Arakafsya Uchiha

Mempersembahkan :

"Among The Dead"

Characters : Shikamaru N. & Ino Y.

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Rate : T

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

Don't like, don't read

-Enjoy Reading-

==oOo==

Summary :

Perang dunia ninja keempat menghancurkan hampir sebagian kelima Negara besar yang dipimpin oleh lima Kagenya masing-masing. Begitu juga dengan Desa Konoha yang memakan banyak korban. Sanak saudara dan teman seperjuangan mati dengan menyandang status sebagai pahlawan. Tapi, ada rahasia yang ditinggalkan untuk Ino dan Shikamaru.


AMONG THE DEAD

"Entah sejak kapan, aku mulai menyukaimu— Yamanaka Ino,"

Gumam Shikamaru sembari menggenggam erat jemari Ino, walau ia sendiri yakin kalau gadis itu tidak mungkin mendengar kata-katanya barusan. Siapa yang tahu? Buktinya, gadis pirang yang baru saja akan mencapai alam sadarnya itu mampu mendengar bisikan halus itu. Meskipun ia sendiri belum tahu pasti siapa yang berkata demikian. Namun, hatinya dan bibirnya hanya menggumamkan satu nama saat mata biru itu mulai mencoba menangkap segala penglihatannya.

"Shikamaru…"

Merasa namanya dipanggil, pria itu hanya menoleh dengan tatapan bingung. Tangan kanannya tergerak untuk menyentuh kening sang gadis, menyingkirkan kain yang masih menempel disana. Entah sejak kapan senyuman kecil sudah terlukis di bibir tipisnya. Tubuh gadis itu menggeliat pelan dan perlahan iris aquamarine itu terbuka.

"Kau sudah sadar, Ino?"

INO POV

Aku membuka mataku perlahan dan mengerjapkannya sekali. Aku tidak kenal ruangan ini, aku sedang tidak berada di rumahku. Lalu, aku dimana? Tunggu, tadi aku mendengar suara— seorang pria. Ya, seorang pria yang mengatakan kalau ia menyukaiku. Apa itu hanya mimpi?

"Shikamaru…"

Kenapa mulutku menggumamkan namanya? Sudah jelas-jelas ia akan menjadi milik orang lain, bodohnya aku. Hey, sebenarnya aku dimana?!

"Kau sudah sadar, Ino?"

Ku dengar suara pria itu kembali memanggilku. Dari mana ia tahu namaku?! Apa aku sedang berada di rumah Sakura? Bukan, ini bukan kediaman keluarga Uchiha. Lalu aku dimana?. Aku menolehkan kepalaku sebentar. Ya Tuhan! Kenapa aku melihat bayangan Shikamaru disana? Aku malah merasakan tangannya kini mengusap pelipisku dengan lembut dan hangat. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa halusinasiku tinggi sekali?.

"Ino, kau baik-baik saja?"

Ku dengar lagi bayangan itu memanggil namaku. Sebelah tanganku merasa digenggam oleh tangan Shikamaru. Tunggu dulu, merasa? Berarti ini bukan—

"Shikamaru?!"

Aku terlonjak kaget dan langsung saja melepas genggamannya. Tangannya yang tadi ada di keningku, sudah terhempas ke udara dengan kasar. Aku melirik tubuhku, masih lengkap! Pakaianku masih lengkap! Oh, Ino— apa yang kau pikirkan? Shikamaru bukan pria seperti itu. Aku menatapnya dengan takut-takut, sementara rekan satu timku itu masih tersenyum.

NORMAL POV

"Kau sudah merasa baikkan?", tanya Shikamaru sembari berdiri dari duduknya.

"Y-ya, kenapa aku bisa berada disini?", Ino mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, "Dan aku ada dimana?"

"Kau ada di kamarku. Kau tidak ingat kalau kau pingsan?"

Ino menggeleng lemah. Ia menarik nafasnya sebentar dan meremas selimut putih yang kini menutupi setengah dari tubuhnya. Tiba-tiba, Shikamaru kembali duduk dan mengacak-acak rambut Ino dengan pelan. Detik itu juga, gadis Yamanaka itu merasakan sesuatu yang hangat di dalam hatinya. Sesuatu yang membuatnya nyaman.

"Kau istirahat saja disini, kalau kau pulang juga percuma. Kau tinggal sendirian bukan?", kata Shikamaru lagi.

"Tidak apa-apa, aku pulang saja. Aku tidak enak pada Bibi—"

"Ibuku akan mengerti, lagian kau ini sudah seperti saudara di keluargaku. Setidaknya kalau kau disini, kau akan baik-baik saja", tukas Shikamaru.

"Shikamaru,"

"Hm? Ada apa?", Shikamaru menatap Ino yang menundukkan kepalanya.

"A-aku…terima kasih,"

Bodoh! Bukan itu yang mau Ino katakan. Tapi ya sudah lah mau diapakan lagi? Berterima kasih juga ada gunanya, lagi pula ia belum berterima kasih pada Shikamaru. Shikamaru hanya tersenyum dan akhirnya berdiri dari duduknya lagi.

"Aku akan siapkan makanan untukmu. Tadi Sakura bilang, kau harus segera meminum obat"

"Sakura? Dia disini?", tanya Ino setengah kaget.

"Ia datang untuk memeriksa keadaanmu tadi, tapi sudah pulang lagi. Kenapa?"

"Tidak, tidak apa-apa"

Shikamaru membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Ino yang masih menunduk. Suara pintu yang tergeser membuatnya mendongakkan kepala, ia menatap pintu yang baru saja di tutup oleh Shikamaru. Nafasnya tersengal seperti menahan tangis, ia tersenyum— tersenyum miris.

"Jangan beri aku harapan, Shikamaru"

==oOo==

Mala mini Desa Konoha menjadi malam yang sangat dingin. Rintik-rintik hujan sudah berubah menjadi deras sekaligus angin yang bertiup. Hawa dingin mulai menyeruak ke segala penjuru rumah. Kediaman Uchiha nampaknya sudah terlihat sepi, walau sebenarnya ada dua insane yang masih bergelut di meja makan mereka.

"Kau hanya diam saja sedari tadi, ada apa?"

Bungsu Uchiha— Sasuke menatap seorang gadis dengan surai merah mudanya. Gadis itu bahkan tak menyentuh makan malamnya sedikit pun. Ditambah lagi, pikirannya melayang entah kemana. Sasuke menyadarinya sejak tadi sore. Entah ada apa dengan Sakura— gadis manis yang sudah hampir dua minggu itu tinggal bersamanya.

"Kenapa? Aku tidak apa-apa," jawab Sakura sambil mengaduk-aduk nasinya dengan sumpit.

"Kau aneh sejak kau pulang dari rumah Shikamaru, terjadi sesuatu dengan kalian berdua?"

Sakura mengendikkan bahunya dan meletakkan mangkuk nasinya di atas meja dengan malas.

"Cepat habiskan makananmu, Sakura"

"Aku tidak mau makan,"

"Kenapa?", kali ini Sasuke yang meletakkan mangkuk nasinya. Iris obsidian gelapnya memandang gadis pemilik mata emerald itu.

"Sasuke-kun, aku mau ke rumah Shikamaru ya?"

Sasuke mendelik. Matanya menyipit menatap Sakura yang baru saja mengatakan kalau ia akan ke rumah Shikamaru— pria lain. Pemuda malas berotak jenius itu ternyata menginginkan perang dengan keturunan Uchiha ini. Kenapa? Ia baru saja merebut perhatian Sakura-nya. Merasa ada gelagat aneh yang didapati pada wajah Sasuke, Sakura hanya tertawa kecil dan tersenyum menatap tunangannya.

"Hey, aku ke sana bukan untuk menemui Shikamaru", kata Sakura sembari tertawa.

"Lalu?"

"Tadi sore Shikamaru menghampiriku, ia bilang Ino pingsan. Aku memang sudah memberikannya obat, tapi bagaimana ya? Aku tetap khawatir, boleh 'kan?"

Sasuke menghela nafas lega, hampir saja niat di hatinya untuk membombardir keluarga Naara itu menjadi kenyataan. Berhentilah berpikir yang tidak-tidak, Sasuke. Calon isterimu ini adalah Dokter! Dia adalah medic-nin. Ingat itu.

"Diluar sedang badai, Sakura. Besok pagi juga akan baik-baik saja,"

"Pelit,"

"Sudah cepat habiskan makananmu, kau bahkan tidak menyentuhnya sama sekali"

"Aku tidak mau makan kalau kau tidak meng—"

"Makan atau tidak menjenguknya sama sekali?"

Ya, Sakura memang akan selalu kalah jika Sasuke sudah mengeluarkan suaranya yang terkesan dingin itu. Suara sumpit yang beradu dengan meja kayu menandakan kalau bungsu Uchiha ini sudah selesai makan. Menyadari iris kelam milik Sasuke memandangnya, ia langsung menyantap makan malamnya.

"Ne, Sasuke-kun. Kau itu sama bodohnya dengan Shikamaru,"

Sasuke melipat kedua tangannya di dada bidangnya, menantikan penjelasan atas perkataan gadisnya ini.

"Kalian memang jenius, tapi tidak dalam mengatakan perasaan kalian. Terutama terhadap wanita—"

"Jangan banyak bicara, kau sedang makan", sela Sasuke dengan suara dinginnya.

"Aa— aku benar 'kan? Waktu kau memintaku untuk kembali padamu saja, itu bahkan bukan seperti mengutarakan perasaan. Terdengar seperti…err…perintah?— mungkin,"

Sasuke menghela nafas pasrah, kemudian memejamkan matanya sejenak sebelum menatap Sakura yang tengah mengunyah nasinya.

"Tidak semua pria bisa mengatakan perasaan yang sesungguhnya. Kau berharap aku akan membual seperti Naruto-dobe? Itu bukan sifatku,"

"Yare-yare, gomen ne, Sasuke-kun" jawab Sakura sembari meletakkan mangkuk nasinya. Menandakan kalau ia sudah selesai makan malam.

==oOo==

Yamanaka Ino duduk sendiri di halaman belakang kediaman keluarga Naara. Mata birunya yang indah menatap kosong kearah kolam kecil yang berada disana. Ia terdiam, mengingat semua masa lalunya ketika mendiang sang Ayah masih hidup bersamanya. Sosok yang membuatnya sampai menjadi seperti ini. Merubah nasibnya dari seorang gadis kecil yang cengeng yang sejak dulu hanya memperebutkan sosok Sasuke Uchiha dengan sahabatnya— Haruno Sakura, menjadi sebuah sosok gadis yang berguna. Yang mampu terjun ke medan perang Dunia Ninja Ke-empat. Dan sosok gadis yang mampu dan tegar saat melihat kematian sang Ayah berada di hadapan matanya.

"Kau tidak perlu menangisi kematian beliau, aku sudah bilang kalau ia tidak mati sia-sia"

Ino menoleh dan mendapati Shikamaru yang sedang berjalan menghampirinya. Pria itu duduk tepat di sampingnya, menemaninya untuk yang kesekian kalinya.

"Kau hampir mengagetkanku, Shika", ujar Ino sedikit tersenyum.

"Benarkah? Maaf kalau begitu,"

"Sebentar lagi kau akan menikah dengan Temari, aku akan kehilangan orang yang akan menemaniku seperti ini"

Shikamaru tersenyum, ia menghela nafas dan menatap lurus ke depan. Membiarkan indera pendengarannya mendengar suara gemercik air kolam yang bersentuhan dengan suara air hujan yang deras. Pria itu merentangkan tangannya ke lantai, menjadikannya tumpuan untuk menopang berat tubuhnya.

"Menikah dengan Temari? aku rasa kau—"

"Shikamaru, Ino! Makan malam sudah siap! Cepat kemari,"

Suara seorang wanita paruh baya menghentikan ucapan Shikamaru. Keduanya menolehkan kepala mereka dan mengangguk— menyetujui untuk segera makan malam bersama dengan Ibu Shikamaru.

Meja makan malam ini kelihatan lebih ramai dari sebelumnya. Makanan yang dimasak juga beragam, biasanya tidak seramai ini. Mengingat hanya ada Shikamaru dan Ibunya yang akan makan malam bersama. Kadang terasa berbeda dan sangat merindukan sosok Shikaku yang sering duduk menemani mereka makan malam. Layaknya keluarga biasa, tapi setelah beliau meninggal akhirnya hanya ada Shikamaru dan Ibunya yang makan disana.

Makan malam kali ini cukup ramai mengingat ada Ino disini, dan tentu saja wanita paruh baya itu tak henti-hentinya mengulas senyum di bibirnya. Tangannya terampil untuk menyiapkan makan malam itu di atas meja, sedangkan Shikamaru dan Ino baru saja duduk berhadapan. Wanita paruh baya itu akhirnya duduk menghadap mereka, lalu menyiapkan nasi di mangkuknya.

"Ayo cepat dimakan, nanti nasinya bisa dingin", ujar wanita itu dengan wajah berseri-seri.

"Ibu, ibu masak banyak sekali. Tumben," jawab Shikamaru sembari mengambil nasinya.

"Hari ini ada Ino, sudah lama kita tidak makan seramai ini. Ibu jadi senang," Ino tersenyum mendengar penuturan wanita cantik itu.

"Aah— bagaimana kalau mulai hari ini, Ino tinggal bersama kita?"

BRUUSSHH

Shikamaru menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Untung saja Ino tidak kebasahan menerima serangan Shikamaru yang terlalu mendadak. Gadis itu hanya tertawa geli menatap Shikamaru yang nampaknya cukup terkejut.

"Ibu, kalau bicara yang benar!", hardik Shikamaru sembari mengelap mulutnya.

"Memangnya apa yang salah? Lagi pula Ino tinggal sendiri, kalau ia tinggal disini pula aku tidak akan kesepian 'kan?"

Wanita paruh baya itu memulai debatnya dengan anak sulung mereka. Membuat suasana makan malam di keluarga Naara kembali merasakan kehangatan yang sudah lama tidak mereka rasakan.

"Ino, bagaimana? Kau mau 'kan tinggal disini?", tanya Ibu Shikamaru penuh harap.

Ino hanya mengangguk senyum untuk menyetujuinya. Setidaknya, ia tidak akan kesepian kali ini. Apa salahnya menemukan keluarga yang baru? Iris aquamarinenya menatap Shikamaru yang kini tersenyum kearahnya.

"Lagi pula kau akan segera manikah 'kan, Shikamaru?"

Shikamaru mendelik kearah sang Ibu yang bertanya demikian. Ia menatap Ino yang tersenyum— memaksa tersenyum kearah mereka. Wanita paruh baya itu menatap bingung puteranya yang seperti menyembunyikan sesuatu.

'Shikamaru, kau benar-benar akan menikah ya?'

Ino tersenyum miris, tubuhnya segera berdiri dan menatap keduanya. "Aku ke kamar mandi dulu,"

Sepeninggalan Ino, kedua Naara itu hanya saling berpandangan. Wanita paruh baya itu menatap Shikamaru dengan pandangan 'aku-butuh-penjelasan'. Shikamaru? Ia hanya menghela nafas lega.

"Jangan katakan apapun tentang pernikahan di depan Ino, aku mohon—"

"Memangnya kenapa? Kalian akan segera menikah 'kan?", tanya sang Ibu bingung.

"Iya, tapi jangan katakan apapun pada Ino—"

Sang Ibu akhirnya mengendikkan bahunya bingung, memikirkan sebenarnya apa yang tersembunyi dibalik otak jenius puteranya. Walau sebenarnya wanita itu terus memandang puteranya yang kembali melanjutkan makan malamnya, tersirat bayangan suaminya— Shikaku dalam diri puteranya. Si jenius yang penuh dengan banyak kejutan. Bibir tipis wanita itu tersenyum menatapnya.

*TBC*

AUTHOR NOTE :

Gomen kalau telat banget Update. Mulai besok gak akan telat update, karena fict saya yang lain udah pada selesai semua. Hahaha. Dan saya fokuskan untuk ke fict ini dulu. Kita bales review dulu~

I'am Izuki Kamizuki : Souka? Beneran keren? Huaaa XD makasih makasih. Ini sudah dilanjutkan, bagaimana?

Natsuya32 : Haii juga :D ini sudah dilanjutkan, bagaimana?

pratiwirahim : Ini sudah diupdate, maaf telat. Gomen ya :D

zeroplus : Entah kenapa gara-gara request ShikaIno ini aku juga jadi ngefeel ke mereka ya -_- padahal awalnya aku ke ShikaTema. Tapi yasudah lah, udah di update nih. Bagaimana? :D

nadianuf : Langit sama Bumi gausah dibawa-bawa nad, ini FFN bukan pelajaran fisika/geografi. Kita lagi liburan, jangan bahas pelajaran XD udah di keep nih nad, gimana? Puas gak?

Satoshi 'Leo' Raiden : Sudah dilanjutkan nih, Leo-kun :3 bagaimana?

Shadewa : Nih udah dilanjutkan, gimana Shadewa? :D

nufze : Sudah diupdate, bagaimana? :D

kaname : Sabar-sabar, udah diupdate nih :D bagaimana?

melyarahmawinarti : Demi Jashin *loh* #plak, kau selalu hadir dimana-mana dengan panggilan itu -_- nih nih udah diupdate, gimana gimana? :D

Nah, terima kasih banyak para readers yang ganteng-cantik yang udah baca dan mengikuti juga.

Mind To Review Again? Thanks :*