Disclaimer: Detective Conan milik Gosho Aoyama
Sore itu hujan turun deras di Beika. Hanya sedikit orang yang berlalulalang di jalan. Umumnya mereka berjalan pelan karena takut terciprat air hujan. Namun tidak dengan anak berkacamata ini. Ia terus berlari dengan ransel besar dipunggungnya.
Flashback
"Hee? Pindah ke rumah hakase?"
"Hm. Otousan dan Okasan tidak enak pada Ran-neechan dan Ojii-san. Oleh karena itu mereka menyuruhku pindah ke rumah hakase. Maaf telah merepotkan." Conan membungkukkan badan.
"Kau tidak merepotkan, Conan-kun. Berkatmu, aku tidak kesepian."
"Sekarang kan sudah ada Shinichi-niichan, jadi Ran-neechan tidak akan kesepian lagi."
Shinichi menatap Conan dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Sudah ya, Ran-neechan. Aku mau berkemas dulu," ujar Conan seraya berlari ke kamarnya. Shinichi mengikutinya dari belakang.
"Apa perlu bertindak sejauh itu?"
Conan menoleh. "Bukan 'sejauh itu'. Tapi inilah yang seharusnya kulakukan. Kalau aku disini, akan sulit melupakannya. Oleh karena itu.."
"Baiklah, aku mengerti. Ini yang terbaik untuk kita. Tapi.. kau tidak dendam padaku kan?" goda Shinichi.
"Tentu tidak, Shinichi-niichan. Bahagiakan dia."
Setelah berkata begitu, Conan berdiri sambil membawa ranselnya.
"Mungkin aku tidak akan berkunjung kesini cukup lama. Katakan pada Ran agar tidak usah khawatir," ucap Conan yang menundukkan kepalanya.
"Baiklah."
Conan segera keluar kamar, yang diikuti Shinichi.
"Titipkan salamku untuk Ojii-san. Sampaikan ucapan terimakasihku padanya juga ya, Ran-neechan."
"Lho, kau mau ke rumah hakase sekarang, Conan-kun? Diluar hujan deras. Nanti.."
"Tak apa, Ran-neechan. Sudah ya!"
Tanpa menghiraukan panggilan Ran, Conan terus berlari.
Flashback end
Dan disinilah ia, berlari ditengah hujan yang menghujamnya terus-menerus. Tak peduli tatapan orang-orang. Pikirannya kosong. Yang ia inginkan hanya berlari.
"Ai-kun, air panasnya sudah siap."
Ai menoleh. "Baik."
Kemudian ia kembali memperhatikan hujan melalui jendela. Dari kejauhan, ia melihat seseorang sedang berlari ke arah rumahnya. Semakin lama, sosok itu semakin jelas.
"Edogawa-kun?"
Dengan nafas memburu, Conan berdiam diri di depan rumah hakase. Beberapa detik kemudian, Ai keluar sambil membawakan payung.
"Bodoh. Apa-apaan kau ini?" omel Ai seraya menarik Conan masuk ke rumah. Nada khawatir terdengar jelas dari suaranya.
Setelah sampai didalam, Ai segera melepas tas Conan dan menyuruhnya mandi. Conan pun sepertinya tidak mempunyai tenaga untuk melawan. Sementara itu, Ai segera membuatkan 3 cangkir coklat panas.
"Ai-kun.." hakase menepuk bahu gadis yang telah ia anggap sebagai anaknya itu.
Ai menghela nafas.
"Dia pasti depresi karena tidak bersama wanita itu. Dan penyebab depresinya adalah aku."
"Jangan menyalahkan dirimu, Ai-kun. Conan-kun sudah tidak menyalahkanmu lagi."
"Tapi.."
Terdengar pintu kamar mandi terbuka. Conan keluar dari kamar mandi. Pembicaraan terpaksa dihentikan.
"Hei, apa itu coklat panas?"
"I-iya," jawab hakase tergagap.
"Bolehkah aku minta satu? Aku butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuh."
"Silakan."
Nada bicara Conan seperti tidak terjadi apa-apa. Ai mengerutkan keningnya.
"Terimakasih," ucap Conan seraya beranjak pergi.
"Edogawa-kun, tunggu aku di kamar."
"Ada hal penting yang ingin kau bicarakan, huh? Kenapa tidak disini saja?"
"Edogawa-kun!" Ai menatapnya tajam.
Tatapan itu membuat Conan ngeri sehingga akhirnya Conan menjawab, "Baiklah."
"Sebenarnya kenapa kau ini?"
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan bercanda."
"Aku memang ti.."
"Edogawa-kun!" sergah Ai tak sabar.
Conan mematung kaget, lalu tersenyum sedih.
"Aku hanya ingin melupakannya. Apakah itu salah?"
Mendengar suara lirih Conan, Ai jadi merasa bersalah.
"Tidak, namun caramu salah. Kau bisa menyakiti dirimu sendiri," ucap Ai lembut.
Conan menatap lurus mata biru Ai. Belum pernah ia mendengar Ai bicara begitu lembut.
Setelah menghela nafas, Conan kembali bicara.
"Mulai sekarang aku akan tinggal disini. Cara ini benar kan?"
"Apa? Kau akan tinggal disini?" tanya Ai kaget.
"Ya. Hanya ini cara yang paling tepat untuk melupakannya. Aku harus berada jauh darinya."
"Jadi ranselmu berisi pakaian?"
"Ya."
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Namun keheningan itu terusik dengan suara Conan bersin.
"Apa kubilang? Kau sakit kan?" gerutu Ai seraya memegang dahi Conan.
"Sebentar, akan kuambilkan obat." Baru saja Ai akan melangkahkan kakinya keluar kamar, Conan menahan tangannya.
"Ku akui caraku hujan-hujanan ini salah. Terimakasih telah mengkhawatirkanku."
Conan berpikir, Ai akan tersenyum manis dan berkata "sama-sama". Namun dugaannya salah besar.
"Siapa yang menghawatirkanmu, tantei-san? Aku memarahimu karena jika kau sakit, kau akan merepotkanku, seperti sekarang ini."
Conan hanya bengong mendengar ucapan Ai. Begitu sadar, ia langsung memasang tampang 'Oi-oi' nya.
"Bercanda," ujar Ai seraya tersenyum.
Entah kenapa wajah Conan memerah melihat senyum itu.
"Lebih baik lepaskan tanganku agar kau bisa segera ku obati."
Conan tersadar dari lamunannya, lalu melirik kearah tangannya. Dengan segera ia melepaskan tangan Ai yang daritadi digenggamnya. Ai pun segera keluar kamar mengambil obat.
'Sial, apa-apaan dia? Setelah mengomel langsung menunjukkan senyum seperti itu,' gerutu Conan dalam hati.
'Tapi itulah Haibara yang kukenal.' Tanpa sadar, Conan tersenyum. Perasaannya sudah jauh lebih baik sekarang.
"Rupanya kehujanan bisa membuatmu menjadi gila, tantei-san?" tanya Ai yang sudah berada diambang pintu sambil membawa sebotol obat dan 2 mangkuk berisi air.
"Mungkin," jawab Conan enteng.
Ai menutup pintu dibelakangnya, dan duduk ditepi tempat tidur.
"Buka bajumu!" perintah Ai seraya memeras saputangan yang telah dicelupkan ke salah satu mangkuk.
"Ma-mau apa kau?"
Ai meliriknya tajam.
"Dasar detektif mesum! Aku hanya akan mengurapi tubuhmu dengan air jeruk ini. Air jeruk dapat mempercepat menurunkan panas. Cepat buka bajumu, nanti demam mu semakin parah."
Conan tidak bisa mengelak lagi. Ia membuka bajunya tanpa komentar. Ai pun mulai mengurapi punggung Conan dengan air jeruk hangat. Rasa nyaman menjalari tubuhnya. Ia merasa bebannya berkurang.
"Berbalik."
Conan tersadar dan berbalik menghadap Ai. Setelah selesai, Ai mengurapi tubuh Conan dengan air hangat, lalu memberinya obat.
"Pakai lagi bajumu. Pakailah jaketku agar kau cepat berkeringat dan sembuh."
Setelah berkata begitu, Ai keluar kamar untuk mengembalikan mangkuk dan obat.
'Terkadang Haibara terlihat seperti iblis dengan kata-kata sarkastiknya. Tapi terkadang ia terlihat seperti malaikat dengan sisi hangatnya. Aargh.. Aku benar-benar tidak mengerti sifat Haibara sebenarnya.'
Karena tidak mau ambil pusing soal itu, Conan mengambil jaket Ai dan memakainya, lalu berbaring di tempat tidur.
'Tunggu. Jika hakase tidur di tempat tidur itu dan aku disini, bagaimana dengan Haibara? Tidak mungkin ia tidur di sofa. Jangan-jangan..'
"Hei, jangan merasa tempat tidur itu milikmu sendiri. Geser, beri aku tempat," ujar Haibara yang baru masuk.
'Yappari.'
NB: Mungkin ide fanfic ini terkesan mirip dengan fanfic Another Me milik Byzan. Tapi semua fanfic yang telah saya buat di akun FB Fransisca Eufrasia 'Indhi' Puspitasari memang basicnya seperti ini. Silakan cek note saya jika berkenan membaca ^^ Akhir kata, review please.
