Disclaimer: Detective Conan milik Gosho Aoyama

Di hari pertama liburan musim dingin ini, Agasa Hakase mengajak Shounen Tantei pergi ke tempat ski. Mereka sangat gembira menyambut ajakan ini; kecuali 2 remaja yang terperangkap dalam tubuh kecil mereka.

"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Conan.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," jawab Ai.

Conan yang tidak puas dengan jawaban Ai langsung memastikannya sendiri. Ia menempelkan dahinya ke dahi Ai.

"Kau demam," ucap Conan seraya menatap mata Ai.

Ai yang merasa risi dengan posisi itu, segera mendorong Conan menjauh.

"Aku tidak apa-apa."

"Conan-kun, Ai-chan, ayo kita meluncur dari atas bukit itu!" teriak Ayumi seraya menunjuk bukit yang lumayan tinggi.

Ai segera beranjak menghampiri Ayumi untuk menghindari Conan. Namun ternyata Conan mengikutinya dari belakang dan tidak berkata apa-apa lagi.

"Sugoi~" pekik Genta begitu sampai di puncak bukit.

"Pelanginya indah sekali," ucap Mitsuhiko kagum.

"Tapi sayang, kita tidak bisa meraihnya. Padahal tadi dari bawah kelihatan sangat dekat dengan puncak bukit ini," sesal Ayumi.

"Terkadang apa yang kita kira sangat dekat sebenarnya berada sangat jauh dan sulit digapai," ucap Ai.

Conan terpana dengan kata-kata Ai. Entah kenapa ucapan itu begitu mengena dihatinya.

"Ayo kita meluncur saja. Pelangi ini lebih indah dilihat dari bawah, bukan?"

Semua setuju dengan ucapan Mitsuhiko. Mereka bersiap-siap akan meluncur. Namun tiba-tiba pandangan Ai mulai kabur.

"Pembunuh!" jeritan seorang wanita terdengar.

Conan dan teman-temannya menoleh. Seorang pria bertopeng ski sedang meluncur kearahnya. Tangan kanan pria itu menggenggam sebuah pisau berlumuran darah. Pembunuh itu terus meluncur ke arah Shounen Tantei tanpa bisa dicegah. Ai yang mulai keseimbangan tidak bisa menghindar. Pembunuh itu menggores pinggang Ai, tepat disaat Ai pingsan. Tubuh Ai terkulai lemas dan merosot menuju jurang. Conan berpikir keras. Ia harus menyelamatkan Ai, tetapi si pelaku juga harus ditangkap. Akhirnya Conan mengambil keputusan.

"Tahan pria itu!" teriak Conan sambil berusaha mengejar Ai yang semakin dekat dengan jurang. Ia berharap ketiga teman kecilnya itu bisa menangkap si pelaku, sementara ia menyelamatkan Ai. Tepat disaat Ai berada di tepi jurang, Conan berhasil meraihnya. Ia langsung memeluk Ai erat seakan tak mau melepasnya lagi.

'Maafkan aku, Haibara.'

Disaat yang sama, pelaku akhirnya tertangkap berkat kerjasama ketiga anak kecil yang sedang membanggakan identitas 'Shounen Tantei'. Tepuk tangan riuh segera terdengar dari para pengunjung karena aksi heroik mereka. Conan tersenyum, lalu bangkit berdiri sambil menggendong Ai.

"Sebaiknya kita cepat ke rumah sakit," ucap Conan.

"Ai-chan? Bagaimana bisa?" pekik Ayumi kaget karena darah terus mengalir dari pinggang Ai.

"Nanti akan kuceritakan diperjalanan. Sebaiknya sekarang kita beritahu hakase."

"Haibara-san tidak apa-apa. Goresan pisau dipinggangnya juga tidak dalam sehingga tidak mengakibatkan luka serius. Hanya saja dia butuh istirahat karena sedang demam."

Agasa hakase dan Shounen Tantei menghela nafas lega.

"Terimakasih, dokter. Bolehkah kami menjenguknya?" tanya Ayumi.

"Silakan, tapi tolong jangan berisik."

Ayumi mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Ai dirawat, yang diikuti teman-temannya. Setelah melihat keadaan Ai sebentar, hakase menyuruh mereka pulang karena hari sudah malam. Dengan berat hati, akhirnya mereka menurut.

"Beritahu kami kalau ada sesuatu ya," ucap Ayumi, Mitsuhiko dan Genta serempak.

Conan mengangguk seraya tersenyum. "Tentu."

Pintu ruangan tertutup. Conan menghela nafas dan menghampiri Ai. Kemudian ia memegang dahi Ai yang masih terasa panas.

"Baik-baik saja, huh?" gumam Conan.

Lalu ia menarik kursi ke samping tempat tidur Ai, dan tidur disana.

Conan terbangun sekitar jam 6 pagi. Ia melihat Ai, dan memegang dahinya.

'Panasnya udah turun,' batin Conan.

Tiba-tiba Ai bergerak, kemudian mulai membuka matanya.

"Edogawa-kun?"

Conan tersenyum.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?"

Ai mengangguk.

"Lain kali jika merasa tidak sehat, jangan bohong lagi. Kau membuatku khawatir, kau tau?"

Ai tidak tau harus menjawab apa. Ia juga bingung harus merasa senang atau tidak. Akhirnya ia hanya menyindir.

"Membuatmu khawatir atau menyusahkanmu?"

"Sebenarnya kau memang menyusahkanku. Aku harus bersusah payah menangkapmu sebelum kau masuk ke jurang."

'Sudah kuduga. Kau tidak akan pernah benar-benar mengkhawatirkanku,' batin Ai.

Namun ternyata Conan belum menyelesaikan ucapannya.

"Tapi aku benar-benar khawatir saat tiba-tiba kau pingsan dan merosot ke jurang. Disisi lain, aku harus mengejar pelaku. Mungkin ini hal paling konyol yang pernah kulakukan. Karena faktanya aku lebih mementingkan keselamatan dirimu daripada menangkap pelaku."

Penjelasan Conan ini membuat Ai terkejut.

"Jadi jangan pernah berbohong lagi padaku," ucap Conan seraya menatap mata Ai lekat-lekat.

Author's note: Maaaaaaf banget atas durasi yang sangat lama untuk update chapter ini. Sebenernya dari 2 minggu yang lalu udah mau diupload, tapi malah kehapus. *curcol* Untuk kedepannya akan diusahakan lebih cepat. Kalau masih ada yang berkenan, silakan review. ^^