Disclaimer: Detective Conan milik Gosho Aoyama

"Lama sekali mereka," gerutu Conan.

"Sabar, Conan-kun. Mereka kan perempuan," ucap Mitsuhiko.

Tak lama kemudian, 2 sosok yang daritadi ditunggu itu muncul.

"Maaf deh kalau kami lama." Sebuah suara terdengar dari belakang Conan.

Conan menoleh, dan sempat membuka mulutnya untuk membalas ucapan gadis tersebut. Namun begitu matanya menangkap sosok itu, ucapan yang telah ia siapkan menguap begitu saja. Ia terpaku melihat gadis didepannya, yang tak lain adalah partnernya. Ai terlihat sangat cantik dengan dress ungu selutut yang dikenakannya. Ketiga laki-laki bertuxedo itu melihatnya dengan tercengang.

"Hei, apakah ada sesuatu diwajahku?" tanya Ai dengan mimik sok serius.

Conan tersadar dari lamunannya dan menggeleng.

"Conan-kun, bagaimana pendapatmu?" tanya Ayumi seraya memamerkan dress pinknya.

"Cantik," jawab Conan singkat.

Jawaban singkat itu disambut gembira oleh Ayumi. Sementara itu Genta kembali tercengang.

"Cepat, anak-anak. Kita harus tiba disana tepat waktu," ujar hakase.

Conan tidak dapat mengalihkan pandangannya dari dua orang yang berdiri diseberangnya itu. Mereka sedang berbincang walaupun salah satunya terlihat tidak tertarik.

"Conan-kun," panggil Ayumi yang berada disebelahnya.

Conan menoleh.

"Yang harus kita awasi ada disitu, bukan disitu," tunjuk Ayumi.

"I-iya."

Conan langsung mengubah arah pandangnya pada orang yang menjadi kliennya.

'Mitsuhiko tidak mungkin mendapatkan Haibara. Dia masih kecil dan sama sekali bukan tipe Haibara,' batin Conan.

Kemudian Conan seperti menyadari sesuatu.

'Hei, lagipula kenapa kalau Mitsuhiko dengan Haibara? Kenapa aku tidak suka?' batinnya lagi.

Tidak mau ambil pusing, Conan mengambil kesimpulan.

'Pasti karena Haibara seumuran denganku. Ia tidak cocok dengan anak kecil. Ya, pasti begitu.'

"Selamat malam hadirin sekalian. Selamat datang di pesta ulang tahun putri kami. Sekarang kita akan berdansa, jadi silakan mencari pasangan dansa." Suara Higashiyama-san menggema diseluruh ruangan. Para undangan segera menggandeng pasangan masing-masing. Ayumi pun menarik tangan Conan. Begitu juga Mitsuhiko yang malu-malu mengajak Ai berdansa. Conan melihat mereka dengan tatapan tidak suka. Lagu mulai mengalun. Conan tidak dapat melepaskan pandangannya dari Mitsuhiko dan Ai. Entah apa yang mendorongnya, Conan menghampiri mereka.

"Mitsuhiko, kau berdansa disana saja. Aku lebih jelas melihat klien disini."

Mitsuhiko mengerutkan kening.

"Ayo kita kesana, Haibara-san."

Baru selangkah mereka berjalan, Conan menahan tangan Ai.

"Maksudku, kau disana bersama Ayumi. Haibara disini," tegas Conan.

Mitsuhiko melemparkan tatapan tidak suka pada Conan.

"Kau sudah mendapatkan tempat yang pas untuk mengawasi klien. Kenapa Haibara-san harus disini juga?"

Tiba-tiba lampu padam. Banyak suara jeritan terdengar.

"Mitsuhiko! Cepat ke Ayumi!" perintah Conan.

Tanpa berpikir lagi, Mitsuhiko menyalakan lampu di jamnya dan berlari ke arah Ayumi.

"Sial. Jangan bilang pelaku sudah beraksi," gumam Conan.

Lampu menyala kembali. Conan langsung mengarahkan pandangannya ke arah kliennya. Dia masih hidup. Conan menghela nafas lega.

"Saya mohon maaf atas kesalahan teknis barusan. Silakan lanjutkan dansa kalian," ucap Higashiyama-san.

"Jadi.." ucapan Ai tersebut terpotong karena tiba-tiba Conan menarik pinggangnya untuk mempersempit jarak diantara mereka, lalu menautkan tangan mereka.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Ai dengan nada kesal.

Conan mengerutkan kening. "Tentu saja berdansa. Kita tidak boleh mengawasi klien dengan mencolok," jawab Conan sambil berbisik.

"Tapi tidak usah menarik pinggangku saat aku belum siap."

Conan hanya meringis.

"Baiklah, aku minta maaf."

Ai mengangguk dan mereka pun mulai berdansa. Dari jauh, Ayumi dan Mitsuhiko melihat mereka dengan tatapan tidak suka.

"Aku curiga. Jangan-jangan Conan-kun.."

"Stop! Jangan berpikiran yang tidak-tidak," cegah Ayumi. Matanya mulai berkaca-kaca. Mitsuhiko pun menurut. Namun tiba-tiba, lampu kembali padam. Di kejauhan, Conan melihat sebuah titik merah, namun kemudian menghilang.

"Haibara, cepat ke Higashiyama-san. Bawa dia pergi dari ruangan ini," perintah Conan.

Ai segera berlari dan berusaha mencari Higashiyama-san. Setelah ketemu, ia langsung mengajak Higashiyama-san pergi.

Conan berjalan mencari seseorang yang memunculkan titik merah tadi. Kemungkinan titik merah tesebut berasal dari remote pengendali bom. Karena gelap, tanpa sadar ia tersandung kaki seseorang.

"Ck. Dasar anak kecil. Sudah tau gelap, masih saja berlari," omel si empunya kaki.

Conan mengusap-usap dagunya yang terantuk lantai, lalu berdiri lagi. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Dibalik bagian bawah celana orang tersebut seperti ada yang tersembunyi.

"Aku terpisah dari teman-temanku. Bolehkah aku disini bersama paman?" tanya Conan dengan suara khas anak kecilnya.

Orang tersebut menoleh, lalu membuang muka tanpa menghiraukan pertanyaan Conan tersebut.

'Yang penting aku harus terus mengawasinya,' batin Conan.

Beberapa menit kemudian lampu menyala. Semua orang diruangan itu menghela nafas lega. Namun pria disamping Conan ini malah menengok ke kanan-kiri seperti mencari seseorang.

'Bagus, Higashiyama-san sudah aman bersama Haibara. Apa yang akan kau lakukan sekarang?' ucap Conan dalam hati, seraya tersenyum.

Namun tiba-tiba terdengar suara ledakan. Conan menoleh ke pria disebelahnya. Ia tidak memegang kakinya, dan itu berarti ia tidak memencet remote itu. Pria itu tersenyum puas.

'Sial, ternyata ada bom waktu. Berapa banyak yang ia pasang?'

"Higashiyama-san, Anda tunggu disini. Saya akan menghampiri Edogawa-kun," ujar Ai.

"Tidak. Aku harus menghentikan sendiri orang itu sebelum dia menghancurkan seluruh rumahku."

Ai yang frustasi menghadapi bapak tua keras kepala ini akhirnya menatapnya tajam.

"Kalau begitu silakan Anda pilih. Nyawa Anda atau rumah Anda yang selamat?"

Higashiyama-san menelan ludah.

"Percayalah pada kami. Kami berusaha melindungi nyawa Anda, juga rumah ini."

Ledakan kedua terdengar.

"Saya mohon Anda tetap berada disini, sampai ada polisi yang mengevakuasi Anda."

Setelah berkata begitu, Ai segera berlari menuju ruang pesta.

"Bagaimana, Higashiyama? Apa yang kau lakukan jika aku menghancurkan rumah kesayanganmu ini?" gumam pria itu.

"Higashiyama-san? Menghancurkan rumah? Apa yang paman bicarakan?" tanya Conan pura-pura tidak mengerti.

Pria itu menoleh. "Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Belum saatnya kau mati."

"Mati? Apa maksud paman?"

Pria itu tertawa.

"Dalam dua menit kedepan, ruangan ini akan hancur karena aku menaruh bom terbesar disini. Dan tentunya semua orang didalam rumah ini akan mati. Ya, semua, tanpa terkecuali."

Conan segera berlari keluar ruangan itu. Sang pria tersenyum lebar. Ia mengira Conan kabur menyelamatkan diri. Padahal Conan menghubungi teman-temannya melalui lencana detektif.

"Haibara, kau dimana? Higashiyama-san aman?"

"Ya. Dia ada di ruangan dekat pintu masuk."

"Bagus. Itu akan memudahkan para polisi mengevakuasinya."

Kemudian Conan menghubungi ketiga temannya.

"Ayumi, Genta, Mitsuhiko, cepat pergi dari rumah ini. Evakuasikan para tamu dan Higashiyama-san. Hati-hati. Jangan terlalu mencolok. Para polisi sudah bersiap didepan pintu masuk rumah ini."

"Baik."

Setelah itu Conan kembali masuk ke ruang pesta. Si pelaku kaget melihat Conan kembali.

"Kau.. Apa yang kau lakukan?"

"Sudahlah, paman. Tak ada gunanya paman ingin menghancurkan rumah ini. Higashiyama-san sudah tidak membutuhkan rumah ini lagi. Paman salah besar jika mengira Higashiyama-san lebih memilih rumah ini daripada nyawanya sendiri."

"Omong kosong! Dia melakukan segala cara untuk mendapatkan rumah ini. Termasuk.. membunuh adiknya sendiri."

Wajah pria itu menjadi sedih.

"Higashiyama Chiaki. Sebenarnya dialah pemilik resmi rumah ini. Orangtuanya memilih dia karena sikapnya yang baik dan bijaksana. Tidak seperti kakaknya yang boros dan sombong. Sebenarnya Chiaki mau berbagi dengan orang itu, tetapi orang itu terlalu serakah sehingga membunuh adiknya sendiri."

"Dan paman mencintai Chiaki-san?"

"Sangat! Dia yang menyadarkanku dari semua perbuatan jahat yang telah kulakukan. Tetapi hidupnya malah berakhir ditangan orang itu."

Conan melihat sekeliling. Semua orang telah berhasil keluar. Hanya dirinya dan pria itu yang ada di ruangan pesta.

"Ke-kemana semua orang?"

Conan tersenyum. "Mereka sudah dievakuasi. Lebih baik paman menyerah. Jika bom itu meledak, hanya kita yang akan mati. Higashiyama sudah aman bersama polisi diluar. Itu dia," ujar Conan seraya menunjuk Higashiyama-san yang sedang dalam penjagaan para polisi.

Pria itu jatuh terduduk.

"Salahkah aku jika membalas dendam kekasihku?"

"Membalas dendam? Apakah Chiaki-san menyimpan dendam?"

Pria itu terdiam.

"Ayo paman, kita keluar. Tak ada gunanya meledakkan tempat ini. Paman cukup menceritakan kejadian itu pada polisi, dan Higashiyama-san akan ditangkap."

Conan berbicara dengan tenang karena ia tau bahwa bom diruangan itu bukan bom waktu. Dua menit telah berlalu sejak tadi, dan ruangan itu tidak meledak.

Pria itu berdiri, lalu berjalan sambil menunduk.

"Hati-hati. Bomnya ditengah ruangan," ucap pria itu lirih.

"Eh?"

Tiba-tiba Ai berlari masuk ke ruangan itu.

"Conan!" Ai berlari ke arah Conan untuk mencegahnya mendekati bom tersebut.

"Ai!" Conan yang tau bahwa bom itu mulai berkedip-kedip, berlari ke arah Ai untuk menjauhkannya dari bom.

Pria itu tersenyum puas. Dan.. ruangan itu meledak.

# # #

Author's note: Finally selesai juga chapter ini. Mumpung lagi libur jadi bisa update pagi. Hehe.. O iya, sekalian mau balas komen nih.

KidMoonLight: Conan udah dibikin cemburu nih. Tapi kayanya kurang ya? Soalnya author bingung bikin adegan cemburu.

Wawa: Maaf ya lama updatenya. Mulai sekarang diusahakan dipercepat kok. ^^

Nadia shakira: Ok deh ^^

faizshade: Hehe.. Makasih ^^

mie kriting: siip. Diusahakan kok ^^

Ayuzawa: ngg.. itu karena penawar yang dibuat Ai mempunyai efek yang gak sempurna. Jadinya mereka kepisah. Ini hasil imajinasiku dari 2 tahun yang lalu. Hehe.. maaf kalau kecepetan, soalnya author takut fic ini terbengkalai karena tugas-tugas sekolah dan ulangan.

amel conaners: masih ^^

Izza Muhana: hari ini ^^

Hinata Miyano: sekarang udah dipanjangin. Maaf chap lalu kependekan.

ashihara: novel? Waduh, author gak tau bahasa malaysia. Hehe..

suka humor: siip. Udah dipanjangin nih.

Aisha Haibara: maaf kalau kemarin belom puas bacanya. Semoga chapter ini membuat kalian puas ^^

Shirawashi-me No Akuma: makasih ^^ ini chap selanjutnya.

Dijah-hime: siip. Hehe..

Sekedar pemberitahuan, kemungkinan besar chapter depan adalah chapter terakhir fic "Bahagia" ini. Untuk fic selanjutnya, mungkin author akan copas dari facebook author. Karena dulu sebelum punya akun di ffn, author suka nulis fic di note fb. Semua berbasic sama *karena author pingin banget Ran dan Ai sama-sama bahagia*. O iya, author juga mau mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya bagi yang telah mem-follow dan mem-favorite fic ini. Terimakasih juga pada readers and reviewers yang setia menunggu kelanjutan fic ini. Akhir kata, silakan review ^^