Arakafsya Uchiha

Mempersembahkan :

"Among The Dead"

Characters : Shikamaru N. & Ino Y.

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Rate : T

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

Don't like, don't read

-Enjoy Reading-

==oOo==

Summary :

Perang dunia ninja keempat menghancurkan hampir sebagian kelima Negara besar yang dipimpin oleh lima Kagenya masing-masing. Begitu juga dengan Desa Konoha yang memakan banyak korban. Sanak saudara dan teman seperjuangan mati dengan menyandang status sebagai pahlawan. Tapi, ada rahasia yang ditinggalkan untuk Ino dan Shikamaru.


AMONG THE DEAD

Pagi ini Desa Konoha sudah mendapatkan matahari lagi. Sejak semalam diterpa badai dan hujan, sempat berprasangka buruk akan datangnya gerimis kecil di pagi hari. Tapi nyatanya tidak, Konoha benar-benar cerah hari ini. Ino berjalan sendiri menuju ke rumah sakit Konoha, pikirannya masih terbayang atas kejadian semalam. Ternyata benar, Shikamaru akan menikah dengan Temari. Tapi kenapa Shikamaru malah terlihat menyembunyikan pernikahan itu di hadapan Ino? Apakah pemuda itu tidak ingin ia datang di acara sakral tersebut?

"Ng? itukan—"

Iris aquamarine cerahnya menangkap sebuah objek yang bergerak. Berjalan beriringan, dan tertawa bersama bersikap seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Gadis berambut pirang yang belum lama bertemu dengannya di toko emas— Sabaku Temari. Kedua mata Ino menyipit, mendapati sosok pria yang saat ini sedang bercanda mesra dengan Temari. Ia menggeleng lemah, itu bukanlah Shikamaru. Apakah Temari selingkuh?

Ditepis semua pemikiran buruk itu, tapi kalau bukan selingkuh namanya apa?! Mereka berjalan berdua— bergandengan, bahkan yang Ino tahu Temari itu akan segera menikah dengan Shikamaru. Sudah bagus gadis itu mau mengalah dan mundur untuk mendapatkan Shikamaru. Dengan geram, Nona Yamanaka itu menghampiri Temari dan berhenti di depan mereka tanpa peduli tatapan bingung dari kedua orang itu.

"Temari, sedang apa kau disini? Dan kau bersama—"

Temari tertawa renyah tanpa melepaskan tangannya yang sedang memeluk pria itu. Benar-benar, Ino bahkan menatap mereka dengan sinis.

"Hai, Ino. Kenalkan, ini Sasori. Dia adalah kekas—"

"Apa?! Kau berselingkuh dengannya?! Kau akan menikah dengan Shikamaru bukan? Kenapa kau malah berselingkuh? Shikamaru itu tulus mencintaimu, Temari. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya kalau ia tahu kau berselingkuh dengan pria ini." Tukas Ino dengan cepat.

Temari dan Sasori— pria yang bersama dengannya bertukar pandang. Semakin bingung dengan perkataan Ino, baru saja Temari akan membuka mulut kalau saja tidak ada suara Ino yang kembali menyambutnya.

"Jangan kecewakan temanku, Temari!" ucap Ino dan segera berlalu dari hadapan sepasang kekasih ini. Sepeninggalan Ino, kedua pasangan itu masih saja bertukar pandang dengan wajah mengisyaratkan kebingungan.

"Hey, siapa itu Shikamaru?", tanya pemuda itu tiba-tiba.

"Dia itu salah paham. Bodoh sekali sih Shikamaru itu, kenapa tidak terus terang saja kalau dia akan menikahi Ino? Wanita itu jadi berpikiran tidak-tidak padaku!"

Dan yah— sekarang Sasori yang dibuat bingung dengan tingkah gadisnya. Pasalnya, keturunan Kazekage ke-empat ini menggumam tak jelas dan entah kepada siapa. Sasori sendiri ragu akan kesehatan jiwa kekasihnya—

.

.

.

"Apa-apaan sih gadis itu?!"

PLUNG!

Yamanaka Ino menghentakkan kakinya dengan keras ke aspal yang ia pijaki. Langkahnya menuju rumah sakit ditemani dengan beberapa celotehan kekesalan, terkadang kakinya menendang kaleng yang ia temui di jalanan. Ia mendesah pelan saat kakinya memasuki gerbang pintu rumah sakit Konoha, kedua matanya menatap pada dua sosok manusia yang masih bermesraan— Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura. Dua makhluk yang selalu bermesraan dimana saja mereka inginkan. Karena mereka menganut sistem 'Dunia ini milik kita'.

"Hey, kalian! Ini di tempat umum tahu!"

Suara Ino menghentikan aktifitas peluk-memeluk dari dua sejoli Uchiha ini. Ia memutar bola matanya bosan, lagi-lagi yang ia dapat hanyalah cengiran garing dari Sakura. Selepas acara memeluk itu, pemuda bermarga Uchiha itu akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi setelah mengecup singkat kening tunangannya.

"Kau beruntung sekali dapat merasakan cinta si Uchiha itu,"

Kata Ino sembari berjalan beriringan dengan Sakura. Sementara gadis merah muda itu hanya tersenyum menatap sahabatnya dari ekor matanya.

"Kau ini bicara apa, Ino?"

"Entahlah, aku juga merasakan hal yang sesak sejak kejadian tadi."

Sakura menoleh menatap Ino sekilas, "Kejadian apa? Memangnya kau kenapa?"

"Sakura, tadi pagi aku bertemu dengan Temari dan Sasori! Ah— Kami-sama, gadis itu benar-benar tidak tahu diri. Sudah bagus aku mau menyerahkan Shikamaru untuknya, kenapa ia bisa selingkuh sih?!"

Sakura semakin tidak mengerti arah pembicaraan Ino, meskipun kaki mereka kini sudah menginjak sebuah ruangan bernuansa putih dengan beberapa poster anak-anak balita dan grafik-grafik kesehatan yang biasa ditemui di rumah sakit— terutama spesialis anak tentunya.

"Siapa yang berselingkuh, Ino? Dan siapa yang kau maksud dengan 'menyerahkan' Shikamaru, eh?"

Ino mendelik tajam pada manik emerald itu, "Sakura, forehead! Kau paham tidak sih apa yang aku bicarakan?! Temari— Sasori— mereka kencan tadi pagi!"

"Lalu kalau mereka kencan kenapa? Mereka memang sepasang kekasih bukan? Mumpung sedang berada di Konoha yang segar di pagi hari, mereka kencan sembari berjalan-jalan pagi. Kau ini aneh,"

"Sakura, apa maksudmu?! Temari dan Shikamaru itu akan menikah!"

Sakura yang baru saja duduk di kursi dokternya, kini memandang bosan sahabat pirangnya yang sangat… bodoh? Mungkin. Ya, sepertinya gadis Uchiha kita ini tidak mengerti apa yang terjadi di antara Ino, Shikamaru, dan juga Temari.

"Ck, yang mau menikah itu siapa? Shikamaru memang mau menikah, tapi bukan dengan Temari."

"Apa?!—" suara Ino memekik kencang memenuhi ruangan, "—Lalu siapa yang akan dinikahi oleh Shikamaru?!"

"Mana aku tahu! Kau 'kan rekan satu timnya, apa iya dia tidak memberitahukan padamu siapa calonnya?"

Tubuh Ino menegang seketika. Kalau bukan Temari, lalu siapa? Apa jangan-jangan ia tidak mengenal gadis yang akan dinikahi oleh Shikamaru? Lalu kenapa? Kenapa pemuda itu malah merahasiakannya pada Ino? Tiba-tiba, ia menatap Sakura yang sedang membuka buku catatan pasiennya. Ia menghampiri gadis Uchiha itu dengan pelan.

"Sakura, aku rasa aku harus—"

"Temui saja jika itu membuatmu merasa lebih baik,"

Ino membelalakkan matanya mendapati kalimat Sakura yang memotong pembicaraannya. Namun, dengan senyum yang mengembang, ia segera berlari meninggalkan ruangannya dan meninggalkan Sakura yang saat ini tersenyum padanya.

==oOo==

"Kau yakin akan baik-baik saja menjalani misi ini sendirian? Kau tidak butuh—"

"Tidak, aku rasa ini mudah kalau mengingat jarak dari Konoha ke Kirigakure tidak lama. Wilayah kita berbatasan dengannya bukan?"

Percakapan antara Hokage dan pemuda berambut nanas itu akhirnya berhenti. Hokage muda berambut pirang itu meletakkan jari telunjuknya di dagu, memasang pose berpikir keras— padahal hanya menimang-nimang keputusan -_-. Sudah biasa, agar terlihat lebih 'keren' dan memiliki jiwa 'kepemimpinan'.

"Ayolah, Naruto. Jangan terlalu lama berpikir, gulungan ini harus segera ku serahkan."

Pemuda bernama Naruto itu hanya nyengir lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih. Pasalnya, Hokage muda itu baru saja berdebat dengan Shikamaru tentang misi tunggal yang akan ia berikan. Ah, Naruto— namanya saja misi tunggal dan kau malah menawarkan pemuda berambut nanas itu untuk berangkat dengan orang lain.

Shikamaru menghela nafas pasrah dan akhirnya mengambil gulungan merah yang akan menjadi kunci bagi misinya. Ia memasukkan gulungan itu ke dalam kantung ninjanya, lalu beranjak keluar dari gedung Hokage.

'Sepertinya…entah kenapa firasatku mengatakan, kalau aku harus kesana.'

Langkah kaki Shikamaru akhirnya memilih untuk menuju ke pemakaman desa. Lagi-lagi, ia menemukan sosok gadis berambut pirang yang sejak kemarin sudah tinggal di rumahnya. Gadis pirang yang selalu datang kemari dan menangis di depan makam ayahnya— Yamanaka Ino, calon isterinya. Ia berdiri di balik dinding sebentar, mengeluarkan cincin yang selalu ia bawa kemana saja. Ia usap permukaan cincin itu, bibir tipisnya tersenyum penuh arti. Tak lama, ia kembali memasukkan cincin itu ke sakunya, dan langkahnya menghampiri gadis itu.

"Ino," Ino menoleh dan tersenyum menatap Shikamaru.

"Shika, kau mengunjungi pemakaman ayahmu?" tanya Ino sembari menatap makam ayahnya.

"Tidak, entah kenapa aku hanya mengikuti keinginan hatiku untuk kemari."

"Kau bergumam aneh,"

"Haha, entahlah. Lagi-lagi aku menemukanmu disini, kau sudah lama berada disini?"

"Lumayan, kau baru saja datang?"

"Ya,"

Pemuda itu berdiri di samping Ino, matanya memandang lurus kearah makam Inoichi yang masih sangat baru. Tiba-tiba, semua ingatannya akan kematian orang tuanya kembali berputar. Mereka sama-sama tersenyum, setidaknya ada yang bernasib sama disini.

"Asuma pernah mengatakan padaku, bahkan berkali-kali mengatakannya—"

Shikamaru menghentikan ucapannya sesaat, kepalanya menengadah ke atas langit dengan kedua tangan yang terselip di saku celananya. Kepala Ino tergerak untuk menatap pemuda di sampingnya, seperti menunggu kelanjutan ucapan pemuda itu.

"Ia selalu mengatakan kalau selamanya kita tidak akan bisa menjadi anak-anak terus. Ada kalanya kita juga yang akan meninggalkan, berkorban demi Desa itu adalah hal yang paling membanggakan untuk sebuah kematian para Shinobi—" lanjut Shikamaru lagi.

"Kita ini sebuah tim yang mencapai kesempurnaan. Adanya kau, aku, dan Chouji yang membentuk formasi sempurna dalam sebuah medan perang yang memporak-porandakan Desa ini. Mereka semua meninggal dengan bangga, sebab mereka sudah menanamkan bibitnya pada kita semua—"

Pemuda Naara itu kembali melanjutkan kata-katanya, kepalanya kembali pada posisi normal.

"Shikamaru, ada yang ingin ku tanyakan." Ungkap Ino dengan pelan.

"Ng? apa?"

"Tentang pernikahanmu— kau akan menikah dengan siapa?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Sudah jawab saja."

Shikamaru tersenyum, ia membalikkan tubuhnya membelakangi Ino. Kemudian menatap ke belakang dan mendapati Ino yang sedang menunggu jawabannya.

"Aku lupa kalau aku ada misi, kau kembalilah ke rumah sakit. Jangan meninggalkan pekerjaan seenaknya,"

Ino tersentak sesaat, "Kenapa kau malah membahas masalah yang lain?"

Dengan pelan, pemuda berambut seperti nanas itu membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Ino. Ia menepuk pucuk kepala pirang gadis itu sembari tersenyum.

"Jadilah isteriku setelah aku pulang dari misi, aku mencintaimu—"

CUP

Sedetik kemudian, ia merasakan panas di wajahnya. Mungkin saja semburat merah sudah muncul di pipi gadis itu saat merasakan bibir Shikamaru menyentuh keningnya. Ia masih tertegun di tempat, walau nyatanya Shikamaru sudah membalikkan tubuhnya lagi.

"Tunggu, Shikamaru!" jerit Ino saat mendapati Shikamaru yang akan beranjak pergi.

"Berapa? Berapa lama…misi itu?" tanya Ino dengan suara lirih.

"Entahlah, ku harap secepatnya. Doakan saja," jawab Shikamaru tanpa menatap Ino.

"Apakah barusan…artinya…kau…melamarku?"

Shikamaru membalikkan tubuhnya dan tersenyum, "Aku mencintaimu, Yamanaka Ino." Bersamaan dengan selesainya kalimat itu, ia segera pergi meninggalkan Ino yang akhirnya terduduk untuk menatap kepergian pria itu. Ya, selamat untukmu, Yamanaka Ino. Kau sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan yang berputar di dalam kepalamu.

'Shikamaru, ku harap kau cepat-cepat kembali.'

*TBC*

.

.

Author Area :

Minnaaaaa~ gomen ya telat dikit updatenya. Aku mendadak lupa *alasan aja kaya Kakakshi* hehehe ._.v bagaimana dengan Chapter 4 ini? Sengaja aku buat pendek-pendek, soalnya cerita ini juga pendek. Gak panjang-panjang, biar cepet selesai dan gak ada utang fict lagi. (padahal ada satu lagi) #plak

Untuk sementara ini tidak ada balasan review dulu ya gapapa kan? Soalnya mau sistem SKS nih sama fict yang satu lagi. Oke, semoga kalian terhibur.

Mind to review again? Thanks