Arakafsya Uchiha
Mempersembahkan :
"Among The Dead"
Characters : Shikamaru N. & Ino Y.
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Rate : T
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
Don't like, don't read
-Enjoy Reading-
==oOo==
Summary :
Perang dunia ninja keempat menghancurkan hampir sebagian kelima Negara besar yang dipimpin oleh lima Kagenya masing-masing. Begitu juga dengan Desa Konoha yang memakan banyak korban. Sanak saudara dan teman seperjuangan mati dengan menyandang status sebagai pahlawan. Tapi, ada rahasia yang ditinggalkan untuk Ino dan Shikamaru.
AMONG THE DEAD
Sosok Shikamaru mendapati Ino yang baru saja keluar dari Rumah sakit Konoha. Gadis berparas Barbie dengan iris aquamarine cantiknya itu sedang tersenyum dan melambaikan tangannya kearah dua orang yang baru saja keluar dari rumah sakit sebagai tempat kerjanya. Pria bertubuh tinggi tegap dengan otak jenius itu akhirnya menghampiri Ino yang baru saja akan beranjak dari halaman depan Rumah sakit.
"Ino,"
Langkah Ino terhenti sejenak, ia menatap sosok pria berambut seperti nanas itu dengan pandangan penuh tanya. Untuk apa Shikamaru ke rumah sakit di siang hari?.
"Shikamaru? Kau disini?", tanya Ino sembari melipat tangannya di dada.
"Ya, seperti yang kau lihat", jawab Shikamaru sekenanya.
"Kau habis menjenguk siapa?"
"Bukan menjenguk, tapi aku ingin bertemu denganmu"
Ino tersentak, jemari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri, "Aku? Ada apa?"
"Hmm… bagaimana ya? Ini penting,"
"Katakan saja,"
"Kau ada waktu siang ini?"
Medic-nin pirang itu tertawa kecil seraya menatap Shikamaru. Pria itu hanya menggaruk tenguknya yang tidak gatal.
"Kebetulan aku berkerja setengah hari. Mau kencan? Eh," jawab Ino sembari menyeringai.
"Hah, anggap saja kencan! Aku hanya memintamu menemani," kata Shikamaru lagi.
"Kemana?"
"Aku mau membeli cincin pernikahan,"
DEG
Entah kenapa, Yamanaka Ino merasakan sakit di dadanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendengar penuturan Shikamaru tentang 'cincin pernikahan'. Shikamaru akan menikah? Dengan siapa? Temari kah? Kakak tertua dari Kazekage ke-lima? Tubuhnya seakan membeku, menatap kosong Shikamaru yang masih menggaruk tenguknya dan sedikit salah tingkah.
"Ino, kau bisa tidak?!"
Suara Shikamaru menyadarkannya dari lamunan sesaat. Ia mengangguk pelan dan mendapati Shikamaru tersenyum padanya. Tersenyum hangat padanya. Mereka segera pergi bersama untuk memesan 'cincin pernikahan milik Shikamaru'.
.
.
.
"Bagaimana dengan yang ini?"
Seorang pria tengah sibuk memilih-pilih cincin yang berada di sebuah toko emas Konoha. Di sampingnya berdiri seorang gadis cantik berambut pirang panjang dengan wajah bahagia— pura-pura bahagia. Ya, entah kenapa hatinya terus bertanya-tanya tentang 'calon pengantin Shikamaru'.
"Ino, kau melamun terus!", sahut Shikamaru lagi.
Ino mendongak dan menatap Shikamaru, "Maaf, Shikamaru aku—"
"Hey, sedang apa kalian disini?"
Sebuah suara mengagetkan kedua manusia yang tengah sibuk dengan cincin mereka, Shikamaru tersenyum menatap sesosok perempuan yang kini sedang berjalan menghampiri mereka. Perempuan berambut pirang dengan kuncir empat di rambutnya. Entah mengapa, kehadiran gadis itu membuat hati Ino menjadi gelisah terlebih tatapan mata Shikamaru pada gadis itu— gadis yang disebut-sebut sebagai Puteri sulung Kazekage keempat, Sabaku Temari.
"Temari? Kau masih di Konoha?", tanya Shikamaru sembari tersenyum.
"Ya, aku menemani Gaara karena ada rapat pertemuan antar Kage," jawab Temari membalas senyum Shikamaru.
"Rapat? Rapat apa? Naruto tidak mengumumkan apapun padaku,"
"Aliansi lima Negara, mungkin ingin membicarakan tentang tim pasukan gabungan khusus elite yang akan dibangun oleh lima Negara. Dan lagi, memangnya kau siapa sampai-sampai Naruto harus memberitahukan padamu?", jawab Temari Sarkatis.
"Hahaha, biasanya aku yang disuruh menjemput orang Suna 'kan?"
Oke. Yamanaka Ino merasa bodoh disini, berada di tengah-tengah seorang pria dan wanita yang sedang berbicara hangat dan akrab ditambah lagi dengan tatapan seperti itu. Ternyata, rumor yang beredar tentang kedekatan mereka berdua tidak bisa dikatakan sebagai isapan jempol belaka. Hey, tunggu dulu. Yamanaka Ino, kau kenapa? Merasakan cemburu, eh? Shikamaru hanya rekan satu timmu. Sadarlah!
"Kalian berdua kemari apa karna….err….kalian…"
Temari menatap Ino dan Shikamaru bergantian. Shikamaru yang paham akan maksud perkataan Temari, langsung saja tertawa kecil.
"Ah..tidak, tidak…hahaha, kau terlalu berlebihan…"
Ino tersenyum getir mendengar ucapan Shikamaru. Sepertinya memang benar, pria ini membeli cincin untuk Temari. Makannya pria itu menyembunyikannya dari Temari. Merasa tidak ada lagi yang harus dilakukan, Ino akhirnya berdiri dan menatap mereka berdua secara bergantian.
"Maaf, aku ada urusan. Aku duluan, Shikamaru"
"Hey, Ino! Kau mau kemana? Aku akan mengantarmu," sela Shikamaru.
"Tidak, tidak perlu, Shikamaru. Aku ada urusan dengan Sakura, jaa ne"
Ino segera berlari meninggalkan Shikamaru dan Temari yang masih bingung. Sepeninggalan Ino, gadis cantik puteri Kazekage itu menatap Shikamaru dengan sebelah alis yang naik.
"Apa aku mengganggu kalian?", tanya Temari sembari menatap Shikamaru yang kembali sibuk memilih cincin.
"Tidak, mungkin dia salah paham,"
"Maksudmu?"
"Sebenarnya…hmm…aku membeli cincin ini untuk melamarnya," Shikamaru menggaruk tenguknya lagi.
"Hah~ selalu menjadi pria yang paling bodoh," jawab Temari Sarkatis.
"Hey, dari pada kau menghinaku terus, cepat bantu aku untuk memilih cincin yang paling bagus!"
"Kau memintaku bahkan seperti memerintahku, aku ini puteri Kazekage!"
"Baiklah, Tuan Puteri Kazekage~ aku mohon bantu aku,"
==oOo==
Pemakaman para pahlawan Konohagakure memang tempat favorite Ino sejak ditinggal mendiang sang Ayah. Tangannya terulur membiarkan jemari lentiknya menyentuh permukaan makam sang Ayah. Nafasnya tersengal berat dengan mata yang hampir mengeluarkan cairan bening lagi. Ia tersentak sesaat ketika merasakan sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang.
"S-Shikamaru?"
Masih dengan suara paraunya, gadis Barbie ini berdiri dan langsung mengusap wajahnya. Ia tersenyum— memaksa tersenyum di hadapan pria yang saat ini menjabat sebagai rekan satu timnya. Shikamaru menghela nafas lagi, ia tersenyum lembut memandang Ino.
"Kau bilang ada urusan dengan Sakura,"
"Aa— eto..aku-," Ino mencoba-coba mencari alasan yang tepat untuk beralibi. Meskipun ia tahu kalau pria di hadapannya sudah paham dengan sifat Ino yang seperti ini.
"Aku sudah tahu kau disini,"
Shikamaru segera meraih tangan Ino dan memberikannya isyarat agar segera pergi dari pemakaman dan mengikuti langkahnya. Ino menatap pria di hadapannya dengan bingung, tapi pada akhirnya gadis itu tetap mengikuti langkahnya.
"Kita mau kemana, Shikamaru?", tanya Ino memecah keheningan.
"Ke rumahku,"
Ino membelalakkan matanya dan terkejut, "Tunggu, apa maksudnya ke rumahmu?!"
Shikamaru menghentikan langkahnya, wajah datarnya memandang Ino dengan serius. Genggaman tangannya ia lepaskan, dan tiba-tiba saja tubuh tegap pria itu kembali berbalik.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu,"
"Tentang apa?", tanya Ino penasaran.
"Pokoknya ini penting, dan aku tidak bisa kalau tidak menyampaikannya sekarang. Ini ada hubungannya dengan peninggalan ayahmu,"
"Aa— baiklah,"
Shikamaru berjalan terlebih dahulu, sementara di belakangnya sudah ada jejak Ino yang mengikutinya. Gadis pirang itu masih bingung tentang apa yang akan Shikamaru sampaikan, peninggalan ayahnya? Apa yang ayahnya tinggalkan? Kenapa ia sebagai puterinya sendiri juga tidak tahu apa-apa? Pikirannya masih diselimuti rasa penasaran, terlebih tentang cincin pernikahan yang Shikamaru pesan. Ino menatap punggung Shikamaru dengan sendu, apakah pria itu benar-benar akan menikah dengan Temari?.
'Aku yakin ia akan menikah dengan Temari— anak Kazegake itu. Terang saja, ia lebih mahir dan memiliki talenta sepertiku. Ia juga tipe wanita yang kuat, tidak cengeng sepertiku. Lagi, adiknya kini menjabat sebagai Kazekage keempat. Lalu ia akan menikah dengan Shikamaru, mereka sama-sama jenius dan lengkap sudah kebahagiaan mereka-'
Batin Ino terus berkecamuk, matanya tetap memandang pada punggung seorang pemuda yang sedang berjalan di depannya.
'Shikamaru, aku tidak tahu apa yang ku rasakan saat ini. Entah kenapa aku tidak mau kehilanganmu. Shikamaru, apakah kau—'
BRUK
Gelap. Pandangan Ino sudah entah berada dimana, semuanya gelap dan tidak ada lagi cahaya. Ia juga tidak mendengar suara apapun, dan semua sarafnya seakan mati rasa.
.
.
.
Shikamaru Naara membuka pintu kamarnya dengan pelan, kedua tangannya membawa baskom kecil dengan berisi air hangat. Ia meletakkan baskom itu tepat di atas meja yang terletak di samping tempat tidurnya. Tangan kokohnya meraih sebuah kain yang ada di kening seorang gadis yang saat ini tengah terbaring di kasurnya.
"Shikamaru,"
Shikamaru menoleh begitu mendengar seseorang memanggilnya. Ia baru saja akan duduk di tepi kasur kalau saja tidak ada gadis manis yang baru saja memanggilnya. Gadis berambut merah muda panjang yang saat ini berstatus sebagai tunangan Uchiha Sasuke— Sakura Haruno. Gadis itu baru saja masuk dengan membawa beberapa resep obat dan juga beberapa butir pil capsul dengan warna yang berbeda.
"Ini, aku sudah buatkan resep obat untuk Ino. Sepertinya dia kelelahan,"
Shikamaru menerima resep itu dan meletakkannya di atas meja. Ia duduk di tepi kasur sembari melihat gadis pirang yang masih terbaring dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
"Ino sudah tidak punya siapa-siapa lagi, apa tidak sebaiknya di bawa ke rumah sakit saja?", tanya Sakura sembari membuka seragam dokternya.
"Tidak, aku yang akan merawatnya. Lagipula, ia sudah seperti saudara bagiku," jawab Shikamaru sembari menatap nanar sosok Ino.
"Apa tidak apa-apa dengan Ibumu?"
"Ia tidak akan menjadikan ini masalah, lagipula di rumah ini ada banyak kamar"
"Baiklah, kalau begitu aku harus pulang. Kau bisa ke rumahku kalau terjadi apa-apa dengannya,"
Shikamaru menatap Sakura yang saat ini sedang tersenyum sembari menenteng seragam putih rumah sakit Konoha. Mengerti kalau Sakura akan segera pulang, pria itu mengantarkan Sakura sampai di depan rumahnya. Sakura menghentikan langkahnya dan menatap Shikamaru dengan senyum.
"Aku pulang ya, Shikamaru. Sampaikan salamku pada Ino, semoga lekas sembuh"
Shikamaru menganggukan kepalanya tanda setuju, kemudian membungkuk sebentar pada Sakura sampai gadis Uchiha itu berlalu dari kediaman keluarga Naara. Sepeninggalan Sakura, Shikamaru akhirnya kembali masuk ke dalam rumah dan kembali pada aktifitas awalnya— menemani Ino yang masih belum sadar dari pingsannya.
Pria penerus generasi Naara itu mengusap kening gadis yang masih istirahat di kasurnya. Tangannya yang satu lagi menempelkan kain yang sudah dibasahi air hangat itu ke kening Ino. Seumur hidupnya, baru kali ini ia mengurusi orang sakit. Terlebih orang itu adalah seorang gadis. Ditatapnya dengan sayu wajah pucat Ino, seolah ingin mengatakan banyak hal pada gadis ini. Ia menghela nafas pasrah di akhirnya.
"Entah sejak kapan, aku mulai menyukaimu— Yamanaka Ino,"
Gumam Shikamaru sembari menggenggam erat jemari Ino, walau ia sendiri yakin kalau gadis itu tidak mungkin mendengar kata-katanya barusan. Siapa yang tahu? Buktinya, gadis pirang yang baru saja akan mencapai alam sadarnya itu mampu mendengar bisikan halus itu. Meskipun ia sendiri belum tahu pasti siapa yang berkata demikian. Namun, hatinya dan bibirnya hanya menggumamkan satu nama saat mata biru itu mulai mencoba menangkap segala penglihatannya.
"Shikamaru…"
.
.
*TBC*
AUTHOR AREA :
Fict ini sebenarnya request dari salah satu teman sebangku saya, nadianuf begitulah nama Accnya. Entah kenapa dia jadi ShikaIno shipper. Well, menurut saya gak masalah sih walau sebenarnya saya lebih menyukai ShikaTema. Tapi, pas saya bikin fict ini kok jadi suka ShikaIno juga? ._.v dan terima kasih juga sudah mereview, maaf atas keterlambatannya karena Fict SasuSaku saya tanggung tinggal 1 chap lagi hehe :D
zeroplus : Terima kasih ya ^^ ini sudah dilanjutkan, bagaimana?
nadianuf : Gausah manggil nama gua juga kali Nad -_-, gimana toh? Ini requestmu, sudah puaskah? Haha.
pratiwirahim : Ini sudah di keep ^^ terima kasih ya
Namikaze Resta : Oke, maafkan atas keterlambatannya. Saya usahakan kilat ^^ terima kasih banyak
I'am Izuki Kamizuki : Ne, Ne Izuki-chan *bener gak yah sufixnya?* terima kasih sudah menunggu :D, ini sudah dilanjutkan. Bagaimana?
Satoshi 'Leo' Raiden : Sudah dilanjutkan senpai ^^, bagaimana? Terima kasih ya
Sagita-Naka : Souka? Hahaha, saya pikir juga begitu. Makanya saya coba fict ini, hehe ini udah di update. Bagaimana? Terima kasih ya :D
beauty-rose : Oke deh ^^ sudah saya lanjutkan, bagaimana? Terima kasih ya :D
Violet fernandes : Nani? Hehe, sudah saya lanjutkan kok ini. :D terima kasih ya
Shadewa : Yaah, lu kurang banyak reviewnya. Bikin lagi pake nama orang laen yang banyak minta Delete haha #plak.
Oke segini dulu para ShikaIno lovers, sekali lagi "Mind To Review again? Thanks :)"
