Our First Promise
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : /kita janji ya?/ iya ._. /\\ …Mana janji kita yang dulu?!/kalau begitu tembak saja dia!/.. hiks.. baiklah! Kalau itu yang kau mau!../ -karya Author amatir *mind to RnR?*
WARNING! OOC ,AU, Typo(s), GaJe, Abal, EyD perlu perbaikan.
.
.
.
Don't Like? Just Don't Read :)
©Sachiko Akane
.
.
Chapter 2 "Our Promise, what?"
Ino's POV
Samar-samar kulihat cahaya lampu neon diatasku. Putih menyilaukan. Namun, yang kulihat masih samar. Kukedip-kedipkan mataku untuk memperjelas pengelihatanku. Sosok yang pertama kali kulihat adalah sosok yang familiar, Temari. Dahiku mengerut. Aku tak yakin itu dia. Namun, jika ada Temari di situ, pasti ada—
Itu dia!
Jleb..!
Pedang seakan-akan menusuk hatiku saat aku melihat wajah Shikamaru. Setiap aku melihat Shikamaru, selalu kejadian yang tak menyenangkan itu muncul. Apakah aku trauma melihat Shikamaru karena itu?
Tidak! Aku tidak mau!
"Ino? Kau sudah sadar?" tanya Shikamaru.
"Hh~ "Shikamaru hanya menghela napas.
"Kau tak apa-apa Shika?" tanyaku.
Shikamaru langsung menatapku tajam. Dahinya mengerut. Pandangan matanya intens terhadapku.
"Ino? Kau yakin tak apa-apa?"tanya Shikamaru.
Aku mengangguk mantap.
"Astaga~! Tak kusangka efeknya separah ini.." kata Shikamaru sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi yang sedang didudukinya.
"Efek?" kataku bingung.
"Iya, efek. Efek dari kecelakaan seminggu yang lalu." Kata Shikamaru.
"Seminggu… yang ..lalu?" kataku mengulangi kata-kata Shikamaru.
"Iya, merepotkan." Kata Shikamaru.
Shikamaru lalu memajukan wajahnya sehingga dekat ke wajahku, aku pun langsung memundurkan kepalaku.
"Kau.. tidak marah padaku?" tanya Shikamaru.
Aku menggeleng kecil.
"Kenapa?"tanya Shikamaru yang kali ini benar-benar membuatku terpojok.
Kalau aku jawab:
- Itu karena aku mencintaimu! Hello~! Temari? Jangan lupakan gadis yang tak bersalah itu.
- Itu karena aku tak tahu apa itu 'marah' . sebodoh-bodohnya Konohamaru ninja Squad itu, mereka tak akan pernah menjawab jawaban semacam ini.
- Aku tidak tahu. Itu jawaban?
Dan opsi yang terakhir adalah, Diam.
Aku terdiam, dan menunduk. Untung saja dewi fortuna sedang berpihak padaku.
"Minumlah," Kata Shikamaru. Sepertinya dia mengerti posisiku bagaimana sekarang.
Aku diam. Aku benar-benar tidak dalam mood untuk makan atau pun minum.
"Bibirmu pucat Ino.. kau tidak minum. Kau juga semakin kurus. Kau perlu makan dan minum," kata Shikamaru.
"Hhh~ baiklah…" kataku pasrah.
Shikamaru memberikanku segelas air putih. Aku menerimanya.
Praang!
Gelas itu jatuh dan pecah di lantai. Tanganku belum kuat untuk memegang benda seperti gelas berisi air.
"Ah~" kata Temari menghela napas. Dia lalu membersihkan puing-puing kaca yang jatuh.
"T-Temari… ti-tidak usah.. biar aku sa—" kata-kataku terpotong.
"Ah~ tak usah… biar saja aku.. kau sakit lo," kata Temari.
"Dan satu lagi.. panggil aku kakak.." kata Temari sambil menyengir.
"AP—" kata-kataku kembali terputus.
"Sudahlah Temari.."kata Shikamaru.
"Terserah! rusa bulat, gembul, jeleek!"kata Temari pada Shikamaru sambil menjulurkan lidahnya, lalu ia keluar.
Shikamaru hanya memutar bola matanya lalu melihat ke arahku. Ia mengambil gelas berisi air lagi, lalu mengarahkannya ke mulutku. Aku meneguk air itu.
"Haah~" ujarku sambil merasakan aliran air dari mulutku sampai ke perutku.
"Ini.. makanlah," kata Shikamaru.
"Shika.. aku tak mau makan ini.." kataku sambil melihat ke arah sup lemak yang dipegang Shikamaru.
"makanlah.. tubuhmu tak ideal lagi.. kau sudah terlalu kurus." Kata Shikamaru.
"Kau mengejek atau perhatian sih?!" tanyaku dengan muka horror.
"Entahlah, menurutmu?" tanya Shikamaru balik.
"Entah.." kataku sambil mengangkat kedua bahuku sejenak.
"Makanlah.." kata Shikamaru.
Aku pun mengambil sesendok sup itu, lalu memasukkannya ke mulutku.
Hmm…. Sup lemak ini enak juga.."
"Ino.." panggil Shikamaru.
"Hm?" gumamku merespon panggilan Shikamaru.
"Kau benar-benar tidak marah padaku..?"tanya Shikamaru.
Aku menggeleng. Lalu aku meminum sup itu sampai habis.
"Hah~. Enak!" kataku ceria. Shikamaru mengambil mangkuk itu lalu meletakkannya di meja.
"Apa kau benar-benar menyukaiku?" tanya Shikamaru serius.
"Ha? Ya—ya aku .. ia.. ia aku menyukaimu..lalu?" tanyaku balik pada Shikamaru.
"Syukurlah.. aku tak salah.." kata Shikamaru.
"Ha?" tanyaku.
"Ch! Merepotkan.. begini!..
Flashback (Shikamaru's POV)
"Sai.. aku mau bicara.." kataku.
"Yo! Ada apa?" tanya Sai.
"Ino menggantung perasaanmu?" tanyaku serius.
"Ya.. begitulah," kata Sai dengan wajah sedih.
"Tak usah menunggu jawabannya lagi, dia menyukai pria lain.." kataku.
"Oh.. jadi dia tak tega menolakku, begitu?" kata Sai dengan topeng senyum andalannya.
Aku mengangguk.
"Baiklah.." ujar Sai akhirnya
Flashback End (Back to Ino's POV)
"Shi—" kataku terpotong.
"apa?" kata Shikamaru.
"Kau.. kenapa melakukan itu? kau bilang—" kataku kembali terpotong.
"Kutarik kata-kataku waktu itu.." kata Shikamaru sambil menatapku intens.
"Kau egois! Kaukan sudah punya—"kataku lagi-lagi terpotong.
"Temari itu kakak kandungku.." kata Shikamaru menjelaskan dengan singkat, padat dan jelas.
"Ap..APA?!" pekikku.
"Ck! Merepotkan.."kata Shikamaru sambil menutup telinganya.
"Ja-jadi..jadi wa-waktu itu.."kataku gagap.
"waktu itu dia mabuk.. dia baru patah hati.. saat mabuk, dia memanggil namaku, namun menganggapku seperti mantan pacarnya, Sasori." Kata Shikamaru.
"…" aku diam. Kalau memang benar begitu..
Astaga! Bodohnya aku. Ya, ciuman antarsaudara itu tak apa-apa. Aku mengerti. dan aku.. malu.
"Jadi.. jangan hapus janji kita yang dulu.." pinta Shikamaru.
"kenapa?" tanyaku linglung.
"karena.." kata-katanya masih tersambung. Dia mengeluarkan cincin.
"A-apa itu?" tanyaku.
Oke, sebodoh-bodohnya tetanggaku, ia pasti tahu apa itu.
"Karena ini.." kata Shikamaru sambil menunjukkan cincin perak yang indah.
"Ha?" aku bingung.
"Menikahlah.. denganku…"
.
.
.
.
.
Sebuah gedung putih sedang dihiasi kebahagiaan.
"Ino.. kau sangat cantik.."puji Temari yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparku.
.
.
"Saudara Shikamaru, bersediakah engkau menjadi suami dari Ino Yamanaka dan ayah bagi anak-anakmu kelak?" tanya sang Pastur.
"Ya.. saya bersedia." Kata Shikamaru mantap.
"Saudari Ino, bersediakah engkau menjadi istri dari Shikamaru Nara dan ibu bagi anak-anakmu kelak?" tanya sang Pastur padaku.
"Ya, saya bersedia."ucapku sambil tersenyum bahagia.
Kami langsung mengubah posisi menjadi berhadapan. Shikamaru menyematkan cincin perak itu ke jari manisku. Dan aku menyematkan cincin perak itu juga ke jari manis Shikamaru.
"Cium dia Inoo!" teriak Sakura dari belakang tamu. Semua yang ada di gedung melihat kearah Sakura lalu tersenyum.
"Cium dia Shikaaaaaa!" teriak Naruto mengikuti.
"Cium dia Shikamaru! Atau aku akan menyerangmu bersama Akamaru!" ancam Kiba di sertai gonggongan Akamaru.
"Cium dia Inooo! Atau aku tak akan memberimu sup rendah lemak lagi!" ucap sang koki restoran, Shion.
Aku menunduk malu.
Shikamaru menarik pinggangku kasar dengan tangan kirinya, sehingga perut kami saling bersentuhan. Tangan Kanan Shikamaru memegang kepala belakangku pelan dan lembut. Dan..
Chu~
"KYAAAAAK!" teriak Ten-ten sambil menutup matanya.
Wajah Neji, Sasuke, Naruto, Kiba, Sai, Lee, Sakura, Shion, Karin, Shizune, Hinata, dan Shino memerah bersamaan dan tak mampu berbicara lagi.
"Shika.." panggilku pelan.
"Apa?" jawabnya juga pelan, dengan posisi kami yang masih sama.
"Itu.. ciuman pertamaku.."
.
.
.
.
.
5 tahun berlalu..
Kami-sama mempercayakan 2 orang anak pada kami. Shimaru dan Shimano, keduanya laki-laki, mereka kembar. Namun, sialnya, Shikamaru menurunkan sebagian besar sifatnya ke pada anaknya.
"Shimaruuu! Shimanooo! Ayo mandi!" teriakku dari lantai bawah.
"Tunggu! Kaa-san! Prku belum selesai!"balas Shimano.
"Hoaaam~ apa kata kaa-san, Shimano?" tanya Shimaru.
"Sudahlah, ayo kembali tidur! Merepotkan." Kata Shikamaru.
"Ck! Kalian merepotkan!" rutukku.
The End.
Hahahaha! Ada yang janggal tidak di cerita saya? Itu sengaja loo ^^b
Ah, udah gak usah pikirin!
Gimana ceritanya? Buruk? Sedang? Bagus?
Ada kritik? Mau kasih saran? Atau Support? B.O.L.E.H! asalkan gak flame atau bash ya? ;]
Sila diisi kotak review dibawah! ^^7
Arigatou for reading, minna~ *kissu
dan special thanks to all reviewers saya chapter lalu dan cerita saya yang lain :3
