Disclaimer: Detective Conan milik Gosho Aoyama

Sekitar jam 7 pagi, Conan terbangun karena sinar matahari yang menembus tirai kamarnya. Ia melihat ke tempat tidur diseberangnya. Ai masih tertidur disana. Mengina misinya, Conan membangunkan Ai. Perlahan Ai membuka matanya.

"Ohayou, Haibara."

"Ohayou," balas Ai seraya menguap.

"Apa kegiatanmu hari ini?"

Ai terlihat berpikir sebentar.

"Hanya membersihkan rumah hakase," jawab Ai.

"Kalau begitu ayo cepat kerjakan. Aku akan membantumu," ujar Conan semangat, lalu keluar kamar.

Ai hanya diam ditempat dan mengerutkan keningnya.

"Hei, kenapa diam saja? Ayo mulai," ajak Conan seraya menarik tangan Ai.

"Co-chan, kau tidak boleh kasar pada Ai-chan," tegur Yukiko yang tiba-tiba sudah berada di dalam rumah.

"Okaasan?"

"Daritadi okaasan bunyikan bel tidak ada yang keluar. Akhirnya okaasan masuk saja," jawab Yukiko santai.

"Anda membawa sesuatu, Kudo-san?" tanya Ai.

"Ah, ini aku bawakan sarapan. Jadi Ai-chan tidak usah memasak."

Conan tersenyum.

"Bagus. Arigatou, okaasan. Berarti kami tinggal membereskan rumah."

"Membereskan rumah? Aku juga akan membantu."

"Ayo kita sarapan," ajak Conan.

"Hari ini kalian ada acara apa?" bisik Yukiko pada Ai.

"Entahlah, tapi kurasa tidak ada," jawab Ai yang sama bingungnya dengan Yukiko.

Yukiko tersenyum simpul.

"Ikuti saja permainannya. Mungkin dia punya ide bagus," ucap Yukiko seraya mengedipkan matanya.

"Tapi entah kenapa aku memiliki firasat buruk pada anakmu itu, Kudo-san."

Suara tertawa Yukiko membuat Conan yang sudah duduk di ruang makan penasaran.

"Oi-oi. Apa sih yang kalian bicarakan? Ayo makan."

"Rupanya kau ketularan Kojima-kun, huh?"

"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu."

Lalu mereka bertiga menyantap sarapan. Setelah selesai, mereka membereskan rumah hakase yang cukup berantakan itu.

"Pantas perasaanku tidak enak," komentar Ai saat tiba di Tropical Land.

"Oh ayolah, Haibara. Sekali-sekali kita harus bersenang-senang."

Ai menghela nafas.

"Inikah yang kau sebut dengan usaha meraih kebahagiaan?"

"Er.. Begitulah."

Ai diam sejenak.

"Baiklah, ayo kita berusaha bersama," ucap Ai seraya tersenyum.

Conan yang tidak menyangka reaksi Ai tersebut hanya membeku, namun sedetik kemudian ia ikut tersenyum.

"Ayo!" Conan berlari seraya menarik tangan Ai.

"Bisakah kau pelan-pelan?" omel Ai yang merasa tangannya sakit.

"Kalau tidak cepat, nanti antriannya penuh. Apalagi ini hari minggu."

Benar saja, antrian di wahana rollercoaster sudah sangat panjang. Setelah menunggu 30 menit, akhirnya giliran mereka tiba.

"Menjeritlah sesukamu."

Ai menatap Conan bingung.

"Untuk apa?"

"Mengeluarkan beban terpendam selama ini. Sekarang sudah tidak ada lagi organisasi yang membuatmu tertekan. Jika ingin bahagia, tentu kita harus melupakan beban dimasa lalu kan?"

Ai terdiam, lalu mengangguk.

"Tapi kau juga harus berteriak. Karena yang ingin mendapatkan kebahagiaan bukan cuma aku kan?"

Conan mengangguk setuju.

"Melegakan, bukan?" tanya Conan begitu turun dari rollercoaster.

"Ya, sangat," ucap Ai seraya tersenyum.

Conan ikut tersenyum, namun tiba-tiba ekspresinya berubah.

"Tapi tenggorokanku sakit," keluh Conan seraya meraba lehernya.

"Bukankah itu idemu untuk berteriak?" sindir Ai.

"Memang sih. Ya sudahlah, ayo beli minuman," ajak Conan seraya menarik tangan Ai.

"Sepertinya kau senang sekali menggenggam tanganku," sindir Ai.

"Entahlah, aku hanya merasa pas."

Ucapan yang tak terduga ini sukses membuat wajah keduanya memerah. Dalam hati Conan merutuki ucapan spontannya barusan. Keheningan menyelimuti mereka, namun tidak satupun yang berinisiatif menarik tangan masing-masing karena sebenarnya mereka merasa nyaman. Sampai akhirnya tiba di kios penjual minuman, Conan memecah keheningan.

"Mau minum apa?"

"Lemon tea."

"Lemon tea 2!" Conan memesankan minuman.

"Conan-kun? Ai-chan? Sedang apa kalian disini?"

Suara lembut itu membuat Conan dan Ai menoleh. Ternyata Ran dan Shinichi juga ke Tropical Land. Ai melirik Conan dengan cemas; takut suasana hatinya memburuk. Namun ternyata Conan malah tersenyum.

"Kami berekreasi seperti yang Ran-neechan dan Shinichi-niichan lakukan," jawab Conan.

Shinichi tersenyum simpul.

"Hanya berdua, huh?" goda Shinichi seraya mengacak rambut Conan.

"Shinichi! Maaf ya Conan-kun, Ai-chan. Kami duluan!" ucap Ran seraya melambaikan tangan dan menarik Shinichi menjauh.

Conan tersenyum dan membalas lambaian tangan Ran.

"Ini minumannya."

"Terimakasih," ucap Conan seraya memberikan minuman ke Ai.

Setelah itu mereka mencari kursi untuk duduk sebentar.

"Aku berhasil kan?" tanya Conan tiba-tiba.

Ai mengerutkan kening, namun sesaat kemudian ia mengerti.

"Baiklah, ku akui kau hebat, Edogawa-kun."

"Bukan aku yang hebat, tapi kau. Kau yang membantuku untuk melupakan Ran."

Ai kembali mengerutkan keningnya.

"Karena kau telah membantuku, aku juga akan membantumu."

"Bagaimana caranya?" tantang Ai.

"Bagaimanapun caranya akan ku usahakan," jawab Conan serius.

Untuk kesekian kalinya Ai terkejut dengan ucapan Conan.

"Aaaaa.." Suara jeritan terdengar. Conan dan Ai segera berlari ke sumber suara. Sesampainya di TKP, mereka bertemu Shinichi dan Ran. Shinichi dan Conan lalu bekerjasama memecahkan kasus tersebut. Tidak sampai setengah jam, pelaku pun tertangkap. Mereka kembali melanjutkan acara rekreasi masing-masing.

"Sekarang mau kemana lagi kita?"

Mendengar pertanyaan Ai tersebut, Conan menyeringai senang. Pertanyaan itu ia artikan bahwa ia yang akan memilih wahana selanjutnya. Ai pun cepat-cepat menarik kembali ucapannya.

"Ngg.. Sebaiknya kita ke.."

"Tidak. Barusan kau bertanya padaku kan? Jadi, aku yang akan memilih."

Setelah berkata begitu, Conan menggenggam tangan Ai dan menariknya ke wahana yang ia pilih.

"Kau yakin kita akan menaiki wahana ini?" tanya Ai untuk kesekian kalinya.

"Yakin."

Tidak puas dengan jawaban Conan, Ai meliriknya tajam.

"Oh, ayolah Haibara. Komedi putar ini tidak terlalu buruk kok," bujuk Conan.

"Aku yakin tidak ada yang lebih buruk dari menaiki kuda-kudaan yang hanya berputar naik-turun ini."

"Bukan hanya anak kecil yang menaiki wahana ini. Orang dewasa pun iya. Bahkan banyak anak remaja yang menaikinya bersama pacar mereka."

"Jangan samakan aku dengan mereka," tukas Ai.

Pintu antrian pun terbuka. Orang-orang yang telah mengantri segera masuk ke arena permainan.

"Ayo!" Conan menarik tangan Ai. Ai berusaha melepaskan tangannya namun sia-sia.

"Cobalah menjadi anak kecil normal. Percaya padaku, tidak seburuk yang kau kira," bujuk Conan.

Ai akhirnya pasrah dan mengikuti Conan. Mereka menaiki kuda yang bersebelahan.

"Bagaimana, lumayan kan?"

"Kalau bukan bersamamu, aku tidak akan mau naik wahana ini."

Conan diam sejenak, lalu berkata,

"Karena sekarang kau bersamaku, kau harus mencoba wahana ini," ucap Conan menyeringai.

Ai tidak menghiraukan ucapan Conan. Ia sibuk memperhatikan seorang anak didepannya yang tertawa lepas bersama ayah dan ibunya.

"Hei!" Conan menepuk bahu Ai.

"Apa lagi, Edogawa-kun?" tanya Ai dengan nada kesal.

"Er.. tidak."

Begitu mereka sampai dirumah, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Conan dan Ai langsung menghempaskan diri di sofa.

"Hari yang sangat melelahkan," ujar Conan.

"Bukannya kau yang mengajak menonton pesta kembang api sampai.."

"Tapi juga sangat menyenangkan," sahut Conan.

Ai diam sejenak, lalu tersenyum.

"Yaah, tidak buruk juga jalan-jalan bersamamu."

"Kalau begitu kita harus sering-sering jalan bersama," ucap Conan sambil tersenyum.

"Siapa bilang aku mau jalan-jalan bersamamu lagi?" ujar Ai seraya melirik Conan.

"Kita lihat saja nanti," balas Conan yang juga melirik Ai.

Kemudian Conan beranjak ke dapur untuk mengambil minuman. Begitu kembali ke ruang tamu, ternyata Ai sudah tertidur. Tanpa sadar, Conan tersenyum.

'Sepertinya dia benar-benar kelelahan,' ucap Conan dalam hati.

Kemudian Conan duduk disebelah Ai dan menyandarkan kepala Ai dipundaknya.

Esok paginya, Yukiko yang berniat mengantarkan sarapan menggoda mereka habis-habisan karena posisi tidur mereka yang romantis.

Author's note: Saya minta maaf sebesar-besarnya karena update yang sangat lama. Baru 2 bulan masuk sekolah, saya udah dihujani banyak tugas dan ulangan *curcol*. Ehm, kali ini saya mencoba untuk membalas review. Kayaknya banyak permintaan maaf dari saya nih. Let's see.

Wawa: Maaf updatenya lama. Makasih karena udah penasaran. Hehe..

Azulgrana: Belum. Maaf updatenya lama.

Byzan: Sebenarnya hampir semua fic yang saya buat sejak 2 tahun lalu mendapat komentar yang sama; alurnya kecepetan.*curcol* Tapi kalau fic yang ini saya memang sengaja untuk mempercepat karena jika bertambah panjang, saya takut tugas-tugas sekolah bertambah banyak sehingga updatenya kelamaan lagi. Maaf ya.

DarkXDestiny: Kukira ancaman hakase itu sebagai bentuk perhatiannya pada Ai, yang dianggapnya anak sendiri. Lagipula ancaman itu untuk mengingatkan aja. Terlalu sappy ya? Untuk selanjutnya akan saya coba perbaiki.

Faizshade: Makasih atas dukungannya. Maaf updatenya lama. Untuk chapter selanjutnya akan diusahakan untuk lebih cepat update.

Kalhusna: Hmm.. kalau untuk tokoh lain kayaknya gak saya munculkan dulu. Soalnya pasti fic ini akan semakin panjang. Maaf ya.

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih pada kalian yang bersedia membaca, apalagi mereview fic ini. Akhir kata, review please ^^