. Saat ini, dia tidak ingin berdebat dengan Sakura. Bisa-bisa mereka malah tidak jadi bertemu dengan Miku jika berdebat terus. Mereka berhenti di depan pintu CV01 dan Sakura menggetuk pintunya.

Terdengar suara dari dalam studio. Tak lama kemudian, pintu studio pun terbuka. Seorang gadis berambut teal panjang yang diikat menjadi twintail menjulurkan kepala dari dalam studio. "Ada perlu apa ya? Jangan-jangan kalian..." tanyanya.

Sakura maju memperkenalkan dirinya. "Watashi wa Kudo Sakura desu. Kochira wa Hanazawa Hiroki desu." Sebelum Sakura berbicara lebih lanjut, tiba-tiba saja Miku memeluknya.

"Kyaa! Aku tak menyangka kalau Sakura-chan akan seimut ini! Ayo silakan masuk kalian berdua." Miku menyuruh -mendorong lebih tepatnya- Sakura dan Hiroki untuk masuk. Mereka berdua hanya bisa tercenggang dengan studio yang mereka masuki. Semua peralatan elektronik yang paling cangih terdapat disini. Ada juga tempat untuk alat musik band di sudut studio. Lalu di dekat pintu terdapat sofa dan meja yang penuh dengan cemilan dan minuman. Di sofa terdapat seorang gadis blond yang sedang menikmati jus jeruknya.

~~OoOoOoO~~

Rin's POV

Aku sedang menikmati jus jerukku ketika Miku-nee mempersilakan seorang gadis dan pemuda masuk. Mungkin dia adalah Kudo Sakura yang tadi sempat menelpon Miku-nee, tapi siapa pemuda di sampingnya? Apa mungkin pacarnya? Mereka berdua duduk di hadapanku sementara Miku-nee duduk disebelahku. "Sakura-chan, Hiroki-kun perkenalkan ini Kagamine Rin. Rin-chan, mereka adalah Kudo Sakura dan Hanazawa Hiroki, mereka yang akan menginterview kita nanti malam," kata Miku-nee sambil memperkenalkan kami.

"Hajimemashite. Kudo Sakura-desu, panggil saja kau Sakura," kata Sakura sambil membungkuk. "Lalu dia adalah sahabat sejak kecilku Hiroki-kun." katanya sambil menunjuk pemuda disampingnya.

"Doumo." ujar Hanazawa singkat.

"Hajimemashite, Sakura. Kamu juga bisa memanggilku Rin saja," kataku sambil tersenyum. "Kalian lapar? Kalau mau makan saja cemilan yang ada disini." Sakura mengucapkan terima kasih lalu ia meminum air putih yang ada di meja dan memberi Hanazawa cola.

"Hiroki-kun, aku boleh bagi colanya tidak?" pinta Sakura.

"Kenapa tidak mengambil yang baru saja?"

"Aku hanya ingin mencoba sedikit. Kan sayang kalau buka baru."

Hanazawa menjulurkan lidahnya ke Sakura. "Tidak mau!"

"Hiroki-kun jahat!" Sakura menggembungkan pipinya dan kembali meminum minumannya.

Aku dan Miku-nee saling bertatapan. "Kalian akrab sekali ya? Jangan-jangan kalian pacaran ya?" tanya Miku-nee to-the-point.

Mendengar hal itu baik Sakura dan Hanazawa langsung menyemburkan minuman mereka. "SIAPA YANG PACARAN DENGAN DIA?" kata mereka saling menunjuk satu sama lain.

"Loh? Bukan ya? Padahal kalian sangat serasi," kataku dengan senyum jahil. Baik wajah Sakura dan Hanazawa sekarang sudah merah. Entah merah karena mereka malu atau karena marah. Aku lebih memilih karena malu.

"Tak mungkin aku pacaran sama dia. Aku lebih suka tipe yang dewasa daripada anak kecil," kata Hanazawa berusaha untuk tenang.

"Maaf ya kalau aku seperti anak kecil," kata Sakura sambil cemberut. "Paling tidak aku tidak seperti seseorang yang keras kepala dan selalu menjahiliku walaupun aku tidak salah apa-apa."

"Lah? Kapan aku pernah menjahilimu?"

Sakura menggerutkan keningnya. "Aku lupa tapi aku ingat kejadian itu terjadi saat kita kelas 6."

"Bilang saja aku tidak pernah menjahilimu." Hanazawa menyentil kening Sakura.

"Aku hanya lupa saja!"

"EKHEM." Miku-nee berdeham. "Walaupun aku senang kalian ada disini tapi aku sedang tidak ingin melihat pertengkaran orang pacaran.." sekali lagi Sakura dan Hanazawa membantah kalau mereka pacaran. "Baik, kalian tidak pacaran.. bagaimana kalau kita kembali ka tujuan awal kalian disini?"

"Ah! Benar juga, maaf ya aku agak terbawa suasana," kata Sakura menyesal. "Baiklah!" Sakura diam beberapa saat. "Apa yang harus aku tanyakan ya?" tanyanya pada Hanazawa.

"Bukannya kamu sudah menyiapkan daftar pertanyaannya?" kata Hanazawa.

"Sudah sih.. tapi aku tidak menggunakannya sekarang. Itu kan untuk nanti malam. Aku tahu! Bagaimana kalau saling mengenalkan diri?"

"Bukankah tadi sudah?" tanyaku.

"Benar. Tapi itu hanya perkenalan secara formal saja kan? Aku ingin mengenal Miku-chan dan Rin-chan lebih dalam lagi," jawab Sakura. Dari yang bisa aku lihat, Sakura itu anaknya sangatlah ceria dan friendly. Mungkin aku bisa berteman baik dengannya. "Oke, dimulai dari aku ya! Seperti yang kalian ketahui namaku Kudo Sakura. Umurku sekarang 15 tahun. Aku kelas 1-B di Teitan High School. Aku tinggal di Beika. Oh ya, selain menjadi artis aku juga merangkap menjadi detektif seperti oniichan."

"Detektif?" kata Miku-nee dan aku bersamaan. Gadis ini seorang detektif?

"Benar. Walaupun dia tidak sepintar kakaknya," kata Hanazawa sambil menunjuk Sakura. "Lagipula dia selalu meminta bantuanku kalau ada kasus."

"Tapi tidak semua kasus aku meminta bantuanmu kan? Aku juga pernah kok menyelesaikan kasus sendirian! Baiklah, bagaimana dengan Miku-chan dan Rin-chan?"

Miku-nee hanya mengangkat bahunya. "Aku hanya penyanyi saja, tidak ada pekerjaan lain. Tapi yang harus kalian ketahui, aku sangat menyukai yang namanya Negi!"

Aku berpikir sebentar. "Apa ya? Aku adalah vocaloid generasi kedua. Aku datang setelah Miku-nee. Aku sangat suka dengan jeruk dan roadroller. Oh! Dan aku memiliki kembaran bernama Len."

"Nee, apakah Len itu cowok berambut pirang yang dikuncir ponytail dan mengenakan baju yang mirip dengan Rin-chan?" tanya Sakura mendeskripsikan Len.

"Ya. Kalian saling kenal?" Memangnya Len pernah bertemu dengan Sakura?

Sakura menggerutkan keningnya. "Hmm, aku tidak yakin. Tapi sepertinya aku bertemu dengan Len-kun saat salah lantai tadi."

"Salah lantai?"

Muka Sakura memerah sementara Hanazawa tertawa terbahak-bahak. "Oh itu, tadi Sakura sempat salah lantai dan alhasil dia memasuki studio yang salah," jelas Hanazawa. Baik aku dan Miku-nee tertawa perlahan. Lama-kelamaan Sakura pun juga ikut tertawa.

"Benar juga ya, tadi kan Len bilang dia mau latihan karena itu dia berada di studio CV02," kataku.

Sakura terlihat binggung. "Hee.. dia sedang latihan. Tapi kenapa aku melihat dia sedang berciuman dengan seseorang ya?"

Deg! Apa? Len berciuman? Apa maksudnya tidak latihan dan malah berkencan dengan seseorang? Dan seseorang itu siapa? Karena penasaran, aku langsung menanyakannya, "Dengan siapa? Seingatku Len tidak punya pacar," kataku berusaha untuk tidak terdengar penasaran.

Sakura meletakan jarinya di keningnya, seperti berusaha untuk mengingat. "Kalau tidak salah dia memiliki rambut pirang juga tapi sangat panjang dan diikat ke samping. Ah! Penampilannya hampir mirip dengan Miku-chan."

Di kuncir samping? Rambut kuning panjang? Penampilan mirip Miku-nee? Hanya satu orang yang sesuai dengan kriteria itu.. "Neru." kataku.

"Eh? Maksud Rin-chan, Akita Neru dari Utauloid* itu?" kata Miku-nee dengan terkejut.

Tanpa pikir panjang, aku langsung keluar dari studio. Tujuanku sekarang adalah ke studio Len berada. Dengan tidak sabar, aku menekan tombol lift. Aku langsung memasuki lift.

"Rin-chan! Tunggu aku!" aku menghentikan lift supaya tidak berjalan. Terlihat Sakura sedang mengejarku. Dia juga langsung memasuki lift.

"Sakura... kenapa?" hanya itu pertanyaanku. "Kenapa kamu mengikutiku?"

Sakura memberikan tatapan khawatirnya kepadaku. "Rin-chan ingin ke tempat Len-kn kan? Aku takut tadi aku hanya berhalusinasi. Lagipula sepertinya Rin-chan agak marah. Dakara, gomen nee."

Aku tersenyum pada Sakura. Padahal dia tidak salah apa-apa tetapi dia meminta maaf padaku. Sepertinya dia sangat peduli padaku. Aku menggengam tangan Sakura, berusaha untuk tidak membuatnya khawatir lagi. "Sakura tidak salah apa-apa kok. Karena itu tidak ada yang harus dimaafkan. Maaf ya sudah membuat Sakura khawatir." Sakura tersenyum setelah mendengar perkataanku. Aku melapas genggaman tanganku dan menekan tombol lantai 2.

Hening. Itulah yang aku rasakan saat berada di lift. Sakura tidak berkata apa-apa. sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Sampai akhirnya kami tiba di lantai 2, Sakura baru berkata, "Rin-chan apa benar kamu dan Len-kun kembar?"

"Tentu saja! Master bilang kami adalah anak kembar yang tidak sengaja ia temukan." Jawabku dengan cepat.

Sakura ingin berkata sesuatu. Dia membuka mulutnya, tapi dia menutupnya kembali saat kami tiba di depan studio Len. Aku langsung mengetuk pintu studio itu. Tak lama kemudian, seseorang berlari keluar dari studio itu. Dia menabrak aku sehingga aku hampir kehilangan keseimbangan. Untung saja, Sakura langsung memegang tanganku, mencegah aku untuk terjatuh.

Aku terbelalak melihat orang yang menabrakku. Ternyata benar Neru tadi berada di studio bersama Len. Neru tampaknya tidak mengubris kehadiranku dan Sakura. Dia langsung menuju lift tanpa berkata apa-apa.

"Apa yang kalian lakukan disini?"

Aku tersentak mendengar suara dingin itu. Di hadapanku sekarang, Len berdiri dengan tampang sangat dingin. Aku berusaha tersenyum. "Len, aku ingin memperkenalkan Sakura. Dia yang nanti akan menginterviewi kita. Sakura, kenalkan ini Len, kembaranku!"

Sakura mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Watashi wa Kudou Sakura desu. Senang berkenalan denganmu Len-kun."

Len memandangi Sakura dengan terkejut, lalu dia menjabat tangan Sakura. Len tidak berkata apa-apa. Aku bisa merasakan udara terasa tegang antara Sakura dan Len. "Eh.. Len, tadi aku melihat Neru keluar dari studio. Sedang apa dia disini?" tanyaku berusaha memecahkan suasana.

"Bukan urusanmu!" bentak Len. "Lagipula untuk apa kamu repot-repot tahu? Apa esensinya bagimu?"

"Aku hanya ingin tahu apa yang kembaranku lakukan! Apa itu tidak boleh?" tanyaku setengah berteriak.

"Tidak. Urusanku hanya aku yang boleh tahu." Aku kesal. Len yang sekarang benar-benar berbeda dengan Len yang dulu aku kenal. Kemana Len yang selalu baik padaku? Apakah hubungan kami harus renggang seperti ini?

~~OoOoOoO~~

Sakura's POV

Aku hanya bisa menatap Rin-chan dan Len-kun bergantian. Sepertinya kehadiranku disini mengganggu mereka. Aku sendiri juga tidak enak bila harus berada di tengah-tengah pertengkaran saudara seperti ini. Ya, walaupun aku sendiri sering bertengkar dengan oniichan. Aku tahu rasanya sangat tidak enak.

Len-kun menghela napas. "Kau tahu? Kadang kala aku menyesal punya saudara kembar sepertimu."

Dalam sekali perkataan Len-kun. Aku menatap Rin-chan dengan khawatir. Aku bisa melihat butir-butir air di sudut matanya. "AKU JUGA BENCI LEN!" seru Rin-chan sambil berlari menuju lift. Aku dapat melihat air matanya yang sudah mulai mengalir.

"Rin-chan!" Aku berusaha mengejarnya, tetapi tanganku dipegang oleh Len-kun. Len-kun menarikku memasuki studionya. Setelah itu dia menutup pintunya. Dengan mudah, Len-kun membalikan badanku sehingga berhadapan dengannya. "Kita masih ada masalah yang belum terselesaikan."

Aku menatapnya dengan binggung. "Masalah apa?" kataku setenang mungkin. Padahal dalam hati aku sudah ingin sekali menghajarnya karena membuat Rin-chan menangis.

"Saat tadi kamu salah masuk studio. Aku harap kamu tidak menceritakan kejadian itu pada siapa-siapa," kata Len-kun dengan nada jengkel. Ups. Aku menelan ludah. Aku langsung membuang mukaku. "Jangan bilang kamu sudah bercerita pada yang lain," katanya dengan tajam.

Aku tertawa gugup. "Uhm... Sebetulnya... aku sedikit bercerita kepada Miku-chan dan Hiroki-kun. Dan juga Rin-chan, karena itu dia tadi kesini," kataku sambil memainkan jari-jariku dengan gugup.

Len-kun tidak berkata apa-apa. Poninya yang berantakan menutupi kedua matanya sehingga aku tidak bisa membaca ekspresinya. "Kalau begitu, aku harus menutup mulutmu." Sebelum aku dapat bereaksi, Len langsung mendorongku ke arah dinding. Tangannya menahan tanganku sementara tanganya yang satu lagi dia tempelkan di dinding, membuat jalan keluar untukku tidak ada. Semakin lama, jarak antara kami semakin mengecil.

"Len-kun... apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku dengan takut.

Len-kun tersenyum. Kalau saja aku tidak menyukai seseorang, mungkin aku akan terpana dengan senyuman itu. Dia membisikan sesuatu di telingaku. "Menurutmu, apa yang akan aku lakukan?" katanya dengan nada yang sangat... sexy? Aku bisa merasakan napasnya di leherku.

Aku langsung menutup mataku. Tanpa aba-aba, aku langsung memukul perut Len-kun dengan menggunakan lututku. Dia langsung melepaskan tanganku dan memegang perutnya yang kesakitan. Aku langsung menyiapkan jam tanganku dan membidik Len-kun dengan jarum bius. Seketika, dia langsung tertidur. Aku tersenyum puas dan menepuk tanganku seolah-olah aku sedang membersihkan debu yang ada disana.

Terdengar suara siulan. "Wow, seperti biasa, tidak ada yang bisa berkutik setelah berhadapan darimu."

Aku membalikan badanku ke arah pintu. Aku menatap kesal dengan orang yang ada disana. "Mou! Sejak kapan kamu ada di situ Hiroki-kun?"

Hiroki-kun melihat ke arah jam tangannya. "Sekitar 5 menit yang lalu, atau lebih tepatnya saat dia menarikmu ke dalam studio." Hiroki-kun pun memasuki studio. Dia membantuku mengangkat Len-kun ke sofa. Tidak mungkin kan aku akan membiarkannya kedinginan di lantai? Begini-begini aku juga baik loh! "Tapi, apa kau perlu menggunakan jarum bius?"

"Tidak juga. Aku hanya malas menggunakan jurusku. Lagipula, kasihan nanti kalau wajahnya babak belur sebelum konser."

Hiroki-kun mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yare yare.. sepertinya aku harus berhati-hati di dekatmu. Seharusnya Ran-san tidak perlu mengajarimu karate. Bisa-bisa semua laki-laki yang mendekatimu sudah keburu babak belur sebelum sempat berbuat apa-apa."

Aku menjulurkan lidahku. "Biarin. Ini kan bagus untuk pelindungan diri. Ngomong-ngomong, kenapa tadi kamu tidak membantuku? Padahal kamu sudah ada sejak tadi!"

"Tanpa perlu bantuanku pun kamu sudah bisa mengatasinya sendiri," kata Hiroki-kun sambil menunjuk Len-kun yang masih tertidur di sofa. Aku menyelimuti Len-kun dengan selimut yang aku temukan di studio itu. Kemudian aku dan Hiroki-kun beranjak keluar dari studio. "Hei, kita kan masih ada banyak waktu sebelum interview, bagaimana kalau kita makan di café dekat sini?"

Aku langsung tersenyum lebar. Perutku memang sudah sangat lapar sejak tadi. "Oke! Tapi Hiroki-kun yang traktir ya!"

"Baiklah," kata Hiroki-kun dengan pasrah.

Kami sampai di café beberapa menit kemudian. Aku dan Hiroki-kun duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Aku memesan lemon tea dan apple pie sementara Hiroki-kun memesan ice coffee dan sandwich. "Sakura, tumben kamu mau berteman dengan mereka," kata Hiroki ketika aku sedang meminum lemon teaku.

"Maksudmu?"

"Ya.. biasanya kamu tidak mau berteman dengan artis lain. Bahkan yang paling terkenal sekalipun. Sekarang, kamu malah repot-repot datang ke studio mereka dan berteman dengan mereka. Sepertinya ada udang dibalik batu. Aku merasa kamu merencanakan sesuatu," jelas Hiroki-kun. Harus aku akui, dia memang bisa menebak jalan pikiranku.

Aku hanya mengangkat bahuku. "Kamu hampir benar. Aku tidak mau berteman dengan artis lain karena aku merasa mereka hanya biasa saja. Beberapa dari mereka ada yang hanya ingin menjadi terkenal, terkenal dan terkenal saja. Tapi aku merasa jika berteman dengan Miku-chan, Rin-chan, dan Len-kun sesuatu akan terjadi."

Hiroki-kun menjilati tangannya yang terkena remahan roti sandwichnya sambil mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya ada apa dengan mereka? Kasus baru?"

Aku menggeleng kepalaku. "Tidak, saat ini belum ada kasus. Tapi aku merasa kalau sebentar lagi kita akan berhadapan dengan kasus yang sangat besar. Biasanya firasatku benar kan?" sekarang ini aku belum tahu apa yang akan terjadi. Tapi firasatku mengatakan sesuatu yang besar akan mengubah kehidupan Rin-chan dan Len-kun. Aku hanya bisa berharap mereka dapat melaluinya dengan selamat.

To be Continued


Yessy : Chapter ini semacam filler.. jadi belom ada apa-apa. Oh ya, perkenalkan OC ku Sakura dan Hiroki!

Sakura : Yoroshiku Minna-san ^^

Hiroki : Yo! (y)

Len : Bukannya Yessy masih ada IGCSE Biology besok?

Yessy : Paper 1 ini... kan PG tinggal tang ting tung siapa yang beruntung aja...

Rin : Sombong...

Yessy : Tidak juga.. aku sudah pasrah dengan hasilnya... baiklah cukup sekian... Sakura, Hiroki would you two do the honor?

Sakura, Hiroki : Okay. Arigatou minna-san. Jangan lupa review ya! RnR please!

Last Question : Menurut kalian Sakura dan Hiroki gimana? Cocok gak?