Minna-san!
Saya lanjut ni ceritanya…!
Saya bakal lanjut cerita ini…! (eh, udah dibilang, yah?)
Oke, saya akan teruskan, kisah cinta ini….
Killua : Ceritanya… Sampe mana?
Author : Hush! Diem lu! Nanti lu juga tauk!
Killua : Okelah kalau begitu! (sambil nyanyi)
Author : *sweatdrop*
Kurapika : Hey, ayo mulai ceritanya…!
Author : Oh, iya. Yoooosh! Happy Reading, readers sekalian…! ^_^
Killua memukul dinding batu itu selama dua jam. Tapi, tetap saja di ada hasil.
"Hhhh… Sama saja,tidak ada hasilnya…." ujar Killua putus asa.
Aya melihat sebuah batu yang terbelah dan di dalamnya ada permata berwarna violet.
"Killua, lihat!" seru Aya sambil memegang sebuah batu.
"Batu?" Killua heran.
"Iya, tapi di dalamnya ada sesuatu yang berharga" kata Aya membuka batu itu.
Killua terbelalak dan berkata, "Kalau sudah begini, pasti Ratu akan membatalkan pernikahanmu".
"Hn!" seru Aya memeluk Killua.
.
.
& Skip Time &
.
.
"Hmm…. Killua kemana, sih?" gumam Kurapika mondar – mandir.
Datanglah seorang pelayan dan sang pelayan berkata, "Yang Mulia, Ratu memanggil anda segera untuk ke singgasana-nya"
Di sana, ada Kuroro beserta Perdana Menterinya dan Ratu.
"Sayang, sekarang juga waktunya" kata Ratu seraya berdiri.
'Apa?! Tapi… Aku….' kata Kurapika dalam hati.
Kuroro menghampiri Kurapika dan berbisik, " Demi kebaikan kerajaan dan cinta kita".
Tentu saja, kata – kata itu sukses membuat wajah Kurapika merah merona. Kuroro hendak memakaikan cincin ke jemari manis Kurapika.
"Tunggu! Tangkap dia!" teriak Preminger yang tiba – tiba datang.
Kedua penjaga menarik tangan Kurapika. Kurapika memberontak.
"Apa maksudmu, Preminger? Dia putriku!" kata Ratu.
"Dia palsu!Dia telah membunuh Tuan Putri! Lihat saja lengannya!" fitnah Preminger.
DEG!
Jantung Kurapika berdegup kencang, serasa mau putus. Ratu menghampiri Kurapika. Tapi… Ratu ragu – ragu untuk memeriksa lengan Kurapika. Akhirnya beliau membuka sedikit gaun bagian bahu Kurapika.
"Hegh! Oh, Ya Tuhaan!" kata Ratu dengan lirih seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kurapika hendak dibawa keluar.
"Tu…Tunggu!" Kurapika memberontak. Ia menghampiri Kuroro dan berkata, "Aku tidak membunuh Putri, atau siapapun!".
Penjaga menarik kembali lengan Kurapika. Kuroro hanya diam.
"Yang membunuhnya bukan aku. Justru dia!" teriak Kurapika menunjuk Preminger.
Yah, apa mau dikata, orang – orang yang di situ tidak mempercayai Kurapika. Semuanya hanya diam.
"Ini keterlaluan! Seorang Raja dengan wanita jalang?! Biadab!" kata Perdana Menteri Kuroro setengah berteriak.
"Oh, Putriku… Putriku yang malang…." gumam Ratu seraya duduk.
.
.
& Skip Time &
.
.
Di penjara, Kurapika duduk di atas kursi kayu panjang dengan tumpukan jerami. Ia memeluk lututnya erat – erat, badannya gemetar dan tanpa sadar air matanya mengalir. Iya, benar. Dia mencintai Kuroro amat sangat. 6 jam kemudian, ia tertidur.
Preminger memasuki kamar Ratu. Ratu pun kaget melihatnya.
"Lancang sekali kau! Apa perlumu?!" bentak sang Ratu.
Preminger menyeringai dan berkata, "Aku ingin melamarmu".
Ratu hanya mengernyit.
"Jikalau Putri sudah tiada, tidak ada penerusmu. Lalu, bagaimana dengan rakyat? Kau pasti akan kewalahan. Jika kau menikah lagi, kau akan punya keturunan baru dan akan kaya" ujar Preminger mengulurkan sebuah kotak kecil.
"Terserah, Preminger" kata Ratu pasrah sambil membuang wajahnya.
Preminger memakaikan cincin itu. Dan tertawa keras – keras sambil terduduk di sebuah sofa.
Pagi yang cerah, Wolfy bangun duluan. Ia melompat ke jendela. Datanglah Harvey menghampirinya.
"Apa benar kau Wolfy?" tanyanya.
"Benar sekali, sobat. Ada perlu denganku?" Wolfy malah bertanya balik.
"Putri sedang dalam masalah. Mereka di pertambangan bawah tanah. Di sana mereka di kurung di sebuah tempat, yang pasti di bawah tanah. Lalu, Preminger dan anak buahnya memukul banyaknya batu sampai turun ke bawah" Harvey menjelaskan secara panjang lebar dan gaje.
"…" Wolfy blank dikit karena Harvey. "Oh… Maksudnya mereka terjebak, begitu?" barulah dia mengerti.
"Ya, benar. Maukah kau membantu?"
"Demi Kurapika, aku akan membantu. Bisa kau antarkan dimana mereka terjebak?"
"Di sini"
Wolfy turun dari punggung Harvey. Ia mulai mengendus – ngendus tanah. Ia berputar – putar gak jelas sampai sang Harvey bertanya, "Apa hidungmu bekerja?".
"Ya, dapat!" Wolfy tak menghiraukan pertanyaan Harvey.
"Kau dapat menggalinya?"
"Aku akan berusaha"
Wolfy mulai menggali dengan cakarnya. Tanahnya agak kuat dan keras, sehingga debu beterbangan di sekeliling Wolfy. Belum lagi beberapa menit, tanah itu sudah berlubang besar. Memang itulah akhirnya, Wolfy selesai.
"Cakar yang hebat, sobat!" puji Harvey.
"Terima kasih, aku akan melompat sekarang" Wolfy melompat.
Beberapa menit kemudian, sampailah ia di tempat Aya, Killua dan Serafina tentu saja. Serafina tersenyum melihat Wolfy dan ia menghampirinya.
"Jangan katakana kau lakukan ini sendirian" katanya.
"Aku menggalinya sendirian, sungguh" ujar Wolfy.
"Benarkah? Terima kasih, pahlawanku" Serafina mencium Wolfy.
"Kucing Kurapika?" gumam Aya. Ia mendogak ke atas, tepat di mana Wolfy berasal. "HALLOOO! APA ADA ORANG DI SANA?!" teriaknya.
Ia menatap dinding batu yang dipukul – pukul Killua selama dua hari ini.
"Air! Ayo, bantu aku!" seru Aya.
Kurapika berlari keluar dari penjara. Yah, dia baru bebas karena berhasil mengambil kunci punya penjaga. Belum lagi sempat keluar di jalan penjara – penjara itu, dia tertangkap oleh seorang bertubuh tinggi dengan pakaian baju besinya. Kalo wajahnya sih gak kelihatan karena dia nutupin mukanya pake topeng helm besinya (kata – katanya agak ribet, yah!).
"Nah, itu dia!" teriak penjaga penjara Kurapika.
"Izinkan aku untuk membawanya ke istana, Tuan. Ini perintah" kata pria yang menangkap Kurapika.
"Baiklah" jawab pria gendut itu dan berlalu pergi.
"Kau terlihat cantik, sayang" kata Preminger berlalu pergi.
Ratu hanya menghela nafas dan memasang wajah kecewa.
"Jangan bawa aku!" bentak Kurapika dan lalu ia menginjak kaki pria itu.
"Hey, hey! Tenanglah! Ini aku" pria itu membuka topengnya.
"Ku… Kuroro…." gumam Kurapika. Kuroro hanya tersenyum.
"Kuroro…!" gumam Kurapika memeluk Kuroro. Ia menangis.
Kuroro mengelus – ngelus rambut pirang Kurapika yang lembut dan berkata, "Kita harus cepat. Ratu menerima lamaran Preminger"
"Apa?!" Kurapika melepaskan pelukannya. "Jadi, pria SIALAN itu menikahi Ratu dengan cara licik?!" mata Kurapika berubah menjadi merah lalu berlari.
"Kau mau kemana, Kurapika?"
"Apa yang kau tunggu?! Ayo!"
"Saudara Preminger, apa anda menerima Saudari Elizabeth sebagai istri anda dalam keadaan suka, duka maupun sakit?" tanya sang penghulu.
"Tentu saja!" jawab Preminger dengan seringainya.
"Dan… Saudari Elizabeth apa anda menerima Saudara Preminger sebagai suami anda dalam keadaan suka, duka maupun sakit?" tanya penghulu.
"Aku…. Aku…. Aku ber-"
"Tunggu!" teriak dua orang gadis yang tak lain Kurapika dan Aya.
Ratu dan Preminger menoleh. Begitu juga yang datang di acara pernikahan ini.
"Tunggu, Ibu! Ini aku, Aya!" seru Aya sambil memperlihatkan lengan kanannya.
Ratu memakai kacamatanya dan melihatnya lekat – lekat.
"Itu kau!" Ratu berlari ke Aya dan memeluknya.
"Dialah biang dari semua ini!" ujar Kurapika sambil menunjuk Preminger.
Ratu melepaskan pelukan Aya dan menoleh ke Kurapika. Ia heran. Lalu, ia berbalik ke Preminger.
"Penjaga! Tangkap dia!" teriak Ratu.
Preminger berlari dan menunggangi Harvey. Ia menunggang Harvey agak jauh. Tak lama, Kuroro dan Killua mengejarnya.
"Hey, payah! Bagaimana kalau mengejar kami?!" teriak Wolfy.
"Aku payah?! Baiklah, akan kulayani kalian! Wroof, Wrof!" anjing puddle itu berlari ke Wolfy dan Serafina.
Wolfy dan Serafina menghindar sehingga anjing Preminger itu, yang super aneh, mengerikan dan… Oke itu berlebihan… Anjing itu menabrak sebuah peralatan pesta. Dia kaget karena giginya lepas.
"Oh, gigiku..! Gigi emaaskuu…!" jeritnya menangis.
Wolfy dan Serafina saling pandang dan tersenyum lebar.
Preminger memacu Harvey dengan sedikit keras, sehingga Harvey marah. Dia berlari kembali istana. Hal ini membuat Kuroro dan Killua heran tentu saja. Dan malah melewati Kuroro dan Killua.
"…" Kuroro dan Killua saling pandang heran.
"Kembali, bodoh! Berhenti sekarang jugaaa…!" gerutu Preminger.
"Jika itu yang kau mau, akan kulayani" bisik Harvey seraya menungging.
Preminger terpental ke meja yang panjang. Di meja itu, banyak sekali makanan. Tiga menit kemudian, Preminger mendarat di kue pernikahan. Dan akhirnya dia tertangkap oleh penjaga.
"Gayamu bagus, Harvey" goda Serafina.
"Hehee! Kau hebaat!" puji Wolfy.
"Terima kasih banyak!" Harvey berkata dengan narsis.
"Owh, sayang. Maafkan Ibu telah menyuruhmu menikah dengan orang yang tidak kau cintai" kata Ratu seraya memeluk Aya.
"Tak apa Ibu…." Aya membalas pelukan Ibunya. "Sebenarnya aku mencintai seseorang"
"Benarkah? Kenapa kau tidak bilang?" Ratu melepas pelukannya. "Katakan padaku seperti apa orangnya".
"Dia orangnya jenius dan tampan, Bu"
Dan sebulan kemudian, Kurapika menjadi seorang penyanyi yang terkenal di tengah rakyat.
Kurapika ke sebuah taman yang dekat dengan hadapannya ada Kuroro. Ia tersenyum melihatnya.
"Apa kabar?" tanya Kurapika.
"Seperti yang kau lihat" kata Kuroro yang membuat Kurapika tertawa karena ia membusungkan dadanya.
"Ehm… Ada perlu apa?"
"Aku…." Kuroro gugup.
"Yaa….?" Kurapika penasaran.
"Ingin melamarmu"
"Apa?!"
"Aku serius. Dan… Katanya, Aya juga akan menikah tiga hari lagi"
"A…Aaa…." Kurapika bingung ingin berkata apa. Wajah Kurapika panas. "A…Aku bersedia" akhirnya ia berkata.
Sudah tiga hari berlalu. Tepat di hari ini, Kurapika dan Aya sudah siap untuk menjadi seorang pendamping masing – masing (saya bingung sudah, mau bilangnya kayak mana..). Gaun mereka sedang ditata demikian juga rambut mereka. Gaun putih milik Kurapika diberi pita dan renda biru sederhana dan rambutnya disanggul. Bedak yang tidak terlalu tebal menghiasi wajahnya. Dan Aya, model bajunya sama dengan Kurapika (warna kuning emas) dan rambutnya dibiarkan terurai dengan mahkotanya. Mereka siap (yeee!).
Kurapika memegang buket bunga mawar biru dan Aya memegang buket warna pink. Keduanya berjalan di atas karpet merah. Di hadapan mereka, Kuroro dan Killua menunggu.
Mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.
THE END
YEEEEE! Minna-san! Cerita ini berakhir…!
Oh iya minna-san, saya mau promosi. Saya mau buat sekuel dari 'My Nightmare and My Love'. Mengisahkan sebelum mereka menjadi sepasang kekasih.
Kurapika : Hey, cukup! Jangan bocorkan terlalu banyak!
Author : Aku lagi males. Oh, iya minna-san! Saya minta maaf sebesar – besarnya karena cerita ini baru diselesaikan sekarang. Itu dikarenakan saya sedang HIATUS.
REVIEW PLEASE…!
