Sebelumnya dari chap 1 :
Sakura melihat dan membaca isi dari kertas yang tadi ditangkapnya. Saat selesai membacanya, Sakura mengukir sebuah snyum miring dan mengepalkan tangannya erat. Ternyata kertas itu adalah sebuah brosur lowongan pekerjaan di sebuah cafe.
'Ahh ... Tuhan memang selalu berpihak padaku, aku akan membuktikan bahwa kau adalah pangeranku. Red Eye! Hehe ...' begitulah pikir Sakura saat setelah membaca brosur itu.
Sebuah rencana besar sedang Sakura susun dalam benaknya, untuk menemukan pangeran Red Eye-nya.
.
.
Beach and The Red Eye
Naruto punya Kishimoto-sensei
Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic inipenuh hal AU, OOC
Authour : Mia muyohri
Pair : SasuSaku
.
.
Hari ini aku akan berusaha mendekati pangeran Red Eye, dengan bekerja di cafe ini, cafe pinggir pantai. Rintangan apa pun yang menghalangiku tuk mencari pangeranku, aku akan menerjangnya. Apa pun itu! Ya!
"Selamat pagi!" sapa Sakura pada semua karyawan cafe yang sudah berkumpul untuk memulai pekerjaannya masing-masing. "Mulai hari ini aku akan bekerja di sini! Namaku Haruno Sakura, salam kenal semua!" sapa Sakura riang.
"Woo ... lihat seorang gadis bekerja di sini, manisnya!" bisik-bisik para karyawan yang lainnya. Tapi mereka langsung membungkam mulutnya saat melihat aura hitam yang baru saja keluar dari seorang pemuda yang memiliki rambut mencuat bagaikan bongkong ayam itu, yang bisa kita sebut sebagai pangeran Red Eye kita.
Sasuke yang baru saja tiba, langsung berubah moodnya saat melihat gadis aneh itu ada di cafenya lagi. "Bos ... kenapa kau menerima seorang gadis bekerja di sini, sih?" tanya Sasuke kesal pada bosnya.
"Aku terpaksa menerima dia bekerja di sini, karena dia membayarku dan menawarkan kerja cuma-cuma, kan lumayan juga untuk membantumu. Bukankah kau kekurangan karyawan, kan?" ucap Bosnya, yang namanya Hatake Kakashi.
Sakura yang melihat kedatangan Sasuke, segera mendekati Sasuke. "Sasuke, akhirnya kita berjumpa lagi ... aku ke sini untuk bekerja, bukan datang sebagai tamu yang menurutmu mesum."
"Aku tidak perduli," ucap Sasuke yang berusaha mengacuhkan Sakura.
"A-anu, Sasuke bisakah kau perlihatkan punggungmu padaku," rayu Sakura, mengikuti setiap langkah Sasuke yang bersiap untuk membuka cafe.
"Tidak!" ucap Sasuke tegas.
"Ayo dong, Sasuke ..." rengek Sakura sambil memasang tampang memohon semanis mungkin.
Tanpa memperdulikan Sakura lagi, Sasuke memakai ikat kepala yang biasa dia kenakan saat bekerja. Ikat kepala semangat. Begitu katanya. "Ayo, semua bersiap. Kita akan membuka tokonya." Ucap Sasuke keras. "Target kita hari ini adalah lima ratus ribu! Kerjalah sampai titik darah penghabisan!"
"Eh ..." Sakura terbengong.
"Apa kalian sudah mencantumkan menu baru untuk hari ini?" tanya Sasuke pada karyawan yang lainnya.
"Sudah!" sahut karyawan dengan semangat.
"Apa sudah mengecek semua stok barang yang sudah datang?"
"Belum!"
"Bodoh! Cepat sana lakukan, jangan sampai tidak, memang kau mau upah bulananmu berkurang, he?!"
"Ba-Baik ..." tanpa menunggu lama para karyawan membubarkan dirinya, dan segera memegang tugasnya masing-masing, karena tidak mau kena marah Sasuke.
Terkecuali dengan Sakura, dia masih terbengong ditempatnya, melihat Sasuke yang bersikap seperti seorang bos besar di sini. 'Kalau sikapnya seperti itu? Dari mana bisa disebut sebagai seorang pangeran?' pikir Sakura.
"Woi! Sampai kapan kau mau melamun disitu, he?!" ujar Sasuke, menyadarkan Sakura dari lamunannya. "Cepat angkat payung ini, bawa kedepan sana!"
"Tunggu ... ini berat sekali!" ucap Sakura tekejut, karena langsung dikasih payung yang besar dia limbung kebelakang keberatan.
Tanpa disadari Sakura, ada seorang karyawan yang membawa tumpukkan piring berjalan dibelakanganya, karena Sakura limbung kebelakang menyebabkan si karyawan pembawa piring itu tertabrak Sakura dan kehilangan kesembingan menyebabkan piring-piring yang dibawanya jatuh, pecah berantakan, walau tidak semuanya pecah. Hal itu membuat Sasuke kembali mengeluarkan aura hitamnya, membuat karyawan yang tadi menjatuhkan piring, merinding ketakutan.
"Sa ... ku ... ra ... apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke dengan nada jengkelnya.
"Maafkan aku!" ucap Sakura membungkukan badannya berkali-kali.
.
.
.
Karena insiden itu Sakura dilarang bekerja di dalam, dia disuruh untuk membersihkan meja-meja di luar dan membersihkan jendela-jendela saja.
'Huh, padahalkan aku hanya ingin melihat tattoo di punggungnya saja. Kenapa akhirnya jadi seperti ini?!' pikir Sakura sedih sambil mengelap jendela.
"Hei, apa kamu bekerja di sini?" tiba-tiba saja ada seorang pengunjung yang bertanya padanya.
"Y-ya!" sahut Sakura.
"Kau cantik, mau main bersama kami di pantai tidak?" tawar pemuda pengunjung itu.
'Ah! Jangan-jangan dia orang yang memiliki tattoo itu?' pikir Sakura cepat. "Boleh aku lihat punggungmu?" tanya Sakura menghentikan pekerjaannya.
Tindakannya untuk melihat punggung pengunjung itu terhenti ketika Sasuke berteriak pada dirinya. "Woi! Kalau bekerja jangan malas-malasan!" teriak Sasuke keras, membuat si pengunjung tadi segera pergi meninggalkan Sakura. "Kalau kau hanya ingin bermain-main, sebaiknya kau segera berhenti kerja saja."
"Baik, aku akan berhenti bekerja. Dengan syarat, kau harus memperlihatkan punggungmu dulu padaku. Orang yang aku cari memiliki tato segel dengan tiga lingkaran di pundaknya," ucap Sakura tegas.
"Misalkan aku adalah orang yang kau cari ..." ucap Sasuke menggantung, "Aku juga tak akan pernah mau bersamamu." Ucap Sasuke enteng dan melenggang pergi meninggalkan Sakura.
"Eh ... kau keterlaluan," Sakura tecengang. Lalu berkata "Ah! PADAHAL KAU SUDAH MENCURI CIUMAN PERTAMAKU TAHU!" teriak Sakura keras, membuat semua orang menoleh memandangnya dan Sasuke. "Dasar cowok payah! Tidak bertanggung jawab!" lanjut Sakura mencak-mencak.
Secepat kilat Sasuke membekap mulut Sakura, yang membuat Sakura sulit bernapas. "Dasar bodoh!" desis Sasuke.
"Kau mencurinya, dariku saat memberi napas buatan untukku," lanjut Sakura yang bisa melepaskan tangan Sasuke dari mulutnya, tapi segera ditutup lagi oleh Sasuke.
"Diam bodoh! Ini sedang di depan Cafe!" ucap Sasuke kesal dan segera menyeret Sakura ke pintu belakang cafe.
.
.
"Berapa kali sih, aku harus mengatakannya padamu. Bahwa aku bukan orang yang kau cari," ucap Sasuke sarkastik. "Apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku dan segera menjauhiku?"
"Makanya perlihatkan punggungmu, padaku!" ucap Sakura.
"Kenapa aku harus memperlihatkannya padamu, kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Sasuke.
"Tapi, kan hanya itu bukti bahwa ..." ucap Sakura menggantung. "Eh, iya! Kalau kau tidak mau memperlihatkan punggungmu padaku, bagaimana kalau kau menciumku. Aku tahu bibir yang pernah menciumku itu."
"Baiklah, kalau itu boleh juga!" ucap Sasuke, mulai menghimpit Sakura ke pintu dan juga mulai mendekati wajahnya ke Sakura.
Sakura jadi deg-deg kan sendiri, saat Sasuke mendekatkan wajahnya. Sakura dapat melihat wajah tampan Sasuke dari jarak sedekat ini, membuat tubuh Sakura serasa limbung. Saat Sakura mulai memejamkan matanya, untuk menerima ciuman Sasuke. Pintu dibelakangnya terdorong, membuat Sakura jatuh terduduk di bawah.
"Eh ... aduh?!"
"Sebelum aku menciummu, kau harus menjadi karyawan terbaik dulu di sini, baru aku mau memberikan ciumanku padamu," ucap Sasuke datar sambil menjulurkan lidahnya ke Sakura. "Sudah sana cepat kerja. Hei kau, biarkan gadis ini yang mencuci piring-piring itu." Ujar Sasuke pada seorang karyawan yang sedang mencuci piring.
"Baik!" sahut karyawan itu dengan sedikit takut segera melepaskan piring yang sedang dicucinya.
"A-Apa! Baiklah kalau begitu! Aku akan menjadi karyawan terbaik dalam seminggu ini tunggu saja!" ucap Sakura segera bangkit dan merampas spons, lalu segera mencuci piring-piring yang ada di bak cuci. "Hei, kalian cepat bawakan piring-piring kotornya kesini, biar aku bersihkan." Titah Sakura.
'Lihat saja, aku pasti bisa membuktikan. Bahwa kaulah pangeran Red Eye ku!' pikir Sakura optimis.
.
.
Setelah beberapa jam berlalu, saat Sakura sedang mengeringkan piring yang baru saja di cucinya, seorang karyawan memulai percakapan dengannya, "Kau kuat juga ya," ucap karyawan itu. "Untuk pertama kalinya ada cewek yang tahan sampai sekarang ini."
"Eh ..?!" Sakura terkejut karena karena tiba-tiba di ajak bicara, hampir saja piring yang sedang dipegangnya terjatuh.
"Iya, benar!" sahut salah satu lagi karyawan yang sedang mengupas kentang. "Habis, biasanya Sasuke itu tidak memandang cowok ataupun cewek kalau sudah bekerja."
"Iya, dia selalu memperlakukan karyawan yang lain seperti itu, tidak membeda-bedakan."
"Sebelum kau bekerja di sini, sudah ada yang dikeluarkan secara sepihak, hanya ketahuan melalaikan pekerjaannya."
"Iya, padahal dia hanya berbicara sebentar dengan pacarnya, di Cafe kan?!"
"Benarkah?" tanya Sakura.
"Iya! Dia itu bisa dibilang bos besar kami di sini, dibandingkan dengan bos yang menggaji kami," ujar karyawan yang mengupas kentang tadi lagi. "Jika ada satu saja, yang tidak sesuai dengan kreterianya, dia akan marah-marah. Makanya kami begitu takut padanya."
"Jahat sekali ..." gumam Sakura.
"Ta ... tapi kadang-kadang dia juga suka menolong orang-orang yang akan tenggelam di laut, Loh!" bela seorang karyawan lainnya lagi yang baru saja masuk untuk membawa piring-piring kotor.
"Mana mungkin, dia itu bukan tipikal seorang pahlawan seperti itu!" ujar karyawan yang sedang mengupas kentang, membantah ucapan karyawan tadi.
Sedangkan Sakura sendiri yang hanya menyimak sambil mengeringkan piring terbengong. 'Iya, yah! Mana mungkin pangeran yang aku cari orang yang egois seperti dia ... atau jangan-jangan pangeran yang aku cari tidak ada di sini?!' pikir Sakura.
"Ehm ... A-anu, apakah Sasuke memiliki tato di punggungnya?" tanya Sakura takut-takut.
"Tatto di punggung Sasuke?" ujar karyawan yang sedang mengupas kentang bingung. "Aku tidak pernah melihatnya tuh!"
"Kami tidak pernah melihatnya," ujar karyawan yang lain. "Habis, dia tidak pernah ganti baju bareng-bareng kami, sih!"
"Biasanya dia masih ada di sini sampai para karyawan yang lainnya pulang."
"Begitu, kah?!" tanya Sakura berbinar. Karena dia sudah mempunyai rencana lain untuk membuktikan kalau Sasuke pangerannya atau bukan.
"Iya, bisanya sih begitu, setiap harinya!"
'Yosh!' ucap Sakura kegirangan dalam hatinya. 'Aku akan membuktikannya, waktu Sasuke ganti baju nanti, pasti nanti punggunya kelihatan. Yes!'
.
.
.
Saat semua karyawan sudah pulang semua, Sakura yang memang mempunyai tujuan lain setelah selesai dengan pekerjaannya, langsung mengendap-endap dan bersembunyi di balik jendela kamar ganti karyawan. Setelah semua karyawan yang lainnya mengganti baju mereka. Sakura hanya perlu melihat Sasuke yang mengganti baju, jadi dia tidak perlu melihat karyawan lainnya mengganti baju.
Saat tiba waktunya Sasuke yang mengganti baju, Sakura sudah siap pada posisi untuk mengintip dibalik jendela. Tepat pada saat itu Sasuke mulai membuka bajunya, tapi dalam posisi wajah menghadap jendela, sehingga menyulitkan Sakura untuk melihat punggunya tanpa ketahuan.
Saat Sasuke melepas baju yang dikenakannya, Sakura terbengong. Terbengong karena tubuh Sasuke yang bertelanjang dada itu indah dan begitu gagah, membuat Sakura merona sendiri. Sambil membayangkan jika dirinya ada di dalam dekapan tubuh Sasuke yang bertelanjang dada seperti itu. 'Pasti sangat menyenangkan ...' begitu pikiran Sakura berkecamuk di kepalanya. 'Hais ... dia begitu tampan! Kalau seperti ini, aku benar-benar seperti cewek mesum nih!"
Karena terlalu terhanyut dalam keindahan dan ketampanan wajah Sasuke, Sakura jadi melupakan tujuan awalnya untuk melihat punggu Sasuke. Sekarang Sasuke sudah selesai mengganti pakaiannya. 'Bodoh ... bodoh ... kau memang bodoh Sakura, kau terlalu terpesona, sih padanya!' ucap Sakura pelan sambil menjedot-jedotkan jidat lebarnya kepohon didekat jendela. 'Padahal kau sudah menunggu moment itu selama empat jam ... Haahhh ... kau memang bodoh Haruno Sakura!'
.
.
Sreekk! Blam!
Sasuke berjalan keluar dengan menenteng sebuah kantong hitam besar. Berjalan menuju pantai. Sakura yang melihatnya merasa penasaran dengan apa yang akan Sasuke lakukan pun membuntuti Sasuke secara diam-diam.
'Kantong plastik untuk apa itu? Dan lagi mau apa dia kepantai malam-malam begini?' tanya Sakura pada dirinya sendiri, kebingungan.
.
.
Sesampainya di pantai Sasuke membuka, kantong plastik yang tadi dibawanya lalu memungut sampah-sampah yang berserakan ditepi pantai. 'Huh, hari ini banyak sekali?!' begitu pikir Sasuke.
Clang ...
Clang ...
Sreekk ...
Suara yang timbul dari sampah-sampah yang Sasuke masukkan ke dalam kantong plastik yang tadi dibawanya.
'Bohong ...' pikir Sakura terkejut melihat apa yang sedang Sasuke lakukan sekarang, sambil bersembunyi di balik sebuah batu karang yang cukup besar. 'Masa cowok macem dia mungutin sampah?!'
"He, cewe aneh!" sapa Sasuke dari belakang batu karang, yang sudah berdiri tegap di sana. "Apa sih, yang dari tadi kau lakukan disitu?" tanya Sasuke sinis.
"Eh ..." Sakura tekerjut dengan kemunculan Sasuke yang secara tiba-tiba itu dibelakangnya. "Ma-maaf, a ... ak-aku! Hanya numpang lewat saja, kurasa aku harus pulang sekarang!" ucap Sakura tergagap, segera membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Sasuke.
"He, cewe aneh!" panggil Sasuke lagi, membuat Sakura menghentikan langkahnya. "Jangan katakan pada siapa pun, tentang hal ini ..."
"Ke ... kenapa? Memangnya kenapa? Bukankah yang kau lakukan hal yang baik ..." tanya Sakura takut-takut.
"Aku hanya tidak mau dianggap orang yang cari muka, dengan melakukan hal ini," ujar Sasuke. "Lagi pula aku melakukannya atas kemauanku sendiri, jadi jangan bilang siapa-siapa tentang ini."
Sakura menyungingkan senyumnya, 'Ternyata dia orang yang baik!' ucap Sakura dalam hatinya. "Baiklah! Kalau begitu biar aku bantu, supaya lebih cepat selasai. Bagaimana?"
"Kau, punya rencana terselubung ya?" tatap Sasuke curiga. "Aku tetap tidak akan kasih lihat punggungku biar kau membantuku!"
Sakura mengembungkan pipinya, membuat wajahnya lucu menurut Sasuke. "Ke-kenapa sih kau itu pelit banget sama aku!" ucap Sakura semakin memanyunkan bibirnya. "Jangan-jangan kau itu memang pangeran yang aku cari, ya?!" Sakura mendekatkan dirinya ke Sasuke. "Kau begitu mencurigakan!"
"Hei ... kau ini jangan dekat-dekat denganku! Sana-sana ..." ucap Sasuke kesal terus didekati saat dirinya berusaha menjauh.
"Ayolah ... sedikit saja! Ya ... ya ..." rayu Sakura sambil terus menghimpit Sasuke.
"Kau itu ..." dengan cepat Sasuke menjatuhkan tubuh Sakura kemudian menindihnya ke atas pasir yang lembut di pantai itu. "Terlalu lengah ... bagaimana jika seandainya, jika orang yang kamu cari itu bukan orang yang baik?!"
"Tung ... Tunggu dulu!" ujar Sakura panik saat tubuh Sasuke berada di atasnya, dan dia bisa melihat wajah Sasuke lagi dari jarak sedekat ini lagi, membuat jantungnya berdegup dengan cepat.
"Yang namanya cowok itu pasti mengincar cewek polos seperti dirimu itu!" ucap Sasuke semakin mendekatkan wajahnya lagi seperti yang tadi siang dilakukannya pada Sakura.
"Le ... le-pas ..." ucap Sakura semakin ketakutan. 'Ukh ... mata itu ... aku takut!' ucap Sakura dalam hatinya.
Diluar dugaan Sakura, Sasuke menjauhkan wajahnya dan dia malah memencet hidung Sakura kencang dan berkata, "Sudah menyerah saja, lebih baik kau pulang sana ke kotamu."
"Ka .. kau mengerjaiku, aku sampai takut sekali tau!" ucap Sakura masih dengan dentuman jantungnya yang belum mereda.
"Ayo pulang! Sudah larut nih!" ucap Sasuke tanpa memperdulikan ucapan Sakura tadi. "Hei, apa yang kau lakukan. Ayo cepat ... nanti kutinggal loh!"
"Eh?!" tanpa banyak bicara lagi Sakura segera berlari mengejar Sasuke yang sudah berjalan jauh di depannya.
'Aku sudah tetapkan, aku tak boleh seperti ini terus. Aku harus berusaha lebih keras lagi untuk menemukan pangeranku! Aku tak boleh menyerah disini, tunggu aku pangeran Red Eye-ku!' sebuah tekad kembali terbentuk, membuat Sakura semakin berjuang untuk menemukan pangerannya itu.
.
.
.
TBC
Terima kasih sudah mau membaca sampai disini ... silahkan tinggalkan Revie, Kritik, Saran, dan Kekurangan dari fic ini.
Dan terima kasih buat :
.
Yoruichi Shihouin Kuchiki
Ucucubi
Haruno Yuna
Rizuka Sasusaku Hanayuuki
Go Mio
Dijah-hime
Fiyui-chan
SRZ
