Hai minna-san!

Saya lanjut ceritanya….

Di chapter ini, saya akan tambah – tambah, kurang – kurang, bagi – bagi dan kali – kali…. Readers : apa hubungannya sama cerita coba?

Maksud saya, saya akan menambahkan selain yang ada di cerita yang mirip – mirp Barbie ini. Hohohoho…! *tawa santa mulai beraksi*

Killua : hallaaah…! Mulai ceritanya napa!

Gon : Iya, nih! Walaupun saya gak masuk dalam fic kali ini….

Kurapika : *tertawa kecil* Iya, mulai napa!

Author : Oh iya, akan saya mulai….


Di toko jahit Nelehenia….

"Nah, ini hasilku…" Aya memperlihatkan hasil jahitnya kepada Bibi Helen yang lengannya panjang dan pendek. "Ng… Kurang lebih….".

"Sudahlah, Tuan Putri. Tak usah dipaksa…."

"Tak apa…" Aya melanjutkan jahitannya. Bibi Helen tersenyum melihat Aya.


Banyak sekali orang – orang besar yang ada di Ballroom. Kuroro dan Ratu duduk di meja bundar. Mereka berbincang – bincang tentang Aya (alias Kurapika). Tak lama kemudian muncullah Kurapika turun tangga dengan rambut yang disanggul, make up yang sederhana, dan gaun kuning yang indah. Ia tersenyum malu – malu memandang Kuroro. Kuroro terpana melihat Kurapika yang cantik amat sangat *lebaay*. Kuroro menghampiri Kurapika.

"Mau dansa?" kata Kuroro mengulurkan tangannya.

Kurapika tersenyum. Terlihat rona merah di pipinya. Ia menerima kata – kata Kuroro tentu saja. Mereka berdansa di tengah – tengah orang – orang yang juga sedang berdansa. Orang – orang berdansa tadi, berhenti dan menyaksikan Kurapika dan Kuroro berdansa.

"Wah, mereka kelihatannya cocok, yah!"

"Mereka berdua cantik dan tampan, tentu saja cocok!"

Orang – orang yang di sekeliling Kuroro dan Kurapika menbicarakan mereka berdua yang sedang dansa. Tiba – tiba, Kurapika melepaskan Kuroro dan berlalu pergi. Wajahnya merah semerah TOMAAAT! (Walaah, mulai lagi nih! Penjaga!)

Kurapika berlari ke kamar Aya. Sedangkan Ratu memiringkan kepalanya, heran melihat Kurapika.

"Maaf, Raja Kuroro. Anakku tidak sopan. Tapi… tidak seperti biasanya dia seperti ini" ujar sang Ratu.

"Tidak apa – apa, Yang Mulia. Dia hanya gugup" kata Kuroro.

Di dalam kamar….

"Hhh… Mungkin aku mencintainya. Tapi… Aku gadis biasa, sedangkan… dia?" gumam Kurapika tanpa sadar meneteskan air mata.

"Wroof!" Wolfy menggonggong seolah membujuk Kurapika agar tak bersedih.

"Iya… Terima kasih, Wolfy. Kau anjingku yang terbaik" Kurapika mengelus – elus kepala Wolfy dengan lembut.

Malam hari….

"Toko Jahit Madam Nehelenia…." gumam Aya seraya menggunting selembar kertas kecil yang bertuliskan apa yang dia baca tadi.

"Kalau Wolfy bisa, tentu Serafina juga bisa melompat dari atap" kata Bibi Helen seraya mengelus – elus Serafina.

"Tentu saja, dia kucing pintar" ujar Aya membanggakan kucingnya.

Ia menggulung kertas kecil itu dan menyelipkannya ke cincin. Ia mengambil benang yang agak tebal dan memasukkannya ke cincin. Jadi kayak kalung, deh! Aya mengikatkan kalung itu ke leher Serafina.

"Pergilah, Serafina! Supaya aku dan keluar" kata Aya.

Serafina pergi melewati jendela. Lalu ia menatap ke bawah.

"Kalau melompat, pasti aku bakal mati…" gumamnya.

Ia melewati belakang atap. Berjalan pelan – pelan. Dan akhirnya, DIA SAMPAI KE BAWAAH! (Oalaa! Penjaga, pasung author sarap ini!)

Ia menelusuri betapa sepinya kota. Sampai akhirnya dia di sebuah tempat, di sana ia bertemu anjing puddle yang kemarin. Di sampingnya ada… Ada… PREMINGER! *author tidak diberi makan selama 1 bulan sama readers karena terlalu lebay (Lho?!)*

Serafina diangkat dengan kasarnya oleh Preminger. Ia mengambil sesuatu yang di kalungkan di leher Serafina.

"Toko Jahit Madam Nehelenia? Oh, di situ kau ternyata!" gumam Preminger memasang seringai di wajahnya.

.

.

& Skip Time &

.

.

Sampailah Preminger di Toko Jahit Madam Nehelenia. Ia mengintip lewat jendela. Lalu, ia mendobrak pintunya. Sementara Serafina, dia di saku yang ada di bagian samping punggung kuda Preminger (saya lupa namanya itu!). Dia mengeong – ngeong minta tolong. Untung ada Harvey di sana. Harvey membukakan kancing kantung itu dengan mulutnya.

"Uuw… Terima kasih, Harvey" ucap Serafina lalu masuk ke dalam.

Di dalam….

"Preminger! Ah, akhirnya kau datang juga!" kata Aya. "Mana Serafina?"

Muncullah Serafina melompat ke atas meja.

"Ayo, Tuan Putri…" ajak Preminger.

"Hhaark!" Serafina marah, bulunya pada berdiri semua.

Se… Serafina tidak pernah marah kepada Preminger sebelumnya… Jangan – jangan…. pikir Aya.

"Cepatlah! Apa kau tidak mau pulang?!" bentak Preminger.

"Kau pasti akan melakukan hal yang tidak – tidak kepadaku, kan?!" Aya membalas bentakan Preminger.

Preminger menarik lengan Aya dengan erat. Ia membawa Aya ke suatu tempat….

.

.

& Skip Time &

.

.

Preminger membawa Aya ke suatu tempat, yaitu pertambangan.

"Untuk apa kau membawaku ke sini?!" tanya Aya dengan marah.

"Sudah, kau diam saja! Ikut aku!" Preminger menarik lengan Aya (lagi).

Preminger melepaskan pegangannya dengan kasar melempar Aya ke sebuah ruang di bawah tanah. Aya kaget melihat Killua yang diikat badan dan tangannya.

"Ki…Killua?"

"Aya?"

Mereka tatap – tatapan. Keduanya begitu heran. Preminger ngeloyor pergi mengunci pintu ruangan itu. Tak lama, Aya dan Killua mendengar sebuah suara memecahkan batu – batu (ulah kedua anak buah Preminger tentu saja). Batu – batu besar itu menutup mulut gua pertambangan.

"Ga…Gawat!" Aya panik.

Killua mengambil kapak yang ada di sampingnya dan memukul dinding batu itu berkali – kali.

.

.

& Skip Time &

.

.

"Hmm… Dia masih muda, tapi… sudah jadi seorang Raja…." kata Kurapika berbicara entah dengan siapa sambil berbaring di kasur king size milik Aya. "Ck! Apa yang kau pikirkan, Kurapika? Kau tidak cocok dengannya!".

Seketika, Kurapika menangis (lagi).

Keesokan harinya, Kurapika sedang menyisir rambut palsunya. Datanglah Preminger.

"Selamat pagi, Tuan Putri. Ratu memanggilmu" katanya.

"Hah? Ada perlu apa?" tanya Kurapika.

"Raja Kuroro datang" Preminger mengulurkan sikunya.

Kurapika menggandengnya dan mereka berjalan menuju singgasana Ratu.

Sesampai di sana, Kurapika memandang Kuroro beserta Perdana Menterinya dan juga Ratu.

"Besok pertunangan akan berlasung, sayang. Jadi berbincang – bincanglah dengan Raja Kuroro. Yaah… Supaya kalian akrab" kata Ratu.

"Baik, bu"

Kurapika dan Kuroro berjalan keluar. Dan di luar mereka berbincang – bincang.

"Maaf soal tadi malam, Yang Mulia. Saya hanya gugup" Kurapika angkat bicara.

"Tidak apa. Wajar, kan? Karena kita baru pertama kali bertemu" kata Kuroro tersenyum tipis. "Ngomong – ngomong… jangan panggil aku 'Yang Mulia'. Panggil saja aku Kuroro" katanya lagi yang sukses membuat wajah Kurapika merah merona.

"B… Baik, Ku… Kuroro…" ucap Kurapika tergagap.

"Wroof!" Wolfy dating tiba – tiba.

"Ini anjingmu?" tanya Kuroro.

"Iya. Saya mendapatnya waktu masih kecil" jawab Kurapika.

"Ternyata kau orangnya penyayang binatang, yah!" ujar Kuroro.

Kurapika hanya tersenyum mendengarnya. Lalu ia menggendong Wolfy dan mengelus – ngelusnya.

"Ayo, ajak dia main" kata Kuroro menarik tangan Kurapika.

Wajah Kurapika merah merona (lagi). Mereka ke halaman belakang istana. Kuroro mengambil ranting kecil, sedangkan Kurapika meletakkan Wolfy (emangnya barang?!) ke tanah. Kuroro melempar ranting itu agak jauh. Wolfy mengejarnya dan memberikannya ke Kuroro.

"Dia anjing pintar dan cepat, yah" Kuroro memuji Wolfy sambil mengelus – ngelus kepala Wolfy.

"Terima kasih… Aku melatihnya…." ucap Kurapika malu – malu.

Lalu mereka berjalan lagi. Kurapika tersandung. Yah, untung ada Kuroro yang menahan badannya. Dan itu sukses membuat wajah Kurapika merah merona (lagi).

"Te… Terima kasih banyak…." Kurapika tergagap (lagi).

Mereka berjalan – jalan di koridor. Berbincang – bincang bagaimana ramainya suasana Kerajaan Rukuso dan lain sebagainya. Sampai sore harinya mereka berada di balkon yang cukup luas.

"Setiap sore, saya selalu menunggu matahari terbenam di sini" kata Kurapika sambil memegang pembatas semen balkon. "Terima kasih banyak, sudah menemani saya sampai sore begini…"

"Tidak masalah. Hanya karena aku mencintaimu" balas Kuroro.

Kurapika kaget mendengarnya. Wajah sudah semerah tomat. Ia pun berkata, "S… Saya… juga…".

Kuroro mengecup kening Kurapika sejenak. Lalu, ia pergi (bermaksud bergegas pulang).

"Hhh… Bagaimana yah, Wolfy? Kalau aku berpura- pura terus…." kata Kurapika. "Lagi pula… Killua mana".

Datanglah seorang pelayan dan ia berkata, "Yang Mulia, airnya sudah siap"

"Oh, iya…"


TBC


Cek… Cek… 1, 2, 3…

Wahai readers seakalian….! *gaya ala ulama*

Killua : Heh, heh! Kok ceramah, sih?!

Author : Oh, gomen nasai… Bagaimana, readers sekalian? Makin norak, yah?

Killua : Norak abiss!

Author : *ngambil kapak* APAA?!

Killua : Gomen – gomen…

Author : Ya sudah, saya mau ceramah… "Wahai para reader review-lah sebanyak – banyak supaya… cerita ini diselesaikan dengan cepat…"

REVIEW PLEASE!