Disclaimer: Detective Conan milik Gosho Aoyama
Di sekolah, Conan masih sering melamun. Namun Ai mencoba menegurnya setiap ia melamun.
"Oi Conan, kelihatannya kau tidak semangat belakangan ini? Kau kurang makan ya?" tanya Genta.
"Kalau ada masalah, cerita saja pada kami. Tak usah sungkan, Conan-kun," ucap Ayumi yang diikuti anggukan Mitsuhiko.
Conan terkejut dengan perhatian teman-temannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku," ucap Conan seraya tersenyum menenangkan.
"Hei, bagaimana kalau nanti kita bermain sepak bola?" tawar Genta.
"Genta-kun! Conan-kun sedang kurang tidur. Jangan diajak main bola!" omel Ayumi.
"Tapi.."
"Kapan kita bermain bola? Pulang sekolah?"
Semua menoleh ke arah Conan.
"Hei, tidak adakah yang menjawab pertanyaanku?" tanya Conan sekali lagi.
"Ya, pulang sekolah," jawab Genta bersemangat.
"Baiklah," ujar Conan seraya berlalu seiring berbunyinya bel tanda masuk.
Ai hanya menatapnya dari jauh; berharap dapat melakukan sesuatu untuk partnernya itu.
"Gol! Kerja bagus, Genta-kun," puji Mitsuhiko.
Sedangkan Genta hanya mengusap-usap belakang kepalanya yang tak gatal.
"Maaf ya, Conan-kun," ucap Ayumi yang bertugas sebagai kiper, dengan nafas terengah-engah.
"Tidak apa-apa. Kalah atau menang adalah hal yang biasa. Oia, kalau kau capek, istirahatlah dulu. Biar Haibara yang menggantikanmu."
Ayumi menurut dan duduk ditepi lapangan.
"Ai-chan, kau yang menemani Conan-kun dulu ya? Aku capek."
Ai pun tidak bisa menolak permintaan gadis kecil yang terihat sangat lelah itu.
"Kewalahan menghadapi 2 anak SD, hhm?"
Conan menoleh dengan tampang 'Oi-Oi' nya.
"Yang benar saja. Mereka berdua sedangkan aku 'sendiri'. Kehadiran Ayumi-chan sebenarnya tidak membantu sama sekali," kilah Conan.
Namun Ai tau. Sebenarnya bisa saja Conan mengalahkan Genta dan Mitsuhiko sendirian, jika suasana hatinya sedang baik. Tapi sepertinya permainan ini sedikit meringankan bebannya.
"Kuharap kau bisa menjadi kiper yang baik. Akan kubalas mereka," ujar Conan bersemangat.
"Jangan meremehkanku."
Tak terasa hari sudah gelap. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1 untuk Conan dan Ai. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Hei, lukamu tak apa-apa?" tanya Conan yang melihat Ai jalan terpincang-pincang.
"Harusnya kau meminta maaf padaku, karena demi kemenanganmu kakiku sampai luka begini," gerutu Ai.
Conan diam sejenak, lalu berjongkok didepan Ai.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ai bingung.
"Sebagai permintaan maaf. Cepat, naiklah ke punggungku. Lukamu harus segera diobati."
Ai tersenyum, lalu melingkarkan tangannya ke leher Conan.
"Permintaan maaf diterima."
"Tadaima," seru Conan seraya masuk ke rumah hakase, lalu mendudukkan Ai di kursi.
"Akhirnya kau pulang juga, Conan."
Suara lelaki itu sangat tidak asing bagi Conan, sehingga ia menoleh dengan cepat.
"Otousan?"
"Jadi anak ini yang tidur bersama Ai-chan dibawah satu selimut yang sama dengan jarak yang sangat dekat?"
Suara wanita ini juga tak asing.
"Okaasan?"
Yukiko tersenyum seraya mendekati anaknya itu.
"Kenapa kalian bisa disini?"
"Dasar tidak sopan. Begitukah caramu menyambut orangtuamu yang datang dari jauh?" omel Yukiko seraya menekan kepala Conan.
"Baiklah, aku minta maaf. Tapi.."
"Ai-chan! Kakimu kenapa?" pekik Yukiko. Ia segera berlutut dan memeriksa kaki Ai.
"Tidak apa-apa, Kudo-san. Aku tadi terjatuh saat main bola."
Yukiko langsung melirik Conan.
"Sebentar, biar ku ambilkan obat dan air hangat."
"Eh, tidak usah Kudo-san."
Yukiko tidak menghiraukan ucapan Ai dan terus berjalan menuju kotak P3K. Setelah mengambilnya, Yukiko menyerahkan obat dan air hangat itu pada Conan.
"Pasti kau penyebab Ai-chan terluka. Sekarang kau harus bertanggung jawab."
Ai tertawa kecil melihat perubahan mimik Conan.
"Ngomong-ngomong, kemana hakase?" tanya Ai.
"Dia sedang ke tempat temannya untuk mendiskusikan konferensi yang akan diadakan minggu depan," jawab Yusaku.
"Hei, pasti kalian lapar kan? Mau makan malam apa?" tanya Yukiko.
"Tidak, Kudo-san. Biar aku yang memasak. Kalian pasti capek," cegah Ai sambil berusaha berdiri, namun Conan segera menariknya kembali.
"Biar saja okaasan yang memasak. Lukamu belum diobati."
Yukiko tersenyum, lalu menuju dapur. Yusaku mengikutinya dari belakang.
"Hei, orangtuamu baru saja pulang dari London. Perjalanan yang ditempuh tidak sebentar. Dan sekarang kau membiarkannya memasak?" omel Ai.
"Kalau kakimu tidak luka, aku akan melarang okaasan memasak. Tapi ini lain cerita."
"Jadi kau lebih mementingkan aku daripada orangtuamu sendiri, hhm?"
'Dasar! Ini sebagai tanda terimakasihku karena kemarin kau telah merawatku tau,' batin Conan.
"Sudah, jangan banyak bicara."
Conan segera membasuh luka Ai dengan air hangat.
"Auw.. Pelan-pelan."
"Maaf."
Diam-diam Yusaku dan Yukiko mengintip dari dapur.
"Sepertinya kehadiran anak itu membuat suasana hati Conan membaik," ujar Yusaku.
"Ya. Dan sepertinya kelak, dialah yang akan mengisi hati Co-chan."
Suasana makan malam itu sangat ramai. Mereka mengobrol dan tertawa bersama.
'Beginikah rasanya punya keluarga?' ucap Ai dalam hati seraya tersenyum.
"Ai-chan?" tegur Yukiko.
Ai tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum ke arah Yukiko.
"Senyumnya manis ya?" bisik Yusaku seraya menyenggol lengan Conan.
"Sangat," jawab Conan yang masih terpaku pada wajah Ai. Begitu sadar dengan ucapannya, wajah Conan langsung memerah. Yusaku tertawa melihat tingkah anaknya itu.
"Seleramu tinggi juga."
"Otousan!"
Yukiko dan Ai akhirnya menoleh.
"Sepertinya kalian seru sekali. Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Yukiko.
"Ti-tidak. Bukan apa-apa," jawab Conan tergagap.
Yusaku melihat jam tangannya.
"Hei, ini sudah malam, ayo pulang. Lagipula kita belum mengunjungi Shinichi."
"Ah, kau benar. Setelah membereskan ini, kita pulang," ujar Yukiko seraya membawa piring-piring kotor ke dapur.
Ai turun dari kursi sambil membawa gelas-gelas bekas mereka minum.
"Ai-chan, kakimu masih sakit kan? Kau duduk saja."
"Sudah tidak apa-apa, Kudo-san. Aku mau membantu."
Yukiko tersenyum dan membiarkan Ai membantu.
"Bagaimana keadaan Co-chan setelah kejadian itu?" tanya Yukiko tiba-tiba.
"Dia.. stres berat dan mengurung diri di kamar hakase selama 3 hari."
Pandangan Ai kini menerawang jauh.
"Apa yang dilakukan Co-chan terhadapmu?"
Ai tersenyum.
"Dia memarahiku dan tidak mau bicara padaku. Namun 3 hari kemudian, saat ia keluar dari kamar hakase, ia malah meminta maaf padaku. Aku heran dengan sikapnya itu. Aku yang salah, tapi dia juga minta maaf."
Yukiko tersenyum.
"Mungkin dia sadar karena telah memarahimu yang sudah bersusah payah membuat penawar itu."
"Tetapi seharusnya dia masih membenciku. Aku telah menghancurkan hidupnya. Kini dia tidak bisa bersama wanita yang dicintainya. Maaf, Kudo-san. Aku telah membuatnya menderita. Mungkin memang sebaiknya aku tidak ada di dunia ini."
Yukiko berlutut dan mengangkat wajah Ai yang menunduk.
"Kalau kau tidak ada, Shin-chan akan tetap menjadi pribadi yang angkuh dan sombong. Tidak akan ada pengalaman bersama Shounen Tantei yang dapat merubah sikapnya. Dan kau bilang kau telah menghancurkan hidupnya? Coba pikir, betapa beruntungnya dia memiliki partner yang selalu ada disampingnya, mengerti dirinya, jenius, plus cantik?"
Ai tersenyum.
"Mulai sekarang jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Jalani hidup dengan kebahagiaan karena semua orang berhak untuk bahagia."
Ai mengangguk, kemudian memeluk Yukiko. Yukiko agak kaget dengan tindakan Ai ini, namun kemudian ia membalas pelukan Ai.
"Terimakasih banyak, Kudo-san."
"Sama-sama, Ai-chan. Nah, sekarang ayo kita ke depan. Takutnya mereka curiga jika kita lama di dapur."
Sepasang mata yang daritadi menguping itu pun segera beranjak dari tempatnya.
"Ayo."
Yukiko dan Ai berjalan ke ruang tamu.
"Kalian lama sekali. Apa sih yang kalian lakukan?" ujar Conan pura-pura tidak tau.
"Hanya obrolan kecil," jawab Ai santai.
"Sudah ya, Ai-chan. Kami harus ke sebelah rumah untuk menengok Shin-chan. Dan Co-chan.."
"Lebih baik dia disini menemani Ai," sahut Yusaku.
Conan hanya diam.
"Jaga Ai-chan baik-baik. Malam ini hakase menginap di rumah temannya, jadi kau bisa tidur di tempat tidur hakase; tidak perlu berbagi tempat tidur lagi dengan Ai-chan," goda Yukiko.
Wajah Conan langsung memerah.
"Okaasan!"
Yukiko tertawa.
"Sudah ya, Ai-chan, Co-chan. Jaga diri baik-baik," ucap Yukiko seraya melambaikan tangan.
Ai tersenyum dan melambaikan tangan.
"Padahal hanya ke sebelah rumah, tapi pesannya seperti mau pergi jauh," cibir Conan.
"Mungkin sebenarnya pesan ibumu hanya ditujukan untukku, agar selalu waspada terhadap detektif mesum sepertimu," ucap Ai seraya tertawa.
Awalnya Conan memasang tampang 'Oi-oi' nya. Namun melihat Ai tertawa, bibirnya tak bisa ditahan untuk tersenyum.
"Hei, kenapa kau berbaring disitu?" tanya Conan saat Ai tiba-tiba berbaring di lantai teras rumah.
"Aku ingin melihat bintang. Hari ini sedang banyak bintang, bahkan rasi bintang bermunculan. Setidaknya itulah yang kubaca di internet."
Conan pun ikut berbaring. Langit yang gelap itu memang dihiasi banyak bintang.
"Lihat, rasi bintang Sagitarius!" Conan menunjuk langit belahan utara.
"Hm. Dan itu rasi bintang Scorpio." Ai menunjuk langit belahan barat.
Kini keheningan menyelimuti mereka; sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bintang jatuh!" tunjuk Conan.
Ai mengarahkan pandangannya bintang jatuh itu, lalu memejamkan mata dan meminta permohonan. Conan juga ikut memejamkan mata.
"Serius sekali? Memangnya apa yang kau minta?" tanya Conan ketika Ai membuka mata.
"Kau sendiri, apa yang kau minta?"
"Hei, kan aku bertanya lebih dulu."
Ai menghela nafas.
"Aku berharap dapat memperbaiki segala perbuatanku yang telah menyusahkan oranglain, terutama padamu. Jika saja waktu dapat diulang kembali..."
"Sudah kubilang, jangan menyalahkan dirimu lagi."
"Bukan menyalahkan, tapi menyesali perbuatan. Dan kalau bisa aku ingin sekali memperbaikinya. Karena.. aku ingin kau bahagia." Suara Ai terdengar sangat lirih ketika mengucapkan kalimat terakhir.
"Kau tau apa permintaanku tadi?" tanya Conan tiba-tiba.
Ai hanya menggeleng.
"Kebahagiaan. Aku ingin kita bahagia. Aku, kau, Ran, Shinichi, okaasan, otousan, hakase, ojiisan, dan semua orang terdekat kita. Kita semua berhak bahagia. Tapi tentunya kita juga harus berusaha untuk meraih kebahagiaan, karena sebenarnya kebahagiaan itu kita sendiri yang membuatnya."
Ai tercengang mendengar semua ucapan Conan tersebut. Kemudian ia tersenyum.
"Ya, semua orang berhak bahagia, dan kebahagiaan itu diri sendiri yang membuatnya."
Conan ikut tersenyum.
"Mulai sekarang kita harus berusaha untuk meraih kebahagiaan."
Beberapa detik mereka larut dalam keheningan. Tiba-tiba Ai berdiri.
"Hei, mau kemana kau?"
"Tidur. Oh iya, terimakasih atas ceramah 'kebahagiaan' nya, tantei-san. Oyasumi."
Ai pun masuk kedalam rumah.
"Oi-oi. Matte yo!"
Review please ^^
