Disclaimer: Detective Conan milik Gosho Aoyama

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu, namun Conan dan Ai masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Dokter pun hanya bisa berkata bahwa mereka sedang berjuang untuk bangun. Hal itu tidak menghibur atau menenangkan kerabat dekat Conan dan Ai, terutama Shinichi, Ran, dan Hakase.

Hari itu Hakase tidak dapat datang menjenguk. Hanya Shinichi dan Ran yang menjenguk.

"Konbanwa, Conan-kun," sapa Ran.

Hening. Tidak ada jawaban. Ran menghela nafas. Melihat itu, Shinichi menepuk bahu Ran.

"Tenang saja, dia pasti akan bangun," hibur Shinichi.

Ran tersenyum sedih.

"Hei, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dibawah?" ajak Shinichi.

"Kau saja. Aku ingin menjaga Conan-kun."

"Ran.."

"Belikan saja aku makanan. Aku tidak apa-apa," ucap Ran seraya tersenyum menenangkan.

Shinichi mengangguk dan keluar ruangan. Selama 5 menit Ran hanya diam memandangi anak kecil yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. Kemudian ia bangkit berdiri untuk menjenguk Ai. Tiba-tiba tangan Conan bergerak perlahan. Kemudian matanya mulai membuka.

"Conan-kun," pekik Ran tertahan.

Conan tersenyum lemah.

"Sebentar, akan kupanggilkan dokter." Setelah berkata begitu, Ran segera berlari keluar. Karena tergesa-gesa, Ran hampir menabrak Shinichi.

"Ada apa, Ran?" tanya Shinichi.

Ran tersenyum lebar. "Conan-kun sudah sadar."

Shinichi ikut tersenyum. "Ayo kita panggil dokter."

"Kondisi Edogawa-san sudah membaik. Lusa, ia sudah boleh pulang," jelas dokter.

"Bagaimana dengan Haibara?" tanya Conan tiba-tiba. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi cemasnya lagi.

Mereka terdiam mendengar pertanyaan Conan.

"Hei, jawab pertanyaanku. Bagaimana dengan Haibara? Ia baik-baik saja, kan?" tanya Conan yang mulai tidak sabar.

Akhirnya Shinichi berbicara. "Dia berada di kamar nomor 159.. dan belum sadar hingga kini."

Mendengar itu, Conan hanya diam menunduk. Dua detik kemudian, ia segera turun dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar Ai dirawat. Ia tidak memikirkan rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Ia terus berlari hingga tiba di depan kamar itu. Perlahan, ia membuka pintunya. Hatinya langsung terasa sakit begitu melihat Ai terbaring lemah di ranjang putih itu. Matanya masih terpejam rapat. Dengan seluruh rasa penyesalan, Conan berjalan mendekatinya. Ia hanya berdiri diam di samping tempat tidur Ai. Banyak pertanyaan yang berkecamuk didalam kepalanya. 'Apakah Haibara akan bangun? Kapan dia akan bangun? Kenapa bukan aku yang berada di posisinya? Dan kenapa.. aku baru sadar bahwa dia sangat penting bagiku?' Conan menghela nafas dan menarik kursi ke samping tempat tidur Ai. Ia duduk disitu dan tersenyum sedih. Ia baru menyadari perasaannya pada Ai. Ia mencintainya. Ai tidak hanya seorang partner baginya. Ai menjadi orang terpenting dalam hidupnya. Namun ternyata semua itu belum bisa membuat Ai bangun. Conan mulai merasa putus asa. Ketakutan mulai merasuki pikirannya. Berbagai pertanyaan pahit berkecamuk di otaknya.

"Sampai kapan aku harus menunggumu bangun?" Tetap tak ada jawaban. Hanya keheningan malam yang menemaninya.

Dalam hati, Conan terus menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Ai. Perasaan bersalah itu terus menekannya hingga akhirnya ia tertidur.

Keesokan harinya, Ai mulai menunjukkan perkembangan. Perlahan, tangannya mulai bergerak. Beberapa detik kemudian matanya mulai terbuka.

'Rumah sakit,' ucapnya dalam hati. Ia segera mengingat semua kejadian itu. Ai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya melebar ketika melihat sosok yang tertidur sambil menggenggam tangan kanannya itu.

'Edogawa-kun?'

Namun kemudian ia tersenyum.

'Syukurlah dia tidak apa-apa.'

Dengan sangat hati-hati, ia menarik tangan kanannya, lalu menyelimuti Conan. Conan bergerak dan perlahan membuka matanya. Ai yang tidak tau harus berbuat apa hanya tersenyum canggung seraya menyapanya.

"Ohayou, Edoga.."

Ucapannya terputus karena tiba-tiba Conan memeluknya. Erat sekali seakan-akan tidak mau melepaskan lagi.

"Jangan pernah bertindak bodoh lagi."

Ai hanya mengangguk dalam diam.

"Edogawa-kun, cepat lepaskan ini. Kita bukan anak kecil lagi, kau tau," perintah Ai seraya menarik kain yang menutup kedua matanya.

"Oh ayolah, Haibara. Sebentar lagi kau boleh membukanya," ucap Conan sambil terus menuntun Ai. Senyum mengembang dibibirnya.

Sudah 3 hari sejak Ai diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dan hari ini, Conan 'menculiknya' ke sesuatu tempat. Kakinya yang masih memakai sepatu sekolah membuat ia tidak bisa merasakan daratan yang dipijaknya. Namun dari suara yang didengar telinganya, Ai bisa menebak tempat ini.

"Kau.. mengajakku ke pantai?" tanya Ai ragu-ragu.

Conan membuka kain penutup mata Ai. Dan benar saja, hamparan laut biru terpapar dihadapannya.

"Hei, mau sampai kapan kau berdiri disitu?" tanya Conan.

Ai segera tersadar dari lamunannya dan duduk disebelah Conan.

"Kenapa tiba-tiba kau mengajakku kesini?"

Conan menoleh sekilas, lalu kembali menatap laut.

"Sebagai permintaan maaf," jawabnya singkat.

"Detektif sombong sepertimu mau meminta maaf padaku? Wah, aku tersanjung," sindir Ai.

Namun Conan tidak menoleh sedikitpun, lalu menyahut.

"Aku minta maaf karena telah memarahimu saat mengetahui bahwa antidote yang kau buat tidak berhasil. Aku minta maaf karena telah menyusahkanmu saat aku sakit. Aku juga minta maaf.. karena aku tidak bisa melindungimu saat ledakan itu," ucap Conan serius.

Ai tertegun mendengar ucapan Conan tersebut.

"Itu bukan salahmu. Aku sendiri yang dengan bodohnya berlari ke arahmu."

Conan tersenyum, lalu kembali menatap matahari yang kini mulai tenggelam. Keheningan menyelimuti mereka.

"Akhirnya bintang jatuh itu mengabulkan permintaanku," ucap Conan tiba-tiba.

Ai mengerutkan kening.

"Kau sudah bahagia?" tanya Ai.

"Ya. Walaupun masih ada satu hal yang kurang."

"Kau memang tidak pernah puas, huh? Memangnya apa itu?" tanya Ai dengan nada menyindir.

"Memilikimu."

Satu kata yang terlontar dari mulut Conan itu sukses membuat Ai tersentak.

"Saat kau terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu, saat seluruh rasa bersalah menyerangku, aku menyadari perasaanku. Bahwa aku-"

Conan menatap mata Ai lekat-lekat.

"-mencintaimu. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab seka-"

Ucapan Conan terputus karena tiba-tiba Ai memeluknya.

"Seharusnya aku malu mengatakan ini, tapi kenyataannya aku juga mencintaimu."

Conan mengerjapkan matanya beberapa kali dan membalas pelukan Ai seraya tersenyum. Tiba-tiba Ai melepaskan pelukannya lalu berdiri.

"Hari sudah gelap, ayo pulang," ucapnya sambil berjalan meninggalkan Conan.

"Oi! Matte!" Conan segera berdiri dan menyusul Ai. Saat Conan berada tepat dibelakang Ai, tiba-tiba Ai berbalik. Conan langsung menghentikan langkahnya. Kebingungannya tidak berlangsung lama ketika sebuah ciuman mendarat di pipi kirinya.

"Aku bahagia, tantei-san. Arigatou," ucap Ai seraya tersenyum tulus, lalu kembali berjalan. Meninggalkan Conan yang masih membeku ditempat, yang meraba pipi kirinya sambil tersenyum.

Author's note: Pertama-tama author mau ngucapin gomenasaaaaaaaii kepada readers sekalian atas hiatus yang kelewat lama ini. Setelah lama minggat, idenya baru pulang lagi ke otak author. Sekali lagi gomenasai minna. T.T Nah, sekarang author mau balas review dari readers. Kayaknya akan masih banyak lagi kata 'gomen' dibawah. Let's see...

Aisha Haibara: Hmm, memang udah jadi kebiasaanku pasti menyisipkan kasus di fic romantis DC. Biar tambah romantis. Hehe.. di chapter ini mereka jadian kok ^^

Noriko dasha: gomen atas update yang lama ya Makasih udah penasaran ^^

.cHips: gak mati, kan? ^^

Kayissa-chan: gomen updatenya gak kilat. Tapi semoga memuaskan ^^

hasankamal1713:arigatou.. semua fanficku pasti AiCon kok pairingnya. Karena author suka banget sama mereka ^^

Linaily: gomen lama update

Kudo shin: udah terjawab kan penasarannya? Semoga chapter ini gak mengecewakan

kudolovemiyano: gomen lama update

Kiki: gomen lama update

Muthya Chance: salam kenal juga ^^ gomen lama updatenya

aishanara87: gomenasaai gomenasaai karena baru update sekarang + ada ShinRan sedikit

Fiuh.. banyak banget permintaan maaf dari author sekarang author mau ngucapin arigatoooooou pada readers yang telah setia baca + nunggu fic ini, yang telah review, follow dan favorite fic ini, juga pada silent readers. Arigatooooou minna! Semoga fic ini gak mengecewakan dan kalau bisa memuaskan ^^